Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Humaniora 
PERSPEKTIF BAHA’I MENGENAI MASYARAKAT YANG BERKELANJUTAN SECARA EKOLOGIS
Pages: [1]

(Read 125 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 2046
  • Logged

PERSPEKTIF BAHA’I MENGENAI MASYARAKAT YANG BERKELANJUTAN SECARA EKOLOGIS

Robert A. White
Karangan ini mengambil pendekatan makroevolusioner terhadap perubahan hubungan kita terhadap alam dalam terang ajaran-ajaran Iman Baha’i. Iman ini menyarankan bahwa kemanusiaan merupakan proses kesadaran yang berkembang, yaitu menuju ke perkembangan suatu kebudayaan planet baru yang akan didasarkan pada hubungan kooperatif yang dewasa antara kemanusiaan dan ruang-lingkup ekologis y.mg memberinya kelahiran. Makalah ini pertama-tama menyelidiki sikap- sikap dasar terhadap alam yang termuat di dalam tulisan-tulisan Baha’i dan kemudian menyelidiki bagaimana kemunculan suatu tatanan sosial y.mg secara ekologis berkelanjutan dihubungkan dengan beberapa prinsip dari Iman Baha’i. Secara implisit tersirat pandangan Baha’i mengenai keseimbangan dan perpaduan realitas material dan spiritual. Sementara referensi-referensi dibuat terhadap teks-teks Baha’i, interpretasi yang disajikan bersifat pribadi.
flllRUNGAN DENGAN AlAM DALAM PEMBARUAN
Kehancuran secara kumulatif hubungan antara spesies manusia dan ru- • mg-lingkup ekologis telah mencapai tahap di mana penyesuaian-penyesuaian yang melulu bersifat teknis dan sosial terhadap model-model perkembangan yang ada tidak lagi memadai untuk menjamin keberlang-
sungan planet. Bangkitnya "metafisika yang baru sama sekali”  yang menyadari hubungan timbal-balik antara manusia dengan alam telah memunculkan pelbagai aliran pemikiran seperti "ekologi-dalam”, "filsafat lingkungan”, dan "eko-feminisme”. Bahkan, dengan pandangan yang lebih komprehensif Thomas Berry dengan fasih melukiskan dimensi- dimensi pokok dari suatu "Zaman Ekologis” yang sekarang sedang kita masuki.  Semua aliran pemikiran ini, dalam satu atau lain bentuk, menyerukan suatu transformasi kesadaran yang meninggalkan pandangan mengenai bumi sebagai kumpulan sumber-sumber alam yang harus dieksploitasi dan dikonsumsi menuju pandangan mengenai kemanusiaan yang hidup sebagai bagian integral dan kokreatif dari ruang-lingkup ekologis. Perubahan mendasar ini melibatkan penghargaan dimensi rohani sebagai unsur penting hubungan kita dengan alam baik secara individual maupun secara kolektif.
Dalam konteks inilah ajaran-ajaran Iman Baha’i memberi sumbangan penting. Di dalam tekanan mereka atas kesatuan dan pemikiran evolusioner, ajaran-ajaran Baha’i menawarkan suatu pandangan mengenai alam yang mencakup baik kebijaksanaan animistik maupun pemahaman ekologis kontemporer. Bersamaan dengan itu, ajaran-ajaran ini menegaskan transendensi ilahi dan kesatuan esensial ungkapan religius sepanjang sejarah. Lebih lagi, mereka menyajikan suatu interpretasi yang menantang mengenai apa itu agama dan perannya di dalam mentransformasikan tata dunia dewasa ini. Sebagai tambahan, banyak ajaran dan prinsip bagi suatu masyarakat alternatif yang didasarkan pada kebijaksanaan ekologis ditemukan dalam tulisan-tulisan dan lembaga-lembaga Iman Baha’i.
HUBUNGAN DENGAN ALAM: SEBUAH PERSPEKTIF BAHA’I
Di dalam penyelidikan atas prinsip-prinsip Iman Baha’i sebagaimana diterapkan pada pertanian, Paul Hanley merumuskan suatu hubungan rangkap tiga antara manusia dan alam yang melibatkan prinsip-prinsip kesatuan, sikap lepas bebas, dan kerendahan hati.  Prinsip-prinsip yang sama ini akan diselidiki secara mendalam di sini.
Kesatuan dengan Alam
Abdu’l-Baha menyatakan bahwa "semua bagian dari dunia ciptaan merupakan satu keutuhan... Semua bagian tunduk dan taat kepada keseluruhan. Makhluk-makhluk "kontingen” (yang tak berdiri sendiri [tergan- lung]) merupakan cabang-cabang dari pohon kehidupan sementara Utusan Allah merupakan akar dari pohon itu”.  Ia menggambarkan kesatuan esensial ini dengan analogi berikut:
Gambarkan dunia eksistensi seperti tubuh manusia. Semua anggota badan dan organ-organ tubuh manusia saling membantu; maka hidup berlangsung ... Demikian juga, di antara bagian-bagian eksistensi terdapat suatu hubungan yang indah dan pertukaran kekuatan, yang menjadi sebab dari kehidupan dunia dan penerusan fenomen-fenomen yang tak terbilang jumlahnya ... Dari gambaran ini seseorang dapat melihat dasar hidup adalah saling bantu dan menolong ini.139
Menurut ’ Abdu’l-Baha, keterkaitan kooperatif ciptaan ini merupakan manifestasi cinta, yang merupakan "rahasia takdir Allah yang kudus”. Melalui cinta Allah dunia entitas menerima kehidupan:

Cinta merupakan sebab perwahyuan Allah terhadap manusia, ikatan vital yang melekat, sesuai dengan penciptaan ilahi, di dalam realitas benda-benda ... Cinta merupakan hukum paling besar yang mengatur kemahakuasaan dan lingkaran surgawi, kekuatan unik yang mengikat bersama pelbagai unsur dunia material ini, kekuatan magnetik tertinggi yang mengarahkan pergerakan bidang-bidang dalam kawasan-kawasan langit.
