Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Filsafat Islam 
Kutuk Dan Laknat
Pages: [1]

(Read 1475 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1726
  • Logged
Kutuk Dan Laknat
« on: 28 May, 2018, 11:00:37 »

Kutuk Dan Laknat

Betapa berat orang mendapat kutuk dan laknat. Sebaliknya, betapa nikmat orang mendapat kasih sayang- Nya. Ia bersifat Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Pengampun, dan Maha Kuasa. Dilimpahkan-Nya segala karunia dan nikmat dunia kepada umat manusia, yang tak terhingga jumlah dan banyaknya. Agar manusia mengambil manfaat sebanyak-banyaknya, mengambil rohmat dan barokah sebanyak-banyaknya, untuk kemaslahatan dan kebaikan diri manusia sendiri. Tetapi umumnya manusia tidak mengerti tentang itu dan tidak merasa atas segala pemberian yang diterimanya. Maka, hendaknya diketahui pula bahwa Allah pun bersifat Maha Perkasa. Ia amat benci kepada orang-orang yang ingkar dan kafir, orang yang enggan beriman, tidak mau percaya, tidak mau berserah diri tidak mau Islam. Itulah orang-orang yang sombong, orang- orang yang berkeras kepala. Buat mereka telah disediakan adzab siksa yang amat jahat, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia selalu dirundung duka lara dan ketakutan sepanjang masa. Takut ancaman musuh, takut tipuan kawan, takut jilatan penjahat, takut perkara melibat, takut hartanya karam, takut tahtanya tenggelam, dan seribu satu macam ketakutan lagi yang berbisik di telinga mendebarkan dadanya, meskipun mulutnya tetap pura-pura lantang. Ia takabbur dan suka menantang.

 
Artinya: Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka, tidaklah mendapat laba jual beli mereka, dan tidak pula mereka mendapat petunjuk.
(A!-Baqoroh, 16)
 
Artinya : Mereka mencoba menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Padahal tidaklah mereka menipu, kecuali terhadap mereka sendiri. Tetapi mereka tidak merasa.
(Al-Bagoroh, 9)

 

