Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Sejarah (Umum & Islam) 
Perjalanan Panjang Aminah Dan Muhammad
Pages: [1]

(Read 702 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1535
  • Logged
Perjalanan Panjang Aminah Dan Muhammad
« on: 25 Sep, 2018, 21:48:05 »

Perjalanan Panjang Aminah Dan Muhammad

Aminah teringat ketika Halimah as-Sa’diyyah mengembalikan Muhammad kepadanya. Saat itu, Halimah sebetulnya berharap Muhammad bisa tinggal bersamanya di perkampungan bani Sa’d. Ia kemudian menceritakan kisah orang- orang yang berkerumun di sekitar Muhammad. Hal yang mendorongnya untuk mengembalikan Muhammad adalah kekhawatirannya terhadap orang-orang yang diduganya berniat menculik sang anak itu. Mengingat peristiwa tersebut, Aminah sadar bahwa ia dan anaknya berada dalam bahaya besar jika mereka terus berlama-lama di Yastrib. Selain itu, Aminah juga merasa lelah menerima orang-orang yang datang dan pergi, tak kunjung henti berusaha meminangnya menjadi istri mereka. Penolakannya pun tidak bisa menghalangi mereka untuk terus datang. Dengan alasan-alasan itu, Aminah berpikir untuk segera pulang ke Mekah.
Hampir lewat sebulan sejak Aminah tiba di Yatsrib. Kerinduannya terhadap Abdullah belum sepenuhnya tuntas. Muhammad juga betah tinggal di kota ini, bermain bersama
teman-teman yang mencintai dan dicintainya. Kota Yastrib telah tertambat di sanubari. Aminah berpikir dan berkata kepada dirinya, “Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan kota Yastrib?”
Tinggal di Yastrib dalam waktu lama adalah keuntungan besar bagi Muhammad. Sahabat-sahabatnya akan tumbuh dewasa menjadi para tokoh, para pedagang, para pemimpin dan pemuka masyarakat, menduduki jabatan-jabatan tinggi di kota ini. Tentu saja mereka semua tidak akan pernah melupakannya. Masa-masa belia ini akan merasuk ke dalam sanubari, melukis kenangan-kenangan indah dalam hati, kenangan-kenangan yang tidak akan terhapus oleh perjalanan waktu dan usia. Jika suatu hari nanti, Muhammad keluar menjalankan perniagaannya yang besar, ia pasti akan mendapatkan sandaran yang kuat dari teman-temannya tersebut. Ia akan merasa sangat gembira ketika menginjakkan kakinya di Yastrib, menghabiskan masa indah bersama para kekasih dan sahabat masa kecil, mengingat bersama mereka kenangan-kenangan indah di masa lampau, serta mengunjungi kuburan ayahnya.
Aminah mempertimbangkan untuk tidak segera pulang. Hatinya berkeinginan untuk tinggal lebih lama di Yastrib sembari tetap mewaspadai orang-orang yang terus mengintai untuk menculik putranya. Namun suara lembut berbisik kepadanya, berkata meminta, “Cukup, wahai Aminah! Kembalilah ke Mekah bersama Muhammad. Bergegaslah!”
 
Dalam benaknya, Aminah terus berpikir, “Bagaimana mungkin, Tuhanku? Bagaimana mungkin aku berpisah dengan Abdullah? Aku akan tinggal di Yatsrib hingga ajal menjemput. Aku ingin dikuburkan di sini, di sisi suamiku tercinta. Namun apakah Abdul Muththalib akan merestui niatku ini? Ia tidak mengizinkanku pergi kecuali sekadar untuk mengunjungi Abdullah. Ia tidak akan rela Muhammad tumbuh besar jauh dari keluarga dan Baitullah.”
Aminah terus berpikir dan menimbang-nimbang. Semakin lama, semakin kuat keinginannya untuk tinggal di Yasrib. Tiba- tiba suara halus menghampiri pendengarannya dengan berkata lantang, “Cukup, wahai Aminah! Kembalikan putramu kepada keluarganya. Hindarkan ia dari bahaya-bahaya yang mengintai dari dekat. Bergegaslah, wahai Aminah, bergegaslah!”
Kebimbangan di hati Aminah sirna seketika. Ia memutuskan untuk segera pulang.
Pada hari berikutnya, rumah pemimpin bani Najjar dipenuhi oleh orang-orang yang bergegas datang menemui Aminah ketika mendengar keputusannya untuk segera pulang. Mereka merasakan pedihnya perpisahan. Di mata mereka, dunia akan menjadi gelap bila Yastrib ditinggalkan oleh Aminah dan anaknya. Mereka meminta dengan sangat kepada Aminah untuk tinggal bersama mereka. Menurut mereka, tidak ada alasan bagi Aminah untuk kembali lagi ke Mekah.
