Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hiburan  Motivasi 
KYAI NDAS DAN MAT SIKIL Katanya Islam...
Pages: [1]

(Read 207 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1519
  • Logged
KYAI NDAS DAN MAT SIKIL Katanya Islam...
« on: 28 Aug, 2018, 19:44:10 »

KYAI NDAS DAN MAT SIKIL Katanya Islam...

Tergopoh-gopoh Kyai Ndas langsung menyergap Mat Sikil di ujung jalan. Sepeda bututnya, parkir di tengah jalan-tak menghiraukan jalanan padat usai pasaran Selasa kliwon. Becak, sepeda motor, mobil angkutan sayur, dan belasan angkot terpaksa berhenti. Bukan karena dipalang sepeda itu, tapi menghormati Kyai Ndas dengan suara lantangnya yang bergemuruh.
“Kil, jangan sombong! Sampeyan hanya lilin yang menantang matahari. Bahkan bila engkau meramu malam dengan candle light, kemesraan ruhani-mu harusnya lebih terang. Sungguh Kil, tak ada malam di semesta ini. Ia hanya siang yang ditutupi,” marah Kyai Ndas kepada muridnya itu.
Mat Sikil hanya terdiam-senyap. Kepalanya menunduk, matanya berkaca- kaca. Bibir yang sedari tadi ‘ramai’ berdiplomasi di depan mimbar, kini terkunci rapat.
Sementara itu, nafas Kyai   ll
Ndas ngos-ngosan, naik turun tak
beraturan. Matanya terus melotot tajam ke arah Mat Sikil. Seolah mau melumat muridnya itu dihadapan warga-yang juga terdiam mendengarkan makian khas Kyai Ndas.
“Sampean mesti ingat Kil! Dunia ini penuh oleh terang buatan orang-orang
yang mengira dirinya
cahaya.”
Acungan jari telunjuk Kyai Ndas, tepat di muka Mat Sikil.
“Sampean ini hanya kaca, bukan cahaya. Sampean hanya lempengan pemantul, bukan sumbernya!
Kalau orang membungkuk-bungkuk dan menciumi tanganmu karena mengagumimu, sesungguhnya bukan kamu yang dikagumi. Kamu hanya petugas yang mengantarkan sesuatu yang dikagumi oleh nurani manusia. Kalau kamu menyangka bahwa sesuatu itu adalah kamu sendiri, kamu akan hangus terbakar!” buncah Kyai Ndas, yang kali ini membongkar tangis Mat Sikil dan membuat terdiam warga lainnya semakin dalam.
Siang itu, di jalanan padat itu, seolah hanya ada suara makian Kyai Ndas dan dering smart phone-nya. Selebihnya, senyap sepi.
“Omonganmu tadi di atas mimbar, seolah sampean ini mau menantang ‘matahari’” tegas Kyai Ndas-sambil menatap warga yang menontonnya. Sorotan matanya yang tajam, jelas membuat tertunduk orang-orang yang berpapasan dengan mata Kyai Ndas.
Dering smart phone-nya, membelah sunyi lagi. Kali ini, terpaksa Kyai merogoh
sakunya.
Dilihatnya berkali-kali dan ia pun lantas menuju sepeda bututnya.
“Bagaimana bisa menantang 'matahari’, Iha wong masih butuh terjemah; tafsir, ta’wil dan penjelasan-penjelasan lanjutan atas satu kata yang membingungkan. Jangan kira kepandaianmu itu yang lantas bisa menterjemahkan semuanya. Padahal, itu uraian kesesatan, klise, janji palsu hasil dari imajinasi liar” berang Kyai Ndas berseloroh pergi meninggalkan taklim (pengajian) dadakan di tengah jalan itu.
Mat Sikil duduk lunglai dipopoh beberapa warga ke tepi jalan. Bangku kotor milik tukang tambal ban, di dudukinya untuk sementara sambil mengatur nafasnya.
Warga perlahan bubar. Tidak ada salam-salaman, tidak ada tawa kecil. Bubar jalan tanpa komando itu diiringi langkah gontai warga.
Mat Sikil menundukkan kepalanya, hanyut dalam pelajaran tingkat tinggi yang disampaikan sang kyai. Makian penutup tausiyah
seperti lembut menyapa telinganya.
Masuk Islam Lagi
