Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Alumni & Pesantren  Daftar Pesantren di Jawa Barat 
Yayasan Pondok Pesantren Darul Habib Sukabumi Jawa Barat
Pages: [1]

(Read 371 times)   

Admin

  • Administrator
  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Admin No Reputation.
  • Join: 2013
  • Posts: 2546
  • Logged



Assalamualaikum sul ini adalah profil pesantren yang cukup unik karena didirikan oleh para habaib dan terletak di Sukabumi Parung Kuda Jawa Barat, Silahkan Lihat profil pesantren ini


Darul Habib Islamic Boarding School adalah sebuah lembaga pembelajaran dan pendidikan agama Islam yang berpegang teguh kepada al-Qur’an, Hadits serta thoriqoh para Salaf yang berakidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang wajib diamalkan oleh para santri dalam kesehariaanya.


VISI
Meraih ridho Ilahiy dan Rasul-Nya.

MISI
Mendidik dan membekali para santri dengan ilmu, adab serta akhlak nabawiy sehingga menjadi insan yang unggul dan bermanfaat bagi agama, dunia dan akhirat.
Menjadikan santri terbiasa untuk beribadah, terutama dalam menjaga shalat berjama’ah tepat pada waktunya, shalat malam (tahajjud) dan membaca wirid.
Mencetak para santri yang unggul dalam berda’wah dan berbahasa Arab yang merupakan bahasa persatuan Islam.
Membentuk pribadi yang bersih, rapi dan teratur baik secara jasmani dan rohani maupun terhadap lingkungan serta disiplin mengatur waktu dalam menjalani kehidupan.


FASILITAS UTAMA
Asrama, dengan ranjang kayu jati dua tingkat, spring bed, bed cover, selimut, lemari dua pintu, kamar mandi serta jemuran dibelakang kamar.
Masjid.
Kantor.
Kelas.
Perpustakaan.

FASILITAS PENUNJANG
Mini market.
Koperasi & laundry.
Kantin.
Ruang makan.
Rumah sakit.
Lapangan futsal.
Taman.
Saung.


SEJARAH SINGKAT PONDOK PESANTREN DARUL HABIB
Bermula dari semak belukar yang sangat lebat dan jurang yang sangat dalam, muncullah
bangunan-bangunan asrama dengan taman-taman kecil yang elok. Berawal dari seorang anak
yang ingin mengabdikan dirinya untuk menuntut ilmu, muncullah generasi-generasi penerus
perjuangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang penuh semangat.

Pondok Pesantren Darul Habib adalah sebuah lembaga pendidikan yang berakidah
ahlussunnah wal jama'ah dengan berpegang teguh pada al-Qur'an dan al-Hadits, mengakui
adanya ijma' para Ulama dan kias, menjunjung tinggi norma-norma agama, melaksanakan
ajaran-ajaran islam dengan baik dan ber-akhlakul karimah.

Pesantren Darul Habib dibangun di atas tanah seluas + 1,5 hektar dan didirikan pada
tahun 1998 M. oleh Al-Ustadz Nopel Abdullah al-Kaff namun baru diresmikan pada tahun 2000
M.


Dalam perjalanannya selama + 1 dekade, Pesantren Darul Habib telah
menampung sekitar 500 santri, terdiri dari 300 santri aktif putra dan putri serta santri non aktif
(alumni) sebanyak 200 santri.

Dalam rangka meningkatkan kualitas SDM yang bermoral tinggi serta mendukung
program pemerintah mengenai wajib belajar sembilan tahun, di Pondok Pesantren Darul Habib
juga INSYAALLAH akan diadakan pendidikan formal.

KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Kegiatan Pondok Pesantren adalah kumpulan berbagai kegiatan yang telah di-konsep
sebagai kegiatan wajib Pesantren yang harus diikuti oleh seluruh santri tanpa terkecuali.
Secara komprehensif tujuan diadakannya kegiatan Pondok Pesantren adalah sebagai
upaya pembekalan terhadap para santri yang spesifik pada pendalaman ilmu Agama
sebagaimana ciri has Pondok Pesantren pada umumnya.


Adapun pendidikan yang diformulasikan untuk para santri dan sangat diprioritaskan
antara lain meliputi Al-Qur’an, Al-Hadits, Bahasa Arab, Akhlaq, Fiqh, Nahwu, Sharaf, Balaghah,
Tauhid dan lain sebagainya baik secara klasikal maupun fakultatif. Di samping itu kami juga
memberikan kegiatan penunjang seperti latihan pidato, membaca maulid, hadrah, burdah dan
masih banyak kegiatan-kegiatan yang lain.

