Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Keluarga 
TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN AKAL ANAK TERHADAP SEGALA SESUATU YANG BERMANFAAT
Pages: [1]

(Read 30 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1541
  • Logged

TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN AKAL ANAK TERHADAP SEGALA SESUATU YANG BERMANFAAT

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan rasio (akal) adalah membentuk pola berpikir anak terhadap segala sesuatu yang bermanfaat, baik berupa ilmu syar'i, kebudayaan, ilmu modern, kesadaran, pemikiran, dan peradaban. Sehingga anak menjadi matang secara pemikiran dan terbentuk secara ilmu dan kebudayaan.
Tanggung jawab ini tidak kalah pentingnya dengan tanggung jawab yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu tanggung jawab pendidikan iman, akhlak, dan fisik. Pendidikan keimanan adalah fondasi, pendidikan fisik adalah persiapan dan pembentukan, dan pendidikan akhlak adalah penanaman dan pembiasaan. Adapun pendidikan rasio adalah penyadaran, pembudayaan, dan pengajaran.
Empat macam pendidikan ini, juga pendidikan lainnya yang akan dijelaskan berikutnya adalah saling berkaitan dan melengkapi di dalam usaha membentuk pribadi anak yang sempurna agar menjadi manusia yang lurus dalam melaksanakan kewajiban, menyampaikan risalah, dan menegakkan tanggung jawabnya. Alangkah bagusnya jika pemikiran itu diikuti dengan keimanan. Dan alangkah indahnya akhlah jika diikuti dengan kesehatan. Dan alangkah luhurnya seorang anak manakala menjalani kehidupan ini dengan bekal perhatian, pengawasan, pendidikan, dan persiapan dari para pendidik di segala sisi.
Seandainya harus menjelaskan tahapan-tahapan yang harus ditempuh oleh para pendidik dalam setiap bentuk tanggung jawab yang ditegakkan terhadap anak, maka saya berpendapat bahwa tanggung jawab mereka terhadap pendidikan rasio (akal) terfokus pada tiga permasalahan; 
1.   Kewajiban mengajar,
2.   Kesadaran pemikiran, dan
3.   Kesehatan akal.
***
1.   Kewajiban Mengajar
Tidak diragukan lagi bahwa tanggung jawab ini sangat penting dan besar dalam Islam. Sebab, Islam membebankan tanggung jawab besar kepada para orang tua dan pendidik terhadap pengajaran anak-anak mereka, menumbuhkan kesadaran mempelajari berbagai macam kebudayaan, dan ilmu. Selain itu juga memfokuskan kemampuan berpikir mereka untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam, pengetahuan yang murni, dan pertimbangan yang matang. Dengan ini semua, pikiran mereka akan terbuka, kecerdasannya akan tampak, akalnya akan semakin matang, dan kecerdikannya akan muncul. Sebagaimana yang diketahui dalam sejarah, bahwa ayat yang pertama kali diturunkan ke dalam hati Rasulullah yang agung adalah:
 
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.’’ (QS. Al-'Alaq [96]: 1-5)

Ayat tersebut diturunkan untuk memuliakan hakikat pentingnya membaca dan pentingnya ilmu. Selain itu juga kebolehan mengangkat menara pemikiran dan akal serta membuka pintu peradaban seluas-luasnya.
Jika kita hendak mengupas ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi s§| yang memotivasi tentang pentingnya ilmu dan mengangkat kedudukan para ulama, maka alangkah sangat banyaknya. Di antaranya:

"...Katakanlah, 'Adakah sama orang- orang yang mengetahui dengan orang- orang yang tidak mengetahui?’...." (QS. Az-Zumar [39]: 9)

"...Dan katakanlah, 'Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’." (QS. Thaha [20]: 114)

"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11]
“Nun, demi kalam dan apayang mereka tulis." (QS. Al-Qalam [68]: 1)

Sedangkan nash-nash hadits yang menerangkan di antaranya adalah;
O Diriwayatkan Imam Muslim di dalam Shahih-nya, dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi Saw, bersabda:
"Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan dalam rangka mendapatkan ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya ke jannah."

O Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda:
"Dunia   itu terlaknat (terkutuk), dan terlaknat pula apa saja yang di dalamnya, kecuali orang-orang yang berdzikir kepada Allah dan taat kepada-Nya, serta seorang pengajar dan pelajar."

O Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari hadits Abu Umamah bahwa Nabi Saw bersabda :
“Keutamaan orangyang ‘alim (berilmu) atas orang yang 'abid (ahli ibadah), sebagaimana kemuliaanku (Nabi) atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya Allah, para malaikat, serta penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan, sungguh akan mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia."

O Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Apabila anak keturunan Adam meninggal dunia maka akan terputuslah semua amalnya, kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakanya (orang tuanya)"

Berpijak pada pengarahan dari Al- Qur’an dan Al-Hadits ini, kaum muslimin pada masa kenabian dan periode- periode setelahnya sangat bersemangat dalam mempelajari ilmu alam. Mereka menganggap bahwa mempelajari semua ilmu yang bermanfaat termasuk suatu kewajiban. Mereka mengambil manfaat dari peradaban umat lain di seluruh dunia, kemudian mereka memperbaruinya dan menghiasinya dengan agama Islam yang tiada tandingannya. Seluruh dunia pun selama beberapa abad yang cukup panjang mengambil ilmu-ilmunya dan memanfaatkan peradaban-peradaban mereka. Dan tidaklah peradaban materi pada masa ini, baik di barat maupun timur kecuali akan mengambil peradaban kaum muslimin dan ilmu-ilmunya dengan cara merampas. Perang Andalusia dan perang salib adalah bukti itu semua.
Inilah pernyataan para filsuf barat tentang keagungan ilmu dan peradaban yang dikuasai kaum muslimin dalam kurun waktu yang lama dalam sejarah:

O Syaristy berkata, "Selama kurang lebih seribu tahun, orang-orang Eropa selalu melihat seni Islam. Seakan- akan ia adalah keajaiban dari berbagai keajaiban."

O Dozy seorang orientalis dari Belanda mengatakan, "Sesungguhnya di seluruh wilayah Andalusia tidak didapati seorang pun yang buta huruf. Sedangkan di Eropa, orang yang bisa membaca dan menulis adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dari kalangan pendeta.”

O Lane Poole di dalam bukunya yang berjudul Al-'Arab Wa Isbaniya (Negara Arab dan Spanyol) mengatakan, 'Di saat Eropa masih buta huruf dan terkungkung dalam kebodohan dan kemiskinan, Andalusia telah memikul menara ilmu dan bendera budaya."

O Bripolt di dalam bukunya yang berjudul Takwtnul Insdniyah (Membentuk Kemanusiaan) mengatakan, "Ilmu adalah faktor terbesar yang memajukan peradaban bangsa Arab menuju dunia modern. Padahal tidak didapati satu aspek pun dari aspek-aspek kemajuan di Eropa, kecuali dengan melihat pengaruh kebudayaan Islam yang luas. Adapun pengaruh terbesar bagi terbentuknya kekuatan yang menyatukan pelaku yang komitmen di alam modern dan sumber tertinggi yang menjadikan kemenangannya adalah ilmu fisika dan ruh ilmu. Kenyataan ini menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang membangun peradaban."

O Abu Syabkah di dalam bukunya Rawabith Al-Fikr wa Ar-Ruh Baina Al-'Arab Wal Faranjah (Hubungan Pemikiran dan Ruh antara Arab dengan Perancis) mengatakan, “Sesungguhnya lenyapnya peradaban bangsa Arab merupakan kemalangan bagi Eropa dan Spanyol, Sebab, bangsa Andalusia mengenal kebahagiaan ketika bernaung di bawah bangsa Arab. Maka dari itu, jika bangsa Arab sirna maka kehancuran akan menimpanya."

O H.R. Gibb di dalam bukunya AI- Ittijahat Al-Haditsah FiAl-lsldm (Aliran Modern dalam Islam) mengatakan, "Saya meyakini bahwa peneliti muslim telah membantu memajukan ilmu pengetahuan. Dengan metode penelitian inilah sampailah metode percobaan itu ke Eropa pada abad pertengahan.”

O Victor Robinson setelah memaparkan panjang lebar perbandingan antara peradaban Islam dengan perdaban Andalusia, dan peradaban Eropa pada abad pertengahan, ia mengatakan, "Pada waktu itu, bangsa Eropa belum mampu menuliskan nama-nama mereka, sementara anak-anak kaum muslimin di Cordova sudah berduyun- duyun pergi ke sekolah. Banyak para pendeta Eropa melakukan kesalahan dalam membaca kitab-kitab gereja, sementara pengajar-pengajar Cordova telah membangun perpustakaan besar yang mereka beri nama Maktabah Al- Iskandariyah,”
***
Pernyataan-pernyataan di atas dan masih banyak lagi selainnya merupakan bukti kuat yang menjelaskan kepada kita bahwa Islam memiliki kekuatan untuk mendorong peradaban dan memancarkan cahaya ilmu. Sementara itu, para ilmuwan Eropa justru terbunuh di depan umum karena keberanian ilmiah dan pemikiran mereka. Lantas apa rahasia yang mendorong peradaban dan kemajuan ilmu ini?

1. Rahasia itu tersimpan dalam prinsip- prinsip yang telah ditegakkan di dalam firman Allah Ta'ala. Karena, Islam merupakan ruh dan materi, agama dan dunia, ibadah dan muamalah, hukum sosial dan hukum duniawi, mempunyai pengaruh yang nyata di dalam membangun peradaban manusia.
Bukti semua itu adalah firman Allah Ta'ala:
 
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash [28]: 77)
 
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 10)

2.   Selain itu, Islam menyeru kepada persamaan hak manusia, agar seseorang
yang berada di bawah naungan bendera Islam dapat membangun peradaban manusia tanpa melihat perbedaan jenis, warna kulit, dan bahasa.
Buktinya adalah firman Allah:
"...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa..." (QS. Al- Hujurat [49]: 13)

3.   Islam juga adalah agama yang terbuka dan saling mengenal setiap bangsa- bangsa dan umat.
Buktinya adalah firman Allah:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal..." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Berdasarkan seruan ini maka kaum muslimin saling terbuka dengan umat lainnya dan mengambil faedah dari peradaban umat lainnya, sehingga terbentuklah pengalaman-pengalaman yang luas dari berbagai bidang, seperti produksi, perdagangan, pertanian, dan seni. Kemudian Islam memolesnya dengan warna islami.

4.   Islam adalah agama yang dinamis dan pembaharu yang berpijak pada sistem, hukum, dan prinsip-prinsip yang agung. Kemuliaan dan keabadian mereka dapatkan dari Rabb semesta alam dengan syariat yang paling bijaksana dan memenuhi semua kebutuhan manusia di sepanjang zaman dan tempat. Dan senantiasa menjaga asas kemanusiaan dengan perundangan yang hidup dan terbentuk dengan sempurna hingga Allah mewariskan bumi beserta isinya kepada yang dikehendaki. Firman Allah:

“...Dan (hukumJ siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" [QS. Al-Ma’idah [5]: 50)
Cukuplah Islam sebagai bukti keagungan dan keabadian yang disaksikan oleh para pembesar barat atas ajarannya. Simaklah apa yang dikatakan oleh seorang filsuf dari Inggris yang bernama Bernard Shaw, "Agama Muhammad telah menjadi tolok ukur yang tinggi, karena ia mengandung dinamika yang mengejutkan. Islam adalah satu-satunya agama yang mampu mengubah berbagai fase kehidupan yang berbeda-beda. Saya berpendapat bahwa Muhammad wajib disebut sebagai penyelamat manusia. Jika ada seseorang yang memiliki kemampuan sepertinya dan diberi kekuasaan di era modern ini, niscaya ia akan mampu
mengentaskan segala problematikanya.”
Dr. Izuku Insabatuu menyatakan, “Sesungguhnya syariat di dalam agama Islam lebih unggul dibandingkan dengan perundangan Eropa. Bahkan, Islamlah yang memberikan penyele-saian terbaik untuk problematika dunia.”
Carol, Dekan Fakultas Hukum Universitas Vina, pada seminar hukum tahun 1927 mengatakan, "Sesungguhnya umat manusia harus berbangga dengan terlahirnya seorang laki-laki yang bernama Muhammad. Meskipun buta huruf, tapi dalam kurun waktu hanya belasan tahun telahdapatmembuatperundang-undangan yang apabila kita (orang-orang Eropa) dapat berada pada puncak kebahagiaan manakala kita telah mencapai dua ribu tahun.”
Seorang penyair mengatakan:
Para nabi datang dengan membawa bukti-bukti namun kemudian terputus Kemudian engkau datang kepada kami dengan membawa yang baru dan tidak terputus
Ayat-ayatnya yang senantiasa baru sepanjang masa,yang dihiasi dengan keindahan masa lalu.
5.   Islam juga mengajarkan bahwa belajar semenjak kecil merupakan suatu keharusan dan tanpa dipungut biaya, tanpa membeda-bedakan antara ilmu- ilmu syar’i, ilmu pengetahuan, kecuali dalam keperluan tertentu.
Islam adalah agama yang menjadikan belajar menjadi suatu kewajiban. Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut:

O Diriwayatkan dari Ibnu Majah dari hadits Anas bin Malik Ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Mencari ilmu itu diwajibkan atas kaum muslimin."
Lafal muslim pada hadits tersebut adalah berlaku umum, baik untuk laki- laki maupun perempuan.

O Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Mu'jam Al-Kabir dari hadits Al- Qamah dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, pada suatu hari Rasulullah M berkhotbah kemudian beliau memuji beberapa kelompok kaum muslimin dengan kebaikan. Beliau bersabda, "Kenapa banyak sekali orang yang tidak mau memberikan pemahaman kepada tetangganya dan tidak mau mengajarinya, tidak memberikan peringatan kepada mereka, tidak menyuruh dan tidak melarang mereka. Dan mengapa banyak orang yang tidak mau belajar dari tetangga mereka, tidak mengambil pemahaman dan peringatan dari mereka. Demi Allah, hendaknya suatu kaum itu mengajari tetangga mereka, memberikan pemahaman, dan peringatan kepada mereka. Dan hendaklah suatu kaum itu belajar dari tetangganya, mengambil pemahaman dan peringatan dari mereka ataukah aku harus mempercepat siksaan terhadap mereka."

0   Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dari hadits Abu Sa'id Al-Khudri , ia
berkata bahwa Nabi Saw bersabda:

"Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu yang bermanfaat untuk manusia dari urusan agama, maka Allah akan membelenggunya nanti pada hari kiamat dengan belenggu dari api neraka.”
Jika dalam pandangan Islam mencari ilmu adalah hal yang diwajibkan atas muslim dan muslimah, jika orang yang menyepelekan urusan mencari ilmu atau mengajarkannya itu mendapatkan ancaman dari syariat, dan jika orang yang menyembunyikan ilmu akan dibelenggu nanti pada hari kiamat dengan belenggu dari api neraka, apakah semua ini tidak menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang menjadikan urusan mencari ilmu itu adalah kewajiban yang ditekankan?

Agama Islam menjadikan perkara mencari ilmu dengan segala kekhususannya dan tanpa pamrih. Maka dari itu, sikap yang telah dicontohkan oleh Nabi ig dalam menyampaikan ilmu tanpa mengambil imbalan dan peringatan keras beliau terhadap shahabat yang mengambil imbalan dalam pengajaran adalah sebagaimana yang tercatat dalam sejarah. Nabi Saw tidak pernah menentukan imbalan atas dakwah dan pengajarannya kepada seorang pun. Prinsip beliau adalah firman Allah:
 
“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 109)
Tersebut dalam sejarah bahwa shahabat Mus'ab bin Umair. diutus Nabi Saw sebagai da’i di kota Madinah, Mu'adz bin Jabal beliau utus ke Yaman, Ja'far bin Abi Thalib  beliau utus ke Habasyah, dan puluhan shahabat lainnya yang diutus Nabi Saw. Mereka semua tidak mengambil upah dari seorang pun.
Adapun peringatan beliau dari mengambil upah atas dakwah terhadap 'Ubadah bin Shamit adalah seperti yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abu Syaibah. Ia berkata, "Aku mengajari beberapa orang dari penduduk Suffah Al- Kitab dan As-Sunnah, maka salah seorang dari mereka menghadiahkan untukku sebuah busur.” Aku berkata, "Bukan untuk harta, aku melakukannya (mengajari) hanya untuk di jalan Allah. Maka aku harus mendatangi Nabi sg duluuntukmenanyakan kepadanya. Kemudian sampailah aku kepadanya lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, ada seorang yang memberiku busur karena aku mengajarinya Al-Qur’an. Dan aku tidak bertujuan untuk mencari harta, tapi karena beramal di jalan Allah.” Nabi Saw bersabda,
"Jika engkau mau memakai kalung dari neraka maka ambil saja."
Disebutkan juga dalam sejarah bahwa anak-anak kaum muslimin yang mereka mengisi masjid-masjid, sekolah-sekolah untuk menuntut ilmu dan belajar, mereka tidak mengambil upah dari jerih payah pengaj aranmereka. Bahkan, merekaselama masa belajar berada di bawah tanggungan pemerintah. Tidak hanya itu, para ulama salaf pun memperingatkan orang yang sengaja memberikan pengajaran dan pengarahan dengan mengambil upah. Imam Al-Ghazali mengatakan, "Para pendidik hendaklah mengikuti pemegang syariat, yaitu Nabi Saw. Beliau tidak meminta upah atas pengajaran ilmunya. Tidak boleh mengumpamakannya dengan pemberian dan imbalan. Seharusnya ia memberikan ilmu itu karena mencari ridha Allah. Allah berfirman:
 
"Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah.."' [QS. Hud [11]: 29)
Berdasarkan semua penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Islam tidak memungut biaya pendidikan, baik kepada pejabat pemerintah maupun kepada tokoh masyarakat. Oleh karena itu, orang yang hendak mengajar harus menetapkan niat hanya mengharap wajah Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan mengharapkan ridha-Nya. Hasil dari semua itu adalah manusia akan berduyun-duyun menerima ilmu dan mau belajar dengan bentuk yang tidak ada tandingannya sepanjang sejarah.
Seorangcendekiawanberkata, "Sesungguhnya negara Islam telah mendahului bangsa-bangsa di seluruh dunia dalam memberikan hak belajar secara gratis tanpa pilih kasih. Pintu sekolah semuanya terbuka bagi semua bangsa di masjid- masjid, tempat-tempat belajar, dan tempat-tempat umum. Di semua negara yang telah dimasuki agama Islam, kita bisa mengakses peninggalan pengajaran secara bebas, misalnya di Al-Azhar Asy-Syarif, Darul Ulum, dan semua sekolah agama. Para siswa di sana mendapatkan bantuan biaya untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka, seperti yang dilakukan banyak negara saat ini secara menyeluruh di berbagai wilayah."
Muncul satu pertanyaan, jika seorang pengajar terkonsentrasi dengan aktivitas mengajar saja dan tidak ada peluang baginya untuk mencari penghasilan lain, apakah yang demikian diperbolehkan meng-ambil upah? Jika seorang pengajar terkonsentrasi dengan aktivitas ilmu dan mengajar, sehingga ia tidak ada sarana atau kesempatan lagi untuk mendapatkan penghasilan untuk hidup, dan ketika pemerintah tidak memberikan perhatiannya, danmasyarakatmerasaberat untuk menanggung beban hidupnya, maka ia boleh mengambil upah pengajarannya. Sebagaimana yang dinasihatkan oleh
Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya' 'Ulumiddin, "Demikian juga seorang guru hendaknya mengambil sekadar yang bisa mencukupi kebutuhannya dikarenakan dirinya sudah tidak punya kesempatan mencari penghasilan, dan hanya untuk mengajarkan ilmu. Dengan demikian, tujuannya hanya menyebarkan ilmu dan pahala akhirat. Dan dia diperbolehkan mengambil upah sekadarnya untuk memenuhi tujuannya itu.”
Abu Al-Hasan berkata, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Qabisi, "Aku pernah mendengar cerita tentang Ibnu Wahab bahwa ia berkata, 'Pada suatu ketika, aku duduk di hadapan Malik. Pada waktu itu datanglah seorang guru yang mengajarkan Al-Kitab. Guru itu berkata kepadanya, 'Wahai Abu ‘Abdillah, sesungguhnya aku ini adalah guru anak-anak kecil, dan bahwa sesuatu telah sampai kepadaku. Aku memang tidak suka untuk menentukan syarat (upah), tetapi manusia tidak mencukupi keperluanku. Mereka tidak memberikan kepadaku sebagaimana orang-orang dahulu memberikannya. Aku harus menanggung kebutuhan keluargaku sedangkan aku tidak memiliki perkerjaan lain selain mengajar.’ Malik berkata kepadanya, 'Pergilah dan tentukan syarat mengajarmu.’ Kemudian orang itu pergi.
Maka kemudian teman-teman duduknya berkata, 'Wahai Abu Abdillah, engkau memerintahkan kepadanya untuk menentukan syarat dalam mengajar?’ Malik berkata kepadanya, ‘Ya, siapa lagi nanti yang akan memperbaiki anak-anak kita? Siapa yang mendidik mereka untuk kita? Kalau bukan para guru, apa yang bisa kita
lakukan kalau begini?”’
Masalah pendidikan untuk saat ini menjadi sangat penting, mengingat zaman sekarang sudah semakin banyak didapati kerusakan dan upaya-upaya para penjajah untuk melenyapkan rambu-rambu Islam. Oleh karena itu, wajib bagi para orang tua dan pendidik untuk bersungguh-sungguh dalam mengaj ari anak-anakmereka, terlebih tentangperkara tauhid, akidah, membaca Al- Qtir'an, dan semua bentuk ilmu-ilmu syar’i. Hal ini disebabkan, "Perkarayang tidak bisa menyempurnakan kewajiban kecuali dengan mendatangkan perkara tersebut, maka perkara tersebut menjadi wajib." Apabila kita tidak memilihkan guru untuk anak- anak kita (meskipun harus dengan upah) maka sesungguhnya anak akan tumbuh dengan berbagai kemurtadan, kebodohan, penyimpangan, dan membolehkan segala cara.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sahnun dari Sufyan Ats-Tsauri bahwa Ibnu Mas'ud berkata, "Ada tiga golongan manusia yang harus ada bersama mereka. Pertama, seorang amir (penguasa) yang menjadi pemutus perkara di antara mereka. Jika tidak ada, niscaya manusia akan saling memangsa satu sama lainnya. Kedua, pembeli dan penjual mushaf Al-Qur’an. Sebab, jika tidak didapati niscaya kitab Allah akan rusak atau hilang. Ketiga, harus didapati seorang guru yang mengajar anak- anak mereka dan mengambil upah dari mengajarnya itu. Karena, kalau tidak karena guru niscaya manusia akan buta huruf.”
Kami tambahkan, sejalan dengan perkembangan zaman yang kita hidup saat ini, maka wajib bagi anak-anak 
kita memiliki seorang pengajar yang mengajarkan masalah-masalah akidah, dasar-dasar akhlak, sejarah, dan membaca Al-Qur’an kepada mereka. Jika tidak demikian maka anak akan tersesat menuju jalan yang tidak benar.

