Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Keluarga 
TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN IMAN UNTUK ANAK
Pages: [1]

(Read 19 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1541
  • Logged
TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN IMAN UNTUK ANAK
« on: 14 Apr, 2019, 19:06:19 »

TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN IMAN UNTUK ANAK

Mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan, rukun Islam, dan dasar-dasar syariat semenjak anak sudah mengerti dan memahami adalah maksud dari tanggung jawab pendidikan iman. Yang kami maksudkan dengan dasar-dasar keimanan adalah segala sesuatu yang ditetapakan melalui pemberitaan yang benar akan hakikat keimanan, perkara- perkara gaib, seperti iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab samawiyah, semua rasul, pertanyaan dua malaikat (di alam kubur], azab kubur, kebangkitan, hisab [pengadilan], surga, neraka, dan semua perkara yang gaib.
Sedangkan yang kami maksudkan dengan rukun Islam adalah semua peribadatan anggota dan harta, seperti shalat, puasa, zakat, haji bagi yang mampu melaksanakannya. Adapun yang kami maksudkan dengan dasar-dasar syariat adalah setiap perkara yang bisa mengantarkan kepada manhaj rabbarti (Jalan Allah], ajaran-ajaran Islam baik akidah, ibadah, akhlak, hukum, aturan- aturan, dan ketetapan-ketetapan.
Seorang pendidik wajib untuk mengajarkan kepada anak akan pedoman- pedoman berupa pendidikan keimanan semenjak pertumbuhannya. Dia juga diharuskan utuk mengajarkan fondasi- fondasi berupa ajaran-ajaran Islam. Sehingga anak akan terikat dengan agama Islam secara akidah dan ibadah, di samping penerapan metode dan aturan. Dia tidak mengetahuilagisetelahadanyapengarahan dan pendidikan ini kecuali menjadikan Islam sebagai agamanya, Al-Qur'an sebagai penuntunnya, dan Rasulullah sebagai pemimpin dan panutannya.
Keseluruhan dari pemahaman akan pendidikan iman ini berlandaskan pada wasiat Rasulullah  dan petunjuknya 
menuntun anak memahami dasar-dasar iman, rukun-rukun Islam, dan hukum- hukum syariat.
1.   Membuka Kehidupan Anak dengan Kalimat Tauhid La ilaha illallah
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw bersabda:
 
"Bukakanlah untuk anak-anak kalian pertama kalinya dengan kalimat Ia ilaha illallah (Tiada sesembahan yang hak kecuali Allah).”
Faedah dari perintah ini adalah agar kalimat tauhid itu dan syiar masuknya seseorang ke dalam agama Islam menjadi yang pertama kali didengar, diucapkan, dan lafal yang pertama kali diingat oleh anak. Pada pembahasan terdahulu, yaitu Ahkamul Maulud (hukum-hukum seputar kelahiran), dijelaskan tentang sunnahnya mengumandangkan azan pada telinga kanan anak dan mengiqamahinya pada telinga kirinya. Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan ini memiliki pengaruh yang besar di dalam mengajarkan anak dasar akidah dan prinsip tauhid dan keimanan.
2.   Mengajarkannya Masalah Halal dan Haram setelah Ia Berakal
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Al-Mundzir dari hadits Ibnu Abbas bahwa beliau berkata:
 
"Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takutberbuatmaksiatkepada- Nya, serta suruhlah anak-anak kamu untuk menaati perintah-perintah dan menjahui larangan-larangan. Karena, hal itu akan memelihara mereka dan kamu dari api neraka.”*
Faedah dari perintah ini adalah agar seorang anak ketika membuka kedua mata dan tumbuh besar, ia telah mengetahui perintah-perintah Allah sehingga ia bersegera melaksanakannya. Ia juga mengenal larangan-larangan Allah sehingga bersegera menjauhinya. Anak akan mengenal Islam sebagai hukum dan konsep pada saat anak sudah semakin paham akan hukum- hukum halal dan haram dan semakin terikat sejak dini dengan hukum-hukum syariat.

3.   Memerintahkannya untuk Beribadah saat Umurnya Tujuh Tahun
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Abu Dawud dari hadits Ibnu Amru bin Al-Ash  bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Perintahkan anak-anak kamu melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun, dan di saat mereka teiah berusia sepuluh tahun pukullah mereka jika tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah tempat tidurnya."
Diqiyaskan sebagaimana perintah shalat, hendaknya juga membiasakan anak melakukan puasa jika dirasa anak telah mampu, dan haji jika orang tuanya mampu.
Faedah perintah ini adalah agar anak mau mempelajari hukum-hukum ibadah ini sejak tumbuh dewasanya serta akan terbiasa melaksanakan dan menegakkannya. Selain itu juga agar ia terdidik untuk taat kepada Allah, melaksanakan hak-Nya, bersyukur kepada- Nya, kembali kepada-Nya, berpegang teguh kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, dan berserah diri kepada-Nya. Di samping itu, agar dengan ibadah ini anak-anak bisa terjaga kesucian rohaninya, kesehatan
fisiknya, kebaikan akhlaknya, serta lurusnya perkataan dan perbuatannya.
4.   Mendidiknya untuk Cinta kepada Nabi, Keluarganya, dan Cinta Membaca Al-Qur'an
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Saw bersabda:
 