Alhamdulillah meskipun dengan fasilitas seadanya dan biaya hidup yang jauh dari kemewahan,
PP. Darul Habib telah mencetak beberapa santri yang berprestasi diantara lainnya adalah sekitar 25
santri telah menghafal al-Qur'an dan mereka yang telah menghafalkan al-Qur'an adalah para santri yang
telah menghatamkan beberapa hafalan diantaranya adalah mukhtarul hadits, hadits arba'in nawawi,
nazhom 'aqidatul 'awam, jurumiyyah, mulhatul I'rob bahkan nazhom zubad 1080 bait dll. Kemapuannya
dalam berdialog menggunakan bahasa arab yang fashih sudah tidak diragukan lagi karena mereka
diwajibkan untuk berkomunikasi dengan bahasa arab setiap hari bahkan sebagian santri ada yang
menjadi penerjemah ketika ada ulama dari luar negri datang untuk memberikan ceramah berbahasa
Arab di PP. Darul Habib. Kemudian di samping mereka menghafal, sudah barang tentu mereka harus
memahamai dan mengamalkan. Namun karena minimnya informasi dan sosialisasi maka PP. Darul
Habib tidak pernah mengikuti kegiatan sosial di luar pesantren seperti perlombaan, cerdas-cermat dll.


Pada zaman sekarang ini orang-orang selalu disibukkan oleh aktivitas dan rutinitas yang begitu padat, seperti halnya makhluk Allah yang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain dan dengan itulah barjalannya kehidupan bermasyarakat yang harmonis.

Dengan memahami tabiat satu sama lain, maka akan berjalan dengan baik kehidupan setiap individu, keluarga, masyarakat, maupun negara, karena itu merupakan pangkal dari semuanya.

Maka hendaklah setiap orang bersedia untuk menata kehidupannya dengan baik dalam bermasyarakat, terlebih lagi hubungannya dengan sang Khalik ( ALLAH ). Untuk itu, ia harus membekali dirinya dengan pendidikan agama yang memadai. Yaitu pendidikan yang akan menjadikannya sebagai manusia yang berakhlak mulia, sehingga ia akan menjadi makhluk Allah yang paling mulia.


Faktanya dimasa modern sekarang ini, banyak sekali orang-orang yang kurang memperhatikan terhadap bekal ilmu dan pengetahuan agama. Serta kurang sekali perhatian dari masyarakat terhadap pentingnya pendidikan agama islam dikalangan orang-orang muslim sendiri. Apabila hal ini dibiarkan begitu saja, maka akan menyebabkan kerusakan moral antar generasi umat islam.

Timbullah Inspirasi Untuk Mendirikan Yayasan Pon-Pes Putra dan Putri

Terlebih dari yang kita sebutkan di atas, kami berniat untuk ikut menyelamatkan masa depan generasi muda kaum muslimin dan muslimat, dengan cara membuka pintu-pintu pendidikan islam untuk mereka. Alhamdulillah, kami telah mendirikan Yayasan Pon-Pes Darul Habib Putra pada tahun 2000 M dan Yayasan Pon-Pes Darul Habib Putri pada tahun 2008. Sekarang jumlah para santri putra ± 300 orang sedangkan santri putri  ± 100 orang, dimana mereka belajar, tidur, makan, dan minum bersama kami. Dikarenakan pondok yg telah ada tempatnya kurang memadai, maka dari itu kami mulai membangun Yayasan Pon-Pes Darul Habib Putra baru yang mampu menampung ± 1000 santri. Tempat tersebut dibangun di atas tanah seluas ± 54.000 M?2; di kota SUKABUMI-JAWA BARAT. Adapun tempat yang digunakan untuk santri putri yaitu bertempat di Yayasan Pon-Pes Darul Habib yang dulu digunakan oleh santri putra yang telah direnov sedemikian rupa menyesuaikan penghuni Pon-Pes. Tujuan utama dalam mendirikan Yayasan Pondok Pesantren ini adalah supaya masyarakat lebih mengenal ajaran agamanya dan berakhlak mulia.


Kurikulum Belajar Mengajar
Sistem pengajaran yang diterapkan di pondok ini adalah berbasis Al-Quran dan Hadits. Para guru akan membina dan membekali para santri dengan berbagai macam metode pendidikan, antara lain “Latihan Pidato dan Da’wah, serta ditambah dengan menghafal Al-Quran dan Hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan lain-lain.

PENUTUP
Demikianlah yang dapat kami tulis sebagai gambaran dan langkah awal untuk merealisasikan apa yang menjadi harapan kami. Kami berharap semoga Allah SWT memudahkan semua urusan kita dan menyelesaikan semuanya dengan lancar serta meridhoinya. Amin.

Alamat
Jalan Raya Parungkuda Gg. Ojek Ciambar Kp. Cipamutih Desa Munjul Rt.004/012 Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia | PO.BOX 26
Email: info@daarulhabib.net
No. Telepon: (+62266) 6541888 / 6541832
Sumber : www.daarulhabib.net


PERATURAN SANTRI LAKI LAKI
Yayasan Pondok Pesantren Darul Habib
PERATURAN UMUM


Setiap santri yang tinggal dan atau hanya belajar di Darul Habib Islamic Boarding School wajib untuk:
Berakhlak mulia.
Mematuhi segala bentuk peraturan dan tata tertib yang berlaku.
Menjaga nama baik Pondok Pesantren.
Berperan aktif dalam menjaga keamanan, ketertiban serta memelihara kebersihan dan keindahan Pondok Pesantren.


KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SEORANG SANTRI
Berbicara berbahasa Arab bagi yang sudah menetap selama enam bulan.
Mengikuti segala bentuk aktifitas yang telah  ditetapkan oleh Pondok Pesantren, seperti:
-Belajar dengan rajin dan tekun pada waktu yang telah ditentukan.
-Menjalankan shalat fardhu secara berjama’ah di masjid dan membaca wirid yang telah ditentukan.
-Pembacaan Burdah, Maulid, Hadhroh Basaudan & Badriyyah pada jam & waktu yang telah ditentukan.
-Muhadhoroh (latihan berpidato).
-dan lain-lain.

3.Memakai gamis putih, peci putih dan imamah putih ketika belajar dan shalat berjama’ah.
4.Membawa / memiliki sendiri pakaian resmi (minimal dua), serta pakaian dan kebutuhan sehari-hari.
5.Berpakaian yang layak dalam kesehariaannya termasuk ketika berolahraga dan tidur.
6.Tidur malam pada pukul 22.00 WIB dan bangun pada pukul 03.15 WIB.
7.Menitipkan uangnya kepada petugas.


LARANGAN-LARANGAN
-Keluar tanpa izin petugas.
-Berada di tempat yang tidak layak sebagai seorang santri, seperti di bioskop, warung makan / minum, dll.
-Merokok, baik didalam maupun diluar Pondok.
-Membawa dan atau menyimpan sesuatu yang tidak berkaitan dengan Pondok Pesantren, seperti :
A.Alat-alat elektronik (HP, kamera, dll).
B.Majalah, koran, foto dan segala bentuk konten yang tidak islami.
C.Senjata.
D.dan lain-lain
-Membawa dan atau menyimpan uang tunai, ATM maupun         e-Money (segala bentuk yang bisa digunakan untuk bertransaksi).
-Mengganggu ketenangan santri, seperti berbicara kasar / tidak sopan, memasuki kamar yang bukan kamarnya, berteriak-teriak, berkelahi, memakai barang orang lain tanpa izin, mencuri, dll.
-Berbicara dengan yang bukan mahromnya, baik di dalam maupun di luar Pondok Pesantren.
-Berpakaian yang tidak layak bagi seorang santri.
-Mengadakan kegiatan yang bukan pada waktu yang telah ditentukan, seperti berolahraga selain hari Jum’at, dll.
Dan larangan-larangan lainnnya sesuai dengan kesepakatan musyawarah Mudir Ma’had dan dewan Asatidzah.

 

SANKSI ATAS PERLANGGARAN
Bagi santri yang melanggar peraturan dan tata tertib akan dikenai sanksi berupa: dipukul, digundul, membersihkan Pondok, didenda, diskors, sampai tidak diperkenankan pulang ketika libur Ramadhan serta bisa dikeluarkan secara tidak hormat. Juga terdapat hukuman-hukuman lain sesuai dengan kesepakatan musyawarah Mudir Ma’had dan dewan Asatidzah.

 
SYARAT PENERIMAAN CALON SANTRI BARU
Calon santri datang bersama kedua orang tua dan atau wali. Wali tidak bisa diwakilkan sesama santri.
Minimal tamatan Sekolah Dasar (Primary School) / sederajat dan berumur 12 tahun.
Bisa berbicara, membaca dan menulis Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Fotocopy ijazah pendidikan terakhir 2 (dua) lembar.
Pas photo berwarna terbaru ukuran 3x4cm 2 (dua) lembar.
Fotocopy Akte & Kartu Keluarga 2 (dua) lembar.
Fotocopy KTP orang tua 2 (dua) lembar.
Khusus untuk calon santri yang berusia 17 tahun keatas atau tamatan SMA (Senior High School) / sederajat atau yang pernah mengenyam pendidikan SMA (sederajat, walaupun tidak sampai selesai) harus membawa Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) daerah setempat.
Untuk santri asing, fotocopy pasport 2 (dua) lembar dan fotocopy pasport kedua orang tua 2 (dua) lembar.
10.Membaca dengan seksama brosur Pondok.
11.Mengisi formulir pendaftaran.
12.Mengisi dan menyetujui Surat Pernyataan.
13.Membayar biaya administrasi sebesar IDR 20.000 (dua puluh ribu rupiah).


ESTIMASI BIAYA
Pendaftaran santri baru dikenakan biaya IDR 11.000.000 dengan rincian sebagai berikut:
-  Uang pembangunan (IDR 4.000.000).
-  Uang lemari (IDR 3.000.000).
-  Uang ranjang (IDR 1.800.000).
-  Uang kasur (IDR 1.000.000).
-  Uang bantal, selimut & seprei (IDR 200.000).
-  Uang SPP satu bulan pertama (IDR 700.000).
-  Uang kitab (IDR 200.000).
-  Uang kesehatan (IDR 100.000).

