Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Tafsir 
Pembelaan Bagi Yang Benar
Pages: [1]

(Read 112 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1519
  • Logged
Pembelaan Bagi Yang Benar
« on: 18 Aug, 2018, 09:29:15 »

Pembelaan Bagi Yang Benar

Tafsir Surat An-Nur Ayat 25-26

“Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”
(QS An Nur [24]: 25-26)

Pada ayat sebelumnya, Allah swt menjelaskan ancaman-Nya bagi para pelaku fitnah.
Bahwa mereka tetap terancam di dunia dan di akhirat. Di dunia mereka akan tercekam kegelisahan karena telah merusak nama baik orang lain. Apalagi bila orang yang difitnah itu memang benar-benar bersih dan tidak bersalah. Maka suatu saat kebohongan yang ditutup-tutupi itu akan terungkap.
Para pelaku fitnah itu secara diam-diam tetap dalam kondisi ketakutan yang tidak pernah selesai karena mereka selalu khawatir tuduhan bohong tersebut kelak terungkap. Adapun di akhirat, Allah pasti akan menampakkan segala rekayasa mereka dan mendatangkan saksi-saksi dari anggota tubuh mereka sendiri sehingga mereka menerima azab yang pedih.
Lalu pada ayat ini Allah swt memastikan
bahwa balasan tersebut, jika tidak mereka alami di dunia, di akhirat pasti akan terjadi. Karenanya dalam Al-Qur'an, masalah akhirat adalah masalah yang sangat fundamental. Allah bukan saja menyisipkan pesan tentang akhirat dalam setiap surah tetapi juga menurunkan surat-surat khusus dengan nama-nama hari kiamat. Bahkan lebih detail lagi, Allah menurunkan surat-surat khusus yang menggambarkan saat-saat terjadinya kiamat, seperti surah At-Takwir, Al-lnsyiqaq, dan Al-lnfithar. Sampai-sampai Rasulullah saw menjelaskan, siapa yang ingin melihat peristiwa hari kiamat seakan di depan mata, maka bacalah ketiga surat tersebut.

Ketetapan Final
Allah swt berfirman, "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan (diinahum) yang setimpal menurut semestinya (bilhaq), dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang Menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)." Kata "ad-diin" dalam ayat ini maksudnya adalah balasan. Dengan kata lain, bahwa di hari kiamat nanti Allah akan memberikan balasan atas mereka yang berbuat fitnah sesuai dengan kadar dosanya. Sedangkan kata "bil-haq" mengandung beberapa indikasi: (a) maknanya, bil 'adli (dengan adil dan tegas), tidak ada perubahan karena kepentingan; (b) maknanya, dengan tetap dan paten. Tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki masa lalu yang sudah telanjur berlumur dosa dan kekafiran. Sebab, akhirat tempat balasan tanpa ada amal, sementara dunia tempat amal tanpa ada balasan; (c) maknanya, dengan final, sebab Allah satu-satunya yang punya ketentuan.Tidak ada Tuhan selain-Nya yang bisa mengubah ketentuan tersebut.
Jadi ketetapan hukuman Allah di akhirat bagi mereka yang membuat fitnah adalah ketetapan yang final, paten dan tidak bisa diganggu- gugat siapa pun. Inilah makna kata “bil-haq" yang Allah tegaskan. Mengapa? Sebab hanya Allah satu-satunya Tuhan. Selainnya hanya makhluk. Maka ketetapan- Nya adalah ketetapan yang final dan mutlak kebenarannya. Dengan kata lain, bila Allah j swt dalam Al-Qur'an menetapkan sebuah ketetapan, itu artinya ketetapan yang
tidak mungkin bisa diubah. Itulah rahasia mengapa setelah surat Al-Lahab, langsung surat Al-lkhlash. Itu untuk menunjukkan bahwa ketetapan terhadap Abu Lahab sudah dikunci mati oleh Allah, karenanya tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya.
Dengan ayat ini seakan Allah swt mengatakan, wahai para pelaku fitnah janganlah kalian merasa aman, sebab di akhirat hukuman pasti akan menimpa kalian. Di dunia kalian bisa bersembunyi di balik kekuasaan dan pasukan, padahal seharusnya kalian terkena hukuman qadzaf, tetapi di akhirat kalian tidak akan bisa menghindar sama sekali dari azab-Ku yang pedih.

Dua Bukti Pembelaan
Dalam ayat di atas, selain berisi ancaman terhadap pelaku fitnah, Allah juga memberikan dua pembelaan pada wanita yang difitnah (Aisyah ra). Pertama, bahwa di antara asas utama pernikahan adalah at takafu' (sepadan dalam visi keimanan dan ketaatan). Firman-Nya, "Wanita- wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita- wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan
laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)". Di ayat sebelumnya (QS An-Nur: 23) hakikat ini sudah dipertegas, "Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin." Artinya, tidak mungkin pribadi semulia Rasulullah saw hidup satu rumah dengan wanita kotor dan pezina. Seakan Allah swt mengatakan bahwa tuduhan zina itu tertolak secara fitrah, sebab kalau Aisyah seorang pezina, ia tidak mungkin dinikahi Rasulullah saw yang suci. Maka dengan dinikahi Rasulullah saw, jelas bahwa Aisyah ra adalah wanita suci.
Kedua, Allah yang Mahatahu memberikan penegasan akan kesucian Aisyah ra, firman-Nya, "Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu).
Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)." Ayat ini khusus membela Aisyah dan Shofwan bahwa mereka benar-benar tidak melakukan zina sebagaimana yang dituduhkan. Bila Allah swt yang k memberikan pembelaan, ini pasti objektif dan final. Tidak ada seorang pun yang bisa membantahnya, sebab Allah swt Mahatahu peristiwa sebenarnya.