Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Aqidah 
CINTA NABI DAN TANDA-TANDANYA
Pages: [1]

(Read 137 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1519
  • Logged
CINTA NABI DAN TANDA-TANDANYA
« on: 27 Jan, 2019, 22:18:42 »


CINTA NABI DAN TANDA-TANDANYA

TANDA CINTA YANG PERTAMA :
ADANYA KEINGINAN YANG SANGAT KUAT MELIHAT DAN MENEMANI NABI. KEHILANGAN KEDUANYA LEBIH BERAT DIBANDING KEHILANGAN YANG LAIN Dl DUNIA
Biasanya salah satu tujuan yang dicita-citakan oleh seseorang yang mencintai kekasihnya adalah ingin dapat melihat dan menemani kekasihnya (orang yang dicintainya). Demikian pula sesungguhnya orang yang benar-benar mencintai Nabi, tentu ia akan merindukannya. Ia ingin melihatnya, dan ingin menemaninya di dunia dan di akhirat. Ia akan selalu menunggu kebahagian seperti itu dengan penuh kerinduan dan perhatian. Sehingga seandainya ia disuruh memilih antara kenikmatan dunia semuanya dengan cinta kepada Rasulullah, niscaya ia akan memilih cinta kepada beliau. Ia akan merasa bahagia ketika dapat melihat wajah Nabi yang penuh cahaya, ia akan senang ketika dapat menemaninya dan susah kalau sampai terhalang untuk dapat melihatnya. Bahkan mungkin akan menangis karena berpisah dengannya.
Berikut ini akan saya kemukakan tentang bagaimana para sahabat dulu mencintai Nabi. Antara lain adalah
1.   Tangisan (bahagia) Abu Bakar ash- S h i d d i q karena dapat menemani Nabi di Gua Hira.
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Aisyah ra., dia berkata: Ketika suatu hari kami sedang duduk-duduk di rumah Abu Bakar, pada awal panasnya siang hari (waktu Zhuhur), seseorang berkata kepada Abu Bakar: "Ini adalah Rasulullah, tertutup kepalanya. Beliau datang pada waktu yang tidak biasa datang kepada kita. Maka Abu Bakar berkata: Demi Allah, bapak dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang dibawanya saat ini tidak lain adalah perintah. Aisyah lalu menjelaskan: Maka Rasulullah datang lalu minta izin untuk diperbolehkan masuk, dan beliaupun diijinkan masuk. Maka Rasulullah berkata kepada Abu Bakar: Saya akan keluar dari rumahmu. Abu Bakar lalu berkata sesungguhnya mereka adalah keluargamu ya Rasul. Beliau berkata: Saya telah diizinkan keluar. Abu Bakar lalu berkata: Kalau begitu bolehkah saya menemani engkau ya Rasulullah? Beliau menjawab: Ya, boleh.
Meskipun ketika menemani Rasulullah Abu Bakar selalu dikelilingi hal- hal yang membahayakan baginya, tetapi hal itu tidak mempengaruhi dirinya sama sekali untuk tetap setia menemani Nabi tercinta.
Ketika ia diberi kabar oleh Nabi sesuai dengan apa yang dicarinya (yaitu ingin menemani Nabi), ia lalu menangis karena bahagia memperoleh kebahagiaan tersebut. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: Ibnu Ishaq dalam riwayatnya menambahkan penjelasan, bahwa Aisyah berkata: "Saya melihat Abu Bakar me- . nangis dan saya tidak menduga sebelumnya, bahwa akan ada seseorang menangis karena bahagia."
2.   Kegembiraan Orang-orang Anshar Menyambut Kedatangan Nabi.
Orang-orang Anshar mendengar hijrah Nabi ke negeri mereka (Madinah). Mereka sangat merindukan untuk menyambut kedatangan beliau. Banyak kitab-kitab hadis dan sejarah yang telah memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana kerinduan dan kegembiraan mereka menyambut kedatangan Nabi. Sebagai contoh adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al- Bukhari dari Urwah bin Zubair ra. tentang cara mereka menyambut Nabi dengan sangat gembira adalah: Ketika kaum muslimin di Madinah mendengar
bahwa Nabi telah berangkat dari kota Makkah, maka mereka serentak keluar mulai pagi hari untuk menunggu kedatangan beliau meskipun sampai siang harinya. Hingga setelah mereka lama menunggu, dan Nabi tidak tampak juga, terik matahari sudah senja mereka baru pulang ke rumah. Ketika itu ada seorang Yahudi yang mencoba naik ke atas benteng untuk melihatnya. Dia lalu melihat Rasulullah dan para sahabatnya tampak bersinar putih, hingga fatamorgana pun hilang karenanya. Maka orang Yahudi tersebut tidak kuat untuk menahan kekagumannya sehingga ia berteriak dengan suara yang sangat keras: "Hai orang-orang Arab, ini kakekmu (maksudnya Nabi) yang tadi kalian tunggu- tunggu." Maka kaum muslimin lari menuju dan menemui Nabi di tengah-tengah panasnya terik matahari siang hari. Nabi bersama mereka lalu berpindah ke arah kanan, hingga sampai ke Bani Amr bin Auf.
Allahu Akbar, betapa besar kerinduan mereka terhadap kekasihnya yaitu Nabi saw. Mereka mau menunggu beliau sejak pagi sampai siang hari. Mereka mau terkena sengatan panas matahari di siang hari hingga kemudian mereka kembali ke rumah mereka.
Dalam riwayat Ibnu Sa'ad dikatakan: Ketika mereka telah terbakar oleh panasnya matahari, mereka kembali ke rumah mereka. Dalam riwayat Imam al-Hakim dalam kitab Mustadraknya dikatakan: Mereka menunggu Nabi sehingga mereka merasa sakit oleh sengatan panasnya matahari di siang hari.
Imam al-Bukhari juga menceritakan kepada kita tentang bagaimana orang- orang Anshar Madinah menyambut kedatangan Nabi. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata: Maka Rasulullah turun di daerah Janib al-Hurrah, lalu beliau mengutus orang Anshar. Maka datanglah mereka kepada Nabi dan Abu Bakar, mereka kemudian menyalami beliau dan Abu Bakar, seraya berkata: Marilah naik ke atas onta dengan aman dan engkau akan ditaati. Nabi dan Abu Bakar pun lalu naik dengan dikawal oleh mereka yang membawa senjata. Sesampainya di Madinah dikatakan oleh 
para pengawalnya: Ini, Nabi Allah telah datang, ini Nabi Allah telah datang. Orang-orang Madinah lalu menyambutnya dengan mengatakan: "Nabi Allah telah datang." Beliau lalu berjalan sampai kemudian turun di samping rumah Abu Ayyub. (HR. Al-Bukhari)
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas bin Malik bahwa sekelompok orang, sekitar lima ratus orang telah menyambut kedatangan Nabi dan Abu Bakar Shiddiq, seraya berkata: Keduanya (Nabi dan Abu Bakar) telah datang dengan aman dan ditaati.
Melalui cerita pernyataan Abu Bakar sendiri, Imam Ahmad menceritakan bagaimana orang-orang Madinah menyambut Nabi. Rasulullah lewat dan saya (Abu Bakar) bersama beliau hingga kami sampai ke Madinah. Orang-orang lalu menyambutnya sambil keluar menuju pinggir jalan dan ada pula yang naik di loteng. Suasana pun menjadi ramai, karena anak-anak juga ikut menyambutnya. Mereka berkata: Allahu Akbar. Utusan Allah telah datang, yaitu Nabi Muhammad sazv. Orang-orang pun sampai berebut, siapa di antara mereka yang hendak disinggahi Rasulullah. Demikian hadis tersebut disebutkan dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 155 juz 1, III dan Syeikh Ahmad asy-Syakir menganggap sahih isnadnya.
Anas bin Malik menjelaskan fenomena penyambutan kedatangan Nabi tersebut dengan mengatakan: "Saya belum pernah melihat sama sekali hari yang lebih baik dibanding hari di saat Rasulullah dan Abu Bakar masuk ke kota Madinah. (HR. Imam Ahmad). Sementara itu, Al-Barra' bin 'Azib ra. menjelaskan: "Orang-orang Madinah merasa gembira karena kedatangan Nabi kepada mereka." (HR. Bukhari)
3.   Kekhawatiran Orang-orang Anshar akan terhalangnya mereka dari Mencintai Nabi
Ketika Allah memuliakan orang- orang Anshar dengan kehadiran Nabi ke rumah-rumah mereka, maka mereka tidak mau meninggalkan Nabi karena khawatir kehilangan nikmat dan kemuliaan yang besar tersebut. Hal ini se-