Artinya : Dalam hati mereka terjangkit penyakit. Maka, Allah menambah parah penyakit mereka. Lagi pula buat mereka adzab yang amat pedih, sesuai dengan apa yang mereka dustakan.
(A!-Baqoroh, 10)
'//y,
♦ «r •. i •. v/\
Artinya : Maka, kami turunkan kepada mereka yang aniaya, suatu siksa dari langit, sesuai dengan perbuatan mereka yang fasik.
(AI-Baqoroh, 59)
Banyak contoh-contoh yang berkenaan dengan itu,
di antaranya seperti :
1.   Kaum Nabi Nuh yang ditimpa banjir hingga mampus semuanya, karena mereka berkeras kepala dan membangkang kepada perintah-perintah beliau. Mereka enggan percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa, bahkan menentang kepercayaan ini.
2.   Fir'aun di zaman Nabi Musa as. tenggelam ditelan air laut, karena ia kufur terhadap beliau. Ia enggan membenarkan pendapat beliau, bahkan semua (Bani Israel) tetap ditindas dan diperbudaknya. Mereka diperlakukannya dengan kejam, dan dibunuhnya setiap bayi lelaki yang tiada bersalah sedikit pun. Dan dibiarkannya hidup wanita-wanita mereka untuk iseng dengan sewenang-wenang.
3.   Abrohah, raja bergajah yang gagah perkasa, dengan tentaranya berkuda, hancur luluh di ambang pintu kota Mekkah, sebelum terjadi pertempuran yang sengit dengan orang-orang Quraisy Mekkah. Memang, sesungguhnyalah kehancuran tentara Abrahah itu karena diserang tentara Tuhan yang tidak tampak. Mereka hanya berwujud burung-burung ababil yang melontarkan batu-batu berwabah terhadap tentara Abrahah yang terkutuk, karena maksud jahatnya untuk merusak Ka'bah yang mulia, 570 M.
4.   Hitler dengan tentara Nazinya yang cukup kuat dan mampu menggentarkan dunia. Tetapi nyatanya mampus, menyerah tak bersyarat. Entah di mana letak Hitler dikuburkan. Kutukan Tuhan menimpanya, karena perbuatannya amat kejam dan dholim. Itulah perbuatan aniaya. Diserangnya bangsa-bangsa tetangganya, tanpa mengindahkan korban-korban jiwa, raga, moril dan material yang membawa kehancuran dunia.
5.   Jepang sekutu Jerman pun harus mengalami nasib yang sama pula. Gerak lakunya yang merusak ketentraman dunia menyebabkan ia terkutuk. Kutukan manusia sedunia menimpanya, dan itulah kutukan Tuhan. Semboyannya hanya untuk menipu mata dunia semata, saudara tua yang membawa perdamaian Asia Timur Raya, ternyata bahkan mengancam perdamaian itu sendiri. Segala gerak lakunya merugikan seluruh umat manusia. Maka, sebagai balasannya yang sesuai dengan itu adalah bom atom yang menghancurkan kota Nagasaki dan Hirosima, Agustus 1945.
6.   Sekarang marilah kita meninjau apa yang terjadi di Kremlin pada tanggal 1 Maret 1953. Adalah suatu kejadian yang amat ngeri terhadap diri pembesar Stalin. Itulah diri yang terkutuk. Diri seorang yang sesat dan aniaya. Ia terientang di atas lantai kayu dengan pakaian seragam marsekalnya. Matanya terbuka melotot mengerikan siapa yang melihatnya, membuat orang- orang yang datang meninjaunya terloncat mundur kembali ketakutan. Begitulah keterangan Beria seorang pembantunya. Mengapa demikian? Begitulah sewajarnya orang-orang yang anti Tuhan (kufur), pada sekarat maut,Tuhan amat benci untuk menerima arwahnya. Dalam keadaan sekarat demikian mau pergi kemanatoh ia. Dapatkah ia membela diri dihadapan Tuhan. Padahal telah berbulan-bulan ia sembunyi dalam gedung itu. Gedunng yang dibuatnya sendiri rangkap tiga berlapis baja, dalam bentuk kembar tiga pula, agar tak seorang pun dapat menerka di mana ia berada pada tiap-tiap waktunya. Sedang di luar pun diperlengkapi dengan segala alat-alat penolak suara dan kawat - kawat berduri yang beraliran listrik. Mengapa Stalin yang memegang pimpinan tertinggi pemerintah Uni Sovyet berlaku demikian. Sebab ia takut, takut kepada musuh yang mengintainya; takut kepada kawannya sendiri yang membencinya; takut kepada bawahannya yang mengutuknya; takut kepada rakyatnya yang selalu ingin bebas dari tindasannya. Ia takut karena tindakannya sendiri; itulah siksa dunia; itulah kutuk, itulah laknat. Bukan karena sosialismenya yang menyiksa dirinya, tapi karena antinya kepada Tuhan. Allahu Akbar.
 