Sebagai penguat bolehnya meng-ambil imbalan mengajar karena kebutuhan ini adalah kisah yang dialami para shahabat ketika sedang mengadakan perjalanan. Tatkala mereka memasuki sebuah kampung di wilayah Arab, mereka meminta kepada penduduknya untuk menjamu mereka, namun para penduduk menolak. Kemudian tersiar berita bahwa pemuka kaum tersebut terkena sengatan ular. Mereka kemudian berupaya mengobatinya tapi sia-sia. Salah seorangdiantaramerekaberkata,"Sebaiknya kalian mendatangi rombongan yang sedang singgah di kampung kita ini, mudah- mudahan mereka mempunyai sesuatu yang bisa untuk mengobatinya." Kemudian utusan penduduk tersebut mendatangi rombongan para shahabat, lalu bertanya, "Wahai musafir, sesungguhnya kepala suku kami tersengat ular dan kami telah berupaya untuk mengobatinya namun sia-sia. Apakah di antara kalian memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk mengobatinya?" Salah seorang dari mereka menjawab, "Ya, aku akan merucjyahnya. Namun, demi Allah kami telah meminta jamuan kepada kalian tapi kalian menolaknya. Kami tidak akan mengobatinya- sebelum engkau berikan kepada kami imbalan."
Kemudian setelah bersepakat untuk memberikan imbalan beberapa ekor kambing, orang tersebut berangkat menemui pemuka kaum yang sakit tersebut.
 
la kemudian menyemburkan ludah di atas anggota tubuhnya yang luka sambil membaca, "Alhamdulillahi rabbil 'alamin (Al-Fatihah)” Pemuka kaum tersebut tiba-tiba bagaikan terlepas dari ikatan, kemudian langsung bisa berjalan seketika tanpa merasakan sakit lagi. Ia kemudian berkata, "Penuhilah imbalan yang telah kalian sepakati kepada rombongan tersebut.” Salah seorang rombongan berkata, "Bagikanlah." Orang yang meruqyah itu berkata, "Janganlah engkau lakukan hingga kita menanyakannya kepada Nabi Saw.”
Kemudian kami menceritakan apa yang terjadi lalu menanyakan kepada beliau, lalu Rasulullah Saw menjawab, “Bagaimana kalian tahu kalau Al-Fatihah itu bisa dijadikan obat?' Beliau bersabda lagi, “Kalian telah benar, bagikanlah (kambingnya) dan berilah aku bagiannya," Kemudian Nabi Saw tertawa. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, Nabi Saw bersabda:
"Imbalan yang paling berhak kalian dapatkan adalah lantaran dari Kitab Allah." (HR. Al-Bukhari)

Pembolehan mengambil upah dalam pengajaran berdasarkan hadits di atas terkait dengan beberapa hal:
O Para shahabat saat itu sedang dalam perjalanan dan dalam keadaan lapar yang membutuhkan makanan. Buktinya, mereka meminta jamuan kepada para penduduk namun tidak dikabulkan.
O Konteks hadits tersebut menunjuk kan bahwa penduduk kampung Arab tersebut bukanlah orang-orang Islam, buktinya mereka enggan untuk memberikan jamuan kepada rombongan shahabat. Hukum yang berkaitan dengan DaruIHarbi  berbeda dengan hukum-hukum yang berkaitan dengan DaruI Islam.
O Upah atau imbalan yang disepakati oleh para shahabat adalah timbal balik dari permintaan seorang dari penduduk itu untuk mengobati kepala suku mereka, bukan semata-mata upah karena mengajarkan Al-Qur’an.
Berdasarkan tinjauan-tinjauan inilah Rasulullah Saw akhirnya membolehkan mengambil imbalan atau upahnya. Sebagai belas kasih dan pemuliaan kepada mereka, Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya imbalan yang paling berhak kalian dapatkan adalah lantaran dari Kitab Allah." Maksudnya, imbalan yang paling berhak kalian dapatkan adalah lantaran kalian mengobati dari sengatan binatang, yaitu meruqyah dengan Kitabullah.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa syariat Islam pada dasarnya tidak memperkenankan mengambil upah atas pengajaran, kecuali bila memang ada perkara-perkara darurat yang mengharuskan mengambil upah. Misalnya, keadaan seorang pengajar yang memang hanya berkonsentrasi mengajar saja, dan mereka tidak memiliki mata pencarian selain itu. Atau, keadaan anak-anak yang menuntut orang tua mencarikan pendidik yang bisa menjaga mereka dari bahaya penyimpangan akidah dan kekafiran, dan membimbing mereka di atas dasar-dasar agama Islam dan pendidikan yang utama. Dengan tinjauan- tinjauan inilah syariat Islam membolehkan untuk mengambil upah pengajaran, baik pengajaran tersebut pada bidang ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Wallahu a'lam.

6.   Karena Islam adalah agama yang mengelompokkan kewajiban mencari ilmu menjadi dua, yaitu fardhu 'ain dan fardhu kifayah.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
O Jika kegiatan pengajaran adalah perkara yang ada kaitannya dengan pembentukan individu muslim, baik rohani maupun mental; fisik bahkan moral, hal itu termasuk fardhu 'ain sesuai dengan kadar yang dibutuhkan. Semua ini berlaku juga hukumnya bagi laki-laki maupun perempuan; anak kecil maupun dewasa; dan semua level masyarakat muslim.
Berdasarkanitu,makabelajar membaca Al-Qur’an, hukum-hukum seputar ibadah, prinsip-prinsip dasar akhlak, masalah halal haram, dasar-dasar ilmu kesehatan secara umum, dan semua ilmu yang dibutuhkan oleh setiap muslim, baik urusan agama maupun dunia dihukumi fardh u 'ain atas setiap muslim maupun muslimah.
O Jika pengajaran ilmu tersebut berkaitan dengan ilmu pertanian, industri, perdagangan, kedokteran, arsitektur, elektronik, atom, alat-alat pertahanan, dan ilmu-ilmu yang bermanfaat lainnya, ini semua hukumnya fardhu kifayah. Jika telah ditekuni sebagian orang, gugurlah kewajiban itu dari sebagian lainnya. Dan bila tidak ada satu pun yang mempelajarinya, berarti semua lapisan masyarakat muslim berdosa.
Itulah rahasia kekuatan yang akan mendorong peradaban dan keilmuan dalam membina peradaban manusia. Itulah aspek yang bisa mewujudkan keagungan Islam, persaingannya dengan semangat kekinian dan perkembangan zaman, serta keistimewaannya dengan dasar-dasar keabadian, pembaruan, dan berkesinambungannya.
Adapun keilmuan yang lemah dan kemunduran peradaban yang saat ini kita saksikan, maka itu disebabkan oleh kaum muslimin sendiri yang bodoh terhadap hakikat agamanya yang agung. Hal itu karena Islam dijauhkan dari penerapan aturan-aturannya di setiap sendi kehidupan. Selain itu, konspirasi musuh- musuh Islam dalam melenyapkan rambu- rambu Islam, memisahkan agama dengan urusan kenegaraan, dan membatasi aturan-aturan Islam dalam ibadah saja, serta penghancuran moral turut berperan dalam hal ini.
Saat umat Islam memahami hakikat agamanya dan mau menerapkan aturan- aturannya di setiap sendi kehidupan, saat umat Islam mewaspadai makar musuh- musuhnya, kedudukan mereka pun akan kembali mulia seperti semula. Mereka akan kembali menjadi sumber petunjuk yang benar dan bahkan menjadi umat terbaik lagi yang dilahirkan untuk manusia. Allah berfirman:
 
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini] adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (QS. Al-An’am [6]: 153)
Di antara kewajiban mengajar yang hendaknya diperhatikan olehparapendidik dan orang tua adalah berkonsentrasi pada tahapan yang paling awal dalam mengajar anak-anak [pada usia tamyiz) adalah mengajarkannya membaca Al-Qur’an Al-Karim, sirah Nabi sg, semua cabang ilmu agama yang mereka butuhkan, syair tertentu, dan peribahasa Arab. Hal ini merupakan perwujudan perintah Nabi Saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Thabrani bahwa beliau bersabda:

"Didiklah anak-anak kalian tentang tiga hal: mencintai Nabi kalian, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al-Qur'an, karena orang yang mengamalkan Al- Qur'an nanti akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, bersama para nabi dan orang-orang yang suci."
Berdasarkan perintah Nabi Saw tersebut, kaum muslimin sepanjang zaman berupaya sungguh-sungguh mengajarkan kepada anak-anak mereka ilmu-ilmu dasar dan juga materi-materi penting lainnya. Berikut ini adalah beberapa perkataan mereka yang menunjukkan kesungguhan upaya tersebut:
1.   Utbah bin Abi Sufyan mewasiatkan kepada Abdus Shammad, selaku pendidik anaknya, agar mengajarkan Al- Quran, syair-syair yang paling populer, dan hadits-hadits yang paling mulia.

2.   Pada suatu hari Umar bin Khattab
mengirimkan surat kepada salah satu gubernurnya yang isinya sebagai berikut: “Hendaklah kalian mengajari anak-anak kalian berenang, menunggang kuda, peribahasa yang mudah, dan syair yang baik.”

3.   Mifdhal bin Zaid melihat putra wanita muslimah dari Arab pedesaan. Iakagum melihat anak itu, lalu bertanya kepada ibunya. Ibunya menjawab, “Tatkala usianya telah genap lima tahun, aku menyerahkannya kepada seorang pendidik, kemudian ia mengajarkannya membaca dan menghafal Al-Qur’an, syair, cinta kebesaran kaumnya, dan sepak terjang bapaknya dan kakek- kakeknya yang baik. Saat ia telah berusia balig aku mengajarinya menunggang kuda, menggunakan senjata, dan berjalan di antara rumah- rumah penduduk untuk memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkannya."

4.   Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa belajar Al-Qur'an AI-Karim maka akan menjadi besarlah nilainya, dan barangsiapa yang mempelajari fikih maka mulialah derajatnya, dan barangsiapa menulis hadits maka akan menjadi kuatlah hujjahnya, barangsiapa mempelajari sastra maka akan menjadi lembutlah kepribadiannya, dan barangsiapa yang mempelajari ilmu menghitung maka akan menjadi kuatlah pendapatnya.”

5.   Imam Ghazali berpesan di dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin, "Anak-anak hendaknya diajari Al-Qur'an, hadits pilihan, cerita orang-orang baik, dan beberapa masalah agama. Mereka hendaknya juga diajari beberapa syair yang tidak mengandung unsur percintaan dan para pemabuk cinta.”

6.   Ibnu Sina telah menyebutkan di dalam kitabnya As-Siyasah beberapa pendapat yang berharga tentang pendidikan anak-anak. Ia menyarankan supaya pengajaran kepada anak-anak diawali dengan Al-Qur'an. Tujuannya agar anak siap secara fisik dan mental untuk belajar. Pada waktu yang sama, mereka mestinya juga diajari mengenal huruf- huruf Hijaiyah, membaca, menulis, dasar-dasar agama, syair, memulai dengan Ar-Rajz lalu beralih ke sajak. 

7.   Ibnu Khaldun memberikan arahan tentang pentingnya menghafal Al- Qur’an dan menjelaskan bahwa mengajarkan Al-Qur’an adalah fondasi dalam belajar dalam menapaki semua jenjang pengajaran yang berlaku di semua negara Islam. Hal itu karena Al- Quran adalah syiar agama yang bisa menyebabkan tertanamnya keimanan dengan mendalam.

8.   Dalam riwayat yang terdapat dalam kitab Vyunul Akhbar yang ditulis oleh Ibnu Qutaibah bahwa seorang laki- laki Badui dari Bani Tsaqif mendatangi Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, kemudian Al-Walid berkata kepadanya, 'Apakah engkau membaca Al-Qur’an?" Laki-laki itu menjawab, "Tidak, wahai Amirul Mukminin. Aku sibuk dengan berbagai urusan.” Walid, "Apakah engkau mengerti fikih?” Laki-laki badui, "Tidak.” Walid, "Apakah engkau mempelajari syair meskipun sedikit?” Laki-laki badui, "Tidak.”
Maka Al-Walid berpaling dari laki- laki badui tersebut. Kemudian salah seorang yang duduk di tempat tersebut, yaitu Abdullah bin Mu’awiyah berkata, "Wahai Amirul Mukminin.” Ia mengucapkan itu sambil menunjukkan keberadaan laki-laki badui tersebut.
Al-Walid kemudian langsung menyahut, "Diamlah, tidak ada orang yang bersama kita."
Maksud ucapan Khalifah Al-Walid, "Dihmlah, tidakadaorangyangbersama kita,” adalah bahwa keberadaan orang itu seperti tidak ada, meskipun secara fisik ada. Penyebabnya, ia tidak bisa membaca Al-Qur'an, tidak mengerti fikih, tidak belajar syair, dan tidak belajar agama.

Salah satu prinsip agama Islam dalam memberikan pengajaran kepada anak- anak adalah memulai pengajaran sejak awal masa kanak-kanak, karena pada masa itu anak memiliki pikiran yang jernih, daya ingat yang kuat, dan semangat yang tinggi. Itulah sebabnya, guru kita yang pertama kali, yaitu Rasulullah menunjukkan di dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Thabrani di kitabnya Al- Ausath, dari Abu Darda'  secara marfu’:
 
"Mencari ilmu waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu."

