Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hujroh  The Ghurfah 
STUDI TIPE MORFOLOGI KULIT POHON INANG DAN JENIS PAKU EPIFIT DALAM UPAYA MENUNJA
Pages: [1]

(Read 26 times)   

liaapri

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • liaapri No Reputation.
  • Join: 2020
  • Posts: 579
  • Logged


   Tinjauan Umum Tumbuhan Paku

Menurut Suryati (2009), tumbuhan paku termasuk kelompok tumbuhan kuno. Fosil tumbuhan paku ditemukan pada awal periode mesozoic sekitar 360 juta tahun yang lalu. Keberadaan tumbuhan paku di muka bumi lebih tua jika dibandingkan dengan hewan darat seperti Dinosaurus. Tumbuhan paku berkembang 200 juta tahun sebelum tanaman bunga berkembang. Sebagian besar tumbuhan paku tumbuh di tempat lembab di bawah kanopi hutan.
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Tubuhnya dapat dibedakan dengan jelas antara akar, batang dan daun. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembab (Indah, 2009).
 
Gambar 2.1 Bagian-bagian tumbuhan paku (Indah, 2009).

Tumbuhan paku memiliki akar serabut (gambar 2.1), dimana ujung akar dari tumbuhan paku dilindungi oleh kaliptra yang terdiri atas sel–sel yang dapat dibedakan dengan sel–sel akarnya sendiri. Tumbuhan paku memiliki batang berupa rimpang, jika rimpang tumbuhan paku tumbuh di atas permukaan tanah, rimpangnya sangat pendek sekitar 0,5 m, akan tetapi ada beberapa jenis tumbuhan paku seperti paku pohon atau paku tiang yang panjang rimpangnya mencapai 5 m dan kadang–kadang bercabang misalnya: Alsophilla dan Cyathea. Tumbuhan paku memiliki daun yang melingkar dan menggulung pada usia muda (gambar 2.1). Berdasarkan bentuk, ukuran dan susunannya, daun paku dibedakan menjadi epidermis, daging daun, dan tulang daun. Mikrofil daun tumbuhan paku berbentuk kecil-kecil seperti rambut atau sisik, tidak bertangkai dan tidak bertulang daun. Sedangkan makrofil daun tumbuhan paku berbentuk besar, bertangkai, bertulang daun, dan bercabang-cabang (Indah, 2009).
Menurut Suryati (2009), daun paku tumbuh dari percabangan tulang daun yang disebut frond, dan keseluruhan daun dalam satu tangkai daun disebut pinna. Jika diperhatikan pada permukaan bagian daun (frond) terdapat bentuk berupa titik-titik hitam yang disebut sorus, dalam sorus terdapat kumpulan sporangia
yang merupakan tempat atau wadah dari spora. Tidak semua daun paku memiliki sorus (sori), daun paku yang memiliki sorus merupakan daun fertil yang disebut daun sporofil, daun paku yang tidak memiliki sorus disebut daun steril. Daun ini banyak mengandung klorofil dan banyak dimanfaatkan untuk proses fotosintesis, daun ini disebut daun tropofil.
Reproduksi tumbuhan paku secara vegetatif dengan rhizoma dan membentuk spora, secara generatif dengan pembentukan gamet. Tumbuhan paku mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) yaitu pergiliran keturunan antara generasi sporofit (penghasil spora) dengan generasi gametofit (penghasil gamet) (Indah, 2009).
Gambar 2.2 Siklus hidup tumbuhan paku (Isharmanto, 2009)
   Tumbuhan Paku Epifit
Menurut Lugrayasa (2004), tumbuhan paku epifit hidup menempel pada tumbuhan lain dengan tidak mengambil unsur hara maupun air dari tumbuhan
yang ditumpanginya. Tumbuhan paku epifit hanya tumbuh diatas permukaan kulit pohon dan mendapatkan seluruh air dari akarnya. Kehadiran paku epifit tidak merusak pohon, kecuali epifit yang banyak sekali mungkin memberikan efek menutupi atau mematahkan cabang dengan beratnya. Beberapa epifit kecil dapat mendorong pertumbuhan jamur dekat dengan akarnya, dan jamur ini mungkin bersifat parasit bagi pohon.
Paku epifit mudah tercabut dari tanaman inangnya,  akarnya mendapatkan perlindungan dengan berbagai cara dan kerap kali tumbuh bersama dengan lumut. Akar biasanya membentuk tatakan yang berguna untuk mengumpulkan humus. Air diserap selama hujan dan dari embun setiap malam. Sebagian dari tumbuhan paku epifit, seperti paku sarang burung (Asplenium nidus), mempunyai cara khusus mengumpulkan humus, tetapi semuanya selalu menghadapi kemungkinan suplai air yang sangat terbatas pada suatu waktu. Suplai makanan epifit juga terbatas, kecuali untuk paku epifit yang mempunyai kelebihan khusus dalam mengumpulkan humus. Banyak makanan (seperti garam mineral dan senyawa nitrogen) dibutuhkan oleh tumbuhan paku dalam jumlah yang sangat kecil sekali, diperoleh dari pembusukan kulit, guguran daun, debu dan serasah yang oleh hujan jatuh dari atas pohon. Masalah paling utama yang dihadapi tumbuhan paku epifit adalah suplai air, dan untuk mengatasi masalah ini mereka mengembangkan cara-cara adaptasi yang khas (Lugrayasa, 2004).