Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Tasawuf 
Raja' Mengharap Anugerah Ilahi Yang Tak Terbatas
Pages: [1]

(Read 1077 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1925
  • Logged
Raja' Mengharap Anugerah Ilahi Yang Tak Terbatas
« on: 03 May, 2018, 14:41:39 »

Raja' Mengharap Anugerah Ilahi Yang Tak Terbatas

"Dan mereka berdoa kepada Kami dengan pengharapan dan perasaan takut."
(Q.S. Al-Anbiya: 90)

Bagi seorang mukmin, menumbuhkan perasaan al- Khauf (takut) akan siksa Allah serta pem- balasan-Nya memang tak bisa dipungkiri. Terutama sekali, bila itu diniatkan si mukmin agar Allah azza wa jalla mencintainya hingga menempatkan dirinya di tempat terbaik- Nya suatu saat kelak.
Namun, menyikapi al- Khauf secara berlebihan, kiranya, memiliki efek yang kurang menguntungkan. Yakni, bila al-Khauf tersebut disikapi kelewat batas maka rasa itu berubah menjadi putus asa. Ada suasana kehilangan harapan (hopeless) untuk mengarahkan tujuan
 
Talaumf
hidup kepada hal-hal istimewa yang pernah dijanjikan Allah swt. bagi hamba- hamba pilihan yang bertakwa pada-Nya.
Si mukmin terlanjur mempatri di lubuk hatinya bahwa dirinya betul-betul tidak layak untuk mendapat secuil ganjaran Tuhan. Ia terpuruk dengan begitu banyak dosa dan kesalahan yang dalam anggapannya tidaklah mungkin diampuni Tuhan, la menangis. Ia bersedih. Ia berduka sepanjang hari bersama doa dan ibadahnya.
Terlebih-lebih, setelah ia menghayati firman-firman Ilahi yang mewanti-wanti seorang mukmin untuk bersikap takut (al-Khauf) akan siksa-Nya. Ia merasa, tak mampu menjadi seorang hamba yang betul-betul
diharapkan Tuhan. Dan akhirnya, si mukmin bertumpu pada satu titik: suasana putus asa.
Bagi para sufi—yang selama ini terkenal telah mencapai titik terdekat sebagai hamba Allah yang paling saleh, keadaan si mukmin yang kelewat batas itu tidaklah bagus dalam meningkatkan kualitas imannya. Bukankah Sang Khalik yang menciptakan dirinya iidak menitahkannya terjebak pada sikap demikian.
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir?" (Q.S. Yusuf: 87)
Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri pernah berkata, “Bahwa seorang alim nan bijak, di dalam menghadapi orang banyak, tentu tidak akan mendatangkan kepu- tus-asaan bagi mereka dari rahmat Allah, tetapi juga tidak menjamin keamanan bagi mereka dari cobaan Allah.”
Pada kondisi inilah, sikap raja’ (sikap berharap) memiliki peranannya. Seorang mukmin yang berhasrat ingin mendapatkan cinta sejati Tuhan-Nya, mesti menghadirkan jiwa raja’ untuk mengimbangi sikap al- KHauf.(lihat edisi sebelumnya)