 

2. Daftar ulang untuk santri yang sudah menetap (satu tahun sekali) IDR 100.000.
3.Untuk santri asing dikenakan biaya tambahan untuk pembuatan KITAS dan keperluan administrasi lainnya sebesar IDR 7.250.000 untuk masa aktif selama dua tahun dan biaya perpanjangan masa aktif IDR 5.750.000 jika telah expired (biaya ini berlaku untuk tiga orang keatas).
4.Apabila santri asing tersebut berhenti / diberhentikan, maka diwajibkan untuk membuat EPO (Exit Permit Only) dan mengembalikan KITAS dan SKTT serta dikenakan biaya IDR 250.000.

 

JAM AKTIVITAS BELAJAR
Belajar di kelas         : 08.30 s/d 12.00 WIB.
Rauhah pagi              : 05.30 s/d 06.00 WIB.
Rauhah sore              : 16.00 s/d 16.45 WIB.

UJIAN SEMESTER
Ujian semester pertama pada bulan Rabi’ul Awwal.
Ujian semester kedua pada bulan Sya’ban.
Adapun syarat untuk mengikuti ujian adalah melunasi iuran bulanan (SPP) sampai bulan yang telah ditentukan dan membayar uang ujian serta melunasi hafalan yang telah ditetapkan oleh Qism Tarbiyyah.

LIBUR BELAJAR
Hari Jum’at.
Hari-hari besar Islam.
Setelah ujian semester pertama & kedua.
Untuk libur Ramadhan dimulai dari tanggal 20 Sya’ban s/d 15 Syawwal dan para santri baru diperkenankan untuk pulang kerumah masing-masing dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

CATATAN
Biaya bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Bagi santri baru yang telah menetap selama tujuh hari kemudian mengundurkan diri / berhenti maka uang pangkal akan dikembalikan sebesar 50%, jika selama 14 hari akan dikebalikan 25%, dan jika diatas 14 hari maka tidak ada pengembalian uang pangkal dan dianggap sebagai sedekah untuk Pondok Pesantren.
Iuran bulanan bagi santri yang pulang (baik karena sakit, libur Ramadhan, dsb) selama tidak menyatakan berhenti tetap dibayar seperti biasa.
Santri baru diperbolehkan pulang apabila telah menerima raport semester kedua. Adapun syarat untuk pengambilan raport adalah sebagai berikut:

-  Melunasi SPP sampai bulan yang telah ditetapkan.
-  Melunasi hafalan yang telah ditetapkan oleh Qism Tarbiyyah.
-  Tidak memiliki hutang kitab.
-  Melunasi iuran ash-Shofwah (organisasi santri Darul Habib Islamic Boarding School).

Santri yang berhenti / diberhentikan dan masih memiliki tanggungan hutang diwajibkan untuk melunasinya.
Dilarang keras membawa pulang fasilitas Pondok yang telah disediakan.
Bagi santri yang menetap di Pondok ketika libur Ramadhan tidak ditarik biaya tambahan.
Bagi santri yang terlambat datang setelah libur Ramadhan, akan dikenakan denda dengan jumlah tertentu. Dan apabila dalam jangka waktu sepuluh hari santri tersebut belum juga datang (25 Syawwal), maka dianggap berhenti. Fasilitas pondok yang dia terima akan dipersiapkan untuk calon santri baru dan diwajibkan mendaftar ulang layaknya calon santri baru apabila kembali datang dengan syarat dan ketentuan yang berlaku
Atas nama Pimpinan Darul Habib Islamic Boarding School,

Abuya Ahmad Naufal bin Abdullah al-Kaff

PERATURAN PEREMPUAN
Yayasan Pondok Pesantren Darul Habib

Peraturan Umum

Setiap santriwati wajib mengamalkan ajaran Al-Qur’an Al-Karim dan sunnah Rasulullah SAW. serta berpegang teguh pada tariqoh salafusshaleh
Mematuhi semua tata tertib pondok pesantren
Berakhlaq mulia
Menjaga nama baik pondok pesantren

Kewajiban Santri (Perempuan)
Berbicara dengan Bahasa Arab bagi santriwati yang sudah menetap enam bulan di pondok
Mengikuti pelajaran dengan rajin dan tekun pada waktu yang telah ditentukan
Menjalankan shalat fardlu berjama’ah serta membaca wirid yang telah ditentukan
mengikuti setiap aktifitas yang telah ditentukan pondok pesantren seperti:
Muhadlarah (latihan pidato)
Olah raga
Dan lain-lain
Memakai seragam Abaya Hitam,Kerudung ( minimal 3 ) ketika belajar dan shalat berjama’ah
Berada dalam kelas lima menit sebelum pelajaran dimulai
Menjaga dan memelihara kebersihan, ketertiban, keamanan serta keindahan pesantren
Tidur malam pukul 22.00 WIB dan dan bangun pukul 03.00 WIB
Setiap santri harus menitipkan uangnya pada pengurus dan tidak diperbolehkan menyimpan uang lebih dari 5000,-
Menela’ah pelajaran masing-masing dengan tenang supaya tidak mengganggu  santriwati yang lainLarangan Santri (Perempuan)

