Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Pernikahan 
Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Kelahiran Yang Wajib Dipahami
Pages: [1]

(Read 16 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1541
  • Logged

Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Kelahiran Yang Wajib Dipahami

1.   Apa yang Dilakukan Pendidik Saat Kelahiran
Salah satu keutamaan syariat Islam atas umatnya adalah bahwa syariat tersebut menjelaskan semua yang berkaitan dengan kelahiran dan hukum-hukumnya, serta segala yang berkaitan dengan dasar-dasar pendidikan yang urgen. Sehingga, seorang pendidik berada di atas penjelasan dari urusan yang wajib ia pikul terhadap anak yang dilahirkan. Alangkah layaknya bagi siapa saja yang memiliki tanggung jawab pendidikan untuk melaksanakan kewajibannya sesempurna mungkin sesuai dengan penerapan dan pelaksanaan yang telah diajarkan oleh Islam dan yang telah digambarkan oleh pendidik pertama, yaitu Rasulullah Saw.
Inilah hukum-hukum penting yang hendaknya dilakukan oleh para pendidik ketika kelahiran:
a.   Memberikan ucapan selamat dan rasa turut gembira ketika seseorang melahirkan
Dianjurkan kepada setiap muslim untuk memberikan ucapan selamat dan turut bergembira kepada saudara muslim lainnya yang diberi anugerah anak. Tindakan yang demikian itu bisa menguatkan tali persaudaraan dan menebar kecintaan dan kasih sayang antara keluarga muslim. Jika tidak bisa untuk memberikan ucapan gembira langsung maka cukup dengan mendoakan orang tua dan anaknya, mudah- mudahan Allah menjaga, menerima, dan mengabulkan.
Al-Qur’an Al-Karim menyebutkan tentang kegembiraan akan lahirnya anak di banyak ayat sebagai arahan dan pengajaran bagi umat islam, karena dengan kabar gembira ini terdapat pengaruh yang besar dalam menumbuhkan jalinan sosial dan ikatan antara kaum muslimin. Allah 
“Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedangkan ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya.'..." (QS. Ali-'Imran [3]: 39]
Dan dalam ayat yang lain:
 
"Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim   dengan
membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, ‘Selamatlah.’ Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya   tangan
mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang   diutus
kepada kaum Luth. Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya) Ya>qub." [QS. Hud [11]: 69-71]
Allah Swt berfirman tentang kisah Nabi
 
"Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya,yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia." (QS. Maryam [19]:7)
Dalam buku-bukusejarah,tercatatkisah bahwa ketika Nabi j§| terlahir, Tsuwaibah telah memberikan kabar gembira [tentang kelahirannya] kepada pamannya, Abu Lahab, sedangkan ia adalah tuannya. Tsuwaibah berkata, "Malam ini telah lahir anak laki-laki dari Abdullah.” Kemudian Abu Lahab memerdekakannya, karena merasa gembira dengan kelahirannya. Allah tidak menghilangkan pahalanya [lantaran gembiranya tersebut] baginya,
dan dia menyejukkannya setelah matinya pada sela-sela jari pada batang ibu jarinya.1 (HR. AI-Bukharij
As-Suhaili menceritakan bahwa Al- ‘Abbas berkata, "Setelah Abu Lahab mati, aku memimpikannya setelah selang setahun bahwa ia dalam keadaan yang buruk. Ia berkata, Aku tidak pernah menemukan kesenangan setelah kamu sekalian, kecuali bahwa siksa diiringkan kepadaku setiap hari Senin'."
Hari Senin adalah hari kelahiran Nabi dan saat Tsuwaibah memberikan kabar gembira kepadanya tentang kelahiran beliau, lalu Abu Lahab merasa gembira dengan kelahirannya. Berkenaan dengan ucapan selamat kepada orang yang melahirkan anak maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah di dalam bukunya Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, dari Abu Bakar AI-Mundziri, "Telah diriwayatkan kepada kami dari Al- Hasan Al-Bashri bahwa seorang lelaki telah datang kepadanya, dan di sampingnya ada seorang laki-laki baru saja dianugerahi seorang anak kecil." Laki-laki itu berkata kepada orang yang mempunyai anak itu, "Selamat bagimu atas kelahiran seorang anak penunggang kuda.” Al-Hasan berkata kepada laki-laki tersebut, "Apa pedulimu, apakah dia seorang penunggang kuda atau dia seorang penunggang keledai?” Laki- laki itu bertanya, "jadi bagaimana kami harus mengucapkan?" Al-Hasan menjawab, "Katakanlah:
Setelah matinya, Abu Lahab pernah meminum dari sela-sela jemarinya lantaran kegembiraannya atas kelahiran putra saudaranya, Muhammad
 
'Semoga engkau diberkahi dalam apa yang telah diberikan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepadayan^ memberi, semoga engkau diberi re dengan kebaikannya dan serp^^^la mencapai masa balignya'."
Ucapan selamat in|^pPrendaknya diperuntukkan untul^^MKi anak yang dilahirkan bukan hl^t laki-laki atau perempuan saja. Alangkah baiknya jika kaum muslimin menerapkan sunnah yang mulia ini di tengah masyarakat supaya ikatan mereka menjadi kuat dan hubungan mereka semakin baik di sepanjang masa. Dan rasa cinta menjelma di dalam rumah-rumah dan keluarga mereka. Alangkah layaknya jika menempuh jalan yang menghantarkan kepada kesatuan, sehingga mereka menjadi hamba Allah yang bersaudara dan sehingga kesatuan mereka itu bagaikan bangunan yang kokoh yang satu sama lain saling menopang.2
b.   Mengumandangkan adzan dan iqamah ketika anak terlahir
Termasuk dari hukum-hukum yang telah disyariatkan oleh Islam terkait dengan anak yang lahir adalah mengumandangkan adzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya seketika ketika anak lahir. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan
2. Apa yang dilakukan orang-orang saat ini (dalam ucapan selamat) dengan memberikan bunga dan hadiah kepada keluarga yang melahirkan, maka itu baik-baik saja. Sebagaimana Sabda Nabi yang umum, "Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan mencintai."
Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari hadits Abu Rafi', ia berkata:

"Aku melihat Rasulullah mengumandangkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya."
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Sunni dari hadits Hasan bin Ali dari Rasulullah
 
“Barangsiapayang dianugerahi seorang anak, kemudian ia mengumandangkan adzan pada telinga kanannya dan igamah pada telinga kirinya maka anak yang baru lahir itu tidak akan terkena bahaya Ummush Shibyan." -
Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas H:
 
“Nabi Saw telah mengumandangkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika baru dilahirkan dan mengiqamahinya pada telinga yang kiri."
Adapun rahasia dari adzan dan iqamah di sini adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah di dalam bukunya, Tuhfatul Maudud bahwa supaya yang pertama kali didengar oleh telinga manusia adalah kalimat-kalimat seruan yang agung yang mengandung kebesaran Rabb dan keagungan-Nya dan kalimat syahadat yang menjadi syarat seseorang masuk Islam. Ibaratnya, hal itu adalah seperti talqin (pendiktean) baginya tentang syiar agama Islam tatkala hendak memasuki alam dunia, sebagaimana ditalqinkan juga orang yang menjelang meninggal dunia. Tidak diingkari lagi bahwa pengaruh adzan bisa masuk ke dalam hati meskipun ia tidak merasakan.
Seruan adzan juga mengandung faedah lain, yaitu larinya setan ketika mendengar lantunan kalimat adzan seakan-akan ia menjaganya dan mengawasinya sampai melahirkan. Dengan kalimat adzan tersebut bisa membuat setan marah dan membencinya di saat-saat pertama kali ia memeluk agama Islam.
Dengan ungkapan lain bahwa adzan
tersebut mengandung faedah supaya seruan dakwah kepada Allah, agama Islam, dan ibadah kepada-Nya tidak didahului dengan dakwahnya setan. Sebagaimana dakwah kepada fitrah manusia yang telah Allah ciptakan bagi mereka mendahului upaya setan dalam memindah dan mengubahnya. Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah lainnya.
Hikmah-hikmah yang telah dipaparkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ini merupakan dalil yang paling besar mendapatkan perhatian Rasul terhadap akidah tauhid, keimanan, serta upaya mengusir setan dan hawa nafsu sejak anak baru terlahir di dunia dan menghirup angin kehidupan.
c.   Mengunyahkan atau menyuapkan
kurma [tahnik] ketika anak terlahir
Salah satu amalan yang disyariatkan dalam Islam untuk anak yang baru lahir adalah mengunyahkannya (tahnik) setelah terlahir. Namun, apa sebenarnya tahnik itu dan apa hikmahnya?
Tahnik artinya mengunyah kurma dan menggosokkannya ke bagian tenggorokan anak yang baru lahir. Hal itu dilakukan dengan menaruh sebagian kurma yang telah dikunyah di atas jari kemudian memasukkan jari tersebut ke dalam mulut bayi. Setelah itu, gerakkan jari ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang lembut, sehingga mulut bayi seluruhnya terkena kurma yang dikunyah tadi. Apabila tidak didapati kurma maka mentahnik bayi bisa dengan bahan yang lain yang rasanya manis seperti sari pati gula yang dicampur dengan air bunga sebagai bentuk meneladani Rasulullah.

