Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Madzhab & Hukum 
Apakah Keteladanan Bagian Dari Fitrah?
Pages: [1]

(Read 683 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1780
  • Logged
Apakah Keteladanan Bagian Dari Fitrah?
« on: 01 Jan, 2019, 08:03:59 »

Apakah Keteladanan Bagian Dari Fitrah?

Adalah bagian dari fitrah, jika setiap insan mendambakan hadirnya seorang tokoh atau seorang pigur yang layak menjadi panutan dalam hidup dan kehidupannya. Hal itu berlangsung hampir dalam setiap jenjang dan setiap sisi kehidupan manusia, mulai dari cara beribadah, dalam memacu semangat hidup, dalam menuntut ilmu, terutama dalam menata kehidupan sehari-hari. Dan berlaku pula dalam setiap jenjang kehidupan, mulai dari lingkup kehidupan yang bersifat pribadi, lingkungan keluarga, di lingkungan masyarakat, di lingkungan lembaga-lembaga pendidikan, lembaga sosial dan pemerintahan, dalam lingkungan suatu negara, hingga dalam lingkup kehidupan yang bersifat global.
Dalam tradisi kehidupan manusia abad sekarang ini berkembang istilah model atau gaya. Mulai dari model . pakaian, model rambut,, model rumah, hingga gaya hidup yang paling kecil lainnya. Maka kemudian populerlah istilah
selebritis, lengkap dengan segala macam asesoris dan pernak- pernik kehidupan glamuor lainnya. Masih beruntung, jika yang ditonjolkan oleh para modis atau para selebritis tadi menyangkut hal-hal yang positif. Misalnya tentang etos kerja mereka hingga berhasil menjadi orang-orang terkenal, atau tentang kehidupan keluarganya yang harmonis. Tetapi, celakalah adanya, jika yang ditonjolkan oleh mereka menyangkut sisi kehidupan yang cenderung negatif, seperti cara berpakaiannya yang tidak etis, bahkan cenderung "mengobral keindahan tubuh", pola hidupnya yang konsumtif, atau tentang kehidupan keluarganya yang hancur berantakan. Berbahaya sekali jika orang-orang semacam itu, lalu dijadikan contoh atau model atau teladan oleh kebanyakan orang terutama generasi muda, yang sedang tumbuh dalam proses pencarian identitas diri. Tapi, anehnya justru model-model seperti itulah yang sangat digandrungi oleh kebanyakan generasi muda abad ini. Mengapa demikian?
Karena, secara naluriah, setiap manusia dalam setiap aspek dan setiap jenjang kehidupannya memiliki kecenderungan untuk meniru atau mencontoh (imitation). Karena itu, merupakan tanggung jawab setiap pribadi muslim, selain berusaha menjadi dirinya sendiri, juga bertanggung jawab— paling tidak secara moral—untuk menjadi teladan (uswah hasanah) bagi generasi selanjutnya, minimal bagi generasi yang paling dekat dalam hidupnya. Disamping itu, setiap pribadi muslim berkewajiban untuk menyuburkan benih- benih kecintaan, keteladanan, keidolaan generasi yang berada di bawah tanggung jawabnya kepada manusia-manusia pilihan Allah, yakni kecintaan kepada para Nabi, para shiddiqiin, para syuhada (pahlawan Islam), dan kecintaan kepada orang-orang shaleh serta kebiasaan hidup mereka (lihat Al-Quran surat An-Nisaa' [4] ayat 69), terutama kecintaan kepada Nabi kita Muhammad SAW. beserta keluarganya. Dalam sebuah hadis, Rasul yang mulia SAW. bersabda:
“Didikkanlah kepada anak-anakmu sedini mungkin tentang tiga hal: Pertama cinta kepada Nabimu, kedua cinta kepada keluarga Nabi, dan ketiga cinta membaca Al-Quran, karena sesungguhnya 'pembawa Al-Quran' akan berada dalam naungan Allah pada hari kiamat, yaitu pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah, bersama para Nabi- Nya dan orang-orang yang disucikan-Nya" (H.R. Abu Nashar as-Syiraazy, Daelami, dan Ibnu Najar dari Ali r.a.)
Dalam rangka itulah, maka menjadi sangat penting dan strategis untuk mempelajari dan mengajarkan serta sekaligus meluruskan sejarah dari upaya pembelokan-pembelokan dan penyimpangan-penyimpangan. Sehingga selalu terjamin objektivitas atau kejujuran sejarah. Selain itu, sebagai kaum muslimin kita juga mempunyai kewajiban untuk selalu berupaya mengaktualisasikan nilai-nilai sejarah kehidupan dan perjuangan generasi-generasi umat Islam terdahulu, terutama mereka-mereka yang telah terbukti ketulusannya dalam berjuang, apalagi para pahlawan yang telah diabadikan dengan "tinta emas" oleh Allah SWT. dalam kitab suci-Nya Al-Quran. Di sinilah barangkali, letak pentingnya pemaparan kisah-kisah dalam Al-Quran. Sehingga tak heran jika Al- Quran sendiri menyatakan bahwa pada kisah-kisah Al-Quran itu terdapat pelajaran hidup yang amat berharga (ibrah) bagi orang-orang yang berakal budi (Q,S.12:111).
Dengan demikian, tepatlah kiranya sebuah ungkapan yang cukup terkenal dari Bung Karno yang berbunyi, "Jas Merah” artinya: Jangan sekali-kali melupakan sejarah." Dalam kesempatan lain; Bung Karno juga berkata: "Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya." Dalam ungkapan lain, dapat kita katakan, bahwa "umat yang besar adalah umat yang tidak pernah melupakan sejarahnya dan sejarah para tokoh pemimpinnya." Itulah sebabnya sehingga di dalam Al-Quran hampir dua pertiga ayat-ayatnya terdiri dari kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu.
Mempelajari sejarah Islam dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan kita di masa kini merupakan salah satu upaya dalam rangka menghidupkan kembali semangat juang (ruh al-jihad) di kalangan kaum muslimin. Hal itu telah dibuktikan kedahsyatannya dalam memenangkan peperangan oleh panglima perang Salahudin al-Ayubi, ketika beliau membangkitkan semangat juang para prajuritnya sewaktu berperang menghadapi tentara Salib. Sehingga berkat strateginya itu panglima Salahuddin al-Ayubi berhasil mengalahkan pasukan tentara Salib dan dapat menguasai kota Suci Yerusalem, untuk beberapa waktu lamanya. Demikian, Walaahu a’lam.