LARANGAN-LARANGAN SETIAP SANTRIWATI
Menonton Bioskop atau pertunjukan yang lain
Membawa radio tape (barang-barang elektronik yang lain), majalah, foto, atau gambar yang tidak wajar
Membawa senjata tajam atau sejenisnya
Mengadakan olah raga di luar waktu yang telah ditentukan (hari jum’at)
Duduk di warung makan atau minum
Memasuki kamar tidur orang lain
Keluar dari pondok tanpa seizin mudir atau pengurus
Membuka aurat di dalam dan di luar pondok
Berbicara tidak wajar (jorok dan tidak sopen)
Memakai barang orang lain tanpa seizin pemiliknya
Mencuri barang santriwati lain
Berkelahi atau mengganggu ketenangan santriwati lain
Memakai pakaian yang tidak layak bagi santri
Berbicara dengan selain mahromnya di dalam atau di luar pesantren
Catatan Lain Bagi Santriwati
Syahriyyah bagi santriwati yang pulang (karena sakit dsb) selama tidak menyatakan berhenti dibayar seperti biasa
Santriwati yang diberhentikan/ berhenti dan masih memiliki tanggungan hutang diwajibkan untuk melunasinya
Syahriyyah santriwati yang pulang pada saat liburan Ramadlan tetap dibayar seperti biasa
bagi santriwati yang berada dipondok/ pulang:
jika kembali diatas tiga bulan maka dianggap mengundurkan diri/ berhenti dan wajib mendaftar kembali dengan membayar uang pangkal sebagaimana mestinya kecuali sebelumnya mendapatkan surat izin dari pengurus
jika dibawah tiga bulan maka santriwati tersebut harus melunasi seluruh tunggakan/ hutang
Bagi santriwati yang menetap (mengikuti pelajaran) di bulan Ramadlan tidak ditarik biaya tambahan
Apabila santriwati baru telah mendaftarkan kemudian mengundurkan diri dan telah menginap 1-5 hari maka uang pangkal dikembalikan sebesar Rp. 200.000,- , menginap 6-10 hari maka uang pangkal dikembalikan sebesar Rp. 150.000,- , jika telah menginap 11-15 hari maka uang pangkal dikembalikan sebesar Rp. 100.000,- dan jika telah menginap 15 hri keatas maka uang pangkal tidak dikembalikan dan dijadikan shodaqoh jariyah bapak untuk pesantren.   
 
Sanksi Apabila Melanggar Aturan
Dita’zir dengan hukum yang sesuai, yaitu: dipukul ,digundul (khusus laki-laki), mencabut rumput dll
Diskors dengan jangka waktu yang telah ditentukan mudir ma’had
Dikeluarkan tanpa hormat

Jadwal Libur
Ramadlan selama 55 hari
Idul Adlha selama 5 hari
Maulid selama 10 hari
Waktu Belajar
Belajar di kelas: pukul 08.00 s/d 11.30 WIB
Rauhah:
Shabahiyah: pukul 05.00 s/d 05.45 WI
Masaiyyah: pukul 17.00 s/d 17.45 WIB
Lailiyyah: pukul 19.30 s/d 20.15 WIB
Musyawarah antar santriwati pukul 20.45 s/d 21.45 WIB
Muhadlarah (latihan pidato) kamis sore pukul 16.45 s/d 17.45 WIB

Waktu Ujian
Semester ganjil pada awal bulan rabi’ul awal
Semester genap pada awal bulan Sya’ban
 
* Untuk santri/santriwati yang absen dalam ujian tanpa ada halangan/sebab yang jelas, maka akan dinyatakan gugur oleh mudir ma'had. Apabila tidak, maka akan disediakan ujian susulan pada waktu yang akan ditetapkan lebih lanjut.


Biaya Pendaftaran
Melunasi uang pemasukan sebesar Rp. 11.000.000 dengan perincian sebagai berikut:
 
 No.    Keterangan    Harga
1.    Uang Pembangunan    Rp 4.000.000
2.    Uang Kasur    Rp 1.000.000
3.    Uang Bantal, Selimut, Seprei    Rp    200.000
4.    Uang Lemari    Rp 3.000.000
5.    Uang Ranjang    Rp 1.800.000
6.    Uang Syahriyah Bulanan    Rp    700.000
7.    Uang Kesehatan dan BP3    Rp    100.000
8.    Uang Buku Pelajaran    Rp    200.000
 
Kurang dan lebihanya dari pembayaran syahriyyah dijadikan shadaqoh jariyah untuk pondok pesantren
Ditetapkan di Sukabumi, agustus 2015 oleh pimpinan Pondok Pesantren DARUL HABIB

Jln. Raya Parungkuda, Gg. Ojek Ciambar, Kp. Cipamutih, RT 004, RW 012, PO BOX 26 Parungkuda, 43356, Kab. Sukabumi,Jawa Barat, Indonesia

Telp : (0266) 654-1888
HP / WA : 0877-112-57-112
Mandiri (Cabang Cicurug) 1320014754312
a/n YAYASAN PONDOK PASANTREN DARUL HABIB SUKABUMI
BCA (Cabang Cibadak) 3520318754
a/n NOPEL ABDULLAH ALKAFF

info@daarulhabib.net
www.daarulhabib.net

Generasi muda harus dibekali ilmu dengan benar, karena begitu banyak tantangan dan godaan zaman sekarang.

