Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hujroh  The Ghurfah 
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN VITAMIN C DAN E PADA KADAR SGOT DAN SGPT SERUM DARAH TIKUS
Pages: [1]

(Read 19 times)   

liaapri

  • Proletar
  • *
  • liaapri No Reputation.
  • Join: 2020
  • Posts: 168
  • Logged

B.   Pembahasan
Dalam penelitian ini digunakan tikus jantan, berumur 2-2,5 bulan, memiliki berat 150 – 200 gram, dan pemilihannya dilakukan secara acak, sehingga dapat diasumsikan bahwa sampel mempunyai kondisi yang sama pada awal percobaan. Hasil ANAVA satu arah menunjukkan bahwa pemberian antioksidan vitamin C dan E berpengaruh signifikan pada kadar SGOT (p<0,05) dan SGPT (p<0,05) tikus putih.
Dari hasil uji BNT diketahui bahwa kelompok I ( kelompok kontrol negatif yang dipapar allethrin dalam anti nyamuk elektrik ) berbeda nyata dengan kelompok II ( kelompok yang diberi antioksidan vitamin C 1,8 mg ), kelompok III (kelompok yang diberi antioksidan vitamin E 1,44 mg ) dan kelompok IV (kombinasi vitamin C 1,8 mg dan E 1,44 mg ), dimana kadar SGOT dan SGPT lebih tinggi. Hal ini berarti allethrin ( pyrethroid sintesis ) dalam anti nyamuk elektrik mengakibatkan kerusakan pada sel hati.
Allethrin ( pyrethroid sintesis ) masuk ke dalam tubuh secara inhalasi, kemudian di dalam paru-paru akan diikat oleh membran alveolus. Adanya pertukaran gas dalam paru-paru, allethrin akan diikat darah dan diedarkan ke seluruh sel tubuh terutama di hati. Menurut Tomei et al. (1998) pyrethroid menyebabkan penghambatan enzim mikrosom sel hati, sehingga dapat merusak salah satu jalan detoksifikasi dasar tubuh dan berpotensi toksik. Menurut Miyamoto (1976) pyrethroid I atau allethrin terdiri dari metabolit minor dan metabolit mayor.
 

Metabolit minor yaitu chrysanthemumic acid dan allethrolone, sedangkan metabolit mayor adalah yang dioksidasi pada kelompok metil pada acid moety atau pada kelompok allyl pada allethrolone alcohol. Metabolit allethrin potensial toksik dan bersifat radikal bebas. Menurut Dalimartha & Soedibyo (1998) diacu dalam Praptiwi (2006) radikal bebas terbentuk di dalam tubuh akibat produk sampingan proses metabolisme ataupun karena tubuh terpapar radikal bebas melalui pernapasan. Adanya akumulasi metabolit – metabolit yang bersifat radikal bebas dalam tubuh akan menyebabkan oxidative stress. Radikal bebas dalam jumlah berlebih di dalam tubuh sangat berbahaya karena menyebabkan kerusakan sel, asam nukleat, protein dan jaringan lemak. Perusakan sel oleh radikal bebas reaktif didahului oleh kerusakan membran sel antara lain mengubah fluiditas, struktur dan fungsi membran sel. Menurut Atessahin et al. (2005) produksi radikal bebas yang tidak seimbang, akan menyebabkan kerusakan makromolekul termasuk protein, lipid dan DNA. Hal ini sesuai dengan pendapat Jawi et al. (2007) adanya ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas (senyawa oksigen reaktif) dengan kemampuan pertukaran antioksidan yang akan menimbulkan oxidative stress, yang dapat menimbulkan kerusakan sel termasuk sel hati. Apabila terjadi kerusakan sel hati, enzim aminotransferase yaitu SGOT (Serum Glutamic Oxaloasetic Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam darah akan meningkat. Menurut Wibowo et al. (2008) peningkatan kadar SGOT dan SGPT akan terjadi jika adanya pelepasan enzim secara intraseluler kedalam darah yang disebabkan nekrosis sel-sel hati atau adanya kerusakan hati secara akut. Menurut (Lu 1995) bila terjadi kerusakan hati, enzim transaminase dilepaskan ke dalam darah dari sitosol dan organel subsel seperti mitokondria, lisosom dan nukleus.
Hasil uji BNT terlihat bahwa kelompok II berbeda nyata dengan kelompok I, dimana kadar SGOT dan SGPT cenderung berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa vitamin C mampu melindungi hepatosit dari radikal bebas dan mampu menetralisir efek yang ditimbulkan allethrin dalam anti nyamuk elektrik. Menurut Suhartono et al. (2007) vitamin C mampu berperan sebagai scavenger radikal bebas dan dapat bereaksi dengan anion superoksida, radikal hidroksil dan peroksida lipid. Vitamin C mampu menghambat pembentukan radikal superoksida, radikal hidroksil, radikal peroksil, oksigen singlet dan hidrogen peroksida. Adanya pemberian vitamin C, radikal bebas akibat allethrin dapat dinetralisir dan tak reaktif. Menurut Fessenden & Fessenden (1982) fenol-fenol, senyawa dengan suatu gugus – OH yang terikat pada
 

