Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Politik & Kenegaraan 
Revolusi Dalam Golongan Manusia
Pages: [1]

(Read 237 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1519
  • Logged
Revolusi Dalam Golongan Manusia
« on: 28 May, 2018, 18:36:47 »

Revolusi Dalam Golongan Manusia

Revolusi lahir karena penindasan yang terus- menerus dan berlarut-larut. Penindasan itu terkutuk karena ia menghisap dan menganiaya. Itulah yang disebut dholim. Dus, adanya revolusi adalah untuk menjebol kedholiman kemudian menegakkan keadilan dan kebenaran untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama yang tidak bertentangan dengan perikemanusiaan. Sehingga akan terwujudlah suatu masyarakat yang baik dan mencapai ke taraf hidup yang lebih tinggi.
Revolusi adalah karena keinsyafan dan kesadaran golongan tertindas yang kemudian bangkit dengan seksama, bergerak mengobarkan semangatnya melawan golongan dholim, yang pasti segera ambruk tidak mampu menahan arusnya revolusi.
Golongan revolusioner mendapatkan bimbingan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, karena umumnya mereka mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu takutlah kepada mereka, jangan suka menganiaya manusia, karena mereka akan bangkit melawannya. Dalam suatu hadits, Nabi SAW mengatakan :
 
Artinya : Takutlah kepada do'a orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tak ada hijab yang membatasi do'a itu kepada Allah.
(HR. Bukhori)
Justru dengan pertolongan Allah, golongan revolusioner yang teraniaya dan tertindas, akan menang. Tetapi bagaimana orang dapat memperoleh pertolongan Tuhan. Setiap revolusikah. Setiap golongankah. Setiap orangkah. Marilah kita membahas diri (pribadi) manusia. Menurut garis besarnya mereka dapat dibagi menjadi 3 golongan.
I. Golongan tertindas, terhisap dan teraniaya, yaitu golongan madhlum. Setelah mereka bangkit dengan seksama karena sadar dan insyaf, mereka bergerak secara revolusioner. Mereka berjihad menuntut kebebasan dan kemerdekaan serta mendobrak segala kedholiman dengan penuh tanggung jawab dan penuh keikhlasan, agar mendapat keridloan Allah dan pertolongan-Nya. Revolusi semacam inilah yang pasti berhasil dengan baik. Revolusi yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan Ilahiyah yang diwahyukan kepada para Nabi dan para Rasul-Nya pada zaman dahulu, seperti revolusi Nabi Ibrahim as. yang mendobrak pendewaan Namrud. Revolusi Nabi Musa as. yang membebaskan Bani Israil dari perbudakan Firaun Ramses II di Mesir yang akhirnya di telan oleh air laut Merah beserta bala tentaranya. Revolusi Nabi Isa as. yang mendobrak kemewahan raja-raja bangsa Romawi, yang menjajah Israil. Revolusi Akbar Nabi Besar Muhammad SAW. yang mengangkat umat manusia ke taraf hidup yang amat tinggi. Hidup parlementarisme dan merdeka lahir batin. Hidup berukhuwah dan tenggang menenggang seluruh umat manusia tanpa memandang bulu dan kelas, yang didasarkan kepada tauhid peng-Esa-an Tuhan dengan segala kebaktian dan pengabdian untuk mencapai kebahagiaan hidup bermasyarakat dalam suatu perikehidupan yang amat tinggi di dunia dan akhirat.
Untuk ini beliau saw. meninggalkan syariatnya yang tersimpul dalam kitab suci al-Qur'an dan Haditsnya, sebagai maraaji' dan sumber hukum dan sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, dunia ini tidak membutuhkan wahyu lagi. Segala persoalan hidup ini cukup dikembalikan kepada al-Qur'an dan Hadits Rasulullah SAW. Dalam suatu ayat-Nya yang terakhir al-Qur'an mengatakan :
 