Lebih lagi, mineral, tanaman, dan binatang dilihat sebagai yang mempunyai pelbagai tingkat dan pangkalan roh. ’Abdu’l-Baha menulis pada tahun 1921:

tidak dapat diragukan bahwa mineral-mineral dianugerahi roh dan kehidupan menurut tuntutan tahap itu ...
Di dalam dunia tumbuhan, juga, terdapat kekuatan tumbuh, dan kekuatan tumbuh itu adalah roh. Di dalam dunia binatang terdapat indera rasa, tetapi di dalam dunia manusia terdapat kekuatan yang serba lengkap ... kekuatan bernalar dari budi....
Dalam cara yang sama budi membuktikan adanya Realitas tidak kelihatan yang merangkum semua ada, dan yang berada dan mewahyukan dirinya dalam semua tahap.
Terdapat sifat padu di dalam perbedaan-perbedaan hidup yang semakin berkembang — suatu roh yang mendasari, yang menjiwai semua yang ada. Oleh karenanya, pandangan yang ada mengenai alam sebagai "lingkungan” yang terbuat dari unsur-unsur material udara, air, tanah, dan organisme tidaklah tepat. Kata "lingkungan” mengandung pengertian yang bersifat eksternal dan pinggiran terhadap apa yang diandaikan menjadi objek perhatian sentral, yaitu manusia. Keasyikan manusia pada diri sendiri ini melalaikan kenyataan bahwa hidup dan roh merupakan sifat keseluruhan beserta interaksi-interaksi timbal-baliknya.
Sikap Lepas Bebas secara Spiritual dari Alam
Kemanusiaan merupakan bagian dari keseluruhan ciptaan yang pada gilirannya, dalam harmoni dan kesatuannya, mencerminkan kenyataan ilahi yang tidak kelihatan. Bersamaan dengan itu, secara paradoks, manusia menduduki posisi unik yang dapat disadari secara penuh hanya melalui sikap lepas bebas dari alam. ’Abdu’l-Baha menyatakan bahwa manusia "berada dalam tingkat tertinggi dari materialitas, dan pada awal dari spiritualitas”.
Penciptaan dilihat sebagai gerak maju dari tatanan yang semakin kompleks dari dunia mineral ke tumbuhan dan hidup binatang ke manusia. Namun, manusia mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk maju secara spiritual, tujuan utama kita adalah untuk bergerak maju menuju Allah. Sebagaimana dinyatakan oleh ’Abdu’l-Baha:
Allah telah menciptakan semua benda jasmani di bawah hukum kemajuan pada tingkat material, tetapi Ia telah menciptakan manusia dan menganugerahinya dengan kekuatan-kekuatan untuk maju menuju dunia spiritual dan transendental.143
Semua benda ciptaan lain merupakan "tawanan alam dan dunia in- d e rawi”, tetapi manusia, yang diciptakan dalam "gambar Allah”, menduduki posisi istimewa dalam ciptaan. Kita telah berkembang melalui semua dunia fisik dan memuat semua kemampuannya plus kemampuan khusus untuk pemikiran rasional dan refleksi-diri. Perkembangan kemampuan khusus budi ini yang memungkinkan kita untuk mengantarai dimensi material dan dimensi spiritual menuntut kita untuk membedakan diri l ila dari alam baik secara eksternal maupun internal. Melalui pemisahan mi manusia telah memperoleh kemampuan untuk memahami alam dari sisi luar dan menguraikan rahasia-rahasianya. Dalam pengertian internal kita sebagian telah memindahkan diri kita dari tanggapan-tanggapan fisik dan instingtif yang membimbing semua bentuk hidup lain dan telah mengembangkan kemampuan-kemampuan sadar pertimbangan dan keinginan.
Kebebasan yang diberikan oleh kemampuan-kemampuan ini melibatkan suatu tanggung jawab yang seimbang untuk memahami: Kenyataan tak kelihatan yang merangkum semua ada (BR, 222). Evolusi spiritual kita tergantung pada tingkat penyesuaian kita dengan kenyataan yang lebih besar itu, yang dilukiskan oleh Baha’u’llah dan semua nabi besar sebagai yang tanpa batas dan abadi. Jadi, untuk memperkembangkan secara benar spiritualitas sadar dan untuk membangkitkan kemampuan kita sepenuhnya, kita dipanggil untuk memotong identifikasi terdekat kita dengan dimensi fisik alam. ’Abdu’l-Baha membicarakan konsep ini:
Dan di antara ajaran-ajaran mengenai Yang Kudus Baha’u’llah adalah kebebasan manusia, sehingga melalui Kekuatan ideal ia harus menjadi bebas dan dimerdekakan dari tawanan dunia alam ... Sampai manusia lahir kembali dari dunia alam, yaitu, menjadi bersikap lepas bebas dari dunia alam, ia pada hakikatnya adalah hewan, dan ajaran-ajaran Aliahlah yang mengubah hewan ini menjadi jiwa manusia (BWF, 288-90).
Yang menjadi masalah adalah penyerapan ke dalam yang material, sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri. Sikap lepas bebas dari dunia fisik merupakan sarana untuk memperoleh akses sadar menuju kenyataan-kenyataan spiritual yang berada di balik dan mengatasi yang fisik. Secara paradoksal, sikap lepas bebas ini memungkinkan melihat bahwa dunia fisik secara sempurna dan penuh mencerminkan dunia spiritual. Hal ini ditunjukkan, sebagaimana dinyatakan John Hatcher, di dalam kesadaran kita yang berkembang mengenai ekologi.144 Selagi kita mulai memahami prinsip ekologis bahwa segalanya dihubungkan dengan segala sesuatu yang lain di dunia fisik, kita mempelajari kebenaran esensial dari hukum kesatuan rohani yang meresapi dan menjiwai semua ciptaan.
