Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Keluarga 
METODE DAN SARANA MENDIDIK PADA ANAK DENGAN NASIHAT
Pages: [1]

(Read 42 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1564
  • Logged
METODE DAN SARANA MENDIDIK PADA ANAK DENGAN NASIHAT
« on: 01 May, 2019, 20:42:52 »

METODE DAN SARANA MENDIDIK PADA ANAK DENGAN NASIHAT

Mendidik dengan Nasihat
Satu lagi metode pendidikan yang efektif dalam membentuk keimanan anak, akhlak, mental, dan sosialnya, adalah
metode mendidik dengan nasihat. Hal ini disebabkan, nasihat memiliki pengaruh yang besar untuk membuat anak mengerti tentang hakikat sesuatu dan memberinya kesadaran tentang prinsip-prinsip Islam. Sehingga tidak heran kalau Al-Qur’an menggunakan manhaj ini untuk mengajak bicara kepada setiap jiwa, serta mengulang- ulangnya pada banyak ayat.
Berikut ini beberapa contoh pengulangan Al-Qur’an dalam menggunakan metode nasihat:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah. Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada- Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu. Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (mem-balasnya). Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)'." (QS. Luqman [31]: 13-17)

“Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras/ Katakanlah, 'Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Katakanlah, 'Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib/ Katakar.lah, 'Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi’." (QS. Saba' [34]: 46-49)
 
"Mereka berkata 'Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami. Maka datangkanlah kepada kami azab yang
kamu ancamkan kepada kami, jika kc -. termasuk orang-orang yang benar/ Y- * menjawab, 'Hanyalah Allah yang ak: ~ mendatangkan azab itu kepadamu j -: Dia menghendaki, dan kamu seka..- kali tidak dapat melepaskan dr. Dan tidaklah ber-manfaat kepadarr.. nasihatku jika aku hendak membe nasihat kepada kamu, sekiranya Alla - hendak menye-satkan kamu. Dia adaic- Rabbmu, dan kepada-Nya-lah kanv. dikembalikan/' (QS. Hud [11]: 32-34}
 
"Dan (kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Rabb bagi-mu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?' Pemuka- pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami benar- benarmemandangkamudalamkeadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.’ Hud berkata,'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku menyam- paiKan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang tepercaya bagimu’." (QS. Al-A'raf [7]: 65-68)

Al-Qur’an memiliki gaya dan metode yang bermacam-macam dalam berdakwah, mengingatkan tentang Allah, memberikan nasihat, dan bimbingan. Semua itu digunakan melalui lisan para nabi dan diulang-ulang oleh lisan para pengikutnya. Semua sepakat bahwa nasihat yang tulus dan berpengaruh, jika menemukan hati yang bersih dan akal yang bijak akan segera diikuti dan memberikan pengaruh yang signifikan. Al-Qur’an telah menegaskan tentang hal itu dalam banyak ayatnya. Di antaranya:

"Sesungguhnya padayang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan Dia menyaksikannya." (QS. Qaf [50]: 37)

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 55)
 
“Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa], atau ia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. Abasa [80]: 3-4)
 
"Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingatAllah)." (QS. Qaf [50]: 8)

"... Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." [QS. Hud [11]: 114)

"... Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat ..." (QS. Ath-
Thalaq [65]: 2)

Al-Qur'an dipenuhi dengan ayat-ayat yang menjadikan nasihat sebagai asas untuk manhaj dakwah dan cara untuk sampai kepada perbaikan individu dan petunjuk untuk kelompok. Siapa saja yang membaca lembaran Al-Qur’an, ia akan mendapatkan banyak sekali ayat yang menggunakan nasihat sebagai metode pendekatannya. Terkadang dalam bentuk mengingatkan ketakwaan, peringatan, wejangan, anjuran untuk memberi nasihat, untuk mengikuti jalan yang lurus, memberikan semangat, atau dalam kesempatan yang lain menggunakan ancaman. Pembaca akan menemukan banyak nasihat yang disesuaikan dengan lafal-lafal Al-Qur'an, makna, dan gaya bahasanya ya ng bermacam-masam. Semua itu memberikan penegasan bahwa nasihat di dalam Al-Qur’an memiliki fungsi yang sangat urgen dalam mendidik jiwa dalam kebaikan dan mengarahkannya kepada kebenaran.
Sebelumnya telah kami sebutkan ayat- ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa jiwayangbersih, hati yang terbuka, dan akal yang sadar, ketika diperlihatkan kepadanya kebenaran dengan menggunakan kalimat yangmempen garuhi perasaan, nasihatyang mengandung petunjuk, dan peringatan yang tulus, tentu akan langsung diterima dan diikuti tanpa ragu, sehingga petunjuk Allah yang terkandung di dalamnya pun langsung tersampaikan. Ini untuk orang dewasa, lalu bagaimana dengan anak kecil yang masih dalam fitrahnya yang belum terkotori oleh kotoran jahiliyah?
Tentu sudah pasti ia akan lebih mudah terpengaruh oleh nasihat dan lebih cepat menerima peringatan. Maka dari itu, para pendidik haruslah memahami masalah ini dan menggunakan manhaj Al-Qur'an dalam memberikan nasihat dan bimbingan dalam proses mempersiapkan anak-anak mereka [sebelum mencapai usia remaja) keimanannya, akhlak, serta membentuk mental dan sosialnya. Jika mereka menginginkan kebaikan, kesempurnaan, kematangan akhlak, akal, dan emosinya untuk anak-anak mereka.
Sudah semestinya dalam kesempatan ini kita menyimak metode Al-Qur'an dalam menyajikan nasihat dan pengajaran. Sehingga dapat diikuti oleh siapa saja yang mempunyai tanggung jawab mendidik, supaya bersama anak didiknya sampai kepada tujuan yang didambakan, dalam persiapan dan pembentukan, pendidikan dan pengajaran.
Menurut hasil penelitian kami, cara Al-Qur'an dalam menyampaikan nasihat menggunakan beberapa gaya bahasa, di antaranya:
a. Seruan persuasif yang disertai pengambilan hati dan pengingkaran
Gaya bahasa ini memiliki sugesti yang kuat terhadap perasaan dan hati. Seruan pengingkaran atau pengambilan hati ini sangat jelas tampak pada saat Al-Qur’an mengajak bicara hati manusia dan akalnya dengan perbedaan karakter, jenis, dan tingkat sosial mereka, melalu lisan para nabi.
Berikut ini beberapa contoh seruan dengan gaya bahasa yang bermacam- macam:

□  Seruan untuk anak:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Ailah...'" (QS. Luqman [31]: 13)
Melalui ungkapan Nuh :
 
"...Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Hud [11]: 42)
Melalui perkataan Ya'qub:
"Ayahnya berkata, 'Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuhyang nyata bagi manusia." (QS. Yusuf [12]: 5)
 
Melalui Ibrahim dan Ya'qub:
"...Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (QS. Al- Baqarah [2]: 132)

□ Seruan untuk perempuan:
Melalui lisan malaikat kepada Maryam:
"...Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Ali ‘Imran [3]: 42-43)

"Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (QS. Al- Ahzab [33]: 32)

□ Seruan untuk kaum:
Melalui lisan Musa :
“Dan [ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu). Maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhanyang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah [2]: 54)
Melalui lisan Musa juga:

“Dan [ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat- umat yang lain'." (QS. Al-Ma'idah [5]: 20)
Melalui lisan seorang penyeru yang beriman dari kaum Musa
"Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga. Mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu? Aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?’" (QS. Al-Mukmin [40]: 38-41]
Melalui lisan jin yang menyeru:
"...Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih’." [QS.A1-Ahqaf [46]: 30-31)

□ Seruan untuk kaum mukminin:
 
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153)
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Aliah sebenar- benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekoli-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali ‘Imran [3]: 102)

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada saatuyang memberi kehidupan kepada kamu..." (QS. Al-Anfal [8]: 24)

□ Seruan untuk ahli kitab:
"Katakanlah, 'Hai ahli kitab, marilah [berpegang) kepada suatu kalimat [ketetapan] yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukanDiadengansesuatupundan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, 'Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)'." (QS. Ali ‘Imran [3]: 64)
"Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak [pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan." (QS. Al-Ma’idah [5]: 15)

□  Seruan untuk seluruh manusia
"Hai manusia, sembahlah Rabbmuyang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu- sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 21- 22]

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran
dari Rabbmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (AI-Qur'an)" (QS. An-Nisa’ [4]: 174]
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anakyang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil. Dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat kerasnya." (QS. Al-Hajj [22]: 1-2]
Seruan seperti di atas banyak terdapat di dalam Al-Qur’an.

b. Gaya bahasa kisah yang disertai pelajaran dan nasihat
Gaya bahasa ini memiliki pengaruh terhadap jiwa, kesan terhadap pikiran, dan argumen yang logis. Al-Qur’an menggunakan gaya bahasa ini pada banyak ayac, terutama dalam mengisahkan para rasul dan kaumnya. Allah telah menganugerahkan kepada Rasul-Nya dengan mengisahkan kepadanya kisah- kisah terbaik, menurunkan kepadanya pembicaraan terbaik agar menjadi tanda dan pelajaran bagi manusia, serta menguatkan tekad dan keteguhan hati beliau.
"Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu ..." (QS. Yusuf [12]: 3)

"Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu ..." (QS. Al-A'raf [7]: 101)
 
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah- kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu...”(QS. Hud [11]: 120)

“...Maka ceritakanlah (kepada mere-ka) kisah-kisah itu agar mereka ber-pikir." (QS. Al-A'raf [7]: 176)
"Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?" (QS. An- Nazi'at [79]: 15)
Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?" (QS. Adz-Dzariyat [51]: 24)

"Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud?" (QS. Al- Buruj [85]: 17-18)
Al-Qur’an dipenuhi dengan kisah-kisah para nabi bersama kaumnya. Terkadang ada kisahnya yang diulang-ulang dalam beberapa surat. Di mana antara satu kisah dengan pengulangannya menggunakan gaya bahasa yang berbeda. Hal tersebut dimaksudkan untuk membuat terasanya mukjizat Al-Qur’an yang terdapat pada gaya bahasanya yang indah dan penjelasannya yang unik. Di sisi lain juga bertujuan untuk memunculkan pelajaran lain yang tersembunyi pada ayat yang lain dan lafal serta makna yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki ilmu yang dalam mengenai balaghah Al-Qur’an.
Contoh:
Kisah Musa bersama Fir'aun
yang disebutkan beberapa kali dalam Al-Qur’an. Kita pilih saja dua kisah, lalu kita bandingkan antara keduanya agar pembaca dapat mengetahui rahasia di balik pengulangan tersebut. Kisah pertama dalam surat Al-A‘raf:
 
"Dan Musa berkata, 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa buktiyang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.'Fir'aun menjawab, 'Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya." (QS.. Al-A'raf [7]: 104-107)

