Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Lifestyle  Travelling 
BARUS Kota Bertuah Yang Terlupakan
Pages: [1]

(Read 238 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1925
  • Logged
BARUS Kota Bertuah Yang Terlupakan
« on: 17 Aug, 2018, 10:49:33 »

BARUS Kota Bertuah Yang Terlupakan


Barus, sebuah bandar yang pernah tersohor ribuan tahun lalu, banyak disebut dalam berbagai kronik dan literatur Cina, Yunani, Arab, dan lainnya. Zaman dahulu daerah ini dikenal dengan nama Fansur. Sementara -Tsing, penjelajah terkenal dari Cina, menamai wilayah mi dengan istilah Po-Low-Che atau Pulausen.
ekitar 12 ribu tahun sebelum Masehi, para pedagang dari berbagai penjuru dunia datang ke Barus untuk mencari kamfer (bahasa Belanda untuk kapur barus/kamper), kemenyan, emas, pinang, dan hasil bumi lainnya. Barang- barang itu dibawa pelaut- pedagang ke jazirah Arab dan belahan dunia lain. Konon, mayat Firaun dibalsem menggunakan kamper dari Barus. Sejak zaman Nabi Musa dan Nabi Sulaiman, kamper dan kemenyan didatangkan dari Barus. Bahkan Nabi Sulaiman memerintahkan rakyatnya pergi ke Barus tiga kali dalam
 
setahun untuk membeli emas, kayu cendana, gading gajah, dan rempah-rempah.
Sederet fakta itu membuktikan bahwa Barus adalah kota dan sekaligus bandar yang masyhur, yang memiliki peran penting dalam perdagangan internasional di masa lampau. Sebuah lembaga penelitian dari Prancis berasumsi, pada sekitar abad ke-6, Barus termasuk kota pelabuhan terkenal di dunia. Sejak abad 9-12, Barus telah pula menjadi daerah multietnis. Hal ini didasari banyaknya temuan artefak berusia ratusan tahun di daerah LobuTua.
 
Namun, kejayaan Barus tinggal kenangan, la kini hanya kota kecil di tepi barat Suma- tera, tepatnya di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Perjalanan menuju Barus, dari Kota Dolok Sanggul di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) memakan waktu kurang lebih tiga jam. Kondisi jalannya yang cukup ekstrem membuat pengemudi harus ekstra hati- hati. Jalur lain yang kondisinya lebih baik untuk memasuki Barus adalah melalui Sibolga.
Awal Masuknya Islam
Barus diakui sebagai daerah awal masuknya peradaban Islam di Nusantara. Ini ditandai dengan banyaknya kompleks pemakaman Muslim yang tersebar di sana, termasuk makam 44 aulia. Pelaut dan pedagang Muslim dari jazirah Arab sudah
 masuk ke Barus sejak awal acad 7. Selain berniaga, mere- *3 juga menyebarkan Islam.
Dua lokasi makam terkenal menjadi destinasi wisata -^ gius-sejarah adalah kom- r-eks Makam Papan Tinggi dan Makam Mahligai. Lokasi kom- r>eks Makam Papan Tinggi --nayan menantang. Letaknya r ouncak bukit dengan keting- ; an 200 mdpl. Di sini, terdapat -akam Syeikh Mahmud, saha- cat Nabi Muhammad saw yang ratang untuk menyebarkan sam. Panjang makamnya seatar 7 meter. Bahkan disebut- <an, dahulu ukurannya lebih ranjang lagi.
Dari puncak bukit, selain ■nelihat samudera memben- 3ng, kita bisa melihat Pulau Mursala. Pulau ini juga memiliki «Jsah terkait penyebaran Islam di Nusantara. Pada tahun 627, 'iabi Muhammad mengutus i'.ahab bin Abu Kabsah untuk menyebarkan Islam. Wahab ;mggah di pulau ini dan mem- oerinya nama Morsala.
Menurut penuturan warga setempat,'moor'berarti bangsa Arab dan 'sala' berarti shalat, yang artinya pulau tempat orang Arab shalat. Namun, dalam buku Miscellaneous Works ofWilliam Marsden 1834), moors atau mauros adalah istilah untuk Melayu.
Sedangkan di kompleks Makam Mahligai yang lokasinya cukup mudah ditempuh, terdapat banyak makam tua yang usianya ratusan tahun. Salah satunya, makam Syeikh Rukunuddin yang wafat pada tahun 672 Masehi.
Hal yang menarik, menurut beberapa sumber tertulis, jenis batu nisan yang ada di kompleks ini konon didatangkan langsung dari jazirah Arab. Selain itu, tak jauh dari Makam Mahligai, ada pemakaman umat Kristiani. Tanpa gembar-gembor, Barus telah mencontohkan keberagaman yang indah dan harmonis bagi Indonesia.
Layaknya Kota Mati
Tempat lain yang bersejarah di Barus adalah bekas benteng Belanda dan gereja tua yang masih tegak berdiri di samping lapangan sepak bola. Kondisi benteng cukup memprihatinkan, hanya tinggal sisa dan telah diselubungi semak belukar.
Dalam bidang linguistik, Barus pun memiliki sejarahnya sendiri. Herman Neubronner van derTuuk, orang yang pertama kali membuat kamus bahasa Batak, Bali, Lampung, dan daerah lain di Nusantara, pernah menetap di Barus. Banyak surat yang ditulisnya bertitimangsa di Barus.
Sayang, kondisi Barus saat ini jauh berbeda dengan
 
serangkaian fakta sejarah di atas. Barus kini nyaris seperti kota mati. Mereka yang pernah membaca sejarah Barus mungkin tak menyangka, jejak sejarah itu tidak mereka temukan. Kita hanya akan menemukan rumah-rumah tua berwajah murung, pasar kecil di pusat kota, dan lingkungan yang lengang. Bahkan kita bakal sulit menemukan kamper. Penduduk setempat pun mengaku sulit menemukan pohonnya.
Juga, bersiaplah kecewa jika hendak mencari dermaga, penanda sederhana kejayaan bahari Barus. Sebab, kita hanya akan menemukan besi-besi bekas dermaga yang tertanam dan menyembul sedikit di tepi pantai. Bibir pantai telah dilebarkan oleh pemerintah setempat beberapa tahun lalu, untuk menghindari laut pasang.
Barus, kota tua, kota bertuah. Namanya pernah harum ke penjuru dunia, namun kini kondisinya memprihatinkan. Perlu ada upaya revitalisasi sejarah kejayaan Barus masa lampau sebagai bagian sejarah Nusantara. Memang, kita tak hendak hidup dalam sejarah atau masa silam, tapi setidaknya kita bisa memetik hikmah darinya.