144 John Hatcher, The Piirpose of Phy.rical Keality (Wilmette, 111.: Baha’i PuhliihliiK Trust, 1987), 69.
Paradoks antara kesatuan kita dan sikap lepas bebas kita dapat dilihat pada refleksi lebih dalam sebagai representasi sifat multidimensional kemanusiaan kita. Kesadaran akan kesatuan kita dengan bumi, yang dalam arti sesungguhnya mengandung kita, mencerminkan baik kebijaksanaan animistik maupun pemahaman ekologis kontemporer. Bersamaan dengan itu, sebagaimana ditekankan oleh perwahyuan-perwahyuan religius yang lebih awal, kita harus sampai mengatasi dunia material untuk menemukan kemampuan spiritual dan untuk memenuhi takdir kita sebagai ada yang sadar. Kemampuan dan takdir itu, yang telah dicerminkan bagi kita oleh gerak maju utusan-utusan ilahi, merupakan suatu penyingkapan di dalam proses ciptaan yang berkelanjutan. Iman akan dan visi mengenai kesempurnaan kita memberi kekuatan kepada kita untuk maju menuju pemenuhan semua kemampuan kita dan ambil bagian di dalam meroha- nikan keberadaan sosial kita.
Walaupun Iman Baha’i bukanlah sistem kepercayaan pertama yang menyadari tegangan antara dimensi material dan dimensi spiritual ini, dia membawa suatu penghargaan yang lebih penuh akan keseimbangan di dalam hubungan ini. Matthew Fox mencari keseimbangan itu di dalam ungkapannya tentang ”panenteisme”.  Seperti panteisme, panenteisme melihat roh Allah sebagai yang hadir dalam semua hal; bersamaan dengan iju, Allah adalah Ada Bebas di atas dan mengatasi semua hal. Mirip dengan itu, Baha’u’llah telah menulis:
Seluruh semesta mencerminkan kemuliaan-Nya, sementara ia Sendiri adalah bebas dari, dan mengatasi ciptaan-ciptaan-Nya. Inilah arti sebenarnya dari kesatuan Ilahi. Ia Yang merupakan Kebenaran Abadi adalah Satu-satunya Kekuatan Yang melaksanakan kedaulatan mutlak atas dunia ada, Yang gambar-Nya direfleksikan di dalam cermin dari seluruh ciptaan. 
Kerendahan Hati
Di dalam keseimbangan tipis antara kesatuan dan sikap lepas bebas ini, kita diundang untuk menghormati ciptaan, menyadari kesakralannya, dan merendahkan diri di hadapannya. Di dalam keajaiban evolusi kehidupan, Allah telah bertindak melalui alam dengan jalan "kemunculan”. Ciptaan secara intrinsik dianugerahi makna dan tujuan, dan mencerminkan kesatuan, keindahan, dan misteri utama Allah. Bumi sendiri mengungkapkan sifat-sifat Allah sebagaimana ditegaskan oleh Baha’u’llah:
Betapa menyeluruhnya keajaiban-keajaiban rahmat-Nya yang tanpa batas! Lihatlah bagaimana mereka meresapi seluruh ciptaan. Begitulah keutamaan mereka sehingga tidak ada satu atom pun di seluruh semesta dapat ditemukan yang tidak menyatakan bukti-bukti kemahakuasaan- Nya, yang tidak memuliakan Nama-Nya yang kudus, atau tidak mengekspresikan sinar cemerlang kesatuan-Nya. Begitu sempurna dan komprehensiflah ciptaan-Nya sehingga tidak ada budi atau hati, betapa pun tajam atau murninya, dapat menangkap kodrat dari yang paling sepele pun dari ciptaan-Nya; semakin tak terlukiskan misteri-Nya Yang merupakan Bintang Pagi Kebenaran, Yang merupakan Esensi tak kelihatan dan tak terpahami (G, 62).
’Abdu’l-Baha melukiskan ciptaan sebagai satu dari "dua Buku” Allah. "Buku Ciptaan sesuai dengan Buku tertulis” — perwahyuan-perwahyuan suci dari semua nabi Allah. Seperti buku tertulis, "Buku Ciptaan merupakan perintah Allah dan tempat penyimpanan misteri-misteri ilahi”.
Spiritualitas kebudayaan-kebudayaan asli dunia didasarkan pada pemahaman akan "kitab” pertama dari ”Buku Ciptaan”; dan di dalam agama-agama wahyu, simbol-simbol alam seperti pohon, air, gunungjuga membawa makna rohani. Baik dengan konteks langsung maupun melalui refleksi simbolis, jiwa manusia disegarkan oleh hubungan dengan keindahan, misteri, dan keagungan alam.
Suatu sikap terpesona dan syukur terhadap bumi merupakan bagian dari pencapaian kerendahan hati rohani. Kerendahan hati secara harfiah berarti dari tanah atau humus. Baha’u’llah melukiskan hubungan ini:
Setiap orang yang peka, ketika berjalan di atas bumi, benar-benar merasa malu, sejauh ia sepenuhnya menyadari bahwa benda yang menjadi sumber kesuburan, kekayaan, dan kekuatan, keluhuran, kemajuan dan dayanya, sebagaimana ditetapkan oleh Allah, adalah benar-benar bumi yang diinjak-injak di bawah kaki semua manusia. Tidak ada keraguan bahwa siapa saja yang sadar akan kebenaran ini, dibersihkan dan disucikan dari semua kesombongan, keangkuhan, dan kemuliaan semu.
SEBUAH PANDANGAN BARU MENGENAI KEUTUHAN DI DAIAM HUBUNGAN KITA DENGAN ALAM
Dengan mengembangkan sikap hormat yang baru terhadap dan keija sama dengan alam menuntut, pertama-tama, suatu wawasan mengenai keutuhan di dalam hubungan kita dengan alam. Hal ini menuntut suatu perspektif evolusi dan tujuan manusia yang menyatukan kenyataan material dan kenyataan spiritual. Perhatian istimewa pada transendensi terhadap alam, yang menjadi sifat budaya Barat khususnya, dicerminkan di dalam sikap berpusat-diri spesies umat manusia. Perpisahan dari takdir manusia dari kehidupan fisik di bumi sekarang menuntut suatu pendamaian. Namun, hal ini tidak dapat dicapai melalui penggantian antroposentrisme dengan biosentrisme. Justru, keterpisahan kita dari alam dan kesatuan kita dengannya harus dipahami sebagai suatu dialektik kreatif di dalam perkembangan kesadaran manusia.