Artinya : Hari ini telah Ku-sempurnakan agamamu, dan Kucukupkan nikmat karunia-Ku kepadamu, Akupun rela buatmu Islam sebagai agama.
(Al-Maidah, 3)
Dan sebagai bukti kebenaran dan keselamatan al-Qur'an, Allah berfirman :
 
Artinya : Sesungguhnya Aku telah menurunkan peringatan berupa (al-Qur'an), dan sesungguhnya Aku jualah Penjaganya.
(AI-Hijr, 9)

Justru itu setelah revolusi Akbar Nabi Besar Muhammad SAW., Allah tidak lagi menurunkan wahyu dan tidak pula mengutus seorang Nabi atau Rasul. Segala persoalan hidup dan tetek bengek cukup diserahkan kepada manusia, seperti sabda Rasulullah saw. dalam suatu haditsnya :

Artinya : Engkau lebih tahu tentang urusan duniamu. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Namun, Allah tidak melepaskan begitu saja, Ia tetap membimbing dan memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya yang Ia kehendaki. Dan adanya revolusi setelah Revolusi Akbar itu pun atas hikmat kebijaksanaan bimbingan Allah jua, agar manusia tidak keleswat lengah dan berlarut-larut dalam kesalahan dan penderitaan dalam lembah hidup yang sengsara. Tentunya pemimpin-pemimpin yang mendapat bimbingan taufik dan hidayah Allah SWT itu adalah beliau-beliau yang taqwa, ikhlas dan jujur dalam melaksanakan tugasnya, dan selalu bertahajud serta beristikharoh sepanjang malam, dan berjuang membanting-tuiang menuntut keridioan-Nya. Dengan taqwa mereka berani karena benar dan takut karena salah, seperti diisyaratkan dalam al-Qur'an :

Artinya : Muhammad adalah Utusan Allah. Dan orang-orang yang menyertainya (sahabat-sahabatnya) sangat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi amat kasih sayang terhadap sesama mereka sendiri, engkau lihat mereka bersama-sama ruku' dan sujud menuntut karunia dan keridloan Allah. Tampak pada muka mereka bekas-bekas sujud. Demikianlah penjelasan tentang mereka yang tercantum dalam Taurat, demikian pula dalam Injil, bagaikan tumbuh-tumbuhan yang subur mengeluarkan tunasnya yang lemah kemudian bertambah kuat dan besar, batangnya tegak /urus menjulang tinggi ke angkasa menakjubkan para penanamnya. Demikian pula orang-orang Islam. Biarlah mereka membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan orang-orang yang beriman kemudian mengamalkan kebaikan, suatu ampunan dan pahala yang besar.
(Al-Fath, 29)

Semoga revolusi kita, revolusi Indonesia yang multi kompleks, revolusi 45 revolusi yang didasarkan atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, termasuk pula revolusi yang diridloi Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun. Adapun revolusi yang dijalankan oleh orang-orang tertentu dengan tujuan tertentu pula pasti kandas. Revolusinya tidak karena kebenaran, melainkan karena kedengkian dan sentimentil belaka agar dapat mengeruk kenikmatan dunia.
Revolusi semacam ini hanyalah mengubah suatu pemerintah ke pemerintah yang baru yang tidak mengakibatkan perubahan apa-apa di kalangan rakyat. Bahkan kadang-kadang pemerintah baru itu lebih kejam dan lebih merugikan rakyat. Perasaan rakyat kian tertekan, kemerdekaanya kian berkurang, dan ekonominya kian tercekik. Revolusi demikian adalah dimurkai oleh Allah, dan yang demikian itu pasti terjadi di negara-negara yang bangsanya dholim dan aniaya.