Anak-anak kecil pun diselimuti kesedihan yang mendalam. Mereka bersikeras meminta Aminah untuk tetap bersama mereka. Kalaupun ia bersikeras untuk pergi, mereka meminta agar Muhammad tetap tinggal di Yastrib. Mereka berkata kepadanya, “Jangan mengkhawatirkan Muhammad! Kami semua adalah para serdadunya yang tulus.”
Mereka pun meminta bani Najjar meyakinkan Aminah untuk tinggal lebih lama bersama mereka. Mendengar permintaan dan permohonan mereka itu serta menyaksikan air mata mereka bercucuran membasahi pipi, Aminah merasa tersentuh dan amat kasihan. Ia pun berusaha menenangkan perasaan mereka, berjanji akan kembali berziarah setiap ada kesempatan.
Di sela-sela isak tangis dan permohonan mereka itu, Aminah memerintahkan Barakah untuk bersiap-siap berangkat melakukan perjalanan pulang. Kafilah yang menuju kota Mekah sedang berkumpul di luar kota Yastrib. Aminah memutuskan untuk pergi bersama mereka. Tidak lebih dari dua hari ke depan, Aminah dan Muhammad akan segera meninggalkan kota Yastrib.
Sore itu terasa lama, dipenuhi air mata dan keluh yang dalam. Penduduk Yastrib tidak menduga bahwa Aminah akan memutuskan pergi secara mendadak. Orang-orang berdatangan ke rumah pemimpin bani Najjar, melepas Aminah dan anaknya. Masing-masing membawakan hadiah yang bisa diberikan: kurma yang lezat, buah yang enak, serta bingkisan yang
berharga, sebagai tanda cinta dan ketulusan.
 Di antara mereka, terdapat seorang anak kecil. Ia mempersembahkan sebuah patung
kecil kepada Muhammad. Dengan perasaan mendalam, ia berkata, “Ambillah ini, wahai Muhammad, hadiah yang paling kami cintai.”
“Apakah ini, wahai Saudaraku?”
“Tuhan agung yang akan mengawalmu dan menjagamu dari bahaya selama perjalanan.”
“Bukankah ia terbuat dari kurma Ajwah, wahai Saudaraku?”
“Benar, Muhammad. Rasanya lezat. Ini termasuk kurma terbaik kami, berasal dari pohon kurma yang tidak tumbuh di luar kota Yastrib. Engkau bisa menyembahnya. Dan jika engkau memerlukannya, engkau pun dapat memakannya.”
Aminah tersenyum kecil. Dan Muhammad berkata kepada sahabatnya dengan tersenyum, “Biarlah ia bersamamu, Sahabatku. Matahari amat panas. Ia akan meleleh karenanya. Ia pun tidak dapat menjaga dirinya sendiri. Engkau makanlah tuhan itu dengan enak dan nyaman.”
Air mata bercucuran dari mata anak kecil Yastrib itu. Ia berkata, “Perlukah kuhadiahkan kepadamu sebuah tuhan lain yang terbuat dari batu atau kayu yang akan selalu menemanimu serta melindungimu dari orang-orang jahat yang berkerumun di sekitarmu?”
Aminah mendekat dan menciumi anak kecil tersebut, lalu berkata, “Jangan khawatirkan kami, Anakku. Kami akan
berjalan di bawah perlindungan Tuhan yang Mahaagung, Tuhan langit dan bumi yang tidak akan mati dan sirna."
Pagi pun datang. Aminah, Muhammad dan Barakah pergi ke kuburan Abdullah. Aminah duduk di samping kuburan itu. Kedua tangannya mengusap tanah kuburan suaminya dan membasahinya dengan air mata. Ia hanyut dalam kesedihan, terus membisikkan kata-kata perpisahan. Aminah baru tersadar saat telinganya mendengar suara halus yang berkata, “Cukup, wahai Aminah! Engkau telah mengucapkan kata-kata perpisahan. Bangkit dan bergegaslah! Kafilah akan segera bergerak.”
Muhammad juga sedang berada di samping kuburan ayahnya. Kedua tangannya mengusap tanah kuburan. Barakah berada di sebelah Muhammad, melakukan hal yang sama. Aminah memanggil keduanya dengan suara isak, “Mari Muhammad! Mari Barakah! Telah tiba saatnya kita pulang.”