Proses menjadi makhluk sadar telah menuntut kita untuk memisahkan diri dari akar-akar tidak sadar di dalam alam dan untuk mengiden- lifikasikan dengan wawasan kita mengenai kemungkinan yang mengatasi yang fisik. Keterpisahan ini telah merampas dari kita dasar yang aman bagi siapakah kita dan tidak ada wawasan yang jelas mengenai keutuhan

kita. Kita hanya mempunyai ingatan yang samar mengenai kesatuan tak sadar kita dengan alam dan suatu harapan kabur akan pemulihan perdamaian dan keutuhan di dalam surga abstrak atau kerajaan Allah di masa depan. Konsep-diri negatif yang kita pegang sebagai makhluk yang jatuh dalam dosa itu sendiri menyuburkan rasa salah, keputusasaan, dan pelecehan diri kita maupun ciptaan. Namun, tulisan-tulisan Baha’i membuat jelas bahwa kita menjadi ada dalam suatu ciptaan yang sempurna dan bahwa kedudukan kita di dalamnya bersifat luhur. Kita adalah ”buah ciptaan”, makhluk sadar yang diberi tanggung jawab untuk melengkapi ciptaan dengan mencerminkan kesempurnaannya. ’Abdu’l-Baha menyebut situasi ini sebagai berikut.
Salah satu hal yang telah tampak di dunia keberadaan, dan yang merupakan salah satu tuntutan Alam, adalah kehidupan manusiawi. Dipertimbangkan dari titik pandang ini manusia merupakan cabang; alam merupakan akar. Maka, dapatkah kehendak dan inteligensi, dan kesempurnaan yang ada dalam cabang tidak ada di dalam akar? (SAQ, 4).
Selanjutnya, ia menyatakan bahwa kemanusiaan ”di dalam badan dunia itu seperti otak dan budi di dalam manusia ... manusia adalah anggota terbesar dari dunia ini, dan bila badan tanpa anggota utama ini, tentu ia menjadi tidak sempurna. Kita mempertimbangkan manusia sebagai anggota terbesar, karena, di antara makhluk-makhluk, ia merupakan ringkasan dari semua kesempurnaan yang ada” (SAQ178). Baha’u’llah menyebut tema yang sama.
Sampai pada tingkat tertinggi adalah manusia ini, yang, di antara semua benda tercipta, telah dianugerahi dengan jubah anugerah-anugerah istimewa, dan telah dipilih untuk kemuliaan khusus seperti itu. Sebab di dalamnya secara potensial diwahyukan semua sebutan dan nama Allah sampai pada taraf di mana tidak ada ciptaan lain yang mengatasi atau melebihi (G, 177).

Dengan kata lain, kita adalah alam yang menjadi sadar akan dirinya,
tetapi anugerah kesadaran mengangkat kita ke dalam dimensi lain. Alam
adalah sempurna dalam dirinya sendiri karena ia diatur oleh hukum-
hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah. Kesempurnaan ini dicerminkan di dalam semua kiasan alam yang digunakan di dalam tulisan-tulisan Baha’u’llah dan nabi-nabi yang lebih awal. Kesempurnaan manusia, bagaimanapun, tidak diwujudkan. Kita harus memilih mewujudkannya melalui perkembangan kemampuan-kemampuan spiritual kita yang tersembunyi. Kemampuan-kemampuaauntuk menyatakan ”sebutan dan nama Allah” selalu berkembang dan dicerminkan kepada kita oleh serangkaian utusan ilahi dan perwahyuan mereka. Di dalam evolusi kemanusiaan menuju kesadaran dan kepenuhan sadar, utusan Allah merupakan kunci bagi kesatuan kenyataan-kenyataan material dan spiritual. Maka, pusat keberadaan bukanlah kemanusiaan atau alam (bukan antroposentrisme ataupun biosentrisme). Allah melalui manifestasi-Nyalah yang merupakan ”akar” dari "pohon kehidupan” (BWF, 364). Pada masa ini, kaum Baha’i percaya, unifikasi yang dinyatakan oleh Baha’u’llah telah melepaskan kemampuan bagi kita untuk mengubah diri kita menuju suatu cerminan yang lebih lengkap dari kesempurnaan-kesempurnaan Allah dan keutuhan ciptaan.
Di dalam terang ini, krisis-krisis yang semakin mendalam dari kerusakan planet harus dilihat bukan sebagai kegagalan tak terhindarkan dari umat manusia yang telah jatuh dalam dosa, melainkan sebagai tahap menentukan di dalam evolusi kesadaran manusia menuju keutuhan yang lebih besar. Krisis-krisis ini memaksa kita untuk merefleksikan ketidaklengkapan wawasan kita dewasa ini dan menjawab dengan segera terhadap kekuatan-kekuatan transformasi. Bagian kedua dari bab ini akan menyelidiki dimensi-dimensi sosial dari proses spiritual transformasi ini.
MENUJU SUATU BUDAYA GLOBAL: EVOLUSI MASYARAKAT YANG BERKELANJUTAN
Memahami ciptaan sebagai yang sakral dan utuh dan melihat peran manusia untuk menjadi partisipan yang sadar, berbela rasa, dan kreatif di dalam evolusi kehidupan merupakan tuntutan utama bagi masyarakat yang berkelanjutan secara ekologis. Bagaimanapun, memperkembangkan masyarakat ini menuntut bukan hanya suatu transformasi di dalam sikap dan nilai individual kita, melainkan juga suatu penataan kembali yang utuh atas struktur-struktur sosial kita. Sebagian besar dari lembaga- lembaga sosio-ekonomis masyarakat industrial modern didasarkan pada 
usaha mengejar kemajuan material melalui keterpisahan dari dan sikap menaklukkan alam. Pemisahan ini menyangkal hubungan penuh arti bagi seluruh ciptaan dan akibatnya menyangkal kesakralan terhadap hidup. Kehilangan makna dan pengejaran kekosongan ini, pada gilirannya, mengobarkan usaha mencari pemenuhan melalui konsumsi, kompetisi, dan tindakan-tindakan adiktif lain. Keterpisahan dari alam yang mendasari modernisme cocok dengan pemisahan antara budi dan hati.