Sungguh, para ahli pendidikan dewasa ini telah menetapkan dan menegaskan fakta ini. Alangkah indahnya apa yang dilantunkan oleh seorang penyair berikut ini:
Aku tahu bahwa aku telah lupa Akan ilmu yang telah kudapatkan di masa tua
Namun aku tidak akan lupa
Akan ilmu yang kudapatkan di masa
muda
Tidaklah ilmu itu didapat kecuali dengan belajar di waktu kecil Dan tidak suatu impian akan didapat kecuali pada masa tua

Sekiranya hati seorang pelajar dibelah di waktu kecil
Niscaya di dalamnya akan terdapat suatu ilmu
Bagaikan mengukir di atas batu Belajar ilmu di saat tua hanya akan membuat sia-sia
Apabila hati seseorang, pendengaran dan penglihatannya telah menjadi beku Manusia hanya memiliki dua hal saja yaitu ilmu dan logika Barangsiapa kehilangan ini dan ini maka sungguh telah kafir.
***
Bagaimanakah kedudukan wanita dalam mempelajari ilmu ini?
Para ulama dan ahli fikih, baik dahulu maupun sekarang telah bersepakat bahwa perkara yang wajib untuk dipelajari dan hukumnya fardhu 'ain, maka wanita kedudukannya seperti kaum laki-laki karena memiliki dua alasan yang sama.

1.   Wanita sama dengan laki-laki dalam melaksanakan beban syariat.
Islam juga membebankan kepada semua kaum wanita kewajiban syariatyang dibebankan kepada kaum laki-laki, seperti shalat, zakat, puasa, haji, berbakti, adil, jual beli, gadai, memerintah kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beban-beban lainnya yang dipikulkan kepada mereka. Kesamaan ini tidak memasukkan beberapa perkara yang memang dikhususkan untuk kaum wanita, di antaranya:
a.   Kewajiban yang berkaitan dengan adanya kesulitan dan gangguan kesehatan, seperti tidak berpuasa dan shalat pada hari-hari haid dan nifas.
b.   Beban atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan tabiat kewanitaan, seperti melaksanakan perintah-perintah perang, kuli bangunan, dan pandai besi.
c.   Pekerjaan yang bertentangan dengan ciri-ciri tugas sebagai wanita, seperti bertanggung jawab terhadap keluarga, mendidik anak, dan membina rumah tangga.
d.   Pekerjaan yang dilakukannya mengakibatkan kerusakan sosial yang berbahaya, seperti pekerjaan atau tugas yang menyebabkan terjadinya percampuran antara laki-laki dan perempuan.
Adapun selain itu, maka pekerjaan dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan adalah sama. Menurut pandangan kami dan para pemikir, bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dinyatakan boleh bagi wanita ini pada dasarnya adalah untukmengangkat derajat, kemuliaan, dan kedudukannya. Jika tidak, siapakah yang ridha membebani wanita dengan pekerjaan yang menyebabkannya melalaikan kewajibannya terhadap suami, rumah tangga, dan anak-anaknya? Mudah- mudahan Allah menyayangi Syauqi yang mengatakan di dalam syairnya:

Anakyatim bukanlah seorang anak yang kehilangan kedua orang tua Lepas dari urusan kehidupan yang melelahkan
dan meninggalkannya sebagai anak yang hina
Sesungguhnya anakyatim adalah
seorang anakyang oleh ibunya
ia ditelantarkan
dan bapak yang sibuk dengan
urusannya

Siapakah di antara kita yang merelakan seorang wanita melaksanakan pekerjaan yang berat dan bisa melemahkan fisik, menghilangkan sifat kewanitaan, serta menyebabkan sakit dan berbagai penderitaan? Siapakah di antara kita yang merelakan seorang wanita melaksanakan pekerjaan yang bermacam-macam dan bisa menyebabkan kehormatannya ternodai dan kemuliaannya terlecehkan? Apakah ada sesuatu yang lebih bernilai bagi seorang wanita kecuali kehormatan dan kemuliaannya? Bagaimanakah nasib pendidikan anak-anak apabila wanita sudah terperosok ke dalam jurang keru-sakan dan berjalan di atas jalan kekejian? Semoga Allah menyayangi orang yang mengatakan:

Tidaklah sama tumbuhan yang tumbuh di tanah yang subur Dengan yang tumbuh di padang pasir yang tandus
Apa yang bisa diharapkan dari seorang anak
Apabila ia menyusu dari susu yang kering?

Berikut ini adalah beberapa perkataan para filsuf barat tentang para wanita yang keluar di arena publik dan bekerja di luar rumah:
Samuel Smiles, seorang intelektual dari Inggris mengatakan di dalam bukunya yang berjudul Moral Development, "Sesungguhnya peraturan yang menetapkan bagi wanita yang harus bekerja di berbagai perusahaan, meskipun bisa menghasilkan kekayaan yang berlimpah, akan tetapi bahaya yang ditimbulkan adalah menghancurkan fondasi bangunan rumah tangga, memutus ikatan keluarga, dan merusak hubungan sosial. Hal ini dikarenakan, tugasseorangwanitasebenar- nya adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban rumah tangga, menertibkan tempat tinggal, mendidik anak-anak, dan berlaku hemat dalam penggunaan sarana-sarana penghidupan, di samping memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, tempat- tempat bekerja telah membuat wanita menelantarkan kewajiban-kewajiban ini, menyebabkan keluarga tidak harmonis, menjadikan anak tumbuh dewasa tanpa didikan yang benar dari orang tua karena mereka telah meremehkannya, dan memadamkan kecintaan suami istri. Wanita telah keluar dari kedudukannya sebagai istri yang baik dan sebagai teman bercintasuami,menjadipendampingdalam melaksanakan pekerjaan sulit dan berat. Pada akhirnya, ia terpengaruh oleh hal- hal yang bisa menghapuskan kelembutan berpikir seorang wanita dan akhlak yang menjadi penjagaan keutamaannya.”
Di dalam majalah The Pearl Vol. VI Tahun Pertama, seorang penulis wanita dari Inggris yang bernama Miss Anerood mengatakan, "Seandainya putri-putri kita bekerja di rumah sebagai pembantu atau seperti pembantu saja, maka itu lebih baik dan lebih ringan bahayanya daripada kesibukannya di tempat-tempat kerja yang membuat mereka ternodai oleh kotoran-kotoran yang bisa menghilangkan keindahannya selamanya. Alangkah indahnya negara kita jika seperti negara-negara Muslim yang menjunjung tinggi rasa malu, kesucian, dan kehormatan, di mana kaum wanita menikmati kehidupannya yang tenang dengan terjaganya kehormatan dan kemuliaannya.
Memang, aib yang melanda negara Inggris adalah menjadikan wanita-wanitanya sebagai teladan di dalam kehinaan karena banyak berbaur dengan laki-laki. Mengapa kita tidak berusaha membuka lapangan pekerjaan yang sesuai dengan fitrah wanita —seperti yang dilakukan oleh agama-agama samawi—, menekuni rumah dan meninggalkan pekerjaan laki-laki supaya dilakukan oleh laki-laki? Sebab, yang demikian bisa menyelamatkan kehormatannya.”

2.   Wanita dan laki-laki sama dalam hal mendapatkan balasan di akhirat.
Kita bisa menemukan banyak ayat di dalam Al-Qur'an yang menyebutkan persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam hak mendapatkan pahala dan balasan, di antaranya adalah:
 
"Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), 'Sesungguhnya aku tidak menyia- nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan- Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan- kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik'." (QS. Ali Imran [3]: 195}
 
"Barangsiapa yang mengerjakan amal- amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun." (QS. An-Nisa’ [4]: 124}

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki- laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab [33]: 35)
Bukti lain yang menunjukkan bahwa wanita itu sama dengan laki-laki dalam haknya mendapatkan pahala dan balasan dan tidak dibeda-bedakan satu sama lain adalah sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Abdul Bar di dalam Al-lsti'ab dan Muslim di dalam Shahih- nya, bahwa Asma’ binti Yazid bin Sakan
mendatangi Nabi Saw kemudian bertanya, "Aku ini adalah utusan dari para wanita kaum muslimah di belakangku, mereka semua sependapat dengan pendapatku ini. Sesungguhnya Allah telah mengutusmu kepada laki-laki dan kaum perempuan. Kami beriman dan kami mengikutimu, sedangkan kami ini para wanita yang terbatasi dengan pekerjaan rumah tangga, dan para laki-laki itu diutamakan dengan ibadah shalat Jumat, menyaksikan jenazah, dan berjihad, jika mereka keluar rumah untuk berjihad maka kami menjaga anak-anak dan harta mereka, dan kami mendidik anak-anak mereka. Apakah kami juga mendapatkan bagian pahala mereka, wahai Rasulullah?"
Rasulullah Saw menolehkan wajahnya kepada para shahabat kemudian bersabda, "Apakah kalian pernah mendengar suatu pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang wanita yang lebih baik daripada ini?’ Mereka menjawab, "Tidak wahai Rasulullah.” Beliau kemudian bersabda, "Pergilah engkau wahai Asma'dan beritahu- kanlah kepada para wanita yang ada di belakangmu bahwa perbuatan baik kalian kepada suami, mencari keridhaannya, dan keikutsertaannya dengan persetujuan suaminya, semua itu menyamai semua yang telah engkau sebutkan.” Kemudian Asma' pergi seraya mengucapkan tahlil dan takbir. Ia merasa gembira oleh ungkapan yang telah disampaikan Rasulullah Saw tersebut.
Berdasarkan hadits yang mulia ini, kita mendapatkan penjelasan bahwa pahala yang didapat oleh para wanita dalam melaksanakan pekerjaan rumahnya, se perti menertibkan rumah, menaati suami, dan mendidik anak-anak menyamai pahala jihad dan kekhususan yang dimiliki kaum laki-laki.

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1541
  • Logged
Di antarabentukperhatian agama Islam kepada para wanita dalam hal pengajaran kepadanya adalah hadits-hadits berikut:

1.   Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Abu Dawud bahwa Nabi Saw bersabda:

"Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, tiga saudara perempuan,atau dua anak perempuan atau dua orang saudari, lalu ia perbaiki pergaulan dengan mereka, dan bersabar atas mereka dan bertakwa kepada Allah maka ia masuk surga."

Dalam riwayat lain dikatakan:
“Siapa saja di antara laki-laki yang memiliki budak perempuan, kemudian ia mengajarinya dengan baik, dan mengajarkan etika dengan baik, kemudian ia memerdekakannya maka ia mendapatkan dua pahala."

2.   Disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Saw telah menyediakan hari-hari khusus bagi para wanita untuk mengajarkan kepada mereka apa saja yang telah diajarkan oleh Allah. Hal itu beliau lakukan semenjak datangnya seorang wanita yang berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum laki-laki telah pergi bersamamu untuk belajar hadits. Oleh karenanya, jadikanlah untuk kami satu hari di mana kami bisa mendatanginya untuk belajar apa saja yang telah Allah ajarkan kepadamu." Kemudian Nabi menjawab, "Berkumpullah kalian pada hari ini dan ini." Kemudian mereka berkumpul dan Rasulullah Saw mendatangimerekauntukmengajarkan apa yang Allah ajarkan kepada beliau.

3.   Disebutkan di dalam kitab Futuhul Buldan yang ditulis oleh Al-Baladzuri bahwa Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khattab pernah belajar menulis pada zaman Jahiliyah kepada seorang wanita yang bernama Asy- Syifa’ Al-'Adawiyyah. Tatkala Nabi Saw menikahinya maka beliau meminta kepada Asy-Syifa’ untuk mengajarinya seni tulis (khat), sebagaimana ia telah mengajarkannya dasar penulisan. 