"Didiklah anak-anak kamu atas tiga hal; mencintai Nabi kamu, mencintai ahli baitnya, dan membaca AI-Qur’an, karena orang yang mengamalkan Al- Qur’an nanti akan mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali dari-Nya bersama para nabi dan orang-orang yang suci."
Yang berkaitan dengan hal ini juga mengajari seni berperang Rasulullah Saw, perjalanan hidup para shahabat, karakteristik para pemimpin agung (dalam sejarah), dan peperangan-peperangan dahsyat yang terjadi di sepanjang sejarah.
Faedah dari perintah ini adalah agar anak mau meneladani perjalanan hidup para pendahulu, baik pergerakannya, kepahlawanannya, maupun peperangannya. Dan agar anak semakin terikat dengan sejarah, baik perasaan, kejayaan, maupun kebanggaan mereka. Selain itu juga agar anak semakin terikat dengan Al-Qur’an Al-Karim, baik rohani, konsep, maupun bacaannya.
Berikut ini adalah perkataan para ulama perihal masalah pendidikan akan wajibnya menuntun anak untuk membaca Al-Qur’an, mempelajari sejarah peperangan Rasulullah, dan sejarah para pahlawan.
□   Sa'ad bin Abi Waqqash m berkata, "Kami mengajari anak-anak kami tentang sejarah peperangan Rasulullah Saw sebagaimana kami mengajari mereka surat Al-Qur'an."
□   Imam Al-Ghazali berpesan di dalam bukunya Ihya' Ulumiddin, "(Yaitu) dengan mengajari anak Al-Qur'an AI-Karim, hadits-hadits, kisah orang- orang baik, kemudian beberapa hukum agama."
□   Ibnu Khaldun di dalam Muqaddimah- nya memberikan arahan tentang pentingnya mengajarkan dan menghafalkan Al-Qur'an pada anak. Beliau menjelaskan bahwa mengajari Al- Qur’an kepada anak adalah fondasi awal untuk mempelajari semua metode pembelajaran yang ada di berbagai negara Islam, karena ia adalah syiar agama yang bisa mengokohkan akidah dan menancapkan keimanan.
□   Ibnu Sina menasihatkan di dalam kitabnya As-Siyasah agar seorang anak diajari Al-Qur'an sejak dini, di samping menyiapkan pengajaran fisik dan akal. Hal ini bertujuan supaya anak mampu menyerap bahasa Al-Qur'an dan tertanam di dalam dirinya ajaran keimanan.
□      Diriwayatkan di dalam banyak buku sejarah dan sastra bahwa Fadhl bin Zaid pernah melihat anak laki-laki seorang wanita Arab dan ia sangat mengaguminya. Wanita itu bercerita cara mendidik anaknya, "Ketika ia sudah berumur lima tahun, aku menyerahkannya kepada seorang pendidik. Pendidik itu mengajari membaca dan menghafal Al-Qur’an, syair, serta meriwayatkannya. Ia juga dihibur dengan kejayaan kaumnya serta diajari meneladani perbuatan terpuji bapak dan kekeknya. Setelah ia memasuki masa remaja, maka aku mengajaknya naik ke punggung kuda agar ia berlatih menjadi penunggang kuda, memanggul senjata, berkelana ke berbagai wilayah, dan mau mendengarkan perintah.

Telah kami sebutkan sebelumnya dalam pembahasan perhatian orang-orang terdahulu akan pendidikan anak bahwa mereka tatkala menyerahkan anak kepada para pendidik maka yang pertama kali mereka minta dan nasihatkan kepada pendidik adalah supaya mengajarkan Al- Qur'an terlebih dahulu kepada anak-anak mereka. Kemudian cara membacanya, kemudian menghafalnya. Sehingga lisan mereka menjadi lurus, rohani mereka menjadi tinggi, hati mereka menjadi khusyuk, air mata mereka menetes, dan tertancaplah keimanan dan keyakinan ke dalam hati mereka.
Apa yang telah kami paparkan ini 
dapat diringkas bahwa Rasulullah Saw sungguh telah memberikan perhatian yang besar akan pentingnya menuntun anak semenjak tumbuh dewasanya dengan dasar-dasar keimanan, rukun Islam, hukum-hukum syariat, dan mendidiknya untuk cinta kepada Nabi, keluarganya, para shahabatnya, para pemimpin dan cinta kepada Al-Qur'an. Dengan demikian anak akan terdidik di atas keimanan yang sempurna, akidah yang kuat, dan mencintai generasi awal yang mulia. Jika mereka telah tumbuh dewasa nanti, mereka tidak akan tergoyahkan oleh paham atheis dan tidak akan terpengaruh oleh ajakan-ajakan orang kafir dan sesat.
Telah disepakati bahwa seorang anak itu dilahirkan di atas fitrah tauhid, akidah keimanan kepada Allah, berdasarkan kesuciannya. Jika ia disuguhi pendidikan di dalam rumah yang baik, suasana sosial yang baik, dan lingkungan belajar yang aman, nantinya anak akan tumbuh di atas keimanan yang kuat.
Kenyataan ini merupakan fitrah iman yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an Al- Karim yang dikuatkan dengan sabda Nabi dan ditetapkan oleh para pakar pendidikan. Adapun ketetapan dalam Al-Qur’an adalah firman Allah :