Aminah berusaha bangkit hingga akhirnya ia mampu tegak berdiri. Di tengah derasnya air mata, ia menoleh ke arah kuburan Abdullah, berkata dengan penuh kesedihan, “Sampai jumpa, Abdullah! Engkau telah memanggil kami, dan kami pun datang memenuhi panggilanmu. Engkau pula yang menyuruh kami pulang, dan kami pun akan menuruti perintahmu. Kutitipkan engkau kepada Allah. Aku tak tahu apakah aku akan kembali lagi kepadamu. Tetapi perasaanku mengatakan kita akan segera bertemu.”
Aminah menggandeng tangan Muhammad kembali pulang ke rumah pemimpin bani Najjar. Perpisahan dan pelukan pun
terulang. Aminah kemudian menuju tempat pemberangkatan, diiringi oleh para lelaki dan perempuan yang melepasnya pergi. Mereka mendoakan keselamatan bagi Aminah dan anaknya, mengulang-ulang doa dan berseru, “Ingatlah kami, wahai Aminah. Jangan lupakan kami!”
Sebagian yang lain berkata dengan air mata menetes dari kelopak mata, “Dengan kehendak Allah, kami akan mengunjungi kalian di Mekah, ketika kami pergi berhaji ke rumah Allah. Tentu saja kami berharap dapat bertemu kalian sebelum itu.”
Teriakan terdengar, mengumumkan kafilah akan segera berangkat. Aminah menaiki untanya bersama Muhammad. Barakah menaiki unta yang lain bersama barang-barang perbekalan. Sejenak setelah keberangkatan kafilah, teriakan melepas Aminah dan Muhammad terdengar keras mengalahkan teriakan yang lain. Saat itu, jiwa Aminah memanggil untuk kembali. Perasaannya yang kuat menegaskan bahwa ia tidak akan meninggalkan bumi tempat Abdullah dimakamkan.
Kafilah beranjak pergi menjauh. Yastrib tenggelam hilang dari pandangan mata. Perasaan Aminah semakin kuat mengatakan bahwa ia akan disemayamkan di tengah jalan, di dekat Yastrib. Tangisnya pun semakin menjadi. Ia memandangi Muhammad, lalu beralih ke Barakah. Tangan Aminah menggapai Muhammad, mendekatkannya ke dada, merangkulnya dengan kedua lengan, kemudian hanyut ke dalam pelukan dan kecupan.
Kafilah terus berjalan hingga sampai di sebuah tempat bernama Abwa‘.
Saat itu, panas matahari sedang memuncak. Cuaca pun mengamuk. Angin mengembuskan hawa panas yang menjilat- jilat. Semua orang dalam kafilah tersebut mengeluhkan derita yang sedang melanda. Unta-unta pun merendahkan kepala dan lehernya ke tanah, berlindung dari angin yang membakar dan menghambur-kan debu-debu.
Tiba-tiba Aminah merasakan sakit yang menusuk dada. Ia menoleh ke arah pembantunya, berkata dengan lirih, “Ini adalah perjalanan yang panjang, wahai Barakah.”
Sang pembantu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh tuan putrinya. Dengan tersenyum, ia menjawab, “Ini adalah jalan yang telah kita lewati sejak sebulan yang lalu, Tuan Putriku. Sahaya kira sedikit pun tidak ada yang berubah. Kita telah menempuh jarak dua marhalah, masih tersisa delapan marhalah lagi. Dengan kehendak Allah, kita akan melewatinya dan kembali dengan selamat.”
Aminah merasakan sakit di dadanya yang semakin menyiksa. Ia menjawab, “Tidak, wahai Barakah. Perjalanan panjang yang tiada akhir.”
Kemudian ia menoleh memandangi putranya. Ia berkata dengan
iba, “Bagaimana denganmu, wahai Muhammad?”
Muhammad menoleh ke arah ibunya, melihat apa yang sedang dideritanya. Ia
pun merasakan pedihnya rasa sakit dan berteriak sedih dalam dekapan sang ibu, “Ada apa, Ibuku? Buka matamu dan lihatlah aku. Bicaralah kepadaku, Ibu!”.
Muhammad segera mengambil geriba air, membuka tutupnya, mengalirkan sedikit air di kedua telapak tangannya yang mungil, lalu menyeka wajah ibunya. Kemudian ia menggapai tangan ibunya, mencoba membangkitkannya. Barakah turut membantu Muhammad dengan hati sedih. Namun Aminah tidak dapat bangkit dan tidak pula membuka kedua matanya. Ia masih terbujur di atas sekedup dengan napas terengah-engah. Muhammad berteriak panik. Barakah menampari kedua pipi.