(A*

Artinya : Maka, batasan orang yang demikian itu di antara kamu, tidak iain ialah penderitaan hidup di dunia, dan pada hari kiamat kelak akan dilemparkan ke dalam api siksa yang amat dahsyat. Sedangkan Allah tidak lengah sedikit pun apa yang telah kau perbuat.
(Al-Bagoroh, 85)
7.   Lapindo dengan niat baik, ngebor minyak untuk menggali kekayaan bumi Indonesia di Sidoarjo, awal tahun 2006. yll. Ternyata hasilnya malapetaka, semburan Lumpur panas, memporakporandakan Sidoarjo dan sekitarnya. Sawah ladang hangus dan gundul, lalu lintas macet, produksi macet, rakyat jelata harus ngungsi, hidupnya terlunta-lunta, tidak menentu. Beban Pemerintah terlalu berat, dan sarat tanggungan, sehingga untuk ngadem-ngaddemi rakyat yang menderita dalam pengungsian, hanya dapat ngumbar janji palsu.
Mengapa niat yang baik itu hasilnya konyol. Karena Lapindo hanya memperkaya diri sendiri. Tidak kenal zakat atau pun dana sosial lainnya. Bukan Ridlo Allah yang turun, tapi malapetaka semburan Lumpur panas memporakporandakan Sidoarjo. Mengapa Lapindo tidak cepat tanggap. Memang Lapindo lebih mementingkan diri sendiri. Ngapain rakyat sengsara.
Buku ini hana mengajak, marilah kita kembali kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, secara hakiki, tidak syirik dan tidak munafik. Semoga rohmat dan ridlo Allah cepat turun memberkahi kita semua. Amin.
Dengan begitu, semoga kita umat manusia dapat mengambil pelajaran dengan hati terbuka dan pula dengan lapang dada. Tidakkah lebih baik demikian. Marilah kita kembali; kembali kepada fitroh manusia yang suci, agar menerima hidayah Ilahi Robbi. Kita berpegang al-Qur’an Kitab nan suci, dan memeluk Islam lambang perdamaian abadi, wahai ruh yang suci :
 

Artinya : Kembalilah kepada Tuhanmu dengan suka hati! Semoga dirimu direstui! Masuklah dalam kalangan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga- Ku.
(Ai-Fajr, 28, 29, 30)
Untuk lebih jelasnya, marilah kita membuka lembaran sejarah Bani Israil yang sedikit luas, yang telah berumur tidak kurang 4.000 tahun. Mereka itu adalah keturunan Nabi Ya'qub bin Ishaq bin Ibrohim as. yang ketiga-tiganya adalah Nabiyullah. Banyak pula keturunan- keturunan mereka yang menjadi Nabi pula, seperti Yusuf, Musa, Harun, Dzul Kifli, Dawud, Sulaiman as, dan lain- lainnya. Hal itu adalah suatu keistimewaan yang dilimpahkan kepada mereka. Di dalam suatu ayat-Nya Allah berfirman :
'   \   '   s e < \ S 'S 9 J S J*
(tv •. y
Artinya : Wahai anak cucu Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Kuiimpahkan kepadamu! Dan sesungguhnya telah Ku-muiiakan kamu di atas alam semesta. (Ai-Bagoroh, 47)
Lewat para Nabi-nabi itu Allah SWT membimbing mereka kejalan yang benar untuk menuju ke taraf hidup yang amat tinggi. Pemerintahan Nabi Yusuf cukup mendapat
perhatian pada waktu itu, karena dapat menanggulangi bencana kelaparan yang berjangkit selama tujuh tahun. Tata ekonomi diatur dengan baik. Hasil pertanian tidak saja untuk mencukupi kebutuhan negerinya, tapi juga diperbantukan keluar negeri untuk menanggulangi bahaya kelaparan yang amat dashyat pada waktu itu. Itulah adil makmur, itulah al khoiraat, itulah as-sho/ihaat, itulah al-ma'ruuf. Bukan sosialisme dalam mulut yang prakteknya membunuh dan menindas sebagian besar umat manusia. Kiranya ahli-ahli sejarah perlu menggali sejarah-sejarah demikian yang masih terpendam, akibat perbuatan orientalist kaki tangan imperialis. Pemerintah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman pun menjadi bukti kebesaran Bani Israil. Pemerintah beliau tidak hanya mencapai keadilan dan kemakmuran bagi rakyatnya semata, tapi keluhuran dan kemegahan yang sampai sekarang masih dapat kita bau harumnya. Kita masih dapat menikmati syair Nabi Dawud :
Tuhan ialah Gembalaku
Dan tidaklah aku kekurangan sedikit pun
Dibaringkannya aku di tempat yang rimbun rumputnya
dan dituntunnya aku perlahan-lahan ketepian air yang
tenang
disegarkannya jiwaku dan dibawanya aku ke jalan yang benar karena nama-Nya
Jikalau aku berjaian dalam lembah bayangan maut sekalipun tiadalah aku gentar akan bahaya karena Engkau menyertai aku jua Tongkat-Mu menghiburkan aku selalu   
Segala persoalan hidup Bani Israil selalu dihadapkan oleh para Nabi-nabi kepada Allah. Sekali peristiwa mereka
 
