Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hujroh  The Ghurfah 
STUDI TIPE MORFOLOGI KULIT POHON INANG DAN JENIS PAKU EPIFIT DALAM UPAYA MENUNJA
Pages: [1]

(Read 39 times)   

liaapri

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • liaapri No Reputation.
  • Join: 2020
  • Posts: 579
  • Logged

   Kekerasan kulit

Hasil pengamatan kekerasan kulit batang pohon menunjukkan bahwa pada umumnya bersifat keras, namun juga ada paku yang hidup pada pohon yang

mempunyai sifat kulit batangnya lunak. Dari seluruh sampel yang ditemukan, diketahui bahwa pohon yang kulitnya keras berjumlah 13 jenis, yang terdiri atas kulit pohon Pinus, Flamboyan, Dadap, Mangir, Puspa, Berasan, Pule, Jambon, Bawangan, Spatudea, Kukrup, Anggerung, dan Paku Tiang; sedangkan kulit pohon yang lunak berjumlah 6, yang terdiri atas kulit pohon Sarangan, Karet, Tutup lancur, Lamer, kupu ketek, dan Kinah. Apabila jumlah pohon inang yang memiliki perbedaan kekerasan kulit diperbandingkan seperti pada gambar 4.31, maka terlihat dengan jelas bahwa kulit lunak berjumlah 32%, sedangkan kulit keras berjumlah 68%.
 
Gambar 4.31 Presentase Kekerasan Kulit Pohon

Kulit batang pohon yang keras kemungkinan lebih berkaitan dengan khususnya ketebalan dinding sel-sel penyusun jaringan kulit batang luar yang mati yang disebut ritidoma atau bisa disebabkan juga oleh pengaruh pertumbuhan jamur Upas (Curticium salmonicolor Berk. & Br.) yang tumbuh pada kulit kayu. Kulit kayu menjadi lunak karena pada kulit kayu banyak ditumbuhi oleh jamur Upas (Curticium salmonicolor Berk. & Br.), jamur menyerang bagian atas batang pohon melalui luka pada kulit atau kulit kayu yang tipis. Akibatnya kulit kayu menjadi pecah-pecah dan terkelupas, matinya jaringan kulit bagian dalam,
gangguan terhadap kambium dalam menghasilkan floem, bahkan dapat terbentuk kallus atau kanker. Setelah menginfeksi, jamur ini lebih dominan menyerang kayu teras karena terdapat rongga-rongga sel yang berisi udara (O2), dibandingkan dengan kayu gubal yang rongga-rongga selnya terisi air. Bagian kulit yang terserang menjadi melunak (Dwianto, W., dan Sri NM. 1998).
Paku epifit lebih banyak berada pada pohon yang berkulit keras karena lebih mampu mempertahankan ikatan akar paku yang menempel pada kulit pohon sehingga dapat mempertahankan keberadaan tumbuhan paku di pohon tersebut. Sesuai dengan pendapat Rahmah (2009), pertumbuhan paku epifit di hutan sangat tergantung pada inangnya, untuk tempat hidup bukan sebagai sumber makanan. Apabila inang dari paku epifit memiliki kulit batang yang lunak maka keselamatan paku epifit akan terancam, karena inang tidak mampu untuk menyanggah akar paku epifit.

   Korelasi Jenis Pohon Inang dengan Jenis Paku Epifit

Korelasi pola interaksi antara jenis pohon inang dengan kehadiran paku epifit adalah simbiosis komensalisme. Simbiosis komensalisme adalah hubungan antara dua jenis makhluk hidup, yang satu pihak mendapatkan keuntungan, sedangkan yang lain tidak dirugikan. Untuk hidupnya, tumbuhan paku epifit menempelkan tubuhnya pada kulit batang atau cabang tumbuhan yang lain, khususnya pada batang atau dahan yang basah atau lembab. Tumbuhan paku epifit tidak mengambil zat hara dari jaringan hidup tumbuhan yang ditumpanginya, tetapi dari air dan debu yang menempel pada kulit tersebut. Dengan demikian, tumbuhan yang ditumpangi tidak dirugikan. Sebaliknya, tumbuhan paku dan epifit

lainnya memperoleh keuntungan, yaitu dapat menumpang serta mendapat air dan hara dari kulit batang tumbuhan inangnya (Irsae. 2008). Akan tetapi, tidak semua jenis pohon inang ditumbuhi oleh jenis paku epifit yang sama, karena  setiap pohon inang memiliki ciri-ciri dan komponen kimia yang berbeda-beda dan setiap jenis paku epifit memiliki cara-cara adaptasi yang khas, sesuai dengan sifat tumbuhnya.