Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hujroh  The Ghurfah 
Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Kecepatan Regenerasi non-alami Cacing Planar
Pages: [1]

(Read 30 times)   

liaapri

  • Proletar
  • *
  • liaapri No Reputation.
  • Join: 2020
  • Posts: 168
  • Logged

B.   Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka permasalahan yang akan dikaji dalam skripsi ini yaitu adakah pengaruh intensitas cahaya terhadap kecepatan regenerasi non-alami cacing planaria.
C.   Tujuan
 
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari intensitas cahaya terhadap kecepatan regenerasi non-alami cacing planaria.



D.   Manfaat

Manfaat penelitian ini adalah sebagai pengetahuan baru tentang pengaruh intensitas cahaya terhadap kecepatan regenerasi non-alami cacing planaria. Hal ini bisa dijadikan dasar untuk mempelajari dan mengetahui agihan cacing planaria di habitatnya.
 




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.   Tinjauan Pustaka

Sistematika cacing planaria menurut Barnes (1987) adalah sebagai berikut: Kingdom   : Animalia
Phylum   : Platyhelminthes

Class   : Turbellaria

Ordo   : Tricladida

Famili   : Paludicola

Genus   : Euplanaria

Spesies   : Euplanaria sp

1.   Biologi Cacing Planaria

Cacing planaria biasa disebut dengan istilah Euplanaria atau Dugesia, hidup bebas di perairan air tawar yang jernih, lebih suka pada air yang tidak mengalir (Jasin, 1984). Cacing planaria merupakan cacing pipih yang hidup bebas, tidak bersifat parasit. Epidermis bersilia dan terdapat banyak kelenjar lendir, tidak memiliki alat perekat atau alat penghisap. Mulutnya terdapat di bagian perut (Suhardi, 1981).
Tubuh cacing planaria bersifat fleksibel dapat memanjang,  memendek atau membelok dalam tiap arah. Kepala kira-kira berbentuk segi tiga, mempunyai
 
dua titik mata dan tiga benjolan yang disebut auriculata. Porus genitalis terletak di sebelah caudal (Radiopoetro, 1990).
Menurut Kastawi (2001) cacing planaria merupakan hewan karnivora. Makanannya berupa hewan-hewan kecil (cacing, crustasea, siput dan potongan- potongan hewan mati). Cacing planaria dapat hidup tanpa makanan dalam waktu yang panjang, dengan cara melarutkan organ reproduksi, parenkim dan ototnya sendiri, sehingga tubuh cacing menyusut. Tubuh yang menyusut akan mengalami regenerasi jika cacing makan kembali.
Cacing planaria memiliki panjang tubuh kira-kira 5 – 25 mm. Morfologi cacing planaria dapat dilihat pada Gambar I berikut ini









Gambar I. Morfologi cacing planaria (Borradaile, 1965 dalam Radiopoetro, 1990).

Keterangan: A   = anterior   1. Titik mata
P   = posterior   2. Auriculata
D   = dorsal   3. Lubang mulut
V   = ventral   4. Pharynx
C   = caput   5. Porus genetalis

Ciri khas pada cacing planaria menurut Kastawi dkk (2001) adalah adanya kelenjar-kelenjar adesiv yang terletak di bagian ventral merupakan kelenjar- kelenjar yang berhubungan dengan serabut-serabut otot. Sekresi dari kelenjar ini membantu hewan untuk berpegangan pada substrat pada waktu berjalan dan
 
menangkap mangsa. Cacing planaria mudah diperoleh dengan cara memasukkan sekerat hati yang masih segar ke dalam air sungai atau genangan air selama beberapa jam. Jika di dalam air tersebut ada cacing planaria, maka bila hati itu diambil akan terbawa juga cacing planaria melekat pada hati itu (Radiopoetro, 1990). Menurut penelitian yang sudah ada sebelumnya cacing planaria dapat hidup di daerah sungai Semirang karena memiliki ketinggian sekitar 750 m diatas laut, suhu berkisar antara 210 – 240 C, dengan arus yang tidak begitu deras dan substrat sungai berupa batu-batuan (Khasanah, 1999). Hal ini bisa dipahami bahwa pada tempat lain yang memiliki habitat yang serupa maka cacing planaria juga bisa hidup disana.