Kisah kedua dari surat An-Nazi'at:
"Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa, 'Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk mem-bersihkan diri (dari kesesatan)? Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu supaya kamu takut kepada-Nya?'LaluMusamemperIihatkan kepadanya mukjizatyang besar. Namun, Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian Dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka ia mengumpulkan (pembesar-pembesar- nya) lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, 'Akulah Rabbmu yang paling tinggi.' Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demiKian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya).'’ (QS. An-Nazi‘at [79]: 15-26)
Berdasarkan perbandingan kedua
kisah tersebut tampaklah beberapa
perkara sebagai berikut:
□   Kisah pertama rinci dan panjang, sedangkan yang kedua ringkas dan pendek.
□   Keduanya menggunakan gaya bahasa yang sangat berbeda, baik itu yang berkaitan dengan ayat-ayat dan pemisahnya dalam panjang pendeknya, ataupun yang berkaitan dengan maknanya, susunan kalimatnya, atau juga bentuk perintah dan larangan yang terdapat di sana.
□   Kisah dalam surat Al-A'raf terfokus pada:
■   Memberikan argumen kepada Fir'aun.
■   Memperlihatkan mukjizat yang menunjukkan kebenaran Nabi Muss
■   Dialog yang berlangsung antara Musa dan tukang sihir.
■   Berimannya para tukang sihir setelah tampaknya kebenaran hujjah Musa
■   Ancaman Fir'aun.
■   Para penyihir tidak peduli dengar, ancaman Fir'aun setelah keimanan merasuk ke dalam hati mereka.
■   Fir'aun dan pengikutnya mengalami malapetaka dan keku-rangan makanan.
■   Hukuman Allah kepada mereka dengan menenggelamkannya.

□ Sedangkan kisah dalam An-Nazi'at terfokus pada:
■   Allah membinasakan Fir'aun karena mengaku tuhan.
■   Mengandung pelajaran bagi mereka yang ingin merasakan peringatan dan rasa takut.
Setelah penjelasan ini jelas tampaklah perbedaan yang besar antara kedua kisah tersebut, baik yang berkaitan dengan balaghahnya maupun pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, kita tidak boleh menganggap ada kisah yang diulang berkali-kali hanya sekadar pengulangan biasa tanpa tujuan. Sebab, kisah-kisah yang diulang-ulang Al- Qur'an tidak seperti sangkaan yang salah tersebut, seperti yang telah Anda lihat sendiri adanya perbedaan yang besar antara kedua kisah di atas.

c.   Pengarahan Al-Qur’an yang mengandung pesan dan nasihat
Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang mengandung pesan-pesan dan teks-teks yang disertai nasihat untuk memberikan arahan kepada pembaca. Arahan tersebut perihal perkara-perkara yang bermanfaat untuk dirinya dalam urusan agama, dunia, dan akhiratnya. Selain untuk membentuk rohani, akal, dan jasadnya, juga untuk mempersiapkan dirinya agar menjadi pejuang dakwah dan jihad.
Al-Qur’an memiliki pengaruh yang kuat terhadap ruh dan hati. Maka dari itu, ketika seorang muslim mendengarkan ayat-ayat Allah yang sedang dibacakan, hatinya menjadi khusyuk, jiwanya terpaku pada ayat yang didengarnya, dan ruhnya tergerak dengan alunan ayat itu. Sehingga melalui bacaan ayat-ayat itu ia terdorong untuk melaksanakan nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya, melakukan pesan-pesannya, menjalankan perintah- perintahnya, dan menjauhi larangan- larangannya. Karena, ayat tersebut diturunkan dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Di dalamnya terdapat obat yang dapat menyembuhkan segala penyakit, baik penyakit fisik maupun hati. Berikut ini beberapa contoh pengarahan yang diberikan Al-Qur’an:

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman [31]: 13)
"Dan hamba-hamba Allah yang Mahc Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata- kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.' Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamatdan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal shalih; maka dari itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang- orang yang bertobat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka beitemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang orangyang berkata, 'Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.' Mereka itu’ah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagai-mana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu)'." (QS. Al-Furqan [25]: 6.3-77]

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena "iya kepada manusia, dan orang- orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang stburuk-buruknya." (QS. An-Nisa' [4]: 36-38)
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi- nabi, dan memberi-kan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak- anakyatim, orang-orang miskin, musafir (yang me-merlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, men-dirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang- orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang- orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)
"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya ,kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaidah kamu berbuat baik pada inu bapakmu dengan sebaik- baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kcli janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, 'Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.' Rabbmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orcng-orang yang bertobat. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan jargonlah kamu menghambur- hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Rabbmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maht Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan
memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. Dan janganlah kamu mendekati zina: sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya),melainkan dengansuatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuhsecarazalim,makasesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya. Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mem-punyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya sangat dibenci di sisi Rabbmu." (QS. Al-Isra' [17]: 23-38)

Dan pengarahan lainnya yang ter-dapat dalam ayat-ayat yang lain.
Dari pengarahan Al-Qur'an tersebut kemudian dapat terbagi menjadi bebe
rapa cabang kategori:
□ Pengarahan Al-Qur’an yang disertai penegasan, seperti firman Allah Swt.:
"...Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ra‘d [13]: 4)
"...Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Ar-Ra'd [13]: 3)
"...Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar." (QS. Yunus [10]: 67],
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orangyang mempunyai akal atau yang menggunakan pen-dengarannya, sedangkan Dia menyaksikannya." [QS. Qaf [50]: 37)

□ Pengarahan Al-Qur'an yang disertai pertanyaan pengingkaran, seperti firman Allah:
"Bahkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Katakanlah, 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran- pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? Ataukah mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) membuat-buatnya/ sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Quran itu jika mereka orang- orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidakmeyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan
dan untuk kamu anak-anak laki-laki? Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang? Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang terkena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai Tuhan selain Allah? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Ath- Thur [52]: 30-43]

□ Pengarahan Al-Qur'an yang disertai dalil-dalil aqli, seperti firman Allah:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dan langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Al-Baqarah [2]: 164)
 "Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)"(QS. Ath-Thur [52]: 36)
"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan." (QS. Al-Anbiya’ [21]: 22)
 
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat [51]: 20-21)

□ Pengarahan Al-Qur'an yang disertai dengan penjelasan karakter Islam yang holistik, seperti firman Allah:
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hcri kemudian, malaikat- malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikcn harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang- orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itu!ah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang- orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)
"...Dan Kami turunkan kepadamu Al- Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang- orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl [16]: 89)
"...Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab..." (QS. Al-An‘am [6]: 38)

