Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Keluarga 
Sisi Lain Dari Kepemimpinan Rasulullah SAW.
Pages: [1]

(Read 306 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1535
  • Logged
Sisi Lain Dari Kepemimpinan Rasulullah SAW.
« on: 01 Jan, 2019, 08:51:20 »

Sisi Lain Dari Kepemimpinan Rasulullah SAW.

Dalam riwayat perjuangan Nabi, kita mengetahui bahwa Nabi SAW. dan para sahabatnya pernah mengalami perjuangan yang sangat pahit, yaitu kekalahan perang di bukit Ukhud. Dalam perang itulah gugurnya salah seorang sahabat terbaik Nabi yang sekaligus sebagai salah seorang paman beliau dan sebagai tangan kanan dalam perjuangannya, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Beliau wafat dalam keadaan sangat meng- *.genaskan, mayatnya tercabik-cabik, perutnya robek, dan jantung hatinya raib, konon kabarnya dimakan oleh musuh kebuyutan beliau yang bernama Hindun, istri Abu Sufyan.
Dalam pertempuran itu pula Nabi SAW. sempat terperosok ke sebuah lubang, sehingga giginya tanggal dan bahkan sempat tersebar isue bahwa beliau telah wafat. Berita tersebut, sempat mengguncangkan jiwa dan semangat juang sebagian sahabat termasuk Umar Ibnu Khathab, sehingga banyak diantara mereka yang kehilangan konsentrasi pada saat sedang berperang dan nyaris putus asa untuk melanjutkan peperangan.
Pengalaman pahit tersebut sudah barang tentu sangat mengguncangkan hati dan memukul perasaan Nabi SAW., terutama dengan terbunuhnya Hamzah bin Abdul Mutfiallib. Setelah perang usai, Nabi SAW. mendatangi para korban satu persatu. Dengan penuh kesabaran dicarinya jasad Hamzah diantara tumpukan mayat, dan ketika ditemukan, ternyata benar tubuhnya telah dipotong-potong, perutnya sobek dan jantung hatinya raib.
Melihat itu, Nabi bukan alang kepalang murkanya. Beliau bersumpah, "Kalau Allah memenangkan aku (dalam pertempuran berikutnya), akan aku balas perbuatan biadab ini dengan tiga puluh orang diantara mereka." Janji itu, kemudian diamini oleh para sahabat lainnya. Sehubungan dengan sumpah Nabi tersebut, Allah SWT. mengingatkan beliau dengan firman-Nya berikut ini:
“Jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang setimpal dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah, wahai Muhammad, dan tiadalah kesabaran- mu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih terhadap mereka, dan janganlah pula bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan." (QS.16:126-127)
Para sejarahwan mengakui, dan Al-Quran pun membenarkan bahwa tragedi kekalahan perang Ukhud lebih disebabkan oleh faktor kesalahan manusia, yakni ketidakpatuhan sebagian pasukan Rasulullah SAW. karena tergiur oleh ghanimah, terutama pasukan pengawal panah yang ditugaskan di lereng bukit Rawwamah. Karena itu, secara manusiawi, sangatlah wajar jika Nabi SAW. menimpakan kesalahan dan kekalahan itu kepada mereka. Dan sangat wajar pula jika Nabi menghukumi mereka dengan hukuman yang setimpal dengan tindakan indisipliner yang telah dilakukan oleh mereka. Atau paling tidak, orang-orang yang bersalah itu dibebastugaskan atau dikucilkan dari yang lainnya, sebagai sok therafi bagi sahabat- sahabat lainnya.
Tetapi, Rasul yang mulia SAW. tidak demikian. Dengan segala kelapangan dada dan kebesaran jiwa, beliau tetap menerima dan memperlakukan orang yang pernah bersalah itu dengan bijaksana, dengan lemah lembut, dengan kasih sayang, tanpa sedikitpun menampilkan kesan-kesan emosional, apa lagi bersikap kaku dan kasar. Beliau sambut semua sahabatnya, tanpa kecuali dengan hangat dan penuh persahabatan.