Mempribadikan suatu pandangan baru tentang keutuhan hubungan kita dengan bumi menuntut pembadanan kembali dimensi spiritual. Namun kita berpegang, kata Henryk Skolimowski, pada cita-cita kita akan "keselamatan sekuler” karena sukses sains dan humanisme tampak terlalu keras untuk dikhianati.149 Meskipun ada penolakan seperti ini, pandangan materialisme sekuler yang berlaku sedang digerogoti baik oleh berke- cambahnva masalah-masalah dan kontradiksi-kontradiksinya maupun oleh munculnya kosmologi-kosmologi yang lebih inklusif yang memberikan prinsip-prinsip organisasi baru. Kesatuan dimensi-dimensi material dan spiritual merupakan prinsip yang memberikan dasar bagi pandangan kemanusiaan di dalam hubungan dengan keseluruhan ciptaan. Penemuan-penemuan batas-batas baru dari sains menunjuk pada jenis integrasi ini dan memberikan analogi-analogi seperti di dalam fisika di mana cahaya dimengerti baik sebagai gelombang maupun sebagai parti- kel. Pandangan-dunia yang muncul harus memperhitungkan manusia sebagai ada biologis sekaligus spiritual. Skolimowski menyatakan bahwa manusia
adalah penjaga keseluruhan evolusi, dan pada waktu yang sama hanyalah titik pada anak panah evolusi... Kesakralan manusia merupakan kekhususan dari konstitusi biologisnya yang dianugerahi dengan kemampuan-kemampuan yang telah begitu diperlembut sehingga mampu mencapai spiritualitas (E-P, 74-75).
Iman Baha’i didasarkan pada perspektif evolusioner seperti itu. Sebagaimana telah dibicarakan lebih awal, iman ini memandang asal dan takdir spiritual kita sebagai bagian dari keseluruhan evolusi kehidupan planet ini. Roh dinyatakan dalam semua tahap dan proses keberadaan, dan diwujudkan secara sadar melalui kemampuan-kemampuan khusus kesadaran manusia. Perkembangan kebudayaan sendiri dilihat sebagai proses pematangan organik yang maju di mana semua perwahyuan religius yang besar dan kemajuan-kemajuan ilmiah merupakan unsur-unsur integral. Perspektif dinamis dan holistik ini dapat membantu kita untuk menembus dikotomi kemanusiaan yang terbentuk secara sosial melawan planet dan mengatasi pemisahan-pemisahan yang merusak dari umat manusia. Di dalam gerakan evolusioner yang lebih besar situasi kita dewasa ini dapat dipahami sebagai suatu tahap menentukan di dalam kelahiran suatu tata dunia baru yang sesuai dengan Iman Baha’i dan kemalangan intelektual. Ajaran-ajaran Iman Baha’i bukan hanya melukiskan dimensi-dimensi masa lampau dan masa depan proses ini, mereka juga menawarkan nilai, prinsip, dan bentuk-bentuk institusional baru yang dapat membimbing kita menjalani transisi ini menuju kematangan dan perkembangan kebudayaan global.
Perspektif Evolusioner
Di dalam tulisan-tulisan Baha’i, evolusi kemanusiaan dipandang sebagai suatu proses organik dengan tujuan tertentu. Gambaran-gambaran alami, seperti bumi yang berkembang di dalam "matra semesta” dan spesies manusia yang tumbuh dan berkembang di dalam "rahim bumi”, digunakan untuk melukiskan kodrat proses ini (SAQ, 182-83). Evolusi kebudayaan j uga dipandang secara organis dengan menggunakan analogi tahap-tahap perkembangan manusia.159 Di dalam kerangka kematangan ini mungkinlah untuk menarik garis hubungan kemanusiaan yang berubah dengan bumi. Di dalam tahap-tahap paling awal dari perjalanan manusia, ketergantungan manusia pada bumi dirangkum dalam mitos-mitos dan bentuk- bentuk kultural. Simbol-simbol bumi yang memberi hidup sebagai "ibu” menandakan ikatan yang khas dari masa kanak-kanak. Dengan asosiasi,
 Meskipun suatu urutan perkembangan disarankan, tidak ada indikasi superioritas kultural. Aliran-aliran kultural yang berbeda lelah menyelidiki dan memperkembangkan kemampuan-kemampuan yang semuanya bersifal integral terhadap masa rekonsiliasi sekarang ini.
peran kaum "feminin” di dalam aspek-aspek keturunan dan pemeliharaan umumnya mendapat pengakuan lebih besar.
Di dalam kemunculan budaya kapak terdapat tekanan lebih besar pada rasionalitas, kebebasan, dan aturan, yang menunjukkan suatu pergeseran ke keunggulan kaum "maskulin”. Akibatnya, alam secara bertahap didemitologisasikan dan upaya-upaya spiritual dan intelektual dipisahkan serta diabstraksikan dari kekuatan-kekuatan instingtif dasar dari tubuh dan bumi.
Sains Barat yang berkembang di dalam konteks ini dan mengambil pengandaian operasional dasarnya sebagai pemisahan secara radikal subjek dan objek, kemanusiaan dan alam. Bumi berhenti menjadi komunitas yang merangkum manusia dan semakin menjadi suatu komoditas untuk dimanfaatkan dan dimiliki. Akibatnya, ketergantungan asali kita pada dunia alami telah digantikan oleh keterasingan dari alam dan kekuasaan atas dunia material yang tak berarti.
Sama destruktifnya dengan keterasingan ini dalam pengertian dominasi atas alam, tatanan budi ini dapat dimengerti di dalam konteks evolutif yang lebih luas sebagai tahap yang perlu dari pendewasaan kesadaran manusia. Sebagaimana pada masa remaja, sewaktu individuasi mensyaratkan ego yang rapuh untuk muncul dan menyatakan diri, demikian pula umat manusia telah memisahkan diri dari kesatuan primordial alami. Bagaimanapun, untuk secara kontinu menegaskan suatu tingkat kebebasan yang ekstrem dan "rasa kemahakuasaan yang salah” tidak lagi dapat dipertahankan.
