Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Tarbiyah / Education 
Motivasi dan Tips Untuk Santri
Pages: [1]

(Read 1735 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 2084
  • Logged
Motivasi dan Tips Untuk Santri
« on: 22 May, 2018, 05:41:00 »

Motivasi dan Tips Untuk Santri

Guru

Profesi yang hampir digeluti mayoritas santri adalah guru agama . Di segala lini dan tingkatan, mulai dari guru ngaji dan privat, guru sekolah dan madrasah, sampai dosen dan nara sumber dalam berbagai disiplin ilmu keagamaan. Karena itu, sebagai motivasi buat meluruskan dan menguatkan niat dan tekad santri, ada baiknya membaca satu makalah yang pernah penulis tulis untuk rublik Hadis di Majalah Gontor. Judul asalnya ustazi ana, yang kemudian diganti dengan: Kebanyakan Guru Masuk Surga. Berikut petikan lengkapnya:

Sejarah perjalanan manusia mencatat bahwa pekerjaan seseorang yang paling dihormati ummat manusia adalah Guru. Raja, Presiden, gubernur, pejabat, orang kaya, bos, direktur dan status sosial ekonomi lainnya, nyaris tidak semulia guru. Seorang raja atau presiden akan dimuliakan dan dihormati ketika dia memiliki kepribadian/profesi ganda, satu darinya adalah guru.
Hampir semua orang-orang besar adalah guru. Semua Rasul adalah guru, Muhammad Rasulullah saw sendiri juga seorang guru, Hadis riwayat Muslim, Ahmad, Ibn Majah dan al-Darimi jelas sekali menunjukkan profesi Rasulullah ini Innama bu’itstu mu’alliman “Sesungguhnya aku diutus menjadi Guru”. Empat khulafa’ al-Rasyidin semuanya adalah guru, ‘Aisyah, Anas , Abu Hurairah, Ibn Abbas, Ibn Umar, Ibn Mas’ud, Mu’az, Bilal, Salman dan masih banyak lagi sahabat yang lain, semua mereka adalah gurtu
Semua cendikiawan terkenal adalah guru. Sebut saja, Abu Hanifah, Malik, Syaf’i, Ahmad, al-Bukhari, Muslim, al-Ghazali, al-Kindi, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, Ibn Hajar, al-Suyuti, semua berprofesi guru. Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Hamka mereka juga guru.
Jika bisa dianalogikan, ketika orang-orang shaleh yang namanya disebutkan di atas kita yakini sebagai
akan masuk surga, maka analoginya adalah, banyak atau kebanyakan penghuni surga adalah guru.
Islam secara implisit menyarankan ummatnya, semuanya tanpa terkecuali, untuk menjadi guru. Lihat hadis Rasulullah saw yang berbunyi “sebaik-baik kalian adalah orang yang membaca al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dari hadis ini kita fahami bahwa seorang muslim yang baik .ulalah jika dia belajar al-Qur’an, lalu, yang lebih baik lagi adalah kalau dia juga mengajarkan al-Qur’an. Islam menyuruh ummatnya menjadi orang yang baik dan terbaik. Karena itu menjadi guru adalah diperintahkan. Hanya saja, ketika al-Qur’an dengan segala kandungan dan ajarannya adalah baik, maka yang diperintahkan untuk diajarkan juga hal-hal yang baik.
Siapa yang bisa menjadi seorang guru ?, semua profesi dipastikan bisa nyambi menjadi guru. Jendral bisa menjadi guru, artispun bisa menjadi guru, bahkan tukang becak juga bisa menjadi guru. Suami, istri, kakak, adik, ayah, Ibu, kakek, nenek, semua bisa berprofesi menjadi guru.
I alu, apa yang diajarkan ? sederhana.. kebaikan. Ali bin Abi Talib pernah membuat stateman bahwa “Orangyang mengajarkan aku satu huruf adalah Guruku”.
