Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Pernikahan 
PERNIKAHAN YANG IDEAL DAN KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN
Pages: [1]

(Read 18 times - 1 votes) 
  

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1541
  • Logged


PERNIKAHAN YANG IDEAL DAN KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN
 
Sebelum saya memulai untuk menjelaskan fondasi yang telah diletakkan oleh Islam di dalam pendidikan anak, alangkah baiknya saya paparkan (meskipun secara ringkas) masalah pernikahan ditinjau dari tiga sisi:
1.   Pernikahan Sebagai Fitrah Manusia
2.   Pernikahan Sebagai Kemaslahatan Sosial
3.   Pernikahan Berdasarkan Pilihan ***
1.   Pernikahan Sebagai Fitrah Manusia
Dalam dasar-dasar syariat Islam, telah digariskan bahwa syariat melarang keras kerahiban, karena bertentangan dengan fitrah manusia. Al-Baihaqi meriwayatkan dari shahabat Sa'ad bin Abi Waqqash
"Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kita pola hidup ruhbaniyyah dengan agama yang lurus dan mudah."
At-Tahabrani dan Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah ^ bersabda:
"Barangsiapa yang mampu menikah kemudian enggan untuk menikah maka dia bukan dari golonganku."
Berdasarkan dua hadits di atas dan yang selainnya telah jelas dinyatakan bahwa Islam mengharamkan atas seorang muslim yang melarang pernikahan dan berlaku zuhud dengan niat melakukan pola hidup ala rahib dengan menyendiri hanya untuk beribadah dan taqarrub kepada Allah. Apalagi bagi seorang muslim yang mampu melaksanakannya dan dimudahkan dalam urusan dan sarana-sarananya.
Jika kita renungkan sikap Rasulullah dalam memelihara masyarakat dan menanggulangi kebutuhan jiwa manusia maka kita akan tambah merasa yakin bahwa pemeliharaan dan penanggulangan itu terbangun atas pengetahuannya akan hakikat manusia dan tuntutan keinginan dan kecenderungannya. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang hidup di tengah masyarakat melanggar batasan fitrahnya dan tidak melaksanakan sesuatu yang memang tidak ia mampui. Hal ini supaya ia berjalan dengan seimbang, mudah, dan lurus yang sesuai dengan naluri dan tabiatnya. Dia juga tidak akan tersandung ketika manusia berjalan dengan lurus, tidak terbelakang ketika manusia lain telah maju, dan tidak lemah ketika manusia lainnya menjadi kuat.
Allah berfirman:

"... (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum: 30)
Inilah sikap yang dilakukan oleh Rasulullah. Beliau telah menyiapkan sikap yang paling reformis dan mendidik untuk menanggulangi tabiat-tabiat yang negatif dan memahami hakikat manusia.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari shahabat Anas bin Malik, "Ada tiga orang yang pernah mendatangi rumah istri-istri Nabi untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika mereka diberitahu, maka seakan-akan mereka mendapati ibadah mereka itu sedikit sekali. Mereka berkata, ‘Di mana kedudukan kami di sisi Nabi jgj mengingat beliau telah diampuni dosa- dosanya yang telah lalu dan yang akan datang?' Salah seorang di antara mereka berkata, 'Saya akan selalu melakukan shalat malam.' Orang yang lain berkata, 'Saya akan selalu berpuasa dan tidak akan pernah berbuka.' Dan yang lainnya berkata, 'Saya akan selalu menjauhi kaum wanita dan tidak akan menikah selamanya.’
Kemudian datanglah Nabi kepada mereka dan bersabda, 'Kaliankah yang mengatakan demikian dan demikian? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah daripada kalian dan yang paling bertakwa kepada-Nya daripada kalian. Meski demikian, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku melaksanakan shalat dan aku tidur. Aku juga menikahi kaum wanita. Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku maka dia bukan dari golonganku’."
Dalil di atas jelas sekali menerangkan bagi setiap yang memiliki akal dan perasaan bahwa pernikahan di dalam Islam merupakan fitrah manusia. Hal ini bertujuan agar seorang muslim mampu memikul beban tanggung jawab yang besar terhadap orang yang memiliki hak pendidikan dan pemeliharaan di saat ia menyambut seruan fitrah, menerima tuntutan-tuntutan naluri, dan menjalankan sunnah kehidupan ini.
2.   Pernikahan Sebagai Kemaslahatan Sosial
Sebagaimana yang diketahui bahwa pernikahan dalam Islam memiliki manfaat yang besar, yaitu maslahat sosial. Pada pembahasan kali ini akan kami paparkan macam kemaslahatan itu, kemudian akan kami terangkan kaitannya dengan pendidikan.
a.   Melindungi Kelangsungan Hidup
Manusia
Dengan pernikahanlah garis keturunan manusia akan berlangsung, menjadi banyak, dan bersambung hingga Allah mewariskan bumi-Nya dan siapa yang menghuninya. Tidak diragukan lagi bahwa dengan keberlangsungannya terdapat suatu pemeliharaan terhadap kelangsungan hidup manusia, dan bagi para peneliti akan terdorong untuk meletakkan metode- metode pendidikan dan kaidah-kaidah yang benar demi keselamatan keberlangsungan hidup manusia dari segi moral dan jasmani yang seimbang. Al-Qur’an telah menjelaskan tentang adanya hikmah sosial dan kemaslahatan manusia, ketika Allah mengatakan dalam firman-Nya:

"Allah menjadikan bagi kamu istri-istri
dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu anak- anak dan cucu-cucu ..." (QS. An-Nahl [16]: 72]
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmuyang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan darinya Aliah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuanyang banyak...." (QS. An-Nisa’ [4]: 1)
b.   Menjaga Nasab
Dengan jalan pernikahan yang disyariatkan Allah, maka anak-anak akan merasa bangga dengan bapak- bapak mereka sebagai orang tua. Tidak diragukan lagi bahwa dalam berketurunan ini terdapat penghargaan diri, kestabilan jiwa, dan kemuliaan manusia. Kalau sekiranya tidak melalui jalan pernikahan yang disyariatkan Allah, maka akan cacatlah suatu masyarakat yang di dalamnya terdapat anak-anak yang tidak memiliki keturunan dan kehormatan. Dan demikian itu adalah tusukan yang tajam bagi moralitas yang baik, dan penyebaran kerusakan serta pembolehan segala cara.
c.   Melindungi Masyarakat dari Kerusakan Moral
Dengan jalan pernikahan, masyarakat akan terselamatkan dari penyimpangan moral dan keretakan hubungan kemasyarakatan. Tidak diragukan lagi bagi orang yang memiliki pemahaman bahwa naluri terhadap lawan jenis itu bisa dipuaskan dengan jalan pernikahan yang disyariatkan dan hubungan yang halal. Jika tindakan ini diamalkan maka umat (secara individu maupun kolektif) akan terhiasi dengan adab yang utama dan akhlak yang baik. Mereka'menjadi layak untuk mengemban risalah dan memikul tanggung jawab sebagaimana yang Allah kehendaki.
Alangkah benarnya sabda Nabi tentang tampak jelasnya hikmah moral dari pernikahan dan manfaat sosialnya ketika beliau menganjurkan sekelompok pemuda untuk menikah:
 
"Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah maka menikahlah karena ia bisa menjaga mata dan melindungi kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu maka perbanyaklah berpuasa karena sesungguhnya ia adalah perisai.” (HR. Jama'ah)
d.   Melindungi Masyarakat dari Berbagai Penyakit
Dengan jalan pernikahan, masyarakat
akan selamat dari penyakit yang berbahaya yang bisa menjerumuskan anak-anak ke dalam perbuatan zina, perilaku yang menjijikkan [free seks), pergaulan bebas. Sebab, perbuatan menyimpang tersebut bisa mengakibatkan penyakit yang mematikan, seerti sypillis (penyakit kelamin), kencing nanah, dan yang lainnya yang bisa membunuh keturunan, melemahkan badan, menyebarkan wabah, dan menghancurkan kesehatan anak- anak.
e.   Ketenteraman Jiwa dan Rohani
Dengan jalan pernikahan, maka akan tumbuh rasa kasih sayang, kecintaan, dan kelemahlembutan antara suami istri. Seorang suami saat selesai dari pekerjaannya di siang hari kemudian di sore harinya ia bergegas kembali ke rumah kemudian berkumpul bersama keluarganya dan anak-anaknya, ternyata telah hilanglah rasapenatyangmenderanya sejak siang hari dan sirnalah kecapekan yang dialaminya selama bekerja. Begitu juga seorang wanita yang berkumpul dengan suami serta pendamping hidupnya. Demikian inilah satu sama lain bisa saling mendapatkan kenyamanan hati dan keharmonisan suami istri. Allah Mahabenar ketika menggambarkan realitas ini dengan penggambaran yang indah:
 
