Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Info & Berita  Info Dunia Islam 
PENEGAK MAZHAB UKHUWAH
Pages: [1]

(Read 138 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1519
  • Logged
PENEGAK MAZHAB UKHUWAH
« on: 21 Jan, 2019, 21:23:23 »



PENEGAK MAZHAB UKHUWAH

Hari ini, 13 Rajab, sekitar 14 abad lalu, lahir seorang anak dalam Ka'bah. Ibunya menamainya Haydar (Singa). Muhammai yang kelak menjadi guru dan saudara setianya, menamainya Ali Ketika keadaan ekonomi keluarga Abu Thalib melemah, Muham jnad membawa Ali ke rumah. Dia tumbuh besar di samping Mu hammad RasuluUah saw. Tidak jarang dia tidur satu ranjang dc ngan Rasulullah saw. Ketika kecil, dia menghangatkan badanny dan merapatkannya ke tubuh Nabi. ”Aku tidak pernah melupaka semerbak tubuh Rasul,” kata Ali kemudian hari. Setelah dewasi dia sering duduk di samping Nabi, menghangatkan nyala iman < hatinya. Dia anak muda yang hampir seluruh hidupnya belajar c "Universitas” Nabawi. Dia tumbuh dalam asuhan wahyu. Di diwisuda di Ghadir Khum pada 14 Hijri, dan disumpah untu melanjutkan ajaran gurunya. Nabi melantiknya dan melingkarka serban hitam (al-sahab) di kepalanya. ”Man kuntu mawlah, ‘aliyun mawlah,” seru RasuluUah saw. di depan puluhan nb jamaah haji. Sepanjang sejarah, ribuan orang saleh menggemaku ucapan Nabi itu: Man kuntu mawlah, fa ‘aliyun mawlah (Sia| yang menjadikan aku sebagai mawla-nya, hendaknya Ali pun me(
jadi mawla-nya. pula).   .
Apa arti mawla? Menurut kamus, mawla artinya pemimpin, pelindung, sahabat, kekasih. Secara singkat, mawla berarti rujukan. Siapa yang merujuk kepada Rasulullah saw. dalam pikiran di perilaku hendaknya merujuk juga kepada Ali. Mazhab Ali adalah mazhab Rasulullah. ”Hai Ali, kedudukanmu terhadapku sama
seperti kedudukan Harun terhadap Musa a.s.,” kata Nabi meyakinkan Ali dan setiap kaum Mukmin.
Jabir bin Abdullah, seperti dikisahkan kembali oleh lala- luddin Al-Suvuthi dalam Al-Durr Al-Mantsur, bercerita: Suatu hari kami berkumpul bersama Nabi saw. Ali datang. Nabi berkata: ”Demi Allah yang diriku berada di dalam kekuasaannya, sesungguhnya orang ini dan pengikutnya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat nanti.” Lalu turunlah ayat, Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, merekalah makhluk yang paling baik (khayrul-bariyyah) (QS 98:7). Sejak saat itu, setiap kali Ali lewat, para sahabat berkata: Telah datang khayrul-bariyyah.
Ketika Aisyah r.a. ditanya tentang akhlak Nabi, dia menjawab: "Akhlak Nabi itu Al-Quran.” Bila para sahabat Nabi ditanya bagaimana akhlak Ali, mereka akan berkata: ”Akhlak Ali itu akhlak Rasulullah saw.” Bila kita ditanya bagaimana akhlak Mukmin yang saleh (khayrul-bariyyah), kita akan menjawab: "Akhlaknya Ali bin Abi Thalib.”
Bagaimana akhlak Ali? Musthafa Bek Najib dari Universitas /M-Azhar, Kairo, menulis dalam Himayat Al-Islam, ”Apa yang harus dikatakan mengenai Imam ini? Amatlah sulit menjelaskan akhlak dan sifat-sifatnya. Cukuplah dikatakan bahwa Nabi saw. menyebut dia sebagai pintu ilmu dan hikmah. Dia orang yang paling berilmu, paling berani, dan paling fasih berbicara. Ketakwa- .mnya, kecintaannya kepada Allah, keikhlasan dan keteguhan imannya mencapai tingkat yang begitu tinggi, sehingga orang lain sukar menyamainya. Dia adalah politikus besar karena dia membenci diplomasi dan mencintai kebenaran dan keadilan.
"Kebijakannya adalah kebijakan yang diajarkan Tuhan. Karena kearifannya dan karena pengetahuannya tentang jiwa manusia, dia hampir selalu mencapai kesimpulan yang benar dan tidak pernah membuang pendapatnya. Keputusannya adalah keputusan yang terbaik. Seandainya dia tidak takut kepada Allah, dia akan menjadi diplomat Arab terbesar. Dia dicintai oleh semua nrang. Di hati setiap orang ada tempat untuk Ali. Dia orang yang memiliki akhlak yang begitu tinggi dan mulia serta sifat-sifat yang begitu piawai sehingga banyak orang terpelajar tersesat dan membayangkannya sebagai inkarnasi Tuhan. Sebagian orang Yahudi dan Nashara mencintainya. Para filosof yang telah mengenalinya tunduk di hadapan keluasan ilmunya. Raja-raja Romawi mengantungkan gambarnya di istana-istana mereka dan para prajurit
agung mengukirkan namanya di pedang-pedang mereka.”
Filosof Mesir ini mungkin akan dianggap mengkultuskan Ali oleh orang-orang yang tidak mengenalnya. Lukisannya yang panjang dapat disimpulkan dalam satu kalimat: Ali adalah penegak Mazhab Akhlak. Mazhab ini mengajarkan prinsip akhlak untjjk. menilai manusia. Orang tidak boleh dihargai — atau dikecam — karena pendapatnya, apalagi karena kekayaan, keturunan, dan kedudukannya. Setiap orang memperoleh derajat sesuai denganj amalnya. (QS 6:132)