 
bagaimana ditunjukkan oleh beberapa riwayat, antara lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata: Saya menemui Rasulullah sampai beliau datang ke Mekkah. Beliau lalu mengutus Zubair, Khalid, dan Abu Ubaidah. Mereka lalu menelusuri lembah, sedang Rasulullah waktu itu sudah ada di Makkah.
Ketika Nabi melihat Abu Hurairah, Abu Hurairah lalu mengatakan: "Saya datang untuk memenuhi panggilanmu Ya Rasul! Beliau lalu mengatakan: Tidak akan datang kepadaku kecuali para pe- nolongku, mereka memenuhi janjiku di Shafa. Abu Hurairah mengatakan: Maka kami berangkat. Ternyata tak seorang pun dari mereka yang menyambut kami. Ketika itu datanglah Abu Sufyan seraya berkata: Ya Rasulallah ... apakah kelompok orang Quraisy boleh diperangi? Jawab Nabi: "Tidak ada Quraisy setelah hari ini." Nabi lalu bersabda: "Barang- siapa yang masuk kampung Quraisy maka akan aman." Orang-orang Anshar berkata: Saya lihat orang ini (maksudnya adalah Nabi) kok sangat cinta kepada kampung dan keluarganya. Abu Hurairah mengatakan: Ketika itu turunlah wahyu. Maka setelah selesai turunnya wahyu tersebut, Rasulullah bersabda: Wahai orang- orang Anshar. Mereka lalu menjawab: Kami siap memenuhi panggilanmu Ya Rasul. Tadi kalian mengatakan bahwa aku sangat cinta kepada kampungku (Makkah). Mereka menjawab: Memang demikian keadaannya, ya Rasul. Nabi mengatakan: Jangan begitulah, aku ini adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Aku hijrah kepada Allah dan kepada kalian. Tak usah khawatir, aku akan selalu bersama kalian. Mereka lalu menangis, seraya mengatakan: Ya Rasul, demi Allah kami tidak mengatakan demikian tadi, kecuali karena kami khawatir engkau akan meninggalkan kami, ya Rasul. Maka Rasulullah berkata: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah membenarkan (ucapan) kalian dan memberikan ampunan kepada kalian.
Al-Imam an-Nawawi dalam memberikan penjelasan hadis tersebut mengatakan: Sesungguhnya mereka (orang- orang Anshar) melihat betapa Nabi 
sayang kepada penduduk Makkah dan tidak mau memerangi mereka, sehingga mereka (Orang-orang Anshar) menduga bahwa Nabi akan kembali menempati kota Makkah dan tinggal di sana selamanya, sehingga akan meninggalkan mereka dan kota Madinah. Hal itu dirasa sangat berat oleh orang-orang Anshar. Maka Allah menurunkan wahyu mengenai hal itu yang maksudnya sebagai berikut: Sesungguhnya saya (Muhammad) hijrah kepada Allah dan kepada kampung negeri kalian untuk menempatinya, maka aku tidak akan meninggalkannya dan tidak akan kembali dari hijrahku yang telah terjadi karena Allah, bahkan aku akan tetap bersama kalian. Hidup dan matiku tetap akan di samping kalian.
Ketika Nabi mengatakan hal itu kepada orang-orang Anshar, mereka menangis dan menyesalinya, seraya berkata: Maaf ya Rasul, kami tadi mengatakan pernyataan tersebut (yaitu bahwa Nabi sangat cinta kepada penduduk Makkah sehingga tidak mau memerangi mereka) tidak lain karena kami sangat cinta kepadamu dan ingin tetap bersamamu agar kami dapat mengambil faedah dan keberkahan denganmu, serta agar engkau tetap memberikan petunjuk kepada kami ke jalan yang lurus, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) menunjukkan ke jalan yang lurus." Inilah pengertian dari ucapan orang- orang Anshar yang mengatakan: “ma qulna illa dhinna bika" (Kami tidak mengucapkan hal itu, kecuali karena kami khawatir ditinggalkan engkau).
4.   Kekhawatiran Sahabat tidak dapat melihat Nabi di Surga .
Kita akan melihat seorang sahabat lain yang benar-benar cinta kepada Nabi. Dia mengingatkan akan kematian dan kematian kekasih tercinta yaitu Nabi. Dia khawatir jangan-jangan besok di surga tidak lagi dapat melihat Nabi, —meskipun ia mungkin dapat masuk surga— karena tingginya derajat Nabi Muhammad yang berada di surga bersama nabi-nabi yang lain.
Imam Ath-Thabrani telah meriwayatkan hadis dari Aisyah ra.: Ada seseorang datang kepada Nabi, seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri, dan sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada anakku. Sesungguhnya aku kalau di rumah selalu ingat kepadamu dan aku tidak kuat menahan rasa kerinduanku kepadamu. Itulah mengapa sekarang aku datang padamu untuk melihat engkau. Kalau aku ingat akan kematianku dan kematianmu (ya Rasul), aku tahu engkau tentu akan masuk surga dan akan diangkat derajatnya bersama nabi-nabi yang lain. Dan aku kalaupun dapat masuk surga, aku tetap khawatir jangan-jangan tidak dapat melihatmu lagi (ya rasul). Nabi tidak menjawab pernyataan orang tersebut, sehingga turunlah Jibril dengan membawa ayat yang berbunyi:
 

"Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu akan bersama-sama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddi- qin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. (QS. An-Nisa': 69)
5.   Permintaan Rabi'ah untuk tetap dapat menemani Nabi di surga
Dalam kesempatan ini akan saya ceritakan tentang seorang pecinta Nabi yaitu Rabi'ah bin Ka'b al-Aslami yang meminta kepada Nabi agar tetap dapat menemaninya, kelak di surga. Bagaimanakah permintaan dia? Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis yang sumbernya dari sahabat Rabi'ah bin Ka'b sendiri, dia berkata: Pada suatu malam aku bersama Rasulullah. Aku selalu menyiapkan air wudhu' Nabi dan kebutuhan-kebutuhannya. Beliau lalu bersabda: "Mintalah kamu". Maka aku katakan: Aku minta... ya Rasul, untuk tetap dapat menemanimu kelak di surga. Nabi lalu bertanya: Atau apakah kamu tidak minta yang lain saja? Saya menjawab: Itu saja
yang aku minta. Nabi lalu bersabda: "Kalau begitu, tolonglah aku dengan memperbanyak sujud." (HR. Muslim)
Demikianlah kisah seorang pecinta Nabi ketika ia mendapat kesempatan untuk meminta. Dia tidak ragu-ragu lagi dalam permintaannya, baik dalam permintaan pertama, maupun kedua, yaitu agar dapat selalu menemani Nabi, dan tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk mencari pengganti permintaannya tersebut dengan yang lain.
6.   Orang-orang Anshar lebih memilih menemani Rasulullah dibanding diberi Kambing dan Onta
Fenomena Rabi'ah tadi bukan satu- satunya orang pecinta Nabi. Terdapat banyak para pecinta Nabi yang tulus. Sebagai contoh adalah ketika terjadi perang Hunain. Orang-orang Anshar pernah diminta untuk memilih antara menemani Nabi dengan diberi kambing dan onta. Mereka rela, meskipun ketika itu umumnya orang lebih memilih pulang ke rumah untuk kesenangan dunia. Mereka lebih suka bersama Nabi, menemani perjalanan beliau.
 
Fenomena tersebut banyak diceritakan dalam kitab-kitab hadis. Antara lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ubaidah Zaid bin Ashim ra, dia berkata: Ketika Allah mengembalikan Rasulullah dari perang Hunain, orang-orang membagikan harta rampasan perang kepada para mu'allaf, sementara orang-orang Anshar tidak diberi bagian sedikit pun. Maka seolah-olah mereka (orang-orang Anshar) merasa "iri" karena tidak mendapat bagian sebagaimana yang lain. Maka Nabi lalu menyampaikan khutbah kepada mereka:

"Wahai orang-orang Anshar, bukankah dulu kalian aku dapati berada dalam ke- sesatan kemudian Allah menunjukkan kalian sebab aku? Bukankah kalian dulunya berselisih kemudian Allah merukunkan kalian sebab aku? Bukankah kalian dulunya miskin, lalu Allah memberi kekayaan kepadamu sebab aku?" Mereka lalu mengatakan: "Kalau engkau mau, silahkan katakan saja apa yang hendak engkau katakan, ya Rasul!" Nabi lalu bersabda: "Ingatlah! Apakah kalian tidak rela jika orang-orang pergi dengan membawa kambing dan onta, sementara kalian pergi bersama Nabi kalian untuk menemani perjalanan kalian? Seandainya tidak ada hijrah tentu aku termasuk orang Anshar dan seandainya orang-
orang menempuh lembah dan syi'ib, tentu aku akan menempuh lembah dan syi'ib orang Anshar. Kaum Anshar adalah seperti pakaian (syi'aA dan selimut (ditsai). (Pernyataan ini merupakan majaz istiar'ah (kata pinjaman) untuk memberikan pengertian betapa mereka sangat dekat dengan Nabi). Sesungguhnya kalian akan memperoleh suatu kenikmatan tersendiri yang orang lain tidak memperolehnya. Maka sabarlah kalian sampai kalian nanti menemui saya di telaga (al-haudl)." (HR. al- Bukhari) "Ya Allah berilah rahmat kepada orang- orang Anshar, anak-anak dan cucu-cucu mereka."
Dalam hadis Abi Said, Nabi kemudian berdoa:
Maka ketika itu mereka menangis sehingga air matanya membasahi jenggot mereka, seraya berkata: Kami rela ya Rasul, dengan pembagian ini. Demikian penjelasan dalam kitab Fath al-Bari Juz VIII halaman 52.
Imam Ibnu Qayyim berkata: Setelah Nabi menjelaskan kepada orang-orang Anshar mengenai hikmah yang tersembunyi tersebut, mereka kemudian pulang dengan rasa tunduk dan taat. Mereka sadar bahwa harta rampasan yang lebih besar bagi mereka adalah kembalinya Rasulullah ke negeri mereka (yaitu Madinah). Maka mereka merelakan meskipun tidak dapat harta rampasan berupa kambing, onta dan budak perempuan. Sebab mereka telah memperoleh keberuntungan yang agung dan dapat menemani Nabi baik dalam hidup maupun matinya.
7.   Keinginan al-Faruq (Umar bin Khaththab) agar dikubur di samping makam Rasulullah.
Kita melihat seorang pencinta tulus Nabi, yaitu Umar bin Kaththab ketika ia hendak meninggal dunia, meninggalkan rumah fana menuju rumah abadi. Keinginan beliau adalah agar dikubur di samping makam Rasulullah. Hal ini sebagaimana riwayat Imam al-Bukhari dari Amr bin Maimun bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata: Wahai Abdullah bin Umar; pergilah kamu kepada Aisyah, ummil Mukminin. Katakan padanya: Umar menyampaikan salam kepadamu. Dan jangan anda katakan amirul mukminin . Sebab hari ini aku bukan lagi seorang amir bagi orang-orang mukmin. Katakan bahwa Umar minta izin agar dikubur di samping makam Nabi.
Maka Abdullah bin Umar menyampaikan salam dan meminta izin kepada Aisyah. Ketika itu Aisyah sedang duduk dan menangis. Maka Abdullah bin Umar menyampaikan salam Umar bin Khaththab dan memintakan izin agar diperbolehkan dikubur di dekat makam Rasulullah. Jawab Aisyah: Sebenarnya aku sendiri juga sangat menginginkan agar dapat di- kebumikan di samping beliau. Tetapi kalau Umar bin Khaththab menghendaki demikian maka silahkan saja, saya mengizinkan.
Mendengar jawaban tersebut Umar lalu mengatakan: Al-Hamdulillah, tidak 
ada yang lebih penting bagiku dalam hal ini, selain itu (yaitu pemberian izin dari Aisyah tersebut). Oleh sebab itu, besok kalau sudah meninggal dunia, bawalah aku ke rumah Aisyah dulu, lalu mintakan izin lagi kepadanya. Jika ia mengizinkan aku untuk dimakamkan di samping makam Rasulullah, maka makamkanlah di situ. Tetapi kalau dia menolak, maka makamkanlah aku di makam-makam kaum muslimin. (HR Shahih al-Bukhari)
8.   Tangisan Abu Bakar ketika mengetahui Rasulullah hendak meninggal dunia
Kita temukan sosok Abu Bakar ash- Shiddiq, sang pecinta Nabi. Ketika itu dia menyimpulkan dari ucapan Nabi bahwa ajalnya telah dekat. Karena tidak kuasa menahan perasaannya, maka menangislah Abu Bakar. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Said al-Khudriy, dia berkata: Rasulullah pernah memberi ceramah kepada umat manusia:
Sesungguhnya Allah telah memberi pilihan kepada hamba-Nya antara dunia dari apa yang ada di sisi-Nya, tetapi dia memilih apa yang ada di sisi Allah."
Maka ketika itu Abu Bakar menangis, sehingga kami para sahabat heran karena tangisan Abu Bakar tersebut. Nabi kemudian memberi kabar tentang orang yang dipilih Allah tersebut, yaitu Rasulullah sendiri. Waktu itu Abu Bakarlah yang paling tahu maksud ucapan Nabi tersebut.
Dalam riwayat lain dari Mu'awiyyah bin Abi Sufyan dikatakan: Maka tidak ada yang tahu maksud pernyataan tersebut kecuali Abu Bakar. Maka menangislah Abu Bakar seraya berkata: "Bapak, Ibu dan anakku menjadi tebusanmu ya Rasul!" (HR. al-Bukhari).
9.   Tangisan Abu Bakar Shiddiq ketika ingat kekasihnya, yaitu Nabi, setelah beliau meninggal dunia
Kita dapat melihat bagaimana Abu
Bakar menangis ketika ingat kekasihnya, yaitu Nabi Muhammad meninggal dunia, berpindah menuju rahmat Allah. Salah satu buktinya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra., dia berkata: Saya mendengar Abu Bakar di atas mimbar berkata: Saya mendengar Rasulullah di hari ini dari tahun pertama. Kemudian dia melakukan i'tibar (mengambil pelajaran) dan menangis. Kemudian dia berkata: Saya mendengar Rasulullah berkata: Kalian tidak diberi sedikit pun sesudah keikhlasan yang sebanding nilainya dengan kesehatan. Maka mintalah kesehatan kepada Allah (HR Ahmad).
10.   Keinginan Abu Bakar cepat-cepat untuk Bertemu Nabi Muhammad
Salah satu hadis yang menjelaskan mengenai hal ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Aisyah, dia berkata: Sesungguhnya Abu Bakar ketika hendak meninggal dunia sempat bertanya: Hari apa ini? Para sahabat menjawab: Hari Senin. Dia lalu berkata: Seandainya saja saya mati di malam hariku ini maka janganlah kalian tunda-tunda hingga besok (dalam menguburkan aku), sebab aku ingin siang dan malamku lebih dekat dengan Rasulullah saw (HR. Ahmad) Allahu Akbar.
Alangkah besarnya cinta para sahabat kepada Nabi Muhammad saw.
Itulah beberapa riwayat tentang orang-orang yang benar-benar cinta kepada Rasulullah dan merindukannya. Mereka begitu senang jika selalu dapat menemaninya. Mereka rela meninggalkan yang lainnya karena khawatir kehilangan Rasulullah. Mereka pun menangis karena berpisah dengannya. Bagaimana dengan kita? Bukankah kita justru sebaliknya? Kita lebih mencintai yang lain dibanding cinta Rasulullah. Meskipun kita mengaku cinta Nabi, tetapi kebanyakan kita malah menggantinya dengan lebih mencintai harta. Sehingga kadang waktu kita habiskan dengan sia- sia untuk mendengarkan dan melihat sesuatu yang kurang bermanfaat. Akibatnya banyak hak-hak Allah dan manusia terabaikan karena memperturutkan keinginan tersebut. Kita merasa gembira
dengan melakukan hal-hal seperti itu, dan sedih jika kehilangan sesuatu hal yang sebenarnya sangat remeh.
Sesungguhnya mereka telah lupa atau pura-pura lupa bahwa sebagian yang mereka cintai itu akan menjadi penyebab hina, bahkan akan dijadikan sebagai kera dan babi sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari Malik al-Asy'ari ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda:
 
“Sungguh sebagian umatku itu besok akan ada yang suka minum khamr, mereka akan memberi nama (khamr itu) dengan nama lain, dan mereka akan bermain-main musik. Allah akan menenggelamkan mereka di bumi dan menjadikan sebagian mereka menjadi kera dan babi. (HR. Ibnu Majah dalam kitab Sunan Ibnu Majah bab fitan, bab Uqubat).
Kalau kita seperti itu maka apakah kita benar-benar lebih cinta kepada Nabi dibanding semua manusia dan segala sesuatu? Atau apakah cinta palsu semacam itu akan bermanfaat bagi kita di sisi Allah, Dzat yang Maha Mengetahui hal yang gaib dan yang nyata?

TANDA CINTA YANG KEDUA
MAU MENGORBANKAN JIWA DAN HARTANYA UNTUK NABI

Orang yang benar-benar cinta Nabi tentu akan merindukan datang nya kesempatan untuk dapat mengorbankan diri dan segala apa yang dimilikinya demi Nabi tercinta. Sebagian para sahabat telah tercatat dalam sejarah bahwa mereka merupakan contoh-contoh yang paling baik dalam hal pengorbanannya kepada Nabi Muhammad saw. Demikian halnya para pecinta Nabi yang datang berikutnya (para tabiin). Mereka merasakan suatu kesedihan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, karena kehilangan kebahagiaan terbesar dan harapan termahal.
Berikut ini akan disebutkan   beberapa sikap mulia dari mereka seperti rela berkorban, rasa cinta, keimanan dan keikhlasan mereka yang benar -benar cinta kepada kekasihnya, yaitu Nabi Muhammad saw, kekasih Tuhan pencipta seluruh alam.
1.   Tangisan Abu Bakar karena khawatir terhadap Rasulullah
Ketika Suraqah bin Malik mengejar (dengan maksud untuk membunuh) Rasulullah dan Abu Bakar di tengah- tengah perjalanan hijrah menuju Madinah, dan Suraqah pun semakin mendekat, maka Abu Bakar menangis karena mengkhawatirkan jiwa Rasulullah, bukan mengkhawatirkan jiwanya sendiri.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat ImamAhmad dari Barra' bin Azib ra, dia berkata: Abu Bakar bercerita, setelah kami dulu pergi berangkat hijrah, orang-orang (kafir Makkah) lalu mencari kami, namun mereka tidak menemukan kami, kecuali Suraqah bin Malik bin Ja'syim yang mengejar kami dengan naik kuda. Maka saya katakan kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, dia telah menemukan kita." Beliau saw menjawab: Jangan bersedih kamu Abu Bakar, sesungguhnya Allah bersama kita. Sehingga ketika Suraqah semakin dekat, kira- kira jarak satu tombak atau dua tombak atau tiga, saya katakan lagi kepada Rasulullah: Ya Rasul, ini lho, orangnya sudah mendekati kita. Saya (Abu Bakar) waktu itu pun menangis. Beliau lalu bertanya: Mengapa kamu menangis? Saya menjawab: Demi Allah, aku menangis bukan karena mengkhawatirkan jiwaku, tetapi aku menangis karena mengkhawatirkan jiwamu ya Rasul. Maka Nabi lalu berdoa: “Allahummakfinahu bima syi'ta" (Ya Allah, bereskan dia (Suraqah) terserah Engkau). Maka kemudian tiba-tiba kaki- kaki kuda Suraqah tertelan bumi yang tandus, hingga sampai perut kudanya." (HR. Imam Ahmad)
2.   Persiapan Miqdad bin al-Aswad untuk membentengi Rasulullah dalam peperangan
Kita akan melihat seorang sahabat lain, yang mencintai Nabi saw, yaitu
Miqdad bin al-Aswad. Beliau pernah mempersiapkan dirinya untuk mem- back up (membentengi) Nabi dalam suatu peperangan. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam al- Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata: Saya (Abdullah bin Ma'sud) bersaksi Miqdad bin al-Aswad bahwa menjadi sahabat baginya lebih aku cintai dibanding harta duniawi. Miqdad pernah datang kepada Nabi yang ketika itu sedang mendoakan celaka kepada orang-orang Musyrik. Miqdad kemudian berkata: "Kami tidak mengatakan sebagaimana yang pernah dikatakan oleh kaum Nabi Musa: "Pergilah kamu, Musa dan Tuhanmu, maka berperanglah kalian berdua (wahai Musa dan Tuhanmu)," Sebaliknya, kami akan berperang dengan melindungi engkau wahai Nabi, dari arah kanan, kiri, depan dan belakang. Mendengar hal itu, saya melihat muka Nabi menjadi berseri-seri karena senang mendengar ucapan Miqdad tersebut. (HR. al-Bukhari)
3.   Tebusan sebelas Kaum Anshar dan Thalhah demi Nabi
Pada waktu perang Uhud pernah terjadi kesalahan dari sebagian para pemanah. Mereka meninggalkan lokasi peperangan (karena tertarik harta rampasan perang). Sehingga datanglah sekelompok tentara Quraisy Makkah . yang dipimpin oleh Khalid bin Walid {ketika itu belum masuk Islam) dari helakahg pasukan kaum muslimin. Pa&Ukan Khalid berhasil memporak- poraridakan tentara Islam, sehingga - ketika itu tidak tersisa dari pasukan kaum muslimin kecuali dua belas orang yartg menyertai Nabi. Mereka (pasukan Qtiraisy) mendapati Nabi hanya ditemani . 'oleh dua belas orang. Lalu apa yang dilakukan oleh mereka para pecinta Nabi (yang jumlahnya hanya dua belas) untuk membentengi Nabi?
Untuk melihat jawaban tersebut, kita dapat membaca riwayat hadis Imam an- Nasa'i. Dari Jabir bin Abdullah ra, dia ; berkata: Ketika terjadi perang Uhud dan pasukan umat Islam telah pergi meninggalkan lokasi, hingga Nabi hanya ditemani dua belas orang, di antaranya adalah Thalhah bin Abaidillah. Maka kaum musyirikin mengejar mereka (Rasulullah dan dua belas sahabat tersebut). Rasulullah lalu menoleh serta berkata: "Siapa yang mau menghadapi mereka (kaum musyrikin)?" "Saya", demikian jawab Thalhah. Rasulullah lalu berkata: "Kamu". Salah seorang kaum Anshar lalu berkata: "Saya juga ya Rasul!" Beliau lalu berkata: Ya kamu. Dia pun lalu berperang dan terbunuh. Nabi menoleh lagi. Tiba-tiba di dekatnya ada musuh lagi. Nabi lalu berkata: "Siapa yang mau menghadapinya?" Thalhah menjawab: "Saya Ya Rasul." Nabi berkata: "Kamu lagi." Berkatalah salah seorang kaum Anshar, "Saya juga." Nabi kemudian mengatakan: "Ya, kamu." Ia pun lalu berperang dan terbunuh. Dan begitu seterusnya, sehingga tinggal Thalhah saja yang masih tersisa. Nabi lalu mengatakan: "Siapa yang mau menghadapi mereka lagi." Thalhah menjawab: "Saya." Thalhah lalu maju berperang seperti sebelas temannya tadi, 
sehingga tangan dan jari-jarinya putus karena terkena sabetan pedang. Nabi lalu berkata: "Seandainya saya berkata bismillah niscaya Malaikat akan mengangkatmu wahai Thalah, dan mereka (kaum musyrik) hanya akan melihatmu. Kemudian Allah turun tangan mengusir kaum musyrik." (HR an-Nasa'i)
Allahu Akbar; sebelas orang pecinta Nabi tersebut rela menjadi tebusan Nabi. Nyawa mereka melayang demi keselamatan Nabi, kekasih Tuhan semesta alam. Sedangkan orang yang kedua belas adalah Thalhah bin Ubaidillah. Pembelaan mereka untuk Nabi bukan dengan barang yang remeh. Sebelas orang telah terbunuh dalam peperangan demi membela Nabi. Thalhah pun terputus tangannya karena menjaga Nabi tercinta. Imam al-Bukhari meriwayatkan hadis dari Qais, dia berkata: "Saya melihat tangan Thalhah buntung karena ia membela Nabi ketika perang Uhud." (HR. al-Bukhari) Demi Allah, Tuhan Muhammad, alangkah bahagianya dan alangkah sucinya tangan itu. Ia terputus karena membela orang yang paling dicintai Allah.
Alangkah berbahagianya Thalhah. Tidak cuma tangannya yang terputus, tetapi tubuh Thalhah pun penuh dengan luka. Kira-kira terdapat tujuh puluh bekas sabetan pedang, panah dan tombak. Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam Abu Dawud at-Thayalisi dalam hadisnya dari Aisyah, dari Abu bakar ash-Shiddiq, dia berkata: "Kemudian kami mendatangi Thalhah di sebagian kubangan bumi, ternyata di tubuhnya terdapat tujuh puluh lebih luka sabetan pedang, panah dan tombak." (HR. Abu Dawud)
Sampai-sampai Abu Bakar kalau mengingat perang Uhud, beliau menangis dan berkata: "Itu semua adalah hari bagi Thalhah." Semoga Allah meridhai Thalhah, Abu bakar Shiddiq, dan seluruh para pecinta Nabi yang mulia. Amin.

