Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Lifestyle  Pengobatan Alternatif 
Pengobatan Cara Nabi Dan Modern Seiring
Pages: [1]

(Read 235 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1933
  • Logged
Pengobatan Cara Nabi Dan Modern Seiring
« on: 18 Aug, 2018, 10:26:45 »

Pengobatan Cara Nabi Dan Modern Seiring

Apakah pengobatan ala Nabi berarti anti terhadap dokter dan obat kimia?
P
engobatan ala Nabi [thibbun nabawi), menurut Aiman bin Abdul Fattah, merupakan semua metode pengobatan yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw kepada orang yang sakit tentang apa yang beliau ketahui berdasarkan wahyu. Karena berdasar wahyu, thibbun nabawi diyakini memiliki derajat kepastian yang meyakinkan dibanding metode pengobatan lain yang berdasarkan perkiraan, dugaan, dan percobaan.
"Banyak orang sakit yang tidak merasakan manfaat pengobatan nabawi, karena yang bisa mendapatkan manfaat tersebut adalah mereka yang mau menerimanya sepenuh hati, dengan keimanan, kepatuhan, dan yakin akan diperoleh kesembuhan. Al- Qur'an merupakan penyembuh, jika tidak diterima sepenuh hati, tak akan bisa menyembuhkan berbagai
penyakit hati, bahkan tidak menambahkan kepada orang- orang munafik selain dosa- dosa dan penyakit yang bertumpuk-tumpuk," tulis Aiman dalam bukunya, Keajaiban Thibbun Nabawi.
Metode pengobatan dalam thibbun nabawi, urai Aiman, mencakup bekam, madu, habbatussauda (jintan hitam), minyak zaitun, kam'ah (semacam cendawan yang tumbuh di daerah tertentu), itsmid (celak), talbinah (air rebusan sejenis gandum), qusthul bahri (sejenis jahe, beraroma tajam dan pahit rasanya).Termasuk, cara makan Rasulullah, misalnya tidak memakan jenis makanan tertentu secara bersamaan, tidak makan buah setelah makan, makan dengan tiga jari, dan lain-lain.
 
Tak Langgar Syariat
Sedikit berbeda dengan Aiman, pemilik Klinik Sehat dr Agus Rahmadi menyatakan bahwa thibbun nabawi adalah segala jenis pengobatan, baik yang diperintahkan dan dicontohkan Rasulullah saw maupun tidak diperintahkan dan dicontohkan beliau namun tak bertentangan dengan syariat Islam. Berdasarkan definisi ini, yang disebut thibbun nabawi bukan sekadar metode pengobatan berupa rukyah, bekam, atau menggunakan madu dan habbatussauda, namun juga akupunktur, refleksi, dan berbagai ilmu pengobatan modern.Termasuk pula perilaku Rasul yang berpengaruh pada kesehatan, seperti tersenyum, puasa, dan tahajud.
"Jadi jika ada orang dengan alasan thibbun nabawi menjadi anti dengan obat kimia, itu salah. Yang jadi masalah adalah kandungan haram dalam obat, yakni penggunaan babi dan narkoba yang banyak digunakan dalam dunia kedokteran. Seharusnya obat dengan bahan haram tersebut tak boleh dipakai, kecuali dalam keadaan darurat,"jelas Agus.
Dokter umum sekaligus praktisi herbal ini mencontohkan, pasien yang mengalami kejang perlu diberi obat untuk meredakan kejang tersebut. Namun, untuk pasien yang demam, tidak harus langsung diberi obat kimia. Demikian juga mereka yang mengalami kecelakaaan berat, berdarah dan harus dijahit, harus dibawa ke rumah sakit, dijahit, bahkan dioperasi.
"Masalahnya bukan pada antiobat, namun barang yang dimasukkan ke tubuh haram atau tidak.Tindakan yang dilakukan dokter menggunakan metode yang haram atau tidak? Sebagai Muslim, kita harus selalu mengupayakan mengambil tindakan penyembuhan yang syar'i atau tidak melanggar syariat," ujarnya.
Menurut Agus, pengobatan thibbun nabawi idealnya berjalan sinergis dengan metode pengobatan lain dan harus dilakukan oleh ahlinya. Jangan sampai pasien ditangani dengan metode yang tidak tepat. Misalnya, pasien anemia tentu tidak tepat jika dirukyah, melainkan diberi obat penambah darah yang halal, atau mengonsumsi herbal dan makanan penambah darah.

Allah, Sumber Ilmu
Adanya sekelompok orang yang mempertentangkan
kedokteran modern dengan thibbun nabawi, dalam pandangan dr Piprim B Yanuarso
SpA (K), sebenarnya itu tak perlu terjadi. Menurutnya,
Allah swt menurunkan ilmu melalui dua jalan, yaitu melalui wahyu dan langsung kepada manusia. Ilmu berdasar wahyu memiliki ciri umum dan lebih bersifat preventif (pencegahan). Sedangkan ilmu yang diturunkan langsung, melalui penelitian dan percobaan dan bersifat relatif atau kebenarannya diakui sampai ada penemuan lain yang lebih baik.
"Bagi mereka yang memilih mencukupkan diri dengan pengobatan Nabi, seperti minum madu dan habbatus- sauda, atau bekam, selama kondisi sakitnya ringan, dalam tiga hari pertama masih bisa ditoleransi. Tapi jika sakitnya sudah parah, jantung misalnya, harus ke dokter. Karena Rasulullah saja pernah memang
gil tabib saat ada sahabat yang sakit,"jelas Piprim dalam jejaring sosial pribadinya.
Pandangan yang menganggap bahwa ilmu kedokteran tak sejalan dengan thibbun nabawi juga kurang tepat. Sebab, justru ilmu kedokteran modern yang kini berkembang dipelopori oleh ilmuwan Muslim. Sebut saja, Zahrowi (bapak ilmu bedah dan menjadi panutan para dokter bedah di Eropa), Al Biruni yang menulis Kitab Ash Shaidanah fith Thibb (tentang batu-batuan perak yang berkhasiat dalam pengobatan), serta Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapak kedokteran dan penulis buku yang terbaik, Al Qanun fith Thibb (Canon of Medicine).
Dengan berbagai argumen tersebut, masih tepatkah anggapan bahwa thibbun nabawi bertentangan dengan kedokteran modern?.