Kafilah pun berhenti. Para tabib segera bertindak mengobati Aminah, berusaha menyelamatkan bidadari kafilah dan cahaya terangnya, seorang figur agung dengan kelembutan hati, kecerdasan pikiran, dan keindahan jasmani. Hati mereka teriris- iris menyaksikan Aminah dan anak kecilnya yang meratap. Mereka menyerah, merasa tidak dapat menyembuhkannya. Mereka tertunduk diam tanpa kata, mengalirkan air mata, berpikir apa yang akan dapat mereka perbuat saat takdir Tuhan menjemput.
Akan tetapi Aminah terlihat membuka matanya. Ia memandangi Barakah, berkata di sela-sela napas yang terengah- engah, “Muhammad, wahai Barakah! Aku tinggalkan ia di bawah penjagaanmu.”
Kemudian ia menoleh ke arah putranyadan berkata dengan suara amat lirih, "Aku titipkan engkau kepada Allah, wahai Anakku, zat yang menghendakimu hidup sendirian tanpa ayah dan ibu semata-mata karena hal yang hanya diketahui oleh-Nya. Dialah zat yang Maha Pemurah. Dia akan menjaga serta melindungimu dengan kasih sayang melebihi kasih sayang ayah dan ibumu.”
Kembali Aminah menoleh ke pembantunya. Dalam detik- detik terakhir hidupnya, ia masih sempat berkata, “Muhammad, wahai Barakah! Engkau akan menggantikanku sebagai ibunya. Jagalah ia! Kembalilah ke Mekah bersamanya dan serahkan ia kepada kakeknya, Abdul Muththalib. Bukalah kedua matamu lebar-lebar. Awasi para penjahat, mereka yang selalu berkerumun di sekitarnya di perkampungan bani Sa’d dan Yastrib.”
Kemudian Aminah menoleh kembali ke arah putranya. Ajalnya semakin dekat. Dengan detak jantung yang naik turun, ia berkata, “Tuhan telah memanggilku, Anakku, dan aku akan memenuhi panggilannya. Aku tidak bisa menundanya lagi. Tuhan menghendaki aku berbaring dekat ayahmu untuk selamanya seperti yang aku harapkan. Jangan kau lupakan ibumu yang disemayamkan di tengah-tengah padang pasir. Jangan kau lupakan ayahmu yang terbaring di Yastrib. Berhentilah sejenak untuk mendoakan keduanya ketika engkau sedang melakukan perjalanan ke negeri Syam dengan membawa perniagaanmu yang besar, juga saat engkau kembali dari sana. Roh kami selalu bersamamu Muhammad, di saat engkau pergi dan pulang. Kami akan bahagia saat engkau berdiri di sisi kuburan, menyampaikan salam kepada kami. Ibumu, wahai Muhammad, dan juga ayahmu!”
 
Mulut yang fasih itu terkatup. Kata-kata pun terputus. Tak ada lagi suara yang penuh belas kasih. Muhammad berteriak. Barakah bersuara keras. Seluruh kafilah berkumpul di sekitar Aminah, berduka dan mengalirkan air mata. Tangisan si kecil yang sekarang sendirian tanpa ayah dan ibu menghancurkan hati mereka berkeping-keping.
Kekaguman semakin bertambah ketika mereka memandangi wajah Aminah. Mereka melihat cahaya terang, menemukan senyum lebar di bibirnya. Mereka bertanya-tanya tentang keindahan dan keagungan yang belum pernah mereka saksikan ini.
Setelah Barakah menciumi Aminah dengan tangis dan isak, ia membungkus jasadnya dengan kain kafan, lalu menyerahkannya kepada kafilah. Mereka pun membawanya ke liang lahat yang telah mereka persiapkan di tengah padang pasir Abwa‘. Di sana, mereka menaruh jasad suci itu, lalu menguruknya dengan tanah. Sejenak mereka berdiri di sisi depan kuburan, menangis, berdoa, dan memintakan rahmat.
Setelah itu, mereka kembali ke tunggangan masing- masing, berjalan ke arah kota Mekah dalam diam. Hati mereka tersayat-sayat oleh tangis si kecil yang merengek serta meminta agar dikembalikan kepada ibunya dan ditinggalkan sendirian di samping kuburnya. Barakah pun tidak berhenti meratap. Ia memeluk Muhammad dengan kedua lengannya. Bersama si kecil, ia menaiki unta Aminah dan meninggalkan unta yang lain berjalan di sampingnya.
Setelah meninggalkan Aminah di tengah padang pasir tanpa harapan untuk kembali bertemu, seluruh kafilah berjalan dengan hati teriris-iris.

