Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hujroh  The Ghurfah 
IDENTIFIKASI JENIS-JENIS IKAN TELEOSTEI YANG TERTANGKAP NELAYAN DI WILAYAH PERAI
Pages: [1]

(Read 19 times)   

liaapri

  • Proletar
  • *
  • liaapri No Reputation.
  • Join: 2020
  • Posts: 168
  • Logged

C.   Kondisi Abiotik Perairan Pesisir Kota Semarang
Kepadatan ikan yang tinggi atau rendah di perairan tidak lepas dari kondisi abiotik (parameter fisika dan kimia) perairan yang mendukung pertumbuhannya. Kondisi perairan yang baik atau sesuai akan dapat mengoptimalkan pertumbuhan ikan. Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia perairan pesisir Kota Semarang ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Parameter fisika dan kimia perairan pesisir Kota Semarang
 
No.   Parameter   Muara Banjirkanal Barat   Pelabuhan   Muara Bannirkanal Timur
1.   Suhu (0C)   28   28,3   27,4
2.   pH   7,6   8   8
3.   O2 terlarut (ppm)   5,3   5,7   5
4.   CO2 terlarut (ppm)   6,3   7,3   6
5.   Kedalaman (meter)   3,6   5,6   3,4
6.   Salinitas (0/00)   16,8   30,06   13,06

Hasil pengukuran suhu di tiga tempat pengamatan masih dikatakan normal, karena umumnya kisaran suhu air adalah 250-280C (Odum, 1993). Cahyono (2000) menambahkan bahwa suhu air yang cocok untuk kehidupan ikan adalah 150-300C. Pada ketiga tempat pengamatan, suhu air berkisar antara 27,40-28,30C, maka dapat dikatakan suhu air di tiga tempat ini masih dalam batas normal, sehingga organisme ikan yang hidup di perairan pesisir Kota Semarang masih dapat mentolerir kisaran suhu dengan baik.
Menurut Asmawi (1984), derajat keasaman (pH) perairan yang baik untuk kehidupan ikan dan makanan alami adalah antara 6-8,7. pH di ketiga tempat pengamatan berkisar antara 7,6-8. hal ini menunjukkan bahwa kondisi pH di perairan pesisir Kota Semarang mendukung untuk pertumbuhan ikan secara alami.
Kandungan oksigen terlarut di tiga tempat pengamatan berkisar antara 5-5,7 ppm. Berdasarkan kisaran tersebut menunjukkan bahwa oksigen terlarut dalam keadaan normal atau layak untuk mendukung kehidupan ikan dan organisme air. Hal ini sesuai dengan pendapat Cahyono (2000) bahwa kandungna oksigen terlarut dalam air yang cocok untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan minimal 5ppm.
Karbondioksida terlarut di perairan pesisir Kota Semarang selama penelitian berkisar antara 6-7,3 ppm. Menurut Soeseno (1988), kandungan karbondioksida terlarut aman bagi kehidupan perairan apabila berada di bawah 12 ppm. Dengan demikian, kandungan karbondioksida terlarut di perairan pesisir Kota Semarang aman bagi kehidupan ikan. Jika karbondioksida berada di atas kandungannya akan mengakibatkan tekanan fisiologis bagi hewan perairan.
Kedalaman perairan di tiga tempat penelitian berkisar antara 3,4-5,6m. kedalaman tertinggi yaitu di wilayah pelabuhan 5,6m. Hal ini memungkinkan jangkauan jaring untuk menangkap ikan lebih banyak bila dibandingkan dengan dua tempat lainnya yaitu di muara Banjirkanal Barat yang hanya mencapai kedalaman 3,6m, sedangkan di muara Banjirkanal Timur hanya mencapai kedalaman 3,4m.
Salinitas di tiga tempat penelitian bervariasi yaitu 30,060/00 di wilayah pelabuhan, 16,30/00 di muara Banjirkanal Barat dan 13,060/00 di muara Banjirkanal Timur. Salinitas tertinggi adalah di wilayah pelabuhan yang merupakan air laut yang bersalinitas tinggi. Berbeda dengan di muara Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur yang memiliki salinitas lebih rendah daripada di pelabuhan. Salah satu penyebabnya adalah adanya percampuran antara percampuran antara air sungai dengan air laut. Zottoli (1983) menyatakan bahwa salinitas yang rendah dalam air laut biasanya merupakan akibat dari percampuran dengan air sungai.