Hikmah dari amalan tersebut adalah menguatkan syaraf-syaraf mulut dan tenggorokan dengan gerakan lidah dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan, sehingga anak siap untuk menyusu dan meminum air susu secara alami. Diutamakan orang yang mentahnik bayi tersebut adalah orang yang memiliki ketakwaan dan keshalihan pribadi sebagai penghantar keberkahan dan harapan supaya kelak anak tersebut juga memiliki ketakwaan.
Adapun hadits-hadits yang dijadikan dalil oleh para fuqaha’ dalam menetapkan sunnahnya mentahnik adalah sebagai berikut:
□   Disebutkan dalam shahihain dari hadits Abi Burdah bahwa Abu Musa berkata, "Aku telah dikaruniai seorang anak. Kemudian aku membawanya kepada Nabi 0 lalu beliau menamakannya Ibrahim dan menggosok-gosok langit mulutnya dengan sebuah kurma serta men-doakannya dengan keberkahan. Setelah itu, beliau menyerahkannya kembali kepadaku.”
□   Disebutkan dalam shahihain dari hadits Anas bin Malik m berkata, "Diceritakan bahwa anak Abu Thalhah sakit, sedangkan Abu Thalhah keluar rumah. Kemudian anak itu meninggal. Ketika Abu Thalhah kembali pulang, ia bertanya, ‘Bagaimanakah keadaan anakku?’ Ummu Sulaim menjawab, ‘Dia tenang seperti sedia kala.' Kemudian Ummu Sulaim menghidangkan makan malam untuknya dan makanlah dia.
Setelah itu ia menggaulinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata, 'Kuburkanlah anakmu.'
Keesokan harinya, Abu Thalhah mendatangi Nabi dan memberitahukan tentang kejadian yang menimpanya. Nabi  bersabda, 'Apa tadi malam engkau telah berhubungan?' Ia menjawab, ‘Ya.’ Nabi bersabda, ‘Ya Allah, berikanlah berkah kepada mereka berdua.’ Kemudian Ummu Sulaim melahirkan seorang anak. Maka Abu Thalhah berkata kepadaku, 'Bawalah dia kepada Nabi.’ Bersama anak tersebut, ia telah membawa beberapa butir kurma. Kemudian Nabi Saw mengambilnya dan bertanya, Apakah ada sesuatu bersamanya?’ Mereka berkata, ‘Ya, buah kurma.’ Kemudian Nabi mengambil buah kurma tersebut dan mengunyahkannya, lalu mengulumkan mulutnya ke dalam mulut anak itu. Kemudian menggosok-gosokkannya dan menamakannya ‘Abdullah.”
□ Al-Khalal berkata, "Aku telah diberi kabar oleh Muhammad bin 'Ali, ia berkata bahwa ia pernah mendengar ibu anak Ahmad bin Hambal berkata, 'Ketika aku merasakan sakit karena melahirkan anak, tuanku sedang tidur. Kemudian aku berkata kepa-danya, ‘Wahai tuanku, aku ini mau mati.' la berkata, ‘Semoga Allah menghilangkan sakitmu.' Kemudian ia melahirkan Sa'id. Lalu ia berkata, 'Berikanlah buah kurma itu, kami mempunyai kurma dari Makkah.’ Kemudian ia berkata kepada 'Ali, ‘Kunyahlah kurma ini dan gosokkanlah kepadanya.' Kemudian aku melakukannya."
d.   Mencukur rambut anak
Amalan lain yang disyariatkan dalam Islam terkait dengan anak yang baru lahir adalah mencukur rambut kepalanya pada hari ketujuh dari kelahirannya. Setelah itu, bersedekah dengan uang perak kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang berhak seberat timbangan rambutnya. Hikmah dari hal itu ada dua perkara:
1.   hikmah manfaat kesehatan
Dengan dicukurnya rambut kepala anak yang baru lahir maka akan membuka selaput kulit kepala, memperkuatnya, mempertajam indra penglihatan, penciuman, dan pendengaran.
2.   hikmah manfaat sosial
Bersedekah dengan perak seberat timbangan rambut anak merupakan satu cara yang bisa memunculkan solidaritas sosial dan sebagai upaya mengikis kemiskinan. Amalan ini juga satu realisasi dari perilaku tolong- menolong dan kasih sayang di dalam masyarakat.
Adapun hadits-hadits yang dijadikan landasan para fuqaha’ untuk menetapkan sunnahnya mencukur rambut dan bersedekah dengan berat timbangannya adalah sebagai berikut:
 Diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam Al-Muwattha' dari hadits Ja'far bin Muhammad dari bapaknya ia berkata, "Fatimah telah menimbang rambut kepala Hasan dan Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum. Seberat timbangan itulah ia menyedekahkan perak.”
□ Ibnu Ishak menyebutkan dari Abdullah bin Abi Bakr bahwa Muhammad bin Ali bin Husain, "Rasulullah telah mengadakan aqiqah dengan seekor kambing untuk Hasan. Beliau bersabda, 'Hai Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan ukuran timbangan rambutnya lalu Fatimah menimbang rambut tersebut dan mencapai satu dirham atau beberapa dirham."
Diriwayatkan oleh Yahya bin Bakr dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah menyuruh mencukur rambut kepala Hasan dan Husain pada hari ketujuh, kemudian dicukurlah keduanya. Setelah itu, beliau bersedekah dengan perak seberat timbangannya.
Di dalam masalah Inencukur, terdapat perbincangan perihal menjambul. Maknanya adalah mencukur sebagian rambut saja dan menyisakan sebagian lainnya. Terdapat larangan keras di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin 'Umar bahwa Nabi Saw melarang mencukur sebagian atau qaza’.
Qaza’ yang dilarang itu ada empat macam. Pertama, beberapa bagian kepalanya dicukur tidak merata (tampak bergaris-garis]. Kedua, bagian tengahnya dicukur dan bagian tepinya dibiarkan. Ketiga, bagian tepinya dicukur dan bagian tengahnya dibiarkan. Keempat, bagian depannya dicukur dan bagian belakangnya dibiarkan.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, semua ini merupakan bukti kesempurnaan iman kepada Allah untuk keadilan. Nabi memerintah sesuatu hingga urusan manusia terhadap dirinya sendiri, maka beliau melarang mencukur rambut sebagian dan meninggalkannya sebagian. Sebab, hal itu termasuk kezaliman terhadap kepala karena perbuatannya sama saja dengan memberi pakaian sebagian dan membiarkan sebagiannya telanjang.
Sama dengan hal ini adalah bahwa Rasulullah melarang duduk di antara sinar matahari dan bayang-bayang. Sebab, tindakan itu merupakan kezaliman kepada sebagian anggota badan. Demikian juga Rasulullah Saw melarang berjalan dengan memakai satu alas kaki saja, tetapi hendaknya dia memakai semuanya atau melepas semuanya.

Hikmah yang lain adalah bahwa Rasulullah Saw sangat menekankan kepada seorang muslim agar tampil di hadapan masyarakat dengan penampilan yang layak. Sedangkan mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagiannya dapat menghilangkan kewibawaan dan keindahan seorang muslim. Selanjutnya, akan menghilangkan kepribadian islami yang menjadi pembeda seorang muslim dengan penganut agama lain serta semua orang fasik dan menyimpang.
Namun, ironis sekali mayoritas orang tua dan pendidiktidakmengetahui hukum- hukum seperti ini sama sekali. Bahkan kita dapati kebanyakan dari mereka, ketika kita sampaikan hukum ini, tampak rasa heran dan aneh terhadap apa yang kita 
sampaikan. Hal ini disebabkan mereka tidak terbiasa serta tidak melihat orang yang menerapkan dan mengamalkannya, kecuali orang yang dirahmati saja.
Ingin rasanya saya membisikkan ke telinga mereka, sesungguhnya kejahilan terhadap syariat Islam itu bukanlah suatu keringanan. Adapun keterbatasan dalam mengetahui perkara-perkara yang diwajibkan dalam agama dan pendidikan anak-anaknya tidak akan bisa menyelamatkan dirinya dari sebuah tanggung jawab yang akan ditanyakan nanti pada hari kiamat.
Hukum-hukum yang telah kami sebutkan di atas meskipun hanya sebatas sunnah-sunnah atau anjuran-anjuran, tetapi tetap harus diamalkan dan diterapkan semaksimal mungkin di dalam keluarga, anak-anak, kerabat, dan tetangga kita. Karena, jika kepada urusan yang sunnah kita berani meremehkan maka akan berimbas juga kepada urusan yang diwajibkan, kemudian akan meremehkan urusan yang difardhukan, kemudian akan meremehkan ajaran Islam secara keseluruhan. Pada akhirnya, seorang muslim akan terjerumus ke dalam kekafiran yang terang-terangan dan kesesatan yang nyata, dan lepaslah ia dari agamanya.
Hendaklah para pendidik mengambil hukum-hukum dan mene-rapkan anjuran- anjuran ini kepada anak-anak sehingga mereka mendapatkan keridhaan dari Allah dan bisa merealisasikan ajaran Islam dalam perkataan dan perbuatan. Semoga Allah memenangkan mereka atas musuh-musuhnya dan mengembalikan kejayaan mereka yang hilang. Dan Allah Maha mampu terhadap semua itu.
2. Pemberian Nama kepada Anak
dan Hukumnya
Satu kebiasaan sosial yang berlaku di masyarakat adalah ketika anak terlahir maka kedua orang tua akan memilihkan nama untuk anaknya. Agama Islam dengan syariatnya yang sempurna sangat menjaga dan memperhatikan perkara ini dengan meletakkan hukum-hukum sebagai bentuk penjagaan dan perhatiannya. Dengan demikian, umat Islam mengetahui perkara yang berkaitan dengan kelahiran serta mengangkat derajat anak tersebut dan setiap hal yang berhubungan dengan pendidikan.
Dalam pebahasan kali ini akan kami paparkan pembahasan seputar memberi nama kepada anak, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Islam.
a.   Kapan Anak diberi Nama?
Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan bahwa Samurah berkata, Rasulullah bersabda:

"Setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan binatang untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya) kemudian dicukur dan diberi nama pada hari itu pula."
Hadits ini menetapkan bahwa pemberian nama dilaksanakan pada hari 
ketujuh. Namun, ada juga beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa pemberian nama dilaksanakan pada saat kelahiran langsung, yaitu sebagai berikut:
Q Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwa Sahi bin Sa'ad As-Sa'idi m berkata, "Al-Mundzir bin Abi Usaid dibawa kepada Rasulullah sg ketika baru dilahirkan. Kemudian Rasulullah Saw meletakkannya di atas pahanya, sedangkan Abu Usaid duduk. Lalu Rasulullah bersenda gurau dengan apa yang ada pada kedua tangannya. Kemudian Abu Usaid menyuruh agar anaknya diambil dari Rasulullah, lalu beliau bertanya, 'Di mana anak itu?' Abu Usaid menjawab, ‘Sudah kupulangkan wahai Rasulullah.' Beliau bertanya lagi, 'Siapa namanya?' Abu Usaid menjawab, 'Si fulan.’ Rasulullah bersabda, 'Jangan, berilah ia nama Al-Mundzir'."
□ Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Sulaiman bin Mughirah, dari Tsabit dari Anas «gs, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
" Tadi malam anakku telah lahir kemudian aku menamakannya Abu Ibrahim. "
Berdasarkan hadits-hadits yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat kelonggaran dalam pemberian nama, baik pemberian tersebut ketika anak lahir langsung atau mengundurnya pada hari ketiga atau
 bersamaan dengan aqiqahnya yaitu pada hari ketujuh. Boleh sebelum atau sesudahnya.
b.   Nama yang Disukai dan Nama yang Dibenci
Satu perkara penting yang harus dipehatikan oleh orang tua saat memberikan nama untuk anak adalah hendaknya memilihkan nama yang paling indah dan mulia baginya. Hal ini sebagai pelaksanaan dari petunjuk dari Nabi kita.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan, Abu Darda' berkata, Rasulullah Saw bersabda:

"Sesungguhnya kalian nanti pada hari kiamat akan diseru dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kalian."
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahih-nya dari hadits Ibnu ‘Umar  bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Berdasarkan hadits-hadits yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat kelonggaran dalam pemberian nama, baik pemberian tersebut ketika anak lahir langsung atau mengundurnya pada hari ketiga atau
 
"Sesungguhnya Abdullah dan Abdurrahman adalah nama yang paling disukai oleh Allah."