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan- Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendirisupaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar-Rum [30]:21)
f.   Kerjasama suami dan istri dalam membangun keluarga dan pendidikan anak
Dengan jalan perkawinan maka suami istri akan tertuntut untuk saling bekerja sama dalam membangun keluarga dan memikul tanggung jawab. Satu sama lain saling melengkapi dalam melaksanakan tugas. Seorang wanita tentunya akan bekerja sesuai dengan kekhususan dan tabiatnya, yaitu mengatur sebaik mungkin urusan kerumahtanggaan dan mendidik anak-anak. Benarlah seorang yang berkata:
Ibu itu ibarat sekolah jika engkau persiapkan dirinya... berbakti engkau telah menyiapkan bangsa dengan suatu bangsa dengan dasar yang baik
Demikian jugaseorangsuami,iabekerja sesuai dengan kekhususan dan tabiat kelaki-lakiannya, yaitu dengan bekerja menghidupi keluarganya, mengerjakan pekerjaan yang berat, serta melindungi keluarga dari bahaya dan musibah yang datang setiap saat. Jika demikian, sempurna sudah ruh kerja sama antara suami dan istri, sehingga akan mencapai hasil yang paling baik, yaitu terbentuknya anak-anak yang shalih dan terdidiknya generasi yang beriman yang tersemat di dalam sanubarinya kekuatan iman dan nyawa Islam. Bahkan, seluruh anggota keluarga akan merasakan kenikmatan dan ketenteraman di bawah naungan kecintaan dan kedamaian.
g. Menumbuhkan Naluri Kebapakan dan Keibuan
Dengan pernikahan maka akan tumbuhlah naluri kebapakan dan keibuan dalam diri orang tua. Akan lahir dari hati keduanya perasaan-perasaan yang mulia. Tidak diragukan lagi bahwa di dalam perasaan-perasaan itu tersimpan pengaruh yang mulia dan hasil-hasil yang yang baik dalam membina anak-anak, mengawasi kemaslahatan mereka, dan bangkit bersama mereka menuju kehidupan yang tenteram dan aman menyongsong masa depan yang utama dan mulia.
Itulah efek sosial yang paling penting yang dihasilkan dari perkawinan. Dan kami berpendapatadanya kaitan antaramaslahat pendidikan anak, perbaikan keluarga, dan pembinaan generasi. Tidak heran jika syariat Islam memang memerintahkan pernikahan dan sangat menekankannya. Benar apa yang disabdakan Rasulullah:

"Tidak ada sesuatu yang berguna bagi seorang mukmin setelah bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla yang lebih baik daripada istri yang shalihah: jika ia (suamij memerintahnya ia menaatinya, jika ia melihatnya maka ia menyenangkannya, jika ia menggilirnya ia mematuhinya, dan jika ia pergi darinya maka ia menjaga kehormatanmu dan juga hartanya (suamij." (HR. Ibnu Majah)
Nabi juga bersabda:

"Dunia itu berisi kesenangan. Dan kesenangan yang paling baik adalah istri yang shalihah." (HR. Muslim)
3.   Pernikahan Berdasarkan Pilihan
Agama Islam dengan syariatnya yang tinggi dan universal telah meletakkan kaidah, hukum-hukum, dan adab-adab bagi seorang laki-laki yang hendak melamar maupun wanita yang dilamar. Seandainya manusia mau mengambil petunjuknya dan berjalan di atasaturannyamakapernikahan akan membuahkan rasa saling memahami, saling mencintai, dan keserasian. Dan jadilah keluarga yang terdiri dari anak laki- laki dan perempuan berada di atas puncak keimanan yang kuat, jasmani yang sehat, akhlak yang lurus, pikiran yang matang, serta jiwa yang tenang dan jernih.
a.   Memilih (Pasangan) Berdasarkan
Pondasi Agama
Yang kami maksudkan dengan Ad-Din (ketika lafalnya kami mutlakkan) adalah kepahaman yang sebenarnya akan agama Islam dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kami maksudkan juga dengan konsekuensinya dengan manhaj syariat dan prinsip- prinsipnya yang abadi. Ketika seorang yang hendak melamar dan wanita yang akan dilamar memiliki tingkatan seperti yang dijelaskan ini yang berupa pemahaman, pengamalan, dan konsekuensi maka akan kita katakan kepada salah satunya bahwa ia memilki agama dan akhlak yang baik. Dan sebaiknya, jika seorang yang hendak melamar dan wanita yang akan dilamar tidak memiliki tingkatan seperti yang dijelaskan berupa pemahaman, pengamalan, dan konsekuensi maka selayaknya kita hukumi dirinya adalah orang yang menyimpang dan jauh dari Islam, meskipun secara lahiriah dia tampak baik, takwa, dan mengaku dirinya adalah seorang mukmin.
Alangkah telitinya apa yang dilakukan oleh khalifah Umar bin AI-Khattab ketika menetapkan pertimbangan yang baik untuk mengetahui kepribadian seseorang dan mengetahui sosok lelaki sejati. Ketika ada seseorang datang kepadanya memberitakan kepribadian orang lain, Umar bertanya kepadanya, "Apakah kamu mengenal lelaki ini?” Ia menjawab, “Ya." Umar bertanya, "Apakah kamu ini tetangganya yang mengetahui aktivitas keluar masuknya dari rumah?” Lelaki itu menjawab, "Bukan."
"Apakah kamu pernah bepergian bersamanya sehingga kamu dapati darinya suatu akhlak yang mulia?” Lelaki itu menjawab, "Tidak.”
"Apakah kamu pernah bermuamalah dengan dinar dan dirham sehingga kami temukan kewara’annya?” Lelaki itu menjawab, "Tidak.”
Kemudian Umar berteriak, "Sekiranya engkau pernah melihatnya shalat di masjid baik dengan duduk atau berdiri, kadang ia mengangkat kepala dan kadang merendahkannya?” Lelaki itu menjawab, "Ya." Umar lalu berkata, "Pergilah, karena engkau tidak mengenalnya.” Kemudian ia menoleh kepada laki-laki tersebut dan berkata, "Datangkan kepada orang lain yang mengenalmu.”
Dalam perkara ini Umar tidak pernah tertipu dengan bentuk dan penampilan seseorang. Dia mengetahui hakikat kebenaran itu dengan timbangan yang benar yang bisa menyingkap keadaannya serta bisa menunjukkan keadaan agama seseorang dan akhlaknya.
Inilahpenjabaran dari sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah 0$.:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat  bentuk (rupa) dan badan kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian ..."
Karena inilah Nabi menunjukkan kepada siapa saja yang memiliki keinginan untuk menikah maka hendaknya ia memilih pasangan dari kebagusan agamanya, supaya seorang istri nantinya bisa melaksanakan kewajibannya dengan sempurna dan melaksanakan apa yang menjadi hak suami dan anak-anak atas dirinya. Demikian juga ia akan melaksanakan pekerjaan rumah tangga sesuai dengan yang diperintahkan Islam kepadanya. Di kesempatan lain, Nabi juga memberikan motivasi:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah s|| bersabda:

"Wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunanya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya niscaya kamu akan beruntung."

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath dari hadits Anas bin Malik bahwa Nabi bersabda:
 
"Barangsiapa yang menikahi seorang wanita karena ingin mencari kemuliaan (duniawi)nya maka Allah tidak menambahkan untuknya kecuali kerendahan. Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita karena hartanya maka Allah tidak akan menambahkan untuknya kecuali kefakiran. Dan barangsiapa yang menikahi wanita karena kedudukannya maka Allah tidak akan menambah kepadanya selain kerendahan. Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita tidak lain karena ingin agar penglihatannya dan kemaluannya terjaga,juga menyambing tali rahimnya maka Allah akan memberkahi lelaki menjadi suaminya dan wanita menjadi istrinya."
Sebaliknya, Nabi memberikan petunjuk kepada para wali anak perempuan untuk berusaha mencarikan pelamar yang memiliki agama dan akhlak yang baik, agar nantinya ia mampu menegakkan kewajibannya dengan baik dalam mengayomi keluarga dan melaksanakan hak- hak seorang istri, mendidik anak-anak, menegakkan kemuliaan, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dengan tenaga dan nafkah. At-Turmudzi meriwayatkan, Rasulullah bersabda:
 
