Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Kajian Barat / Occidental 
H.A.R. GIBB’S RECITATION ON MODERNITY OF ISLAMIC THOUGHT
Pages: [1]

(Read 1764 times - 1 votes) 
  

Admin

  • Administrator
  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Admin No Reputation.
  • Join: 2013
  • Posts: 2594
  • Logged


Islam sebagai agama dan peradaban yang bersumber dari wahyu memiliki stuktur konseptualnya sendiri dalam mengembangkan pemikiran  keagamaannya . Tradisi pemikiran dalam Islam sebenarnya tidak lepas dari periode perkembangan dan juga periode kemunduran . Terdapat dua periode besar yang sering menjadi pembicaraan umum dikalangan para intelektual, pertama yaitu Islam historis (historical Islam), dan kedua Islam modern (modern Islam). Periode pertama dimulai dengan karir Nabi Muhammad Saw. (antara 610-632 M.), dan mencapai puncaknya dengan jatuhnya Costantinopel akibat serangan tentara Usmaniyah pada tahun 1453 M. Periode yang kedua dimulai sejak Eropa meninggalkan era Renaissance dan memasuki era ekspansi perdagangan serta penaklukan-penaklukan militer. Datangnya era modern ini bersamaan dengan lahirnya tiga negara teritorial dalam dunia Islam, yaitu kerajaan Usmaniyah, Safawiyah Persia, dan kerajaan Mughal di India .
Trend modern dalam Islam, setidak-tidaknya dalam bentuk embrionya boleh dikatakan mulai muncul pada masa hayat Ibnu Taimiyyah di abad ke-13 hingga abad ke-14. Pada saat itu, Ibnu Taimiyyahlah yang pertama kali mengemukakan pandangan-pandangan keagamaan yang, dalam banyak hal, berbeda dengan ulama terdahulu. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran modernnya baru teraktualisasikan dalam bentuk gerakan modern pada awal abad ke-18 di Arab Saudi, melalui Gerakan Wahabi yang ditokohi oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Dengan kemudian dilanjutkan oleh para pembaharu-pembaharu muslim setelahnya dipelbagai tempat dengan ciri khas yang berbeda-beda walaupun dengan tujuan yang sama.
Berbicara tentang modernisasi, khususnya pada modernisasi Islam (istilah Islam disebut tajdid al-Islam) merupakan suatu pembicaraan  kontroversial dikalangan umat muslim sendiri . Dalam hal istilah, modernisasi, modernisme merupakan istilah barat yang diadopsi oleh para pembaharu muslim kedalam khazanah keislaman, dari sinilah pro-kontra terjadi. Secara umum modernisasi, modernisme dalam masyarakat barat mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk merubah faham-faham, adat-istiadat, intitusi-institusi lama, dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi barat modern .
Sementara menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi gerakan pembaharuan dalam Islam merupakan salah satu keberhasilan dalam Islam. Menurutnya, pembaharuan dalam agama adalah pembahuruan pemahaman dalam agama tersebut, pembaharuan keimanan terhadap agama, pembaharuan komitmen terhadap agama, dan pembaharuan cara dakwah pada agama. Pembaharuan agama itu bukan membentuk suatu agama baru, bukan mengubah hal-hal yang sudah pasti dan tidak berubah, dan tidak boleh melakukan ijtihad dalam ayat-ayat yang sifatnya qath’i yang merupakan gambaran kesatuan umat dalam aqidah, ibadah, syari’at dan akhlaknya . Maksud dari gerakan tajdid sesungguhnya adalah gerakan yang menggambarkan Islam yang hakiki, yakni Islam yang komprehensif, dengan segala kemoderatannya dan pandangannya yang mendalam .
Pada hal yang sama,  Islam dengan pemikiran keagamaannya, juga merupakan kajian penting dikalangan para orientalis barat. Pentingnya kajian ketimuran pada umumnya, dan Islam pada khususnya, yaitu untuk membuat pernyataan-pernyataan tentangnya, mendeskripsikannya, dengan mengajarinya, menjadikan koloni-koloninya, dan memerintahnya . Karena itu orientalis dengan orientalismenya tiada lain adalah merupakan gaya barat untuk mendominasi, menata kembali dan menguasai timur .
Pada umumnya Islam tampil di dunia barat dengan citra yang buruk, karena dasar pandangan barat terhadap Islam adalah prasangka teologis dan persaingan historis . Walaupun citra tersebut sempat melemah, tetapi dunia Islam dipandang sebagai musuh baru, karena bangkitnya kesadaran keislaman. Oleh karena itu citra Islam sangat bergantung pada sejauh mana barat merasa aman atau terancam oleh kekuatan politik Islam .
Hamilton A.R. Gibb merupakan orientalis Inggris ternama dan mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan para orientalis barat, dan juga terhadap para pembaharu muslim. Karya-karyanya yang bermutu tinggi dengan ciri khas membuktikan keseriusannya dalam kajiannya tentang keislaman.
Baginya, Islam dengan perkembangan pemikirannya hanya bertumpu pada konsensus kalangan terpelajarnya, dan menelantarkan masyarakat umumnya, maka Gibb mengecam hal yang demikian . Dalam hasil kajian ia menyatakan:
“Rahasia keberhasilan umat muslim terletak pada pengakuan mereka bahwa setiap bangunan sosial, seandainya ia benar-benar memiliki landasan yang kuat dan cukup elastik untuk mengatasi berbagai macam bencana dan krisis, harus berangkat dari kehendak umum dan bukan pada kehendak kalangan terpelajar saja. Dan sarana paling kuat yang digunakan untuk membentuk kehendak umum itu adalah agama.”
Dengan demikian, pembaharuan pemikiran Islam yang menimbulkan pendapat-pendapat yang saling berlawanan tidak akan menimbulkan perubahan pada Islam melainkan perpecahan yang terus-menerus akan timbul. Solusi akan hal tersebuat adalah kehendak umum, dengan menjadikan agama sebagai sarananya. Maka dogma yang bersifat otoritas harus dipisahkan dengan kehendak umum, karena keduanya tidak bisa dikaitkan