".. (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah...." (QS. Ar-Rum [30]: 30}
 
Adapun yang dikuatkan oleh Rasulullah Saw adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw, bersabda:

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci], kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi."
Sedangkan pernyataan para pakar pendidikan bisa kita saksikan lewat perkataan tokoh-tokoh barat tentang pentingnya pendidikan bagi manusia. Selain itu, perkataan Imam Ghazali tentang kebiasaan anak melakukan perbuatan baik atau buruk yang ternyata berdasarkan fitrahnya. Beliau berkata, "Anak merupakan amanah bagi kedua orang tua. Hatinya yang suci adalah permata yang mahal. Jika dibiasakan melakukan kebaikan maka ia akan tumbuh baik dan bahagia dunia dan akhirat. Namun, jika dibiasakan berbuat kejelekan dan dibiarkan seperti binatang, ia akan celaka dan binasa. Cara membentenginya adalah dengan mendidiknya dan mengajarkannya akhlak- akhlak yang baik...”
Alangkah indahnya syair berikut:
Pemuda-pemuda akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh bapaknya
Pemuda-pemuda tidak akan tumbuh dengan akalnya, tetapi dengan agamanya
Maka dekatkanlah ia dengan agama. 
Inilah pentingnya fitrah dan pengaruhnya. Dapat kita ketahui bahwa anak yang tumbuh di dalam keluarga yang menyimpang, belajar di lingkungan sesat, berkumpul dengan kelompok rusak, ia akan menyerap kerusakan tersebut. Ia terdidik dengan akhlak yang buruk dan tertuntun oleh prinsip kesesatan dan kekafiran. Setelah itu, secepat mungkin ia akan berubah dari bahagia menuju sengsara, dari keimanan menuju kemurtadan, dan berpindah dari Islam kepada kekafiran. Dengan demikian, sulit untuk mengembalikannya kepada jalan kebenaran.
Pada kesempatan ini akan kami paparkan kepada Anda beberapa fakta sosial dan contoh-contoh lingkungan yang rusak dan sesat. Agar bisa diketahui sarana- sarana yang bisa menyebabkan kerusakan anak, baik akidah maupun akhlaknya.
Dan agar diketahui juga bahwa jika para wali dan para bapak meremehkan pendidikan anak-anaknya, maka akan terjadilah penyimpangan dan kenakalan dan terjerumus pada kekafiran dan kemurtadan.
□ Jika orang tua menyerahkan anak ke sekolah-sekolah atau pondok pesantren asing dan rusak, anak akan menyerap keburukan darinya. Anak akan menjadi menyimpang dan nakal dan secara bertahap akan menuju kekafiran dan kesesatan. Bahkan akan tertanam dalam dirinya kebencian terhadap Islam dan permusuhan terhadap agama ini.
□ Jika orang tua menyerahkan anaknya untuk dididik oleh pendidik yang kafir dan jahat, mereka akan menuntunnya dengan prinsip-prinsip kekafiran. Mereka akan menanamkan benih-benih kekafiran di hati anak dan kelak anak akan tumbuh besar dan terdidik dengan dasar pendidikan kafir dan sekuler yang berbahaya.
□ Jika orang tua membiarkan anaknya membaca buku-buku karya orang kafir, materialis, misionaris, dan kolonialis maka anak akan ragu dengan akidah dan agamanya. Selanjutnya, ia akan mencemooh sejarah dan kemuliaan serta memerangi Islam.
□ Jika orang tua membiarkan dan melepaskan anak untuk bergaul dengan teman-teman yang menyimpang dan sesat sesukanya maka anak akan menghina setiap nilai religius dan dasar akhlak yang dibawa oleh agama dan syariat.
□ Jika orang tua membiarkan anaknya untukbergabung dengan partai-partai dan organisasi- organisasi yang tidak berprinsip Islam maka anak akan terdidik dengan akidah sesat dan tumbuh di atas prinsip-prinsip kekafiran. Bahkan, ia akan menjadi orang yang memerangi agama dan nilai-nilai yang suci.