"jika telah datang kepada kalian (untuk melamar) seorang lelaki yang engkau ridhai agama dan akhlaknya maka segeralah nikahkan, jika tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah dan kerusakanyang besar."
Fitnah apakah yang lebih besar yang menimpa agama, pendidikan, dan akhlak daripada terjerumusnya seorang pemudi mukminah ke dalam cengkraman pelamar yang rusak, atau suami yang tidak mau memberikan perlindungan dan penjagaan serta suami yang tidak mau menjaga kemuliaan dan kehormatan?
Fitnah apakah yang lebih besar yang menimpa diri seorang mukminah yang shalihah daripada terjatuhnya ia ke dalam cengkraman seorang suami yang bejat dan menghalalkan segala cara, memaksanya untuk suka bepergian, bergaul bebas, meminum minuman keras, menemani laki-laki dalam berdansa, serta berusaha melepas pakaian agama dan akhlaknya?
Sungguh menyedihkan, berapa banyak wanita yang tatkala mereka berada di rumah mereka menjadi teladan dalam menjaga wibawa dan kesucian. Tatkala ia berpindah ke dalam rumah yang membolehkan segala hal, rumah seorang suami yang bejat dan rusak, berubahlah ia menjadi wanita yang liar dan bebas yang tidak mengenal lagi nilai-nilai dan tidak menghiraukan kemuliaan dan kewibawaan. 
Tidak diragukan lagi manakala seorang anak hidup di dalam lingkungan rumah tangga yang rusak dan bergelimang dosa, pasti akan lahir nantinya anak-anak yang menyimpang dan menghalalkan segala cara. Dia akan mendapatkan pendidikan kejahatan dan kemungkaran.
Oleh sebab itu, memilih pendamping hidup dengan mengedepankan fondasi agama dan akhlak adalah perkara yang paling penting bagi calon suami istri dalam merealisasikan kebahagiaan yang sempurna. Sehingga nantinya anak-anak mendapatkan pendidikan agama yang sempurna dan terbentuk keluarga yang memiliki kemuliaan dan ketenteraman.
b.   Memilih Berdasarkan Keturunan dan
Kemuliaan
Kaidah yang digariskan oleh agama Islam dalam memilih calon pendamping hidup satu sama lain, yaitu dengan memilih pendamping yang berasal dari keturunan keluarga yang baik pekertinya dan mulia kehormatannya. Sebab, manusia itu ibarat logam yang memiliki kadar, kemuliaan, dan kerusakan yang berbeda-beda.
Nabi menjelaskan bahwa manusia itu memang ibarat logam yang memiliki kadar kemuliaan, kebaikan, dan keburukan yang berbeda-beda. Dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi, Ibnu Mani’, Al-'Askari, dari Abu Hurairah:
 
kebaikan dan keburukannya. Orang yang paling baik di masa jahiliyah juga akan menjadi yang paling baik di dalam agama Islam seandainya mereka berilmu."
Oleh karena ini juga, Nabi menekankan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk menikah supaya ia memilih pendamping hidup berdasarkan kemuliaan dan kebaikan keturunan. Anda pun bisa mendapatkannya di dalam banyak hadits:
Diriwayatkan oleh Daruquthni dan Al- Askari, Ibnu Adi, dari hadits Abu Sa'id Al- Khudri m. secara rnarfu':

"Jauhilah oleh kalian rumput-rumput hijauyang berada di tempatyang kotor." Para shahabat bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan rumput-rumput hijau yang berada di tempat yang kotor?" Beliau menjawab, "(Yaitu) wanita- wanita yang cantik yang tumbuh berkembang di tempat-tempat yang tidak baik."
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ad- Daruquthni, dan AI-Hakim, dari hadits Aisyah secara rnarfu':

"Manusia itu ibarat logam dalam
 
“Seleksilah oleh kalian untuk air mani 
(calon istri) kalian dan nikahilah oleh kamu sekalian orang-orang yang sama derajatnya.’’
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ad- Dailami bahwa Nabi bersabda:

"Seleksilah oleh kalian untuk air mani (calon istri kalian), karena sesungguhnya keturunan itu kuat sekali pengaruhnya"
Diriwayatkan oleh Ibnu 'Adi dan Ibnu 'Asakir, dari hadits 'Aisyah secara marfu’:

"Pilihlah untuk air mani (istri) sekalian, karena sesungguhnya wanita-wanita itu melahirkan orang-orang yang menyerupai saudara laki-laki mereka dan saudara perempuan mereka."  Dalam riwayat yang lain dikatakan, "Carilah oleh kamu sekalian wanita- wanita yang sederajat untuk air mani kalian, sebab seseorang itu barangkali akan menyerupai pamannya."     
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi di dalam
Al-Kamil secara marfu’: "Nikahilah oleh kalian wanita yang baik, karena keturunan itu kuat sekali pengaruhnya.”910
Semua hadits di atas menunjukkan kepada orang yang hendak menikah supaya memilih wanita yang tumbuh dari lingkungan yang baik, dan dalam lingkungan keturunan yang mulia dan baik, serta keturunan dari sumber air mani yang mulia., rahasia dibalik ini semua supaya seseorang memiliki keturunan yang memiliki pekerti yang luhur, tabi'at dan kebiasaan serta akhlak yang lurus dan islami. Mereka dapat meminum air susu yang mulia dan utama. Dengan cara yang baik mereka dapat mencari sifat-sifat yang utama dan mulia.
Berpijak dari prinsip seperti ini, shahabatUtsmanbinAbiAl-‘AshAts-Tsaqafi mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk memilih air mani yang baik dan menjauhi sumber mani yang buruk. Beliau berkata kepada anak-anaknya, "Wahai anakku yang hendak menikah dan menanam. Hendaklah seseorang itu melihat di mana ia akan tanam tanamannya, sebab akar yang jelek sedikit sekali yang membuahkan hasil. Maka pilihlah meskipun memerlukan
9. Hadits maudhu': Ibnu 'Adi, Dzakhtrah Al-Hufazh : 2/1147; Al-'lraqi, Al-Uhya': 2/47; As-Sakhawi, Al-Maqashid, hlm. 155.
10 Hadits-hadits yang dicantumkan di atas banyak yang dha'if jika riwayatnya disendirikan, namun karena terkumpul banyak dan berasal dari banyak jalan, maka menjadi hadits hasan.
waktu yang lama."
Sebagai penekanan tentang urusan memilih ini, maka shahabat Umar bin Al- Khattab menjawab pertanyaan seorang anak yang bertanya tentang apa hak anak dari orang tuanya. Beliau menjawab, "Memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang baik, dan mengajarinya Al-Qur’an."
Keharusan memilih sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah ini termasuk dalam kategori kebenaran ilmiah terbesar dan teori pendidikan modern. Di dalam ilmu heriditas dejelaskan bahwa anak-anak bisa meniru sifat dari kedua orang tuanya dalam hal akhlak, jasmani, dan akal semenjak terlahir. Saat seorang wanita memilih suami atau sebaliknya suami memilih istri, itu berdasarkan pertimbangan keturunan yang baik tidak diragukan lagi akan tumbuhlah sang anak tadi dengan baik dari segi kewibawaan, kesucian, dan keistiqamahan.
Jika terkumpul dalam diri seorang anak faktor heriditas dan pendidikan yang baik maka anak akan sampai pada puncak kemuliaan agama dan akhlak. Dia akan menjadi teladan dalam ketakwaan, keutamaan, interaksi yang baik, dan akhlak yang mulia. Maka hendaklah orang yang akan menikah senantiasa berusaha memilih yang baik, bijaksana dalam menentukan pendamping hidup, jika menghendaki nantinya memilki keturunan yang baik, suci, dan juga anak-anak yang beriman kepada Allah.
c.   Memilih Orang yang Jauh dari
Hubungan Kekerabatan
Termasuk dalam arahan agama Islam yang bijaksana dalam memilih seorang istri, yaitu mengutamakan wanita yang asing daripada wanita-wanita yang memiliki kedekatan nasab dan hubungan. Hal ini dimaksudkan menjauhkan fisik anak dari pengaruh penyakit-penyakit yang menular atau cacat bawaan, serta untuk memperluas ruang lingkup kekeluargaan dan mengokohkan ikatan-ikatan sosial.
Dari sinilah fisik mereka nanti akan menjadi kuat, kesatuan mereka akan semakin terjalin kokoh, dan perkenalan mereka bertambah luas. Tidak mengherankan jika Nabi melarang dengan keras setiap pernikahan yang terjalin dari orang yang memiliki kedekatan nasab dan hubungan. Sehingga nantinya anak tidak tumbuh menjadi lemah, atau mewarisi cacat kedua orangtuanya, dan penyakit- penyakit nenek moyangnya. Dalam sabdanya yang berisi tentang peringatan itu adalah:

"Janganlah kamu menikahi kaum kerabat, sebab akan dapat menurunkan anakyang lemah jasmani dan akalnya,"  12 dan dalam sabdanya yang lain, "Carilah oleh kalian wanita-wanitayang jauh, dan janganlah mencari wanita- wanitayang dekat (lemah jasmani dan
akalnya)."1314
Para peneliti heriditas mengemukakan bahwa menikahi orang yang memiliki kedekatan hubungan akan menjadikan keturunan itu lemah jasmani dan akalnya. Selain itu, anak-anak bisa mewarisi sifat- sifat yang jelek dan kebiasaan-kebiasaan yang tercela.
Kenyataan ini telah ditetapkan oleh Rasulullah ^ sejak 14 abad silam, sebelum teori ilmu pengetahuan itu datang dan mengungkapkan hakikat-hakikatnya. Inilah salah satu mukjizat dari Rasulullah Mj yang utama dan agung, di samping banyak juga mukjizat beliau yang lainnya.
d.   Lebih Mengutamakan yang Gadis
Termasuk dari arahan agama Islam dalam memilih istri, yaitu lebih mengutamakan yang gadis [bikr) daripada yang telah menjanda [tsaib) karena memiliki hikmah yang agung dan manfaat yang besar. Manfaat dari anjuran ini adalah melindungi keluarga dari hal- hal yang bisa menyusahkan kehidupan dan menjerumuskan dari berbagai bentuk permusuhan. Di satu waktu bisa menguatkan jalinan cinta suami istri, karena gadis itu akan memberikan semua bentuk kehalusan dan kelembutan kepada orang yang pertama kali memberikan
13. Kami telah mendapatkan takhrij hadits ini dari saudara-saudara kami. Kami ucapakan terima kasih kepada mereka. Lafal hadits yang disebutkan itu ternyata adalah atsar dari shahabat 'Umar bin Khattab. Namun, bagi yang tetap memahami bahwa lafal di atas adalah hadits, maka kami tetapkan hukumnya adalah sebagai hadits marfu'. Wallahu a'lam.
14 Perkataan ini bukan hadits : Al-'lraqi, Al-lhya' : 2/47.
 
penjagaan kepadanya, yang menjadi cinta pertamanya, pertama mengenalinya.
Berbeda dengan wanita yang sudah janda, terkadang sudah tidak memiliki kelembutan yang sempurna pada pasangannya yang kedua. Kecintaan dan keterikatan hatinya tak sempurna, karena memang ada perbedaan yang besar antara akhlak pasangan yang pertama dengan yang kedua. Maka tidak asing lagi kalau kita melihat 'Aisyah t^s telah memberikan arti semua ini kepada Nabi, tatkala ia berkata kepada Rasulullah saw. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:

"Wahai Rasulullah, bagaimana pen- dapatmu jika engkau turun pada suatu lembah yang di dalamnya terdapat sebatang pohon yang telah dimakan sebagiannya dan sebatang yang lain yang belum dimakan. Di mana engkau akan menggembalakan untamu?" Nabi menjawab, "Pada pohon yang belum digembalakan." 'Aisyah berkata, "Maka aku inilah pohon yang masih utuh dan belum digembalakan itu."
Maksud riwayat tersebut menerangkan tentang keutamaan Aisyah di samping istri-istri Nabi lainnya, dikarenakan beliau 
tidak menikahi seorang gadis pun kecuali ‘Aisyah. Beliau menjelaskan beberapa hikmah dari menikahi seorang gadis dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Baihaqi:

"Hendaklah kalian menikahi para gadis, karena mereka itu lebih manis pembicaraannya, lebih banyak melahirkan anak, serta lebih ridha denganyang sedikit"
Rasulullah i§ juga menjelaskan kepada shahabat Jabir m. bahwa menikahi gadis itu akan menimbulkan kecintaan, memperkuat aspek kesucian, dan kewibawaan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dan selainnya, bahwa Nabi bersabda kepada Jabir tatkala kembali dari perang Dzatur Riqa’, "Wahai Jabir, apakah engkau telah menikah?" Jabir menjawab, "Sudah, wahai Nabi.”
Nabi bertanya, “Dengan gadis atau janda?" Jabir menjawab, "Dengan janda, wahai Nabi."
Nabi bertanya, “Kenapa bukan seorang hamba saja (gadis) yang engkau bisa bermain dengannya dan dia bisa bermain denganmu?’ Jabir menjawab, "Sesungguhnya dulu waktu perang Uhud ayahku tertawan, wahai Rasulullah. Dan ia meninggalkan tujuh orang wanita, maka aku nikahi seorang yang mencakup semuanya (serba bisa), mewakili mereka, dan bertanggung jawab kepada mereka."
 