Pemandangan yang begitu mempesona terhampar ketika kita memasuki kawasan pesantren Darul Habib, yang terletak di Ciambar, Parung Kuda, Sukabumi. Penataan bangunan dan tanaman serta tanah-tanah yang berbukit-bukit tampak begitu asri dan segar. Kesan pertama yang muncul, pesantren itu tak ubahnya taman yang indah dan menyenangkan.

“Padahal dulunya daerah ini adalah daerah terpencil yang jarang dijamah orang,” tutur Habib Naufal bin Abdullah bin Ahmad Al-Kaff, pemimpin Pesantren Darul Habib. Pria ramah dengan suara lembut ini memulai membangun pesantren pada tahun 1998.

Dia menceritakan, ketika mengadakan pengajian di daerah Bogor ada seorang jama’ah yang ingin mewakafkan tanahnya untuk bisa dimanfaatkan di jalan Allah. “Beliau itu Haji Ujang. Tanah di sini ini beliau wakafkan. Ketika saya melihat, langsung jatuh hati. Sekarang kita sudah menambah sampai dua hektare, dan insya Allah di seberang jalan ada pula tiga hektare untuk rencana pondok putri. Doakan ya?” ujar Habib Naufal, santun.

Tak Perlu Ijazah

Habib Naufal bin Abdullah bin Ahmad Al-Kaff adalah cucu seorang ulama besar Palembang, Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff, yang haulnya diadakan secara besar-besaran pada akhir Jumadil Akhir di Palembang.

Ia, yang lahir di Palembang pada 27 Maret 1964, mendapat pendidikan pertama dari keluarganya dalam dasar-dasar ilmu agama. Ayahnya, Habib Abdullah, adalah seorang pendakwah yang gigih di Kota Empek-empek itu.

Habib Naufal, yang namanya juga sering ditulis “Habib Nopel”, dimasukkan oleh orangtuanya ke Pesantren Ar-Riyadh ketika memasuki usia sekolah dasar. “Di Pesantren Ar-Riyadh saya mendapat didikan dari dai besar dan pendakwah tangguh, Ustadz Ahmad bin Abdullah Al-Habsyi. Beliau alumnus Pesantren Darul Hadits, Malang,” ujarnya.

Salah satu kelebihan Pesantren Ar-Riyadh menurutnya adalah kemampuan berbahasa Arab yang amat ditekankan kepada santrinya. Hal itu juga dijadikannya prioritas di Pesantren Darul Habib yang diasuhnya sekarang. “Semua komunikasi di Pesantren Darul Habib harus berbahasa Arab, kalau ada yang melanggar akan dihukum,” ujarnya tegas.

Pada umur lima belas tahun, dia mendapat beasiswa untuk meneruskan pelajaran ke Makkah di pesantren Habib Muhammad Alwi Al-Maliki.

Dengan penguasaan bahasa Arab yang fasih dia tidak canggung sampai di Makkah, walau menurutnya perlu juga adaptasi karena masalah dialek.

Yang amat berkesan bagi dia adalah ketika pertama kali berjumpa dengan Habib Muhammad Alwi Al-Maliki, yang juga sering dipanggil “Buya”. “Waktu itu santri yang paling muda saya, dan Habib Muhammad Alwi Al-Maliki sempat marah kepada yang mengirim, kenapa yang dikirim anak kecil. Tapi setelah itu dia sangat sayang kepada saya. Saya ditempatkan di kamar istirahatnya, saya jadi khadamnya, jadi waktu itu saya tidak punya kamar,” ujar Habib Naufal mengenang.

Menurut Habib Naufal, sistem belajar di sana adalah sistem belajar salafiyah, seperti yang juga diterapkannya kepada santri Darul Habib saat ini. “Para pengajar yang membantu Habib Muhammad datang dari berbagai negara. Ada yang dari Mesir, Yaman, Palestina, dan lainnya. Hambatan yang saya alami waktu itu adalah soal cuaca, terutama saat bulan Ramadhan, wah panasnya luar biasa, sampai 50 derjat,” ujar ayah sepuluh anak ini.

Tingkatan belajar di sana hampir sama dengan di Indonesia. Ada ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah. Evaluasi dan ujian juga ada, tapi tidak resmi dan tidak tercatat. “Buya juga mengeluarkan ijazah tapi hanya berlaku untuk kalangan internal.”

Menurut Habib Muhammad, ijazah atau syahadah tidak perlu, karena sudah cukup syahadah dari Allah SWT. Teman-teman angkatan pertama saja yang mendapat syahadah, setelah itu tidak ada lagi.