karbon cincin aromatik merupakan antioksidan yang efektif, produk radikal bebas akan terstabilkan dan tak reaktif. Vitamin C menyumbangkan atom hidrogen dari gugus - OH ke dalam radikal bebas, sehingga radikal bebas akan stabil dan tak reaktif. Menurut Praptiwi (2006) senyawa antioksidan akan menyerahkan satu atau lebih elektronnya kepada radikal bebas sehingga dapat menghentikan kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Hal inilah yang menyebabkan kadar SGOT dan SGPT cenderung berkurang dibanding kelompok I.
Kelompok III berbeda nyata dengan kelompok I, dimana kadar SGOT dan SGPT cenderung berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa vitamin E mampu berperan sebagai antioksidan dalam melindungi hepatosit dari radikal bebas dan menetralisir efek yang ditimbulkan allethrin dalam anti nyamuk elektrik. Vitamin E berperan sebagai antioksidan pemutus rantai reaksi dan antioksidan preventif. Vitamin E berperan sebagai antioksidan preventif dengan menghambat tahap inisiasi pembentukan, sedangkan antioksidan pemutus rantai reaksi dapat bereaksi dengan rantai peroksil dan radikal alkoksil, sehingga akan menginbibisi pembentukan, isomerasi, dan dekomposisi hidroperoksida. Adanya pemberian vitamin E, maka radikal bebas akibat allethrin akan distabilkan dan tak reaktif. Menurut Praptiwi (2006) senyawa antioksidan akan menyerahkan satu atau lebih elektronnya kepada radikal bebas sehingga dapat menghentikan kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Vitamin E akan menyerahkan atom H dari gugus - OH ke dalam radikal bebas, sehingga radikal bebas akan stabil dan tak reaktif. Menurut Fessenden & Fessenden (1982) fenol-fenol, senyawa dengan suatu gugus – OH yang terikat pada karbon cincin aromatik merupakan antioksidan yang efektif, produk radikal bebas akan terstabilkan dan tak reaktif. Hal inilah yang menyebabkan kadar SGOT dan SGPT cenderung berkurang dibanding kelompok I.
Kelompok III tidak berbeda nyata dengan kelompok IV. Bila dilihat kadar SGOT dan SGPT nya kelompok III lebih tinggi dibandingkan kelompok IV. Menurut Smith ( 1988 ) kadar normal SGOT tikus adalah 45,7 - 80,8 IU/L dan kadar normal SGPT tikus adalah 17,5 - 30,2 IU/L. Sehingga kadar SGOT pada kelompok III masih dalam batas normal, meskipun kadar SGPT pada kelompok III belum normal. Menurut Sadikin ( 2002 ) umumnya pada kerusakan hati yang menonjol ialah kenaikan aktivitas SGPT. Dengan demikian sel hati pada kelompok III masih mengalami kerusakan.
 

Kelompok IV berbeda nyata dengan kelompok I, II, III, dimana kadar SGOT dan SGPT cenderung berkurang. Hal ini menunjukkan vitamin C dan E bekerja optimal dalam menetralisir efek yang ditimbulkan allethrin dalam anti nyamuk elektrik. Adanya pemberian vitamin C dan E, radikal bebas (senyawa oksigen  reaktif) akibat allethrin dapat dinetralisir dan tak reaktif. Radikal bebas menjadi stabil, sehingga tidak mengakibatkan kerusakan hepatosit. Menurut Fessenden & Fessenden (1982) fenol-fenol, senyawa dengan suatu gugus – OH yang terikat pada karbon cincin aromatik merupakan antioksidan yang efektif, produk radikal bebas akan terstabilkan dan tak reaktif. Vitamin E merupakan antioksidan pemutus rantai reaksi dan antioksidan preventif. Fenol atau gugus – OH yang terikat pada karbon cincin aromatik vitamin E dimungkinkan merupakan antioksidan yang efektif. Vitamin E menyumbangkan atom hidrogen dari gugus - OH ke dalam reaksi radikal bebas. Sehingga produk radikal bebas akan terstabilkan dan tak reaktif.
Vitamin C merupakan antioksidan dan pengikat radikal bebas yang kuat dan mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh superoksida, peroksida, radikal hidroksil dan molekul oksigen singlet. Menurut Goodman (1994) vitamin C termasuk antioksidan perusak ikatan yang mengikat radikal untuk menghentikan terbentuknya radikal bebas dan reaksi propagasi berantai. Sama halnya vitamin E, fenol atau gugus
– OH pada vitamin C merupakan antioksidan yang efektif . Dengan demikian maka vitamin C dan E berperan dalam menghambat reaksi oksidasi yang berlebihan dalam tubuh dengan cara bertindak sebagai antioksidan.
SIMPULAN DAN SARAN

A.   Simpulan
Dari hasil penelitian tentang aktivitas antioksidan vitamin C dan E pada kadar SGOT dan SGPT serum darah tikus putih (Rattus norvegicus) yang terpapar allethrin dapat ditarik simpulan bahwa :
Pemberian antioksidan vitamin C dan E dapat menormalkan kadar SGOT dan SGPT serum darah tikus putih yang terpapar allethrin.
B.   Saran
Perlu dikaji secara lebih mendalam mengenai penggunaan dosis vitamin C dan E yang efektif pada penelitian lanjutan.
« Last Edit: 03 Feb, 2020, 15:16:59 by liaapri »