Dapat kita simpulkan dari nash-nash yang telah kami sebutkan ini bahwa Islam memerintahkan untuk mengajari para pemuda tentang ilmu yang bermanfaat dan wawasan yang berfaedah. Apabila didapati ulama pada zaman dahulu yang melarang pengajaran kepada wanita, maka yang dilarang adalah mempelajari syair yang keji, perkataan yang buruk, adab yang jelek, dan ilmu yang berbahaya. Adapun jika mempelajari ilmu yang bisa membawa manfaat bagi dunia dan akhiratnya, serta mempelajari ungkapan syair yang benar dan perkataan yang mulia maka tidak ada orang yang melarangnya.
Disebutkan di dalam mukadimah buku Al-Mu'allimun karya Ibnu Sahun, “Seorang hakim yang bersahaja bernama Isa bin Miskin menjadi pengajar anak-anak perempuan dan cucu-cucu perempuannya.” Iyadh mengatakan, "Apabila telah melaksanakan shalat Asar, ia memanggil dua anak perempuan dan anak-anak perempuan saudaranya untuk diajari AI-Qur'an dan ilmu lainnya.” Demikian juga yang dilakukan oleh sang penakluk Sisilia, Asad bin Al-Furat terhadap anak perempuannya yang bernama Asma’ yang telah mendapatkan ilmu yang banyak. Diceritakan oleh AJ-Khusyni bahwa seorang pendidik di istana penguasa Muhammad bin Aghlab mengajari anak laki-laki pada siang hari dan anak perempuan pada malam hari.
Sejarah mencatat bahwa wanita dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi dalam hal ilmu dan wawasan. Selain itu juga mendapatkan bagian terbesar dari pengajaran dan pendidikan pada masa- masa permulaan Islam. Di antara tokoh wanita muslimah dalam Islam yang terkenal sebagai penulis dan penyair adalah Aliyah binti Al-Mahdi, Aisyah binti Ahmad bin Qadim, dan Walladah binti Al-Khalifah Al-Mustakfi Billah.
Beberapa di antara mereka juga ada yang menjadi dokter, antara lain Zainab wanita dari Bani Uwad yang merupakan dokter spesialis penyakit mata, Ummu Al-Hasan binti Al-Qadhi Abu Ja'far Ath- Thanjali, seorang dokter yang terkenal dan ahli di bidangnya.
Di antara mereka ada juga yang menjadi ahli hadits, seperti Karimah Al- Maruziyah dan Sayyidah Nafisah binti Muhammad. Ibnu Asakir menyebutkan -beliau ini juga pakar hadits— bahwa di antara para gurunya adalah dari kalangan wanita, kurang lebih ada delapan puluh lebih ustadzah.
Dan masih banyak lagi kalangan wanita yang telah sampai pada kedudukan yang tinggi dalam keilmuan. Di antara mereka ada yang menjadi guru dan pengajar Imam Syafi'i, Imam Bukhari, Ibnu Khalkan, dan Ibnu Hibban. Mereka semua adalah ahli fikih, ulama, dan sastrawan yang terkenal. Ini adalah bukti terbesar atas kelebihan pendidikan Islam yang konsisten dalam penjagaan ilmu dan kematangan berpikir. Ini menunjukkan wawasan Islam yang luas.
Jika memang agama mengizinkan bagi wanita untuk mempelajari apa saja yang bisa memberi manfaat dunia dan akhirat kepadanya, pembelajarannya wajib dijauhkan dari laki-laki. Dengan demikian, kehormatan dan kemuliaan mereka tetap terjaga. Selain itu, mereka juga bisa menyimak dengan baik, akhlak mereka tetap mulia dan dihormati.
Barangkali ahli pendidikan pertama yang mencanangkan pemisahan antara laki-laki dan perempuan dalam praktik pengajaran dan lainnya adalah Imam Al- Qabisi, dalam tulisannya tentang metode pengajaran, “Yang paling baik adalah tidak mencampur antara laki-laki dan perempuan." Ketika Ibnu Sahun ditanya tentangmodelpengajaranyangmencampur antara laki-laki dan perempuan, beliau menjawab, "Saya membenci pengajaran yang mencampur antara laki-laki dan perempuan karena itu bisa menyebabkan musibah bagi wanita."
Meskipun pendapat Ibnu Sahun dan Al-Qabisi yang menyatakan bahwa pengajaran yang mencampur antara laki- laki dan perempuan itu didasarkan oleh kekhawatiran terhadap risiko kerusakan, sebenarnya pendapat itu tidak lepas dari dalil syar’i. Dan dalil syar’i harus didahulukan daripada hukum apapun selainnya di dunia ini, sebagaimana firman Allah:
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya,maka sungguhlah ia telah sesat, sesat yang nyata." [QS. Al-Ahzab [33]: 36)
Adapun pendapat keduanya itu bersandar pada dalil syar’i adalah firman Allah Ta’ala:
 
"...Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir..." iQS. Al-Ahzab [33]: 53)
Jika ayat ini memang diturunkan khusus berkaitan istri-istri Nabi, maka hukum yang dipakai -sebagaimana yang dikatakan oleh pakar ilmu ushul fikih bahwa hukum yang berlaku adalah berdasarkan lafal yang umum, bukan berdasarkan sebab yang khusus. Apabila Ummahatul Mukminin yang terjamin kesuciannya itu diperintah agar memakai hijab dan dilarang menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram, tentu saja wanita muslimah selainnya secara umum lebih pantas melaksanakan perintah memakai hijab dan tidak menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Inilah yang dinamakan oleh para ahli fikih dan ulama ushul fikih dengan istilah mafhum aula. Allah berfirman:
"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka ...:w[QS. An-Nur [24]: 31]
Apabila perintah di dalam ayat ini mencakup perintah untuk menundukkan pandangan, memakai jilbab di atas kepala dan dada, serta larangan menampakkan perhiasan kecuali kepada mahramnya, apakah semua ini tidak menunjukkan bahwa wanita muslimah diperintahkan mengenakan pakaian yang menutup aurat, menjaga kehormatan diri, dan tidak bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahram? Allah berfirman :

"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri- istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab [33]: 59]

Bagaimana kita bisa membayangkan seandainya wanita muslimah bercampur baur dengan laki-laki asing yang bukan mahramnya, padahal dalam ayat ini mereka diperintahkan untuk memasang tabir dan mengenakan jilbab? Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Tidaklah seorang laki-laki itu menyendiri bersama seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan."
Dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Saw bersabda:

"Hindarilah oleh kalian masuk ke tempat para wanita. Salah seorang shahabat Anshar bertanya, 'Bagaimana pendapat engkau tentang ipar (kerabat suami atau istri)?' Beliau menjawab, 'Ipar adalah kematian’."
Nash-nash Al-Qur’an dan hadits Nabi Saw ini mengharamkan adanya percampurbauran antara laki-laki dengan perempuan dengan kalimat larangan yang tegas dan kuat yang tidak ada keraguan dan bantahannya. Orang-orang yang membolehkan adanya campur baur antara laki- laki dan perempuan dengan alasan adanya kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, penanganan agama, dan alasan syar’i, pada dasarnya mereka itulah yang menolak syariat dan membohongi fitrah manusia itu sendiri. Mereka berpura-pura bodoh terhadap realitas buruk yang menimpa umat manusia.
Mereka yang menolak syariat -dengan membolehkan adanya campur baur antara laki-laki dan perempuan, maka telah dijelaskan dalam nash-nash yang banyak yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun mereka yang berpura-pura bodoh terhadap fitrah manusia, dikarenakan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan di satu sama lain bisa saling memiliki ketertarikan. Allah berfirman :

