Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Alumni & Pesantren  Daftar Pesantren di Jawa Timur 
Yayasan Perjuangan Wahidiyah Dan Pondok Pesantren Kedunglo
Pages: [1]

(Read 143 times)   

Admin

  • Administrator
  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Admin No Reputation.
  • Join: 2013
  • Posts: 2592
  • Logged


SEJARAH SHALAWAT WAHIDIYAH DAN PONPES. KEDUNGLO

PONDOK PESANTREN KEDUNGLO
KEDIRI – JAWA TIMUR - INDONESIA
DAN SHALAWAT WAHIDIYAH

BERDIRINYA
PONDOK PESANTREN KEDUNGLO AL MUNADHDHARAH

Letak Geografis

Pondok pesantren Kedunglo al Munadhdhoroh terletak di Desa Bandar Lor Kecamatan Mojoroto Kota Kediri Jawa Timur. Desa Bandar Lor berada di pinggiran sungai brantas sebelah barat dan berada + 1 km dari pusat kota Kediri. Yayasan Perjuangan Wahidiyah Dan Pondok Pesantren Kedunglo


Sesuai dengan data monografi desa Bandar Lor pda tahun 2002, luas desa ini + 111,35 Ha dengan perincian sebagai berikut : pemukiman atau perumahan seluas + 87,50 Ha, sawah dan ladang 9 Ha, jalan seluas 4,5 Ha, jalur hijau seluas 2 Ha, pemakaman seluas 1,5 Ha dan lain-lain 1,3 Ha.
Adapun batas-batas desa Bandar Lor yang menjadi letak Pondok pesantren Kedunglo al Munadhdhoroh adalah :
1.    Sebelah utara desa Mojoroto
2.    Sebelah barat desa Lirboyo
3.    Sebelah selatan desa Bandar Kidul
4.    Sebelah Timur sungai brantas
Pada tahun 2002 jumlah penduduk desa Bandar Lor berjumlah 8.593 jiwa dengan rincian sebagai berikut :
1.    Penduduk laki-laki berjumlah 4.074 orang dengan rincian 4.073 WNI dan 1 WNA
2.    Penduduk perempuan berjumlah 4.519 orang dengan rincian 4.516 WNI dan 3 WNA
Mereka menyebar di 39 RT dan 8 RW, Pondok Pesantren Kedunglo Al Munadzdzarah berada di RT. 17 RW.03.


Sejarah Berdirinya Pondok
1.    Latar Belakang Berdirinya Pondok
Pada akhir tahun 1800-an hingga tahun 1900 banyak oran g islam indonesia mulai menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin berkompetisi dengan kekuatan-kekuatan yang menantang islam yaitu dari pihak kolonialisme Belanda, penetrasi kristen dan perjuangan untuk maju di bagian-bagian lain di Asia apabila mereka terus melanjutkan kegiatan dengan cara-cara tradisional dalam menegakkan islam mereka mulai menyadari perlunya perubahan-perubahan .

Salah seorang yang menyadari perlunya perubahan-perubahan tersebut adalah KH. Mohammad Ma'roef. Lalu ia mendirikan sebuah pondok yang bernama “Kedunglo” yang terletak di desa Bandar Lor kecamatan Mojoroto Kediri. KH. Mohammad Ma'roef mendirikan pondok pesantren ini karena melihat semakin berkembangnya masyarakat pada masa penjajahan kolonialisme yang pembinaannya telah didahului oleh ulama-ulama besar di jamannya.

Di kota Kediri, pada awalnya sudah mengenal agama secara luas, termasuk agama islam. Namun pada penerapan ajarannya perlu ditata lagi, karena mereka belum sepenuhnya menerapkan syari’at islam, akan tetapi pada prakteknya masih dicampur dengan adat istiadat yang bertentangan dengan syari’at islam.


KH. Mohammad Ma'roef, puta dari K. Abdul Madjid pendiri pondok pesantren Klampok Arum desa Badal Ngadiluwih kab. kediri ini juga alumni pondok pesantren. Sebagai penerus dari perjuangan ayahnya, ia lantas ingin mendirikan sebuah pondok pesantren, sebagai sarana untuk mewujudkan masyarakat yang religius, masyarakat yang berbudi pekerti dan berakhlak.

Sepulang dari belajar di Makkah al Mukarramah selama + tujuh tahun, KH. Mohammad Ma'roef tampak semakin alim dan waskita . Oleh karena itu, KH. Mohammad Ma'roef disuruh oleh mertuanya - K. Shaleh , Banjarmlati Mojoroto - untuk mencari tanah yang akan dijadikan pondok pesantren .

KH. Mohammad Ma'roef tidak menyia-nyiakan hal tersebut, dia lantas tirakat sambil mengamalkan shalawat nariyah sebanyak 4.444 kali per hari. Akhirnya dia mendapat petunjuk atau hidayah dari Allah swt. bahwa tanah yang cocok untuk dijadikan pondok olehnya adalah tanah yang berada di sebelah barat sungai brantas diantara dua jembatan.
Petunjuk yang diperoleh KH. Mohammad Ma'roef lalu dihaturkan kepada mertuanya, akan tetapi mertuanya, K. Shaleh, dan beberapa orang kerabat dan teman mengecam atau tidak setuju dengan tanah pilihan KH. Mohammad Ma'roef. Hal ini disebabkan karena tanah tersebut dikenal sebagai bumi supit urang, yaitu tanah yang berwujud rawa / perairan semacam danau dan tidak berupa daratan. Namun KH. Mohammad Ma'roef tetap pada pendiriannya memilih tanah tersebut sambil mengemukakan beberapa alasan. Alasan tersebut adalah bahwa KH. Mohammad Ma'roef yakin bahwa pondok yang akan didirikannya suatu saat nanti akan memiliki keistimewaan. Yang pertama, dekat dengan pasar (pasar Bandar, utara lokasi pondok), kedua, dekat dengan sungai, ketiga, dekat dengan pusat kota. Akhirnya alasan tersebut diterima dan jadilah tanah tersebut dibeli.



Setelah tanah dibeli, pada 1800-an KH. Mohammad Ma'roef mendirikan sebuah pondok pesantren. Pondok tersebut kemudian diberi nama “Kedunglo”. Nama ini diambil dari kondisi pondok tersebut dibangun, yaitu pondok didirikan diarea kedung (semacam danau) dan disana tumbuh pohon Lo yang besar .

Karena di lokasi pondok yang pertama sering terjadi banjir sehingga menggenangi sekitar lokasi pondok, maka pada tahun 1901 lokasi pondok pesantren Kedunglo di pindahkan keselatan + 100 m dari lokasi semula. Maka dibangunlah masjid dan pondokan untuk santri, yang mana masjid dan pondokan yang dibangun KH. Mohammad Ma'roef sampai sekarang masih berdiri kokoh dan belum di ganti (pugar).
Setelah KH. Mohammad Ma'roef tinggal di pondok Kedunglo, maka berduyun-duyunlah para santri yang ingin menimba ilmu kepadanya. Namun karena dia kurang suka memiliki banyak santri, maka sebagian santrinya diserahkan kepada K. Abdul Karim , pendiri PP. HM. Lirboyo, yang saat itu santrinya masih beberapa orang saja.

Ketika ditanya mengapa KH. Mohammad Ma'roef tidak suka mempunyai banyak santri ? dia hanya menjawab : “Aku tidak mau memelihara banyak santri. Disamping repot kalau punya banyak santri, pondok ini jadi kotor. Karena itu saya mohon kepada Allah agar santri saya tidak lebih dari empat puluh orang saja. Kalau lebih dari empat puluh nanti ada yang nakal akhirnya pondok ini jadi rusuh”. Memang benar, santri KH. Mohammad Ma'roef tidak pernah lebih dari empat puluh orang. Kalau lebih pasti ada yang pulang.