Sore harinya, Mat Sikil mengunjungi pendopo Kyai Ndas. Jelas ia hanya membawa segudang kata maaf atas kelakuannya itu tadi siang. Rupanya di pendopo sudah ada warga lainnya yang sedang mantuk- mantuk mendengarkan tausiyah Kyai Ndas.
Tanpa salam keras, Mat Sikil langsung ambil posisi di barisan paling belakang. Seolah tidak mau mengusik keasyikan warga lainnya. Juga, sambil menunggu hujan amarah Kyai Ndas reda dan berharap tidak diulanginya lagi di majlis.
Rupanya Kyai Ndas tahu saja gerak-gerik santrinya itu. Padahal tidak ada sejarahnya Kyai Ndas mengulangi tegurannya, setelah ia puas ‘berorgasme’ marah pada satu kesempatan.
“Kil!” tegur Kyai Ndas.
“Ke depan!”
“Sampean sudah baca syahadatain belum?”
Mat Sikilpun melangkah ke depan.
“Anu kyai, sudah kyai” jawab Mat Sikil sambil tertunduk lesu, berharap Kyainya itu tidak memarahinya lagi.
“Kapan?” tanya Kyai Ndas.
“Sejak saya lahir kyai” jawab Mat Sikil datar.
“Oke, kalau begitu sampean baca syahadatain lagi,” pinta Kyai Ndas.
Otak Mat Sikil masih berirama tak beraturan. Antara apa, kenapa dan bagaimana kok bisa disuruh membaca dua kalimat penting itu (syahadatain).
Namun bukan Mat Sikil yang hanya bisa mantuk-mantuk saja, tanpa tahu ilmunya. Meski kegaduhan hatinya masih bergemuruh gara-gara ia dimarahinya tadi siang, Mat Sikil tetap memberanikan diri bertanya. Ia tak mau terjebak melakukan sesuatu tanpa tahu dasar ilmunya.
“Kenapa Kyai? Saya ini terlahir sudah muslim, kenapa harus di islamkan lagi?” tanya Mat Sikil.
“Kil, kamu tahu kenapa kita bisa
bertemu di alam dunia ini? Karena dulu kita ini bertetangga di alam ruh. Ruh semua manusia itu bersepakat mengakui bahwa Allah adalah Robb kita. Lalu masing-masing kita mulai menjalani kisahnya-kamu dengan seluruh peristiwamu dan begitu juga aku. Sadarkah Kil, selama peristiwa itu berlangsung ada banyak kondisi,” jelas Kyai Ndas.
“Yang melemahkan keberislaman kita, bukan soal ucapan syahadat. Tapi soal komitmen keberislaman. Lisanmu sudah berapa sering berdusta, membantah. Kemudian menyakiti hatimu, tanganmu, kakimu, syarafmu, otot-mu, sel-selmu, pembuluh darahmu, jantungmu, livermu, ginjalmu. Aaah...\” terang Kyai Ndas.
“Kamu tau quantum ‘akasyah Kil? Sebuah testimoni do’a yang membreakdown kesalahan diri di hadapan Gusti Allah Yang Maha Agung. “Ya Allah bila engkau dapati lisanku berdosa, maka ampuni lisanku, aku bertaubat dan aku kembali mengucapkan dua kalimat syahadat.”
“Laah.. .ribuan ‘ulama dan auliya telah mengamalkan quantum ‘akasyah. Sementara kamu Kil, sibuk membroadcast nasehat-nasehat kebenaran, seolah-olah dirimu itu paling leres (benar). Kamu tau Kil, kalau kita foto bersama dengan teman-teman lalu foto itu kita cetak, gambar siapa yang pertama kali kita cari? Gambar kita toh! Apa kamu ndak lelah bercermin Kil, lalu sibuk memuji diri, lalu menampilkan kepada publik untuk mendapat pujian “Wuiih, DP-mu top banget ya Kil” lalu belum setengah jam, kamu akan ganti DP-mu lagi.
“Kil, ketika imam Ghazali mendapati cerminnya jatuh dan pecah, ia berkata: “Saatnya telah tiba, aku diingatkan untuk tidak sibuk memuji diri”.
Sudahlah Kil, mari kita sudahi kelelahan memuji diri.
Mat Sikil menangis sesunggukan, lalu mendongakkan kepala hendak mengucapkan terima kasih. Namun tiba-tiba Kyai Ndas sudah raib, kini suaranya hanya terdengar lirih diantara jamaah majlis. “Aku mau wudhu dulu, sudah masuk waktunya Maghrib” jelas Kyai Ndas dari pinggiran sumur pendopo, 10 meter dari pendopo majlis taklim.
 