Rasulullah SAW. seakan-akan ingin memberikan pelajaran hidup dan perjuangan kepada para sahabat dan umatnya termasuk kita sekalian, untuk merasakan kebahagiaan bersama dan kepedihan bersama. Beliau seolah-olah ingin mengajarkan bahwa kesalahan sebuah perjuangan bukan semata-mata kesalahan pihak-pihak tertentu melainkan kesalahan dan kekalahan bersama, yang harus ditanggung dan diperbaiki secara bersama-sama pula. Seperti halnya kemenangan sebuah perjuangan bukanlah kemenangan seseorang atau pihak-pihak tertentu, tapi kemenangan bersama yang harus dinikmati dan disyukuri secara bersama- sama pula. Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah SWT. memuji Nabi-Nya yang sangat mulia akhlak dan tinggi budi pekertinya itu, dengan menurunkan ayat Al-Quran berikut ini:
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, Engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau berlaku keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menghindarkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepaada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.' (QS.3:159).
Dari penuturan ayat tersebut, jelas sekali bahwa karakteristik pertama dan utama seorang pemimpin adalah memiliki kebesaran jiwa dan kelapangan dada dalam menghadapi setiap persoalan kepemimpinannya, dalam segala situasi dan kondisi. Dalam istilah populer, contoh seperti itulah yang disebut "negarawan sejati".
Mengapa demikian? Sebab, keputusan dan kebijakan seorang pemimpin sangat besar pengaruhnya terhadap tindak-tanduk orang-orang yang dipimpinnya, lebih-lebih dalam kultur suatu masyarakat yang cenderung paternalistik, seperti masyarakat bangsa dan negara Indonesia. Imam Malik rahimahullah berkata: “Annaasu 'alaa diini mulukihim", artinya: "Rakyat suatu bangsa sangat bergantung kepada kepribadian akhlak para penguasanya."
Dengan kebesaran jiwa dan kelapangan dadanya, seorang pemimpin akan menerima dan mengayomi setiap orang yang dipimpinnya tanpa kecuali, dari latar belakang sosial, ekonomi, dan politik manapun, dengan lemah lembut dan bijaksana, penuh kasih sayang, halus pembicaraan dan tutur katanya, tidak emosional, tanpa gampang menuduh, tidak kaku, dan tidak bertindak kasar kepada siapapun, termasuk kepada orang-orang yang secara pribadi mungkin tidak disukainya.
Karakteristik yang demikian itu, sangat nampak pada kepemimpinan Rasulullah SAW., yang dalam surat Ah Imran ayat 159 di atas, model kepemimpinan Nabi yang demikian itu disebut dengan "linta lahum". Menurut Syeikh Al-Fakhr Ar- Razi dan DR. Wahbah Al-Zuhayli, dalam ungkapan kata "linta lahum" terkandung makna antara lain: “lemah lembut," "kasih sayang," dan "suka memudahkan urusan orang lain." Lawan dari kata "linta lahum" adalah fazdzdan, yang berarti "memiliki karakter yang buruk,” dan ghaliizdal qolbi, yang berarti "kasar," "kaku," dan "keras hati," serta "tidak memiliki kepekaan terhadap orang lain".
Rasulullah SAW. adalah sosok panglima perang yaqg amat besar, sosok pemimpin yang amat bijaksana, dan sosok pribadi yang benar-benar menampilkan akhlak kenabian yang amat mulia, sehingga Allah SWT. memuji beliau dengan firman- Nya: “Wa innaka la'alaa khuluqin azdiim," artinya "Sungguh engkau Muhammad benar-benar memiliki budi pekerti yang agung" (QS.68:4). Dalam ayat lain, Allah SWT. menyifati kekasih-Nya ini dengan firman-Nya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu sekalian seorang Rasul dari kaummu s&ndiri, berat terasa olehnya beban penderitaanmu, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin" (QS.9:128)
Karena itulah barangkali, sehingga Rasul yang mulia SAW. bersabda: “Tidak ada hilim yang paling dicintai oleh Allah dari hilimnya seorang pemimpin dan kasih sayangnya, dan tidak ada kebodohan yang paling dibenci oleh Allah kecuali kebodohan seorang pemimpin dan kekasarannya".