RAJA'. KETIKA SI
MUKMIN
MENGHARAP
A. J. Arberry dalam buku Pasang Surut Aliran Tasawuf menuliskan bahwa raja' adalah mencari kemungkinan yang dikehendaki di masa mendatang. Sementara Amatullah Armstrong dalam Kunci Memasuki Dunia Tasawuf mengatakan raja’ adalah mengharapkan rahmat Allah (sifat yang sesungguhnya mengelilingi manusia, tapi jarang mendapat perhatiannya).
Bagi hamba Allah yang terlampau hebat tingkat Khauf-nya, barangkali telah menutup sifat demikian. Tak aneh, bila keputusasan terlanjur menyelimuti pikiran dan hatinya. Padahal, Sang Maha Rahman yang menjadi inspirasi rasa al-Khauf-nya tidaklah seperti yang ada di benaknya. Pada satu hadits qudsi disebutkan, Allah azza wa jalla berfirman, “Aku di dekat persangkaan hamba- Ku. Maka hendaklah dia berprasangka terhadap-Ku atas apa yang dia inginkan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadits tersebut, begitu terang menegaskan bahwa pendapat Tuhan tentang kita, hamba-Nya berpulang atas apa yang ada dalam pi
kiran kita. Dalam Al-Quran sendiri Allah berfirman, “Dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa." (Q.S. Al-Fath: 12) Pada titik inilah, sikap raja’ berguna sebagai obat untuk menangkal penghayatan al-Khauf berlebihan yang dikhawatirkan menjebak seorang mukmin pada keputusasaan. Seorang mukmin dianjurkan untuk tidak pernah berhenti berharap dari ampunan Allah akan gelimang dosa yang selama ini dilakukkanya. Ia dianjurkan untuk terus berharap menanti anugerah Ilahi yang tak terkira, baik di dunia maupun di akhirat kelak nanti.
Menumbuhkan sifat yang satu ini, sebagaimana dilansir Drs. Achmad Suyu- thi dalam Percik-Percik Kesu- fian dapat dilakukan si mukmin dengan cara terus bertafakur (memikirkan dan merenungkan) janji Allah akan surga dan nikmatnya, tentang adanya ampunan Allah dan ridha-Nya. Hal ini dapat muncul, tentunya, dengan menghayati kembali ayat- ayat Al-Quran, hadits-ha- dits, atsar, dan kisah-kisah teladan para sufi yang sarat akan kandungan raja' .
Pada ayat Al-Quran, misalnya, firman Allah yang berbunyi, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampau batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’ Sesungguhnya Allah mengampuni dosa- dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Az-Zumar: 53)
Begitu pula dengan sebuah hadits qudsi yang menyebutkan, “Jika seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu dia meminta ampun kepada Allah, maka Allah azza wa jalla berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Lihatlah hamba-Ku. Dia telah melakukan suatu dosa, lalu dia tahu bahwa sesungguhnya dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa- dosa dan memegang dosa. Aku mempersaksikan kalian bahwa sesungguhnya Aku benar-benar mengampuninya’.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sedang dalam atsar, disebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz r.a. pernah berkata, “Sesungguhnya Allah menjadikan kelalaian pada hati hamba-Nya sebagai sua- tu rahmat, supaya mereka tidak mati oleh ketakutannya kepada Allah swt.”
Atau dalam kisah seorang sufi bernama Ibrahim bin Adham. Ia berkata: “Pada suatu malam, aku sendirian melakukan thawaf dan malam itu adalah malam yang gelap gulita. Kemudian aku berdiri di Multazam di sisi pintu Ka’bah dan aku berdoa, ‘Wahai Tuhanku! Lindungilah aku hingga aku tidak mengerjakan maksiat kepada-Mu selama-lamanya!’
“Tiba-tiba ada suara tanpa rupa berkata kepada-Ku dari arah Baitullah, ‘Hai Ibrahim! Engkau meminta perlindungan kepada-Ku sedang semua hamba-Ku yang beriman meminta hal itu ke- pada-Ku pula. Maka, apabila Aku lulusi permintaan mereka, kepada siapakah, kemudian, Aku memberikan anugerah? Dan, siapakah yang akan Aku beri ampunan?’”
Ada pula kisah seorang sufi sekaligus ahli fiqih bernama Yahya bin Aktsam bin Muhammad at-Tamimi yang wafat pada tahun 243 H. Setelah meninggal dunia, beliau diimpikan oleh seseorang. Yahya ditanya, “Apa yang dilakukan Allah terhadapmu?” Yahya menjawab, “Allah memberhentikanku di kehadirat-Nya, dan Dia berfirman, ‘Hai syekh jelek, kamu telah berbuat! kamu telah berbuat!’
 
Yahya berkata: “Maka hanya Allah yang mengetahui ketakutan yang menimpa diriku. Lalu aku berkata: “Wahai Tuhanku, bukan seperti itulah aku menceritakan Engkau.” Allah berfirman: “Apa yang kamu ceritakan tentang Aku?” Aku menjawab: “Abdurrazzaq menceritakan kepadaku dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Anas r.a., dari Nabi-Mu saw., dari Jibril as., bahwa Engkau berfirman: “Aku di dekat persangkaan hamba-Ku terha- dap-Ku. Maka Hendaklah dia berprasangka terhadapku atas apa yang dia inginkan."
“Dan aku menyangka bahwa Engkau tidaklah menyiksaku.” Maka Allah azza wa jalla berfirman: “Jibril benar, Nabi-Ku benar, Anas benar, Az-Zuhri benar, Ma’mar benar, Abdurrazaq benar dan kamu benar.” Yahya berkata: “Maka aku diberi pakaian dan berjalan di depan anak- anak menuju ke suirga." Aku berkata, “Betapa gembiranya hatiku.” (lihat Zuhair Syafiq al-Kibby As-Suyuthi dalam Imam Ghazali berbicara tentang Takut dan Harap)
Dengan merenungi firman, hadits, atsar, dan kisah- kisah sufi tersebut, setidak- tidaknya sifat raja’ timbul di dalam diri seseorang. Kendati demikian, sikap raja’ seperti apakah yang dapat mengantar seorang hamba Allah menyandang gelar orang- orang yang mendapat ampunan Tuhannya, orang-orang yang layak mendapat posisi
 