Pohon yang tumbuh di taman tidaklah sama dengan pohon yang tumbuh di tanah yang tandus.
Mungkinkah diharapkan kesempurnaan dari anak-anak apabila mereka menyusu dari susu yang kering?
***
Jika para pendidik dan orang tua merasa mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menumbuhkembangkan anak di atas keimanan dan prinsip dasar Islam, maka hendaknya mereka mengetahui batasan-batasan tanggung jawab dan kewajiban yang dipikulkan kepada mereka. Agar orang yang mendapatkan tugas untuk memberikan pengarahan dan pendidikan mengetahui tugas yang diembankan dalam menumbuhkan anak di atas pendidikan keimanan yang sem-purna dan diridhai.
Batasan-batasan tanggung jawab tersebut adalah sebagai berikut:
1.   Membina mereka untuk selalu beriman kepada Allah
Hal tersebut dengan jalan ta'ammul (merenungi) dan tafkir (memikirkan) penciptaan langit dan bumi. Bimbingan ini diberikan saat mereka masuk pada usia tamyiz (bisa membedakan yang baik dan buruk). Alangkah baiknya pengajaran dalam masa ini diberikan secara bertahap dari hal-hal yang bisa diindera ke hal-hal yang rasional, dari perkara yang bersifat potongan ke hal-hal yang menyeluruh, dari yang sederhana kepada yang kompleks. Sehingga para pendidik pada akhirnya bisa menghantarkan anak-anak kepada perkara keimanan dengan bukti dan argumentasi yang memuaskan.
 
Ketika anak-anak di masa kecilnya telah memiliki keimanan yang mantap dan tertanam dalam otak dan pikirannya dalil-dalil ketauhidan, maka para perusak tidak akan mampu mempengaruhinya. Para penyeru kejahatan juga tidak akan mampu mempengaruhi otaknya yang sudah matang. Manusia tidak akan mampu mengoyak pribadinya yang telah beriman. Dikarenakan pribadinya telah dimasuki keimanan yang kuat, keyakinan yang menancap, dan qana'ah (menerima pemberian Allah) yang sempurna.
Metode seperti ini, yaitu bertahap dari yangrendahmenujuyanglebihtinggi dalam mengetahui sesuatu hakikat merupakan cara Al-Qur’an Al-Karim. Berikut ini ayat- ayat yang menerang-kannya:

"Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu. Sebagiannyc menjadi minuman dan sebagiannyc (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya padayang demi-kian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dialah, Allahyang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak berguncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda- tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan [apa- apa]? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran." [QS. An-Nahl [16]: 10-17)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh [terdapat] tanda-tanda [keesaan dan kebesaran Allah] bagi kaum yang memikirkan." (QS. Al-Baqarah [2]: 164)

"Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah Dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya [hidup sesudah mati]. Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak [pula] seorang penolong (QS.At-Thariq [86]: 5-10)

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air [dari 
langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur- sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rerumputan untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (QS. Abasa [80]: 24-32}

"Tidakkah kamu melihat bahwa Allah menurunkan hujan dari langitlalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis- garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata, dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba- hamba-Nya hanyalah ulama. Sesung
guhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Fathir [35]: 27-28)
 
"Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap- tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)." [QS. Qaf [50]: 6-8)
Dan masih banyak lagi ayat yang menjelaskan tentang hal ini yang mana hingga tak terhitung lagi jumlahnya.

2.   Menanamkan ruh kekhusyukan, takwa, dan ibadah kepada Allah Rabb semesta alam
Yaitu, dengan cara membuka penglihatan mereka terhadap kekuasaan Allah yang penuh keajaiban. Hati yang terpenuhi dengan hal tersebut tentu akan khusyuk dan tunduk kepada keagungan Allah & . Tiap jiwa yang memiliki perasaan ini juga akan merasakan ketakwaan dan rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Dan akan merasakan ketenangan dalam batin dengan terasa nikmatnya ketaatan dan manisnya beribadah kepada Allah Rabb semesta alam.
Di antara sarana-sarana penguat kekhusyukan dan kemantapan takwa di dalam jiwa anak adalah melatihnya untuk bisa melaksanakan shalat dengan khusyuk pada usia tamyiz, dan mendidiknya untuk bersedih atau menangis di saat mendengar bacaan Al-Qur'an Al-Karim. Inilah sifat- sifat orang yang bijaksana, syiarnya hamba- hamba yang shaleh, dan ciri khususnya seorang mukmin yang jujur.
Berikut ini pujian Al-Qur'an Al-Karim terhadap orang-orang yang khusyuk dan bertakwa lagi patuh.