Selain sebagai pengasuh pondok, KH. Mohammad Ma'roef juga sebagai guru tunggal, tidak ada guru / ustadz selain dia. Karena santri-santrinya ditangani sendiri, maka tak heran bila sepulang dari mondok di Kedunglo para santrinya menjadi orang yang alim dan ampuh. Diantara santrinya yang menjadi orang besar adalah K. Dalhar Watu Congol Magelang jawa Tengah, K. Manab Lirboyo Kediri Jawa Timur (konon meski sudah memiliki banyak santri, K. Manab masih mengaji ke Kedunglo), K. Musyafa’ Kaliwungu Kendal Jawa Tengah, K. Dimyathi Tremas, K. Musthafa Bisri Rembang Jawa Tengah, K. Mubasyir Mundir kediri, K. Marzuki Solo, dan para kyai yang ada di Kediri (pada masanya) yang pada umumnya pernah belajar /mengaji pada KH. Mohammad Ma'roef  .


KH. Mohammad Ma'roef menguasai berbagai macam disiplin ilmu, maka kitab-kitab yang diajarkan juga kitab-kitab yang tinggi. bahkan cara mengajarnya tidak sebagaimana ustadz-ustadz zaman sekarang. Untuk mengajar syarah al Fiyah saja diamping menerangkan syarahnya, dia juga membahas ‘arudnya (balaghahnya), maka satu mata pelajaran yang dibahas sudah meluas ke mata pelajaran yang lain .
Setelah + 56 tahun memimpin pondok pesantren Kedunglo, pada hari Rabu Wage ba’da Maghrib Bulan Muharram 1375 / th 1955 KH. Mohammad Ma'roef berpulang ke rahmatullah, pucuk pimpinan pondok pesantren Kedunglo digantikan kepada putra beliau yang bernama KH. Abdul Madjid Ma'roef.

Pada masa awal kepemimpinan KH. Abdul Madjid Ma'roef keadaan pondok masih seperti pada masa KH. Mohammad Ma'roef, yaitu belum begitu banyak santri yang mondok. Bahkan madrasah secara formalpun belum terbentuk. Baru sekitar tahun 1970-an madrasah pondok baru berdiri.

2. Dasar dan Tujuan Pondok Pesantren
Yang dijadikan dasar oleh pondok pesantren Kedunglo sebagai lembaga pendidikan islam sama seperti pondok-pondok lain, yaitu melaksanakan tugas penyiaran dan pembinaan ajaran islam serta mengembangkannya serta mewarnai masyarakat dengan warna yang islami. Artinya bahwa pondok pesantren membina akhlak, tingkah laku dan perbuatan yang dilaksanakan masyarakat berdasarkan pada ajaran islam sehingga terciptalah masyarakat yang yang islami.


Pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan umat dan pengembangan agama islam. Dengan memperhatikan masyarakat Indonesia dewasa ini, maka santri pondok pesantren Kedunglo diharapkan dapat dan mampu :

a.    Memiliki wawasan keagamaan yang luas serta pandangan yang kritis terhadap jalannya pembangunan baik mental maupun spiritual.
b.    Mampu mengkontekstualisasikan ajaran islam kepada umat masyarakat.
c.    Menciptakaan struktur kemasyarakatan yang lebih profesional dan madani melalui ajaran islam.

Konsep madani bagi orang arab mengacu pada hal-hal yang ideal, yakni mengacu pada kehidupan Rasul pada periode Madinah dengan pesona keberhasilan Rasul membangun dan membina masyarakat yang plural, demokratis, damai, saling menghormati dengan landasan hukum hak dan tanggung jawab bersama. Kata madani juga ideal dalam kontek sosiologis dunia Arab, dimana kota selalu menjanjikan peradaban yang lebih makmur .


Tindakan-tindakan sebagaimana tersebut diatas akan menjadi kepribadian yang khas dari pondok pesantren Kedunglo. Hal ini bisa dirasakan dari usaha pembinaan santri dalam pembiasaan dan pengertian yang nantinya akan menghasilkan kader-kader yang militan untuk ikut serta membangun umat masyarakat secara kaffah.

3. Tokoh Pendiri Pondok Pesantren / KH. Muhammad Ma’ruf
Tokoh pendiri Pondok Pesantren Kedunglo Al Munadhdharah adalah KH. Mohammad Ma'roef. Dia lahir di dusun Klampok Arum desa Badal kecamatan Ngadiluwih kab. Kediri pada tahun 1852. KH. Mohammad Ma'roef berasal dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya adalah K. Abdul Madjid, dia pendiri pondok pesantren Klampok Arum sebelah selatan Masjid Badal dan seorang yang sangat disegani dan ditokohkan didaerahnya.

Konon K. Abdul Madjid, ayah KH. Mohammad Ma'roef, mempunyai kebiasaan tirakat dengan hanya makan kunyit saja. Menurut penuturan KH. Mohammad Ma'roef kepada santrinya, K. Abdul Madjid mempunyai kesabaran yang luar biasa. Sehingga sang istri yang ingin tahu kemarahan sang suami membuatkan sayur tom, sayur yang rasanya sangat pahit, kemudian dihidangkan kepada K. Abdul Madjid. Akan tetapi dengan lahapnya, seolah tidak merasakan pahit, K. Madjid menghabiskan sayur yang telah dihidangkan istrinya. Malah ia tersenyum sembari berkata : “segar sekali sayur buatanmu ini, besuk buatkan sayur seperti ini lagi, ya!”. Pintanya kepada istrinya.


KH. Mohammad Ma'roef adalah putra kesembilan dari sepuluh bersaudara, tiga perempuan dan tujuh laki-laki. Suadara-saudaranya itu adalah : Nyai Bul kijah, KH. Muhajir, K. Ikrom, K. Rahmat, K. Abdul Alim, K. Jamal, Nyai Muttaqin, K. Abdullah, KH. Mohammad Ma'roef, dan Nyai Suratun.

KH. Mohammad Ma'roef tidak lama merasakan kasih sayang ibunya, sebab ibunya wafat ketika dia masih kecil. Akan tetapi dia masih merasakan kasih sayang sang ayah dan saudara-saudaranya. Namun, tak lama kemudian ayahnya menyusul ibunya dipanggil sang khaliq, Allah swt. Setelah itu KH. Mohammad Ma'roef diasuh oleh kakak sulungnya, Nyai Bul Kijah.

Karena kondisi ekonomi Nyai Bul Kijah pas-pasan, maka ketika diusia sekolah, Mohammad Ma'roef belum masuk sekolah. Dia hanya belajar mengaji al Qur’an yang diajari oleh Nyai Bul Kijah, sang kakak. Itupun Nyai bul Kijah sering mengeluh, ini dikarenakan Mohammad Ma'roef kecil sangat bodoh. Apa yang diajarkan kakaknya seakan tidak ada yang diterimanya. Akhirnya Nyai Bul Kijah menyuruhnya untuk puasa senin-kamis.

Tidak lama setelah melaksanakan puasa senin-kamis, Mohammad Ma'roef bermimpi ada seekor ikan emas meloncat masuk ke dalam mulutnya. Mimpi ini diartikan bahwa Mohammad Ma'roef mendapatkan tanda-tanda adri Allah bahwa dia mendapatkan suatu ilmu.
Suatu ketika Mohammad Ma'roef dimarahi oleh Nyai Bul Kijah dan dipukul dengan ulek-ulek, alat untuk menggerus sambal, oleh Nyai Bul Kijah lalu dia ngambek dan menyusul kakak-kakaknya yang terlebih dulu sudah berada di pondok dengan berjalan kaki, pondok pesantren di desa Cepoko kec. Berbek Kab. Nganjuk.


Di pondok tersebut, Mohammad Ma'roef hanya makan seminggu sekali, itupun pemberian warga sekitar yang setiap malam jum’at mengirim makanan ke pondok. Pada hari-hari biasa , jika lapar ia hanya makan intip   yang masih melekat dipanci dan tak dimakan oleh pemiliknya atau memakan buah pace yang pohonnya dia tanam sendiri dilingkungan pondok.