menuntut kepada Nabi Isa as. agar beliau berdo'a memohon hidangan makan besar dari langit. Tuntutan itu seperti perbuatan anak-anak kecil. Anak-anak yang masih suka berkhayal. Seandainya di zaman kita ini ada juga orang- orang yang menuntut seperti itu, tentunya orang itu telah gila dan sinting dan pantas pula ditertawakan. Tetapi di zaman Para Nabi, kejadian-kejadian semacam itu adalah wajar. Bahkan permohonan itu dikabulkan pula oleh Allah. Dan hal itu sebagai mu'jizat bagi beliau. Al-Qur'an mengisahkan :
Artinya : Kata Isa ibnu Maryam : "Yaa Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan pesta dari langit, agar menjadi peringatan bagi kami dan orang-orang sesudah kami. Pun agar menjadi tanda kekuasaan Engkau. Dan berilah kami rizqi, karena Engkau jualah sebaik-baik pemberi rizqi" Jawab Allah : "Sesungguhnya pasti Ku-turunkan hidangan itu kepadamu. Barang siapa di antaramu ingkar sesudah itu, pasti Ku-siksa ia dengan siksa yang tidak Ku-timpakan kepada seorang pun di antara umat seisi alam ini".
(Al-Maidah, 114-115) 
Ada pula orang-orang Bani Israil yang telah mati dihidupkan kembali oleh para Nabi. Penyakit-penyakit mereka disembuhkan. Di kala mereka kehausan di tengah padang pasir yang tandus, mereka mendapat minum dari celah-celah batu yang kering karena Nabi itu. Di waktu mereka terjepit di pantai laut, laut itu terbelah menjadi daratan. Peristiwa-peristiwa semacam itu adalah tanda keistimewaan yang dilimpahkan oleh Allah kepada mereka. Yang patut pula disyukuri ialah pembesar-pembesar dan raja-raja mereka tak ada yang berlaku dholim dan aniaya, tetapi mereka itu benar-benar membawa kemakmuran rakyat, kesejahteraan merata dan kekayaan melimpah- limpah mencapai negara adil makmur, gemah ripah toh jinawikertaraharja, karena mendapat ridlo Allah Tuhan Yang Maha Pengampun.
Artinya : Negara yang baik, yang mendapat ridlo Allah Tuhan Yang Maha Pengampun.
(As-Sabaa', 15)
Nabi Yusuf yang berhasil menyelamatkan negeri Mesir dari ancaman bahaya kelaparan dan berhasil mengatur perekonomian serta sanggup pula menampung dan melindungi para pengungsi dan imigrasi dari luar negeri yang tengah ditimpa bahaya kelaparan dalam musim kemarau yang amat panjang, karena ilmu dan keadilan sosialnya amat dalam. Dalam mengabdikan diri kepada Tuhan dan kepada rakyatnya, beliau tidak mau ceroboh. Biar pun beribu-ribu bidadari menggodanya karena parasnya yang amat bagus, molek tiada bertara, rupawan laksana bulan, tampan menundukkan bidadari di seluruh negeri, Namun, beliau hanya berkata :
Artinya : Tiada kubiarkan lepas hawa nafsuku. Sungguh hawa nafsu itu menyuruh kepada kejahatan, kecuali apa yang disayangi oleh Tuhan. Sungguh Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yusuf, 53)
Puncak kebesaran pemerintahan Bani Israil tatkala di pimpin oleh Raja Sulaiman as. Kekuasaannya meluas dan tentaranya tidak hanya terdiri dari manusia saja tetapi di dukung pula oleh burung-burung, jin dan lain-lain, seperti yang dilukiskan dalam al-Qur'an :
Artinya : Mengapa tiada tampak olehku burung hud-hud ? Memboloskah ia ? Niscaya kusiksa ia dengan siksa yang amat berat atau kupotong lehernya ? (An-Nam!, 20-21)
Mendengar ancaman itu burung hud-hud itu pun segera mengambil tempar yang tak seberapa jauh seraya berkata : "Paduka Raja yang mulia sebenarnya baru saja
kutempuh jarak yang amat jauh dan kutemukan suatu kerajaan yang sungguh asing bagi Paduka. Kerajaan itu disebut Saba' di bawah kekuasaan seorang ratu bernama Bulkis. Ia bersemayam di atas singgasana kebesaran yang amat indah. Tetapi sayang ia menyembah matahari". Mendengar uraian burung hud-hud itu Nabi Sulaiman berkata : "Akan kusaksikan kebenaranmu, atau engkau dusta. Coba sampaikanlah suratku ini kepadanya dan bagaimana sikapnya ?
Burung hud-hud itu pun segera terbang menuju istana Bulkis untuk menyampaikan surat tersebut. Membaca surat yang isinya mengajak bangsa Saba' untuk bertauhid, menyembah kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, ratu itu berkenan mengirimkan hadiah upeti. Namun, apa artinya upeti emas bagi Raja Sulaiman as. yang kaya raya itu. Kekayaannya sendiri telah melimpah-limpah tak terhingga. Bila memang tidak sudi meng-Esakan Tuhan, Jin ifrit sanggup untuk mengambil singgasana kebesarannya sebelum raja berdiri dari duduknya. Tetapi seseorang yang punya karomah telah meletakkan singgasana kebesaran itu di hadapan Raja Sulaiman as. dalam sekejap mata.
 