Kita diperintahkan untuk menghindari nama anak yang buruk yang bisa menghapus kemuliaannya, sehingga anak akan menjadi bahan olok-olok dan cemoohan nantinya. Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi bahwa 'Aisyah berkata, "Nabi pernah mengubah nama- nama yang buruk.”
Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu Umar  bahwa seorang putri Umar konon bernama ‘Ashiyah (anak durhaka) telah diganti namanya oleh Rasulullah dengan Jamilah (cantik).
Abu Dawud berkata, " Beberapa nama telah diubah Rasulullah Saw . Al-'Ashi (orang yang bermaksiat), ‘Azis (Nama Allah), 'Utullah (yang kasar), Habab (nama sejenis ular atau setan). Beliau juga mengganti nama Harb (perang) dengan nama Salim (damai), dan mengganti nama Al-Munba’its (yang menyemburat). Bani Az-Zinyah dengan Bani Ar-Risydah dan Bani Mughwiyah dengan Bani Risydah." Abu Dawud berkata bahwa ia telah meninggalkan sanad-sanadnya untuk mempersingkat.
Kita juga diperintahkan untuk mengambil nama yang mengandung nama bentuk pesimistis (putus asa), sehingga anak selamat dari musibah dan pemberian nama ini.
□ Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam Shahih-nya dari hadits Sa'id bin Al-Musayyib dari bapaknya bahwa kakeknya berkata, "Aku telah datang kepada Nabi Saw, beliau bertanya,
'Siapa namamu?' Aku menjawab
'Hazn (kesusahan).' Beliau bersabda, 'Kamu Sahi [kemudahan).' Aku berkata bahwa aku tidak akan mengubah nama yang telah diberikan oleh bapakku kepadaku.” Ibnu Musayyib berkata, "Kesusahan itu masih terus menimpa pada kami."
□ Diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam Al-Muwattha’ dari hadits Yahya bin Sa'id bahwa ‘Umar bin Khaththab m berkata kepada seorang lelaki, "Siapa namamu?” Laki-laki itu menjawab, "Jamroh (bara api).” Umar bertanya, "Anak siapa?” Ia menjawab, "Anak Syihab (cahaya)” Umar bertanya, "Dari siapa?" Ia menjawab, "Dari Harqoh (panas kebakaran)” Umar bertanya, "Di mana tempat tinggalmu?” la menjawab, "Di Harratin Nar (panas api) ” Umar bertanya,
"Di bagian mana?” la menjawab, "Di Dzati Lahzan (inti baranya)” Umar berkata, "Ketahuilah keluargamu benar-benar terbakar dan binasa.” Ternyata keadaan mereka seperti yang dikatakan Umar.
***
Kita juga diperintahkan untuk men- jahui nama-nama yang menjadi kekhususan Allah. Oleh karenanya, tidak boleh memberi nama dengan Ahad (Yang Esa), Shamad (Tempat bergantung segala urusan), Khaliq (Sang Pencipta), tidak boleh juga dengan Raziq (Yang Pemberi rizki) tidak boleh juga dengan yang lainnya (dari nama-nama Allah).
Abu Dawud meriwayatkan di dalam Sunan-nya, ketika Hani’ diutus kepada Rasulullah s|g ke Madinah bersama kaumnya, mereka menyebutnya Abui Hakam (Maha Pemberi Keputusan). Kemudian Rasulullah memanggilnya dan bersabda, "Sesungguhnya Aliahlah pemberi keputusan dan kepada-Nyalah kembali segala keputusan. Karenanya, mengapa engkau disebut Abui Hakam?" Ia berkata, "Sesungguhnya kaumku, apabila mereka berselisih di dalam satu perkara mereka meminta keputusan kepadaku dan aku memutuskannya di antara mereka, sehingga masing-masing di antara kedua belah pihak merasa rela.” Rasulullah #| bersabda, "Alangkah indahnya ini, siapa nama anak-anakmu?" Ia menjawab, "Anak- anakku adalah Syuraih, Muslim, dan Abdullah.” Rasulullah bertanya, "Siapa nama anakmu yang paling besar?" Ia menjawab, "Syuraih.” Rasulullah bersabda, "Engkau adalah Abu Syuraih (juru penerang)."
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahz7i-nya,AbuHurairah m> meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
 
"Orang yang paling dibenci oleh Allah dan yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang diberi nama Malikal Amlak (Raja Diraja), karena tidak ada Raja selain Allah.”
Diperintahkan juga untuk menjauhi nama yang (terlalu) mengandung harapan dan optimis, sehingga ketika mereka dipanggil dan mereka tidak ada maka itu tidak menodai (menyelewengkan) dari maknanya dengan menambahi kata "tidak”. Seperti nama Aflah (yang paling beruntung), Nafi' (yang bermanfaat), Rabah (beruntung), Yasar (mudah).
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi bahwa Samurah bin Jundab m berkata, "Rasulullah J§| bersabda, ‘Perkataan yang paling dicintai oleh Allah ada empat; Subhdnallah, Alhamdulillah, dan La ilaha Illallah Wallahu Akbar. Jangan sekalipun engkau beri nama anak- anakmu dengan Yasar, juga jangan Rabah, Ndjih, dan Aflah. Adakah dia (misalnya Aflah; yang beruntung) di sana?' "Dan jika dia tidak ada, maka orang yang menjawab akan berkata, ‘Tidak.’ (Jadi, tidak beruntung). Sesungguhnya perkataan yang disukai ada empat, maka janganlah engkau menambahkan kepada-Ku."
Ibnu Majah meriwayatkan secara ringkas:
 
"Rasulullah melarang kita menamakan budak kita dengan empat nama; Aflah, Nafi’, Rabah, dan Yasar."
Diperintahkan juga untuk menjauhi pemberian nama dengan nama-nama yang disembah selain Allah seperti Abdul 'Uzza (Hamba Patung ‘Uzza), Abdul Ka'bah (Hamba Ka’bah), Abdul Nabi (Hamba Nabi], dan yang sejenisnya, karena penamaan dengan benda-benda ini adalah diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama.
Adapun sabda Nabi pada waktu perang Hunain, "Aku adalah Nabi, tidak bohong. Aku adalah putra Abdul Muthalib," ini tidaklah termasuk dalam bab pemberian nama, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Akan tetapi, ini adalah termasuk dalam bab memberitahukan nama yang dikenal untuk dirinya namun tidak untuk yang lain. Apalagi ia dalam kondisi sedang berhadapan dengan musuh, seperti posisi Nabi. Maka pemberitahuan nama dengan maksud memperkenalkan nama tidaklah termasuk yang diharamkan. Para shahabat pun pernah mengenalkan nama kabilah- kabilah mereka di hadapan Nabi, seperti Bani Abdi Manaf, Bani Abdi Syams, Bani Abdi Dar, dan beliau tidak mengingkarinya. Kesimpulannya adalah bahwa hal itu diperbolehkan dengan maksud memberitahukan, bukan dimaksudkan untuk pemberian nama.
Terakhir, kita juga diperintahkan menjauhi nama-nama yang mengandung makna cabul, tasyabbuh, dan lainnya, seperti Hiyam (sangat dahaga], Haifa (yang kecil perutnya dan lembut pinggangnya], Nuhhad (yang bulat susunya], Susan (Nama tumbuh-tumbuhan], Mayyadah (yang banyak cenderung atau pecinta], Nariman, Ghadah (yang halus atau yang lembut], Ahlam (impian-impian] dan semisalnya. Kenapa? Supaya umat Islam memiliki karakter yang berbeda (dengan yang dilarang] dan dikenal dengan kekhususan (kebagusan namanya]. Nama-nama yang telah disebutkan tadi bisa menghilangkan eksistensi-nya umat dan menjatuhkan wibawa, serta menghancurkan ruh keimanannya.Ketikaumatlslammengalami kondisi yang seperti ini, yaitu kerendahan dan kehinaan, maka akan mengalami kemandegan yang memudahkan musuh nantinya untuk merampas dan menjajah negeri tersebut. Kemudian mereka akan menghinakan penduduknya, sebagaimana yang kita saksikan hari ini. La haula wala quwwata illa billah. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.
Tidaklah mengherankan jika Rasulullah Saw menganjurkan umat Islam untuk memberikan nama dengan nama-nama para nabi, Abdullah, Abdurrahman, dan nama-nama lain yang mengandung bentuk peribadatan, sehingga umat Muhammad ini memiliki perbedaan dengan umat yang lain. Dan di realitas kehidupan, kita selalu menjadi umat terbaik yang dilahirkan kepada manusia, menunjuki manusia kepada jalan kebenaran dan prinsip- prinsip Islam.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i dari hadits Abu Wahab Al-Jasyimi bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Berilah nama anak-anak kalian dengan nama para nabi, dan nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan
Abdurrahman. Nama-namayang paling benar adalah Harits dan Hammam. Sedangkan yang paling jelek adalah Harb (perang) dan Murrah (pahit)."
c.   Sunnah Menggabungkan Nama Anak dan Bapaknya
Termasuk dalam prinsip pendidikan Islam dalam pendidikan anak adalah menggabungkan nama anak dengan nama bapak. Penggabungan nama ini memiliki pengaruh kejiwaan yang besar dan manfaat pendidikan yang agung, yaitu sebagai berikut:
□   Menumbuhkan rasa pemuliaan dan penghormatan pada jiwa anak. Sebagaimana ungkapan dalam syair: "Kugabungkan namanya dengan nama bapaknya ketika aku memanggilnya untuk menghormatinya. Aku tidak menjulukinya karena julukan itu buruk."
□   Menumbuhkan kepribadian sosial, sebab seorang anak dianggap dewasa dan diberi penghormatan.
Q Membiasakannya etika berbicara dengan orang yang lebih dewasa dan anak-anak yang sebaya dengannya. Karena adanya faedah yang baik dan ungkapan yang mulia inilah Rasulullah Saw menjuluki beberapa anak dan memanggil mereka dengan julukan itu. Hal ini sebagai bentuk pengajaran dan arahan bagi para calon pendidik sehingga mau menempuh jalan manhajnya. Diriwayatkan di dalam As-Shahihain bahwa Anas m berkata, "Rasulullah Saw adalah manusia yang paling mulia akhlaknya, sedangkan yang lain, aku memiliki saudara yang dipanggil Abu Umair. Nabi jika datang kepadanya beliau menyapanya, ‘Wahai Abu Umair, apa yang dikerjakan oleh burung (yang sedang dipermainkan)?'" Seorang perawi berkata, 'Aku kira bahwa burung itu sedang disapih.”
Nabi pun mengizinkan 'Aisyah untuk dipanggil dengan Ummu ‘Abdullah, sedangkan Abdullah adalah maksudnya Abdullah bin Az-Zubair. Ia adalah anak saudarinya, yaitu Asma' binti Abu Bakar. Kemudian shahabat Anas bin Malik sebelum ia mempunyai anak, ia dipanggil Abu Hamzah. Dan Abu Hurairah juga dipanggil dengan nama itu sebelum ia mempunyai anak.
Diperbolehkan memanggil seseorang dengan nama selain nama anak-anaknya. Seperti Abu Bakar dipanggil dengan Abu Bakar, padahal ia tidak memiliki anak yang namanya Bakar. Begitu juga Umar bin Khattab yang dipanggil Abu Hafsh padahal ia tidak punya anak yang namanya Hafsh (bukan Hafshah). Shahabat Abu Dzar juga demikian, ia dipanggil Abu Dzar padahal ia tidak memiliki anak yang namanya Dzar. Khalid bin Walid dipanggil dengan Abu Sulaiman padahal ia tidak memiliki anak yang namanya Sulaiman. Dan banyak lagi sehingga tak terhitung jumlahnya.
Kesimpulan dari yang kami kemukakan di sini adalah bahwa memanggil anak dan orang dewasa dengan kuniyah itu dianjurkan, dan tidak mengharuskan bahwa yang dipanggil dengan kuniyah memiliki anak. Diperbolehkan juga dipanggil dengan
nama selain anaknya.
Ada beberapa ketentuan terkait dengan pemberian nama dan penggabungannya:
□ Jika tidak ada kesepakatan orang tua dalam pemberian nama kepada anak, maka hak pemberian nama menjadi milik bapak. Adapun hadits-hadits yang telah disebutkan terdahulu yaitu pada awal pembahasan menerangkan bahwa pemberian nama itu menjadi haknya bapak. Al-Qur'an Al-Karim telah menerangkan bahwa anak itu nasabnya adalah kepada bapak bukan kepada ibu, sehingga dipanggil fulan bin fulan. Allah Swt berfirman:

"Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak- bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah ..." (QS. Al-Ahzab [33]: 5)
Telah disebutkan sebelumnya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Anas ggs berkata, Nabi Saw bersabda:
 
"Pada malam ini aku dianugerahi anak maka aku beri nama dengan Abu Ibrahim."
□ Tidak diperbolehkan bagi seorang bapak atau selainnya untuk menjuluki anak dengan julukan yang tercela, seperti Qashir (si cebol], A’war (si buta], Akhras (si bisu], Khanfasa' (si kumbang kelapa] dan lainnya, karena keumuman larangan Allah Swt. dalam firman-Nya:
 
" ... Jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan ..." (QS. Al- Hujrat [49]: 11]
Julukan-julukan yang jelek ini memiliki pengaruh yang nantinya berimbas pada diri anak dan masyarakat. Untuk lebih lengkapnya, akan dibahas selengkapnya pada pembahasan tanggung jawab pendidikan psikologis pada bab Mas'uliyat.
□ Apakah boleh memakai kuniyah Abui Qasim?
Para ulama sepakat membolehkan memberikan nama dengan nama Nabi Saw. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir m - Ia berkata, "Salah seorang di antara kami mempunyai anak, lalu ia menamakannya Muhammad. Kaumnya lantas berkata kepadanya, ‘Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah.' Kemudian pergilah orang itu dengan menggendong anaknya. Ia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku telah dikarunai seorang anak lalu aku namakan ia Muhammad. Namun, kaumku berkata bahwa mereka tidak akan membiarkan aku dengan nama Rasulullah.’ Maka Nabi Saw bersabda:
 
'Berilah nama dengan namaku, tetapi janganlah memakai julukan dengan sehutanku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pembagi yang membagi di antara kalian'"

Adapun memakai sebutan (kuniyah) dengan sebutan Rasulullah, para ulama berbeda pendapat. Berikut ini penjelasannya dan mana yang paling kuat dari pendapat tersebut.
Pertama, makruh secara mutlak. Dalil mereka adalah hadits yang telah disebutkan yang telah lalu. Selain itu juga hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Hadits Abu Hurairah  bahwa Rasulullah bersabda, “Berilah nama dengan namaku, dan janganlah memberi nama dengan kuniyahku.” Ini adalah pendapat Imam Syafi’i.
Kedua, mubah secara mutlak. Dalil mereka adalah riwayat Abu Dawud di dalam Sunna-nya dari hadits Aisyah. Ia berkata, "Telah datang seorang wanita kepada Nabi jg dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah dikaruniai seorang anak lalu aku namakan ia Muhammad dan kusebut ia dengan Abu Qasim. Kemudian diceritakan kepadaku bahwa engkau tidak menyukai hal itu.' Beliau bersabda, 'Apayang menghalalkan namaku dan
apayang mengharamkan namaku?'"
Diriwayatkan dari Ibnu Abi SyaibahdarihaditsMuhammadbinAI- Hasan dari Uwanah bin Al-Mughirah dari Ibrahim, bahwa ia berkata, "Aku mengetahui empat orang anak shahabat Rasulullah. Masing-masing dinamakan Muhammad dan mereka dijuluki dengan Abu Qasim. Mereka itu adalah Muhammad bin Thalhah bin Abi Thalib, Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqash.”
Imam Malik pernah suatu ketika ditanya tentang orang yang diberi nama dengan Muhammad dan diberi julukan dengan sebutan Abu Qasim. Ia menjawab, "Belum pernah ada larangan tentang itu. Dan aku tidak dapat berpendapat tentang hal itu.”
Kelompok yang berpendapat mubah secara mutlak beranggapan bahwa hadits-hadits yang melarang itu telah dihapus.
Ketiga, tidak boleh menggabungkan kuniyah (sebutan) Nabi dengan nama Nabi. Misalnya, memberi nama anak Muhammad kemudian memberikan kuniyahnya Abu Qasim pada waktu sama.
Adapun menyendirikan antara kuniyah dengan nama maka itu diperbolehkan. Argumen kelompok ini adalah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunnan-nya dari hadits Jabir bahwa Nabi Saw
bersabda:

"Siapa yang membuat nama dengan namaku maka ia tidak boleh mangambil julukan dengan julukanku. Dan siapa yang membuat dengan julukanku maka ia tidak boleh membuat nama dengan namaku."

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Abdurrahman dari Umarah dari pamannya. Dikatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"janganlah kalian menyatukan namaku dengan julukanku."

Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah bahwa ketika Muhammad bin Thalhah dilahirkan, Thalhah telah mendatangi Nabi Saw. Ia berkata, “Namanya Muhammad. Kusebut ia Abui Qasim." Beliau bersabda 'janganlah kamu mencampurkan nama dan julukan itu padanya, ia kemudian disebut Abu Sulaiman."
Keempat, larangan memberikan kunyah adalah hanya disaat beliau masih hidup, adapun setelah wafatnya, maka tidak mengapa.
Kelompok ini mendasari argumennya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunnanya dari hadits Mundzir dari Muhammad bin Al-Hanifiyah ia berkata, Ali Berkata, "Jika aku dianugerahi anak lagi setelah engkau tiada maka aku akan memberinya nama dengan namamu dan akan aku beri kunyah dengan kunyahmu.” nabi yg menjawab, "Ya”
Hamid bin Zanjawih mengatakan di dalam Kitabul Adab "Aku bertanya kepada Ibnu Abi Uweis apa yang dikatakan Malik tentang seseorang yang menggabungkan namanya dengan kunyah Nabi kemudian ia menunjukkan kepada seorang Syaikh yang duduk bersama kami” kemudian ia berkata,
"Disini Muhammad bin Malik. Ia dinamakan Muhammad dan juga disebut Abui Qasim. Ia, Imam Malik mengatakan, bahwa larangan itu berlaku ketika Nabi masih hidup karena beliau tidak suka bila seseorang dipanggil dengan nama dan julukan Nabi  dan beliau akan ikut berpaling.

Sedang sekarang, yakni setelah beliau wafat maka tidak apa-apa."
Mudah-mudahan pendapat yang keempat inilah yang paling kuat secara logika dari apa yang dikatakan oleh Imam Malik, dan dari hadits-hadits Nabi yang dijadikan sandarannya.
Dengan demikian hukumnya boleh memberi nama dengan nama Nabi #| dan memberi kuniyah dengan kuniyah Nabi|g, dikarenakan hadits-hadits yang melarang itu dikhususkan di saat Nabi 5H masih hidup. Karena, dikhawatirkan akan terjadi pencampuran saat memanggil antara seseorang dengan Nabi Ig. Adapun setelah wafatanya maka tidaklah mengapa. Hal itu menunjukkan pembolehannya. Dan yang bisa menguatkan lagi pembolehannya adalah hadits Az-Zuhri yang telah disebutkan, bahwa ia mengetahui ada empat orang anak para shahabat, semuanya diberi nama Muhammad dan diberi kuniyah Abui Qasim. Wallahu a'lam.
Tidak ada lagi hal yang terpenting bagi para bapak dan ibu sekalian setelah mengetahui penjelasan ini kecuali untuk menempuh metode yang lurus ini di dalam memilihkan nama untuk anak- anaknya. Kemudian menghindarkan diri dari nama-nama yang akan bisa mengotori kepribadian mereka, yakni dengan meneladani Nabi dalam memberikan julukan yang disenanginya kepada anak-anak sejak ia masih kecil. Sehingga mereka merasakan memiliki kepribadian, dan tumbuhlah rasa cinta dan kemulian diri. Mereka juga bisa terbiasa menyandang adab yang luhur bersama orang yang ada di sekitarnya dan kawan-kawannya dalam berbicara.
Maka pilihan kita adalah mengambil semua dasar pendidikan yang utama ini dan berjalan di atas metode Islami yang agung ini, jika kita ingin mengembalikan pribadi dan umat kita kepada kemuliaan yang terpendam dan eksistensi yang tinggi. Dan yang demikian itu Allah adalah Mahamampu, jika kita berkomitmen pada syariat, pendidikan, dan metode Islam.
3. Aqiqah dan Hukum-hukumnya
a.   Definisi Aqiqah
Aqiqah secara bahasa artinya memutus. Misalnya, seorang anak telah mengaqiqahi kedua orang tuanya, artinya jika ia telah memutus (durhaka] kepada keduanya. Seorang penyair berkata:
Sebuah negara dimana masa muda Telah memutus jimat-jimatku Merupakan tanah pertama Yang debu-debunya menyentuh kulitku Adapun secara istilah, aqiqah artinya menyembelih kambing karena kelahiran anak pada hari ketujuh dari kelahirannya.
b.   Dalil Masyru'iyyah Aqiqah
Hadits-hadits yang menerangkan dan menekankan sunnahnya aqiqah sangat banyak, dan kami sebutkan beberapa darinya:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam Shahih-nya dari hadits Salman bin Amar Adh-Dhabi, Rasulullah Saw bersabda:

"Bersama anak itu di ada aqiqah. Maka tumpahkanlah darah baginya (dengan menyembelih domba) dan jauhkanlah penyakit darinya." 
Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dari hadits Samurah, Rasulullah Saw, bersabda:

“Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya . Ia disembelihkan (binatang] pada hari ketujuh dari kelahirannya, diberi nama pada hari ketujuh itu pula, dan dicukur kepalanya."
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari hadits ‘Aisyah i^s. la meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Bagi anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing yang sepadan  dan bagi anak perempuan disembelihkan satu eKor kambing.”
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari hadits Ummu Karaz Al-Ka‘biyah bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Saw tentang aqiqah. Beliau bersabda:
 
“Bagi anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing dan bagi anak perempuan disembelihkan satu ekor kambing, dan tidak akan membahayakan kamu sekalian (tidak mengapa) apakah itu jantan atau betina."
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari hadits Al-Hasan dari Samurah bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan baginya pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur rambut kepalanya, dan diberi nama."
c.   Pendapat Fuqaha’ Tentang Dalil
Masyru’iyyahnya
Para fuqaha' dan imam mujtahid memiliki tiga pendapat berdasar-kan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas. Pertama, sunnah. Mereka yang berpendapat ini adalah Imam Malik, Ahli Madinah, Syafi’i dan pengikutnya, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, kebanyakan dari para ahli fiqih, ahli ijtihad, dan ahli ilmu. Mereka berhujjah dengan dalil-dalil yang telah disebutkan. Mereka juga membantah kelompok yang mengatakan wajib dengan beberapa alasan, di antaranya:
□ Kalau seandainya diwajibkan maka tentunya akan diketahui di dalam agama, sebab itu mengubah tuntutan yang berlaku secara umum. Rasulullah p un te ntunya akan menj elaskan tentang kewajibannya dengan penjelasan yang umum dan mencakup ha-hal yang 
berkaitan dengannya, serta menjadi hujjah dan menggugurkan keringanan. □ Rasulullah mengaitkan persoalam aqiqah ini dengan kecintaan pelakunya. Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa yang dianugerahi anak kemudian ia senang untuk menyembelih maka lakukanlah."
□ Perbuatan yang dilakukan oleh Nabi itu tidak menunjukkan wajib, tetapi menunjukkan sunnah.
Kedua, diwajibkan. Mereka yang berpendapat ini adalah Al-Hasan Al-Basri, Al-Laits bin Sa'ad, dan selain keduanya. Mereka berhujjah dengan hadits Buraidah dan Ishaq bin Rahawaih.

"Kelak manusia pada hari kiamat akan ditampakkan kepada aqiqahnya sebagaimana akan ditampakkan kepadanya ibadah shalatnya.”
Mereka juga berdalil dengan hadits Hasan dari Samurah bahwa Nabi Saw bersabda:

"Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya."
Maksud dari dalil: bahwa anak akan tertahan dari memintakan syafaat untuk kedua orang tuanya sampai ia diaqiqahi. Inilah yang menguatkan pendapat yang mewajibkan.
Ketiga, menolak disyariatkannya aqiqah. Hujjah mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah Saw ditanya tentang aqiqah. Beliau menjawab:
 
"Aku tidak menyukai aqiqah-aqiqah itu."
Mereka juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadits Abu Rafi' bahwa Hasan bin 'Ali hendak diaqiqahi dengan dua ekor kambing oleh ibunya, yaitu Fatimah. Maka bersabdalah Rasulullah Saw
"Janganlah kamu mengaqiqahinya, tapi cukurlah rambut kepalanya kemudian bersedekahlah dengan perak dari hasil timbanganya."
Lalu lahirlah Al-Husain kemudian Fatimah melakukan apa yang beliau perintahkan.
Berdasarkan lahiriah hadits yang telah dikemukakan di awal bahwa ahli fiqih, ilmu, dan ahli ijtihad menguatkan pendapat yang mengatakan sunnah dan dianjurkan.
Mereka juga menjawab tentang hadits- hadits yang dijadikan dalil oleh kelompok yang mengingkari sunnahnya. Mereka mengatakan bahwa hadits-hadits yang dijadikan dalil oleh mereka bukanlah tidak bernilai dan tidak sah untuk dijadikan dalil untuk mengingkari disyariatkannya aqiqah. Adapun hadits Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah ditanya tentang aqiqah, beliau menjawab, “Aku tidak menyukai aqiqah- aqiqah itu."
Berdasarkan siyaqul hadits (susunan kalimatnya) menunjukkan hukum sunnah dan dianjurkannya aqiqah. Adapun lafalnya yang demikian, bahwa Rasulullah ditanya tentang aqiqah, beliau menjawab, “Aku tidak menyukai aqiqah-aqiqah itu." Seakan- akan beliau tidak menyukai penamaannya yaitu dzabihah (sembelihan) dinamakan dengan aqiqah. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami hanya bertanya tentang salah seorang di antara kami yang dikaruniai seorang anak." Beliau bersabda, “Siapa saja di antara kamu menyukai untuk membuktikan (mengaqiqahj anaknya, maka hendaklah ia melakukannya. Bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang mencukupi, dan bagi anak perempuan satu ekor kambing."
Adapun dasar pengambilan dalil mereka dengan hadits Abu Rafi', "Janganlah kamu mengaqiqahinya, tapi cukurlah rambut kepalanya," sesungguhnya itu tidak menunjukkan makruhnya aqiqah. Sebab, Rasulullah tidak ingin membebani Fatimah dengan aqiqah sehingga beliau bersabda, "Janganlah kamu mengaqiqahinya," karena beliau telah mengaqiqahi mereka berdua (Al-Hasan dan Al-Husain). Maka cukuplah bagi Fatimah untuk menyediakan makanan-makanan saja. Riwayat-riwayat yang menguatkan perihal beliau yang mengaqiqahi banyak sekali, kami sebutkan di antaranya sebagai berikut.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas

"Rasulullah telah mengaqiqahi Al- Hasan dan Al-Husain satu kambing satu kambing."
Diceritakan oleh Jabir bin Hazim dari Qatadah dari Anas :
 
“Rasulullah telah mengaqiqahiAl-Hasan dan Al-Husain dua kambing."
Dikisahkan oleh Yahya bin Sa’id dari Amirah bahwa Aisyah berkata:
"Rasulullah telah mengaqiqahi Al- Hasan dan Al-Husain pada hari ketujuh (dari kelahiran mereka)."
Kesimpulan yang bisa kami jelaskan adalah bahwa mengaqiqahi anak yang lahir hukumnya adalah sunnah menurut jumhur (mayoritas) fuqaha’. Maka kepada seorang bapak yang mendapatkan anugerah anak seandainya ia mampu untuk menghidupkan sunnah Rasulullah sg ini maka hendaknya ia lakukan. Sehingga ia bisa meraup keutamaan dan pahalanya di sisi Allah. Begitu juga supaya menambah kuatnya jalinan cinta dan kasih serta hubungan sosial antara keluarga dengan kerabat, tetangga, dan kawan-kawan semuanya, yaitu ketika mereka menghadiri walimah aqiqah itu sebagai rasa turut gembira dengan kelahiran seorang anak. Di samping itu juga untuk mewujudkan jaminan sosial, yaitu ketika orang yang berhajat kemudian dan orang-orang yang tidak mampu dari kalangan fakir dan miskin turut mendapatkan bagian dari aqiqah tersebut.
Alangkah agungnya agama Islam dan alangkah tingginya ajarannya yang menanamkan kasih sayang di dalam membina keadilan masyarakat di tingkat bawah.
d.   Waktu Pelaksanaan Aqiqah
Telah kami sebutkan sebelumnya hadits dari Samurah;
 
“Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan baginya pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur rambut kepalanya, dan diberi nama."
Hadits ini memiliki faedah bahwa waktu yang disunnahkan untuk menyembelih hewan aqiqah adalah pada hari ketujuh dari kelahiran. Sebagai penguat adalah hadits yang diriwayatkan dari 'Abdullah bin Wahb bahwa Aisyah berkata:

"Rasulullah telah mengaqiqahi Hasan dan Husain pada hari ketujuh dari kelahirannya, memberi nama, dan memerintahkan untuk menjauhkan dari penyakityang ada di kepala (mencukur) mereka."
Akan tetapi, ada pendapat yang mengatakan bahwa mengaitkan penyembelihan dengan waktu, yaitu hari ketujuh itu bukanlah suatu keharusan tapi sifatnya hanya sekadar anjuran. Seandainya anak itu diaqiqahi pada hari keempat, atau kedelapan, kesembilan, atau seterusnya maka aqiqah tetap sah. Lebih jelas lagi, pendapat-pendapat itu adalah sebagai berikut:
□ Al-Maimuni berkata, "Aku bertanya kepada Abu 'Abdullah, ‘Kapankah anak itu diaqiqahi?’ Abu ‘Abdullah menjawab, 'Aisyah telah mengatakan bahwa aqiqah itu dilaksanakan pada hari ketujuh, hari keempat belas, dan hari kedua puluh satu'.”
□   Shalih bin Ahmad berkata, "Bapakku berkata tentangaqiqah,'Disembelihkan pada hari ketujuh, jika tidak mampu maka pada hari keempat belas, jika tidak mampu maka pada kedua puluh satu.”
□   Imam Malik berkata, "Pada dasarnya mengaitkan dengan hari ketujuh itu sifatnya adalah sebagai anjuran. Oleh karenanya, jika disembelihkan pada hari keempat, kedelapan, kesepuluh, atau seterusnya, maka tetap sah aqiqah tersebut."
Kesimpulan kami bahwa orang tua jika ia mampu untuk mengaqiqahi anaknya pada hari ketujuh maka itu lebih utama sebagaimana yang dikerjakan Nabi Saw. jika ia belum mampu maka boleh ia laksanakan kapan saja, sebagaimana penjelasan Imam Malik. Oleh karenanya, dalam perkara penyembelihan aqiqah terdapat kelonggaran dan kemudahan.
"... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu ..." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
"... Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan ..." (QS. Al-Hajj [22]: 78)