Nabi pun menjawab, "Engkau benar, wahai Jabir."
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits Jabir adalah bisa jadi menikahi wanita yang telah menjanda itu lebih baik daripada menikahi gadis dalam kondisi tertentu. Sebagaimana kondisi Jabir di atas, yaitu membantu mengayomi orang-orang yatim, menjaga, dan melaksanakan urusan-urusan mereka. Hal ini sebagai perwujudan firman Allah:

"... Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa..." (QS. Al-Maidah [5]: 2)

e.   Lebih Mengutamakan Menikah dengan
Wanita Subur
Termasuk arahan dalam agama Islam adalah menikahi wanita-wanita yang subur. Mereka bisa dikenali dengan dua hal:
Pertama, selamat jasmaninya dari berbagai penyakit yang menghalangi kehamilan. Hal itu bisa diketahui oleh para peneliti. Kedua, melihat kondisi ibunya dan kondisi saudari-saudarinya yang telah menikah, kalau ternyata mereka itu adalah wanita-wanita yang subur maka insya Allah ia termasuk wanita yang subur. Menurut para ahli medis, bahwa seorang wanita yang masuk kategori subur, biasanya memiliki fisik yang sehat dan kuat. Wanita yang memiliki ciri yang diterangkan di atas akan mampu memikul pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang berat, kewajiban mendidik, dan memahami hak-hak suami istri dengan sempurna. 
Yang hendaknya senantiasa dijaga adalah, siapa saja yang menikahi wanita yang subur dan sangat menginginkan untuk mempunyai banyak anak, maka hendaknya ia mengetahui dengan baik berbagai macam tanggung jawab, baik itu tanggung jawab memberi nafkah, tanggung jawab mendidik, maupun tanggung jawab mengajar. Jika tidak, maka ia akan bertanggung jawab langsung di hadapan Allah kelak manakala menyia-nyiakannya. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi
 
"Sesungguhnya Allah akan memintai tanggung jawab setiap pemimpin atas siapa yang dipimpinnya, apakah dia melaksanakannya apakah menyia- nyiakannya, sehingga seseorang akan ditanya tentang tanggung jawabnya terhadap keluarganya." (HR. Ibnu Hibban)
Kesimpulannya, siapa saja yang ingin melaksanakan dan menegak-kan tanggung jawab anak-anak yang telah diperintahkan oleh agama Islam, maka-yang hendak menikah-hendaknya memilih wanita yang subur supaya bilangan umat Muhammad yang dilahirkan semakin bertambah banyak. Hal yang demikian itu tidak lain karena arahan langsung dari Nabi Muhammad i! tatkala ada seseorang yang datang kepada beliau, seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menyukai seorang wanita yang memiliki keturunan, pangkat, dan harta. Namun, ia tidak bisa memiliki anak. Apakah aku sebaiknya menikahinya?" Beliau lantas melarangnya.
Kemudian ia datang untuk yang kedua kalinya lalu bertanya seperti yang pertama kali. Hingga ia mendatangi untuk yang ketiga kalinya, kemudian Nabi bersabda kepadanya:
 
"Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang subur lagi penyayang, karena aku berbangga dengan jumlah yang banyak." (HR. Abu Dawud, An-Nasa'i, dan Al-Hakim)
Itulah prinsip-prinsip pernikahan yang utama dan kaitannya yang paling penting dengan urusan pendidikan. Pada dasarnya, Islam menangani urusan pendidikan individu dari penanganan yang pertama untuk keluarga, yaitu dengan perrnikahan karena statusnya yang menjadi kebutuhan fitrah manusia dan kehidupan, dan keadaannya yang menuntut adanya penasaban anak kepada bapak-bapak mereka. Menyelamatkan masyarakat dari penyakit-penyakit yang berbahaya, kebobrokan moral, merealisasikan kerjasama antara dua pasang manusia di dalam mendidik anak, dan merangsang rasa kebapakan dan keibuan di dalam diri keduanya.
Di saat seorang muslim mengetahui kapan ia harus memulai untuk membentu keluarga islami, keturunan yang baik, generasi yang beriman kepada Allah, akan menjadi mudahlah urusan-urusan tanggung jawabnya yang dibebankan kepadanya. Kenapa? Karena, ia telah meletakkandidalamrumahnyabatufondasi yang akan dibangun di atasnya pusat- pusat pendidikan yang lurus, penopang- penopang sosial, menara masyarakat yang utama, yaitu dialah wanita shalihah. Jadi pendidikan anak di dalam Islam wajib dimulai dari yang pertama kali, yaitu pernikahan yang ideal yang dilaksanakan di atas prinsip-prinsip yang kuat untuk menyiapkan dan membentuk generasi.
« Last Edit: 11 Apr, 2019, 14:09:11 by Admin »