paling mulia di sisi-Nya?
Watak m e-raja’ (mengharap) adalah sebentuk kesenangan hati untuk menantikan apa yang disukai. Ter- lebih-lebih bila yang disukai itu mendapat garansi dari Sang Maha Rahman. Karena itu, raja’ menjadi sikap yang memegang peranan penting dalam tahapan peningkatan spiritual seseorang.
Sikap raja’ ini sebetulnya mengenal hukum kausalitas alias sebab akibat dalam kehidupan hamba Allah. Sebab, raja' dapat diraih bila ia betul-betul telah meninggalkan larangan-Nya dan mengerjakan segala apa yang di- titahka-Nya.
Ibarat seorang pemilik biji tanaman. Ia mencari lahan yang subur dan kemudian menanamkan biji tersebut. Agar benih yang ditanamnya itu tumbuh dengan sehat dan mendapat tanaman terbaik, ia harus mengairi dan merawatnya dengan baik. Mulai dari penyiraman hingga pemberian pupuk terbaik. Selanjutnya, si pemilik biji tinggal menanti biji tersebut menghasilkan tanaman yang sehat dan cemerlang. Nah, penantian tersebut adalah sebuah perumpamaan buat raja.
Namun sebaliknya, jika dia menanam biji di tanah yang tandus, di dataran tinggi yang tidak mungkin dialiri air serta tidak diperhatikan sama sekali akan pemeliha- raanya, kemudian dia menantikan kehadiran biji ter
sebut menjadi tanaman yang subur, maka penantianya itu disebut sebagai sebuah kebodohan, bukan harapan (raja).
Dari uraian tersebut, penulis ingin menegaskan betapa sebuah raja’ patut diimpikan bila seseorang telah beribadah dengan baik dan tidak melenakan hati terhanyut oleh dunia dan akhlak yang buruk lagi.
Imam Yahya bin Mu’adz, ahli zuhud yang wafat pada 258 H berkata, “Menurut saya, adalah sangat tertipu seseorang bila ia bergelimang dosa, tetapi mengharapkan ampunan tanpa menyesal, mengharapkan kedekatan Allah tanpa beribadah, mengharapkan padi surga dengan benih neraka, mengharapkan tempat orang-orang yang taat dengan berbuat maksiat, mengharapkan balasan tanpa beramal dan mengharap sesuatu dari Allah tanpa berusaha.”
Berdasarkan uraian di atas, menurut hemat penulis, ada dua hikmah sifat raja’ yang dapat disimpulkan. Pertama; sikap raja’ ini dapat membuat seorang abid betul- betul merasakan nikmat dalam ber-munajah kepada Allah, membuatnya berperilaku mujahadah dalam ibadah sehari-hari dan menggerak- kanya untuk beramal. Kedua; sikap raja’ adalah sikap yang membuahkan optimisme dalam diri seorang abid. Satu sifat dimana seorang selalu mempunyai harapan
baik di segala hal. Entah itu, untuk kehidupan pasca ke- matian, maupun semasa hidup masih di kandung badan.

RAJA’ WALKHAUF, MENGOLAH DUA OBAT HATI
Meski raja’ adalah sebuah jawaban atas rasa takut khauf kelewat batas yang selama ini dibangun seorang hamba, baik raja’ dan khauf tidaklah bisa dipertentangkan sebagai dua kutub yang saling berlawanan. Diantara keduanya pun ibarat dua sisi
Meski raja’adalah
sebuah jawaban atas
rasa takut khauf
kelewat batas yang
selama ini dibangun
seorang hamba, baik
raja ’ dan khauf
tidaklah bisa diper-
tentangkan sebagai
dua kutub yang
saling berlawanan.
keping koin. Tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.
Karena itu, mengunggulkan salah satu dari keduanya akan menuai sesuatu yang kurang layak bagi seorang hamba Allah. Sebab, khauf dan raja’ adalah dua obat untuk penyakit hati yang bila salah satu diantara keduanya dilenyapkan akan tidak mengenakkan bagi hati seorang abid.
Artinya, dalam hal ini,
seorang mukmin beiaiii Im rus menyeimbangkan anl.ua khauf (rasa takul) dan raja' (mengharap) agar mempcr- oleh paduan sikap keduanya secara rasional dan proposio- nal, tidak berat sebelah hingga menimbulkan kerugian.
Ketiadaan khauf menyebabkan ia meremehkan persiapan menghadapi kema- tian, sedang bila berlebihan akan membuat ia putus asa. Demikian pula dengan sikap raja'. Bila berlebihan justeru akan membuat ia lalai dari kewajiban-kewajiban. Oleh sebab itu, memadukan khauf' dan raja’ dalam ibadah si abid merupakan hal yang tidak bisa dielakkan.
Tak aneh bila para ulama salaf mengatakan, “Siapa yang menyembah Allah hanya dengan cinta maka dia adalah seorang zindiq dan siapa yang menyembah Allah hanya dengan takut maka dia adalah seorang kha- warij, dan siapa yang menyembah Allah hanya dengan harapan, maka dia adalah seorang murjiah. Sedang, siapa yang menyembah Allah dengan takut, cinta dan harapan, maka dia adalah mukmin sejati.”
Bukankah Allah swt. sendiri pernah berfirman, “Sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka numaj kahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (Q.S. As-Sajdah: 16) Walla hu’alam bil shawab (dari berbagai sumber)



arifluqman682

  • Qudama
  • *
  • arifluqman682 No Reputation.
  • Join: 2016
  • Posts: 123
  • Logged
Re: Raja' Mengharap Anugerah Ilahi Yang Tak Terbatas
« Reply #1 on: 08 Aug, 2018, 11:47:42 »
raja zaman sekarang kayaknya sudah jarang yang kayak begini gan :(