4.   Abi Thalhah Menjadikan dadanya sebagai pelindung Nabi.
Marilah kita lihat seorang sahabat lain, yang mencintai Nabi, di mana ia telah rela menjadikan dadanya sebagai tameng untuk melindungi dada Nabi. Sehingga setiap ada busur panah yang
akan mengenai beliau, dada Abu Thalhah siap sebagai ganti dada Nabi. Hal itu terjadi ketika perang Uhud.
Diriwayatkan oleh asy-Syaikhani (Bukhari-Muslim) dari Anas bin Malik dia berkata: Ketika orang-orang (pasukan umat Islam) porak-poranda Abu Thalhah tetap siap siaga membentengi Nabi dengan dadanya sebagai tameng, agar senjata orang musyrik tidak mengenai Nabi. Anas berkata: Abu Thalhah adalah seorang ahli memanah yang tangkas melepas anak panah. Ketika itu ia juga mampu mematahkan dua atau tiga jemparing, karena terkena kerasnya tusukan busur anak panahnya.
5.   Abi Dujanah membentengi Nabi
dengan tubuhnya.
Imam Ibnu Ishaq telah menceritakan kepada kita tentang seorang yang sungguh-sungguh mencintai Nabi, dengan mengatakan: "Abu Dujanah telah menjadikan dirinya sebagai pelindung untuk melindungi Rasulullah dari anak panah yang mengenai punggungnya sampai ia terbungkuk-bungkuk karena banyaknya anak panah yang mengenai dirinya. Allahu Akbar, sungguh mengagumkan apa yang telah diperbuat oleh Abu Dujanah, karena dirinya telah melindungi Rasulullah dan menahan berondongan anak panah yang mengenai punggungnya. Dan ia tetap tidak bergeser sedikit pun. Sesungguhnya dia adalah orang yang benar-benar mencintai Rasulullah. Tidaklah mengherankan jika kemudian ia telah merelakan dirinya menjadi tebusan untuk Rasulullah tercinta.
6.   Kematian salah seorang sahabat %TShar sebagai tebusan Rasulullah, pipinya berada pada telapak kaki Rasulullah.
Kitab-kitab sejarah telah menceritakan kepada kita tentang meninggalnya salah seorang pecinta Rasulullah yang telah mengorbankan dirinya dalam rangka membela Rasulullah saw. Waktu meninggal ia berada di telapak kaki Rasulullah. Hal itu terjadi pada waktu perang Uhud.
Imam Ibnu Ishak berkata: "Rasulullah saw bersabda di saat orang-orang sedang mengerumuninya: "Siapa yang mau menjual dirinya untuk aku (Rasul)?" Maka Ziyad bin as-Sakan berdiri dalam lima kelompok orang-orang Anshar. Sebagian mereka ada yang mengatakan, dia adalah Imarah bin Yazid as-Sakan. Maka berperanglah mereka satu persatu untuk melindungi Rasulullah, sampai yang terakhir adalah Ziyad atau Imarah. Dia berperang sampai terluka, kemudian kelompok orang muslim pulang. Dan mereka menjauhi Rasulullah. Rasulullah kemudian berkata: "Mendekatlah kalian kepadaku." Mereka kemudian mendekat kepada Rasulullah dan Rasulullah menjadikan kakinya sebagai bantal baginya. Akhirnya Imarah meninggal di atas telapak kaki Rasul. Allahu Akbar, alangkah baiknya kematian tersebut.
7.   Perhatian Sa'ad bin Rabi' terhadap keselamatan Rasulullah, sedangkan dia berada di akhir kehidupannya.
Kita menyaksikan seorang pecinta lain, dia adalah salah seorang yang terluka di perang Uhud karena terkena
 
tujuh puluh sabetan pedang, tombak dan panah. Pada waktu itu, ia tidak memikirkan dunia, harta, dan keluarganya. Lalu apa yang ia pikirkan?
Marilah kita baca hadis riwayat Imam Hakim dari Zaid bin Tsabit: Dia berkata: "Rasulullah telah mengutusku pada waktu perang Uhud untuk mencari Sa'ad bin Rabi', seraya berkata kepadaku: "Kalau kamu melihatnya, maka sampaikan salam dariku, dan katakan padanya bahwa Rasulullah telah berkata kepadamu: Bagaimana keadaanmu? Zaid bin Tsabit berkata: Maka saya mengitari di antara orang-orang yang * terbunuh dan aku temukan Sa'ad bin Rabi' sedang berada di akhir kehidupannya. Di tubuhnya terdapat tujuh puluh luka sabetan. Ada yang terkena luka tombak, sabetan pedang dan ada pula luka yang disebabkan anak panah. Kemudian Aku (Zaid bin Tsabit) katakan kepada Sa'ad: "Wahai Sa'ad, sesungguhnya Rasulullah telah menyampaikan salam kepadamu dan beliau mengatakan, bagaimana khabarmu." Sa'ad menjawab: "Shalawat dan salam semoga tercurah-
kan kepada Rasululullah tercinta, dan katakan kepada beliau: "Aku telah mencium bau surga, dan katakan pula kepada kaumku orang-orang Anshar, bahwa tidak ada alasan bagi mereka menurut Allah untuk meninggalkan Rasulullah sekejap mata pun. Zaid bin Tsabit berkata: "Dia menangis, semoga Allah merahmatinya. (HR. al-Hakim dalam kitab Mustadrak Shahihaini).
Coba renungkanlah, apa yang Sa'ad pikirkan di akhir hidupnya, apa yang ia wasiatkan kepada kaumnya (orang-orang Anshar) menjelang ke- matiannya? Tidak lain adalah keselamatan Rasulullah tercinta dan berwasiat agar masing-masing mereka mengorbankan dirinya demi keselamatan Rasulullah tercinta.
Apakah kita semua seperti dia, apakah yang kita pikirkan juga demikian? Apa yang kebanyakan kita pikirkan? Apa yang kita wasiatkan buat teman-teman kita? Boleh jadi wasiat kita adalah sama sekali tidak layak jika dinisbatkan dengan ajaran Islam.
8.   Abi Qatadah mengiringi Nabi di waktu malam untuk menjaganya agar tidak jatuh dari ontanya.
Saya akan mengakhiri perbincangan saya mengenai tanda kedua dari cinta kepada Nabi dengan menuturkan kisah seorang pecinta Nabi. Beliau sangat memperhatikan istirahat Nabi dan keselamatannya. Maka ia rela mengiringi perjalanan Nabi di waktu malam untuk menjaga beliau agar tidak jatuh dari kendaraannya, ketika Nabi dalam posisi miring dan hampir jatuh karena sangat mengantuk.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah ra. dia berkata: Rasulullah telah berpidato kepada kami: Sesungguhnya kalian akan melakukan perjalanan siang dan malam. Dan kalian akan sampai di sumber air Insya Allah besok. Maka orang-orang pun pergi, dengan tidak memperhatikan satu sama lain.
Abu Qatadah berkata: Ketika itu Rasulullah mengantuk sehingga beliau berada pada posisi miring di atas kendaraannya. Maka beliau saya datangi dan saya tegakkan (dengan menyangga beliau) tanpa membangunkannya, sehingga beliau lurus kembali di atas onta- nya. Itu saya lakukan berkali-kali sepanjang perjalanan Rasulullah di malam itu. Sampai kemudian Rasulullah terjaga dari tidurnya, dan beliau bertanya: "Siapa kamu ini?" Saya menjawab: "Saya, Abu Qatadah." Beliau bertanya lagi: "Kapan perjalananmu ini bersamaku?" Abu Qatadah menjawab: "Saya mengiringi engkau sejak tadi malam ya Rasul. Beliau lalu berdoa:

"Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjaga Nabi-Nya."
Subhanallah, alangkah sangat perhatiannya Abu Qatadah terhadap keselamatan Rasulullah dan istirahatnya. Dia rela mengiringi beliau di waktu malam, sambil mengawasi dan menjaganya. Jika Rasulullah posisinya miring, maka ia menyangganya agar tetap tegak, sehingga tidak jatuh dari kendaraan ontanya. Hal itu dia lakukan dengan tanpa menyebabkan Rasulullah terbangun dari tidurnya, karena Abu Qatadah tidak ingin mengganggu istirahatnya. Semoga Allah meridhainya.

TANDA CINTA YANG KETIGA:
MENJALANKAN PERINTAH-PERINTAH DAN MENJAUHI LARANGAN-LARANGAN NABI SAW

Terdapat dua hal yang tidak diperselisihkan lagi, yaitu bahwa seorang pecinta itu akan taat kepada orang yang dicintainya. Ia akan berusaha melakukan perbuatan yang dicintai oleh kekasihnya dan menjauhi apa yang dibencinya. Dalam melaksanakan semua itu, ia pun merasakan nikmat yang tidak dapat digambarkan. Demikian pula halnya seorang yang mencintai Rasulullah yang mulia, nabi pilihan. Ia akan bersungguh-sungguh untuk mengikutinya
dan bergegas untuk melaksanakan perintah-perintahnya serta menjauhi larangan-larangannya.
Berikut ini akan kami sebutkan mengenai sikap-sikap yang baik dari para sahabat yang benar-benar mencintai Rasulullah, antara lain:
1.   Bergegasnya kaum Anshar untuk menghadapkan wajah mereka ke arah Ka'bah ketika mereka sedang ruku'
Hal itu sebagaimana diceritakan dalam hadis Imam al-Bukhari dari Barra' ra, dia berkata: Ketika Rasulullah datang * ke Madinah, maka beliau melakukan shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Beliau sebenarnya ketika shalat ingin sekali menghadapkan wajahnya ke arah Ka'bah. Maka Allah menurunkan ayat yang berbunyi: "Sungguh Kami melihat wajahmu bolak-balik menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke arah kiblat yang kamu ridhai." Maka dihadapkanlah wajah beliau ke Ka'bah. Ketika itu, ada seorang
sahabat yang ikut shalat Ashar bersama Nabi. Kemudian ia keluar bertemu orang-orang Anshar, maka ia berkata, bahwa dirinya telah shalat bersama Nabi saw, dan beliau menghadap ke Ka'bah. Maka mereka (orang-orang Anshar) segera memalingkan wajah mereka, padahal mereka ketika itu sedang ruku' dalam shalat Ashar. (HR. Al-Bukhari) Begitu cepatnya mereka untuk segera meneladani Nabi tercinta. Semoga sha- lawat dan salam selalu tercurahkan kepadanya. Ternyata begitu mereka mendengar berita (khabar) tersebut dari Nabi, mereka tidak ragu-ragu untuk berpegang teguh padanya, bahkan tidak menunggu sampai mereka mengangkat kepala dari ruku'nya, tetapi mereka langsung menghadap ke arah Ka'bah, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw, meskipun ketika itu mereka sedang dalam posisi ruku'.
2.   Bergegasnya para sahabat untuk melaksanakan perintah Nabi yaitu berkumpulnya sebagian mereka dengan sebagian lainnya ketika berhenti dalam perjalanan
Sikap untuk segera mengikuti Nabi saw itu tidak hanya mereka lakukan ketika shalat, melainkan juga dalam hal- hal lain. Demikianlah sikap yang dipraktekkan para sahabat pecinta Nabi. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, di mana mereka segera bergegas dalam melaksanakan perintah Nabi berkaitan dengan etika ketika berhenti dalam suatu perjalanan.
Dari Abi Tsa'labah ra, dia berkata: Dulu para sahabat jika mereka berhenti untuk mampir ke suatu tempat tertentu, mereka biasa berpisah-pisah di dalam suatu lembah, maka Rasulullah saw ber- ^ sabda:

"Sesungguhnya berpisah-pisahnya kalian di lembah ini merupakan sikap kerendahan kalian yang disebabkan godaan setan."
Maka setelah itu, setiap mereka berhenti di suatu tempat mereka pasti berkumpul satu sama lain, sehingga di-
katakan: Jika di atas mereka dibentangkan kain tentu kain itu akan menutupi mereka semua, (karena mereka mau merapat untuk berkumpul, penterj.) (HR. Abu Dawud)
3.   Ditumpahkannya periuk yang sedang mendidih penuh dengan daging oleh para sahabat, ketika mereka mendengar pengharaman himar AhUah (jinak)
Setiap sahabat dilarang oleh Nabi untuk meninggalkan sesuatu yang menjadi keinginannya, mereka pasti segera menjauhinya. Salah satu buktinya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah pernah kedatangan seseorang. Dia berkata: Telah siap disantap daging himar itu. Mendengar hal itu beliau diam. Kemudian orang itu datang lagi yang kedua kalinya, seraya berkata: Telah siap disantap daging himar itu. Beliau saw tetap diam. Kemudian orang itu datang yang ketiga kalinya seraya berkata: Telah dihancurkan daging himar itu. Maka Nabi menyuruh seorang pemberi pengumuman, dan dia mengumumkan kepada orang-orang: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah melarang kalian untuk makan daging himar ahliah (himar jinak). Maka ditumpahkanlah periuk-periuk tersebut, meskipun periuk yang berisi daging himar sedang mendidih. (HR. al-Bukhari)
Mereka, para pecinta Rasul itu tidak berpikir untuk mencari alasan-alasan tertentu, karena mereka telah benar-benar mengetahui bahwa salah satu hal yang mendasar dalam cinta adalah bahwa keinginan seseorang pecinta akan selalu menuruti perintah kekasihnya.
4.   Mengalirnya Khamr di jalan-jalan ko+a Madinah ketika hukum keharamannya diumumkan
Menjauhinya para sahabat pecinta Rasulullah tidak hanya dalam hal larangan terhadap sesuatu yang disukai mereka, tetapi juga dalam hal meninggalkan sesuatu yang telah menjadi kebiasaan mereka selama bertahun-tahun. Bahkan mereka telah mewarisinya dari 
nenek moyang mereka, (yaitu tentang tradisi minum khamr). Hal ini berbeda dengan sikap sebagian kaum muslimin di zaman kita sekarang ini.
Salah satu buktinya adalah hadis dari Anas bin Malik ra: Ketika itu saya sedang menuangkan minuman khamr kepada orang-orang di rumah Abu Thalhah. Ketika itu khamr tersebut sangat putih. Maka Rasulullah memanggil-manggil, seraya mengatakan: Ingatlah sesungguhnya khamr itu telah diharamkan. Anas berkata, bahwa Thalhah mengatakan kepadanya: Keluarkan semua khamr itu dan tumpahkan. Maka saya tumpahkan semua khamr itu hingga mengalir ke jalan-jalan kota Madinah (HR. al-Bukhari)
Tidak ada dari para sahabat yang benar-benar mencintai Nabi kecuali mereka pasti ikut menumpahkan khamr karena ingin melaksanakan perintah Rasulullah. Itulah mengapa khamr itu sampai mengalir di jalan-jalan kota Madinah. Dalam masalah ini, Imam al- Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: Hal itu memberi isyarat adanya kekompakan
dari setiap kaum muslimin yang memiliki khamr untuk segera ditumpahkan sehingga mengalir ke lorong-lorong kota Madinah karena saking banyaknya. Demikian penjelasan dalam kitab Fath al- Bari: 10/39.
Fenomena itu bukan sekedar isu atau isapan jempol semata. Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata: Waktu itu, saya sambil berdiri memberi minuman khamr kepada Abu Thalhah, fulan, dan fulan. Tiba-tiba datanglah seseorang yang mengatakan: Apakah belum sampai berita kepadamu? Mereka bertanya: Berita apa itu? Orang tersebut menjawab: "Khamr telah diharamkan." Mereka berkata: "Tumpah- kan semua wadah yang berisi khamr itu wahai Anas!" Setelah mendengar berita orang itu, mereka tidak minta lagi minum khamr dan tidak mengulanginya. (HR. al- Bukhari)
Luar biasa, alangkah sempurnanya sikap kepasrahan dan ketundukan mereka. Sikap para pecinta Rasulullah itulah yang sesuai dengan firman Allah:
“Sesunguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan: kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S. an-Nur: 59)
5.   Komitmen para sahabat untuk tetap menjaga perjanjian mereka dengan musuh karena perintah Nabi
Sikap mengikutinya para sahabat kepada Nabi tidak hanya dalam kondisi normal, tetapi juga dalam keadaan lapang, miskin, paceklik dan dalam setiap waktu bahkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Hal itu sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at- Turmudzi tentang komitmen mereka dalam menjaga perjanjian dengan musuh karena perintah Nabi. Dari Sulaim bin 'Amir, dia berkata: Dulu pernah terjadi perjanjian antara Muawiyah dengan orang Romawi. Dan Muawiyah ketika itu akan melakukan perjalanan ke arah negara orang-orang Romawi, sehingga ketika setelah habis masa perjanjian itu, Muawiyah memerangi mereka. Maka datanglah seorang penunggang kuda atau kendaraan, dia berkata: Allahu Akbar, Allahu Akbar, kembalilah dan jangan mengkhianati janji. Mereka lalu melihatnya, ternyata dia adalah 'Amr bin 'Abasah, maka diutuslah Muawiyah untuk menemuinya. Muawiyah lalu bertanya kepadanya, dan Amr pun menjawab: Saya telah mendengar Rasulullah telah bersabda:
"Barangsiapa telah melakukan suatu perjanjian dengan suatu kaum, maka tidak boleh melakukan akad lain atau melepasnya sampai waktunya habis. Atau dia membikin perjanjian yang seimbang dengan mereka." Maka Muawiyah pun kembali.
6.   Keengganan para sahabat untuk menggunakan sutera karena berpegang teguh pada perintah Rasul.
Diriwayatkan oleh imam ath- Thabari, ketika tentara muslim turun di Yarmuk, maka orang-orang muslim mengutus mereka seraya mengatakan: "Sesungguhnya kami ingin berbicara dengan pemimpin kalian dan ingin ber- * temu dengannya. Kami pun diundang dan datang untuk berbicara kepadanya. Setelah mereka sampai, mereka diizinkan untuk masuk. Maka datanglah Abu Ubaidah, Yazid bin Abi Sufyan, Harits bin Hisyam, Dharar bin Azwar, Abu Jundul bin Suhail. Saudaraku, yaitu pemimpin tentara Romawi itu, memiliki enam puluh tenda perkemahan, semuanya dari sutera. Ketika mereka sampai di sana mereka tidak mau memasuki tenda tersebut. Mereka berkata: Tidak halal bagi kami tenda sutera tersebut. Dalam riwayat lain dikatakan: Tidak halal bagi kami memasuki tenda tersebut. Kemudian digelarkanlah permadani sutera untuk mereka. Maka mereka juga berkata: Kami tidak akan duduk di atas permadani sutera ini. Akhirnya pemimpin tentara Romawi tersebut duduk bersama orang- orang muslim di tempat yang mereka sukai. Demikian disebutkan dalam kitab Tarikh ath-Thabari, Juz II halaman 403.
7.   Bersegeranya para sahabat untuk melepas sandal mereka di waktu shalat ketika melihat Nabi melepas sandalnya
Seorang pecinta tidak hanya melaksanakan perintah-perintah kekasihnya, tetapi ia selalu mengamati gerak- gerik kekasihnya dan memperhatikan perubahan wajah dan isyarat-isyarat matanya. Jangan-jangan ada hal-hal yang diinginkan kekasihnya, maka ia akan segera mengerjakannya, atau mungkin hal-hal yang tidak disukainya, maka ia akan meninggalkannya.
Demikianlah yang dilakukan oleh para sahabat, orang-orang yang benar- benar mencintai Rasulullah. Mereka tidak hanya melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, tetapi juga mengikuti tingkah lakunya. Dan mereka juga selalu memperhatikan gerak-gerik Rasulullah dengan penuh penghormatan, kerinduan dan kesungguhan untuk mengikutinya. Apabila mereka melihat Rasulullah mengerjakan sesuatu, mereka cepat-cepat ikut mengerjakannya, dan apabila mereka melihat Rasulullah menjauhi atau meninggalkan sesuatu itu, mereka juga cepat-cepat menjauhinya.
Salah satu bukti yang menunjukkan hal itu adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Abi Sa'id al~ Khudri ra. dia berkata: Ketika Rasulullah saw shalat bersama para sahabat, tiba- tiba beliau melepas kedua sandalnya dan meletakkannya di sebelah kirinya. Maka ketika mereka melihat demikian, mereka juga ikut melepas sandal-sandal mereka.Setelah beliau selesai shalat, beliau bertanya: Mengapa kalian juga melepas sandal kalian? Mereka menjawab: Karena kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun meniru melepas sandal kami. Maka Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Jibril tadi datang kepadaku, dan memberi kabar bahwa dalam sandalku itu ada kotorannya. Dan beliau juga bersabda: Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, maka lihatlah sandalnya, jika terdapat kotoran (najis), hendaklah diusap (dibersihkan) dan shalatlah dengan sandal. (Dalam hal ini perlu diberi catatan bahwa mereka shalat dengan sandal di masjid karena dahulu masjid belum memakai keramik atau karpet. Di samping itu kondisi tanah di Arab adalah tanah berpasir, sehingga kalau terdapat kotoran pada sandalnya cukup dibersihkan dengan cara mengusapkan ke tanah/pasir, lalu mereka diperbolehkan untuk shalat dengan memakai sandal tersebut. Penterj.)
Allahu Akbar, betapa tinggi semangat mereka untuk segera meneladani Rasulullah. Semoga Allah meridhai mereka dan 
menjadikan kita semua termasuk orang- orang yang mengikuti jalan mereka.
8.   Seorang wanita melepas kedua gelangnya ketika mendengar peringatan keras dari Nabi yang mulia
Sikap ittiba' (mau mengikuti) kepada Nabi itu tidak hanya terjadi pada kaum laki-laki, tetapi juga pada kaum perempuan yang benar-benar mencintai Nabi. Salah satu buktinya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Abdullah bin Umar, dia berkata: Sesungguhnya seorang perempuan telah datang kepada Rasulullah saw, dia membawa anak perempuannya, dan di tangannya terdapat dua gelang emas besar/tebal. Maka Nabi bersabda: Apa- ^ kah kamu telah memberikan zakat gelang ini? Dia menjawab: Belum! Nabi lalu bersabda: Apakah kamu senang besok di hari kiamat Allah memberi kepadamu gelang dari api neraka? Maka Abdullah bin Umar berkata: Perempuan tersebut lalu melepas kedua gelangnya dan diberikan kepada Rasulullah, seraya berkata:
Gelang itu untuk Allah dan Rasul-Nya.
Allahu Akbar. Perempuan yang benar- benar cinta kepada Rasul itu tidak sekedar memberikan zakat dari dua gelangnya, tetapi kedua gelang tersebut malah dilepasnya dan diberikan semua untuk Rasulullah sebagai sedekah karena Allah. Semoga Allah meridhainya.
9.   Menempelnya seorang wanita pada tembok dengan berjalan kaki di pinggir jalan untuk melaksanakan perintah Nabi
Jangan dikira bahwa bergegas untuk melaksanakan perintah Nabi saw dari seorang perempuan mukminah itu merupakan hal yang jarang atau aneh. Demi Allah, barangsiapa yang mau melihat perilaku mereka melalui informasi hadis, sesungguhnya hal itu merupakan hal yang biasa.
Marilah kita dengarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Usaid al-Anshari ra, dia sesungguhnya mendengar Rasulullah beliau keluar dari Masjid. Maka orang-orang laki-laki pada berbaur dengan perempuan di jalan. Rasulullah kemudian bersabda:
"Hendaklah kalian mengakhirkan, karena kalian tidak boleh berjalan di tengah, hendaklah kalian berjalan di pinggir jalan. Maka perempuan itu menempelkan bajunya ke tembok sehingga bajunya tersangkut tembok karena rapatnya." (HR. Abu Dawud)
Sebelum berpindah ke hadis tentang tanda cinta yang keempat hendaklah kita melakukan muhasabah (introspeksi diri), apakah kita dapat seperti mereka para sahabat? Bukankah kebanyakan kita justru malah membunuh sunah Nabi?
« Last Edit: 28 Jan, 2019, 17:01:20 by Admin »

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1519
  • Logged
Re: CINTA NABI DAN TANDA-TANDANYA
« Reply #1 on: 27 Jan, 2019, 22:19:11 »
Bukankah kebanyakan orang yang menisbatkan kepada Islam justru malah menyalahi Nabi, mereka keluar ke pesta upacara dan pasar-pasar. Bukankah sebagian kita itu laki-laki dan perempuan yang ketika sampai ke lingkungan lain tidak diketahui apakah kita termasuk orang Muslim, Yahudi atau Nasrani, disebabkan kita tidak tampak identitas keislamannya?