Kondisi yang memperihatinkan selama nyantri tersebut membuat Mohammad Ma'roef mempunyai kebiasaan puasa dan munajat kepada Allah, sehingga suatu ketika Allah menganugerahkan ilmu laduni  kepadanya.

Akan tetapi untuk mendapatkan ilmu laduni ini tidaklah mudah. KH. Mohammad Ma'roef muda harus benar-benar tirakat serta riyadhah dengan waktu yang cukup lama. Ilmu laduni yang diberikan Allah kepada KH. Mohammad Ma'roef itu dibidang : Ilmu Fiqh, yaitu bermula dari mimpi yang mengajar kitab kuning di pondok. Setelah kejadian tersebut dia yang sudah mondok selama tujuh tahun dan baru kelas satu Tsanawiyah tiba-tiba bisa membaca kitab kuning. Kemudian ia sowan kepada K. Muh, pengasuh pondok, menceritakan yang telah dialaminya. Kemudian K. Muh mengumumkan kepada seluruh santri kalau besok dia tidak mengajar dan akan digantikan oleh Ma'ruf dari Kediri.

Mendengar pengumuman dari sang kiyai, teman-teman mondok M. Ma'ruf banyak yang mentertawainya bahkan mengejek. “Orang tidak bisa ngaji kok disuruh mengajar, apalagi menggantikan kyai. Apa dia bisa ?”. Namun benar saja, Muhammad Ma'ruf bisa mengajar bahkan ia hafal isi kitab milik gurunya, sehingga berita ini menggemparkan seluruh isi pondok. Muhammad Ma'roef yang dulunya bodoh, tidak bisa mengaji, diremehkan bahkan dibenci oleh teman-temannya tiba-tiba menjadi orang yang ‘alim, seketika itu juga mereka (teman-teman Mohammad Ma'roef) segan dan menghomati Mohammad Ma'roef. Bahkan, menurut cerita, K. Muh sendiri ikut berguru / mengaji kepada Mohammad Ma'roef.


Beberapa lama setelah kejadian itu, Mohammad Ma'roef melanjutkan perburuan mencari ilmu ke Semarang pada K. Shalih. Genap dua tahun mondok pada K. Shalih di Semarang dia pindah ke pondok Langitan Tuban. Setelah setahun belajar di pondok Langitan Tuban, dia pulang ke Kediri. Tak lama berselang, dalam usia 30 tahun, dia diambil menantu oleh K. Shalih dari Banjarmlati Kediri untuk putri sulungnya yang bernama Hasanah. + Dua tahun menikah puta pertama Mohammad Ma'roef dan Ny. Hasanah lahir, namun begitu rasa hausnya akan ilmu membuat dia harus meninggalkan keluarganya untuk menimba ilmu pada K. Khalil Bangkalan Madura yang termasyhur sebagai waliyullah.
Setibanya di pondok K. Khalil Bangkalan dia disambut langsung oleh sang tuan rumah : “ Hai, anak jawa tampaknya kamu lapar, ini saya beri makan, harus dihabiskan”. Kata K. Khalil sambil menyerahkan senampan besar nasi dengan lauk ikan bandeng sebesar betis. “Ya, Kiyai”, jawab Mohammad Ma'roef. Diapun mulai menyantap nasi dan lauk yang dihidangkan tersebut dengan niat menyerap ilmunya K. Khalil.

Selama Mohammad Ma'roef makan, K. Khalil terus mengawasinya dengan berdiri disampingnya. Tangan K. Khalil membawa tongkat yang siap dipukulkan apabila Mohammad Ma'roef tidak mampu menghabiskan makanan tersebut.

Bagi Mohammad Ma'roef yang terbiasa dengan puasa dan berlapar-lapar, menghabiskan makanan yang sebegitu banyak tentu saja tidak akan mudah. Namun karena didorong niat yang kuat untuk menyerap ilmunya sang kiyai, diapun lantas berdo’a kepada Allah agar bisa menghabiskan makanan tersebut. Konon, do’a Mohammad Ma'roef ini bila di baca, maka seberapa banyak makanan yang dimakan, perut tidak akan merasa penuh dan makanan akan tetap bisa masuk ke perut. Dan benar saja, makanan yang dihidangkan K. Khalil habis dimakan Mohammad Ma'roef sendirian.

Selama nyantri pada K. Khalil, KH. Mohammad Ma'roef muda tetap pada kegemarannya untuk senantiasa riyadhoh, bahkan semakin menjadi-jadi. Dan riyadhoh seolah sudah mendarah daging dengan Mohammad Ma'roef. Selama itu pula ia mempunyai kebiasaan berziarah ke makam-makam keramat auliya se- Madura. Di makam-makam tersebut dia bukan hanya berziarah, tapi juga tirakat. Apabila dia belum bertemu dengan wali yang dimakamkan di situ, dia belum mau pergi. Sehingga dia dapat langsung berdialog dengan wali yang sedang diziarahi. Tujuan riyadhohnya adalah ingin mempunyai ilmu laduni.


Terakhir dia riyadhoh di makam yang berada di Bujuk Sangkak, disini dia bertemu dengan yang diziarahi dan berkata : “Hai, anak muda, mengapa kamu tirakat disini, apa yang kamu cari ?”. “Saya santri K. Khalil Bangkalan, ingin jadi orang alim. Do’akan saya agar mendapatkan ilmu laduni”, jawab Mohammad Ma'roef. Penghuni makam tersebut menjawab : “Kamu bisa mendapatkan ilmu laduni, tapi tirakatmu masih kurang”.

Mendengar jawaban itu, Mohammad Ma'roef langsung menangis sedih. Setengah putus asa, kemudian dia kembali ke pondok sambuil terus menangis. Mengetahui hal itu, K. Khalil langsung menegur santinya itu : “Ma'roef sudah berminggu-minggu kamu tidak berada di pondok, pergi kemana kamu ?”. Ma'rufpun menceritakan apa yang dialaminya dan berkata kalau riyadhahnya masih kurang.

“Ada satu makam lagi yang belum kamu datangi, yakni makam Kyai Abu Syamsudin di Batu Ampar. Dia seorang wali besar. Semalam saya bertemu Kyai Abu Syamsudin, dia menyuruh saya menulis dikuburannya, siapa yang bisa menghatamkan Al-Qur’an sekali duduk, apapun keinginannya akan terkabul”. Kata K. Khalil. Mendengar hal itu, Mohammad Ma'roef langsung berangkat ke Batu Ampar dan menghatamkan Al-Qur’an sekali duduk mulai Shubuh sampai Ashar.
Selesai menghatamkan Al-Qur’an, seketika datang angin lesus menerjang tubuh Mohammad  Ma'roef. Perasaannya saat itu, seakan dia ditumpahi nasi kuning hingga dia muntah berak. Ditumpahi nasi kuning ini diartikan bahwa Mohammad Ma'roef diberi ilmu oleh Allah berkah riyadhahnya di makam K. Abu Syamsudin.

Sepulang riyadhah di makam K. Abu Syamsudin, segala kitab yang ada di pondok K. Khalil dikuasainya. Maka tercapailah sudah keinginan Mohammad  Ma'roef untuk mendapatkan ilmu laduni tersebut.
Diantara teman belajar KH. Mohammad Ma'roef’ saat pada K. Khalil Bangkalan adalah KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), KH. Abdul Karim Manaf (Pendiri PP. HM. Lirboyo – saudara ipar KH. Mohammad Ma'roef’).
Suatu hari Mohammad Ma'roef dipanggil K. Khalil, “Ma'roef, saya akan pergi haji. Pondok ini saya serahkan kepadamu.” Diserahi pondok bukannya malah senang, dia malah masygul dan susah sekali. “Kyai, saya kesini pengen ngaji kok mau ditinggal. Saya mau ikut panjenengan naik haji saja, kyai.” Apa boleh buat, akhirnya K. Khalil mengabulkan permintaan murid kesayangannya.