Lebih awal lagi, ketika al-Qur’an pertama kali diturunkan, ayat yang pertama adalah:
Bacalah dengan (menyebutj nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS 96:1-5)
Membaca, adalah ajaran pertama yang diterima oleh nabi saw. Dalam kata membaca mengandung unsur ajar dan mengajar. Hal ini dipertegas dengan ayat yang terakhir, yaitu ayat ke 5:
Yang mengajarkan kamu dengan pena.
Dalam al-Qur’an sendiri banyak kata yang secara langsung mengandung pengajaran atau mengajarkan. Lihat petikan-petikan ini:
(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang teLtlf mengajarkan Al Qur’an (QS 55:1-2)
Mengajarnya pandai berbicara (QS 55:4)
Dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) danAl-Hikmah (As-Sunnah) (QS 2: 129) (QS 3:164) dan (QS 62: 2).
Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”(QS 18:66).
Mengapa Harus Menjadi Guru ?
Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, bahkan sendi-sendi keimanan kepada Tuhan adalah ilmu pengetahuan. Dasar-dasar pengamalan keislaman seseorang juga adalah ilmu pengetahuan. Fasilitator ilmu .idalah guru.
Menjadi guru merupakan cita-cita mayoritas anak- anak TK dan SD. Jika orang tua tidak mempengaruhi anaknya, maka dapat dipastikan bahwa cita-cita murni mereka adalah ingin menjadi Guru. Mengapa?, Dalam diri guru ditemukan profil yang sempurna. Guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelindung, pendamping dan seterusnya. Karena itu, anak-anak yang baik pasti akan mencintai gurunya, Orang tua yang baik seharusnya berterimakasih kepada guru anaknya, dan guru yang baik adalah mereka yang dapat memberikan sesuatu yang terbaik.
Fadilah Profesi Guru
Banyak hadis yang mengandung arti keutamaan guru. Pahala yang dijanjikan Allah dan RasulNya untuk mereka juga sangat menjanjikan. Ketika sistem rantai penjualan yang populer sekarang ini adalah sistem MIM (Multi Lavel Marketing), maka sistem pahala guru juga demikian. Ketika sistem Konsinasi yang dilakukan,
sistim ini juga berlaku. Bahkan ketika model Tunai jadi primadona, sistem juga berlaku untuk guru. Beberapa hadis Rasulullah saw menjukkan arah itu.
Hadis pertama: Barangsiapayang mengajak kepada kebaikan maka baginya pahala seperti pahala yang diperoleh dari mereka yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang menunjukkan/'mengajak ke kesesatan maka diapun akan mendapatkan dosa seperti dosa yang akan ditanggung mereka yang melakukannya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun. (HR. Muslim).
Hadis kedua: Barangsiapa yang memulai suatu kebiasaan yang baik maka baginya pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala untuknya (orangyang mengerjakan) sedikitpun. (HR. al-Tlrmizi)
Hadis ketiga: Sebaik-baikyang ditingggalkan seseorang adalah tigaperkara: Anak salehyangmendoakannya, sedekah yang terus berjalan dan disampaikan kepadanyardan ilmu yang diamalkannya oleh orang setelaknya. (HR. IbnMajah)
Hadis ke empat: Demi Allah, jika kamu dapat memberi petujukan kepada satu orang saja sehingga orang itu mendaaptkan hidayah, maka hal itu lebih baik dari ontayang baik. (HR. Abu Dawud).
Hadis kelima, hadis yang menjadi icon nya ulama hadis, yaitu: Allah memberikan RahmatNYA kepada
jalan SANTRI menjadi Ulama Konsep, Nasehar dan Tips
 