□ Pengarahan Al-Qur’an yang disertai dengan kaidah-kaidah hukum, seperti firman Allah:
a.   Kaidah keadilan dalam putusan:
 
"...Dan (menyuruh kamu) apa-bila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. An-Nisa' [4]: 58)
b.   Kaidah musyawarah perundang- undangan:
 "...Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang bertawakal kepada-Nya." [QS. Ali 'Imran [3]: 159) 
"...Sedang urusan mereka (diputuskan] dengan musyawarah antara mereka..." (QS. Asy-Syura [42]: 38]
c.   Kaidah persamaan manusia (ieguality):
 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat [49]: 13]

Itulah beberapa gaya bahasa yang sangat efektif yang digunakan Al-Qur’an dalam menyampaikan nasihat. Gaya bahasa yang bermacam-macam dan mengandung sugesti yang sangat berpengaruh ke dalam hati.Maka,jikaparapendidikmenggunakan metode-metode tersebut dalam mendidik anak dan mendisiplinkan mereka, pastilah anak tumbuh menjadi manusia yang baik sebagai hasil dari pendidikan yang luhur, memiliki akhlak terpuji, dan kesadaran Islami yang holistik.
Rasulullah Saw telah memberi perhatian yang besar terhadap penyampaian nasihat dan mengarahkan para pendidik dan da’i untuk menyampaikan nasihat. Selain itu, beliau juga mengajak setiap muslim dalam kehidupannya masing-masing untuk menjadi da’i kepada Allah di mana pun mereka berada. Hal ini bertujuan agar nasihat yang mereka berikan itu dapat mempengaruhi orang yang memiliki hati nurani, agar bisa menjadi penyelamat bagi mereka yang sedang terperosok di rawa-rawa jahiliyah dan tersesat dalam kesesatan.
Berikut ini beberapa pengarahan penting yang Rasulullah Saw berikan dalam menyampaikan nasihat dan dakwah. Tamim bin Aus Ad-Dari m meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:
"Agama itu adalah nasihat" Kami bertanya, "Karena siapa?" Beliau menjawab, "Karena Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan orang umum mereka." [HR. Muslim]
Jarir bin Abdullah m berkata, "Aku berbaiat kepada Rasulullah Saw untuk menegakkan shalat, membayar zakat, dan menyampaikan nasihat kepada setiap muslim." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Abu Mas'ud Al-Anshari m meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya seperti pahala yang melakukan kebaikan tersebut." (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala sepert: pahala orang yang mengikuti ajakannya, tidak berkurang pahala mereka itu sedikit pun.” (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Sahi bin Sa'ad As- Sa'idi bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada Ali ketika beliau memberinya pengarahan pada pembukaan Khaibar:

"Tunggu sebentar, sampai engkau turun ke halaman mereka kemudian ajaklah mereka untuk masuk Islam, dan kabarkanlah kepada mereka apa yang wajib untuk mereka. Maka demi Allah, satu orang yang diberi hidayah melalui dirimu lebih baik bagimu daripada unta berwarna merah.” (H R. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang berbicara tentang hal ini. Maka dari itu, bagi setiap pendidik haruslah mengambil pelajaran dari pengarahan-pengarahan yang terdapat dalam hadits-hadits tersebut dan melaksanakannya. Terutama perkara- perkara yang berkaitan dengan anak dan murid mereka.
Metode yang digunakan Rasulullah IH sebagai guru utama dan pertama kita adalah metode yang terbaik dalam menyampaikan nasihat. Berikut metode yang digunakan beliau16:
a.   Metode berkisah
1.   Kisah tentang si lepra, si botak, dan si buta
‘Ada tiga orang Bani Israil yang masing-masing mengidap penyakit lepra, berkepala botak, dan buta. Allah hendak menguji mereka, maka diutuslah kepada mereka satu malaikat Malaikat tersebut mendatangi si pengidap lepra, ia berkata, 'Apakah yang paling kamu sukai?' Pengidap lepra tersebut menjawab, 'Warna yang bagus, kulit yang bagus, dan hilangnya dariku apa yang menyebabkan orang-orang merendahkanku.’ Malaikat tersebut kemudian mengusap dirinya, sehingga hilanglah penyakit kulitnya. Ia lalu dianugerahi kulit yang indah. Malaikat tersebut kemudian berkata kembali, 'Harta apakah yang paling kamu sukai?' Orang tersebut menjawab, 'Unta.'Lalu ia diberi seekor unta yang besar. Kemudian malaikat tersebut berkata kepadanya, 'Semoga Allah memberkahimu dengan unta ini.'