TANDA CINTA YANG KEEMPAT : MAU MENOLONG SUNNAH NABI DAN BERJALAN DI ATAS SYARIATNYA

Adalah merupakan hal yang sudah mafhum bahwa seorang yang jatuh cinta itu akan mengorbankan waktu, kemampuan dan seluruh yang dimilikinya (harta dan jiwanya) untuk kekasihnya. Nabi saw yang mulia, sesungguhnya telah mengorbankan seluruh apa yang diberikan Allah, berupa kemampuan, harta dan jiwanya untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Allah, sebagai Tuhan manusia. Beliau saw
juga telah berjuang sungguh-sungguh agar kalimah Allah itu tinggi dan kalimah oijang-orang kafir itu rendah. Beliau juga telah berjihad agar tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini dan agar agama itu total untuk Allah semata.
Tidaklah mengherankan jika kemudian para sahabat yang mencintai Rasulullah itu mengikuti petunjuknya dan meneladani semua perilakunya. Mereka selalu mencurahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, harta dan jiwanya untuk tujuan kekasihnya. Berikut ini akan penulis kemukakan sebagian sikap perilaku mereka yang menunjukkan hal itu.
1. Ajakan Anas bin Nadr untuk mengorbankan dirinya di jalan Allah dan menjadikan dirinya sebagai tebusan
Ketika perang Uhud, terjadilah kekacauan di tengah-tengah tentara Islam. Waktu itu juga sempat tersebar berita bahwa Rasulullah telah mati terbunuh. Karena terpengaruh oleh berita yang cukup mengejutkan tersebut, maka se bagian sahabat duduk-duduk, seolah mereka merasa patah semangat. Tiba-tiba datanglah Anas bin Nadr kepada mereka, lalu berpidato kepada mereka: "Apa yang menyebabkan kalian duduk-duduk di sini?" Mereka menjawab: "Sebab Rasulullah telah terbunuh." Anas lalu berkata: "Apa yang hendak kalian perbuat dalam kehidupan sesudah wafatnya Rasulullah? Bangkitlah kalian semua dan matilah kalian seperti kematian Rasulullah." Lihat Sirah Ibnu Hisyam III/30 dan juga Sirah an- Nabawiyyah Ibnu Hibban al-Busti hlm 225 dan Jawami' as-Sirah, halaman 162.
Lalu bagaimana Anas bin Nadr bangkit sendirian untuk membela agama dan menegakkan kalimah Allah? Marilah kita baca riwayat Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik ra, dia berkata: Pada hari perang Uhud umat Islam kalah. Anas bin Nadr berdoa: Ya Allah, saya mohon ampun kepada-Mu atas apa yang diperbuat para sahabat itu dan saya mohon dibebaskan dari perbuatan orang- orang musyrik. Kemudian Rasulullah datang dan disambut oleh Sa'ad bin Mu'adz, maka dia berkata: Wahai Sa'ad bin Muadz, demi Tuhan, ada bau surga. Sungguh saya telah menemukan bau surga dari seorang yang mati di perang Uhud. Sa'ad bin Muadz berkata: Saya tidak dapat berbuat seperti yang ia (Anas bin Nadr) perbuat.
Perawi hadis tersebut, yaitu Anas bin Malik berkata: Saya menemukan lebih dari delapan puluh luka akibat sabetan pedang, tombak atau anak panah mengenai tubuh Anas bin Nadr. Saya mendapati dia telah meninggal dunia, tubuhnya dicincang oleh orang-orang musyrik, sehingga tak seorang pun mengenalinya kecuali saudara perempuannya dengan lantaran jari-jarinya. Kemudian Anas bin Malik berkata: Kami menduga bahwa ayat yang berbunyi: "Minal mu’minin rijalun shadacju ma 'Ahadu Allah alaihi ... turun berkaitan dengan peristiwa terbunuhnya Anas bin Nadr. Semoga Allah SWT melimpahkan ridha kepadanya.
2.   Senangnya perasaan Haram bin Malhan ketika mencurahkan dirinya pada waktu menyampaikan surat Rasulullah 
Ada seorang sahabat yang benar- benar cinta Rasulullah terluka di tengah- tengah menyampaikan surat beliau, dan akhirnya meninggal dunia saat itu juga. Tetapi sebelum meninggal dunia dia sempat untuk mengungkapkan rasa bahagianya karena memperoleh kebahagiaan yang agung semacam itu. Lalu apa yang ia katakan ketika itu? Marilah kita dengar hadis riwayat Imam al-Bukhari mengenai hal itu.
Dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi saw pernah mengutus pamannya, yaitu Haram, saudara Sulaim dengan tujuh puluh penunggang kuda. Maka berangkatlah Haram, saudara Ummu Sulaim tersebut, bersama dengan salah seorang dari bani Fulan, seorang yang pincang kakinya. Haram berkata: "Mendekatlah kalian sampai saya mendatangi kepada mereka (kaum yang hendak dikasih surat). Apabila mereka beriman kepadaku, maka kalian akan dekat denganku. Kalau mereka mau membunuhku, maka datangkanlah kawan-kawan kalian."
Haram lalu berkata: Apakah kalian percaya kepadaku bahwa aku akan menyampaikan risalah (surat) Rasulullah?" Mereka saling memberi isyarat, dan tiba- tiba dari belakang ia dilempar tombak. Ketika itu dia masih sempat berkata: AUahu Akbar, Demi Allah, saya beruntung. Hamam, salah seorang perawi hadis tersebut berkata: "Saya menduga Haram tertusuk tombak hingga tembus."
Itulah cinta sejati dari seorang sahabat yang menganggap kematiannya sebagai keberuntungan, meskipun harus mengorbankan jiwanya ketika menyampaikan surat kekasihnya, yaitu Rasulullah saw. Demi Allah, sesungguhnya hal itu merupakan keberuntungan. Ya Allah, janganlah Engkau halangi ia untuk memperoleh pahalamu. Amin Ya Rabbal aiamin.
3.   Dikirimnya pasukan Usamah oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, meskipun Rasulullah telah wafat dan kondisinya sangat menyulitkan
Setelah Rasulullah wafat, para sahabat diuji dengan ujian yang sangat berat, di mana banyak orang murtad dari bangsa Arab, dan mereka bermaksud
menyerang kaum muslimin yang berada di Madinah al-Munawwarah. Akibatnya, —sebagaimana yang digambarkan oleh Ammar bin Yasir— para sahabat menjadi seperti kambing tanpa pengembala, dan kota Madinah pun terasa sangat sempit bagi penduduknya, lebih sempit dibanding cincin yang melingkar di jari.
Dalam kondisi sulit semacam itu, datanglah perintah untuk melaksanakan pengiriman pasukan Usamah yang telah dipersiapkan Nabi untuk memerangi musuh-musuh Allah di suatu negeri yang jauh dari Madinah. al-Munawarah. Tetapi pasukan tersebut rupanya belum jadi berangkat, karena ketika itu melihat kondisi Nabi sedang sakit parah, yang kemudian menyebabkan beliau berpulang ke rahmat Allah.
Bagaimana sikap Abu Bakar, —sebagai seorang yang benar-benar mencintai Nabi— terhadap perintah pengiriman pasukan itu? Marilah kita dengarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabari dari Ashim bin 'Adiy, dia berkata: Abu Bakar dipanggil oleh seseorang sehari setelah kematian Rasulullah, yang isinya: Hendaklah disempurnakan pengiriman pasukan Usamah. Ingatlah! Jangan sampai ada seorang pasukan pun dari tentara Usamah yang masih tetap tinggal di Madinah, kecuali ia harus keluar menuju pasukan beliau di daerah Jurf (yaitu daerah sekitar tiga mil dari kota Madinah, tepatnya di daerah Syam).
Ketika Usamah meminta izin kepada Abu Bakar untuk tetap tinggal bersama tentaranya di kota Madinah karena melihat kondisi kota itu sedang bergolak, maka Abu bakar ash-Shiddiq mengirim surat kepadanya yang isinya: "Sungguh aku tidak akan memulai suatu kebijakan yang lebih utama dibanding dengan melaksanakan perintah Rasulullah, (yakni mengirim pasukan Usamah). Dan sungguh aku lebih suka disambar burung daripada harus meninggalkan perintah Rasulullah itu."

Ketika ada indikasi bahwa orang- orang Arab dikhawatirkan akan menyerang kota Madinah, maka Usamah menjawab surat Abu Bakar tersebut dengan mengatakan: "Saya akan menahan pasukan yang pernah dikirim 
Rasulullah." Abu Bakar lalu berkata: Kamu benar-benar telah berani melanggar perintah agung tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya-, seandainya orang-orang Arab itu ingin menyerang Madinah, hal itu lebih aku sukai dibanding aku harus menahan pasukan yang pernah dikirim Rasulullah. (Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath, halaman 100)
Dalam riwayat Imam Ath-Thabari, Abu Bakar berkata: "Demi Dzat yang jiwa Abu Bakar berada di tangan-Nya, seandainya binatang buas menyambarku niscaya aku tetap akan mengirim Usamah (dan pasukannya) sebagaimana yang pernah diperintahkan oleh Rasulullah, bahkan sekalipun seandainya di Madinah tak ada orang selain saya, saya akan tetap melaksanakannya." Demikian dijelaskan dalam Tarikh al-Islami karya adz-Dzahabi dalam judul "Masa al-Khulafa' ar- Rasyidun" halaman 20-21.
Demi Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Itulah sikap seorang yang benar- benar cinta kepada Rasulullah. Kemudian Abu Bakar keluar mengantar pasukan sambil berjalan kaki, sedangkan Usamah naik kendaraan (Kuda). Sementara Abdurrahman bin Auf menggiring kendaraannya. Maka berkatalah Usamah kepada Abu Bakar: Wahai Khalifah Rasulullah! Demi Allah, hendaklah tuan naik atau aku yang turun. Abu Bakar menjawab: Demi Allah, kamu jangan turun dan saya tidak akan naik. Saya tidak akan mengotori kakiku sesaat pun dalam berjuang di jalan Allah.
Waktu itu, Abu Bakar sempat berwasiat kepada Usamah: Berbuatlah kamu seperti apa yang telah diperintahkan oleh Nabi. Mulailah dari daerah Qudha'ah, kemudian menuju ke daerah Itabil. Jangan kamu berbuat sembrono sedikit pun terhadap perintah Rasulullah. (Tarikh Thahari jilid II, halaman 226.) Dalam riwayat lain dikatakan, Abu Bakar berkata: Berangkatlah kamu wahai Usamah bersama pasukanmu sesuai dengan apa yang diperintahkan kepadamu. Kemudian berperanglah kamu sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah.
Itulah cinta sejati kepada Rasullulah saw, sehingga ia sanggup berjuang di 
jalan Allah, untuk membela agama dan meninggikan kalimah Allah yang haq, sesuai dengan perintah kekasihnya, yaitu Rasulullah saw .
4.   Abu Bakar memerangi para penentang zakat dan orang-orang murtad meskipun dalam kondisi yang sangat menyulitkan.
Kita dapat menyaksikan bagaimana seorang yang benar-benar cinta kepada Nabi, yaitu Abu Bakar yang begitu tegas dan kuat tekadnya untuk memerangi para penentang zakat. Salah satu ucapan beliau yang populer adalah:
"Seandainya orang-orang itu enggan memberikan zakat ontanya, yang dulunya biasa mereka bayarkan kepada Rasulullah, niscaya saya akan memerangi mereka, karena penentangan mereka." (HR. Muslim)
Kemudian ketika Abu Bakar mengetahui keinginan orang-orang murtad hendak menyerang Madinah al- Munawarah, beliau keluar dengan menghunus pedang sendirian menuju mereka. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Aisyah putri Abu Bakar, dia berkata: Ayahku Abu Bakar, keluar dengan menghunus pedang sambil menunggang kuda menuju ke Dzil Qishshah (yaitu tempat sekitar dua puluh empat mil dari kota Madinah).
Ketika Abu Bakar diminta untuk tetap tinggal di Madinah dan beliau disarankan agar mengutus utusannya saja, beliau mengatakan: "Tidak, demi Allah saya tidak akan mengutus utusanku. Sungguh aku akan memberi contoh sendiri kepada kalian. (Tarikh Tahabari, Juz II hlm 247 lihat pula Al-Kamil fi Tarikh Ibnil Atsir Juz II hlm 233 dan al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz VI hlm 355).
Bagaimana mungkin Abu Bakar, seorang yang benar-benar cinta Nabi akan duduk-duduk saja, sementara agama yang dibawa oleh kekasihnya, yaitu Nabi Muhammad, mengajaknya untuk bangkit berjuang? Bagaimana Abu Bakar tidak akan keluar, sementara ia mendengar syariat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad meminta dirinya untuk menolong syariat tersebut?
Lalu di mana posisi kita ini? Bukankah kita mendengar bahwa agama yang hak ini menunggu pertolongan kita, mulai dari arah Timur sampai Barat? Apakah kita tidak mendengarkan seruan syariat Islam dari seluruh penjuru dunia, baik yang jauh maupun yang dekat? Adakah di antara kita yang mau memenuhi panggilannya?
Yang perlu dikhawatirkan dari sebagian kita, meskipun telah mengaku cinta kepada Nabi Muhammad saw Adalah bahwa seolah sebagian kita ini seperti orang yang digambarkan Allah dalam al- Qur'an sebagai berikut:

"Mereka mempunyai hati tetapi tidak mampu memahami, mereka punya mata tetapi tidak bisa melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak mampu mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. al- A'raf: 179)
5.   Permintaan Barra' agar dirinya dilemparkan ke kebun seorang musuh supaya dapat membuka pintunya untuk orang yang akan masuk
Pada waktu perang Yamamah, ketika para pengikut Musailamah al-Kadzdzab melarikan diri ke kebun yang bertembok, dan mereka mengunci pintunya, maka salah seorang pecinta Nabi yaitu Barra' tetap meminta sahabat-sahabatnya untuk melemparkan dirinya melalui tembok mereka, agar ia dapat membukakan pintu tembok kebun tersebut untuk kaum muslimin.
Diriwayatkan dari Imam ath- Thabari: Kemudian kaum muslimin menyerbu (pengikut Musailamah al-
Kadzdzab) dan mengejarnya hingga sampai ke kebun, yang merupakan kebun maut, yang di dalamnya terdapat Musailamah al-Kadzdzab, musuh Allah. Maka Al-Barra' ibnu Malik berkata: Wahai kaum muslimin! Lemparkan saya ke arah kebun tersebut! Orang-orang lalu berkata: Jangan wahai Barra'! Maka Barra' berkata: Sudahlah, kamu lemparkan saja aku ke arah mereka di kebun tersebut. Ketika berhasil masuk ke kebun mereka, Barra' lalu membuka pintu tembok kebun tersebut. Maka kaum muslimin berhasil masuk dan memerangi mereka, sehingga Musailamah al- Kadzdzab berhasil dibunuh. (Tarikh 4tth- Thabari Juz II halaman 290.)
Allahu Akbar, bagaimana Barra' menjadikan dirinya begitu murah untuk berjuang di jalan Allah, padahal sesungguhnya dirinya sangat mahal. Demi Allah dia lebih berharga daripada diri kita.
6.   Terjadinya baiat dari empat ratus pasukan kaum muslimin untuk siap mati di perang Yarmuk
Pada waktu perang Yarmuk, kita dapat menyaksikan empat ratus orang yang benar-benar mencintai Rasulullah. Mereka berbai'at untuk siap mati membela agama dan meninggikan kalimah Allah, menghilangkan fitnah dan kerusakan .
Al-Hafizh Ibnu Katsir telah menyebutkan riwayat dari Usman bin Ghassani, dari bapaknya, dia berkata: Ikrimah bin Abu Jahal berkata: Saya sudah berperang bersama Rasulullah di beberapa medan peperangan. Hari ini saya akan menyelidiki kalian. Kemudian Ikrimah menyeru dengan mengatakan: Siapa yang mau dibai'at untuk siap mati di medan perang? Maka pamannya, yaitu al-Haris dan Dharar bin Azwar menyuruh Ikrimah untuk membai'at empat ratus pasukan dari tokoh-tokoh kaum muslimin dan para pasukan berkuda. Maka berperanglah mereka di depan kemahnya Khalid, sehingga semua terluka, bahkan sebagian mereka ada yang terbunuh, di antaranya adalah Dharar bin Azwar. Semoga Allah me- ridhai mereka. (Al-Bidayah wa an- Nihayah, Juz VII halaman 10-11).
7.   Naiknya Zubair ke atas benteng besar untuk membuka pintunya bagi tentara Islam yang mau masuk
Di Mesir kita menemukan seorang yang benar-benar mencintai Rasulullah. Dia mau menyerahkan dirinya untuk Allah. Dia dan teman-temannya melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Barra' bin Malik ra di perang Yamamah. Tidaklah mengherankan jika ada persamaan antara mereka dengannya dalam pengorbanan mereka. Sebab mereka keluar dari madrasah yang sama. Mereka adalah para pecinta Rasulullah. Madrasah itu adalah Madrasah Muhammadiyyah (madrasah yang dididik langsung oleh Nabi^ Muhammad).
Al-Imam Ibnu Abdil Hakim menceritakan kisah tersebut sebagai berikut: Ketika pembukaan benteng yang dipimpin Amar bin Ash itu terlambat, maka berkatalah Zubair: Sesungguhnya aku hendak menyerahkan jiwaku untuk Allah, dan aku berharap dengan begitu dapat membuka pintu benteng tersebut bagi kaum muslimin. Maka ia meletakkan tangga ke samping benteng dari arah
kamar mandi kemudian naik. Dia juga memerintahkan jika kaum muslimin mendengar takbirnya, supaya ikut serempak bertakbir.
Tidak lama kemudian Zubair pun telah berada di atas benteng sambil bertakbir dan membawa pedang. Orang- orang pun saling berebut untuk naik tangga tersebut, sehingga mereka dilarang oleh Amr, karena khawatir tangganya patah. Ketika Zubair telah berhasil masuk ke dalam benteng dan diikuti oleh yang lainnya sambil bertakbir, maka kaum muslimin yang berada di luar benteng menjawab takbirnya secara serempak. Sehingga musuh kaum muslimin yang berada di dalam benteng tersebut menduga bahwa mereka semua telah berhasil masuk ke dalam benteng. Akhirnya musuh kaum muslimin bersembunyi. Ketika itu, Zubair dan kawan- kawannya segera membuka pintu benteng tersebut sehingga kaum muslimin dapat memasukinya. (Lihat kitab Futuh Mishra wa Akhbaraha hlm 52). Semoga Allah meridhai mereka. Alangkah besarnya cinta mereka dan alangkah besarnya 
kesungguhan tebusan mereka untuk agama ini.
8.   Doa An-Nu'man bin Muqarrin agar diberi Allah bisa mati syahid dengan menolong kaum muslimin
Pada waktu perang Nahawand kita menyaksikan seorang sahabat yang benar-benar mencintai Allah, di mana dia berdoa agar dapat mati syahid dengan cara menolong kaum muslimin. Imam al- Hafizh adz-Dzahabi menuturkan hal ini sebagai berikut:
An-Nu'man bin Muqarrin berkata: Ketika dua pasukan bertemu di perang Nahawand, jika aku terbunuh malite janganlah seseorang menjadi ribut gara- gara saya. Sungguh saya akan berdoa, maka hendaklah kalian mengamininya. Dia lalu berdoa: Ya Allah, jadikan saya mati syahid dalam rangka menolong kaum muslimin. Maka orang-orang pun mengamininya. Dialah orang yang pertama kali bergulat dalam peperangan itu. Semoga Allah meridhainya.
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa an-Nu'man berdoa: Ya Allah luhurkan- lah agama-Mu, tolonglah hamba-Mu dan jadikanlah Nu'man orang yang pertama kali mati syahid di hari ini, karena meluhurkan agama-Mu dan menolong hamba-Mu.
Alangkah agungnya doa an-Nu'man tersebut. Doa itu tidak akan dikatakan kecuali oleh orang-orang yang sabar dan orang-orang yang mempunyai jiwa yang besar.
9.   Kerinduan kaum muslimin (para sahabat) untuk mengorbankan jiwa mereka di jalan Allah
Saya akan mengakhiri pembicaraan mengenai tanda cinta kepada Rasulullah ini dengan menuturkan hadis dari Ubadah bin Shamit ra dengan menjelaskan bagaimana keinginan kaum muslimin para pecinta Rasulullah untuk mengorbankan jiwa mereka dalam rangka berjuang di jalan Allah sehingga tidak ada fitnah dan agar agama itu hanya untuk Allah.
Dia berkata: Tidak ada seorang pun di antara kami, kecuali berdoa kepada Tuhannya di waktu pagi dan sore agar
memperoleh syahadah (mati syahid), dan agar tidak dikembalikan lagi ke daerahnya, buminya, keluarga dan anaknya. Tidak ada kesedihan sedikit pun dari salah seorang di antara kami terhadap apa yang terjadi setelahnya. Sebab setiap kami sudah menitipkan keluarga dan anaknya kepada Allah. Sesungguhnya kesedihan kami adalah justru terhadap apa yang ada di depan kami.
Ya Allah, semoga Engkau jadikan kami termasuk orang-orang seperti mereka. Amin ya Rabbal 'alamin.

« Last Edit: 28 Jan, 2019, 17:01:44 by Admin »