Gara-gara Tusuk Gigi
Rating tertinggi usai pengajian di Majlis Gila Kyai Ndas adalah sesi makan bersama. Usai berjama’ah sholat Maghrib, pendopo Kyai Ndas selalu tak pernah sepi dari makanan lezat kiriman warga.
Kali ini Mat Sikil yang mengirimkan makanan itu. Entah sebagai tanda permintaan maaf atau ada maksud lain, jama’ah pengajian tak memperdulikan semua itu.
Nasi kebuli, sate, mendoan, kerupuk udang, sambal terasi, gulai kambing dan lainnya membanjiri pendopo Kyai Ndas tanpa ampun. Tanpa dikomando, ‘pasukan berani habis’ itu langsung menyerbu hidangan lezat dihadapannya.
Di saung depan, lirih-lirih terdengar tangis. Mat Sikil langsung mencari tahu sumber suara itu. Ternyata, tangis itu tangis Kyai Ndas.
“Ada apa Kyai?” (Tanya Mat Sikil setelah duduk persis di sebelah Kyai Ndas)
“Ndak sengaja Kil, aku ndak sengaja mematahkan ranting tetangga, meskipun kecil dan sedikit, tapi aku gunakan untuk congkel > sedikit daging yang terselip di antara gigiku usai makan tadi”
“Ya Allah kyai... Hanya soal ranting kecil saja sampai nangis sesunggukan begitu. Biasa aja kali kyayi, ojo lebay!” Mat sikil coba menenangkan keadaan, tapi terkejut karena yang ia peroleh dampratan.
“Ndasmu Kil! Sikilmu iku duwe mata - arane mata sikil. (Kakimu itu punya mata, namanya mata kaki) kalau kamu gunakan untuk tendang orang lain, itu namanya dzholim, nanti ada pertanggungjawabannya,” jelas Kyai Ndas.
“Ranting ini bukan milik aku
 
Ketika imam Ghazali mendapati cerminnya jatuh dan pecah, ia berkata: "Saatnya telah tiba, aku diingatkan untuk tidak sibi mem karenanya aku ndak berhak memakainya, meskipun untuk kepentingan yang sepele. Tadinya aku fikir juga begitu, cuma ranting kecil dan hanya segaris daging yang nyelip. Tapi kan mengambil tanpa izin ndak ada istilah lain selain MENCURI alias GHOSHOB. Aku wedi (aku takut)
Kil, takut jilatan api neraka. Ranting ini akan menjadi saksi yang memberatkan (tanganku, gigiku dan ternyata cangkemku iki (mulutku ini) belum ber-islam Kil.
Huaaaaa   Huaaaa.... Am-
puuuuun... .Gustiiiiii.. .Ampun !!!
(Tangis Kyai Ndas pecah)
Mat Sikil seketika juga ikut menangis-seraya memukul kakinya yang panjang sebelah. Lalu memukul perutnya, kepalanya, hidungnya, telinganya
“Apa lagi aku Kyai...kaki ini pernah melangkah ke tempat ma’shiyat. Kepala ini sering berfikir kotor, hidung ini suka mencium yang tidak halal, telinga ini senang mendengar gunjingan orang, perutku pernah dimasuki makanan haram, cangkemku (mulutku) juga Kyayiiii...
Huaaaaaaa   Huaaaaa....:
Ampuuuuun... .Gustiiiiii...
Ampun   !!!
Kyai Ndas merangkul muridnya itu seperti anak kecil bermain boneka. Mereka larut dalam tangisan yang mengharukan.
Mereka tidak sadar sudah ratusan pasang mata jama’ah majlis menyaksikan “keanehan” guru-murid itu. Lalu tiba-tiba saja Kyai Ndas mengajak Mat Sikil menengadah ke langit dan berteriak keras mengucap syahadat:
“Asyhadu an la il&ha illall&h wa asyhadu anna Muhammadan Rosulullah”