Kemudian malaikat tersebut mendatangi si botak. Ia kemudian berkata, ‘Apakah sesuatu yang paling kamu sukai?’ Ia berkata, 'Rambut yang indah dan hilangnya dari diriku ini segala yang membuat orang-orang merendahkaknku.' Malaikat itu lalu mengusap laki-laki botak tersebut. Seketika itu ia diberi rambut yang indah. Sang malaikat lalu berkata lagi kepadanya, 'Harta apakah yang paling kamu senangi?’ Ia menjawab, ‘Sapi.’ Ia kemudian diberi seekor sapi yang sedang mengandung. Malaikat tersebut berkata, 'Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.’
Kemudianmalaikattersebutmendatangi si buta .Ia berkata kepadanya, ‘Apakah yang paling kamu sukai?' Si buta menjawab, ‘Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku bisa melihat orang-orang.' Malaikat itu mengusapnya dan penglihatannya pun kembali seketika. Sang malaikat berkata lagi, 'Lalu, harta apakah yang paling kamu sukai?’ Ia menjawab, ‘Domba.’ Ia kemudian diberi seekor domba yang melahirkan, lalu keduanya pun berkembang biak. Hingga akhirnya laki-laki yang pertama memiliki satu lembah unta, laki-laki kedua memiliki satu lembah sapi, dan laki-laki ketiga memiliki satu lembah domba.
Kemudian sang malaikat kem-bali mendatangi laki-laki [yang asalnya) menderita lepra dengan wujud seorang laki-laki yang mengidap lepra. Malaikat tersebut berkata, ‘Aku adalah orang yang miskin. Perbekalanku habis di tengah perjalanan. Hari ini tidak ada tempat bagiku untuk meminta tolong kecuali hanya kepada Allah lalu kepada dirimu. Aku meminta kepadamu, demi Dzat yang telah memberimu warna yang indah, kulit yang indah, dan harta. Cukup satu ekor unta saja untuk melanjutkan perjalananku.' Si laki- laki itu berkata, ‘Tapi kebutuhanku banyak sekali.' Sang malaikat berkata, 'Sepertinya aku mengenalimu. Bukankah kamu dulu juga mengidap penyakit lepra sehingga dikucilkan oleh orang-orang dan juga miskin, kem udian Allah menganugerahimu harta.’ Laki-laki tersebut menjawab, 'Ini semua ada. ah warisan dari leluhurku.' Malaikat tersebut lalu berkata, 'Jika kamu berbohong, semoga Allah menjadikanmu seperti semula.'
Sang malaikat kemudian mendatangi laki-laki (yang awalnya] botak dalam wujud seorang laki-laki yang botak. Malaikat tersebut berkata kepadanya seperti yang dikatakannya kepada laki-laki pertama. Laki-laki kedua ini pun men-jawab seperti jawaban laki-laki pertama. Malaikat tersebut kemudian berkata, ‘Jika kamu berdusta semoga Allah menjadikanmu seperti semula.’
Malaikat tersebut lalu mendatangi laki-laki (yang asalnya) buta dalam wujud seorang laki-laki yang buta. Sang malaikat berkata, 'Aku adalah orang yang miskin. Perbekalanku habis di tengah perjalanan. Hari ini tidak ada bagiku tempat untuk meminta tolong kecuali hanya kepada Allah lalu kepada dirimu. Aku meminta kepadamu, demi Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu. Cukup satu ekor kambing saja untuk melanjutkan perjalananku.’ Laki-laki tersebut berkata, 'Dahulu aku buta kemudian Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah sesu-kamu. Demi Allah aku tidak akan menghalangimu hari ini dengan apa yang kamu ambil karena Allah.’ Malaikat itu lalu berkata, ‘Milikilah hartamu: Sebenarnya kalian telah diuji. Allah telah meridhaimu dan murka terhadap dua orang sahabatmu yang lain'.” (HR. AA Bukhari dan Muslim)
2.   Kisah kayu yang ajaib
Dikisahkah tentang seorang Bani Israi; yang meminta kepada temannya sesama Bani Israii untuk meminjamkannya uang seribu dinar. Sang kawan berkata. "Datangkan kepadaku beberapa orang saksi.” Si peminjam menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi.” Si kawan berkata kembali, "Datangkanlah kepadaku seorang yang akan menanggungnya.’’ Sang peminjam menjawab, "Cukuplah Allah sebagai penanggungnya." Si kawan berkata, "Kamu benar.” Ia pun memberikan pinjaman tersebut sampai batas waktu yang ditentukan.
Si peminjam pun keluar berlayar di laut untuk memenuhi keperluannya. Setelah itu, ia berusaha untuk mencari perahu (untuk pulang) memenuhi janji melunasi utangnya pada batas waktu yang telah ditentukan. Namun, ia tidak juga menemukan perahu tersebut. Ia pun mengambil sebilah kayu dan melubanginya. Lalu ia masukkan ke dalam kayu tersebut uang sebanyak seribu dinar dan selembar surat yang ditujukan untuk shahabatnya. Kemudian ia tutup kayu tersebut dengan kaca dan iabawa ke laut. Lalu iaberkata, "Ya Allah, Engkau Mahatahu bahwa aku telah meminjam dari si fulan sebanyak seribu dinar. Ia memintaku seorang yang akan menanggungnya, lalu aku jawab bahwa cukuplah Allah sebagai penanggungnya. Ia pun ridha Engkau sebagai penanggungnya.
Lalu ia meminta saksi, aku pun menjawab bahwa cukuplah Engkau sebagai saksi. Ia pun ridha Engkau menjadi saksinya. Aku telah berusaha untuk mendapatkan perahu untuk pulang kepadanya, namun aku belum juga mendapatkannya. Oleh karena itu, aku titipkan kayu ini kepadamu.” Ia pun melemparkan kayu itu ke laut sampai kayu itu hanyut terbawa arus laut. Ia pun pergi sambil memperhatikan kayu itu dan ia terus mencari perahu untuk pulang ke daerah asalnya.
Sang kawan yang meminjamkan uang keluar untuk mencari perahu yang datang membawa uang miliknya. Namun, yang ia dapati hanyalah sebilah kayu yang di dalamnya terdapat uang. Ia pun membawa kayu tersebut ke rumahnya untuk dijadikan kayu bakar. Ketika ia membelah kayu tersebut, ia dapati di dalamnya sejumlah uang dan selembar surat.
Akhirnya laki-laki yang meminjam uang itu kembali sambil membawa seribu dinar. Ia berkata, "Demi Allah, aku berusaha keras mencari perahu untuk pulang membawa uangmu, namun aku tidakmendapatkannya, sebelum akhirnya aku berhasil juga untuk pulang kepadamu.” Sang kawan menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah membayarkan utangmu yang kamu kirimkan melalui sebilah kayu ini. Maka, pergilah dengan seribu dinarmu ini. Kamu adalah orang yang benar." (HR. Ahmad dan Al-Bukbari)