"Sesungguhnya beruntunglah orang- orang yang beriman, (yaitu) orang- orang yang khusyuk dalam sembahyangnya.” (QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2)

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya ...." (QS. Az- Zumar [39]: 23)

"... Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka...." (QS. Al-Hajj [22]: 34-35)
 
"... Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam [19]: 58) 

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaranyang telah turun (kepada mereka)...."[ QS. Al-Hadid [57]: 16]
Sifat khusyuk, patuh, dan sedih ini merupakan sifatnya Rasulullah Saw, para shahabat yang mulia, salaf shalih, dan orang-orang yang mengenal Allah Swt.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwa Abdullah bin Mas'ud, berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku." Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, apakah aku akan membacakan kepadamu padahal Al- Qur’an itu diturunkan kepadamu?" Beliau menjawab, “Aku senang jika Al-Qur’an itu dibacakan oleh selain aku.” Lalu aku pun membacakan untuk beliau surat An-Nisa’. Tatkala sampai pada ayat;
 
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafirnanti),apabilaKamimendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (QS. An-Nisa’ [4]: 41)

Beliau Saw berkata, "Cukuplah... sekarang." Kemudian aku menoleh kepada beliau. Ternyata air mata beliau telah bercucuran.
Dalam riwayat lain, Abu Shalih berkata, "Telah datang segolongan manusia dari Yaman kepada Abu Bakar Ash-Shidiq. Mereka membacakan Al-Qur'an kemudian menangis. Abu Bakar lalu berkata, 'Demikianlah yang kami lakukan sehingga hati kami menjadi beku'.”

Cerita tentang tangis dan khusyuknya para salaf dalam shalat juga mendengarkan bacakan Al-Qur’an Al-Karim banyak sekali, hingga tak terhitung. Begitu juga kisah-kisah mereka tentang akhlak dan pendidikannya.
Barangkali pendidik di dalam upayanya membiasakan dan memberikan pengajaran pada anak untuk bisa khusyuk dan menangis dalam shalat pada awalnya mendapatkan kesulitan. Akan tetapi, dengan senantiasa mengingatkan, tekun dalam menuntun dan memberikan keteladanan, maka kekhusyukan akan menjadi akhlak dasar seorang anak dan akan menjadi tabiat yang mulia baginya. Alangkah indahnya perkataan seorang penyair:
Terkadang, pendidikan pekerti pada masa kecil berguna bagi anak-anak Tetapi setelah (dewasa) pendidikan itu tidak berguna lagi bagi mereka Sesungguhnya ranting jika diluruskan maka ia akan lurus
Dan engkau tidak akan bisa membengkokkannya jika ia telah menjadi kayu
Membiasakan anak dengan selalu menangis dan bersedih yang diterapkan oleh para wali merupakan petunjuk dari Nabi Saw sebagaimana dalam sabdanya:
 
"Bacalah Al-Qur’an lalu menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis maka bersikaplah seperti orang menangis." (HR. Ath-Thabrani)
3.   Mendidik dalam diri mereka ruh muraqabatullah (merasa diawasi Allah)
Yang demikian dengan cara melatih seorang anak agar merasa dirinya diawasi Allah. Allah mengawasi setiap tindakan dan perilakunya. Allah mengetahui apa yang dilihat dan apa yang tersembunyi dalam dada. Menanamkan kepribadian anak yang merasa selalu diawasi oleh Allah harus menjadi tujuan dan keinginan pendidik yang terbesar. Hal tersebut dilakukan dengan cara membiasakan anak untuk merasa selalu diawasi Allah Swt dalam tindakan, pikiran, dan perasaannya.
Adapun melatih anak agar merasa diawasi Allah m dalam tindakannya adalah dengan mengajarkan keikhlasan kepada Allah Rabb semesta alam dalam setiap perkataan, perbuatan, dan semua perilakunya. Setiap perbuatan yang telah didahului dengan niat it i ditujukan untuk mengharap wajah Allah m. Dengan demikian, akan terealisasi peribadatan yang murni kepada Allah dan akan menjadi orang-orang yang digolongkan oleh Al- Qur’an dengan firman-Nya:
 
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalatdan menunaikan zakat. Danyang demikian itulah agama yang lurus.” [ QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Demikian juga seorang pendidik hendak memasukkan perasaan bahwa Allah m tidak akan menerima suatu amalan kecuali ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah dan mendapatkan ridha-Nya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa'i, bahwa Nabi bersabda:

"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima amalan kecuali yang dilakukan (dengan niat) ikhlas demi mengharap wajah-Nya."
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:

"Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkan..."
Adapun melatih anak-anak agar merasa diawasi Allah dalam pikiran adalah dengan mengajari pikiran-pikirannya terhadap segala sesuatu yang bisa mendekatkannya kepada Sang Khaliq yang Maha Agung, dan yang bisa bermanfaat bagi dirinya, masyarakatnya, dan bagi seluruh manusia. Bahkan wajib juga melatih anak agar semua akal, hati, dan hawa nafsunya tundukkepada apa saja yang datang dari Rasulullah Saw.
Para pendidik hendaknya juga mendidik anak untuk gemar berintros-peksi diri terhadap hal-hal yang negatif dan pikiran-pikiran yang menyimpang. Memerintahkannya menghafal akhir ayat dari surat Al-Baqarah , disertai dengan penjelasan akan adanya petunjuk dan doa- doa dalam ayat tersebut. Dikarenakan ayat ini mencakup arahan untuk senantiasa muraqabatullah dan muhasabah dan kembali kepada Pencipta langit dan bumi serta memohon dengan berdoa kepada- Nya.
Adapun melatih anak agar senantiasa merasa diawasi Allah m lewat perasaan adalahdengancaramengajarkankepadaanak untuk senantiasa membiasakan sesuatu yang bersih dan setiap perasaan yang suci. Tidak berlaku hasad Ciri), hiqd (dengki), namimah (mencela), dan senang dengan perilaku yang kotor, berhasrat untuk melakukan kebatilan setiap kali ia mendapatkan bujuk rayu setan atau keinginan diri melakukan keburukan maka ia segera mengingat Allah, yang akan mendengar dan melihat apabila ia orangyang senantiasa mengingat dan melihat. Model didikan seperti ini dan rasa muraqabah sungguh telah menjadi arahan pendidik paling pertama dan utama yaitu Rasulullah Saw, saat beliau menjawab pertanyaan tentang makna ihsan. Beliau jg menjawab:
 
"Engkau menyembah Allah seakan- akan engkau bisa melihat-Nya, dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Al-Qur’an Al-Karim juga menerangkan dalam firmanya:
 