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu..." (QS. Ar-Rum [30]: 30)
Apakah orang-orang yang membolehkan percampuran antara laki-laki dan perempuan itu hendak mengubah hukum- hukum alami dan mengganti fitrah manusia? Apakah mereka akan mengubah sunatullah dalam kehidupan ini? Lebih dari itu, manakala antara laki-laki dan perempuan yang bercampur baur itu saling berhasrat satu sama lain dan berakhlak menyimpang, maka fitnah yang dimungkinkan terjadi akan lebih besar dan tindakan yang mengarah pada kekejian semakin kuat.
Jika percampuran itu sudah terj adi sej ak kecil dan telah menjadi kebiasaan pada semua tingkatan usia, yang barangkali tidak akan menggerakkan keinginan syahwat, tidak diragukan lagi kecintaan suami istri akan berubah menjadi permusuhan, kasih sayang akan menjadi kezaliman di antara mereka, dan hubungan biologis akan menjadi dingin. Tatkala keduanya mampu bertahan hidup sebagai suami istri, hal ini adalah kenyataan yang bertolak belakan dengan fitrahnya.
Jika mereka berpura-pura bodoh terhadap kenyataan pahit yang melanda umat manusia yang bebas dalam pergaulan, hendaknya mereka bertanya kepada masyarakat di negara-negara barat dan timur tentang kerusakan dan kejahatan yang dialami oleh para wanita. Mereka hendaknya mengingat bahwa percampuran laki-laki dan perempuan itu telah menyebar ke berbagai tingkatan manusia, di jalan raya, sekolah, pasar, perguruan tinggi, tempat-tempat rekreasi, dan setiap tempat yang ada. Berikut ini kami sajikan beberapa kenyataan dan bukti dari hasil penelitian mereka, di antaranya:
1.   Di dalam kitab Al-lslam wa Salamul 'Alami(IslamdanKedamaianUniversal], karya Sayyid Quthb disebutkan, "Persentase jumlah pelajar wanita yang hamil di luar nikah di sekolah-sekolah menengah di salah satu kota di Amerika Serikat mencapai 48 persen.”
2.   Surat kabar Lebanon, Al-Uhud edisi ke-650, mengungkapkan skandal seks yang terjadi di perguruan-perguruan tinggi di Amerika Serikat adalah sebagai berikut:
■   Skandal seks yang terjadi di perguruan tinggi dan tempat-tempat perkuliahan di Amerika yang terjadi antara mahasiswa dan mahasiswi setiap tahunnya bertambah banyak.
■   Para mahasiswa mengadakan unjuk rasa di berbagai perguruan tinggi menuntut pergaulan bebas dengan para gadis demi mendapatkan kepuasan hidup.
■   Para mahasiswa di malam hari
memasuki tempat-tempat tidur para mahasiswi dan juga melakukan pencurian celana dalam wanita. Sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi telah kecanduan seks yang mengerikan. Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan modern saat ini telah memberikan pengaruh yang besar terhadap kenakalan di kalangan pelajar.
■   Surat kabar tersebut juga menyebutkan bahwa sensus yang dilakukan pada tahun lalu menunjukkan bahwa 120 ribu anak telah dilahirkan oleh para gadis lajang tanpa jalur pernikahan yang sah. Umur mereka rata-rata kurang dari 20 tahun, sementara itu kebanyakan dari mereka itu adalah para pelajar.
■   Surat kabar tersebut menambahkan, sebuah dokumen dari kepolisian di wilayah Providence menyebutkan, sebanyak 66 mahasiswa dan mahasiswi telah melaksanakan liburan akhir pekan di Rhode Island. Namun, mereka tidak kembali ke kampusnya, tetapi kembali ke penjara wilayah tersebut. Mereka ditangkap karena berperilaku men-curigakan, bahkan sebagian dari mereka dalam keadaan mabuk.
■   Surat kabar tersebut juga menyebutkan pernyataan pakar pendidikan sosial yang bernama Margaret Smith yang mengungkapkan, "Pelajar wanita kebanyakan berpikir dengan perasaannya, dan sarana- sarana yang melekat dengan perasaan itu. Sebanyak 60 persen pelajar
tidak lulus karena mereka banyak berpikir tentang seks. Dan hanya 10 persen saja dari mereka yang bisa menjaga dirinya.”
3.   George Baluchi di dalam bukunya yang berjudul Revolusi Seksual, ia menyebutkan sebagai berikut, "Pada tahun 1962, Kennedy menyatakan bahwa masa depan Amerika dalam bahaya, karena kebanyakan pemudanya telah tenggelam dalam syahwat yang tidak bisa diharapkan untuk memikul beban di pundaknya. Bahwa setiap tujuh orang yang maju mencalonkan diri menjadi tentara ternyata enam dari mereka tidak layak, karena syahwat yang telah mereka gandrungi telah merusak ketahanan fisik dan kejiwaan mereka.”
Pada tahun 1962, Kruschev menyatakan sebagaimana ungkapan Kennedy bahwa masa depan Negara Rusia juga dalam bahaya, karena banyak dari pemudanya sudah tidak dapat dipercaya lagi, karena mereka sudah tenggelam dalam lautan syahwat.
Will Durant mengatakan di dalam bukunya yang berjudul The Story of Philosophy, "Kami selalu menghadapi masalah yang pernah menggelisahkan hati Socrates. Yaitu, bagaimana kami mendapatkan petunjuk menuju moral alami yang menduduki hati nurani manusia yang tinggi, yang pengaruhnya luar biasa terhadap manusia? Sesungguhnya kita telah menghancurkan warisan sosial kita dengan kerusakan yang gila ini.”
Penemuan dan tersebarluasnya alat-
alat pencegah kehamilan menjadi penyebab utama perubahan moral kita. Bila nilai-nilai moral pada zaman dahulu mengikat hubungan lawan jenis dengan pernikahan karena pernikahan itu akan menimbulkan sikap paternalis yang tidak mungkin bisa dipisahkan satu sama lain dan orang tua tidak akan memiliki tanggung jawab kecuali dengan jalan pernikahan. Pada hari ini, ikatan antara hubungan seksual dan masalah keturunan telah terpisahkan. Hal ini telah melahirkan sikap yang membuat orang tua kita tidak pernah menduganya. Sebab, semua hubungan suami istri telah berubah diakibatkan faktor tersebut.
Hanya saja, kita seharusnya malu bila membiarkan setengah juta wanita Amerika yang justru merasa gembira karena telah menyerahkan diri mereka sebagai korban kemaksiatan yang dipertontonkan di hadapan kita di panggung-panggung pertunjukan. Itulah wujud orang-orang yang mencari kekayaan dengan cara membangkitkan gairah seksual kaum laki- laki, perempuan-perempuan yang terhalang mendapatkan perlindungan di bawah pernikahan, dan penyakit kelamin yang tak terkendalikan.
Setiap laki-laki jika tidak kunjung menikah, ia akan cenderung mengencani wanita-wanita jalanan yang berdandan dengan baju-baju minim untuk memuaskan syahwatnya selama waktu membujangnya itu. Ia akan mendapatkan peraturan negara yang membolehkan itu dan selalu
disesuaikan dengan perkembangan, dan dilindungi oleh sistem yang dikuatkan oleh penemuan ilmiah tertinggi. Dan tampaknya dunia telah menciptakan sarana yang mungkin untuk direkayasa sebagai pembangkit dan pemuas syahwat.
Ada dugaan kuat bahwa pembaruan yang cenderung melegalkan pemuasan hawa nafsu ini telah mendukung apa yang telah kita duga bersama tentang serangan Darwin terhadap berbagai keyakinan beragama. Ketika para pemuda mengetahui bahwa agama menganggap hina kesenangan mereka, mereka akan mencari seribu satu alasan untuk mencemarkan nama baik agama.
Tidak ada jalan keluar kecuali menjadikan jasmani ikut terlibat dalam revolusi seksual ini, dan meningkatkan kekuatan untuk menahan diri dari godaan, sebagaimana yang terjadi pada zaman dahulu. Bila tidak, kehormatan akan menjadi suatu bahan olok-olokan, rasa malu yang menambah kecantikan akan semakin kabur. Kaum lelaki akan merasa bangga dengan bertambahnya dosa-dosanya. Kaum wanita akan menuntut hakpersamaan dengan kaum lelaki dalam segala hal. Hubungan seksual sebelum menikah menjadi hal yang lumrah. Wanita-wanita panggilan profesional akan berbaur dengan pelacur yang amatiran tanpa adanya pengawasan.
4.   Surat kabar Akhbarul Yaum Mesir, 24/4/1965 mengabarkan, "Kaum
wanita Swedia keluar untuk melakukan demonstrasi massal yang melibatkan seluruh pendudukpenjuru negara Swedia, sebagai protes atas berlakunya kebebasan seksual di Swedia. Demonstrasi ini diikuti oleh seratus ribu wanita.”
Pada April 1964, terungkap di Swedia telah terjadi demonstrasi besar- besaran, ketika sebanyak 140 dokter menyerahkan catatan kepada raja dan parlemen yang berisi tuntutan agar segera dilakukan tindakan untuk menanggulangi penyimpangan seksual yang telah mengancam semangat dan kesehatan bangsa. Para dokter menuntut agar diberlakukannya undang-undang anti penyelewengan seksual.
5.   Terungkap bahwa di Amerika banyak anak kecil telah mengalami pubertas prematur (datang sebelum masanya) dan pada masa gadisnya mereka mengalami keinginan seksual yang tinggi. Sebuah penelitian menemukan bahwa 255 anak dari total 312 anak ternyata telah mengalami masa balig pada usia 11 tahun. Dan pada usia mereka yang ke-13 telah didapati tanda-tanda keinginan terhadap seks yang tinggi. Padahal secara umum, keinginan ini hanya akan dirasakan oleh anak yang telah mencapai umur 18 tahun.
6.   Salah satu surat kabar di Inggris menyebutkan bahwa seorang guru wanita yang berusia 25 tahun mengajar para siswa yang telah masuk usia remaja dan mereka telah terbiasa melakukan hubungan seksual. Selain itu, disaksikan bahwa para siswi tersebut membuka bajunya satu persatu di hadapan para siswa lainnya. Inilah puncak dari perbuatan dosa mereka.
7.   Adapun hubungan mereka sebelum menikah ditemukan bahwa 80-85 % dari kalangan laki-laki dewasa telah memiliki teman kencan, setiap satu dari mereka minimal memiliki satu pasangan kencan. Sisanya adalah individu yang tidak menikah, mereka yang tidak memiliki pasangan zina, dan mereka akan berpindah dari satu wanita ke wanita lain untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya.
***
Berbagai realitas yang penulis sajikan adalah berdasarkan kejadian yang melanda masyarakat barat. Pengalaman mereka dalam pergaulan beb as merupakan setetes dari lautan penyimpangan seksual dan moral yang banyak diikuti masyarakat dunia. Ini merupakan peristiwa yang menyedihkan yang disebabkan oleh fenomena kebiasaan pamer, rekreasi, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan pada zaman yang penuh dengan kesesatan. Hal itu wajar karena orang- orang barat mengenalkan percampuran laki-laki dan perempuan sejak pendidikan TK, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Bahkan, pemandangan campur baur telah menyebar ke penjuru kehidupan mereka dalam bermasyarakat.
Apakah akal yang sehat bisa membenarkan -setelah adanya penjelasan di atas— bahwa campur baur antara dua jenis kelamin -sebagaimana yang disuarakan penyeru percampuran lawan jenis hari ini— itu bisa membatasi gejolakbirahi dan meringankan keinginan syahwat, kemudian menjadikan perkara campur baur antara laki-laki dan perempuan adalah perkara yang lumrah dan biasa?
Berikut ini adalah kisah yang disebutkan oleh Zahid Al-Kutsari dalam tulisannya, "Suatu ketika, salah seorang utusan atau duta Dinasti Umayyah di negara Inggris menghadiri acara pertemuan dengan pembesar-pembesar kerajaan Inggris. Salah seorang pejabat tingginya mengatakan, 'Mengapa wanita- wanita timur ini berbeda dengan wanita- wanita barat? Mereka dijauhkan dari laki- laki dan terhalang dari cahaya (memakai hijab)?’ Kemudian duta Dinasti Umayyah menjawab, 'Karena wanita-wanita kami di negara timur tidak menghendaki nantinya melahirkan anak yang bukan dari suami mereka/ Kemudian malulah seorang yang bertanya tadi hingga tak bisa berkata apapun.” Maka dengan kejadian apalagi yang membuat mereka menjadi beriman?
Berkaitan dengan perbincangan kita soal pergaulan bebas dan dampak-dampaknya, kami ingin menunjukkan fakta- fakta berikut kepada para orang tua dan pendidik, bahwa tujuan utama yang direncanakan oleh kaum kolonialis, zionis, dan materialis adalah merusak masyarakat muslim, menghancurkan eksistensinya, dan menciptakan disintegrasi yang selama ini terjalin kuat. Hal tersebut dilakukan dengan cara merusak moral yang lurus dan pemahaman akan agama dari dalam diri para pemuda. Mereka juga menyebarluaskan segala bentuk penyimpangan di seluruh pelosok masyarakat kaum muslimin. Bagi mereka wanitalah yang menjadi sasaran utama dalam mempropagandakan penghalalan segala cara dan sistem kolonialis.
Salah seorang tokoh kolonial mengatakan, "Minuman keras dan wanita cantik adalah sarana paling ampuh dalam menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Jadi, tenggelamkanlah mereka ke dalam kubangan materi dan syahwat.”
Salah seorang tokoh Masonis mengatakan, “Kita memanfaatkan wanita, kapan saja mereka mengulurkan tangannya kepada kita. Kita telah berhasil menumbuhkan perilaku haram dan akan menceraiberaikan tentara penolong agama. Kita harus berupaya menghancurkan moral di setiap tempat, dengan demikian kita akan mudah menguasainya. Kita pertontonkan perbuatan hubungan seksual di bawah sinar matahari, sehingga para pemudanya tidak lagi menganggap itu sesuatu yang menjijikkan, kemudian akan membangkitkan keinginannya untuk melakukan pemuasan seksual, dengan demikian maka akan rusaklah moral mereka."
Adapun orang-orang yang menyerukan pergaulan bebas di negara-negara Islam, mereka menghendaki agar kebebasan itu tersebar luas dan menjadi sesuatu yang dianggap lumrah di masyarakat. Pada dasarnya, mereka itu adalah tangan panjang para musuh Islam. Di antaranya adalah para penganut paham materialis, komunis, liberalis, pengusung ide kolonial, dan freemasonry, baik mereka merasakan maupun tidak.
Untuk itu, kewajiban para pendidik dan orang tua saat ini adalah menjauhkan anak-anak dari pergaulan bebas dalam pengajaran dan di luar aktivitas belajar, supaya anak bisa tumbuh dan dewasa di atas kemuliaan dan kehormatan. Dengan demikian, masyarakat bisa selamat dari kerusakan dan penyimpangan. Hal ini bertujuan membangun hubungan kejiwaan dan keseimbangan kesehatan yang baik antarpemuda. Bila demikian, umat Islam bisa terbebas dari makar jahat musuh- musuh mereka dalam merusak moral wanita muslimah.
Alangkah indahnya ungkapan seorang muslimah bernama Aisyah At-Taimuriyyah dalam hal menjaga kehormatan dan hijab seorang wanita:
Dengan tangan kehormatan
Aku jaga kemuliaan hijabku
Dan dengan semangatku
Aku melejit melebihi pesaingku
Indahnya moralku
Dan bagusnya ilmuku
Hal tersebut dikarenakan aku
Sebagai bunga pengetahuan
Perasaan maluku
Tidak menghalangiku mencapai
ketinggian
Tidak pula hijabku dan kain yang menutup rambut dan dadaku.
2.   Tanggung Jawab Penumbuhan Kesadaran Intelektual
Di antara bentuk tanggung jawab besar yang dipikulkan oleh agama Islam di atas pundak para pendidik dan orang tua semuanya adalah menumbuhkan kesadaran berpikir anak semenjak masih kecil, hingga ia mencapai usia dewasa dan matang. Sedangkan yang dimaksud dengan 
menumbuhkan kesadaran berpikir adalah hubungan seorang anak dengan Islam sebagai agama dan negara; hubungannya dengan Al-Qur’an sebagai undang-undang dan syariat; hubungannya dengan sejarah Islam yang gemilang sebagai kemuliaan dan ketinggian; dan wawasan keislaman sebagai ruh dan pemikiran.
Oleh karenanya, para pendidik hendaknya memberikan pengetahuan kepada para anak semenjak masih kecil akan hakikat-hakikat berikut ini:
1.   Keabadian Islam dan relevansinya sepanjang ruang dan waktu karena universalitas, keabadian, dinamis, dan kontinunya menjadi keutamaan.
2.   Para pendahulu kita bisa meraih kemuliaan, kekuatan, dan peradaban dikarenakan ketinggian agama Islam ini dan ditetapkannya sebagai undang- undang dan syariat.
3.   Membongkar rencana-rencana jahat yang telah dirancang oleh musuh- musuh Islam, antara lain:
■   Makar zionis yang penuh dengan tipu daya.
■   Makar kolonialis penghisap kekayaan rakyat.
■   Makar komunis yang anti Tuhan.
■   Makar orang Nasrani yang penuh kedengkian
Rencana-rencana jahat yang diarahkan kepada akidah Islam di muka bumi ini, dan upaya menanamkan benih-benih Atheisme dalam diri generasi Islam, menyebar-kan penyimpangan dan kesesatan di keluarga dan masyarakat muslim. Perlu diketahui bahwa tujuan jangka panjang atau pendek mereka adalah memadamkan api perlawanan dan jihad dalam diri pemuda Islam. Mereka ingin menyibukkan negara- negara Islam untuk meningkatkan kemaslahatan negara saja, yang kemudian akan melenyapkan menara- menara Islam di penjuru komunitas masyarakat, yang para penduduknya telah menyatu dengan Islam.
4.   Mengungkapkan tentang kemajuan peradaban Islam yang banyak menjadi bahan percontohan masyarakat dunia sepanjang sejarah.
5.   Terakhir, seorang anak harus mengetahui bahwa, "Kita ini adalah suatu umat yang tidak akan memasuki panggung sejarah bersama Abu Jahal, Abu Lahab, dan Ubay bin Khalaf. Akan tetapi, kita memasuki panggung sejarah bersama Rasulullah Saw, Abu Bakar, dan Umar. Kita tidak akan pernah mengadakan penaklukan dengan perang Basus, Dahis, dan Al-Ghabra'. Akan tetapi, kami menaklukkan dengan perang Badar, Qadisiyah, dan Yarmuk. Kita tidak akan memimpin dunia dengan kitab Al- Mu'alIaqatSab'u (kumpulan syair-syair pendek), tetapi dengan Al-Qur'an yang mulia. Kita tidak mengemban risalah Lata dan Uzza, tetapi mengemban risalah Islam dan prinsip-prinsip Al- Qur'an”
Dasar upaya membangun kesadaran berpikir ini adalah haditsyang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ali bin Abi Thalib secara marfu’:

“Didiklah anak-anak kalian untuk tiga hal: mencintai Nabi kalian, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al-Qur'an."
Sungguh, para Salafus Shalih sangat memperhatikan masalah membangun kesadaran berpikir ini. Mereka mewajibkan untuk menuntun anak mempelajari Al- Qur'an semenjak kecil. Mereka juga mengajarkan seni perang Rasulullah dan potret-potret para pendahulunya. Berikut ini adalah beberapa nasihat para salaf yang shalih:
1.   Shahabat Sa'ad bin Abi Waqqash m berkata, "Kami mengajarkan kepada anak-anak kami seni perang Rasul sebagaimana kami mengajarkan mereka surat Al-Qur’an.”
2.   Al-Ghazali memberikan nasihat, "Ajarkanlah anak-anak Al-Qur’an Al-Karim, kemudian hadits-hadits Nabi, kisah orang-orang shalih, kemudian beberapa hukum agama."
3.   Ibnu Khaldun di dalam kitabnya Muqaddimah menerangkan pentingnya mengajari anak Al-Qur’an dan meng- hafalkannya. Ibnu Khaldun juga menjelaskan bahwa mempelajari Al- Qur’an itu adalah fondasi belajar di semua disiplin ilmu di berbagai negara Islam. Hal ini karena ia merupakan syiar agama yang bisa menanamkan
keimanan.
4.   Khalifah Hisyam bin Abdul Malikpernah menasihati pendidik anaknya agar mengajarkan Al-Qur’an terlebih dahulu, kemudian syair yang bagus, retorika, mempelajari sejarah, mengajarkan akhlak, dan menuntunnya untuk bisa bergaul dengan sesama manusia.
Ungkapan para tokoh tersebut dan yang selainnya barangkali merupakan gambaran nyata akan adanya upaya membangun kesadaran berpikir yang sempurna yang telah dilakukan oleh kaum muslimin pada masa dahulu, baik para pemimpin maupun rakyatnya, baik ulama atau orang awamnya, baik para guru maupun muridnya. Lantas apa jalan yang seharusnya ditempuh? Jalan seharusnya ditempuh setidaknya ada beberapa hal:
1. Pengajaran yang dilakukan secara sadar
Maksudnya adalah seorang bapak atau pendidik harus menuntun anaknya agar mengetahui hakikat agama Islam serta dasar, syariat, dan hukum apa saja yang terkandung di dalamnya. Islam adalah satu- satunya agama yang memiliki keabadian dan ketinggian ajaran. Tabiatnya dinamis sampai Allah menghendaki akhir dunia ini. Wajib bagi seorang pendidik, terlebih lagi bagi seorang ayah, memahamkan kepada anak bahwa tidak ada kemuliaan kecuali dengan agama Islam. Tidak ada kemenangan kecuali dengan pengajaran- pengajaran Al-Qur’an. Tidak ada kekuatan, peradaban, dankebangkitankecuali dengan syariat Nabi Muhammad 0. Demikian juga hendaknya para pendidik membuka mata anak-anak terhadap rencana-rencana jahat zionis, kolonialis, komunis, dan salibis yang berusaha menghancurkan Islam. Mereka juga berusaha memadamkan semangat perlawanan dan jihad di dalam diri kaum muslimin dan mendidik generasi dengan jalan atheis, kesesatan, dan pembolehan segala cara.
Selain itu, orang tua atau pendidik hendaknya juga mengajarkan kepada anak kebudayaan Islam yang megah, yang selama ratusan tahun telah menyinari manusia dengan cahaya kebenaran, kemajuan, dan ilmu pengetahuan. Beritahukan juga bah- waperadaban Islam selalu menjadi rujukan utama bangsa Eropa selama berabad-abad lamanya menyerap sumber-sumbernya dan memanfaat-kan cahayanya.
Tidak diragukan lagi, dengan model pengajaran yang dinamis dan intensif ini, anak akan selalu terikat dengan Islam, baik secara agama maupun negara. Mereka juga akan terikat oleh Al-Qur'an, baik sebagai sistem maupun undang- undang. Mereka selalu ingat sejarah Islam, baik sebagai kebanggaan maupun sebagai teladan. Mereka juga terikat oleh gerakan jihad sebagai penggeraknya. Dan sungguh penting sekali bagi anak mendapatkan pengarahan yang luhur, pengajaran yang hidup dan pendidikan yang terarah semacam ini.
b.   Keteladanan yang dilakukan secara sadar
Maksudnya adalah hendaknya seorang anak merasa dirinya terikat dengan seorang pembimbing yang ikhlas, sadar, paham terhadap Islam, membela Islam, berjihad di jalan Allah, menegakkan hukum- hukumnya dan tidak pernah memedulikan celaan orang lain dalam rangka berjuang di jalan Allah. Tetapi ironisnya, para pembimbing saat ini sering memberikan gambaran yang bertolak belakang dan menyimpang dari agama Islam kepada para murid-muridnya, kecuali orang yang mendapat rahmat-Nya dan mereka itu amatlah sedikit.
Di antara mereka ada yang memfokuskan pengarahan dan pendi-dikannya pada persoalan penyucian jiwa, namun sebaliknya mereka me-remehkan perintah amar makruf dan nahi mungkar, saling menasihati dalam hukum, dan menentang keza-liman. Dan di antara mereka ada orang yang memfokuskan seluruh perhatiannya kepada simbol-simbol yang diperintahkan Islam, seperti membiarkan jenggot dan memakai penutup kepala, namun di sisi lain ia meremehkan geraian Islam yang dinamis dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.
Di antara mereka ada yang memfokuskan diri untuk memberikan pengarahannya pada pelajaran agama, tetapi di sisi lain ia meremehkan aspek dakwah dan gerakan jihad. Dan ia menganggap dirinya telah menolong Islam.
Ketahuilah, bahwa Islam adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karenanya tidak boleh bagi setiap pembimbing, cendekiawan, dan siapa saja yang dijadikan panutan untuk menyembunyikan suatu kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah. Apalagi menutup mata dari kemungkaran yang telah dilarang oleh Allah, karena sikap tersebut termasuk yang dilaknat oleh Allah, sebagaimana dalam firmannya:
 
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang^ telah Kami turunkan berupa keterangan- keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat, kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah aku menerima tobatnya dan Akulah yang Maha Menerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah [2]: 159-160)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapa yang menyembunyikan suatu ilmu yang dimanfaatkan oleh Allah bagi kebaikan manusia di dalam urusan agama, maka Allah akan mencambuknya pada hari kiamat dengan cambuk yang terbuat dari api neraka."
Di antara fenomena penyimpangan para pendidik pada zaman ini adalah anggapan bahwa diri mereka suci dari kesalahan, dan penisbatan kebenaran pada diri mereka sendiri yang sebenarnya rusak, tanpa memedulikan hukum agama. Mereka mengira bahwasanya diri mereka telah mencapai tingkatan tertentu yang dapat menyucikan diri mereka dari kesalahan, dan tingkat kedudukan yang dapat menjauhkan diri dari kekhilafan. Oleh karena itu, tidak boleh seorang pun dapat mengajukan saran atau kritik apabila mereka memerintahkan sesuatu. Sebab mereka telah merasa berada pada derajat yang suci dan terpelihara. Perlu diketahui bahwa permasalahan maksum (terpelihara dari dosa), itu hanya menjadi kekhususan Nabi Saw.
Pada suatu hari, Imam Malik berkata di hadapan makam Nabi Saw, "Kita ini hanyalah orang-orang yang bisa ditolak atau diterima pendapatnya, kecuali penghuni makam ini." Ia mengucapkan demikian sambil menunjuk ke arah pusara Nabi Saw;.
Di antara sifat mulia yang telah dipahami oleh para ulama yang sadar dan ikhlas adalah sikap seorang alim dan pembimbing masa kini, yaitu Syaikh Sa'id An-Nursi, seorang ulama berkebangsaan Turki yang mendapat julukan Badi’uz Zaman (sang pelopor). Semoga Allah merah-mati dan melipatgandakan pahalanya. Secara singkat, sikapnya tampak saat dirinya mulai menyadari bahwa di antara para muridnya ada yang sampai menyucikan dan mengagungkannya secara berlebihan, dan menghubungkan tanda- tanda kebenaran kepada pribadinya yang fana itu. Ia berkata kepada para muridnya dalam rangka memberikan arahan, dan nasihat, "Janganlah kalian menisbatkan kebenaran yang aku serukan kepada kalian kepada diriku yang penuh dosa dan
fana ini. Hendaklah kalian menisbatkan kebenaran itu kepada sumbernya yang tetap suci, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. Ketahuilah bahwa diriku ini tidak lebih daripada orang yang menerangkan petunjuk dari Allah Yang Maha Agung. Dan ketahuilah bahwa diriku ini tidak terjaga dari kesalahan, bahkan tidak terlepas dari dosa. Aku kadang juga berbuat menyimpang, sehingga kebenaran yang kalian sandarkan kepadaku itu terkotori oleh dosa dan penyimpangan tersebut. Aku mungkin saja akan menjadi penyebab manusia dalam penyimpangan dan tindakan dosa, atau bisa memalingkan mereka dari kebenaran tertentu dan tercampurnya dengan penyimpangan dan dosa-dosaku.”
Oleh karenanya, para pendidik harus benar-benar menyerahkan anak-anak mereka kepada para pembimbing yang berilmu dan ikhlas yang bisa memberikan pengajaran kepada mereka akan agama Islam seb agai agama yang sistemnya adalah bersifat universal dan komprehensif, baik yang berkaitan dengan akidah, ibadah, maupun politik. Di samping itu, seorang pembimbing hendaknya bisa memberikan pengajaran pendidikan dan perbaikan kejiwaan kepada mereka dengan pengarahan yang baik yang bisa mengikat mereka dengan kebenaran, agama, dan arahan-arahan pada pendahulu yang shalih, bukan menisbatkan kebenaran kepada pribadinya yang fana.
Tidak disangsikan lagi manakala seorang anak sudah terikat dengan keteladanan yang disuguhkan secara hidup, sebagaimana yang telah diterangkan, maka mereka akan terbina di atas jalan takwa dan jihad, tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, keberanian membela kebenaran, membiasakan diri dengan beribadah, serta bergerak maju melawan musuh-musuh di medan pertempuran. Di saat itulah mereka akan menjadi teladan, sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair:
Para pemuda telah berjuang Demi mendapatkan jalan ketinggian Mereka tidak mau tahu Ada agama lagi selain Islam Mereka terjaga
Dan akan senantiasa tumbuh laksana tanaman
Yang tumbuh subur di dunia Dan kokoh dahan-dahannya
Jika mendapati suatu peperangan Mereka bagaikan tentara Yang senantiasa merobohkan Benteng-benteng dan tempat
perlindungan
Dan jika senja telah merapat Maka engkau tidak akan melihat mereka
Dari celah-celah
Kecuali mereka dalam keadaan sujud menyembah Rabbnya Demikianlah Islam Telah melahirkan kaumku Sebagai pemuda yang ikhlas Lagi tepercaya Mereka telah terdidik Bagaimana membangun kemuliaan Mereka enggan
Untuk selalu terkekang dan menjadi hina Jika mereka menjadi orang-orang seperti yang digambarkan dalam syair di atas, kemuliaan, kemenangan, kepemimpinan bagi Islam dan kaum muslimin akan terwujudlah melalui tangan mereka.

c.   Penelaahan yang dilakukan secara sadar
Maksudnya adalah hendaknya seorang pendidik menyediakan untuk anak semenjak ia tumbuh semakin dewasa sebuah perpustakaan (meskipun kecil) yang mencakup berbagai macam buku cerita islami yang mengisahkan tentang para pahlawan, kisah orang-orang bijak, dan kehidupan orang-orang shalih. Hal ini juga mencakup beberapa koleksi buku tentang pemikiran yang menjelaskan tentang aturan-aturan Islam, baik yang berkaitan dengan masalah akidah, akhlak, ekonomi, maupun masalah politik.
Di samping itu, buku-buku yang membeberkan tentang konspirasi musuh-musuh Islam dari kalangan zionisme, komunisme, salibisme, dan materialisme yang berlawanan dengan Islam dan kaum muslimin perlu juga disediakan. Pun demikian dengan majalah- majalah islami yang menggambarkan tentang Islam, berita-berita, pemecahan masalah, dan lain-lain.
Para pendidik haruslah memilihkan untuk anak buku-buku, majalah, dan cerita-cerita yang sesuai dengan usia dan pengetahuannya, sehingga faedahnya bisa banyak diambil dan buah dari memanfaatkannya menjadi lebih baik. Hal ini merupakan perwujudan petunjuk Rasulullah Saw seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadits Ali bin Abi Thalib.
 