II. Golongan manusia dholim, yaitu penindas, penghisap dan penganiaya. Mereka tidak kenal Tuhan bahkan anti kepada-Nya, Mereka tidak mengindahkan adanya hari pembalasan dan tidak pula takut kepada api neraka. Mereka tidak kenal perikemanusiaan, bahkan nafsunya mengadakan kolonisasi, dan imperialisasi. Menjajah dan memperbudak manusia agar dapat mengeruk kekayaan dunia sebanyak mungkin. Mereka Itulah orang-orang Kafir, musuh daripada revolusi.
Orang-orang kafir tidak ingin melihat kemaslahatan timbul di muka bumi ini. Karena kemaslahatan dan kebenaran hanyalah akan mengekang nafsunya, dan mengutuk kejahatannya. Karena itu mereka berkonfrontasi kepada Allah dan Rasulnya; begitu pula kepada orang-orang yang beriman (Mu'minin) yang memperjuangkan kemaslahatan dan kebenaran di muka bumi ini. Betapa pun orang-orang kafir tetap menutup telinga enggan mendengarkan ayat-ayat kebenaran itu. Mereka tetap memejamkan mata, enggan menyaksikan kenyataan-kenyataan kebenaran itu.

Artinya : Tuli, bisu lagi buta, mereka tiada berotak. (A!-Baqoroh, 17)

Artinya : Tuli, bisu lagi buta, mereka tiada tahu jalan kembali.
(Al-Baqoroh, 18)

Artinya: Orang-orang yang kafir lagi mendustakan ayat- ayat Kami, mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.
(A!-Baqoroh, 39)

Artinya : Barang siapa kufur kepada al-Qur'an dari bangsa apa pun maka, nerakalah tempat kembali mereka. Karena itu janganlah ragu-ragu kepadanya (al- Qur'an). Sungguh ia benar-benar dari Tuhanmu. Tetapi kebanyakan manusia tiada juga percaya. (Huud, 17)

Artinya : Siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang mendustakan Tuhan. Mereka akan dihadapkan kepada Tuhan (pada hari kiamat) dan semua saksi-saksi berkata : "Mereka itulah orang yang mendustakan Tuhan mereka", ketahuilah kutuk dan laknat Allah pasti menimpa orang-orang yang dholim.
(Huud, 18)

Artinya : Yaitu orang-orang yang merintangi Agama Allah dan berusaha membelokkan jalan itu, lagi pula mereka ingkar kepada hari kiamat.
(Huud, 19)

Artinya : Mereka tiada sanggup mengalahkan (menolak azab) Allah di muka bumi, tiada pula mempunyai pemimpin selain Allah juga. Berlipat gandalah siksa buat mereka, sehingga mereka tiada mampu mendengar dan tiada pula melihat.
(Huud, 20)

Artinya : Mereka orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan lenyaplah apa yang mereka ada- adakan dengan tangan mereka.
(Huud, 21)

Kita lihat usaha G 30 S/PKI. Segala persiapan yang jitu dan komplit dengan alat persenjataan yang lengkap pula, kini tiada berbekas sedikit pun. Yang kita dengar hanya kutukan semata. Kemana Aidit. Kemana Untung. Kemana lainnya. Mereka telah dihimpit tanah kuburnya, belum lagi betapa dahsyat siksa neraka di kemudian hari.
 

Artinya : Tidak dapat tidak, pastilah mereka lebih rugi di akhirat nanti.
(Huud, 22)
 
Artinya : Katakanlah (Hai Muhammad), Tuhan tiada peduli kepadamu (hai orang-orang kafir) walaupun hidupmu tanpa ibadat. Sungguh kamu te/ah berdusta. Maka, tidak dapat tidak, pasti akan menerima siksa neraka.
(Ai-Furqan, 77)

Nyata demikianlah ancaman Tuhan. Ancaman- Nya tidak mungkin dapat ditawar. Ia tidak ambil pusing lagi kepada orang-orang kafir yang anti Tuhan dan anti agama. Mereka tidak mempunyai pelindung dan penolong selain setan yang tak bertanggung jawab. Tidakkah lebih baik kita kembali. Kembali kepada Allah, berpegang teguh kepada agama-Nya yang lurus. Jalan yang menuju tercapainya kebahagiaan lahir batin dalam perikehidupan yang baik di dunia yang fana ini hingga di akhirat kelak. Toh sudah jelas dan nyata, mengangan-angan dan mengharapkan material yang bertumpuk-tumpuk, menimbun harta kekayaan yang melimpah-ruah hanyalah menyiksa diri sendiri. Material dan harta kekayaan yang bertumpuk-tumpuk hanyalah menambah beratnya beban hidup, yang tidak mungkin lagi mendatangkan kebahagiaan. Adalah suatu keajaiban, bila orang bangga dengan kerugian dan usaha yang sia-sia belaka. Segala angan-angan dan khayalannya selalu membeku dalam intip benaknya. Semua itu terjadi tidak lain karena kebodohan kita umat manusia. Al-Qur'an mengingatkan :
 