Keharusan evolutif kita harus meninggalkan tahap remaja dan maju ke pemahaman yang dewasa atas kesaling-tergantungan kita yang benar dengan alam. Hubungan ini akan melibatkan integrasi dimensi-dimensi religius dan ilmiah. Agama mengungkapkan rasa dilingkupi oleh sesuatu yang lebih besar yang dengannya dicari harmoni, sementara ilmu me
nyatakan desakan untuk melingkupi dan untuk memahami ("Science”, 15-16). Kematangan di dalam hubungan kita dengan bumi mencakup kerendahan hati yang murni mengenai posisi ketergantungan kita pada ruang-lingkup ekologis, sementara bersamaan dengan itu memenuhi kebutuhan manusia melalui penerapan keterampilan dan teknologi yang didasarkan pada prinsip-prinsip ekologis.
Sains sendiri telah menjadi sarana yang dengannya kebenaran kesaling-tergantungan yang besar dari hidup telah mulai terang. Paradigma- paradigma yang muncul di dalam ekologi, fisika kuantum, neurologi, dan psikologi semuanya menunjuk pada kesatuan fundamental kehidupan dan saling meresapinya antara materi dan roh. Kenyataan bahwa sains sekarang menegaskan kesaling-terkaitan dinamis kehidupan tidak dengan sendirinya memulihkan keterhubungan subjektif atau rasa keutuhan. Pemulihan dari keutuhan itu pada tingkat sadar merupakan suatu proses yang dihubungkan dengan makna asali agama — untuk menghubungkan kembali, atau mengikat kembali. Bagaimanapun, di dalam masa meluasnya pengetahuan manusia, pengaitan kembali yang menyembuhkan ini mensyaratkan pemahaman religius yang melengkapi prinsip ilmiah bahwa kebenaran bersifat relatif dan berkembang. Dalam abad kesembilan belas, Baha’u’llah menyatakan bahwa perwahyuan kebenaran religius merupakan suatu proses yang berlangsung terus, dan terbuka yang telah menjiwai perkembangan manusia menuju kesatuan dan kesadaran yang lebih besar. Di dalam konteks ini, Baha’u’llah menyalakan bahwa peran dari perwahyuannya adalah untuk mengawali suatu proses unifikasi sadar pada tingkat planet — suatu proses yang cocok bagi pematangan manusia dan kemampuan-kemampuan teknologis yang berkembang. Pernyataan pokok proses ini adalah pengakuan dan penerimaan atas kesatuan keluarga manusia. Kesatuan planet merupakan hasil yang perlu dan tak terhindarkan dari perkembangan kolektif material dan spiritual manusia — "pemenuhan evolusi manusiawi”. 
Paradigma Kesatuan: Syarat bagi Suatu Masyarakat yang Berkelanjutan secara Ekologis
Kesatuan kemanusiaan sebagaimana dinyatakan oleh Baha’u’llah bukan sekadar "ekspresi dari harapan yang samar-samar dan saleh” atau suatu pembaruan dari panggilan-panggilan tradisional bagi solidaritas. "Kesatuan itu mensyaratkan perubahan organis di dalam struktur masyarakat dewasa ini, suatu perubahan yang belum pernah dialami oleh dunia” (WOB, 42-43). Kesatuan ini menuntut suatu refleksi di dunia kemanusiaan atas hukum kesatuan fundamental di dalam keseluruhan ciptaan. Maka, Iman Baha’i menampilkan suatu paradigma kesatuan yang mencerminkan suatu perubahan pemahaman atas hubungan bagian-bagian satu sama lain dan terhadap keseluruhan. Tingkat baru integrasi ini merupakan bagian dari pematangan kesadaran manusia yang mengikuti seluruh proses perkembangannya dan tingkat-tingkat interaksi dan kesaling-tergan- tungan yang semakin berkembang.
Datangnya zaman ini mensyaratkan bukan hanya pergeseran persepsi; hal itu mensyaratkan penataan-penataan institusional yang mengakui keunggulan keseluruhan. Yang terpenting dari semuanya ini adalah suatu bentuk sistem federal dunia yang dibimbing oleh nilai-nilai dan hukum- hukum yang disetujui secara universal, yang dapat mencerminkan kenyataan kesatuan kemanusiaan dan ketergantungan integralnya pada ruang- lingkup ekologis yang meruang-lingkupinya, yang merupakan suatu keutuhan terpadu. Sistem-sistem pemikiran dan pemerintahan yang cocok untuk masa remaja umat manusia harus memberi jalan bagi pola-pola baru dan lembaga-lembaga baru yang perlu untuk mengatur secara kooperatif suatu dunia yang semakin saling tergantung.