Artinya : Maka, tatkala ia melihat singgasana emas itu di hadapannya, berkatalah ia : "Ini adalah karunia Tuhan, untuk menguji diriku, akan bersyukurkah

aku atau tidak". Barang siapa bersyukur, sebenarnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Adapun siapa yang kufur, sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Pemurah".
(An-Naml, 40)
Tatkala Ratu Saba' berkunjung ke istana Raja Sulaiman as. ia tercengang, heran melihat singgasananya sendiri berada di situ. Bila mengambilnya? dan bagaimana membawanya? Dalam kekagumannya itu Raja Sulaiman as. menyilakan tamunya masuk ke dalam mahligainya, yang segera diturut oleh tamunya sambil menyingsingkan pakaian kebesarannya sampai ke atas betis, takut kalau-kalau basah kena air. Sang ratu cantik itu pun terpesona, otaknya masygul mendengar keterangan Raja Sulaiman bahwa yang beriak kemilau di hadapannya itu bukannya air, tapi marmer zabarjad, yang amat indah dan berkilau. Kini insyaflah ia, betapa kebesaran kerajaan Sulaiman as. yang diridloi oleh Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berkatalah ia :
Artinya : Sungguh kuaniaya diri pribadiku ini. Kini aku bersefah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan Alam Semesta.
(An-Naml, 44)
Dengan demikian, makin meluaslah kekuasaan Nabi Sulaiman, keluhurannya makin masyhur. Beliau wafat tatkala sibuk membangun masjidnya, yang sekarang disebut masjidil Aqsho, bersama sekalian rakyat dan tentara- tentaranya yang berbangsa burung, jin, air, angin dan lain-
lain. Demikianlah keluhuran, kebesaran dan kemuliaan bangsa Israil. Sejarah mencatat segalanya itu. Al-Qur'an pun mengisahkan dengan segala kebenarannya.
 