Artinya : Tidaklah kesenangan hidup di dunia ini, melainkan tipuan belaka (Ai-Hadid, 20)
Karena itu jangan sampai kita membabi buta, bermata gelap, keras kepala, dan memperturutkan hawa nafsu. Hawa nafsu hanyalah menjerumuskan manusia kelembah kejahatan, dan memang demikianlah kehendak setan yang terlaknat.

Aku bersaksi bahwa tak ada Tuhan yang patut disembah
kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW
utusan Allah.

Jangan ragu-ragu lagi. Karena ragu hanyalah menyesatkan belaka membuat kita rugi selama- lamanya. Akan tetapi, bila keraguan itu sukar juga hilangnya, baiklah kita membaca ayat di bawah ini, semoga hidayah membuka mata hati kita :

Artinya : Jika kamu tetap ragu-ragu kepada a!-Qur'an yang Kami turunkan kepada hamba-Kami (Muhammad), maka, buatlah satu surat saja yang seperti itu. Kemudian panggillah saksi-saksimu selain A Ha h, bila nyata kamu benar. Akan tetapi jika kamu tidak mampu membuatnya, dan tidak mungkin mampu membuatnya, maka, takut sajalah kepada api neraka yang bahan bakarnya terdiri daripada manusia dan batu yang disediakan buat orang- orang kafir.
(AI-Baqoroh, 23-24)

Orang-orang kafir bermacam-macam wataknya dan terbagi menjadi beberapa golongan pula, antara lain ada yang jahat dan sadis. Hatinya keras lagi dungu, benaknya beku berkepala batu. Mereka itu statis. Baik diberi ingat atau tidak, sama saja. Mereka tetap tidak mau beriman. Contohnya seperti Abu Jahal, di zaman Nabi. Dan di zaman kita seperti Aidit, Mao Tze Tung, Lenin, Stalin, dan semua Komunis yang anti Tuhan dan anti agama. Ada pula kafir musyrik yaitu yang bertuhankan batu, kayu, gumuk, arca, dewa, ruh, manusia dan lain-lain. Tindak laku mereka sama dengan orang-orang kafir yang tersebut di atas. Mereka tidak mendapat petunjuk dan hidayah Allah Tuhan Yang Maha Suci, sehingga senang menjadi penjahat, penghisap, penindas dan menjadi perusak yang berjalan di atas bumi. Itulah terjadinya imperialis-kolonialis yang mencekik urat nadi sesama manusia yang hidup. Semua mereka itu adalah musuh Allah dan Rasul-Nya.
Setelah Moskow jatuh dan ambruknya rezim Kremlin, rezim Komunis dunia, hegemoni Kapitalis Amerika merajai dunia. Petualangan George Bush sebagai raja teroris dunia berteriak teroris, seperti maling teriak maling, untuk menyelamatkan diri, melempar batu sembunyi tangan. Demikian memang sejak dulu, orang yang telah gila dunia.
Artinya : Mereka orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan lenyaplah apa yang mereka ada- adakan dengan tangan mereka.
(Huud, 21)
Adapun orang-orang kafir yang tunduk kepada orang-orang Islam, tidak mau menggangu keamanan dan ketentraman umum, tidak mau merintangi perjuangan agama, mereka disebut kafir dzimmi. Mereka wajib kita lindungi, kita hormati dan kita jamin keamanan hidupnya sesuai dengan ajaran Islam yang bersumberkan al-Qur'an dan Al-Hadits.