Selesai mengikuti gurunya menyempurnakan rukun Islam yang kelima, H. Mohammad Ma'roef menetap di Makkah untuk melanjutkan studi dan membuat rumah di sana. Kepada santrinya KH. Mohammad Ma'roef tidak pernah menceritakan siapa saja yang menjadi gurunya selama belajar di Makkah. Namun karena dia di sana antara tahun 1887 – 1894, dapat diduga bahwa gurunya antara lain : Syekh Nawawi Al Bantani dari Banten, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi dari Minangkabau, Syekh Makhfud dari Tremas Pacitan, Syekh Abas Al Yamani, Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Mufti Madzhab Syafi’I di Makah35. Sepulang dari Makkah H. Mohammad Ma'roef mendirikan pondok yang diberi nama pondok pesantren Kedunglo36.

Pada tahun 1926, KH. Mohammad Ma'roef menerjunkan diri dalam organisasi kemasyarakatan. Hal ini karena diajak oleh sahabatnya yakni KH. Mohammad Hasyim Asy’ari yang pada waktu itu akan mendirikan Persatuan Nahdhatul Ulama (NU). Saat pendirian NU, KH. Mohammad Ma'roef duduk di Mustasyar NU. Sebagai penasihat di NU, dia kerap menghadiri muktamar-muktamar NU yang diadakan di daerah-daerah. Karena dia sudah terkenal makbul do’anya, maka dia sering didaulat untuk memimpin do’a. Biasanya, jika para ulama NU mengadakan Bahsul  Masail dan menemui jalan buntu, maka jalan keluarnya adalah mereka sowan pada KH. Mohammad Ma'roef untuk meminta petunjuk.
Dalam hal ini KH. Mohammad Ma'roef’ menunjukkan kelas dan kekharismatikannya. Dengan hanya mengatakan : “masalah itu ada di kitab anu……”. Tanpa menjelaskan detail masalahnya. Dia memberi petunjuk tentang penyelesaian dari masalah tersebut.

 Sumbangsih KH. Mohammad Ma'roef kepada negara di zaman perjuangan mengusir penjajah  amatlah besar. Hal ini ditunjukkan saat pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, bersama Mayor Hizbullah Mahfud dan Kyai Hamzah yang juga turut ke medan pertempuran. Dia juga memberi bekal kepada para prajurit yang akan turun ke medan laga dengan do’a-do’anya dengan harapan tidak terlihar oleh musuh dan kebal senjata.

Pada hari-hari terakhir menjelang wafatnya, KH. Mohammad Ma'roef yang memiliki do’a-do’a ampuh untuk segala macam urusan ditulis keseluruhannya di papan tulis. Kemudian dia menyuruh santrinya untuk menulis do’a-do’a yang disukai. Dengan senang hati para santri segera menulis do’a-do’a tersebut lalu disowankan kepada gurunya. Do’a-do’a pilihan yang sudah ditulis di kertas itu oleh KH. Mohammad Ma'roef hanya ditiup saja.

KH. Mohammad Ma'roef juga sering berwasiat kepada para tamu yang sowan dan minta petunjuk, agar mengamalkan sholawat saja. Lebih jelas dia mengatakan kalau di Kedunglo nanti akan lahir sholawat bagus.


Wasiat serupa juga disampaikan kepada mbah Khomsah familinya saat minta restu akan mengikuti bai’at thariqah yang dihadiri oleh K. Romli dari Nganjuk. Dia berkata, “Sah, jangan ikut bai’at Thariqah, Thariqah itu berat. Untuk orang yang punya uang tidak kuat. Sepeninggalku nanti, di Kedunglo akan ada sholawat yang baik, tunggulah kamu akan menjumpai sholawat itu. “ Terbukti, tujuh tahun setelah KH. Mohammad Ma'roef wafat shalawat yang dinantikan yakni sholawat Wahidiyah lahir.
Pada detik-detik menjelang wafatnya, KH. Mohammad Ma'roef yang berusia 103 tahun tidak kuat naik ke mesjid, dia tidak biasanya menyuruh murid-muridnya yang dari Mojo (K. Makhsun, K. Ruba’i, K. Mahfud dan K. Mukhsin) agar mengajar anak-anak kecil pakai papan tulis. Padahal jangankan mengajar mau sekolah saja empat sekawan tersebut oleh Mbah  Ma'roef tidak diperkenankan.

Dalam kepayahannya karena sakit, dia masih memikirkan pembangunan pondoknya dengan menyuruh santrinya, Makhsun dan Siyabudin mencari uang untuk membangun pondok. Mereka pun pergi ke Surabaya, Gresik dan Malang melaksanakan perintah gurunya, KH. Mohammad Ma'roef
Kelihatan sekali kalau Sang pendiri pondok pesantren Kedunglo sangat dermawan. Meski ajal akan menjemput, dia masih juga berfikir untuk bershadaqah. Dengan tangan lemas lunglai dia membuka-buka kasur dan bantal mencari-cari uangnya. Nyahi Romlah sang putri melihat kelakuan aneh ayahnya sampai menegur, “Pak, sakit-sakit kok mencari uang buat apa?”. “Kamu ini bagaimana, ya buat shadaqah.” Jawab KH. Mohammad Ma'roef’.

Akhirnya, pada hari Rabu Wage ba’da Maghrib di bulan Muharrom tahun 1373 H / 1955 M KH. Mohammad Ma'roef menghembuskan nafasnya yang terakhir menghadap kehadirat Allah SWT dengan tenang. Sebagai penerusnya untuk mengasuh Pondok Pesantren Kedunglo adalah KH. Abdul Madjid Ma'ruf.


4.   Kisah sekilas, KH. Abdul Madjid Ma’ruf Qs. wa Ra.
Kedunglo Kediri, pada hari Jum’at Wage malam 29 Ramadhan 1337 H bertepatan dengan 28 Oktober 1918, sebagai putra ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan Syech Muhammad Ma’ruf, Ra. pendiri Pondok Pesantre Kedunglo Al-Munadhdhoroh dengan Ibu Nyai Hasanah, putri K. Soleh, Banjar Mlati Kediri.

a.    Masa Kecil Gus Madjid, Qs. Ra.
Ketika masih berusia 2 tahun oleh kedua orang tuanya Agus Madjid di bawah pergi haji ke Makkah Al-Mukarromah. Ketika di Makkah, setiap memasuki jam 12 malam KH. Muhammad Ma'ruf menggendong Gus Madjid ke Baitullah dibawah atap Emas, disana KH. Muhammad Ma'ruf berdo’a agar bayi yang berada dalam gendongannya kelak menjadi orang besar yang saleh (putih-penulis) hatinya, begitu juga halnya ditempat-tempat mustajabah lainnya, KH. Muhammad Ma'ruf selalu mendo’akan Gus Madjid agar menjadi orang saleh.
Ketika di ajak KH. Muhammad Ma'ruf, ke salah seorang Ulama Makkah, Gus Madjid akan diangkat anak olehnya, namun ibu Nyai Hasanah keberatan sehingga Gus madjid tetap berada dalam asuhan kedua orang tuanya. Yang akhirnya muncul sebuah ungkapan , “Kalau bukan karena KH. Abdul Madjid Ma'roef maka Sholawat Wahidiyah tidak akan lahir dan kalau bukan karena ibu Nyai hasanah, Sholawat wahidiyah tidak akan lahir di bumi Indonesia, khususnya di bumi Kedunglo”.

b.    Masa Muda dan Masa Belajar KH. Abdul Madjid Ma'roef Qs. Ra.
Memasuki usia sekolah, Gus Madjid sekolah di Madrasah Ibtidaiyah, namun hanya sampai kelas 2, selanjutnya, ayahnya KH. Muhammad Ma'ruf mengantarkannya mondok di Jamsaren Solo Jawa Tengah pada Syech Abu Ammar.