Kesadaran akan konsekuensi-konsekuensi perpecahan dan perlunya kesatuan merupakan unsur menentukan transisi ini. Harga dari nasionalisme, rasisme, dan bentuk-bentuk lain perpecahan dapat diukur dalam akibat-akibat sosial dan ekologis dari perang, ketidaksejajaran, dan penggunaan militer secara sangat tidak bertdnggung jawab. Anggaran militer global selalu melebihi sembilan ratus■tosmu dollar setiap tahunnya, meskipun prospek pengurangan ketegangan bertepatan dengan akhir perang dingin. Kurang dari lima persen darijumlah itu (empal puluh lima triliun setiap tahunnya) seharusnya dipergunakan untuk membiayai tuntutan- tuntutan lingkungan yang paling mendesak — untuk mengatasi erosi tanah, melindungi hutan dan penghutanan kembali, melindungi lapisan ozon, membersihkan sampah-sampah yang membahayakan, mengembangkan sumber-sumber energi yang dapat diperbaharui, dan membuat populasi stabil.154
Masalah-masalah global dewasa ini, khususnya perhatian-perhatian ekologis yang mengatasi batas-batas bangsa, merupakan "fungsi-fungsi kekuatan” yang menuntut masyarakat bangsa-bangsa untuk bergerak mengatasi pendekatan-pendekatan ad hoc dan reaksioner untuk mengatasi masalah. Anjuran untuk etika global yang terintegrasi dan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan yang diangkat dalam Our Common l'uture, dan selanjutnya diperluas sepanjang proses Konferensi Tingkat Tinggi mengenai Bumi, menampilkan suatu penerimaan yang semakin berkembang atas kebutuhan persatuan di dalam menyelesaikan masalah- masalah global. Dengan penerimaan ini, terdapat usaha mencari jalan untuk menghasilkan perubahan sikap dan motivasi yang dituntut bagi tindakan global terpadu. Pembentukan Komisi Pembangunan yang Berkelanjutan oleh PBB, sebagai bagian dari perwujudan dari "Agenda 21” Konferensi Tingkat Tinggi atas Bumi, merupakan salah satu langkah kecil tetapi penting di dalam kesadaran kebutuhan akan tujuan-tujuan • lan prinsip-prinsip global yang mengantisipasi dan mengarahkan pembangunan masa depan.155
Sementara semua tahap itu penting dan perlu, reorganisasi politis dan sosial hanya dapat menjadi efektif sampai tingkat di mana kesadaran .ik.m kesatuan kemanusiaan merupakan premis operasional. Kebenaran spiritual dan organik ini, begitu diterima, dapat memberikan kekuatan konstruktif yang akan diperlukan untuk melaksanakan perubahan-perubahan struktural yang berjangkauan luas yang dituntut untuk memaju-     
kan pola-pola pembangunan yang berkelanjutan. Prinsip kesatuan harus menjadi fondasi bagi pembangunan dan pemberian mandat kepada lembaga-lembaga yang dapat menyentuh masalah-masalah lingkungan dan pembangunan yang dapat dipertanggungjawabkan pada tingkat global. Demi alasan inilah tekanan besar dari Komunitas Internasional Baha’i sedang memperkembangkan suatu kerangka konsultatif dan institusional yang menunjukkan kemungkinan pelaksanaan suatu masyarakat global terpadu.
Globalisme dan Desentralisme
Seruan oleh para ekolog-dalam dan para ahli teori sosial yang lain bagi teknologi dan ekonomi yang didesentralisasikan, berskala kecil, dan berbasis masyarakat, sepintas, tampak menampilkan ekstrem sebaliknya dari pemikiran global yang diperkenalkan di atas. "Kesadaran ekologis”, dikatakan, telah berkembang terutama pada "tradisi minoritas” yang mencakup kebudayaan suku, masyarakat utopis, dan banyak komunitas monastik dan religius.  Terdapat suatu keprihatinan bahwa suatu masyarakat "global” akan menjadi suatu negara super yang lebih efektif untuk menaklukkan ruang-lingkup ekologis. Apa yang diperlukan, seperti disarankan para penganut desentralisme, adalah memperkembangkan komunitas- komunitas yang didasarkan pada ekosistem khusus (bioregionalisme) dengan rakyat yang mempunyai komitmen untuk "menghuni kembali” dan memulihkan ekosistemnya dan memperkembangkan suatu "rasa akan tempat” yang baru.
Terdapat beberapa aspek dari pendekatan Baha’i yang berhubungan dengan konsep-konsep desentralis ini. Pertama dan terutama, konsep Baha’i mengenai globalisme merupakan kesadaran tingkat tinggi akan pentingnya kebudayaan dan agama tradisional, sekaligus menyadari kebutuhan akan tatanan dan pengaturan global. Konsep Baha’i mengenai globalisme "dari satu pihak menolak sentralisasi yang berlebihan, dan di lain pihak menolak semua upaya uniformitas. Kata kuncinya adalah kesatuan di dalam kebinekaan” (WOB, 42).
Struktur dari Komunitas Internasional Baha’i sekarang ini menawarkan suatu pola untuk menyusun suatu masyarakat dunia yang wawasannya mencakup seluruh dunia tetapi yang anggota-anggota dan kegiatan-kegiatannya sangatlah bervariasi. Hal itu terdiri dari 116.000 komunitas lokal lebih di dalam sekitar 210 negara dan daerah-daerah bebas yang operatif di bawah bimbingan suatu badan global yang dipilih, Dewan Keadilan Universal. Sementara mengikuti tujuan dan prinsip umum bagi perkembangan spiritual dan sosial, setiap komunitas harus menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan mendesak dari konteks kultural dan ekologisnya. Adaptasi ini diperkembangkan melalui lembaga-lembaga konsul- latif lokal yang dipilih, yang dapat memperkembangkan sumber-sumber komunitas sekaligus menarik sumber-sumber nasional dan internasional dari komunitas yang lebih besar. Setiap komunitas menganggap dirinya sebagai suatu ”sel” di dalam "organisme global”, yang merupakan prototipe dari komunitas dunia masa depan.
Hubungan antara integrasi global dan adaptasi dan diferensiasi lokal mi tidak berbeda dari hubungan antara ruang-lingkup ekologis dan eko- sislem-ekosistem komponennya.  Ekosistem-ekosistem sangat bervariasi menurut tempat mereka, tetapi semua bergerak dengan prinsip-prinsip ekologis yang sama dan secara organis terajut di dalam ruang-lingkup ekologis yang lebih besar. Model Baha’i mengenai tatanan sosial yang tersusun secara organis juga melukiskan bagaimana, pada umumnya, prinsip-prinsip spiritual dan natural bersifat korelatif.
Lepas dari penyusunan struktural untuk mengkoordinasi perhatian- perhatian global dan lokal, terdapat beberapa prinsip yang digariskan di dalam tulisan-tulisan Baha’i yang menyarankan suatu orientasi yang i li< lasarkan pada tanah dan komunitas. Pertanian dilukiskan sebagai suatu "prinsip fundamental” dan "rekonstruksi desa” sebagai suatu tahap awal i lari perkembangan ekonomis. "Cetak biru” bagi pembangunan lembaga- lembaga komunitas sentral untuk mendukung kemandirian dan perkem-

 
Arthur Lyon Dahi, Unless and Until: A Baha’i Focus on the Environment (London: Baha’i Publi- Rhinff Trusi. 1990), 81-82.
bangan komunitas juga digariskan di dalam tulisan-tulisan Baha’i. Prinsip kuncinya adalah bahwa perkembangan seharusnya mendukung dan menguntungkan seluruh komunitas daripada mengizinkan individu-individu dan kaum elite untuk memonopoli kekayaan. Maka, pandangan Baha’i mengenai masyarakat global merupakan satu pandangan yang didasarkan pada individu, keluarga, dan kemandirian lokal, yang diintegrasikan dengan kesaling-tergantungan yang kompleks pada tataran nasional dan global.