III. Sampai sedemikian jauh kita telah menemukan pribadi manusia yang diridloi Allah. Mereka itu adalah orang- orang yang beriman kepada-Nya, Dan kita telah tahu pula pribadi manusia yang dimurkai Allah. Mereka itu adalah orang-orang kafir beserta pembantu- pembantunya. Kini, marilah kita mengungkap pribadi manusia yang ketiga, yaitu orang yang lain perbuatan dengan tutur-katanya. Mereka itu ialah golongan plinplan, golongan berkepala dua. Mereka mengaku Islam tapi sebenarnya hendak merobohkan Islam. Seperti Abdullah bin Ubay bin Salul di zaman Rasulullah saw., mulutnya mendukung Islam tapi hatinya menentang keras kepada Islam, sedang perbuatannya sungguh merugikan umat Islam. Itulah golongan Munafik yang seperti ular berbisa berkepala dua, musuh dalam selimut yang sukar diterka. Sukar dilawan dan sukar dihantam. Hanya kewaspadaan dan kesabaranlah yang dapat menolong kita dari bahaya mereka. Mereka itu berkata kepada Rasulullah saw. :
Artinya : "Kami bersaksi, bahwasannya engkau Muhammad adalah Utusan Allah".
(A!-Munafiquun, 1)
Artinya : Padahal Allah mengetahui, bahwasannya engkau adalah utusan-Nya. Dan Allah bersaksi bahwa orang-orang Munafik itu sungguh berdusta. (Al-Munafiquun, 1)

Artinya : Mereka bersumpah agar terlindungi, kemudian mereka haiangi/rintangi juga agama Allah. Sungguh jahat apa yang telah mereka lakukan. (Ai-Munafiquun, 2)
Artinya : Yang demikian itu, sebab mereka te/ah beriman kemudian kafir. Maka dari itu ditutupnya mata had mereka, sehingga mereka tetap tidak bisa mengerti.
(Al-Munafiquun, 3)
Artinya : Jika kau lihat mereka, engkau tajub kepada tubuh mereka yang sehat. Dan bila mereka bercakap- cakap engkau dengarkan perkataan mereka seakan-akan mereka itu batang kayu yang tersandar. Mereka menyangka bahwa tiap-tiap suara membahayakan mereka. Mereka adalah musuh, maka waspadalah terhadap mereka I Allah pasti memusuhi mereka. Mengapa mereka berpaling.
(Al-Munaafiqun, 4)

Artinya : Apabila dikatakan kepada mereka : "Kemarilah, agar Rasul Allah memohonkan ampun buatmu !". Mereka menggeleng-gelengkan kepala. Dan tampak olehmu, mereka berpaling lagi dan juga berlaku sombong.
(Al-Munaafiqun, 5)
Artinya : Sama saja bagi mereka baik engkau mintakan ampun atau tidak. Allah tidak akan mengampuni dosa mereka. Sungguh Allah tidak suka memberi petunjuk orang-orang yang fasik.
(Al-Munafiquun, 6)
Artinya : Yaitu orang-orang yang mengatakan : "Janganlah engkau beri derma mereka yang mendukung Rasulullah, agar mereka melepaskan diri !". Padahal Allah memiliki perbendaharaan di petala- petala langit dan bumi. Akan tetapi orang-orang munafik itu tiada mengerti.
(A!-Munafiquun, 7)
 
Artinya : Kata mereka : "Bila kita kembali ke Madinah niscaya orang-orang bangsawan kita mengusir orang hina itu". Padahal kemuliaan itu milik Allah dan Rasui-Nya, dan juga milik orang-orang yang beriman, akan tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui (Al-Munafiquun, 8)

Artinya : Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal sebenarnya mereka hanyalah menipu diri sendiri, tetapi mereka tidak sadar. (A!-Baqoroh, 9)
 
Artinya: Dalam hati mereka terjangkit penyakit, maka, Allah menambah parah penyakit mereka. Lagi pula buat mereka azab yang amat pedih, sesuai dengan apa yang mereka dustakan.
(AI-Baqoroh, 10)