Genap 7 hari di Jamsaren, Gus Madjid di panggil gurunya dan berkata, “Sudah Gus, panjenengan pulang saja ke Kedunglo”. Gus Madjid menaati perintah gurunya K. Abu Ammar, dengan pikiran penuh tanda Tanya, “ kenapa diperintahkan pulang”, kemudian beliau pun pulang dan dititipi surat agar disampaikan kepada ayahnya.
Setibanya dirumah, ternyata ayahnya, belum pulang,  sementara yang diantarkan sudah sampai dirumah.

Terdorong oleh jiwa muda Gus Madjid haus akan ilmu pengetahuan, kemudian dia diantarkan oleh ayahnya mondok di Mojosari Loceret Nganjuk Jawa Timur yang diasuh oleh K. Zainuddin. Dipondok inipun, setelah tujuh hari beliau dipanggil gurunya, dan mengatakan, “Gus, kamu sudah cukup, tidak usah mondok, pulang saja dirumah “. Gus Madjid pun akhirnya kembali ke Kedunglo dan matur  (bicara-pen) kepada ayahnya, bahwa gurunya tidak bersedia memberi pelajaran. Akhirnya KH. Muhammad Ma'ruf berkata : “Ya sudah, kalau begitu, kamu saya ajari sendiri, satu bulan nilainya sama dengan 1000 bulan”. ujar Syech Ma’ruf.


Maka setelah itu, gurunya adalah ayahnya sendiri, KH. Muhammad Ma'ruf Ra. yang mewarisi ilmunya K. Cholil Bangkalan Madura Jawa Timur. Beliau diajari beraneka macam ilmu, yang diajarkan di pondok-pondok pesantren maupun ilmu yang tidak diajarkan di pondok pesantren. Maka tak heran kalau pada akhirnya Gus Madjid tumbuh sebagai pemuda yang alim dan wara’. Ibarat padi, semakin berisi, semakin merunduk. Semakin tinggi ilmunya, beliau semakin tawadu’ dan pendiam, sehingga siapapun tidak pernah menyangka, kalau dibalik pendiamnya tersimpan segudang ilmu pengetahuan dan sejuta keistimewaan, tapi beliau tidak pernah, menampakkan keistimewaannya maupun karomah-karomahnya kepada sesama.

c.    Masa Menikah
Ketika Gus Madjid berusia 27 tahun dan hampir menguasai keseluruhan ilmu ayahnya, beliaupun semakin nampak dewasa dan matang. Maka tidak aneh, kalau banyak gadis yang mengidamkannya, karena beliau disamping dikenal sebagai putra Syech Ma’ruf yang ampuh, masyhur dan makbul do’anya, Gus Madjid juga seorang sosok pemuda yang alim berwajah tampan nan rupawan bagai rembulan  serta berhati putih.
Dari sekian gadis yang mendambakan dipersuntingnya, akhirnya dipilihlah seorang putri bernama, Sofiyah Binti Syech Muhammad Hamzah, dari Mangunsari, Tulungagung Jawa Timur. Dari pernikahan ini, mereka mempunyai sepuluh orang putra dan putri, mereka adalah : Dra. Nurul Ismah, Dra. Tatik Faricha, KH. Abdul Latif Madjid (Pengasuh Ponpes. Kedunglo), Dra. Jauharotul Maknunah, KH. Abdul Hamid Madjid, Istiqomah, Tutik Indiyah, SE., H. Agus Syafik, Husnatun Nihayah, Ina.

KH. Abdul Madjid Ma'roef juga menikah dengan seorang wanita dari Kepanjen, Malang yang bernama Suwati (Alm). Dari perikahan ini mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu : Agus Ali Irfan dan Agus Nafa’, keduanya meninggal ketika masih kecil.

d.    Kepribadian KH. Abdul Madjid Ma'roef QS. RA.
Gus Madjid, mempunyai kepribadian yang sangat santun, mempesona, berhati putih, suci dan berwibawa, menurut penuturan, orang-orang yang hidup sezaman dengan beliau, mengatakan bahwa, akhlak Gus Madjid, adalah diakhlaki dengan Rasulallah SAW.
Jika bicara tenang dan santai, disertai senyum ramah dan sering melontarkan kalimat-kalimat canda yang membuat beliau dan tamunya tertawa. Beliau berbicara dengan kalam, artinya kata yang dituturkannya mengandung makna yang dalam karena beliau mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu dengan ringkas dan padat, bila mengucapkan kata-kata, sangat jelas, tidak lebih dan tidak kurang dari yang dikehendaki, beliau sangat memperhatikan dengan sungguh, kepada orang yang berbicara dengannya. Beliau juga dikenal sangat dermawan, tak jarang tamu yang sowan dan nampak tidak punya ongkos buat pulang, tamu tersebut diberi bekal secukupnya, pernah juga memberi belanja kepada seorang pengamal yang tidak punya penghasilan, adapula seorang pengamal yang ingin tahu keramat beliau, maka ketika si tamu pamit pulang, Syech Madjid memberikan jubahnya, kepada si tamu.
Beliau sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian badannya. Baju yang telah dipakainya sekali, tidak dipakai lagi, sehingga tak heran kalau beliau sering mencuci pakaiannya sendiri, bahkan juga menguran jedingnya sendiri. Dalam amsalah ini, beliau pernah mengungkapkan rumahnya itu hendaknya suci seperti masjid dan bersih seperti rumah sakit.


Bila marah, beliau Cuma diam, hanya roman mukanya sedikit berubah, kalau beliau mau bicara, pertanda bahwa marahnya sudah hilang dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

e.    Kehidupan Rumah Tangga
Syech Abdul Madjid, QS. RA. memiliki rumah  tangga yang sangat islami dan harmonis, hampir tidak pernah terjadi perselisihan dan pertengkaran, kalaupunm ada kesalahan yang telah dilakukan, masing-masing sibuk mengoreksi kesalahannya sendiri, sebagai suami, beliau sosok suami yang romantis, amat setia mencintai dan menyayangi istri sepenuh hati. Kalau beliau berjalan berdua dengan bu Nyai. Di gandengnya tangannya Bu Nyai, dan kemana-mana selalu berdua.
Dalam kehidupan sehari-hari, Syech Madjid sebagaimana yang dituturkan Nyai Hj. Shofiyah, beliau sebagaimana manusia biasa, yang mencuci baju sendiri, dan mencucikan baju Mbah Nyahi atau baju putra-putrinya.

f.    Kepemimpinan di Ponpes. Kedunglo
Selama KH. Abdul Madjid Ma'roef memimpin Pondok Pesantren Kedunglo, santri di pondok ini pun bertambah, tidak dibatasi seperti pada masa KH. Mohammad Ma'roef. Didepan masjid dibangun serambi, dan didepan serambi masjid agak keselatan dibangun sebuah pondokan untuk santri.

Pada masa KH. Abdul Madjid Ma'roef inilah pendidikan di Pondok Pesantren Kedunglo semakin berkembang. Dengan motto pendidikan “Mencetak Wali Yang Intelek dan Intelek yang Wali” sang pengasuh pondok mendirikan madrasah diniyah (yang dulunya tidak ada), SMP dan SMA. Hal ini dimaksudkan unuk membina santri tidak hanya mengerti ilmu agama, namun juga bidang ilmu yang lain (ilmu umum) yang tentunya didasari hati senantiasa taqarrub ilalloh wa Rasulihi Saw.
Setelah + 34 tahun memimpin pondok dan + 26 tahun membina umat mayarakat untuk kembali sadar kepada Allah wa Rasulihi saw., pada hari selasa tanggal 7 maret 1989 / 1410 H ( + seminggu setelah mujahadah kubro rajab 1410 H) KH. Abdul Madjid Ma'roef Qs wa Ra. wafat diusia 71 tahun Masehi / 73 tahun Hijriyah. Sepeninggal KH. Abdul Madjid Ma'roef, Pondok Pesantren Kedunglo serta Perjuangan Wahidiyah yang mengangkat umat masyarakat dari jalan kesesatan dalam kesadaran kepada Allah wa Rasulihi saw menuju umat yang berkesadaran kepada Allah wa Rasulihi saw dengan jalan mengamalkan shalawat wahidiyah kemudian dipimpin oleh putra beliau, yaitu KH. Abdul Latif Madjid Ra.