arifluqman682

  • Qudama
  • *
  • arifluqman682 No Reputation.
  • Join: 2016
  • Posts: 125
  • Logged
Re: Perjalanan Panjang Aminah Dan Muhammad
« Reply #1 on: 09 Dec, 2018, 21:21:16 »
Perjalanan Panjang Aminah Dan Muhammad

Aminah teringat ketika Halimah as-Sa’diyyah mengembalikan Muhammad kepadanya. Saat itu, Halimah sebetulnya berharap Muhammad bisa tinggal bersamanya di perkampungan bani Sa’d. Ia kemudian menceritakan kisah orang- orang yang berkerumun di sekitar Muhammad. Hal yang mendorongnya untuk mengembalikan Muhammad adalah kekhawatirannya terhadap orang-orang yang diduganya berniat menculik sang anak itu. Mengingat peristiwa tersebut, Aminah sadar bahwa ia dan anaknya berada dalam bahaya besar jika mereka terus berlama-lama di Yastrib. Selain itu, Aminah juga merasa lelah menerima orang-orang yang datang dan pergi, tak kunjung henti berusaha meminangnya menjadi istri mereka. Penolakannya pun tidak bisa menghalangi mereka untuk terus datang. Dengan alasan-alasan itu, Aminah berpikir untuk segera pulang ke Mekah.
Hampir lewat sebulan sejak Aminah tiba di Yatsrib. Kerinduannya terhadap Abdullah belum sepenuhnya tuntas. Muhammad juga betah tinggal di kota ini, bermain bersama
teman-teman yang mencintai dan dicintainya. Kota Yastrib telah tertambat di sanubari. Aminah berpikir dan berkata kepada dirinya, “Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan kota Yastrib?”
Tinggal di Yastrib dalam waktu lama adalah keuntungan besar bagi Muhammad. Sahabat-sahabatnya akan tumbuh dewasa menjadi para tokoh, para pedagang, para pemimpin dan pemuka masyarakat, menduduki jabatan-jabatan tinggi di kota ini. Tentu saja mereka semua tidak akan pernah melupakannya. Masa-masa belia ini akan merasuk ke dalam sanubari, melukis kenangan-kenangan indah dalam hati, kenangan-kenangan yang tidak akan terhapus oleh perjalanan waktu dan usia. Jika suatu hari nanti, Muhammad keluar menjalankan perniagaannya yang besar, ia pasti akan mendapatkan sandaran yang kuat dari teman-temannya tersebut. Ia akan merasa sangat gembira ketika menginjakkan kakinya di Yastrib, menghabiskan masa indah bersama para kekasih dan sahabat masa kecil, mengingat bersama mereka kenangan-kenangan indah di masa lampau, serta mengunjungi kuburan ayahnya.
Aminah mempertimbangkan untuk tidak segera pulang. Hatinya berkeinginan untuk tinggal lebih lama di Yastrib sembari tetap mewaspadai orang-orang yang terus mengintai untuk menculik putranya. Namun suara lembut berbisik kepadanya, berkata meminta, “Cukup, wahai Aminah! Kembalilah ke Mekah bersama Muhammad. Bergegaslah!”
 
Dalam benaknya, Aminah terus berpikir, “Bagaimana mungkin, Tuhanku? Bagaimana mungkin aku berpisah dengan Abdullah? Aku akan tinggal di Yatsrib hingga ajal menjemput. Aku ingin dikuburkan di sini, di sisi suamiku tercinta. Namun apakah Abdul Muththalib akan merestui niatku ini? Ia tidak mengizinkanku pergi kecuali sekadar untuk mengunjungi Abdullah. Ia tidak akan rela Muhammad tumbuh besar jauh dari keluarga dan Baitullah.”
Aminah terus berpikir dan menimbang-nimbang. Semakin lama, semakin kuat keinginannya untuk tinggal di Yasrib. Tiba- tiba suara halus menghampiri pendengarannya dengan berkata lantang, “Cukup, wahai Aminah! Kembalikan putramu kepada keluarganya. Hindarkan ia dari bahaya-bahaya yang mengintai dari dekat. Bergegaslah, wahai Aminah, bergegaslah!”
Kebimbangan di hati Aminah sirna seketika. Ia memutuskan untuk segera pulang.
Pada hari berikutnya, rumah pemimpin bani Najjar dipenuhi oleh orang-orang yang bergegas datang menemui Aminah ketika mendengar keputusannya untuk segera pulang. Mereka merasakan pedihnya perpisahan. Di mata mereka, dunia akan menjadi gelap bila Yastrib ditinggalkan oleh Aminah dan anaknya. Mereka meminta dengan sangat kepada Aminah untuk tinggal bersama mereka. Menurut mereka, tidak ada alasan bagi Aminah untuk kembali lagi ke Mekah.