seseorang yang mendengar dari kami sesuatu hal kemudian menyampaikannya sebagimana yang dia dengar. Barangkali orang yang menyampaikan itu lebih paham dari yang mendengar. (HR. Abu Dawud, al- Tirmizi dan Ibn Hibban).
Selain hadis-hadis sahih dan hasan di atas, beberapa hadis palsu juga pernah dibuat oleh para pemalsu hadis untuk melebih-lebihkan keutaman seorang guru.
I )iantaranya:
Satu: Barangsiapa yang duduk besama orang alim dua jam lamanya, atau makan bersama-sama beliau dua suap (minimal), atau mendengar darinya dua kalimat, atau berjalan bersama-sama beliau dua langkah, maka Allah akan memberinya dua surga masing-masing surga besarnya dua kali lipat dunia.
Dua: Barangsiapa yang belajar ilmu dengan niat untuk mengajarkannya kepada orang lain, maka baginya pahala tujuhpuluh nabi.
Tig a: Ulama ummatku sama seperti nabinya bani Israil.
Kemuliaan guru yang sama dengan orang yang mempunyai ilmu, tentu tetap ada, dan tetap harus ilihormati, namun tidaklah seperti kultus yang digambarkan secara berlebihan dalam tiga hadis palsu di atas. Hadis-hadis palsu di atas ditulis bukan untuk
jalan SANTRI menjadi Ulama Konsep, Nasehat dan Tips
dijadikan dalil, namun sekedar mengetahui bahwa itu bukan hadis. Itu perkataan orang, bukan Rasulullah
s a w.
Kita juga Harus Menjadi Guru
Melihat keutamaan seorang guru yang begitu banyak dan besar, baik ketika masih hidup maupun sesudah meninggal, menjadi pertanyaan kita tersendiri, tidakkah lebih baik kita juga berprofesi guru. Guru buat keluarga dan guru buat masyarakat, apapun profesi utama kita sekarang. Kita ajarkan mereka kebaikan semaksimal mungkin, kita contohkan juga kepada mereka teladan yang baik. Jika demikian, maka anda sudah menjadi Ustaz. Atau bahkan ustazi ana (guru saya).
Tips ini penulis simpulkan berdasarkan pengalaman penulis nyantren enam tahun di Podok Modern Gontor, juga pengamatan penulis terhadap banyak sekali pondok pesantren yang pernah penulis kunjungi.
1.   Jangan terlalu sering membuang-buang waktu, termasuk pada masa liburan.
2.   Setiap santri harus mencari kelebihannya sendiri di bidang ilmu pengetahuan, lalu kembangkan kelebihan itu sehingga betul-betul menjadi
keistimewaan.
3.   Jangan terlalu cepat menjadikan bidang non ilmu sebagai kelebihan anda dan anda mencurahkan perhatian yang lebih terhadap bidang itu. Akan tetapi jadikan itu sebagai kelebihan lain, bukan utama
Sebagai contoh: Ketika anda pandai sekali main sepak bola atau bulu tangkis di ponpes anda, lalu anda sangat berkonsentrasi pada bidang ini, dan anda habiskan separuh waktu anda untuk main dan mengurus yang ini. Jangan !, ini merupakan sebuah kesalahan.
Yang tepat adalah, jadikanlah olah raga tadi sebagai kelebihan lain baut anda, sehingga anda tetap enjoi ketika bermain.
Atau, ketika memang bakat dan minat anda sangat menonjol, maka tinggalkan pesantren, masuklah club atau sekolah olah raga dan jadilah pemain sepakbola/ bulutangkis profesional. Jika ini kondisinya, anda benar dan anda tidak salah.
4.   Kembangkan kecenderungan dan kelebihan anda itu dengan membaca lebih banyak buku/kitab lagi.
5.   Bacalah buku/kita standar dan dasar yang tidak diperdebatkan kredibilitas penulisnya. Jangan
jalan SANTRI menjadi Ulama Konsep, Nasehat dan Tips
 