Artinya : Bila dikatakan kepada mereka : "Janganlah engkau berbuat bencana di atas bumi ini !". Mereka menjawab : "Sebenarnya kamilah yang berbuat jasa".
(AI-Baqoroh, 11)

Artinya : Ya tidak lain, sesungguhnya mereka adalah pembuat bencana, tetapi mereka tidak merasa. (Ai-Bagoroh, 12)
Artinya : Dan jika dikatakan kepada mereka : "Berimanlah sebagaimana orang-orang yang telah beriman". Mereka menjawab: "Buat apa aku beriman seperti orang-orang yang bodoh !". Padahal sesungguhnya justru mereka sendirilah yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.
(AI-Baqoroh, 13)
 
Artinya: Apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata : "Kami telah beriman". Tetapi bila kembali kepada durna mereka, mereka berkata : "Sungguh kami tetap di belakangmu" Apa yang kami lakukan hanyalah untuk mengolok-olok mereka.
(Al-Baqoroh, 14)
Artinya : Justru Allah-lah yang mengolok-olok mereka, dan membiarkan mereka ragu bimbang terlunta-lunta dalam kesesatan.
(AI-Baqoroh, 15)
Artinya: Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tiadalah beruntung jual beli mereka lagi pula tidak mendapat petunjuk.
(A!-Baqoroh, 16)
Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an yang dengan terus terang tanpa tedeng aling-aling mengungkap segala pribadi manusia. Manusia yang baik dan manusia yang jahat. Manusia yang baik ialah mereka yang mendapat petunjuk Allah dalam memperjuangkan hidupnya di dunia menuju akhirat. Mereka percaya dengan yakin adanya Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, karenanya mereka berserah diri (Islam) kepada-Nya. Manusia yang jahat adalah mereka yang tergolong Kafir dan Munafik. Kedua golongan ini adalah musuh golongan pertama. Keduanya amat benci kepada umat Islam dan berusaha dengan segala cara dan tipu dayanya, untuk menumpas mereka, tetapi selamanya orang- orang kafir dan munafik itu sendiri yang berantakan.
Bagaimana dengan orang Islam yang ternyata perbuatan mereka amat jahat. Amat ekstrim. Mereka itu adalah orang-orang fasik, orang-orang jahat yang tidak akan terhindar daripada siksa Tuhan. Mereka itu pun musuh Aliah dan Rasul-Nya, maka, harus kita berantas pula. Kini kita tahu, bahwa musuh Allah itu lebih banyak daripada mereka yang berserah diri. Pantaslah Allah mengatakan bahwa neraka pasti amat penuh dengan penghuninya. Dan itu pulalah sebabnya dunia ini selalu bergolak. Dunia tidak pernah absen daripada perang dan penderitaan. Benar pula perkataan Budha Gautama, bahwa dunia adalah samsara.
Marilah kita berdoa, semoga kita selalu terhindar daripada bahaya, terjaga daripada malapetaka dan fitnah, terlepas daripada segala derita dan kesengsaraan yang mengancam dunia, dan diakhirat mewariskan siksa.
Semoga dari Allah jua kita mendapat taufik dan hidayah- Nya. Amien.
Marilah kita kembali kepada persoalan kita di atas ialah revolusi dan pembangunan. Revolusi yang membangun dunia daripada kebobrokan-kebobrokan yang timbul karena kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang kafir, munafik, dan fasik. Segala gerakan segala tindakan, dan segala usaha bahkan semua revolusi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertuhan, orang-orang kafir, orang- orang munafik dan orang-orang yang fasik akan membawa bencana semata, yang mewariskan derita dan siksa dunia. Sebab itu, kita berdo'a semoga revolusi kita, revolusi Indonesia, revolusi 45 yang berdasarkan Pancasila, tidak terseleweng ke dalam golongan kafir, munafik dan fasik yang membawa bencana dan mewariskan derita, tetapi revolusi yang mendapat sinar (nur) revolusi Akbar Nabi Besar Muhammad saw., yang membimbing segenap rakyat untuk bertuhan. Justru dengan taqwa kepada Tuhanlah yang dapat menjamin kesejahteraan hidup lahir-batin. Adalah mukhal belaka, tidak mungkin terjadi orang menuntut kebahagiaan lahir saja, sedangkan batinnya dibiarkan menderita.