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1541
  • Logged
e.   Apakah Aqiqah Anak Laki-laki Sama
dengan Anak Perempuan?
Telahkamisebutkansebelumnyabahwa aqiqah itu hukumnya sunnah menurut pendapat mayoritas ulama. Hukum sunnah itu berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Ummu Khiraz Al-Ka‘biyah bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah tentang aqiqah. Beliau menjawab:

"Anak laki-laki diaqiqahi dua kambing dan anak perempuan diaqiqahi satu kambing."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits ‘Aisyah  :
"Rasulullah telah memerintahkan kepada kami untuk mengaqiqahi anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor kambing."
Dan hadits-hadits yang lain yang telah disebutkan pada pembahasan
dalil masyru'iyyah aqiqah. Hadits-hadits ini secara umum menjelaskan dua hal penting:
Pertama : Anak laki-laki dihukumi sama dalam hal mengaqiqahi.
Kedua: Melebihkan salahsatunya, yaitu untuk bayi laki-laki dua ekor kambing, dan untuk bayi perempuan satu ekor.
Melebihkan salah satu dari keduanya itu adalah berdasarkan lahiriah hadits- hadits yang disebutkan, juga merupakan pendapat Ibnu ‘Abbas, Aisyah, dan mayoritas ahli ilmu dan ahli hadits. Sedangkan pendapat mazhab Imam Malik bahwa aqiqah untuk anak laki-laki satu ekor kambing, tatkala beliau ditanya, "Berapa yang harus disembelih atas kelahiran anak laki-laki dan perempuan?” Beliau menjawab, "Untuk anak laki- laki disembelihkan satu ekor kambing, sedangkan perempuan juga disembelihkan satu ekor.’’ Beliau memegang pendapatnya berdasarkan hadits-hadits berikut:
□   Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya dari hadits Ibnu Abbas H, "Rasulullah Saw telah mengaqiqahi Al- Hasan dan Al-Husain dengan satu ekor biri-biri."
Q Diriwayatkan oleh Ja'far bin Muhammad dari bapaknya, "Fatimah telah menyembelih (mengaqiqahi) untuk Hasan dan Husain satu kambing satu kambing."
□   Imam Malik berkata, "Abdullah bin 'Umartelahmengaqiqahianak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan satu kambing satu kambing.” Kesimpulannya adalah bahwa orang
yang diberi rezeki dan kenikmatan dari Allah, hendaklah ia menyembelihkan untuk anak laki-laki dua ekor dan untuk anak perempuan satu ekor. Sebagaimana yang ditetapkan oleh Nabi sg dalam urusan melebihkan di antara keduannya. Maka barangsiapa yang kondisi ekonominya pertengahan atau di bawah standar maka cukuplah baginya menyembelihkan satu ekor kambing untuk anak laki-laki dan juga anak perempuan satu ekor. Jika dia telah melakukannya maka akan mendapatkan pahala dan telah melaksanakan sunnah. Wallahu a'lam.
Apabila ada yang menanyakan, kenapa Islam membedakan jumlah aqiqah antara anak laki-laki dan perempuan? Untuk menjawab pertanyaan ini maka bisa dipandang dari beberapa segi:
1.   Seorang Muslim hendaknya mematuhi apa saja yang menjadi perintah dan larangan dalam agama Islam. Sebagai perwujudan dari firman Allah Swt:
 
"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perse- lisihkan, kemudian mereka * tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu 
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa’ [4]: 65)
Dikarenakan juga bahwa perbedaan jumlah aqiqah antara laki-laki dan perempuan telah diterangkan dalam sabda Nabi |g, seorang muslim harus menerima dan melaksanakannya.
2.   Bisa jadi yang menjadi inti hikmah secara logika dalam melebihkan jumlah ini adalah menampakkan kelebihan laki-laki dibanding wanita dari segi pemberian Allah berupa kekuatan fisik, dan beban berupa tanggung jawab mengayomi keluarga dan memberinya keistimewaan berupa keseimbangan perasaan.
Allah berfirman:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menajkahkan sebagian dari harta mereka ..." (QS. An-Nisa’ [4]: 34)
3.   Mengokohkan tertanamnya rasa cinta dan kasih dengan ber-kumpulnya manusia dalam walimatul aqiqah. Kemudian menguatkan   jalinan
jaminan sosial dengan   lapisan
masyarakat fakir dan keluarga yang berkekurangan.
f.   Makruh Memecah Tulang Hewan
Aqiqah
Di antara perkara yang hendaknya diperhatikan dalam perkara mengaqiqahi anak adalah tidak memecah sedikit pun tulang hewan sembelihan, baik ketika menyembelih atau ketika memakannya. Setiap tulang dipotong pada persendiannya tanpa menghancurkannya.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits ja'far bin Muhammad dari bapaknya bahwa Nabi 5g| pernah bersabda di dalam masalah aqiqah yang dilakukan untuk Hasan dan Husain, "Berikanlah sepotong kaki dari aqiqah kepada suku ini, makanlah dan berilah makan, dan janganlah menghancurkan tulang darinya (aqiqah).
Ibnu Juraij meriwayatkan dari Atha', "Anggota-anggota badan sembelihan dipotong dan tulangnya tidak dihancurkan (menjadi kecil-kecil)." Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Al-Mundzir dari Atha’ dari Aisyah.
Hikmah dari itu larangan menghancurkan tulang adalah sebagai berikut. Pertama, menampakkan kemuliaan hidangan dan pemberian ini di dalam benak orang-orang fakir dan para tetangga. Yaitu, dengan menyuguhkannya potongan daging yang besar dan lengkap yang tidak dihancurkan tulangnya dan tidak dikurangi sedikit pun dari anggota-anggota tubuhnya [hewan). Tidak diragukan lagi bahwa tindakan ini adalah sebuah penghormatan yang menunjukkan kedermawanan serta pemuliaan ke dalam hati orang-orang yang diberi. Kedua, sebagai bentuk harapan akan keselamatan anggota tubuh anak dan kesehatannya, karena aqiqah itu adalah bentuk pengorbanan untuk anak yang terlahir. Allah sajalah yang mengetahui kebenarannya.
g.   Hukum-hukum Umum Seputar Aqiqah
Berikut ini hukum-hukum umum yang terkait dengan aqiqah yang harus diperhatikan. Urutannya adalah sebagai berikut:
1.   Para ulama sepakat bahwa yang diperbolehkan dalam aqiqah adalah apa saja yang diperbolehkan juga di dalam udhiyah. Sedangkan yang diperboleh dalam udhiyah adalah sebagai berikut:
■   Hendaknya hewan tersebut telah berumur satu tahun dan masuk dua tahun, yaitu biri-biri atau . kambing. Jika biri-biri tersebut bertubuh besar dan gemuk maka boleh meskipun masih umur enam bulan, dengan syarat sekiranya bercampur dengan yang telah umur satu tahun maka tidak tampak perbedaannya. Sedangkan kalau kambing maka tidak sah kecuali telah berumur satu tahun dan masuk tahun kedua dalam keadaan apapun.
■   Hewan udhiyah harus bebas dari cacat. Karenanya, tidak boleh berkurban dengan hewan yang buta total,butasebelah,kurus (tulangnya tidak bersumsum) dan hewan yang pincang (yang tidak bisa berjalan].

Demikian juga tidak sah berkurban dengan binatang yang terpotong telinganya atau ekornya lebih dari sepertiga, binatang yang ompong (sebagian besar giginya hilang), tidak mempunyai telinga, dan gila (yang tidak memungkinkan untuk digembala).
Adapun cacat yang didapati selain yang telah disebutkan maka tidaklah mengapa seperti telinganya sobek, atau tanduknya pecah, atau pincang namun masih bisa berjalan ke tempat penyembelihan, juga yang berjalan dengan tiga kaki, gila tapi masih mungkin untuk digembala, ompong tapi sebagian besar giginya masih ada, atau binatang yang telinga dan ekornya terpotong tapi tidak sampai sepertiganya. Semuanya itu boleh untuk dikurbankan.
■ Jika berkurban dengan sapi atau kerbau maka tidak sah kecuali jika telah berumur minimal dua tahun dan masuk umur ketiga tahun. Adapun berkurban dengan unta adalah yang berumur minimal lima tahun dan masuk tahun keenam.
2.   Tidakbolehberserikat. Misalnya tujuh orang berserikat dalam satu unta untuk melaksanakan aqiqah. Sebab, jika berserikat itu diperbolehkan maka maksud dari mengalirkan darah sebagai kurban untuk anak tidak akan tercapai.
3.   Diperbolehkan menyembelih unta atau sapi sebagai ganti dari kambing dengan syarat penyembelihan tersebut untuk satu orang anak. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Qayyim dari hadits Anas bin Malik bahwa ia menyembelih seekor unta untuk anaknya. Diriwayatkan j uga dari Abu Bakrah bahwa ia menyembelih seekor unta untuk anaknya yang bernama Abdurrahman.
Beberapa ulama menerangkan bahwa aqiqah tidak sah kecuali dari binatang kambing berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan. Akan tetapi, hujjah bagi yang memperbolehkan aqiqah dengan unta atau sapi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir bahwa Nabi Saw bersabda:

"Anak itu harus diaqiqahi, maka alirkanlah darah untuknya."
Rasulullah Saw dalam hadits di atas tidak menerangkan itu darah apa. Maka apa saja yang disembelih untuk anak, baik kambing, sapi, maupun unta adalah sah.
Yang disahkan di dalam aqiqah adalah apa saja yang disahkan di dalam udhiyah, dari sisi memakannya, bersedekah dengannya, memberikan hadiah, dan ditambahkan dalam hal memberi hadiah adalah hadiah kepada sebagian suku agar turut bergembira.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Ali bahwa Rasulullah Saw
bersabda, "Hiasilah rambut Al- Husain, bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan (rambutjnya dan berikanlah kaki aqiqah kepada suku fulan."
Barangsiapa yang hendak mengadakan walimah aqiqah dan mengundang orang-orang yang dia kehendaki hadir untuk menikmati makanan maka itu tidak mengapa. Banyak ulama yang memperbolehkan, supaya menyebar di lingkungan masyarakat Islam rasa kasih dan cinta juga persaudaraan antara keluarga, teman-teman, dan para tetangga. Inilah yang senantiasa dijaga oleh Islam dalam merealisasikan kesatuan umat agar bagaikan bangunan yang kokoh yang satu sama lain saling menopang.
4.   Disunnahkan hewan aqiqah itu disembelih atas nama anak yang diaqiqahi. Diriwayatkan Ibnu Al- Mundzir dari Aisyah   bahwa
Nabi Saw bersabda, "Sembelihlah atas namanya (anakyang dilahirkan) dan ucapkanlah: 'Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah bagi-Mu lah dan kepada-Mu lah kupersembahkan aqiqah si fulan ini'.”
Dan sekiranya orang yang menyembelih itu meniatkan aqiqah tanpa menyebut nama anak tersebut maka tetap sah aqiqahnya.   
h.   Hikmah Disyariatkannya Aqiqah
Sesungguhnya syariat aqiqah memiliki faedah dan hikmah, di antaranya:
1.   Aqiqah adalah pengurbanan yang bisa mendekatkan anak yang terlahir kepada Allah m pada saat pertama kali ia menghirup udara kehidupan.
2.   Aqiqah merupakan tebusan terhadap
anak dari segala bentuk musibah dan kecelakaan. Sebagaimana Allah m. menebus Nabi Ismail   dengan
sembelihan yang besar.
3.   Aqiqah adalah bayaran seorang anak untuk bisa memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak.
4.   Menampakkan kegembiraan dan suka cita dengan cara melak-sanakan syariat Islam, dengan terlahirnya keturunan seorang mukmin maka akan menambah jumlah umat Nabi Muhammad Saw nanti di akhirat.
5.   Aqiqah merupakan penguat jalinan cinta dan kasih antara anggota masyarakat, dengan berkumpulnya mereka di tengah jamuan makan sebagai bentuk kegembiraan akan hadirnya seorang anak.
6.   Aqiqah merupakan sumber jaminan sosial masyarakat yang baru, yang bisa menerapkan prinsip-prinsip keadilan di tengah umat, mengikis menyebarnya kemiskinan dan kemelaratan, dan sebagainya.
Perlu juga untuk diketahui bahwa ada bermacam bentuk hidangan atau jamuan yang telah disyariatkan oleh Islam pada
 waktu-waktu dan hari-hari tertentu, yaitu sebagai berikut :

□      AI-Qira : Jamuan untuk tamu
□      At-Tuhfah : Jamuan untuk pengunjung
□      Al-Khurs : Jamuan pada waktu kelahiran
□   AI-Ma'dubah : jamuan undangan
□   Al-Walimah : Jamuan pernikahan
□   Al-Aqiqah : Jamuan kelahiran anak pada hari ketujuh
□   Al-Ghadtrah : Jamuan khitanan
□   Al-Wadhtmah : Jamuan berkabung
□   An-Naqt'ah : Jamuan untuk orang yang datang dari bepergian
□   Al-Waktrah : Jamuan peresmian bangunan

. Khitan dan Hukum-hukumnya
a.   Makna Khitan
Khitansecarabahasaartinyamemotong penutup (kulit) yang menutup ujung zakar (kemaluan). Secara istilah syar’i artinya memotong bulatan di ujung hasafah, tempat pemotongan zakar dan yang merupakan tempat timbulnya konsekuensi hukum-hukum syara'. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At- Tirmidzi, dan An-Nasa'i bahwa Nabi Saw bersabda:

"Jika dua khitan (kemaluan laki-laki dan perempuan) telah bertemu maka wajiblah mandi."
Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani:

"Jika dua khitan (kemaluan laki-laki dan perempuan] telah bertemu dan hasyafah (ujung zakarj telah hilang, maka wajiblah mandi, baik sudah mengeluarkan (air mani] maupun belum."
b.   Hadits-hadits yang Menerangkan Masyru'iyyah Khitan
Hadits-hadits yang menerangkan masyru'iyyah khitan banyak sekali. Oleh karena itu, akan kami sebutkan sebagian saja, di antaranya:
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya dari hadits 'Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Di antara fitrah  adalah berkumur, menghirup air dengan hidung, mencukur kumis, membersihkan gigi, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu-bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan, dan khitan."
Didalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah , bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Fitrah itu ada lima; khitan, mencukur bulu-bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis."
c.   Hukum Khitan
Para ulama berbeda pendapat tentang perintah khitah, apakah itu menunjukkan wajib atau sunnah. Adapun yang berpendapat itu sunnah adalah Imam Hasan Al-Bashri, Imam Abu Hanifah, dan para pengikut Imam Ahmad.
Hujjah mereka adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Syadad bin Aus dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda:
.   
"Khitan itu disunnahkan bagi kaum laki-laki dan dimuliakan bagi kaum perempuan."
Hujjah mereka juga adalah bahwa Rasulullah Saw menghubungkan khitan dengan hadits-hadits yang menerangkan sunnah-sunnah seperti memotong kuku,

mencabut bulu ketiak, dan yang lainnya yang menunjukkan bahwa khitan itu hukumnya sunnah bukan wajib.
Hujjah yang lain juga adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Hasan Al-Bashri:

"Orang-orang (dari berbagai bangsa) telah masuk Islam bersama Rasulullah Saw Ada orang hitam, orang putih, orang Romawi, orang Persia, dan Habasyah. Namun, beliau tidak memeriksa seorang pun di antara mereka (apakah mereka dikhitan)."
Adapun yang berpendapat mewajibkan khitan adalah Asy-Sya'bi, Rabi'ah, Al- Auza'i, Yahya bin Sa'ad Al-Anshari, Malik, Syafi'i, Ahmad, bahkan Imam Malik sangat menekankan keharusan berkhitan, beliau berkata:

Abu Dawud dari hadits Utsaim bin Kalib dari bapaknya dari kakeknya bahwa ia telah datang kepada Nabi Saw. Ia berkata, "Aku telah masuk Islam.” Beliau bersabda:
“Buanglah rambutkekufuranmu itu dan berkhitanlah."
□ Diriwayatkan oleh Harb di dalam masa’ilnya dari Az-Zuhri, Rasulullah Saw, bersabda:
 

"Barangsiapa masuk Islam, maka ia wajib berkhitan sekalipun ia sudah dewasa."
Meskipun hadits ini dha'if namun dapat dipergunakan untuk memperkuat dan dijadikan pegangan.
□ Diriwayatkan oleh Waki' dari Salim dari Amr bin Harim dari Jabir dari Yazid dari Ibnu Abbas:

"Barangsiapayangbelumdikhitan,maka ia tidak boleh menjadi imam (shalat) dan tidak diterima kesaksiannya."
Mereka yang berpendapat wajib berpijak pada dalil-dalil sebagai berikut: □ Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan
 
"Orang yang tidak dikhitan tidak akan diterima shalatnya dan sembelihannya tidak boleh dimakan.”
Hadits-hadits di atas meskipun lemah tetap bisa digunakan sebagai penguat dan pendukung.
□      Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Musa bin Ismail dari 'Ali, "Kami mendapatkan tulisan pada hulu pedang Rasulullah Saw pada lembaran (yang berbunyi):
"Sesungguhnya orang yang tidak dikhitan itu tidak akan dibiarkan masuk Islam sampai ia berkhitan.”
□   Al-Khathabi berkata, "Syariat khitan meskipun tersebut ke dalam golongan hadits yang menerangkan sunnah- sunnah namun mayoritas ulama mengatakannya wajib, dikarenakan termasuk syi’ar agama, dengannya dapat diketahui siapa muslim dan kafir, apabila didapati korban-korban yang berkhitan bersama korban yang tidak berkhitan maka ia dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan kaum muslimin."
□   Para ahli fiqih menerangkan alasan mereka mewajibkan khitan, "Bahwa orang yang kuluf (tidak berkhitan) dapat merusak ibadah bersuci dan shalatnya, karena kulfah itu menutupi zakar seluruhnya, kemudian terkena air kencing dan tidak dapat dikeringkan. Sehingga sah atau tidaknya bersuci dan shalat itu tergantung kepada khitan. Maka dari itu, banyak ulama baik salaf maupun khalaf melarang menjadikan orang yang tidak khitan sebagai imam. Ia dianggap orang yang beruzur sebagaimana orang yang selalu kencing."
□ Allah berfirman:
"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), 'Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif (QS. An-Nahl [16]: 123)
Rasulullah Saw dan umatnya diperintahkan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dan yang
menunjukkan akan hal tersebut adalah berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah :
"Sesungguhnya Ibrahim telah dikhitan ketika ia berumur delapan puluh tahun.”
Dalam riwayat lain dikatakan:

"Sesungguhnya Ibrahim adalah orang pertama yang menjamu tamu, orang pertama yang memakai celana, dan orang pertama yang dikhitan. Setelah Ibrahim, khitan ini terus berlaku bagi setiap Rasul dan pengikutnya, hingga Rasulullah Saw diutus."