Anak-anak kecil pun diselimuti kesedihan yang mendalam. Mereka bersikeras meminta Aminah untuk tetap bersama mereka. Kalaupun ia bersikeras untuk pergi, mereka meminta agar Muhammad tetap tinggal di Yastrib. Mereka berkata kepadanya, “Jangan mengkhawatirkan Muhammad! Kami semua adalah para serdadunya yang tulus.”
Mereka pun meminta bani Najjar meyakinkan Aminah untuk tinggal lebih lama bersama mereka. Mendengar permintaan dan permohonan mereka itu serta menyaksikan air mata mereka bercucuran membasahi pipi, Aminah merasa tersentuh dan amat kasihan. Ia pun berusaha menenangkan perasaan mereka, berjanji akan kembali berziarah setiap ada kesempatan.
Di sela-sela isak tangis dan permohonan mereka itu, Aminah memerintahkan Barakah untuk bersiap-siap berangkat melakukan perjalanan pulang. Kafilah yang menuju kota Mekah sedang berkumpul di luar kota Yastrib. Aminah memutuskan untuk pergi bersama mereka. Tidak lebih dari dua hari ke depan, Aminah dan Muhammad akan segera meninggalkan kota Yastrib.
Sore itu terasa lama, dipenuhi air mata dan keluh yang dalam. Penduduk Yastrib tidak menduga bahwa Aminah akan memutuskan pergi secara mendadak. Orang-orang berdatangan ke rumah pemimpin bani Najjar, melepas Aminah dan anaknya. Masing-masing membawakan hadiah yang bisa diberikan: kurma yang lezat, buah yang enak, serta bingkisan yang
berharga, sebagai tanda cinta dan ketulusan.
 Di antara mereka, terdapat seorang anak kecil. Ia mempersembahkan sebuah patung
kecil kepada Muhammad. Dengan perasaan mendalam, ia berkata, “Ambillah ini, wahai Muhammad, hadiah yang paling kami cintai.”
“Apakah ini, wahai Saudaraku?”
“Tuhan agung yang akan mengawalmu dan menjagamu dari bahaya selama perjalanan.”
“Bukankah ia terbuat dari kurma Ajwah, wahai Saudaraku?”
“Benar, Muhammad. Rasanya lezat. Ini termasuk kurma terbaik kami, berasal dari pohon kurma yang tidak tumbuh di luar kota Yastrib. Engkau bisa menyembahnya. Dan jika engkau memerlukannya, engkau pun dapat memakannya.”
Aminah tersenyum kecil. Dan Muhammad berkata kepada sahabatnya dengan tersenyum, “Biarlah ia bersamamu, Sahabatku. Matahari amat panas. Ia akan meleleh karenanya. Ia pun tidak dapat menjaga dirinya sendiri. Engkau makanlah tuhan itu dengan enak dan nyaman.”
Air mata bercucuran dari mata anak kecil Yastrib itu. Ia berkata, “Perlukah kuhadiahkan kepadamu sebuah tuhan lain yang terbuat dari batu atau kayu yang akan selalu menemanimu serta melindungimu dari orang-orang jahat yang berkerumun di sekitarmu?”
Aminah mendekat dan menciumi anak kecil tersebut, lalu berkata, “Jangan khawatirkan kami, Anakku. Kami akan
berjalan di bawah perlindungan Tuhan yang Mahaagung, Tuhan langit dan bumi yang tidak akan mati dan sirna."
Pagi pun datang. Aminah, Muhammad dan Barakah pergi ke kuburan Abdullah. Aminah duduk di samping kuburan itu. Kedua tangannya mengusap tanah kuburan suaminya dan membasahinya dengan air mata. Ia hanyut dalam kesedihan, terus membisikkan kata-kata perpisahan. Aminah baru tersadar saat telinganya mendengar suara halus yang berkata, “Cukup, wahai Aminah! Engkau telah mengucapkan kata-kata perpisahan. Bangkit dan bergegaslah! Kafilah akan segera bergerak.”
Muhammad juga sedang berada di samping kuburan ayahnya. Kedua tangannya mengusap tanah kuburan. Barakah berada di sebelah Muhammad, melakukan hal yang sama. Aminah memanggil keduanya dengan suara isak, “Mari Muhammad! Mari Barakah! Telah tiba saatnya kita pulang.”