Demikian pula akan kandas dan gagal orang menuntut kebahagiaan dunia saja tanpa mengindahkan bekal hidup buat akhirat kelak, karena dunia ini penipu belaka. Memang manusia karena kebodohannya selalu tertipu. Tertipu oleh dunia, yang mereka kejar dan mereka tuntut. Sehingga umur mereka habis dan masuk ke liang kubur. Sanak kerabatnya bersorak gembira buat memperebutkan warisan hingga mereka saling bertempur. Itukah kebahagiaan yang mereka tuntut ? Naudzu billahi mindzaatik.
Kebahagiaan itu hanya dapat dicapai apabila tuntutan-tuntutan lahir dapat dipenuhi di samping tuntutan- tuntutan batin. Tuntutan lahir berpangkal kepada kesehatan yang bersandar kepada ekonomi, cukup sandang, cukup pangan, dan cukup papan perumahan. Sedangkan tuntutan batin berpangkal kepada kerokhanian yang bersumber dan bersandar kepada kasih sayang Tuhan Yang Maha Pengasih. Kita berbicara tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak akan lepas daripada perintah dan larangan-Nya, dan tidak lepas pula daripada pahala dan siksa-Nya. Dus tidak lepas pula daripada soal surga dan neraka, itulah akhirat. Islam cukup mampu mengungkap masalah ini, dari garis-garis besarnya sampai mendetail yang sekecil-kecilnya, asalkan benar-benar ingin mendalaminya. Dan Islam jugalah yang sanggup memenuhi tuntutan-tuntutan itu. Kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat dapat dicapai oleh siapa saja yang menginginkannya, asalkan suka mengamalkan syariat itu. Cobalah.
Islam mempunyai berjuta-juta susila dan sumber filsafah, yang tidak dimiliki oleh agama lain. Islam adalah gudang perbendaharaan dunia dan akhirat yang tidak dimiliki oleh agama lain. Untuk lebih mudahnya kita mengatakan "Islam lebih sempurna daripada yang lain".
Artinya: Islam itu luhur di atas segala keluhuran. (Bukhari Muslim)
Memang datangnya syariat Islam adalah sebagai pengganti syariat-syariat yang terdahulu, baik syariat Nabi Isa, syariat Nabi Musa atau pun lainnya. Dengan keridloan Allah, Islam menjamin jalannya revolusi kita, asal pemimpin- pemimpin kita yang melaksanakan dan menyetir revolusi itu tidak menyeleweng, karena taqwa dan insyaf akan tanggung jawabnya, dunia dan akhirat. Sesungguhnyalah tanggung jawab itu akan diajukan ke mahkamah Yang Maha Adil kelak.
Bagi kita bangsa Indonesia, revolusi adalah bertujuan menegakkan Kalimah Tauhid Tuhan Yang Maha Esa. Tugas yang kedua ialah mewujudkan adanya satu negara Republik Indonesia merdeka berdaulat berdasarkan Pancasila yang bersatu, berbangsa satu, berbahasa satu, bertanah air satu ialah Indonesia. Tugas yang ketiga ialah mewujudkan adanya suatu masyarakat yang sejahtera, yang berperi kehidupan yang tinggi, yang mencapai adil makmur, gemah ripah loh jinawi kertoraharja yang diridloi oleh Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun, dengan tidak melengahkan kekayaan mental dan spiritual demi kebahagiaan lahir dan batin. Tugas yang keempat adalah memelihara adanya suatu persahabatan yang baik dengan negara-negara tetangga dan dengan negara yang ada di dunia ini atas dasar hormat- menghormati satu sama lain untuk dapat membentuk bersama satu dunia yang aman damai dan sejahtera lahir batin, bersih dari segala macam kedholiman. Kedholiman itu tentunya dari penganut - penganut Abu Lahab dan Abu Jahal yang bodoh tidak tahu sejarah. Sejarah Abu Lahab sendiri jelas di kutuk oleh al-Qur'an :
 

