Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hujroh  The Ghurfah 
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN VITAMIN C DAN E PADA KADAR SGOT DAN SGPT SERUM DARAH TIKUS
Pages: [1]

(Read 26 times)   

liaapri

  • Proletar
  • *
  • liaapri No Reputation.
  • Join: 2020
  • Posts: 168
  • Logged

5.   Hubungan antara allethrin, SGOT & SGPT, vitamin C dan vitamin E
Allethrin merupakan salah satu golongan pyrethroid sintesis. Pyrethroid mengalami metabolisme dengan dihidrolisis dan melibatkan sitokrom P-450 pada hati (WHO 2005). Pyrethroid menyebabkan penghambatan enzim mikrosom sel hati melalui persaingan ditempat pengikatan sitokrom P-450. Adanya penghambatan enzim mikrosom pada sel hati, dapat merusak salah satu jalan detoksifikasi, sehingga berpotensi menghasilkan efek toksik. Menurut Miyamoto (1976) pyrethroid I atau allethrin terdiri dari metabolit minor dan metabolit mayor. Metabolit minor yaitu
 

chrysanthemumic acid dan allethrolone, sedangkan metabolit mayor adalah yang dioksidasi pada kelompok metil pada acid moety atau pada kelompok allyl pada allethrolone alcohol. Metabolit allethrin potensial toksik dan bersifat radikal bebas. Adanya akumulasi metabolit – metabolit dalam tubuh akan menyebabkan oxidative stress. Oxidative stress adalah kondisi gangguan keseimbangan antara produksi radikal bebas dan antioksidan yang berpotensi menimbulkan kerusakan. Produksi radikal bebas yang tidak seimbang, akan menyebabkan kerusakan makromolekul termasuk protein, lipid dan DNA (Atessahin et al. 2005). Perusakan sel oleh radikal bebas reaktif didahului oleh kerusakan membran sel antara lain mengubah fluiditas, struktur dan fungsi membran sel. Adanya ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas (senyawa oksigen reaktif) dengan kemampuan pertukaran antioksidan akan menimbulkan oxidative stress, yang dapat menimbulkan kerusakan sel termasuk sel hati sehingga terjadi peningkatan kadar SGOT dan SGPT (Jawi et al. 2007). Peningkatan kadar SGOT dan SGPT akan terjadi jika adanya pelepasan enzim secara intraseluler kedalam darah yang disebabkan nekrosis sel-sel hati atau adanya kerusakan hati secara akut (Wibowo et al. 2008 ).
Vitamin E merupakan antioksidan pemutus rantai reaksi dan antioksidan preventif. Antioksidan preventif menghambat tahap inisiasi pembentukan, sedangkan antioksidan pemutus rantai reaksi dapat bereaksi dengan rantai peroksil dan radikal alkoksil, sehingga akan menginbibisi pembentukan, isomerasi, dan dekomposisi hidroperoksida. Vitamin C merupakan antioksidan kuat yang mampu berperan sebagai scavenger radikal bebas dan dapat bereaksi dengan anion superoksida, radikal hidroksil dan peroksida lipid. Vitamin C mampu menghambat pembentukan radikal superoksida, radikal hidroksil, radikal peroksil, oksigen singlet dan hidrogen peroksida. Senyawa antioksidan akan menyerahkan satu atau lebih elektronnya kepada radikal bebas sehingga dapat menghentikan kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas (Praptiwi 2006). Apabila tidak terjadi kerusakan sel, maka kadar SGOT dan SGPT dalam darah kembali normal. Untuk memperjelas mekanisme tersebut, dapat dilihat pada Gambar 7.