Ketika Imam Al-Askari, cucu Ali, ditanya tentang tanda- tanda pengikut Ali, dia menjawab: "Pengikut Ali adalah orang yang berjuang di jalan Allah; mereka tidak peduli apakah maut menjemput mereka, atau mereka menjemput maut. Pengikut Ali adalah mereka yang mendahulukan saudara-saudara mereka,- walaupun mereka sendiri kepayahan. Kamu tidak akan melihat di dalam diri mereka perilaku yang dilarang Allah. Kamu tidak akan kehilangan perilaku yang diperintahkan Allah di dalam diri mereka. Pengikut Ali adalah mereka yang mengikuti Ali dalam memuliakan saudara-saudaranya yang Muslim.”
Ta‘far Al-Shadiq mendefinisikan pengikut mazhab Ali sebagai "Orang yang memberikan apa yang dipandang baik dan menahap apa yang dipandang jelek, menampakkan yang indah dan bersegera melakukan hal-hal yang mulia.”   j
Bila mazhab Ali adalah mazhab Islam juga, apakah semus orang Islam adalah pengikut mazhab Ali? Jawabannya tidak. Bik orang Islam itu mengukur orang lain dari aliran pikirannya, dar penclapatnya, dari golongannya, bukan dari amalnya, maka dia bukan pengikut mazhab Ali. Bila orang Islam itu membanggakan» kelompoknya, mengecam dan mencaci kelompok yang lain, seray; tidak menunjukkan prestasi dan amal yang mulia, maka dia bukai pengikut Ali.   i
Banyak orang menyebut Syi'ah sebagai pengikut Ali. Apakal semua Syi'ah itu bermazhab Ali? Tidak. Orang Syi'ah yang .moa* diri paling benar tetapi berakhlak rendah, yang memperbesar_gej bedaan pendapat tetapi lupa meningkatkan kualitas, pribadinya yang memuji-muji Ali tetapi tidak menirunya, bukanlah pengiku Ali. Orang Syi‘ah yang eksklusif, memisahkan diri dari jamaaj kaum Muslim, meremehkan Ahlu-Sunnah, juga bukan pengiku Ali.             
Ahlu-Sunnah menjadi pengikut Ali ketika ia berlomba-lomba melakukan kebaikan, menyucikan dirinya dari kemaksiatan, menghindari kecaman terhadap golongan yang tidak satu paham, dan — sekali lagi — hanya mengukur baik-buruknya orang dari akhlaknya.
Karena status manusia ditetapkan oleh akhlaknya, maka fanatisme golongan (ta'ashshub) tidak ada dalam mazhab Ali. Akibatnya, mazhab Ali adalah mazhab ukhuwwah. Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, Abu Sufyan menawarkan bantuan kepada Ali untuk merebut kekuasaan. Ali menolaknya. Dia tidak setuju dengan pemilihan Abu Bakar yang terburu-buru, tetapi dia juga lidak ingin merusak keutuhan umat. Ketika istrinya, Fathimah binti Rasulullah, menuntut tanah Fadak dari Abu Bakar, Ali membantunya. Untuk menjaga perasaan istrinya, Ali menangguhkan bay‘ah kepada Abu Bakar sampai Fathimah wafat.
Ketika Ali menjadi khalifah, Aisyah, Zubayr, dan Thalhah memimpin gerakan perlawanan. Ali tidak segera melakukan lindakan represif. Utusan dikirim kepada Aisyah untuk mencari jalan damai. Utusan itu gagal. Di medan pertempuran, ketika Thalhah dan Zubayr mengajaknya bertanding, Ali datang dengan i angan kosong. Dengan lemah lembut dia mengingatkan Zubayr akan wasiat Nabi. Zubayr terharu, dan memeluk Ali dengan menangis. Thalhah juga disambut Ali dengan nasihat. Ketika pasukan Aisyah kalah, Ali mengamanatkan pasukannya agar menghormati Ummul-Mu ’minin itu. Aisyah dikembalikan ke Madinah dengan penuh penghormatan dan perlindungan.
Kepada Mu‘awiyah yang sejak awal melakukan intrik-intrik untuk menyingkirkan Ali, Ali masih juga mengirim surat berisi nasihat. Di medan Shiffin, ketika pasukan Ali hampir menang, Ali dapat saja menghancurkan pasukan Mu‘awiyah. Tetapi, ketika Al-Quran diangkat, musuh mengajak berdamai, Ali menghentikan peperangan. Bagi Ali, perdamaian di antara kaum Muslim adalah puncak kemenangan.
Pada masa pemerintahannya, seorang di antara rakyatnya mengkritik Ali. "Dahulu, ketika Abu Bakar dan Umar memerin- tah, tidak terjadi perpecahan Islam seperti sekarang, tapi berbeda dengan ketika engkau memerintah.” Ali membalas ucapan itu dengan cepat, ”Dahulu Umar dan Abu Bakar memerintah orang seperti aku; sedangkan sekarang aku memerintah orang seperti kamu!”*

=========================
Baca Juga Daftar Pondok Pesantren di Jawa Tengah yang bisa bikin kamu tambah cerdas dan soleh!
=========================

FORUM PESANTREN SANTRI SE INDONESIA
PLEASE KOMENTAR DAN SHARE

« Last Edit: 22 Jan, 2019, 12:42:12 by Admin »