“Alhamdulillah yang telah selesai belajar dari sana berhasil berdakwah, mereka menyebar ke seantero penjuru. Ada yang membuka pesantren, ada yang mendirikan majelis ta’lim, ada yang jadi pengajar,” kata Habib Naufal.

Tarbiyatul Akhlaq

Hal yang paling utama didapatkannya di pesantren Buya Muhammad Alwi Al-Maliki adalah tarbiyatul akhlaq, pendidikan akhlaq. “Jiwa kita dididik di sana, sopan santun, rendah hati, merasa diri hina di hadapan Allah SWT dan sesama. Tidak boleh sombong, arogan. Kalau ilmu bisa di mana saja kita tuntut, tapi tidak semua tempat mendidik akhlaq. Nah, saya juga menerapkan hal itu di Pesantren Darul Habib saat ini,” tutur Habib Naufal meyakinkan.

Menurutnya, akhlaq tidak cukup dinasihatkan, tapi harus dengan teladan. Dan Habib Naufal melihat sendiri teladan itu selama sembilan tahun pada diri Buya Muhammad. “Beliau bekerja keras mencontohkannya, beliau sendiri yang bangun tiap malam membangunkan santri untuk shalat malam. Apa pun yang beliau lakukan tidak terlepas dari teladan yang juga beliau contoh dari Rasulullah SAW. Di Pesantren Darul Habib ini, hal itu juga kita terapkan. Santri dengan alasan apa pun tidak boleh keluar kawasan pesantren kecuali yang darurat. Mereka hanya pulang pada saat bulan Ramadhan, dan 10 hari setelahnya setelah itu mereka kembali ke pondok. Kita tidak menerima santri luar atau yang tidak bermukim.

Mereka tidak boleh memiliki HP, shalat jama’ah harus terjaga, shalat malam terus dilakukan,” kata Habib Naufal.

Menurutnya, keberhasilan santri itu ditopang oleh tiga faktor. Yaitu, santri harus rajin, gurunya juga harus rajin, orangtua pun harus rajin. Orangtua juga harus mengontrol anaknya ketika mereka libur di rumah. Semuanya harus bersinergi, akan gagal kalau salah satu pincang.

“Yang diharapkan dari wali murid adalah kontrol dan filter. Perlu memang melihat dunia luar, tapi harus selektif.

Di pondok ini kita buka tayangan khusus dua kali sepekan berisi cerita tarikh, kita bisa belajar sejarahnya, juga bahasa Arab-nya.

Kita bekerja keras membina, menanamkan hal-hal yang utama, kita siapkan bekal sebaik-baiknya, mudah-mudahan mereka mendapat hidayah dan taufik ke depan,” ujar Habib Naufal.

“Setelah dari sini mereka bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang mereka suka. Ada beberapa santri yang telah diterima di Yaman, di Al-Ahkaff, juga di Makkah, tahun ini ada lima orang yang ke Rubath, Tarim, dan juga ke Turki.”

Sedangkan dengan perguruan tinggi yang didirikan oleh Habib Umar Bin Hafidz, yaitu Jami’ah, salah satu saratnya adalah harus hafal Al-Qur’an dan kitab Riyadhus Shalihin, anak-anak belum siap. Ada yang hafal Al-Qur’an tapi Riyadhus Shalihin belum siap.

Menurutnya, walau di Pesantren Darul Habib tidak diharuskan hafal Al-Qur’an, alhamdulillah sudah ada lima puluh santri yang sudah hafal Al-Qur’an saat ini dari 300 santri. “Dan setiap tahun bertambah. Ada yang hafal 25 juz, 20 juz, tidak kita paksakan,” ujarnya.

Allah Selalu Memberi Rizqi
Setelah menuntut ilmu di Makkah dari tahun 1979, pada tahun 1986 Habib Naufal pulang ke tanah air.
Banyak hal yang dia dapatkan selama tujuh tahun bermukim di Tanah Suci. Menurutnya, jiwanya sudah terdidik bagaimana menghadapi masyarakat, bagaimana menghadapi tantangan.

“Di Tanah Suci Makkah, perlawanan, konfrontasi, terasa sekali terhadap Ahlusunnah wal Jama’ah. Buya orang yang terdepan gigih melawan Wahabi, sampai beliau diuber-uber. Bahkan kita diikuti terus oleh seseorang.

Suatu saat ketika Buya menghadiri Maulid, karena dikuntit terus, orang itu diajak untuk ikut Maulid. Dia jadi malu sendiri.

Memang ada perjanjian untuk tidak boleh mengadakan Maulid, tapi masyarakat di sana suka memperingati Maulid. Wahabi menganggap bahwa mengadakan Maulid itu syirik.

Buya menentang ketika belum ada ulama yang mau terang-terangan menentang,” cerita Habib Naufal.
Setelah pulang dari Makkah, Habib Naufal mengajar di almamaternya, Ar-Riyadh, juga mengajar di Madrasah Darul Muttaqin, Palembang.