Pria dan Perempuan: Kesamaan dan Keseimbangan
Tatanan sosial kita sekarang ini merupakan ekspresi simbolis dari ego laki-laki dan kecenderungannya terhadap rasionalitas dan sifat kompetitif. Namun, kualitas-kualitas pengasuhan, intuisi, dan kepekaan emosional, yang dipercaya banyak orang lebih dihubungkan dengan prinsip perempuan, merupakan kualitas-kualitas paling diperlukan di dalam menyembuhkan hubungan kita dengan alam. Munculnya kesadaran lingkungan dan kesejajaran perempuan menunjukkan perkembangan yang paralel.
Bagi kaum Baha’i, kesejajaran perempuan dilihat sebagai suatu tujuan esensial dan prasyarat bagi pembangunan suatu dunia yang adil dan damai. Meskipun suatu diskusi penuh mengenai prinsip penting ini berada di luar jangkauan makalah ini, tulisan-tulisan Baha’i menekankan bahwa selama kaum perempuan dihalangi mencapai kemampuan penuh mereka, masyarakat tidak akan seimbang. Pada tahun 1912, ’Abdu’l-Baha mengajukan pernyataan berikut di dalam tema penting ini:
manusia telah mendominasi perempuan dengan alasan kualitas-kua- litasnya lebih kuat dan agresif baik badan maupun budinya. Namun, skala-skala telah menunjukkan pergeseran — kekuatan kehilangan bobotnya dan kewaspadaan mental, intuisi, dan kualitas-kualitas spiritual cinta dan pelayanan, di mana perempuan kuat, sedang naik daun. Jadi, zaman baru akan menjadi zaman yang kurang maskulin, dan lebih diresapi oleh cita-cita feminin.
RINGKASAN
Tulisan-tulisan Iman Baha’i menawarkan suatu wawasan mengenai transformasi global fundamental yang memuat serangkaian prinsip baru untuk memahami dan membimbing hubungan manusia dan alam. Dorongan religius yang mereka muat merupakan sumber komprehensif dari tenaga- tenaga intelektual, sosial, dan spiritual. Mereka menegaskan bahwa perwujudan akan tata dunia rohani yang telah menjadi janji kitab-kitab suci sepanjang zaman sekarang menjadi kemampuan dan tuntutan zaman kita.
Unsur-unsur wawasan transformatif ini mencakup suatu penegasan akan yang ilahi di dalam ciptaan dan suatu penjabaran kesatuan esensial dari dimensi-dimensi material dan spiritual sepanjang seluruh proses evolutif. Kemanusiaan, sebagai bagian dari kesatuan hidup ini, telah melewati proses perkembangan yang progresif. Tatanan sosial yang ada menampilkan tahap remaja dari perkembangan ini. Setelah melampaui kebebasan masa kanak-kanak melalui tahap dorongan mencari autonomi masa remaja, kemanusiaan sekarang berada pada titik transisi menuju ke kematangan sadar. Peijalanan historis yang panjang untuk menjadi makhluk sadar melalui keterpisahan dari alam memuncak di dalam pemahaman dewasa akan saling keterhubungan yang mendalam dari hidup.
Tulisan-tulisan Baha’i menyarankan bahwa proses pematangan ini menuntut suatu kesadaran religius luas dengan melengkapi dan menjadi bagian integral dari kemajuan ilmiah kita. Hanya di dalam konteks inilah kemampuan-kemampuan tersembunyi roh manusia dapat sepenuhnya dipercepat dan dilampiaskan. Kemampuan-kemampuan ini, seperti spiritualitas, kreativitas, dan altruisme, dapat mendukung tindakan nonegois demi planet, rakyatnya, dan generasi mendatang. Mereka merupakan sumber tak terbatas di hadapan sumber-sumber material yang menyedihkan. Pembangunan kualitas-kualitas spiritual merupakan persyaratan tim i zaman ini dan buah dari tujuan manusia di dalam seluruh evolusi hidup.
Untuk membantu mempercepat pelampiasan kemampuan spiritual Individual dan memusatkannya sebagai kekuatan bagi transformasi kulim d dan regenerasi moral, lembaga-lembaga yang dibangun atas dasar wawasan komprehensif mengenai kesatuan harus dilaksanakan. Komunitas Internasional Baha’i sendiri merupakan model embrionik untuk proses transformasi tatanan sosial seperti itu.
Proses transformasi ini bukan bersifat idealistik ataupun utopis: berhadapan dengan akibat-akibat manusiawi dan ekologis yang berbahaya yang menghadang kita, bila kita meneruskan ”kegiatan seperti biasa”, inilah realisme baru itu. Transformasi ini menjadi mungkin karena kekuatan-kekuatan yang memicu evolusi hidup sejak awal masih aktif di dalam masyarakat manusia. Ada alasan untuk percaya bahwa kekuatan- kekuatan misterius yang telah "membentuk planet di bawah kaki kita” dan "membimbing hidup melalui pelbagai perwujudannya yang membingungkan” di dalam ekosistem-ekosistem alami dan kebudayaan-kebudayaan manusiawi, "tidak runtuh secara tiba-tiba di bawah volume besar kegiatan manusia pada akhir abad kedua puluh ini”.
Kesimpulannya, tulisan-tulisan Baha’i menawarkan suatu wawasan mengenai keutuhan di dalam hubungan kita dan alam dan mengenai tujuan spiritual di dalam seluruh evolusi kehidupan yang memberi dasar bagi terciptanya kebudayaan yang menegaskan kehidupan dan memampukan individu-individu untuk menjadi pelaku transformasi di dalam mengembangkan kebudayaan global yang berkelanjutan.