KH. Abdul Latif  Madjid adalah putra ketiga KH. Abdul Madjid Ma'roef dan Hj. Shofiyah dari sepuluh bersaudara.

5.    PP. Kedunglo Melahirkan Shalawat Wahidiyah
Shalawat wahidiyah adalah rangkaian do’a shalawat dan dilengkapi tatacara pengamalannya serta ajaran-ajarannya yang berfaidah menjernihkan hati dan KH. Muhammad Ma'ruf’rifat billah yang bertujuan mengajak umat masyarakat sadar kepada Allah swt. wa rasulihi saw.
KH. Abdul Madjid Ma'roef Qs wa Ra. pada tahun 1959 mendapat suatu pentunjuk dari Allah swt. dalam keadaan jaga, bukan mimpi, yang isinya supaya ikut memperbaiki kerusakan mental masyarakat yang telah terjadi sejak lama, mengangkat umat masyarakat dari tempat yang hina dihadapan Allah menjadi hamba yang berbudi dan bertakwa. Membangun atau memperbaiki mental masyarakat, khusunya mental kesadaran kepada Allah wa Rasulihi saw. khusunya lewat jalan bathiniyah. Petunjuk ini diperolehnya dalam keadaan sadar dan terjaga, bukan mimpi .

Setelah menerima petunjuk yang berupa perintah tersebut, KH. Abdul Madjid Ma'roef sangat prihatin sekali. Kemudian ia memperbanyak riyadlohnya, memusatkan kekuatan bathin untuk bermunajat kepada Allah swt. (bermujahadah istilah wahidiyah), memohon  kesejahteraan bagi umat dan masyarakat, terutama perbaikan mental. Do’a-do’a atau amalan yang diamalkan oleh KH. Abdul Madjid Ma'roef saat melakukan riyadlohnya adalah memperbanyak membaca do’a shalawat kepada nabi saw. selain do’a-do’a lain yang diamalkannya (tetapi kuantitasnya dibawah dia membaca do’a shalawat).

Bisa dikatakan bahwa hampir do’a shalawat diamalkan oleh KH. Abdul Madjid Ma'roef, demi memenuhi maksud dari petunjuk yang berupa perintah tersebut. Bahkan tidak ada waktu yang terbuang tanpa diisi dengan membaca shalawat. Diantara do’a shalawat yang sering diamalkan oleh KH. Abdul Madjid Ma'roef diantaranya : shalawat Badawi, shalawat Nariyah, shalawat Mahsyisyiyah, shalawat Munjiyat.
KH. Abdul Madjid Ma'roef lebih cenderung mengamalkan shalawat karena dikandung maksud bahwa manfaat membaca shalawat itu adalah memberikan ketentraman hati, ketenangan batin dan pasti diterima oleh Allah swt.


Jika dia bepergian dengan naik sepada angin, tangan kiri memegang setir dan tangan kanan dimasukkan saku sambil memutar tasbih. Shalawat Nariyah sudah sering dihatamkan oleh KH. Abdul Madjid Ma'roef dengan jumlah bacaan 4.444 sekali majlis.

Dengan penuh ketekunan dan prihatin yang mendalam akan keadaan umat, kiyai kharismatik ini tak henti-hentinya melakukan mujahadah, bermunajat kepada Allah dengan riyadhoh dan tirakatnya, seperti melaksanakan puasa sunah dan lain sebagainya. Tidak seorangpun dari keluarganya yang mengetahui bahwa ia sedang melaksanakan suatu tugas dari Allah yang sangat berat.

Pada awal tahun 1963, KH. Abdul Madjid Ma'roef menerima petunjuk yang kedua yang isinya sama seperti yang pertama, th. 1959, namun bersifat peringatan dari petunjuk yang pertama yaitu supaya cepat-cepat ikut berusaha memperbaiki mental masyarakat melalui jalan batiniyah. Maka dia pun lantas lebih meningkatkan munajatnya kepada Allah swt. serta meningkatkan riyadhahnya. Sampai-sampai kondisi fisiknya sering kali terganggu.

Namun demikian, kondisi bathiniyah KH. Abdul Madjid Ma'roef tidak pernah terpengaruh oleh kondisi jasmaninya itu, terus senantiasa bermunajat kepada Allah swt. memohonkan perbaikan mental dan akhlak bagi umat masyarakat.

 Pada pertengahan tahun 1963, KH. Abdul Madjid Ma'roef memperoleh petunjuk yang ketiga yang sifatnya lebih keras dari yang kedua. Bahkan dia diancam apabila tidak cepat-cepat menolong umat masyarakat, maka akan terjadi kerusakan mental di masyarakat terutama dalam hal kesadaran kepada Allah yang semakin parah. “malah kulo dipun ancam menawi mboten enggal-enggal berbuat dengan tegas, aking kerasipun peringatan ancaman, kulo ngantos gemetar sedoyo badan kulo meniko”. (Malah saya diancam kalau tidak berbuat dengan tegas, karena kerasnya peringatan dan ancaman, samapai gemetar semua badan saya sesudah itu).


Setelah menerima petunjuk yang bersifat perintah yang ketiga ini, diapun lebih prihatin dan lebih meningkatkan lagi munajatnya kepada Allah swt.

Dalam suasana hati senantiasa mengarah kepada Allah swt. wa Rasulihi saw. kemudian KH. Abdul Madjid Ma'roef menulis sebuah do’a shalawat. “kulo ndamel oret-oretan”. (saya membuat coret-coretan) katanya, maka tersusunlah shalawat ma’rifat “Allahumma kama anta ahluh ….dst. tetapi belum sempurna seperti sekarang ini.
“Sak derengipun kula inggih mboten angen-angen bade nyusun shalawat, malah anggen kula ndamel namung kalian nggeloso”. (sebelumnya saya tidak ada angan-angan untuk menyusun shalawat, malah dalam saya menyusun itu sambil tiduran). Jelas KH. Abdul Madjid Ma'roef.

Kemudian shalawat Allahumma kamaa anta ahluh …. dst. yang baru lahir dari bathiniyah yang bergetar dengan frekuensi tinggi kepada Allah swt.wa rasulihi saw. diuji cobakan kepada tiga orang santri beliau, yakni Bp. Abdul Jalil (Alm.) dari Desa Jamsaren Kota Kediri, Bp. Mukhtar dari Ds. Bandar Kidul Kediri, dan Dahlan santri dari Demak (waktu masih remaja).

Setelah mencoba mengamalkan shalawat yang baru dita’lif tersebut, ketiga santri tersebut melaporkan bahwa dikarunia rasa tenteram dalam hati, tidak ngongso-ngongso dan lebih banyak ingat kepada Allah swt. selanjutnya dicoba lagi, beberapa santri disuruh untuk mengamalkannya, dan hasilnya tidak jauh beda dengan yang dialami dengan ketiga orang yang pertama. Kemudian shalawat ini dinamakan shalawat ma’rifat yag dalam lembaran shalawat wahidiyah berada pada urutan kedua.

Beberapa waktu kemudian lahirlah kembali dari jiwa yang senantiasa hudhur kepada sang khaliq, yaitu shalawat “Allahhumma yaa waahidu yaa ahad … dst.” yang kemudian dikenal dengan sebutan shalawat wahidiyah / shalawat tauhid. Shalawat inipun diuji cobakan kepada beberapa santri untuk diamalkan, dan hasilnya lebih positif lagi, yaitu hati dikaruniai Allah swt. ketenangan batin yang lebih mantab. Shalawat ini pada lembaran shalawat wahidiyah berada pada urutan / susunan yang pertama.