Artinya: Sesungguhnya Allah telah menerima janji setia Bani Israil dan Ku-bangkitkan di antara mereka 12 orang pemimpin.
(Al-Maidah, 12)
 

Artinya: Kemudian Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku beserta kamu. Jika kamu tegakkan sembahyang, kamu penuhi zakat, dan kamu percaya kepada semua Rasui-Rasu/ku; kamu bantu mereka, kamu berpiutang kepada Allah dengan piutang yang baik. Niscaya Ku-hapus segala dosa-dosamu dan pasti Ku-masukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai. Barang siapa di antaramu kufur sesudah itu, sungguh ia sesat ke lembah dina yang jahat.
(Al-Maidah, 12)
 

Artinya: Oleh karena mereka melanggar perjanjian itu, dengan sendirinya Ku-kutuk mereka. Dan Kujadikan hati mereka keras membatu. Dirubahnya kalimat-kalimat Allah (dalam Taurat, Zabur, dan InjH) yang tidak pada tempatnya. Dan mereka lupakan sama sekali di antara kitab yang memperingatkan mereka (Al-Qur'an).
(Al-Maidah, 13)
 

Artinya: Alangkah jahat perbuatan mereka, membeli dirinya dengan kekafiran yaitu kufur kepada apa yang diturunkan oleh Allah (al-Qur'an) kamu dengki, A Ha h menurunkan karunianya kepada hamba yang dikehendaki. Pantaslah mereka kembali mendapatkan murka yang berlipat ganda. Memang bagi orang-orang kafir tersedia adzab yang amat hinar.
(A!-Baqoroh, 90)
 

Artinya : Setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui (Al-Qur'an yang telah diterangkan dalam Taurat dan Injil), ingkarlah mereka kepadanya. Maka, laknat Allah jualah yang menimpa orang-orang kafir.
(AI-Baqoroh, 89)
Karena laknat dan kutuk, musnahlah kemuliaan bangsa Israil. Kejayaan dan keluhurannya hancur. Hidupnya ditimpa bencana sepanjang masa, menderita menjadi bangsa yang hina. Mengembara terlunta-lunta ke segala pelosok dunia, tiada bertanah air, tiada berwaton, karena laknat dan kutuk. Dan sejarah sebagai saksi. Sejarah berbicara : Bangsa Israil meninggalkan negerinya yang pertama karena di timpa oleh bahaya kelaparan yang amat jahat selama tujuh tahun. Bumi hangus oleh terik matahari, tumbuh-tumbuhan terbakar dan tanah menjadi tandus gersang. Untung imigrasi mereka diterima oleh Nabi Yusuf as., raja Mesir yang bijaksana. Tetapi sepeninggal Yusuf, Fir'aun berlaku kejam terhadap mereka. Semua laki-laki diperlakukannya sebagai budak, putri-putrinya diperlakukannya di luar tindak kehormatan manusia. Dan setiap bayi yang lahir harus menghadap hakim pedang untuk menghabisi nyawanya. Itulah laknat yang pertama, yang berlalu beberapa saat lamanya. Sejumlah jiwa besar melayang, menjadi korban penindasan Fir'aun yang memperlakukan mereka sebagai budak untuk mendirikan piramid-piramid. Cukuplah sudah penderitaan dan kesengsaraan yang mereka alami, semoga mereka bertaubat. Dan dengan rahmat Allah Yang Maha Kasih Sayang, pada abad 18 S.M. lahirlah Musa yang kemudian diangkat oleh Allah sebagai Rasul untuk memerdekakan bangsa Israil dari perbudakan Fir'aun. Bangsa Israil dibawanya kembali ke negerinya oleh Musa as. dengan bantuan Nabi Harun as., sehingga tak lama kemudian bangkitlah kerajaan Israil dan mengalami puncak kebesarannya di bawah Raja Dawud as. dan Sulaiman as. sebagaimana yang telah diuraikan.