 
terburu-buru membaca kitab/buku yang banyak mengundang kontroversi.
6.   Jangan puas dengan skup pesantren yang di situ anda berada, akan tetapi bukalah jendela dan pintu. Maksudnya, jangan berbangga lalu merasa cukup ketika anda dinilai paling pintar atau paling pintar di pondok anda, akan tetapi ketahuilah, masih ada dunia luar yang lebih besar lagi. Karenanya jangan cepat puas.
7.   Jangan merasa cukup dengan apa yang telah diajarkan di pesantren, tapi cobalah menambahnya sendiri dengan otodidak, membaca sendiri buku-buku yang ada.
8.   Jika ada hal yang kurang anda pahami, atau anda ragu, jangan segan untuk bertanya, kepada ustaz dan kalau perlu kepada kiyai langsung.
9.   Jadikan Buku sebagai teman dekat anda, dan perpustakaan sebagai tempat tongkrongan anda.
10.   Jika kitab-kitab yang tebal dan berjilid-jilid itu belum mampu anda beli. Jangan ragu untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat membaca, atau cobalah untuk memphotocopy bagian tertentu dan anda baca sampai habis.
11.   Ikuti perkembangan dunia luar dengan membaca koran atau majalah. Ada banyak cara untuk dapat membacanya.
12.   Jangan ragu untuk menuangkan pikiran anda dalam tulisan, sejelek apapun tulisan anda itu. Lama kelamaan tulisan anda juga akan semakin baik.
Jika sudah selesai, cobalah untuk mengirim artikel tulisan anda tadi ke media, jangan ragu, siapa tahu diterima dan ada uang lelahnya yang dapat anda gunakan untuk membayar rental komputer.
13.   Jika ada seminar gratisan, atau bedah buku atau diskusi di kota anda pada hari libur atau masa liburan, usahakan untuk ikut. Banyak ilmu yang anda bisa peroleh di sana.
14.Sekali-kali boleh juga anda mencari buku/kitab bekas yang sering dijual di toko loak/kelontong, sering juga ada buku bagus yang dijual dengan harga murah.
15.Jika anda liburan dan pulang ke kampung halaman anda, jangan segan-segan untuk menziarahi tokoh ulama di kota anda, minta petunjuk beliau yang inysa Allah bermanfaat. Jika bernasib baik, kadang anda diberi hadiah kitab oleh beliau.
Jelang Perguruan Tinggi
Setelah usai menamatkan jenjang Aliyah/KMI, sebaiknya santri tetap melanjutkan sekolah ke perguran tinggi. Pilihlah perguruan tinggi yang sesuai. Pilihlah yang terbaik. Jika anda mempunyai kompetensi tinggi, yakinlah anda akan duduk di sana.
Ada kendala klasik yang selalu menghantui alumni pesantren ketika akan melajutkan studi ke perguruan tinggi, dana. Penulis sadar bahwa itu adalah realita yang ada. Namun penulis yakin sekali, ketika kompetensi yang dimiliki seorang santri itu tinggi, maka akan mudah buat dia untuk menyelesaikan masalah ini.
Ada hambatan, ada juga tantangan. Akan tetapi, semua dapat dilalui. Bermodalkan kemahiran yang sudah disemai di pesantren dahulu, sangat besar kemungkinan seorang santri mendapatkan beasiswa. Baik dari kampus maupun dari istitusi swasta, ter Lajnah Zakat Nasional dan lokal.
Dengan berbekal kemahiran seperti sudah digambarkan pada pembahasan sebelum ini, santri juga bisa menjadikan kemahiran menulisnya sebagai sarana mencari rezeki, atau kemahirannya dalam ilmu agama untuk mengajar di berbagai tempat. Yakinlah jalan itu
terbuka.
Disamping hal-hal yang dianggap positif seperti tadi, penulis juga ingin mengingatkan bahwa ada penyakit menular di kalangan santri ketika pindah ke perguruan tinggi. Liar, itulah penyakitnya. Baik prilaku maupun pemikiran.
Santri yang dahulunya sopan dalam tingkah laku dan berpakaian, tiba-tiba menjadi urakan, bahkan alergi menggunakan sarung dan peci. Ingin dikatakan sebagai anak gaul.
Santri yang duhulu dikenal santun dalam bertutur, tiba-tiba berubah sangat agresif dam kasar. Tidak lagi mengenal bahasa tabu. Tidak lagi menunduk hormat terhadap guru dan dosen.
Santri yang dahulu dikenal berpikir dogmatis, tahu- tahu berubah menjadi liberal dan nakal, mendewakan filsafat yang tak pernah mereka sentuh di pondok dahulu.
Tidak terlalu berlebihan ketika penulis mengungkapkan masalah ini, sebab fenomena itu cukup banyak terlihat di banyak kampus. Meski hanya dilakukan oleh beberapa gelintir orang, namun aroma pesantrennya terasa menyengat, ketara dan nampak. Cukup membuat citra pesantren sedikit tercoreng dan mendapat stempel
khusus, yaitu, liar tadi.
Rasanya, dengan langkah di awal yang sudah diperbaiki, penyakit ini sudah tidak lagi menular. Kalaulah memang masih ada, maka itu hanya sekedar sisa, dan virusnya sudah lumpuh. Kalaupun masih tetap ada, maka tiada kata lain kecuali inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Namun demikian, beberapa nasehat dan tips sepertinya masih perlu dituliskan di sini, antara lain:
1.   Pilihlah bidang studi yang anda minati sebagai kelanjutan dari apa yang sudah anda persiapkan di pesantren.
2.   Pertahankan dan tingkatkan kemampuan anda, meski barangkali anda mendapatkan kebanyakan teman seangkatan anda berada di bawah level keilmuan anda. Akan tetapi pacu kemampuan anda agar lebih dapat mencapai apa yang selama ini diharapkan dari keluaran universitas. Barangkali anda adalah cikal bakal yang diharapkan semua pihak.
3.   Kembangkan kemampuan menulis anda, jika perlu sudah mulai menyusun buku. Namun sebelumnya, di kampus anda bisa berkaca lebih jelas lagi, sebab anda akan melihat keluasan ilmu dan keberagamannya.
 