Berturut-turut santri Ponpes. Kedunglo Al Munadzdzarah banyak yang mengamalkannya, kemudian kedua shalawat ini diijazahkan oleh mu’alifnya secara umum, boleh diamalkan oleh siapa saja.
Para tamu yang berziarah kepada KH. Abdul Madjid Ma'roef diberi ijazah untuk mengamalkan shalawat ini. Disamping itu dia menyuruh beberapa santri untuk menulis shalawat ini yang selanjutnya tulisan itu dikirim kepada para ulama / kyai. Dari beberapa ulama / kyai yang diberi amalah shalawat tersebut dan mau mengamalkan melaporkan bahwa hasilnya sangat positif, hati semakin dekat kepada Allah swt. wa rasulihi saw.


Dari hari kehari makin banyak orang yag datang utnk meminta diberi ijazah shalawat tersebut. Ijazah mengamalkan yang beliau berikan adalah mutlak, artinya selain boleh diamalkan oleh orang yang diberi ijazah secara langsung juga supaya disampaikan kepada orang lain.
Di Ponpes. Kedunglo Al Munadzdzarah kemudian dibuka pengajian kitab al hikam, karangan Syech Ibn Ath Tho’illah, yang langsung diasuh oleh KH. Abdul Madjid Ma'roef yang dilaksanakan setiap malam jum’at. Namun karena peserta pengajian banyak dari kalangan pekerja kantor/PNS yang harus bekerja selama enam hari seminggu, mereka merasa berat jika harus ikut ngaji malam hari dan siangnya harus masuk kerja. Maka mereka usul agar waktu pengajian diganti hari ahad pagi, hari libur nasional, dan usulan tersebut diterima oleh KH. Abdul Madjid Ma'roef. Maka sampai sekarang kegiatan pengajian kitan al hikam dilaksanakan pada hari ahad pagi.

Kegiatan pengajian kitab al hikam didahului dengan jama’ah shalat tasbih dan mujahadah (pengamalan) shalawat wahidiyah. Adapun keterangan KH. Abdul Madjid Ma'roef dalam pengajian kitab al hikam dipadukan dengan kuliah wahidiyah.

Masalah-masalah pokok dan prinsip dalam kehidupan manusia didapatkan dari pengajian tersebut yang meliputi bidang akhlaq, tauhid, adab, kemasyarakatan, dsb. Diuraikan dengan contoh-contoh yang mudah difahami, sehingga mudah diterapkan oleh peserta pengajian.
Dalam pengajian tersebut kemudian lahirlah rumusan ajaran wahidiyah. Ketika KH. Abdul Madjid Ma'roef menerangkan bab tauhid, lahirlah ajaran “lillah billah”, dan saat menerangkan bab hakikat wujud, pengertian dan penerapannya lahirnya ajaran “Bihaqiqotil Muhammadiyah” yang kemudian disempurnakan dengan penerapan lirrosul birrosul, dan lahir pula shalawat yang ketiga, yaitu “Yaa syaafi’al khalqish shalaatu wassalaamu ….dst”. yang kemudian dinamakan shalawat saljul qulub, karena efek dari mengamalkan shalawat ini hati menjadi tenang, dingin, tidak mudah tersinggung, amarah dapat terkendali, dan hati senantiasa terhubung dengan rasulullah saw. kemudian shalawat ini dirangkai menjadi satu dengan shalawat ma'rifat dan shalawat wahidiyah/tauhid dengan didahului bacaan surat fatihah yang ditujukan kepada rasulullah saw. dan ghautsu hadzaz zaman ra.
Rangkaian do’a shalawat termasuk bacaan surat fatihah tersebut kemudian disebut “SHALAWAT WAHIDIYAH”.

Nama wahidiyah diambil dari salah satu asmaul a’dham yang terdapat didalam shlawat tauhid/ wahidiyah, Allahumma yaa waahidu … dst. Yaitu “Waahidu” yang artinya satu. Satu yang tiada terpisah-pisah, mutlak satu, aslan wa abadan. Satu tidak seperti satunya makhluk.
Pada akhir tahun 1963 diadakan pertemuan tokoh ulama yang sudah mengamalkan shalawat wahidiyah. Mereka dari Kediri, Tulungagung, Blitar, Jombang, dan Mojokerto yang bertempat di mushalla KH. Abdul Jalil (alm) Jamsaren, Kediri. Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh KH. Abdul Madjid Ma'roef.

Diantara hasil pertemuan tersebut adalah tersusunnya redaksi yang tetulis dalam lembaran shalawat wahdiyah sebagai petunjuk tata cara pengamalan shalawat wahidiyah termasuk kata-kata jaminan atau garansi yang diusulkan oleh KH. Abdul Madjid Ma'roef sendiri.
Pada tahun 1964, menjelang peringatan ulang tahun lahirnya shalawat wahidiyah yang pertama, seorang pengamal wahdiiyah dari surabaya, KH. Machfudh dari Ampel Surabaya, dibantu beberapa temannya mengusahakan klise shalawat wahidiyah yang pertama dan mencetak lembaran shalawat wahidiyah sebanyak 12.500 lembar di kertas HVS putih atas biaya (alm) Hj. Nur AGN dari Surabaya.

Sesudah peringatan ulang tahun lahirnya Sholawat Wahidiyah yang pertama diadakan asrama (diklat) Wahidiyah di Pondok Pesantren Kedunglo dan diikuti oleh para tokoh ulama/kyai yang sudah menerima Sholawat Wahidiyah dari daerah Kediri, Madiun, Tulungagung, Blitar, Malang, Mojokerto, Jombang dan Surabaya.
Asrama (diklat) tersebut diadakan selama 7 hari 7 malam, materi diklat langsung diberikan oleh KH. Abdul Madjid, RA. Muallif Sholawat Wahidiyah.

Kalimah nida’ “Yaa Sayyidii Yaa rasulallah” lahir ketika Asrama (diklat) tersebut dilaksanakan. Sebagai pelengkapan untuk penyempurnaan dan peningkatan amalan Sholawat Wahidiyah yang sudah ada di dalam lembaran Sholawat Wahidiyah kemudian ditambahkan kalimah nida’ tersebut.

Pada awal tahun 1965, ketika KH. Abdul Madjid Ma'roef menerangkan hal Ghoutsu Hadzaz zaman Ra. didalam kuliah beliau dalam Asrama (diklat) Wahidiyah yang ke-2 lahirlah kalimat istighausah “Yaa Ayyuhal Ghautsu Salamullah...”dst. Istighosah ini tidak langsung dicantumkan kedalam rangkaian shalawat Wahidiyah dalam lembaran yang di edarkan kepada masyarakat tetapi hanya di anjurkan banyak diamalkan oleh mereka yang sudah agak lama mengamalkan Shalawat Wahidiyah terutama dalam mujahadah-mujahadah khusus.


Hal tersebut merupakan suatu kebijaksanaan yang mengandung berbagai macam hikmah dan sirri-sirri yang kita tidak mampu menguraikannya.