3.   Kisah Hajar dan Ismail
Ibnu Abbas berkata, Nabi Ibrahim pergi dengan mem-bawa Ummu Ismail (Hajar) dan anaknya Ismail yang sedang menyusui, sampai ia meninggalkan
mereka di daerah Baitul Haram di bawah sebuah pohon besar di atas mata air Zamzam yang berada di dataran tertinggi daerah Masjidil Haram. Ketika itu, Mekah belum dihuni oleh seorang manusia pun, di sana tidak terdapat air sedikit pun. Nabi Ibrahim lalu meninggalkannya di sana dengan membekali mereka kurma dan air.
Kemudian Nabi Ibrahim berdiri membelakangi Hajar dan Ismail sambil pergi meninggalkan mereka berdua. Hajar, Ummu Ismail, mengikutinya sambil berkata, "Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan apa-apanya ini?” Hajar terus mengulang-ulang pertanyaannya itu. Namun, Ibrahim sedikit pun tidak menoleh. Lalu Hajar bertanya kembali, "Apakah Allah yang memerintahkan ini?" Nabi Ibrahim menjawab, "Ya.” Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1564
  • Logged
Re: METODE DAN SARANA MENDIDIK PADA ANAK DENGAN NASIHAT
« Reply #1 on: 02 May, 2019, 06:34:57 »
Hajar pun kembali ke tempat-nya, dan Ibrahim terus pergi mening-galkan mereka sampai ketika ia tiba di celah gunung di mana tidak ada seorang pun yang melihatnya, Nabi Ibrahim menghadapkan wajahnya ke arah Baitul Haram seraya berdoa sambil mengangkat kedua tangannya:
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak terdapat tanam- tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb Kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikanshalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur" (QS. Ibrahim [14]: 37]
Mulailah Hajar menyusui Ismail dan meminum dari air yang ditinggal-kan Nabi Ibrahim untuk mereka samapai air itu akhirnya habis. Hajar dan anaknya, Ismail, merasa kehausan. Melihat anaknya berguling-guling kehausan, Hajar pun pergi untuk mencari air, karena tidak tega melihat keadaan anaknya itu. Hajar tiba di Shafa sebuah bukit yang paling dekat dengan tempat bernaungnya tadi. Hajar berdiri di atasnya sambil menghadap ke arah lembah sambil melihat-lihat, mencari apakah ada manusia di lembah itu, namun ia tidak melihat seorang pun. Hajar turun dari bukit Shafa hingga ia sampai di bagian lembahnya. Hajar mengangkat ujung pakaiannya kemudian terus berjalan laksana seorang laki-laki yang kuat perkasa, sampai ia berhasil melewati lembah tersebut. Lalu Hajar mendatang) bukit Marwah, ia berdiri di atasnya dars melihat-lihat, mencari apakah
ada manusia yang datang, namun ternyata ia tidak melihat seorang pun ada di sana Hajar terus mengulang-ulang usahanya tersebut sampai 7 kali.
Ibnu Abbas meriwayatkan, Nabi Saw bersabda:
 
“Maka demikianlah akhirnya orang- orang melakukan sa'i di antara keduanya (Shafa dan Marwah)."
Kemudian, ketika di atas Marwah Hajar mendengar suara. Hajar berkata kepada dirinya sendiri, "Diam, jangan berisik.” Sambil ia terus mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ia pun berkata, "Aku mendengar sesuatu mungkin saja ada pertolongan di sana." Ternyata itu adalah malaikat yang berdiri di tempat Zamzam. Ia mengais-mengaiskan tumitnya atau dikatakan (dalam riwayat lain) dengan sayapnya sehingga keluarlah air. Hajar pun menggali tempat itu sampai muncullah air. Dengan segera, Hajar membendung air itu sampai membentuk kolam. Sambil ia berkata, "Beginilah seharusnya." Mulailah Hajar menciduki air itu dan memasukannya ke dalam tempat minumnya. Air itu terus memancar setelah diciduki olehnya.
Ibnu Abbas berkata, Nabi Saw bersabda:
"Semoga Allah merahmati Ummu Ismail. Seandainya saja ia membiarkan Zamzam—atau dalam riwayat lain dikatakan—seandainya Zamzam tidak diciduk airnya, pastilah Zamzam tidak menjadi mata air yang mengalir.
Ibnu Abbas melanjutkan ceritanya:
Lalu Hajar minum dari air tersebut dan menyusui anaknya. Malaikat itu berkata kepadanya, "Janganlah kamu takut terbuang, karena di sini adalah tempatnya Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Dan Allah tidak akan menyia- nyiakan hamba-Nya.”
Baitullah adalah tanah yang meninggi atau bukit yang memiliki mata air. Hajar pun menjadikan sebelah kiri dan kanan tempat tersebut sebagai tempat tinggal. Hingga datang kaum yang mene-maninya tinggal di daerah tersebut, yaitu kaum Jurhum. Mereka datang dari jalan Kada lalu mereka singgah di dataran rendah Mekah. Mereka melihat burung yang sedang terbang. Mereka berkata, "Burung itu pasti sedang terbang mengitari air. Kita harus pergi ke lembah yang terdapat air itu." Lalu mereka mengutus seorang atau dua orang budak.
Ketika mereka menemukan ada-nya air, mereka kembali dan mem-beritahukannya kepada mereka. Kaum itu pun pergi ke tempat di mana air itu berada. Saat itu, Ummu Ismail sedang berada di dekat air. Mereka pun berkata, "Izinkanlah kami untuk tinggal di tempatmu ini.” Ummu Ismail menjawab, "Tentu silakan, tetapi
kalian tidak mempunyai hak memiliki air ini." Mereka menjawab, "Tentu tidak.”
Ibnu Abbas berkata, Nabi Saw bersabda:

"Ummu Ismail telah menemukan air tersebut tetapi ia seorang yang mencintai (sesamaj manusia.”
Kafilah itu pun memberitahukan seluruh kaum mereka dan mereka pun tinggal bersama di tempat tersebut. Sampai mereka membangun rumah mereka di sana dan Ismail pun tumbuh menjadi seorang pemuda dan ia belajar bahasa Arab dari mereka. Ismail yang sudah tumbuh menjadi pemuda itu membuat mereka tertarik dan mendorong mereka untuk menikahkannya dengan seorang anak gadis dari kalangan mereka. Pada saat itu pula Hajar meninggal.
Nabi Ibrahim pun datang setelah Ismail menikah untuk me-nengok anaknya, namun ia tidak menemukan Ismail. Nabi Ibrahim pun menanyakan tentang Ismail kepada istrinya. Sang istri pun menjawab, "Ia sedang keluar mencari makan untuk kami." Kemudian Nabi Ibrahim menanyakan tentang kehidupan dan keadaan mereka. Sang istri menjawab, "Kami hidup dalam keadaan susah dan sengsara.” Ia mengadukan kepada Nabi Ibrahim tentang kehidupan mereka. Nabi Ibrahim berkata kepada istri anaknya itu, “Jika suamimu telah pulang tolong sampaikan salamku untuknya, dan tolong sampaikan pesanku untuk mengganti ambang pintu rumahnya."
Ketika Ismail pulang, ia datang dalam keadaan senang. Ia bertanya kepada istrinya, “Apakah ada se-seorang yang datang?” Ist 'inya menjawab, "Ya, tadi ada seorang kakek tua yang datang kemari. Ia menanyakar.mu dan menanyakan tentang kehidupan kita. Maka aku ceritakan tentang kehi dupan kita yang penuh dengan kesusahan dan kesengsaraan.” Ismail kembali beruanya, "Apakah ia menitipkan suatu pesan kepadamu?” Istrinya menjawab, "Ya, ia memerintahkanku untuk menyampaikan salamnya untukmu dan ia berpesan untukmu agar mengganti ambang piatu rumahmu ini." Ismail berkata, "Lad-laki itu adalah ayahku dan ia memerintahkanku untuk mencerai- kanmu, maka pulanglah kamu kepada keluargamu.” Ismail pun menceraikannya dan menikah lagi dengan anak gadis kabilah Jurhum yang lain.
Setelah beberapa lama, Nabi Ibrahim mendatangi lagi rumah anaknya, Ismail, namun ia :idak menemukannya. Nabi Ibrahim pun masuk ke rumah anaknya dan ber-tanya kepada istrinya. Sang istri pun menjawab, "Ia sedang keluar mencari nafkah untuk kami.” Nabi Ibrahim meneruskan pertanyaannya, “Bagaimana keadaan kalian?" Tidak lupa ia pun menanyakan perihal kehidupan mereka. Sang istri pun menjawab, "Kami baik-baik saja dan kami merasa senang." Sang istri menerangkan kehidupan mereka sambil memuji Allah. Nabi Ibrahim meneruskan pertanyaannya, "Apa yang kalian makan?” Sang istri menjawab, "Daging." "Apa minum
kalian?” Nabi Ibrahim terus bertanya. 'Air biasa", jawab istri anaknya. Nabi Ibrahim berkata, "Ya Allah, berkahilah mereka pada makanan dan minuman mereka.” Nabi bersabda, "Berkah doa Ibrahim.”
Nabi Ibrahim berkata kepada istri anaknya itu, "Jika suamimu pulang sampaikan salamku kepadanya dan suruhlah ia untuk menjaga ambang pintu rumahnya ini.” Ketika Ismail pulang, ia bertanya, "Apakah ada seseorang yang datang?” Istrinya menjawab, "Ya, seorang kakek tua yang baik." Istrinya bercerita sambil memuji laki-laki tua itu, "Laki- laki itu menanyakan keadaanmu, lalu aku pun menjawabnya. Ia pun menanyakan tentang keadaan hidup kita dan aku pun menceritakan kalau kehidupan kita baik- baik saja.” Ismail bertanya lagi, "Apakah ia menitipkan suatu pesan kepadamu?” Istrinya menjawab, "Ya, ia menyuruhku untuk menyampaikan salamnya kepadamu dan ia pun menyuruhmu untuk menjaga ambang pintu rumah ini.”
Ismail berkata, laki-laki itu adalah ayahku, sedangkan ambang pintu yang ia maksud adalah kamu. Ia menyuruhku untuk menjagamu. Setelah beberapa lama, Nabi Ibrahim datang kembali untuk menemui Ismail. Ismail saat itu sedang membuat anak panah di bawah sebatang pohon di dekat Zamzam. Ketika Ismail melihat ayahnya datang, mereka berdua langsung melakukan apa yang selayaknya dilakukan antara ayah dan anak. Kemudian Nabi Ibrahim berkata, "Wahai. Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepadaku.” Ismail langsung berkata, "Lakukanlah perintah Allah itu.”
Nabi Ibrahim berkata lagi, "Bantulah aku untuk melaksanakannya.” Ismail pun menjawab, "Aku akan menolongmu." ‘Allah memerintahkanku untuk membangun Baitullah di tempat ini,” Nabi Ibrahim sambil menunjuk ke arah gundukan tanah yang meninggi jika dibandingkan dengan tanah sekitarnya.
Ketika itu, keduanya mulai meninggikan fondasi-fondasi Baitullah. Ismail yang membawakan batu sedangkan Nabi Ibrahim yang menyusunnya sampai ketika bangunan itu telah terbentuk dan cukup tinggi. Ismail membawakan batu ini [maqam Ibrahim) sebagai tempat Nabi Ibrahim berdiri di atasnya. Lalu Ismail kembali membawakan batu, dan keduanya berdoa:
 