Sepeninggal Nabi Sulaiman as., bangsa Israil berpecah belah dan melanggar perjanjian mereka dengan Allah. Syariat agama yang mereka terima dan tertulis dalam Taurat mereka tinggalkan, lagi kufur kepada Allah, maka, laknat dan kutuk yang kedua menimpa mereka. Pada serangan yang kejam oleh Nebukadnezar dari Babilon kira- kira abad ke 7 S.M. orang-orang lelaki dibunuhnya habis- habisan, anak-anak kecil dan orang-orang perempuan digiring sebagai tawanan ke Babilon. Di sana mereka diperlakukan pula sebagai budak. Itulah laknat dan itulah kutuk. Sampai datangnya Nabi Uzeir yang membangkitkan negeri Israil kembali dan mengajarkan kitab-kitab Taurat dan Zabur yang telah mereka lupakan. Namun, masa yang baik ini tidak berjalan lama. Para uskup dan pendeta berlaku ceroboh berani mengubah-ubah isi kitab-kitab suci untuk melindungi dirinya dari kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan, terutama dalam mengejar tahta dan kedudukan. Mereka tidak lagi mengindahkan nasehat-nasehat para Nabi yang diutus kepada mereka. Maka, menjelang permulaan abad Masehi, bangsa Israil dijajah atau ditindas oleh Kaisar Titus dari Roma. Pehderitaan yang tak tertahan akibat penindasan itu, banyak mereka yang mengembara
meninggalkan tanah airnya. Hidupnya terlunta-lunta menanggung adzab dan laknat yang ketiga. Seluruh Palestin dan tanah Israil dijajah oleh kerajaan Roma. Pada abad ke 7 M, negara-negara itu dimerdekakan oleh tentara Islam di bawah Kholifah Umar bin Khottob ra.. Mu'awiyah memindahkan ibukota Daulah Islamiyah ke Damasykus. Sehingga seluruh penduduk Israil dan Palestina memeluk agam Islam yang merdeka dan menghargai setiap hak umat manusia, yang jauh berbeda dengan perlakuan bangsa Roma yang beragama Kristen. Pada abad 11 - 13 M bangsa Eropa bersatu melakukan perang salib untuk merebut Palestin dari tangan orang-orang Islam. Tapi serangan itu dapat dipatahkan oleh Saladin, walaupun sementara waktu tentara Salib sempat mendudukinya. Dengan demikian berlarut-larutlah bangsa Israil terlunta-lunta tidak bertanah air. Mereka terlaknat dan terkutuk sampai abad kedua puluh ini. Bukankah yang demikian itu siksa dunia sebagai balasan mereka yang membangkang kepada Tuhan? Mereka terlalu berani berkonfrontasi dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka, bukan Tuhan yang amblas melainkan mereka sendiri. Mereka dapat kembali ke Israil baru pada tahun 1916 dengan bantuan gerakan Zionisme.

