Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hujroh  The Ghurfah 
STUDI TIPE MORFOLOGI KULIT POHON INANG DAN JENIS PAKU EPIFIT DALAM UPAYA MENUNJA
Pages: [1]

(Read 30 times)   

liaapri

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • liaapri No Reputation.
  • Join: 2020
  • Posts: 579
  • Logged

METODE PENELITIAN


   Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2010. Lokasi penelitian di kawasan Taman Hutan Raya Ronggo Soeryo Cangar.

   Bahan dan Alat

   Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah tumbuhan paku epifit dan sampel kulit batang inang paku epifit yang terdapat di kawasan Taman Hutan Raya Ronggo Soeryo Cangar.
   Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teropong, buku, alat tulis, label, kantong plastik, gunting, pisau, penggaris dan alat fotografi berupa kamera.

   Prosedur Penelitian

   Penentuan sampel pohon inang

Metode yang digunakan dalam penentuan sampel pohon inang ini adalah transek. Penentuan peletakan transek dilakukan pada tiga daerah atau stasiun yang berbeda, antara lain: transek pertama dilakukan di hutan yang terdapat di belakang kawasan wisata air panas di Tahura R. Soeryo Cangar, transek kedua dibuat di daerah hutan belakang penginapan Tahura R. Soeryo Cangar dan transek ketiga di
buat pada daerah hutan yang termasuk dalam kawasan lereng Gunung Arjuna. Panjang masing-masing transek adalah 100 meter. Pada masing-masing transek kemudian dilakukan pencacahan pohon yag menjadi habitat dari paku epifit. Adapun gambaran lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2.
 

Gambar 3.1. Lokasi penelitian

   Pengambilan sampel paku epifit dan kulit pohon inang

Pengambilan sampel kulit pohon inang dilakukan pada masing-masing daerah yang menjadi tempat sampling penelitian. Setelah jenis-jenis paku epifit dan pohon inang tersebut ditemukan, kemudian dilakukan pengambilan jenis paku epifit dan sampel kulit pohon yang berada di dekat bagian kulit pohon yang ditumbuhi oleh paku epifit dengan ukuran ± (5-10) x (5-10) cm2.
Beberapa karakteristik yang dibandingkan berdasarkan Sucipto (2009), sebagai berikut:
No   
Objek Pembanding Kulit   Jenis Tumbuhan   Jenis Paku Epifit   ∑   X
      Sp1   Sp2   Sp3   dst         

1   Stabilitas                     
   1. Stabil                     
   2. Labil                     
2   Tekstur (Kekasaran)                     
   1. Halus                     
   2. Kasar                     
   - Retak-retak                     
   - Bercelah dalam                     
   - Berbenjolan                     
   - Bercelah dangkal                     
   - Berserabut                     
   - Rata                     

3   Kekerasan                     
   1. Lunak                     
   2. Keras                     

Keterangan:

1.   Stabilitas kulit

a.   Kulit stabil, jika kulit pohon tidak mengalami pengelupasan

b.   Kulit labil, jika kulit pohon mengalami pengelupasan. Pengelupasan kulit dapat terjadi karena kulit batang luar terdiri atas jaringan mati, maka sewaktu keliling batang bertambah, kulit batang luar tidak dapat mengembang ke arah tangensial, dan biasanya lapisan-lapisan luar cepat lepas karena letak epidermis berurutan. Pengelupasan terjadi pada bidang- bidang lemah antara periderm kulit batang luar yang disebabkan proses pelapukan yang berjalan secara berangsur-angsur. Kulit batang mengelupas sebagai lembaran-lembaran atau sisik.
2.   Tekstur (kekasaran) kulit

a.   Halus, jika permukaan kulit pohon terasa halus. Penampakan dari

pernukaan kulit pahon yang halus disebabkan karena periderm yang terbentuk dapat mengimbangi pertumbuhan kambium, sehingga tidak terjadi rekahan-rekahan, lekukan, bahkan pengelupasan kulit luar.
b.   Kasar, jika penampakan kulit pohon terasa kasar, retak-retak, bercelah dangkal sampai dalam, berbenjolan atau pun berserabut. Hal ini disebabkan oleh cara periderm tumbuh, struktur floem serta sifat dan jumlah jaringan yang dipisahkan dari batang periderm itu sendiri. Bahwa pembentukan periderm yang baru akan memutuskan hubungan jari-jari dengan periderm yang lebih tua sehingga pasokan energi putus dan menyebabkan semua jaringan diluar periderm akan mati.
3.   Kekerasan kulit

a.   Lunak, kulit kayu yang lunak dapat dilihat jika pada kulit kayu banyak ditumbuhi oleh jamur Upas (Curticium salmonicolor Berk. & Br.), karena jamur menyerang bagian atas batang pohon melalui luka pada kulit atau kulit kayu yang tipis. Akibatnya kulit kayu menjadi pecah-pecah dan terkelupas, matinya jaringan kulit bagian dalam, gangguan terhadap kambium dalam menghasilkan floem, bahkan dapat terbentuk kallus atau kanker. Setelah menginfeksi, jamur ini lebih dominan menyerang kayu teras karena terdapat rongga-rongga sel yang berisi udara (O2), dibandingkan dengan kayu gubal yang rongga-rongga selnya terisi air.
b.   Keras, kulit kayu yang keras dapat dilihat jika pada permukaan kulit kayu tidak ditumbuhi oleh jamur.

   Analisis Data

Identifikasi tumbuhan paku epifit dan tumbuhan inang paku epifit dilakukan berdasarkan Backer (1968) dalam bukunya Flora Of Java 1,2, dan 3. Sedangkan untuk mengetahui karakteristik tipe kulit kayu dari inang paku epifit berdasarkan kestabilan, tekstur dan kekerasan kulit, dilakukan dengan mentabulasi semua data yang diperoleh dan kemudian dibuat persentasenya dengan menggunakan program Excel. Adapun skema penelitian secara umum dapat dilihat pada Gambar 3.2 di bawah ini.
Gambar 3.2 Skema Pelaksanaan Penelitian