Sekiranya Rasul SAW. seorang pemimpin yang arogan, kasar pembicaraanya, kaku tindak tanduknya, keras hatinya, serta buruk karakter dan pembawaannya, niscaya para sahabat dan umat beliau akan menghindar dan menjauhinya. Tetapi, karena kelemah lembutannya, karena kasih sayangnya, karena kebijaksanaanya, serta keramah-tamahan tutur katanya, maka Allah SWT. semakin mendekatkan dan menjinakkan hati para sahabatnya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan semakin dekat para sahabat mengenal Nabi, semakin mempesona keagungan akhlak dan ketinggian budi pekertinya.
Ada semacam aksioma (bukti yang tidak terbantahkan kebenarannya) yang diakui oleh semua ahli, yaitu: "Seseorang dinilai baik, apabila orang-orang yang ada di sekitarnya makin dekat dengannya, mereka melihat makin nampak kebaikan- kebaikan orang tersebut. Dan seseorang dinilai tidak baik atau 
buruk, apabila orang-orang yang ada disekitarnya semakin dekat dengan orang tersebut, mereka melihat makin nampak keburukan-keburukannya". Sehubungan dengan hal itu, di kalangan masyarakat Arab, ada semacam adagium dalam + bentuk sya'ir yang dapat dijadikan standar dalam menilai kepribadian seseorang, seperti dikutif oleh pengarang kitab Jauhar Maknun, yang sangat dikenal di lingkungan pesantren. Sya’ir tersebut berbunyi: "Kaiiimun mataa amdahhu amdahhu walwara ma'iy wa idzaa maa lumtuhu lumtuha wahdiy," artinya: “Orang mulia itu adalah orang yang apabila aku memujinya, maka aku memujinya beserta yang lain, tetapi jika tiba-tiba aku mencelanya, maka aku dibiarkan mencelanya sendirian."
Ada sebuah persaksian yang sangat objektif dari sahabat Abdullah bin Umar yang menggambarkan salah satu karakteristik kepribadian Rasul yang mulia SAW., sebagaimana dituturkannya berikut ini: "Sungguh aku telah melihat sifat- sifat Rasulullah dalam literatur-literatur klasik, ternyata beliau benar-benar seseorang yang tidak memiliki karakter yang buruk, beliau bukan seseorang yang kaku dan kasar hatinya, beliau bukan seseorang yang suka berteriak di pasar-pasar, beliau bukan tipe orang yang suka membalas kejelekan dengan kejelekan, melainkan justru seseorang yang sangat pemaaf dan sangat berlapang dada. ”
Rasulullah SAW. adalah seseorang yang sangat menghargai hubungan kemanusiaan, sama besarnya dengan perhatian beliau terhadap hubungan ketuhanan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Isma'il At-Turmudzi yang diterima dari Siti Aisyah r.a., Rasul SAW. bersabda: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku untuk berlaku baik terhadap setiap manusia, sebagaimana aku telah diperintahkan untuk menunaikan setiap kewajibanku kepada-Nya. (yang bersifat formal)"
Sebagai refleksi dari kebesaran jiwa dan ketinggian akhlaknya itu, maka Rasulullah SAW. sangat pemaaf terhadap
S
kesalahan para sahabat dan terhadap orang-orang yang pernah berbuat salah kepadanya. Beliau juga selalu berusaha untuk memahami dan merasakan keinginan-keinginan para shahabatnya dan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Bila mereka bersalah, beliau maafkan dan beliau mohonkan ampun kepada Allah atas segala kesalahannya, sehingga beliau yakin bahwa Allah telah mengampuninya. Demikian, wallahu a'lam