Sehingga dalam masa-masa sesudah tahun 1965 dalam beberapa waktu lamanya, lembaran Shalawat Wahidiyah yang diedarkan kepada masyarakat hanya sampai pada Yaa Sayyidi Yaa Rasulallah.
Perhatian masyarakat makin hari terus bertambah terhadap amalan Shalawat Wahidiyah. Permintaan–permintan Shalawat Wahidiyah makin bertambah, meskipun disana-sini ada sebagin masyarakat yang tidak mau menerimanya, kontra akan keberadaan shalawat wahidiyah.
Kekontrasan mereka ternyata dikemudian hari merupakan hikmah yang membawa saluran tarbiyah bagi peningkatan kesadaran kepada Allah wa Rasulihi SAW.



http://blogramsel.blogspot.com/2012/04/sejarah-wahidiyah-dan-ponpes-kedunglo.html
https://radarkudus.jawapos.com/read/2018/05/08/71694/pesantren-kedunglo-dan-poros-wali
https://wahidiyahkendal.blogspot.com/2017/07/ponpes-kedunglo-profil-singkat.html
« Last Edit: 11 Feb, 2019, 08:53:04 by Admin »

Admin

  • Administrator
  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Admin No Reputation.
  • Join: 2013
  • Posts: 2592
  • Logged
Re: Yayasan Perjuangan Wahidiyah Dan Pondok Pesantren Kedunglo
« Reply #1 on: 11 Feb, 2019, 08:33:41 »
“Mbah Hasyim dan para ulama waktu itu, memposisikan Mbah Ma’roef sebagai tukang donga (ahli berdoa), karena doa Mbah Ma’roef selalu mustajab,” tutur Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA, pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, yang memegang tampuk kepemimpinan saat ini. Lokasi Pondok Pesantren Kedunglo, berada di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.

KH Hasyim Asy’ari yang merupakan teman akrab tunggal seperguruan di tempat Syaechona Khalil Bangkalan, menurut Romo Yai Abdul Latif, mengajak Mbah Ma’roef turut mendirikan NU. Mbah Ma’roef duduk sebagai salah satu Mustasyar NU periode pertama dan kerap mendatangi Muktamar NU. Sebagai penasehat NU dan sudah terkenal karomah dan doa-doanya makbul, Mbah Ma’roef selalu didaulat untuk memimpin doa. Bahkan apabila para Ulama NU mengadakan Bahsul Masail dan menemui jalan buntu, mereka sowan Mbah Ma’roef untuk memohon petunjuk dan doa.

Kekuatan riyadloh (tirakat) pendiri Pesantren Kedunglo ini sangat terkenal. Menurut Romo Yai Abdul Latif, Mbah Ma’roef tidak dikaruniai akal pikiran yang cerdas seperti Mbah Hasyim, akan tetapi riyadloh-nya kuat sehingga diberikan ilmu ladunni (ilmu dari Allah SWT tanpa belajar). “Doa ilmu ladunni yang diijazahkan oleh para ulama sekarang ini, asalnya dari Mbah Ma’roef,” jelas Romo Yai Abdul Latif.

Mujahadah dan riyadloh menjadi tiang utama di Ponpes Kedunglo ini, menyertai proses belajar mengajar yang konvensional. Mujahadah merupakan pintu terbukanya hidayah (al-mujahadah miftahul hidayah), demikian spirit para santri. Pondok Pesantren ini bermisi mencetak wali yang intelek, dan intelektual yang wali. Tidak sekadar akal pikiran para santri diasah, akan tetapi hati para santri juga dibersihkan dengan mujahadah dan riyadloh.

“Ilmu itu ada di dalam hati, sesuai pernyataan para ulama al-ilmu fi al-shudur. Hakikat ilmu adalah nuur atau cahaya ilahi. Nur dari Allah tidak akan melekat pada hati yang kotor. Kalau kamu mau menimba ilmu, bersihkan dulu hatimu. Makanya ketika Imam Syafi’i mengadukan tentang susahnya menghafalkan ilmu kepada gurunya Syech Waki’, beliau mengatakan fa arsyadani ilaa tarkil ma’ashi. Syech Waki’ memberikan petunjuk agar meninggalkan maksiat,” Romo Yai Abdul Latif menjelaskan.

Pondok Pesantren Kedunglo atau Ponpes Kedunglo terletak di pinggir Sungai Brantas Kediri  diantara  dua jembatan lama dan jembatan baru Kota Kediri.  Letak persisnya berada di Desa Bandar Lor Kecamatan Mojoroto Kota Kediri.  Ponpes Kedunglo didirikan oleh KH. Mohammad Ma’roef, RA pada awal  abad 20 atau sekitar  tahun 1900an.

Sejak berabad-abad lalu, pondok pesantren telah mewarnai perjalanan sejarah nusantara, khususnya di bidang kependidikan. Pada masa awal perkembangan Islam di tanah Jawa, para ustadz dan mubaligh mendidik kader-kader pejuang Islam di pesantren. Fungsi ini bertambah luas ketika Sunan Ampel yang membuka pondok pesantren di Surabaya mengajarkan pula berbagai disiplin ilmu dan tidak terbatas pada ilmu agama. Mulanya pesantren memang terkesan sangat mengisolasi diri terhadap ilmu pengetahuan modern, utamanya yang berasal dari barat.

Akan tetapi, memasuki pertengahan tahun 1900-an, beberapa pondok pesantren mulai mau menerapkan ilmu modern. Tidak hanya itu, sistem pendidikannya pun ikut juga mengadopsi sistem pendidikan nasional. Salah satunya adalah yang dilaksanakan olehPonpes Kedunglo, Kediri, Jawa Timur. Pondok pesantren yang kuat aroma tasawuf-nya ini didirikan tahun 1901 oleh KH Muhammad Ma'roef.

Kyai ini berlatar pendidikan di Ponpes Bangkalan Madura pimpinan KH M Cholil. Seperti ponpes yang lain, Kedunglo membawa misi untuk mengajak masyarakat mengamalkan ajaran agama Islam. KH Ma'roef, RA  wafat tahun 1955 dan kepemimpinan pesantren dilanjutkan salah satu anaknya, KH Abdul Madjid. 

Hadrotul Mukarom Mbah KH Abdul Madjid, Qs wa Ra,  lantas mendalami tasawuf dengan mempelajari lebih dalam kitab al-Hikam. Akan tetapi, oleh Mbah Yahi Madjid, Qs wa Ra, tasawuf tidak hanya merupakan bahasa ilmiah, melainkan terapan kehidupan untuk menggapai ma'riffat Allah.

Hal ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, yakni KH Abdul Latif Madjid. Di masa kepemimpinan Hadrotul Mukarom  Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid, RA  inilah  Ponpes Kedunglo menjelma menjadi salah satu pesantren yang cukup berpengaruh di Kediri bahkan Jawa Timur. Pesantren ini sekarang lebih menekankan program pendidikannya secara komprehensif pada bidang ekonomi, sosial maupun budaya. Namun, hal ini dilakukan dengan tidak menghilangkan misi dan visi agamanya yakni mencetak wali yang intelek atau ulama yang wali. "Untuk itulah, dalam upaya perbaikan keimanan umat, bila para ulama lain menerapkan metode dakwah ilmiah, namun Ponpes Kedunglo melakukannya melalui doa," papar KH Abdul Latif Madjid yang akrab disapa Kanjeng Romo Yahi oleh santrinya.

Kedunglo yang terletak di desa Bandarlor, Kediri, mempunyai luas sekitar 2 hektar. Lokasinya tampak berbaur dengan pemukiman penduduk, dalam artian ponpes ini tidak 'memagari' diri pada satu komplek. Kegiatanbelajar mengajar dilangsungkan di beberapa  gedung bertingkat dan terdiri  dari gedung local lama 2 tingkat (10 lokal) gedung  baru 4 tingkat (16 lokal) dan Gedung TK Plus Wahidiyah (2 tingkat).  Gedung pendidikan tersebut akan ditambah dengan Gedung Universitas Wahidiyah yang akan dibangun  tahun depan  yang direncanakan   tingkat 5.

Untuk menampung para santri, tengah  dibangun asrama santri  yang saat ini masih dalam tahap pematangan konsep  (design dan aspek teknis lainnya).  Jumlah santrinya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dan kini tercatat 1.000 santri (60 persen santri putri dan 40 persen putra) menimba ilmu dan mondok di Ponpes Kedunglo. Mereka bukan hanya berasal dari Kediri dan sekitarnya, melainkan juga dari seluruh Indonesia  seperti Kalimantan, Sulawesi,  Bali, Nusa Tenggara Sumatera termasuk dari Daerah Istimewa Nangro Aceh Darus Salam juga telah mengirimkan  putra-putranya untuk mondok di Ponpes Kedunglo.