Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Lifestyle  Inspirasi Hidup 
Man Jeda Wa Jadi
Pages: [1]

(Read 736 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1925
  • Logged
Man Jeda Wa Jadi
« on: 29 Aug, 2018, 16:44:35 »

Man Jeda Wa Jadi

Banyak orang berpikir bahwa, jeda dalam kalimat adalah pemisah antar satu kata dengan kata lainnya. Padahal, jeda adalah penghubung antar kata dalam sebuah kalimat.

Jeda bukanlah ‘pemisah’ antar dua aktifitas. Jeda adalah ‘penghubung’ antar dua aktifitas. Tanpanya, sesungguhnya Anda tidak sedang melakukan aktifitas yang positif. Teman saya, aktivis dakwah yang istiqomah - mengkreasikan mahfuzhot “man jadda wa j ada” menjadi “Man Jeda wa jadi” yang diartikan: Kalau mau ‘jadi’ maka ‘jeda’ lah.

Coba perhatikan nafasmu? Anda benar-benar bisa ‘menghembuskan’ setelah terlebih dahulu ‘menerima' atau menghirupnya bukan? Atau hujan deras yang kita asumsikan sebagai air tumpah dari langit, lalu kita diberi pelajaran lewat ‘gerimis’ yang ternyata merupakan tetesan air yang ber-'jeda’.
Nafas ataupun rintik hujan menyuguhkan konsep jeda dalam kehidupan. Siapapun Anda yang merasa ‘larut’ dalam kegalauan, kesulitan, kegelisahan berkepanjangan, faha- mi hukum jeda ini lalu temukan kedamaian-nya!
Para salik (orang-orang yang berjalan menuju ma’rifat akan Tuhan-nya), menggiatkan diri pada penelusuran rahasia di balik jeda. Sebagian mereka merindukan di uji, bahkan merasa lebih syukur saat dicaci. Kelompok ini dikenal sebagai madzhab “malamatiyah” yakni sekelompok sufi yang memilih jalan dicaci manusia, karena pujian seringkali memperdaya.
Semakin dicaci, dimaki, dihina, difitnah semakin melambungkan spiritualitas mereka. Kecintaannya kepada Tuhan terfasilitasi lewat penghinaan orang lain kepadanya.
 
Tetapi tentu saja bukan fitnah yang dimunculkan dari dirinya!
Kini, saatnya bagi kita semua memaknai ‘makna jeda’ yang dituangkan dalam beberapa tulisan khas para Tuan Guru.

“Berkata baik, atau diam tak berbicara, keduanya akan membawa kedamaian’ (HMA)

Bertindak arif, atau hening seraya memaknai, keduanya akan menyelamatkan (ENHA)

Belajar mamandang saudaramu dengan cinta dan penuh pengertian, bila menasehati carilah cara yang santun. Bila tak suka, do’a kan saja (Opick Tombo Ati)

Jangan berbicara tentang sesuatu yang TIDAK DISUKAI. Karena LIDAH ini membicarakan sesuatu, maka bisa jadi akan terjadi apa yang dibicarakan tadi (Buya Ridho)

Hal yang terbodoh dalam hidup adalah membalas Keburukan dengan
Keburukan, Kekurangan dengan Penghinaan dan Kebaikan dengan Keburukan (HMA)

Terkadang lisanmu tak mampu untuk mewakili hatimu. Berhati- hatilah (Udjae)

Kebesaran sering sekali dikaitkan dengan ketersohoran. Namun, betapa banyak orang yang berkesempatan memimpin di panggung dunia, pada hakikatnya bukanlah para pemimpin.
Mereka bukan orang-orang besar. Mereka adalah orang-orang yang sempoyongan. Mabuk dalam kebe- saran-kebesaran palsu. (ARH)

Berjalan TERTATIH TATIH bukan berarti tidak bisa BERLARI. Tetapi TERTATIH TATIH demi mencari posisi START yang terbaik untuk BERLARI (Buya Ridho)

Sengatan paling tajam dari popularitas adalah komunikasi yang kurang hati-hati. Maka tnulailah berbicara dan bersikap pakai hati (Enha)