Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Lifestyle  Gaya Hidup Sehat 
Periksa MATA ANAK,Perlu Kacamata Atau Tidak?
Pages: [1]

(Read 370 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1531
  • Logged
Periksa MATA ANAK,Perlu Kacamata Atau Tidak?
« on: 16 Aug, 2018, 21:25:50 »

Periksa MATA ANAK,Perlu Kacamata Atau Tidak?

Anak-anak terlihat menggemaskan dengan kacamatanya.
Namun, tentu saja yang terpenting adalah merawat kesehatan matanya.
Penyebab Gangguan Penglihatan
Ada beberapa faktor penyebab anak-anak mengalami gangguan pada mata. Dr Virna Dwi Oktariana, SpM, Staf Ahli Divisi Glaukoma Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, mengurainya menjadi 3 faktor, yaitu keturunan, gangguan saat kehamilan, dan lingkungan.
Kelainan pada mata yang berhubungan dengan
keturunan atau genetik biasanya berhubungan dengan masalah panjang bola mata; kependekan atau kepanjangan. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kelainan ini, kecuali penggunaan kacamata yang biasanya tebal, lensa kontak, atau lasik.
Tentu saja anak-anak dari orangtua yang berkacamata belum tentu mengalami kelainan pada mata dan harus menggunakan kacamata. "Berlaku hukum genetik atau hukum Mendel juga. Bahkan bila kedua orangtuanya berkacamata, belum tentu anaknya kelak berkacamata, apalagi bila cuma salah satu saja yang pakai kacamata," jelas alumnus
 
Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Gangguan saat kehamilan, misalnya ibu hamil yang mengalami infeksi rubela atau tokso memberi peluang pada anak yang dilahirkan untuk mengalami kelainan jantung, gangguan pendengaran, dan gangguan penglihatan. "Mata anaknya kemungkinan bisa katarak," kata dokter yang melanjutkan pendidikan subspesialis mata di Royal Victoria Earand Eye Hospital, Melbourne dan di Royal, Perth, Australia. Masalah persalinan, seperti kelahiran prematur, juga bisa jadi penyebab kelainan atau gangguan mata pada anak.
Selanjutnya, faktor lingkungan berupa gaya hidup anak, dapat memberi andil pada gangguan mata. Aktivitas anak-anak masa kini yang lebih bersifat indoor (dalam ruangan), seperti menonton televisi, bermain Playstation atau gadget lainnya, berpengaruh pada kesehatan mata mereka. "Berdasarkan penelitian, fokus jarak dekat seperti itu memengaruhi refraksi," kata dr Virna. Pada refraksi normal, bayangan jatuh tepat di retina mata sehingga pandangan jelas.
 
Sementara kelainan pada refraksi, bayangan tidak fokus tepat pada retina mata, pandangan pun jadi kabur.
Aktivitas jarak dekat, seperti membaca, main game, atau di depan komputer berjam-jam, membuat akomodasi mata semakin kuat sehingga harus dikompensasi dengan kacamata minus. Kecenderungan gaya hidup yang demikian terbukti membuat sebagian orang harus menggunakan kacamata minus.
Pemeriksaan Mata Anak
Pada bayi baru lahir sampai anak-anak usia 6 tahun, kemampuan matanya mesti terus dirangsang agar penglihatannya bisa optimal. Bila ada faktor keturunan yang kuat, masalah pada kehamilan dan persalinan, maka sebaiknya mata anak segera diperiksa.
Tak perlu menunggu anak bisa mengenali gambar atau membaca untuk melakukan pemeriksaan. Ada teknik streak retinoskopi yang bisa memeriksa mata seseorang tanpa memperlihatkan gambar atau huruf. "Tapi memang kalau periksa bayi itu susah. Biasanya kita anjurkan usianya sudah 1 tahun ke atas, sudah bisa duduk tenang saat dokter memeriksa matanya dengan alat yang memancarkan sinar."
Selain curiga adanya faktor yang memungkinkan anak mengalami gangguan penglihatan, orangtua juga mesti mewaspadai terjadinya gangguan bila anak-anak harus memicingkan mata saat melihat atau saat menonton televisi maunya dari jarak dekat saja. Anak memicingkan mata untuk mengatasi gangguan refraksinya.
 
Untuk gangguan penglihatan ringan, misalnya minus di bawah 6, pemeriksaan di optik sudah memadai. Sedangkan untuk gangguan berat, apalagi bila ada kelainan penyerta, baiknya diperiksakan ke dokter spesialis mata.
Bila Harus Pakai Kacamata
Gangguan mata yang tidak segera diperiksa akan memengaruhi penglihatan anak dan mengganggu aktivitasnya. Penggunaan kacamata memang solusi yang paling umum untuk gangguan mata, seperti mata minus. Pemakaian lensa kontak cukup berisiko menimbulkan infeksi karena kebanyakan anak belum bisa disiplin dalam hal kebersihan. Tapi kalau anak sudah mengerti cara merawat mata dan kebersihan, tak apa lensa kontak diberikan pada anak.
Saat ini berbagai bentuk kacamata yang menarik untuk anak sudah tersedia. Namun dr Virna menganjurkan penggunaan lensa plastik karena lebih ringan dan tidak mudah pecah, walau mudah tergores. Tentu saja orangtua harus mengajarkan anak cara merawat kacamatanya. "Kalau lensa plastik, bila kotor jangan langsung dilap. Caranya, kasih air sabun supaya debu yang bisa menggores hilang. Setelah itu baru dilap," sarannya.
Ada anggapan, sekali pakai kacamata minus, terutama pada anak-anak, maka tiap tahun akan terus bertambah minusnya. Padahal tidak demikian. Kelainan refraksi dan kelainan panjang bola mata mengikuti pertumbuhan tubuh kita. Jadi, ketika badan tumbuh, matanya juga tambah besar. Refraksi dan panjang bola mata pun bertambah sehingga seolah minus juga bertambah besar. Pertumbuhan ini akan stabil pada usia 18 tahun untuk anak perempuan dan 20 tahun untuk anak laki-laki.
Hal yang penting, rutin memeriksakan mata demi kesehatan dan kenyamanan penglihatan. Paling tidak setahun sekali untuk anak-anak dan dua tahun sekali orang dewasa berusia 40 tahun ke atas.