Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hujroh  The Ghurfah 
STUDI TIPE MORFOLOGI KULIT POHON INANG DAN JENIS PAKU EPIFIT DALAM UPAYA MENUNJA
Pages: [1]

(Read 708 times)   

liaapri

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • liaapri No Reputation.
  • Join: 2020
  • Posts: 579
  • Logged

8.   Delonix regia (Bojer. ex Hook.) Raf (Flamboyan)

Flamboyan memiliki tinggi 7-16 m dengan diameter yang mencapai 60 cm. Kanopinya lebar dan meluas. Daunnya majemuk dengan selalu terdiri atas  dua helai anak daun. Ranting-ranting dan daun tidak berduri. Bunga bersimetri tunggal, kelopak dan mahkota pada kuncup bersirap. Taju-taju kelopak kira-kira sama, berbentuk garis, runcing, dan berdaging. Kepala putik kecil (Suryo dkk., 1968). Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat stabil atau tidak mengelupas, bertekstur rata, dan kera
Gambar 4.19. Kulit batang pohon Delonix regia (Bojer. ex Hook.) Raf (Flamboyan)


9.   Erioglossum rubiginosum (Roxb.) Bl (Mangir)

Mangir memiliki habitus pohon dengan tinggi 3-10 m. Daun bilateral simetris. Daun mahkota mahkota terdiri atas 1 bendera, 2 sayap, dan 1 lunas.
 
Kalau lunas dibengkokkan akan terlihat tabung benang sari yang menyelubungi bakal buah yang panjang (Suryo dkk., 1968). Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat labil dan mudah mengelupas, permukaannya rata, dan keras.
 
Gambar 4.20 Kulit batang pohon Erioglossum rubiginosum (Roxb.) (Bl Mangir)


10.   Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr. (Dadap)

Dadap memiliki habitus pohon dengan tinggi 15-20 m. Batang tegak, berkayu, bulat, dan bercabang simpodial. Daun majemuk bersilang, pertulangannya menyirip, bertangkai silindris, dan panjangnya 12-14 cm. Bunganya majemuk dengan bentuk tandan (Suryo dkk., 1968). Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat stabil atau tidak mengelupas dan terlihat adanya benjolan yang berupa duri-duri besar. Kulitnya juga bersifat keras.
 
Gambar 4.21 Kulit batang pohon Erythrina subumbrans (Hassk.) Merr.(Dada
11.   Engelhardia spicata Lech (Kukrup)

Kukrup memiliki habitus pohon dengan tinggi mencapai 25 cm. Daun berhadapan, berseling atau tersebar, tepi daun rata dengan kelenjar minyak. Daun penumpu tidak ada. Bunga beraturan kerapkali berkelamin 2 dan berjumlah 4-5. Memiliki daun pelindung yang berukuran kecil. Kelopak berdaun lekat, tabung kerapkali di atas bakal buah (Suryo dkk., 1968). Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat stabil atau tidak mengelupas, tekstur permukaan retak-retak bercelah dangkal dan keras.
12.   Ficus elastica Nois (Karet)

Tumbuhan berbentuk pohon, berumur panjang (perenial), tinggi bisa mencapai 20-30 m. Akar tunggang, batang berkayu, silindris, warna coklat tua, permukaan halus, percabangan menyebar tak beraturan hingga membentuk pohon yang rindang, keluar akar-akar menggantung dari batang atau cabang yang sudah besar, daun tunggal, bertangkai, tersusun berseling (alternate), bentuk lonjong (elliptica), ujung dan pangkal meruncing (acuminatus), tepi rata, permukaan mengkilat (nitidus), Karangan bunganya berupa bunga beriuk diketiak. Tumbuhan Karet tumbuh dengan baik di hutan tropis dan terdistribusi di Nepal, Buthan, India timur laut, Myanmar, Malasyia, Jawa, dan Sumatera (Riffle, 1998). Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat stabil dan tidak mengelupas dengan permukaan rata, dan lunak.

Gambar 4.22 Kulit batang pohon Ficus elastica Nois (Karet)


13.   Pinus merkusii Junghun & de Vriese. (Pinus merkusii)

Pohon besar, batang lurus, silindris. Tegakan masak dapat mencapai tinggi 30 m, diameter 60-80 cm. Tegakan tua mencapai tinggi 45 m, diameter 140 cm. Tajuk pohon muda berbentuk piramid, setelah tua lebih rata dan tersebar. Terdapat 2 jarum dalam satu ikatan, panjang 16-25 cm. Pohon berumah satu, bunga berkelamin tunggal. Bunga jantan dan betina dalam satu tunas. Bunga jantan berbentuk strobili, panjang 2-4 cm, terutama di bagian bawah tajuk.
Strobili betina banyak terdapat di sepertiga bagian atas tajuk terutama di ujung dahan (Hidayat dan Hansen , 2001).
Batang pohon Pinus tersebut banyak ditumbuhi oleh paku epifit khususnya di bagian anak cabang. Kulit batang pohon tersebut bersifat labil atau mudah mengelupas secara vertikal dalam bentuk lembaran sisik-sisik. Tekstur kulit terlihat retak-retak bercelah dalam dengan kedalaman 16-31 mm dan lebarnya 9-15 mm. Selain itu, kulit pohon bersifat keras.