Artinya : 1. Celakalah kedua tangan Abi Lahab dan sungguh celakalah ia (2) Tiadalah berguna harta kekayaannya, begitu pula apa yang telah ia usahakan (3) Nanti ia akan terjerumus ke lembah neraka yang menjilat-jilat apinya (4) Begitu pula perempuannya yang mengobarkan hasud dan fitnah (5) Pada tengkuknya melingkar jerat tali mencekik erat.
(Ai-Lahab, 1-5)
Bagaimana nasib Aidit yang telah mengumpulkan senjata-senjata Cung modern untuk menumpas umat Islam Indonesia dan membelokkan revolusinya untuk tindak kejahatannya. Nyatanya mereka tak mampu melepaskan jerat tali yang mencekik erat pada lehernya. Itulah sejarah. Sejarah kebiadaban yang dikutuk penghuni dunia ini selama dunia masih berputar. Tapi memang demikianlah sejarah revolusi. Setiap revolusi mendapat rintangan dan cobaan. Satu kali mengatasi rintangan berarti ia naik satu tingkat lagi, dan demikian seterusnya. Para revolusioner yang tengah berevolusi untuk menegakkan kebenaran dan keadilan tidak akan berhenti di tengah jalan. Revolusipun 
perjuangan hidup, karena itu harus diteruskan sampai dapat hidup yang serba cukup. Cukup makanan, cukup sandang, cukup tanah, cukup perumahan, cukup pendidikan rokhani dan mental, cukup pengetahuan, cukup minum seni dan kultur dan segalanya serba cukup, sehingga terwujud suatu negara yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, karta raharja yang diridloi oleh Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun.
Artinya : Negara yang baik dan diridloi oleh Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun.
(As-Saba', 15)
Untuk mencapai tujuan di atas harus diperjuangkan terus menerus, tetapi jangan lupa tujuan utama, ialah kembali menghadap Allah SWT. Dalam hal ini Rasulullah saw. menandaskan :
Artinya : Berjuanglah untuk menjamin kehidupan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya, dan berjuanglah untuk menjamin kehidupan akhiratmu, seakan-akan kamu akan mati besok pagi.
(HR. IbnuAsakir)

al-Qur'an -pun menyatakan :
Artinya : Tuntutlah kampung akhirat dengan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu. Tetapi jangan kau lupakan nasibmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi ini. Sungguh Allah tiada suka kepada orang yang merusak.
(Al-Ooshosh, 77)
Perjuangan hidup kita harus selalu meningkat ketaraf yang lebih tinggi. Karena pergerakan yang tetap berarti mundur. Apa pun yang mundur adalah beku yang berarti mati. Karena itu kita harus berani maju, bahkan kita harus berani merombak segala kekufuran yang menyelinap dalam dada. Kita harus berani merombak kenifakan yang meronngrong seisi dada. Dan kita harus berani merombak kefasikan yang mengotori isi dada. Itulah jihad besar, itulah revolusi pribadi yang maha berat, justru segala revolusi yang manapun berlandaskan pula kepada revolusi pribadi itu. Tatkala pulang dari perang Uhud tahun 3 H. Rasulullah saw. bersabda :

Artinya : Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar. Para sahabat bertanya : Alangkah dahsyatnya jihad besar itu? Jawab beliau : Jihad melawan hawa nafsu, (itulah revolusi pribadi)
(Al-Hadits)




arifluqman682

  • Qudama
  • *
  • arifluqman682 No Reputation.
  • Join: 2016
  • Posts: 125
  • Logged
Re: Revolusi Dalam Golongan Manusia
« Reply #1 on: 08 Aug, 2018, 13:15:08 »
kalau revolusi mental masuk kemana gan??