“Ajaklah bicara manusia sesuai dengan pengetahuannya
Ad-Dailami dan Al-Hasan bin Sufyan juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata:

“Aku diperintahkan untuk mengajak bicara manusia sesuai dengan kadar akalnya."
Tidak diragukan lagi manakala seorang pendidik menempuh cara yang telah diajarkan ini kepada anak-anak mereka, maka mereka akan terbekali dengan wawasan keislaman yang sempurna dan akan memiliki kematangan dan kelurusan dalam berpikir.
d.   Pergaulan yang dilakukan secara
sadar
Maksudnya adalah seorang pendidik hendaknya memilihkan untuk anak-anak mereka teman-teman yang shalih, amanah, memiliki kelebihan daripada yang lain. Kelebihan tersebut adalah kematangan pemahaman agama, kesadaran berpikir, dan wawasan keislaman yang sempurna.
Tidak diragukan lagi manakala seorang anak mulai tumbuh dan berakal, tatkala ia berteman dengan teman lain yang unggul dalam intelegensi dan pemikiran maka ia akan mendapatkan keunggulan serupa. Namun, jika ia bergaul dengan teman-teman yang kurang dalam pengetahuan hakikat agama Islam, kurang dalam pandangannya terhadap alam, kehidupan, dan manusia maka ia juga akan mendapatkan kekurangan dan keterbatasan.
Tidaklah cukup hanyaberteman dengan kawan yang shalih dan taat beragama saja ataupun sebaliknya hanya dengan kawan yang pandai dan cerdas saja, tetapi haruslah berteman dengan orang memiliki kebaikan, takwa, kematangan akal, kesadaran sosial, dan pemahaman Islam yang baik, sehingga ia menjadi teman yang sempurna dan kawan yang bertakwa.
Orang dahulu mengatakan, "Teman itu berpengaruh." Orang bijak mengatakan, "Jangan engkau berta-nya kepadaku, siapa saya?” tetapi tanyakanlah kepadaku "Siapa temanku." Niscaya engkau akan mengetahui siapa aku.
Alangkah indahnya ungkapan seorang penyair:
Tentang seseorang hendaknya jangan Anda bertanya kepadanya Tetapi tanyakan kepada temannya Sebab, setiap teman Akan mengikuti siapa yang ditemaninya
Dan alangkah benarnya sabda Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Tirmidzi:
 
"Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, maka hendaknya salah seorang di antara kalian itu memperhatikan siapa temannya.”
Selayaknya seorang pendidik menyiapkan untuk anak-anak mereka dan mereka dalam usia tamyiz teman-teman yang shalih yang bisa mengajarinya hakikat agama Islam, mengajarinya dasar-dasar agama yang sempurna, tuntunannya yang abadi. Selain itu juga memberikan mereka gambaran yang benar tentang agama ini yang benderanya telah dikibarkan oleh para pejuang yang mulia dan para pendahulu yang mereka sebenarnya adalah sebaik-baik manusia yang dilahirkan untuk manusia.
Terakhir, saya ingin membisikkan ke dalam telinga para pendidik dan orang tua serta para wali tentang hakikat ini. Bukankah sesuatu yang menyedihkan dan sangat ironi manakala kita mendapati anak kita telak masuk usia taklif, sementara ia tidak mengetahui bahwa Islam adalah agama dan negara; mushaf dan pedang; ibadah dan politik. Islam adalah satu- satunya agamayang memiliki universalitas, kekekalan, dan eksistensi di zaman modern dan kehidupan yang selalu berkembang.
Bukankah sesuatu yang menyedihkan manakala anak-anak kita belajar di sekolah-sekolah yang mengajari untuk mengenal tokoh-tokoh barat, para pakar filsafat, tentang pemikiran dan pendapat mereka, sejarah hidup mereka, dan langkah-langkah mereka? Sedangkan terhadap para pahlawan-pahlawan kita, tokoh-tokoh besar kita dalam sejarah, para penakluk, mereka hanya mengetahuinya secuilnya saja.
Bukankah merupakan suatu aib jika anak-anak kita lulus dari sekolah-sekolah mereka dalam kondisi telah terkontaminasi budaya-budayaasing,prinsip-prinsiporang barat dan timur, sehingga kebanyakan dari mereka justru menjadi musuh-musuh agama-nya, sejarah, dan peradaban mereka sencffH?
Bukankah sesuatu yang sangat memprihatinkan manakala sekelompok pemuda kaum mukminin mengikuti ajakan para pembimbing yang akan menghilangkan pemikiran mereka, memutuskan semua hubungan wawasan Islam, dan melarang mereka mendapatkan bimbingan dari orang alim dan ikhlas, yang bisa menjelaskan mereka hakikat agama Islam dan pandangannya secara menyeluruh?
Terakhir, bukankah sesuatu yang menyedihkan manakala banyak dari generasi kita menikmati buku-buku atheis, majalah-majalah porno, dan cerita-cerita cabul? Di sisi lain mereka tidak memiliki perhatian terhadap buku-buku pemikiran yang menjelaskan ajaran-ajaran Islam yang membantah syubhat dari musuh dan mengenalkan mereka kebesaran sejarah.
Wajib atas kalian, wahai para orang tua dan pendidik, memikul tanggung jawab terhadap buah hati kalian, dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meluruskan pemikiran mereka manakala terasuki pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Sebagaimana juga kalian harus menuntun mereka di setiap pagi dan sore hari untuk menentang isu-isu yang dihembuskan oleh para misionaris, dan tipu daya kaum materialis dan orang- orang orientalis. Tidak diragukan lagi bahwa demikian ini bisa menyadarkan pemikiran anak-anak dan menjaga akidah mereka dari pengaruh isu dan keyakinan yang merusak.
Jika Anda mau menempuh cara dan jalan ini, niscaya anak-anak Anda akan menjadi mulia dengan agamanya, dan merasa bangga dengan para pendahulunya dan sejarah mereka. Mereka akan mengenal Islam sebagai kesatuan akidah dan syariat; mushaf dan pedang; agama dan negara; ibadah dan politik. Mereka seperti generasi pertama Islam yang digambarkan oleh seorang penyair:
Telah kutinggalkan suatu generasi dari kalangan sahabat Tentang kisah hidup mereka Yang menyebar di antara umat manusia
Jiwa dan keharumannya Penaklukan mereka adalah kebajikan dan kasih sayang Politik mereka adalah keadilan dan 
kebaikan
Mereka tidak mengenal agama Hanya sebagai wirid dan tasbih saja Tetapi mereka menghayati agama Adalah sebagai mihrab dan medan laga.
3.   Tanggungjawab Kesehatan Akal
Di antara tanggung jawab yang telah Allah pikulkan di atas pundak para orang tua dan pendidik semuanya adalah penjagaan terhadap kesehatan akal anak- anak dan murid-murid mereka. Mereka hendaknya senantiasa mengupayakan dan menjaganya semaksimal mungkin, sehingga pemikiran anak senantiasa lurus, daya ingat mereka menjadi kuat, otak mereka menjadi jernih, dan akal mereka menjadi matang.
Lantas, apa sajakah batasan-batasan tanggung jawab bagi orang tua dan pendidik dafam menjaga kesehatan akal anak-anak?
Tanggungjawab ini terfokus padaupaya menjauhkan anak-anak dari kerusakan- kerusakan yang terjadi di masyarakat, karena ia memiliki dampak terhadap akal dan daya ingat, jasmani manusia secara umum.
Kami telah menjelaskan secara panjang lebar di dalam pembahasan Tanggung Jawab Pendidikan Jasmani dari kitab ini dan sekarang akan kami ringkaskan dan kami singgung sedikit agar setiap yang mendapatkan tanggung jawab pendidikan terhadap anak-anak mendapatkan penjelasan dan petunjuk.
Beberapa perkarayangtelah disepakati
oleh para dokter dan para ahli kesehatan bahwakerusakanyangbisamembahayakan akal, daya ingat, kinerja otak, dan menghambat jalan berpikir manusia, sehingga menyebabkan kerusakan yang besar terhadap jasmani adalah sebagai berikut:
a.   Mengonsumsi minuman keras dengan berbagai jenis dan bentuknya, sesungguhnya minuman keras akan merusak kesehatan dan bisa menyebabkan gila.
b.   Kebiasaan onani, yang bisa menyebabkan impotensi, melemahkan daya ingat, menyebabkan kemalasan berpikir, dan kelainan pada otak.
c.   Merokok memiliki pengaruh negatif terhadap otak; menjadikan urat syaraf menegang, melemahkan daya ingat, dan mempengaruhi konsentrasi berpikir.
d.   Rangsangan-rangsangan seksual; seperti menonton film porno, sinetron yang tidak mendidik, dan gambar telanjang.Semuainibisamempengaruhi kinerja otak, menyebabkan kelainan, mematikan daya konsentrasi, di samping juga menyia-nyiakan waktu yang berharga.
Dr. Alex Carlisle di dalam bukunya yang berjudul Manusia itu adalah Misteri mengatakan, "Saat rangsangan seksual manusia bergerak, kelenjar-kelenjarnya menyaring satu materi yang meresap ke dalam otaknya melalui darah lalu membukanya, sehingga tidak akan mampu lagi berpikir jernih.”
Dan masih banyak lagi bahaya yang ditimbulkan yang menyerang akal anak- anak, dan bisa menyebabkan cacat dan bahaya. Kesimpulan dari pemaparan kami di pasal ini adalah bahwa kewajiban mengajar, menumbuhkan kesadaran, menjaga kesehatan akal merupakan tanggung jawab yang paling dominan dalam pendidikan intelektualanak.Jikaorangtuadanpendidik lemah dalam melaksanakan kewajiban ini dan meremehkannya, Allah benar-benar akan meminta pertanggungjawaban mereka dan menuntut mereka atas tindakan peremehan tersebut. Maka alangkah malunya mereka, ketika telah mendapatkan kebenaran namun justru meremehkannya. Maka celakalah jika ternyata jawaban mereka kelak pada hari pengadilan yang besar di hari kiamat di hadapan Allah adalah:
“Dan mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan [yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar'." (QS. Al-Ahzab [33]: 67-68)
Dan benarlah apa yang disabdakan Rasulullah Saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban:
 "Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin terhadap yang dipimpinnya, apakah ia menjaganya atau menyia-nyiakannya."
Ya Allah jadikanlah kami ini orang- orang yang senantiasa menaati-Mu dan Rasul-Mu, dan jadikanlah kami golongan yang wajahnya putih pada hari kiamat nanti. Kemudian jadikanlah kami ini orang yang senantiasa melaksanakan kewajibannya terhadap anak dengan sebaik-baik pelaksanaan. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik Zat sebagai pengharapan dan sebaik-baik Zat sebagai tempat meminta.