Aminah berusaha bangkit hingga akhirnya ia mampu tegak berdiri. Di tengah derasnya air mata, ia menoleh ke arah kuburan Abdullah, berkata dengan penuh kesedihan, “Sampai jumpa, Abdullah! Engkau telah memanggil kami, dan kami pun datang memenuhi panggilanmu. Engkau pula yang menyuruh kami pulang, dan kami pun akan menuruti perintahmu. Kutitipkan engkau kepada Allah. Aku tak tahu apakah aku akan kembali lagi kepadamu. Tetapi perasaanku mengatakan kita akan segera bertemu.”
Aminah menggandeng tangan Muhammad kembali pulang ke rumah pemimpin bani Najjar. Perpisahan dan pelukan pun
terulang. Aminah kemudian menuju tempat pemberangkatan, diiringi oleh para lelaki dan perempuan yang melepasnya pergi. Mereka mendoakan keselamatan bagi Aminah dan anaknya, mengulang-ulang doa dan berseru, “Ingatlah kami, wahai Aminah. Jangan lupakan kami!”
Sebagian yang lain berkata dengan air mata menetes dari kelopak mata, “Dengan kehendak Allah, kami akan mengunjungi kalian di Mekah, ketika kami pergi berhaji ke rumah Allah. Tentu saja kami berharap dapat bertemu kalian sebelum itu.”
Teriakan terdengar, mengumumkan kafilah akan segera berangkat. Aminah menaiki untanya bersama Muhammad. Barakah menaiki unta yang lain bersama barang-barang perbekalan. Sejenak setelah keberangkatan kafilah, teriakan melepas Aminah dan Muhammad terdengar keras mengalahkan teriakan yang lain. Saat itu, jiwa Aminah memanggil untuk kembali. Perasaannya yang kuat menegaskan bahwa ia tidak akan meninggalkan bumi tempat Abdullah dimakamkan.
Kafilah beranjak pergi menjauh. Yastrib tenggelam hilang dari pandangan mata. Perasaan Aminah semakin kuat mengatakan bahwa ia akan disemayamkan di tengah jalan, di dekat Yastrib. Tangisnya pun semakin menjadi. Ia memandangi Muhammad, lalu beralih ke Barakah. Tangan Aminah menggapai Muhammad, mendekatkannya ke dada, merangkulnya dengan kedua lengan, kemudian hanyut ke dalam pelukan dan kecupan.
Kafilah terus berjalan hingga sampai di sebuah tempat bernama Abwa‘.
Saat itu, panas matahari sedang memuncak. Cuaca pun mengamuk. Angin mengembuskan hawa panas yang menjilat- jilat. Semua orang dalam kafilah tersebut mengeluhkan derita yang sedang melanda. Unta-unta pun merendahkan kepala dan lehernya ke tanah, berlindung dari angin yang membakar dan menghambur-kan debu-debu.
Tiba-tiba Aminah merasakan sakit yang menusuk dada. Ia menoleh ke arah pembantunya, berkata dengan lirih, “Ini adalah perjalanan yang panjang, wahai Barakah.”
Sang pembantu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh tuan putrinya. Dengan tersenyum, ia menjawab, “Ini adalah jalan yang telah kita lewati sejak sebulan yang lalu, Tuan Putriku. Sahaya kira sedikit pun tidak ada yang berubah. Kita telah menempuh jarak dua marhalah, masih tersisa delapan marhalah lagi. Dengan kehendak Allah, kita akan melewatinya dan kembali dengan selamat.”
Aminah merasakan sakit di dadanya yang semakin menyiksa. Ia menjawab, “Tidak, wahai Barakah. Perjalanan panjang yang tiada akhir.”
Kemudian ia menoleh memandangi putranya. Ia berkata dengan
iba, “Bagaimana denganmu, wahai Muhammad?”
Muhammad menoleh ke arah ibunya, melihat apa yang sedang dideritanya. Ia
pun merasakan pedihnya rasa sakit dan berteriak sedih dalam dekapan sang ibu, “Ada apa, Ibuku? Buka matamu dan lihatlah aku. Bicaralah kepadaku, Ibu!”.
Muhammad segera mengambil geriba air, membuka tutupnya, mengalirkan sedikit air di kedua telapak tangannya yang mungil, lalu menyeka wajah ibunya. Kemudian ia menggapai tangan ibunya, mencoba membangkitkannya. Barakah turut membantu Muhammad dengan hati sedih. Namun Aminah tidak dapat bangkit dan tidak pula membuka kedua matanya. Ia masih terbujur di atas sekedup dengan napas terengah-engah. Muhammad berteriak panik. Barakah menampari kedua pipi.