Tetapi dasar watak mereka yang loba dan tamak, diperasnya otak mereka yang dungu untuk merajai dunia. Konon, kabarnya bom atom Amerika yang terkutuk itu, yang melaknati Hiroshima dan Nagasaki pada akhir perang dunia II (1945) adalah hasil karya seorang berbangsa Yahudi, keturunan Bani Israil. Kutukan Tuhan tidak hanya ditimpakan kepada orang seorang saja, tetapi seluruh orang yang dholim pasti tertimpa pula. Kita umat Islam dapat mengambil pelajaran sejarah Roma dan nasib Kaisar Persi 15 abad yang lalu.
Semoga pelajaran itu bermanfaat bagi kita, karenanya marilah kita tinggalkan semua itu. Marilah kita kembali. Kembali kepada fitrah maanusia, kembali kepada Yang Memiliki diri ini, diri manusia; yaitu Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Artinya : Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan segala kerelaan dan suka hati, semoga dirimu direstui. Masuklah dalam kalangan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga- Ku. (At-Fajr, 27-30)
Artinya : Sungguh beruntung orang-orang yang menang dalam membersihkan jiwanya dan sungguh rugi orang-orang yang mengotorinya.
(Asy-Syams, 9-10)
Demikianlah siapa beruntung siapa merugi, siapa menang, siapa malang, siapa terbimbing (ke jalan Allah) siapa terkutuk karena berpaling. Demikian manusia penghuni dunia ini. Masing-masing tercatat dalam daftar, ia mencalonkan diri untuk menjadi calon penghuni surga harus memenuhi beberapa syarat-syaratnya. Syarat-syarat itu telah ditentukan oleh Pemilik Surga Yang Maha Agung, yaitu
berupa perintah dan larangan. Siapa taat menjalankan perintah-Nya dan taat menjauhi larangan-Nya berarti ia telah memenuhi syarat-syarat itu. Perintah dan larangan Pemilik Surga Yang Maha Agung itu bernama "SYARIAT". Pada zaman dahulu kala, syariat disesuaikan dengan kekuatan umat manusia pada waktu itu. Mula-mula syariat itu tertulis pada lembaran-lembaran seperti di zaman Nabi Adam as., Nabi Ibrahim as. dan lain-lain. Kemudian meningkat satu tingkat sya'riat itu berupa perjanjian (lama) seperti yang tertulis dalam Kitab Taurat di zaman Nabi Musa as. Sesuai dengan perkembangan umat manusia, maka, perjanjian itu pun diperbaharui. Dengan perjanjian baru itu, Nabi Isa membimbing kaumnya ke tata hidup yang baik agar bisa diterima di surga kelak. Dengan beberapa syariat yang telah diberikan kepada manusia lewat para Nabi, tetapi manusia tetap membangkang, merusak kehidupan masyarakat mereka sendiri dengan mengubah-ubah perjanjian-perjanjian itu. Maka, akhirnya oleh Allah Yang Maha Pengasih diturunkan satu syariat lagi sebagai pengganti syariat-syariat yang lama. Syariat itu tertulis dalam suatu kitab suci yang bernama al-Qur’an . Itulah syariat yang terakhir yang disampaikan kepada seluruh umat manusia untuk selamanya oleh Rasulullah, Nabi Besar Muhammad saw. Barangsiapa yang hidup di zaman akhir ini dan enggan mentaati perintah dan menjauhi larangan al- Qur'an berarti ia munkar dan membiarkan dirinya menjadi calon penghuni neraka. Itulah manusia yang terkutuk dan terlaknat. Kutuk dan laknat itu tidak hanya menimpa bangsa-bangsa yang besar saja, tetapi banyak pula menimpa golongan-golongan, penghuni-penghuni dusun, penghuni kota atau orang seorang,, yang berkeras kepala dan dholim. Tindak lakunya aniaya karena melupakan Tuhan Yang Maha Kuasa. Semua kejadian-kejadian itu adalah sejarah, dan sejarah tidak pernah melupakannya. Buat mereka yang terkutuk al-Qur'an menandaskan :
cu-w.^i) o'igj&fiL
Artinya : Inilah jahannam yang tersedia untukmu ! Masuklah engkau menghunikan jahannam hari ini juga, sesuai dengan kekufuranmu.
(Yaa-Siin, 63-64)
Bagi kita bangsa Indonesia dapat menarik pelajaran bagaimana tindak laku Amir dan Muso, PKI yang durhaka dengan Madiun Affairnya. Bagaimana Aidit Cs. PKI yang terkutuk karena G 30 S-nya. Itulah sejarah. Bisakah orang yang anti Tuhan berlaku jujur seperti yang diharapkan oleh rakyat yang menghunikan dunia ini? Tidak mungkin. Berbuat jujur adalah amat berat, tidak seringan apa yang mereka katakan. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang baik, dan melindungi diri kita dari bencana apa pun dan semoga Ia menjauhkan kutuk dan laknat-Nya daripada kita. Amien-amien ya robbalAalamien.



arifluqman682

  • Qudama
  • *
  • arifluqman682 No Reputation.
  • Join: 2016
  • Posts: 125
  • Logged
Re: Kutuk Dan Laknat
« Reply #1 on: 08 Aug, 2018, 12:49:18 »
setahu ane yang boleh mengutuk dan melaknat itu hanya Allah kan gan