 
Gambar 4.23 Kulit batang pohon Pinus merkusii Junghun & de Vriese. (Pinus)


14.   Cinchona pubescens Vahl. (Kina)

Habitus berupa pohon dengan ketinggian yang mencapai 10 m. Daun- daunnya tunggal dan terletak berhadapan. Mahkota berlekatan (Suryo dkk., 1968). Tumbuhan Kinah termasuk tumbuhan invasif spesies yang mudah tumbuh dan menggantikan vegetasi asli di lokasi tersebut. Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat stabil atau tidak mengelupas, tekstur permukaan retak-retak dangkal, dan lunak.

Gambar 4.24 Kulit batang pohon Cinchona pubescens Vahl (Kina)

15.   Nauclea officianolis (Kupu ketek)

Habitusnya berupa pohon, perdu, atau herba. Daun biasanya bersilang berhadapan atau kadang-kadang berkarang. Daun kebanyakan bertepi rata, daun
penumpu terletak antara tangkai daun, berletak berpasangan, kadang-kadang terbagi dalam taju. Bunga berada di ketiak atau terminal daun, berdaun tunggal, kebanyakan dalam bentuk karangan bunga beraturan. Bunga berkelamin 2, kelopak dan mahkota berdaun lekat (Suryo dkk., 1968). Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat stabil atau tidak mengelupas, tekstur permukaan retak-retak dangkal, dan lunak.
 
Gambar 4.25 Kulit batang pohon Nauclea officianolis (Kupu Ketek)

16.   Schima walhicii D.C. Korth (Puspa)

Pohon besar, tinggi lebih kurang 50 m, tegak, dan lurus. Tajuk pohon bulat sampai lonjong, lebat, daun berwarna hijau tua, mengkilat dengan daun muda berwarna merah jambu. Daun tunggal, tebal, berbentuk bulat panjang, permukaan bawah daun berwarna hijau kebiru-biruan. Bunga putih, tunggal, terdapat pada ketiak daun dan berkelompok pada ujung ranting. Buahnya agak bulat dan berwarna putih perak seperti sutera ketika masih muda. Buah yang tua dan masak berwarna cokelat dan memecah (Kartawinata, dkk 1979). Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat stabil, tidak mengelupas, permukaan retak-retak bercelah dangkal, dan keras.
 
Gambar 4.26. Kulit batang pohon Schima walhicii D.C. Korth (Puspa)

17.   Trema orientalis (L.) Blume (Anggerung)

Pohon besar dan tingginya mencapai ± 36 m, mempunyai banyak percabangan dan membentuk tajuk, permukaan batang halus atau licin warna keabuan. Duduk daun berselang, bentuk panjang sampai lanset yang meruncing ke ujung. Perbungaan bentuk malai terdapat bunga jantan dan betina dan muncul di batang atau cabang dekat pangkal daun. Buah batu, bentuk agak oval atau lonjong. Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat stabil atau tidak mengelupas, tekstur permukaannya rata dan keras.
18.   Vitex glabrata R. Br. (Jambon)

Habitusnya berupa pohon dengan ketinggian mencapai 8 m. Ranting- ranting berbulu. Daun majemuk berhadapan. Kelopak berbentuk lonceng dan mahkota kecil bentuk tabung (Suryo, dkk, 1968). Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat labil atau mengelupas secara vertikal, tekstur permukaannya rata, dan keras.

Gambar 4.27. Kulit batang pohon Vitex glabrata R. Br. (Jambon)

19.   Vitex vestita Wall. ex Schan (Bawangan)

Morfologi pohon Bawangan hampir serupa dengan morfologi pohon Jambon yaitu habitusnya berupa pohon dengan ketinggian mencapai 8 m. Ranting-ranting berbulu. Daun majemuk berhadapan. Kelopak berbentuk lonceng dan mahkota kecil bentuk tabung (Suryo dkk., 1968). Pada pohon ini, kulit batangnya bersifat stabil atau tidak mengalami pengelupasan, permukaannya retak-retak dangkal, dan keras.

Gambar 4.28. Kulit batang pohon Vitex vestita Wall. ex Schan (Bawangan)