Kafilah pun berhenti. Para tabib segera bertindak mengobati Aminah, berusaha menyelamatkan bidadari kafilah dan cahaya terangnya, seorang figur agung dengan kelembutan hati, kecerdasan pikiran, dan keindahan jasmani. Hati mereka teriris- iris menyaksikan Aminah dan anak kecilnya yang meratap. Mereka menyerah, merasa tidak dapat menyembuhkannya. Mereka tertunduk diam tanpa kata, mengalirkan air mata, berpikir apa yang akan dapat mereka perbuat saat takdir Tuhan menjemput.
Akan tetapi Aminah terlihat membuka matanya. Ia memandangi Barakah, berkata di sela-sela napas yang terengah- engah, “Muhammad, wahai Barakah! Aku tinggalkan ia di bawah penjagaanmu.”
Kemudian ia menoleh ke arah putranyadan berkata dengan suara amat lirih, "Aku titipkan engkau kepada Allah, wahai Anakku, zat yang menghendakimu hidup sendirian tanpa ayah dan ibu semata-mata karena hal yang hanya diketahui oleh-Nya. Dialah zat yang Maha Pemurah. Dia akan menjaga serta melindungimu dengan kasih sayang melebihi kasih sayang ayah dan ibumu.”
Kembali Aminah menoleh ke pembantunya. Dalam detik- detik terakhir hidupnya, ia masih sempat berkata, “Muhammad, wahai Barakah! Engkau akan menggantikanku sebagai ibunya. Jagalah ia! Kembalilah ke Mekah bersamanya dan serahkan ia kepada kakeknya, Abdul Muththalib. Bukalah kedua matamu lebar-lebar. Awasi para penjahat, mereka yang selalu berkerumun di sekitarnya di perkampungan bani Sa’d dan Yastrib.”
Kemudian Aminah menoleh kembali ke arah putranya. Ajalnya semakin dekat. Dengan detak jantung yang naik turun, ia berkata, “Tuhan telah memanggilku, Anakku, dan aku akan memenuhi panggilannya. Aku tidak bisa menundanya lagi. Tuhan menghendaki aku berbaring dekat ayahmu untuk selamanya seperti yang aku harapkan. Jangan kau lupakan ibumu yang disemayamkan di tengah-tengah padang pasir. Jangan kau lupakan ayahmu yang terbaring di Yastrib. Berhentilah sejenak untuk mendoakan keduanya ketika engkau sedang melakukan perjalanan ke negeri Syam dengan membawa perniagaanmu yang besar, juga saat engkau kembali dari sana. Roh kami selalu bersamamu Muhammad, di saat engkau pergi dan pulang. Kami akan bahagia saat engkau berdiri di sisi kuburan, menyampaikan salam kepada kami. Ibumu, wahai Muhammad, dan juga ayahmu!”
 
Mulut yang fasih itu terkatup. Kata-kata pun terputus. Tak ada lagi suara yang penuh belas kasih. Muhammad berteriak. Barakah bersuara keras. Seluruh kafilah berkumpul di sekitar Aminah, berduka dan mengalirkan air mata. Tangisan si kecil yang sekarang sendirian tanpa ayah dan ibu menghancurkan hati mereka berkeping-keping.
Kekaguman semakin bertambah ketika mereka memandangi wajah Aminah. Mereka melihat cahaya terang, menemukan senyum lebar di bibirnya. Mereka bertanya-tanya tentang keindahan dan keagungan yang belum pernah mereka saksikan ini.
Setelah Barakah menciumi Aminah dengan tangis dan isak, ia membungkus jasadnya dengan kain kafan, lalu menyerahkannya kepada kafilah. Mereka pun membawanya ke liang lahat yang telah mereka persiapkan di tengah padang pasir Abwa‘. Di sana, mereka menaruh jasad suci itu, lalu menguruknya dengan tanah. Sejenak mereka berdiri di sisi depan kuburan, menangis, berdoa, dan memintakan rahmat.
Setelah itu, mereka kembali ke tunggangan masing- masing, berjalan ke arah kota Mekah dalam diam. Hati mereka tersayat-sayat oleh tangis si kecil yang merengek serta meminta agar dikembalikan kepada ibunya dan ditinggalkan sendirian di samping kuburnya. Barakah pun tidak berhenti meratap. Ia memeluk Muhammad dengan kedua lengannya. Bersama si kecil, ia menaiki unta Aminah dan meninggalkan unta yang lain berjalan di sampingnya.
Setelah meninggalkan Aminah di tengah padang pasir tanpa harapan untuk kembali bertemu, seluruh kafilah berjalan dengan hati teriris-iris.

semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah perjalanan yang sangat berharga ini
aamiin...