Ia juga membuka Madrasah Haramain, jembatan bagi anak-anak untuk masuk pesantren. Belajarnya malam hari. Siang hari mereka belajar di SD. “Alhamdulillah, alumnusnya sudah ada yang pulang dari Hadhramaut,” ujar Habib Naufal berbinar.

Beberapa lama mengajar di Palembang, ia lalu diajak mengajar ke Bekasi oleh Habib Naquib B.S.A. dan Habib Ahmad Fad’aq.

Sebelum menjatuhkan pilihannya itu ia melakukan shalat Istikharah, karena di Palembang ia juga sudah punya tanah dua hektare untuk melanjutkan pembangunan pesantren, tapi dia merasa belum sreg. Setelah shalat Istikharah, dia mendapat jawaban, bermimpi pindah ke Madinah, artinya harus hijrah.
“Saya sowan ke Ustadz Umar bin Ahmad Bin Syech, seorang ulama dan wali di Palembang, beliau menganjurkan shafar, melakukan perjalanan. Maka, bismillah, saya pun berangkat.”

Setelah lima tahun mengajar di Bekasi, kepadanya diwakafkan tanah di Ciambar, Parung Kuda, Sukabumi. “Untuk membangun satu bangunan saja waktu itu butuh waktu dua tahun, sebata demi sebata. Lalu tahun 2000 saya pindah ke sini, dan mulai membuka Pesantren Darul Habib,” ujarnya mengenang.

“Sekarang saya fokus di pesantren, karena mengurus mereka ini perlu konsentrasi penuh, perlu kesabaran yang luar biasa, apalagi santri berasal dari seluruh Indonesia dengan latar budaya yang berbeda-beda. Kalau saya berdakwah juga di luar, anak-anak nanti bisa kacau. Sekali atau dua kali sebulan saya pergi ke Jakarta bertemu dengan habaib dan alim ulama, agar ada penyegaran terus.”

Ketika ditanya soal dana untuk menghidupi santri yang berjumlah 300 dan juga guru dan karyawan yang semuanya dalam satu kompleks, Habib Naufal tersenyum dan mengatakan bahwa kalau dihitung secara akal tidak akan bisa, tapi dia merasa bahwa Allah selalu memberi rizqi. “Kalau hanya diharapkan dari bayaran santri, tidak sampai. Bahkan ada juga yang gratis, anak yatim dan dhuafa’. Tapi kami yakin dengan janji Allah,” ujarnya mantap.

Kehilangan Ghirah
Persoalan yang dihadapi oleh umat, menurutnya, banyak yang punya ilmu tapi akhlaqnya masih bermasalah. Makanya pesantren sekarang jadi pilihan, karena persoalan akhlaq itu.

Menurut Habib Naufal, di akhir zaman fitnah dan tantangan itu akan banyak. “Itu sudah lama diisyaratkan, makanya kita perlu membekali anak-anak dengan ilmu yang benar, ilmu yang jelas silsilahnya, mata rantai yang benar, sekarang banyak penyusupan melalui ajaran agama. Juga melalui kitab, makanya dalam hal kitab, kita juga harus bertanya kepada mereka yang berkompeten dalam masalah itu,” ujarnya.
Ia mengingatkan, tantangan dakwah adalah sunatullah. “Justru tantangan itu adalah alamat keberhasilan dakwah. Tidak ada yang mulus. Ingat sejarah dakwah Rasulullah, yang begitu dahsyat. Kalau dakwah dulu, mereka berkorban sendiri, dengan harta benda sendiri. Kalau sekarang, banyak kemudahan, bahkan berdakwah dapat uang, tapi semoga itu tidak merusak keikhlasan para pendakwah.”

Ia melanjutkan, “Tantangan dakwah memang berat, tapi memang harus begitu, karena pahala yang dijanjikan juga besar. Bukankah Rasulullah SAW telah memberi contoh dan tidak ada tantangan yang lebih hebat dibanding yang dialami Rasulullah SAW?

Saya tekankan kepada santri-santri saya agar dalam berdakwah tidak memikirkan uang, karena banyak dai yang rusak karena uang. Giat dan terus belajar serta mengajar dengan ikhlas, karena rizqi itu Allah SWT yang menjamin. Dakwah harus karena Allah, nanti pasti Allah akan mengasih.”

Habib Naufal mengingatkan, “Kita harus berhati-hati. Generasi muda harus dibekali ilmu dengan benar, karena begitu banyak tantangan dan godaan zaman sekarang. Umat Islam sudah kehilangan ghirahnya. Akibatnya fitnah mudah menerpa umat.”

Di akhir perbincangan, Habib Naufal minta didoakan agar bisa membeli tanah yang akan digarap menjadi sawah untuk memenuhi kebutuhan logistik santri, yang semakin lama semakin banyak. Insya Allah

http://www.daarulhabib.net
http://daarulhabib.blogspot.com/2012/04/profil-daarulhabib.html
https://ceramahmotivasi.com/pendidikan/pondok-pesantren-darul-habib-sukabumi/

« Last Edit: 10 Feb, 2019, 07:49:48 by Admin »