4.   Untuk itu, kebiasaan baik anda yang suka membaca, haruslah lebih ditingkatkan, apalagi secara teori, perpustakaan kampus akan lebih baik dari perpustakaan pesantren. Anda akan berkenalan dengan lebih banyak buku dan kitab.
5.   Gunakan kesempatan bertemu pakar di kampus untuk meminta arahan yang lebih terarah. Tentu, tanpa melupakan mazhab orang yang anda nilai pakar tadi, sebab, salah-salah anda bisa salah alamat dan tersesat atau disesatkan.
6.   Jangan tertinggal untuk menghadiri pertemuan- pertemuan ilmiah, gratisan atau dengan sedikit biaya. Disitu anda akan berkenalan dengan pakar yang beragam dengan pemikirannya masing-masing. Biasanya, panitia akan mengundang nara sumber yang tepat dan cocok untuk tema yang diangkat.
7.   Ketika anda ingin berkaca dengan kepakaran, maka jangan menengok ke dalam. Tengoklah dunia luar sana. Jadikan para ulama sholeh seperti Imam al- Syafi’i, Imam Malik, Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam al-Nawawi, Imam Ibn Hajar menjadi idola cendikiawan anda. Jangan melihat ke bawah, itu akan membawa anda puas dengan hasil yang ada karena ada banyak orang di bawah sana.

arifluqman682

  • Qudama
  • *
  • arifluqman682 No Reputation.
  • Join: 2016
  • Posts: 123
  • Logged
Re: Motivasi dan Tips Untuk Santri
« Reply #1 on: 08 Aug, 2018, 13:20:58 »
motivasinya nyari Ridho Allah gan :D