"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah ke dalam diri anak. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan- kesalahannya." (QS. Al-A’raf [7]: 200- 201)
Pola pengajaran dan pelatihan seperti ini telah diterapkan oleh para salafus shalih di dalam melatih dan mendidik anak-anak mereka. Inilah kisah yang diceritakan oleh Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya' Ulumiddin. Sahi bin Abdillah At-Tusturi berkata, "Ketika aku masih berumur tiga tahun, aku bangun malam. Aku menyaksikan pamanku (Muhammad bin Siwar) sedang melaksanakan shalat. Pada suatu hari, ia berkata kepadaku, Apakah kamu mengingat Allah yang telah menciptakanmu?' Aku menjawab, ‘Bagaimana cara mengingat-Nya?’ Ia menjawab, 'Katakanlah di dalam hatimu di saat engkau berbaring di tempat tidurmu tiga kali tanpa menggerakkan lisanmu: Allah bersamaku, Allah melihat-ku, Allah mrnyaksikanku.’
Aku pun mengucapkan kalimat itu selama beberapa malam, kemudian aku beritahukan kepadanya. Lalu ia berkata, U capkanlah kalimattadi setiap malam tujuh kali/ Kemudian aku lakukan yang demikian itu. lalu aku beritahukan kepadanya, la berkata, 'Ucapkanlah kalimat tadi setiap malam sebanyak sebelas kali/ Kemudian aku katakan kepadanya bahwa aku telah merasakan kelezatannya. Setelah setahun lamanya, paman berkata kepadaku, ‘jagalah apa yang telah kuajarkan kepadamu dan lakukanlah hingga engkau meninggal, niscayainiakanbermanfaatbagimu di dunia dan di akhirat/ Maka kalimat itu senantiasa aku lazimi hingga bertahun-tahun, dan aku mendapatkan kelezatan di dalam diriku. Pamanku kemudian berkata kepadaku pada suatu hari, ‘Wahai Sahi, barangsiapa yang Allah bersamanya, merasa diawasi oleh-Nya, merasa disaksikan-Nya, apakah ia akan bemaksiat kepada-Nya? Jauhilah olehmu perbuatan maksiat’.”
Maka jadilah Sahi tokoh yang terkenal dengan kebijakannya dan tergolong hamba-hamba-Nya yang shaleh. Lewat perantara pamannya yang telah mendidik dan mengajarinya dan menanamkan ke dalam dirinya di waktu usianya kanak- kanak makna keimanan dan muraqabah, serta akhlak yang mulia pada dirinya.
Tatkala para pendidik dan orang tua menempuh metode ini kepada anak-anak mereka, maka dalam waktu yang singkat ia akan mampu membentuk generasi Islam yang beriman kepada Allah Swt, merasa tinggi dengan agamanya, serta bangga dengan sejarah dan pahlawanya. Hal yang demikian juga akan mampu membentuk masyarakat yang bersih dari penyimpangan, bersih dari kekufuran, kedengkian dan kejahatan. Pendidikan keimanan yang telah kami jelaskan ini adalah yang banyak ditekankan oleh pakar pendidikan dan akhlak dari negara-negara barat, untuk membebaskan masyarakat dari kekafiran, penyimpangan, dan tindak kejahatan.
Berikut ini adalah beberapa komentar dari mereka:
a.   Destopsky menulis cerita-cerita yang paling mengagumkan yang terjadi di negara barat untuk menjelaskan bagaimana manusia bisa menjadi teman setan, ketika ia meninggalkan Allah.
b.   Seorang sastrawan dari Perancis yang bernama Foltaire berkata sambil mencaci orang-orang atheis dan materialis, "Mengapa kalian meragukan Tuhan? Sekiranya bukan karena Tuhan, niscaya istriku akan mengkhianatiku dan pembantuku akan mencuri hartaku.”
c.   Dr. Henry Lunk, seorang dokter jiwa dari Amerika berkata di dalam bukunya AI-'Audah llal Iman (Kembali Kepada Keimanan), "Sesungguhnya para orang tua yang menanyakan bagaimana menumbuhkembangkan kebiasaan moral anak-anak dan membentuknya, padahal diri mereka sendiri kurang dalam hal memberikan pengaruh religius yang sebelumnya telah membentuk moral-moral mereka. Pada hakikatnya mereka sedang menghadapi masalah yang tak jelas penyelesaiannya. Mereka tidak mendapatkan pengganti yang lebih baik untuk menggantikan kekuatan mengagumkan yang terbentuk oleh iman kepada Sang Pencipta dan sumber akhlak ilahi di dalam hati manusia."
d.   Majalah Al-Hajj yang terbit di Makkah edisi XXIII, juz III dari pengakuan Sutilana, Putri Stalin, "Sebab utama ia meninggalkan tanah air dan anak- anaknya adalah karena agama.” Is dibesarkan di rumah seorang atheis yang tak seorang pun di antara mereka mengenal Tuhannya, dan tidak pernah disebut sama sekali baik sengaja maupun tidak sengaja. Tatkala ia memasuki usia dewasa, ia dapatkar. dalam dirinya (tanpa ada dorongan dari faktor luar) perasaan yang kuat yang mengatakan bahwa kehidupan tanpa adanya keimanan kepada Allah adalah bukan termasuk kehidupan. Sebagaimana tidak akan mungkin bisa ditegakkan keadilan dan kemakmuran di tengah manusia tanpa iman kepada Allah. Dan aku merasakan dalam lubuk hati terdalam bahwa manusia membutuhkan keimanan sebagaiman ia membutuhkan air dan udara.
e.   Seorang filsuf, Kant menyatakan bahwa moral tidak akan terbentuk . tanpa adanya tiga keyakinan: adanya Sang Pencipta, kekalnya ruh, dan perhitungan setelah kematian.
***
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari pemaparan di depan adalah bahwa keimanan kepada Allah m adalah fondasi perbaikan pada anak, baik secara moral maupun psikologi. Dari beberapa komentar para pakar pendidikan dunia maka saya berpendapat, adanya hubungan yang kuat antara iman dengan akhlak, juga hubungan kuat antara akidah dengan perbuatan. Insya Allah akan kami perjelas pada pembahasan Tanggung Jawab Pendidikan Moral tentang pengaruh keimanan terhadap pelurusan akhlak anak, terbentuknya moral, dan lurusnya 
dari penyimpangan. Semoga Allah Swt memudahkan jalan dan kepada-Nya kita meminta dari-Nya pertolongan dan taufik.
Secara ringkas, bahwa tanggung jawab pendidikan iman atas para pendidik dan orang tua adalah tanggung jawab yang terpenting, dikarenakan iman adalah sumber keutamaan dan tempat tumbuhnya kesempurnaan. Bahkan, ia adalah gerbang pertama masuknya anak ke dalam iman dan jembatan Islam. Tanpa adanya pendidikan ini maka anak tidak akan mampu menegakkan tanggung jawabnya, tidak akan disifati orang yang amanah, tidak mengenal visi, tidak bisa merealisasikan makna kemanusiaan yang utama, dan tidak berbuat sesuatu yang tinggi dan mulia.
Ia akan hidup seperti binatang yang tidak memiliki keinginan kecuali hanya untuk melawan rasa lapar, memuaskan nalurinya, mencari kesenangan syahwatnya, berteman dengan orang-orang jahat dan bejat. Di saat itulah anak akan menjadi golongan orang kafir yang membolehkan segala cara yang sesat. Hal ini seperti yang Allah firmankan dalam kitab-Nya:

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal shaleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang- orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka." (QS. Muhammad [47]: 12)
Kepada para orang tua atau pendidik, jangan sampai meninggalkan kesempatan berharga berlalu tanpa adanya peningkatan bukti-bukti pada diri anak akan adanya Allah $m, arahan-arahan yang bisa memantapkan keiamanan dan menguatkan sisi akidahnya. Cara seperti ini, yaitu menghabiskan waktu-waktu dengan memberikan nasihat-nasihat keimanan, adalah cara pertama yang digunakan oleh pendidik pertama yaitu Rasulullah |f|. Beliau senantiasa mengarahkan anak-anak kepada perkara yang bisa meninggikan kedudukan mereka dan menanamkan keimanan dan keyakinan ke dalam lubuk hati terdalam.
Kepada Anda sekalian kami petikkan beberapa contoh pengarahan dan cara yang diajarkan oleh Rasulullah J||. Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Abbas. Ia berkata, "Pada suatu hari, aku berada di belakang Rasulullah J|§. Beliau kemudian bersabda, 'Wahai anak, aku ajarkan engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau dapati Dia ada di hadapanmu. Jika engkau meminta mintalah kepada Allah dan jika hendak minta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, walaupun semua manusia bersepakat untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali dengan apa yang telah ditetapkan Allah. Dan walaupun semua manusia bersepakat untuk menimpakan bahaya kepadamu, maka mereka tidak akan bisa menimpakan bahaya kecuali dengan apa yang telah ditetapkan Allah. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering'."
Dalam riwayat lain, "Jagalah Allah niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Dekatkanlah dirimu kepada Allah di saat lapangmu, niscaya Dia akan mengingatmu di waktu susahmu. Ketahuilah apabila sesuatu yang yang telah ditetapkan tidak menimpamu maka ia tidak akan menimpamu. Dan sesuatu yang telah ditetapkan menimpamu maka ia tidak akan meleset. Ketahuilah bahwa kemenangan itu ada bersama kesabaran dan kelapangan ada bersama kesulitan dan kesulitan ada bersama kemudahan."
Sebagai penutup, saya usulkan kepada para pendidik, pengajar, dan para orang tua untuk memilihkan buku-buku yang paling baik sebagai pedoman pengajaran ilmu akidah dan tauhid anak sejak usia tamyiz. Hendaknya pengajaran dilaksanakan dengan bertahap disesuaikan dengan kondisi usia, kematangan, dan pengetahuan anak. Adapun buku-buku tersebut adalah sebagai berikut:
Tahap pertama, untuk anak usia 10 sampai 15 tahun:
1.   Kitab Al-Ma'rifah karya Al-Fadhilah Al-
Alim Al-Mursyid Syaikh Abdul Karim
Rifa'i.
2.   Kitab Al-Aqa'id karya Imam Hasan Al- Banna.
3.   Kitab Al-Jawahir Al-Kalamiyah karya Al-Ustadz Thahir Al-Jazairy.
Tahap kedua, untuk anak yang telah masuk usia balig hingga umur 20 tahun:
1.   Kitab Ushulul 'Aqa'id karya Al-Ustadz Abdullah Arwani.
2.   Kitab Al-Wujud Al-Haq karya Dr. Hasan Huwaidi.
3.   Kitab Syubhat Wa Rudud karya saya sendiri.

Tahap ketiga, untuk anak di atas usia 20 tahun:
1.   Kitab Kubra Al-Yaqiniyat Al-Kauniyah karya Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthi.
2.   Kitab Allah Jalla Jalaluhu karya Al- Ustadz Sa'id Hawwa.
3.   Kitab Qishatul Iman karya Al-Ustadz Nadim Al-Jasr.
Ditambahkan dengan kitab-kitab lain dalam masalah akidah, pemikiran pada tahapan kedua dan ketiga. Kepada setiap pemuda muslim hendaknya mempelajarinya dan memahami isinya agar tertanam akidah dan keimanannya. Buku- buku tersebut sebagai berikut:
1.   Ad-Din Fi Muwajahatil 'Alami karya Al- Ustadz Al-‘Alim Wahiduddin Khan.
2.   Al-Islam Yatahadda karya Al-Ustadz Al-'Alim Wahiduddin Khan.
3.   AUahu Yatajalla Fi Ashri Al-'Ilm karya kumpulan beberapa pemikir barat.
4.   Allah Wa Al-'Ilm Al-Hadits karya Abdur Razzaq Naufal.
5.   At-Thib Fi Mihrdbil Iman karya Dr. Khalish Kango
5.   Qishatul Hidayah karya penulis sendiri.
Dan kitab-kitab yang lain yang bisa menguatkankeimanandanyangmenanam- kan ajaran-ajaran akidah dan Islam.
Tahapan ini berlaku jika anak mengikuti tahapan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Adapun jika seorang anak hanya mampu sampai pada tingkat pendidikan dasar, kemudian terjun ke dunia profesi untuk mencari rezeki, maka bagi orang tua hendaknya mengupayakan dengan sungguh-sungguh dalam mengajarinya akidah tauhid di waktu-waktu luangnya melalui tangan para ustadz yang mampu menyampaikan ilmu dasar-dasar keimanan. Selain itu, menanamkan ke dalam diri anak benih-benih tauhid yang murni sehingga anak secara jelas mengetahui apa yang wajib bagi Allah Swt, apa yang jaiz (boleh], dan apa yang mustahil (tidak mungkin). Dengan demikian, anak akan tumbuh di atas pendidikan keimanan yang murni dan tidak tergoyahkan dengan badai fitnah dan tipu daya.