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad dari hadits Abu Ayyub, Rasulullah Saw bersabda:
"Ada empat perkara yang termasuk sunnah-sunnah para Rasul, yaitu khitan23, memakai wangi-wangian, bersiwak, dan menikahZ'24
Hadits-hadits ini adalah dalil yang paling terkenal yang mereka gunakan sebagai pendukung wajibnya khitan bagi anak. Sedangkan bantahan mereka terhadap yang menghukumi sunnah adalah sebagai berikut:
□ Adapun hadits yang mereka gunakan untuk menetapkan hukum sunnah yang berbunyi:
 
"Khitan itu disunnahkan bagi kaum lelaki dan dimuliakan bagi para wanita."
Menurut ahli hadits bahwa hadits ini lemah sekali dari segi sanad (jalur periwayatan], dan hadits dha'if (sebagaimana sudah dikenal di kalangan para fuqaha’) tidak boleh dijadikan landasan untuk menyimpulkan suatu hukum syar'i. Seandainya saja hadits itu shahih, maka Rasulullah Saw menyunnahkan dalam arti mengajarkan dan memerintahkan sehingga hukumnya menjadi wajib. Artinya, sunnah adalah jalan. Dikatakan, "Aku menyunnahkan demikian,” artinya adalah aku mensyariatkan. Maka sabda Nabi Saw, "Al-khitanu sunnatun lirrijali,” artinya disyariatkan bagi mereka.
□ Sedangkan argumentasi   mereka yang menyatakan bahwa Nabi Saw menghubungkan khitan dengan amalan-amalan sunnah seperti memotong kuku, maka menjadikan hukumnya (khitan) adalah sunnah seperti sunnahnya amalan yang lain. Itu adalah argumentasi yang tidak benar. Sebab, ada bagian yang disebutkan dalam hadits yang hukumnya wajib, sepertiberkumur-kumur dan istinsyaq ketika mandi, di antaranya ada yang disunnahkan seperti bersiwak. Adapun memotong kuku (meskipun sunnah), tetapi dalam keadaan tertentu ia menjadi wajib bagi keabsahan wudhu,
ketika bertumpuknya kotoran di bawah kuku tersebut. Jadi, hadits yang mereka jadikan landasan itu memuat hal-hal yang wajib dan hal-hal yang sunnah.
□ Adapun argumentasi mereka dengan mengambil perkataan Al-Hasan Al- Bashri, "Telah masuk Islam beberapa orang di hadapan Rasul, maka beliau tidak memeriksa satu pun dari mereka (sudah khitan atau belum].” Maka jawabannya, mereka tidak perlu lagi untuk diperiksa apakah mereka sudah dikhitan atau belum, karena semua orang Arab (ketika itu) sudah dikhitan. Demikian juga kelompok orang Yahudi. Kecuali, orang- orang Nasrani yang terbagi menjadi dua kelompok: kelompok yang berkhitan dan kelompok yang tidak berkhitan. Dan setiap orang yang masuk Islam telah mengetahui bahwa syi’ar Islam adalah khitan. Sehingga mereka merasa perlu untuk segera dikhitan setelah masuk agama Islam, seperti halnya bersegera untuk mandi.26 Dikuatkan lagi dengan pernyataan dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah bahwa manusia (saat itu) bersegera untuk dikhitan setelah masuk Islam sebagaimana mereka bersegera untuk mandi. Sesuai dengan hadits 'Utsaim bin Kalib yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kakeknya datang kepada Nabi 3H kemudian berkata, "Aku telah masuk Islam.” Beliau bersabda, "Buanglah darimu rambut kekafiran kemudian berkhitanlah." Begitu juga hadits Az-Zuhri yang telah disebutkan terdahulu bahwa Nabi #§ bersabda, "Barangsiapa yang telah masuk Islam maka hendaklah ia berkhitan meskipun telah dewasa.
Rasulullah   senantiasa
menunjuki umatnya akan suatu perkara yang bisa membawa pada kebaikan dan kebahagiaan dan yang bisa membedakan dengan umat lainnya. Akan tetapi, beliau tidak memerintah untuk memeriksa. Dalam hal ini jalan yang beliau tempuh adalah menerima keislaman orang- orang secara lahiriahnya, sedangkan yang rahasia dikembalikan kepada Allah saja.
Kesimpulan dari paparan di atas adalah bahwa khitan adalah pokok kefitrahan, syi’ar Islam, dan tuntunan syariat. Hukumnya wajib bagi laki- laki. Barangsiapa yang tidak segera melaksanakannya setelah ia masuk Islam dan sampai usia balig maka ia berdosa dan dianggap bermaksiat. Dikarenakan khitan merupakan syi’ar Islam, dengannya bisa dibedakan antara muslim dan kafir, menjadikannya sehat dan terhindar dari berbagai penyakit.
d.   Apakah Wanita juga Dikhitan?
Para fuqaha' dan imam mujtahid bersepakat bahwa khitan bagi wanita itu hukumnya sunnah, bukan wajib. Kecuali, riwayat Imam Ahmad bin Hanbal yang menghukumi wajibnya khitan atas laki-laki dan perempuan. Sedangkan pada riwayat yang lain, darinya juga menjelaskan bahwa ia wajib atas laki-laki saja tanpa perempuan. Riwayat yang kedua inilah yang bersesuaian dengan pendapat para imam dari kalangan fuqaha’ dan mujtahidin bahwa khitan itu disunnahkan bukan diwajibkan.
Hal ini juga sesuai dengan apa yang berlaku pada umat dari generasi ke generasi. Hujjah mereka adalah bahwa Rasulullah s|| tatkala mensyariatkan khitan kepada umat Islam, beliau mengkhususkan laki-laki tanpa perempuan. Dan tidak didapati riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Saw menyuruh kalangan wanita untuk berkhitan, kecuali hadits Syadad [lemah] yang telah disebutkan sebelumnya:
"Khitan itu disunnahkan bagi kaum lelaki dan dimuliakan bagi para wanita."
Dalam hadits yang lemah ini memang terdapat isyarat perintah bagi wanita untuk berkhitan, tetapi riwayat tersebut tidak bermakna wajib tapi sunnah karena di dalamnya terdapat lafal, "Dimuliakan bagi wanita,” yang menunjukkan dalil sunnah saja. Wallahu a'lam.
Bisa jadi hikmah dari hal tersebut memang didapati perbedaan antara khitan seorang laki-laki dengan khitan wanita. Berbeda bentuk, hukum, maupun faedahnya sebagaimana yang telah diketahui. Alangkah agungnya syariat Islam dan alangkah mulianya prinsip- prinsip yang dimilikinya sepanjang masa.
e.   Kapan Diwajibkan Khitan?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa khitan itu diwajibkan ketika anak mendekati masa balig. Harapannya, agar anak tersebut telah siap menjadi seorang mukallafyang akan melaksanakan hukum-
hukum syariat dan memikul perintah- perintah Allah. Di saat ia memasuki masa baligh ia sudah dalam kondisi dikhitan. Hal ini bertujuan supaya ibadah yang ia laksanakan menjadi sah dan sebagaimana yang telah dijelaskan syariat yang lurus.
Adapun yang lebih utama adalah hendaknya para orang tua melaksanakan khitan bagi anak-anaknya pada hari-hari awal kelahirannya, sehingga tatkala ia telah mengerti dan memasuki masa tamyiz kondisinya telah dikhitan dan nantinya tidak dimintai pertanggungjawaban, dan ia akan tenang. Tatkala anak telah mengetahui hakikat segala sesuatu maka ia telah melaksanakan perintah khitan. Dalil tentang keutamaan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Jabir  bahwa Rasulullah bersabda:

"Rasulullah mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dan mengkhitan keduanya pada hari ketujuh (dari kelahiran)"
f.   Hikmah dari Khitan
Syariat khitan memiliki hikmah yang agung dan manfaat kesehatan yang banyak yang telah diterangkan oleh para ulama dan ahli medis. Berikut ini adalah penjabarannya:
Hikmah secara agama:
□ Khitan adalah pangkal kefitrahan syiar Islam dan syariat.
□ Khitan termasuk dalam   sarana
kesempurnaan agama yang telah Allah syariatkan lewat lisan Nabi Ibrahim   Dialah yang mencelup
hati untuk berada di atas ketauhidan dan keimanan. Dialah yang mencelup tubuh   dengan berbagai sarana
kefitrahan berupa khitan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. Allah berfirman:
 
"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), 'Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif (QS. An-Nahl [16]: 123)

Allah juga berfirman:
"Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah." (QS. Al-Baqarah [2]: 138)
□   Khitan bisa membedakan antara seorang muslim dengan umat lainnya.
□   Khitan adalah bukti pengakuan akan peribadatan kepada Allah, melaksanakan perintahnya, serta tunduk kepada hikmah dan kekuasaannya.
Adapun faedah dari sisi kesehatan adalah:
□ Khitan bisa membawa kebersihan,
keindahan, kebagusan badan, dan menstabilkan syahwat.
□   Khitan merupakan cara sehat untuk menjaga tubuh dari serangan berbagai penyakit. Dr. Shabri Al-Qabani di dalam bukunya Hayatuna Al-Jinsiyah (Kehidupan Seksual Kita) berkata, "Khitan juga memiliki beberapa faedah, di antaranya:
Dengan terkelupasnya quluf (kulit yangmenutup zakar), makaseseorang akan terhindar dari keringat berminyak dan sisa air kencing yang mengandung lemak dan kotor. Hal ini bisa mengakibatkan gangguan kencing dan pembusukan.
Dengan terkelupasnya quluf (kulit yang menutup zakar), maka seseorang akan terhindar dari bahaya terganggunya hasyafah saat mengalami ereksi.
□   Khitan dapat mengurangi kemungkinan terjangkitnya penyakit kanker. Kenyataan yang terjadi bahwa kanker kebanyakan menyerang orang yang qulufnya sempit. Kejadian ini jarang itu didapati di negara-negara yang mewajibkan khitan.
□      Jika kita bersegera mengkhitankan anak berarti kita menghindarkan diri dari mengompol pada malam hari.
□   Khitan dapat meringankan banyaknya pemakaian hal-hal yang bersifat rahasia oleh orang-orang dewasa. Dan sebagainya.
Inilah beberapa faedah dan hikmah yang bisa ditangkap oleh orang-orang yang berakal dari disyariatkannya khitan dan yang bisa diterima oleh setiap individu
yar.g menginginkan kebaikan dan rahasia- rahasia syariat-Nya. Ketetapan hukum- hukum yang telah dijelaskan ini semua menunjukkan hakikat yang sangat penting :agi para pendidik, yaitu memberikan perhatian kepada anak semenjak ia lahir ian memperhatikannya segala urusannya agar ia bisa menikmati kehidupan ini iengan sentosa.
Semua itu merupakan hukum-hukum yang sangat penting dan mendasar yang bisa memberinya kesehatan dan kekuatan. Di saat seorang anak membuka kedua matanya, melihat alam sekitarnya, memahami hakikat sesuatu maka ia akan mendapati dirinya telah menjadi keluarga islam yang baik yang sesuai dengan syariat. Maka telah tegaklah keluarga islami dalam dirinya sebagaimana yang telah diperintahkan syariat yang lurus dan sunnah yang benar.
Tidak diragukan lagi manakala sang anak mengetahui kewajiban-kewajiban ini, mengetahui bahwa kedua pendidiknya yaitu bapak dan ibu, melaksanakan kewajiban ini, maka dirinya akan terdidik dengan iman dan Islam, serta terbiasa dengan makna akhlak dan keutamaan. Saya berpendapat jika Islam memperhatikan anak sejak ia dilahirkan, maka perhatian Islam terhadap anak ketika ia telah memahami arti kehidupan dan mengerti hakikat sesuatu, pasti akan lebih besar lagi.