"...Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 127) (HR. Al-Bukhari)
Dan masih banyak lagi kisah-kisah lainnya.
***
Seorang pendidik yang bijak dan cerdas dapat menyesuaikan cara penyampaian kisah dengan gaya bahasa yang sesuai dengan pemahaman objek yang diajak bicara. Mereka juga mampu mengeluarkan berbagai pelajaran penting dari kisah yang mereka sampaikan,
agar memiliki pengaruh yang lebih kuat dan mendapatkan respons lebih cepat.
Karenanya, seorang pendidik haruslah dapat memanfaatkan emosi dan perhatian orang yang mendengarkan kisah yang sedang disampaikannya. Sehingga saat jiwanya sedang berinteraksi dan akalnya sedang terbuka, maka pelajaran dan nasihat yang terkandung dalam kisah tersebut dapat tersampaikan dan diterima oleh perasaan dan hatinya yang terdalam. Selanjutnya, menimbulkan rasa tunduk dan khusyuk kepada Allah dan pendidik pun selanjutnya dapat meraih hatinya untuk selalu teguh menjalankan Islam sebagai aturan hidup dan hukum yang mengatur dirinya, dan berakhlak dengan prinsip-prinsip Islam yang luhur.

b.   Metode dialog dan bertanya (yang menuntut jawaban)?
Yaitu, dengan cara memberikan pertanyaan untuk memancing perhatian dan menstimulus kecerdasannya. Hal ini sekaligus untuk menggiring mereka menemukan nasihat-nasihat yang baik dengan perasaan puas. Mari kita lihat contoh-contoh berikut:
1. ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-'Ash berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:
'Tahukah kalian siapa muslim itu?' Mereka menjawab, 'Allah dan Rasul- Nya yang-lebih tahu.' Beliau bersabda, 'Muslim itu adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.' Beliau bersabda, 'Tahukah kalian siapa mukmin itu?' Mereka menjawab, 'llah dan Rasul-Nya yang lenih tahu.' Beliau bersabda, 'Mukmin itu adalah orang yang mukmin lainnya merasa aman (dari dirinya) pada diri dan hartanya'."
Kemudian beliau menyebutkan orang yang berhijrah (al-muhajir):

"Orang yang berhijrah itu adalah yang meninggalkan keburukan kemudian ia menjauhinya." (HR. Ahmad}
2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:

“Apa pendapat kalian jika ada sebuah sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian yang ia mandi di sungai tersebut setiap hari lima kali. Apakah akan tetap menyisakan kotorannya?” Mereka menjawab, "Itu tidak akan menyisakan kotoran sedikit pun." Beliau berkata, "Itu seperti shalat lima waktu, Allah menghapus kesalahan-kelasahan dengan shalat tersebut." [HR. Al- Bukhari dan Muslim}
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Tahukah kalian siapakah yang pailit itu?" Mereka menjawab, “Orang yang pailit itu di antara kami adalah yang tidak memiliki dirham (uang) dan harta (barang) apapun." Beliau bersabda, "Orang yang pailit dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa, dan zakat. Namun, ia telah mencela orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka diambillah untuk orang ini dari pahalanya, dan untuk yang ini dari pahalanya. Sehingga ketika habis pahala kebaikannya sebelum selesai diputuskan perkara kesalahannya, maka diambillah dosa-dosa mereka (yang dizalimi olehnya) lalu diberikan kepada dirinya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka." (H R. Muslim)
c.   Memulai penyampaian nasihat dengan sumpah atas nama Allah Swt
Hal itu dilakukan untuk menekankan pada diri pendengar tentang pentingnya perkara yang disumpahi itu, agar dilakukan oleh pendengar atau untuk dijauhi. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Demi Dzatyang diriku ada di tangan-Nya, pasti kalian tidak akan masuksurga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencin tai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatuyang jika kalian kerjakan kalian menjadi saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Syuraih bahwa Rasulullah Saw bersabda:
 
“Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman." Beliau ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya." (H R. Al-Bukhari)
Dan masih banyak lagi contoh-contoh seperti di atas pada pengarahan-pengarahan yang diberikan Rasulullah Saw.

 
d.   Menyisipkan canda dalam penyampaian nasihat
Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan rasa bosan dan menghibur jiwa. Anas meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Sg meminta ikut dibawa dengan binatang tunggangannya. Maka beliau bersabda:

“Kami akan membawamu di atas anak unta betina.” 
Laki-laki tersebut berkata, "Apa yang bisa saya lakukan dengan seekor anak unta betina?" Lalu Rasulullah Saw bersabda:

'Bukankah semua unta itu dilahirkan oleh unta betina?" (HR. Abu Daud)
Nabi Saw memahamkannya melalui canca bahwa unta itu walaupun sudah besar yang mampu membawa beban berat, ia tecap anak dari unta betina. Dan masih banyak lagi contoh-contoh canda Nabi Saw.
e.   Mengatur pemberian nasihat untuk menghindari rasa bosan
Jabir bin Samurah m berkata, 'Aku melaicukan shalat bersama Nabi Saw maka shalatbeliau itu pertengahan (tidakterlalu panjang ataupun pendek)." (HR. Muslim)
D riwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah Saw tidak memanjangkan nasihatnya pada hari Jum’at, ia hanyalah kalimat-kalimat ringan saja. (HR. Abu Dawud)
Beberapa riwayat juga mengisahkan bahwa Nabi sgjikaberkhotbahtidakterlalu pendek juga tidak terlalu panjang. Beliau juga mengatur jarak (jadwal) pemberian nasihat karena takut membuat bosan.

f.   Membuat nasihat yang sedang disampaikan dapat menguasai pendengar
Al- Irbadh bin Sariyah meriwayatkan, "Rasulullah Saw menyampaikan nasihat kepada kami dengan satu nasihat yang membuat kulit kami terbakar, mata kami berlinang, dan hati kami bergetar. Sampai
kami berkata, 'Seolah ini adalah nasihat terakhir, wahai Rasulullah. Lalu apa yang engkau wasiatkan untuk kami?’ Beliau bersabda:

'Agar kalian bertakwalah kepada Allah, ikutilah sunnahku dan sunnah para khalifah yang memberi dan mendapatkan petunjuk setelahku, dan peganglah kuat-kuat sunnah itu, karena sesungguhnya semua bid'ah itu sesat'." (HR. At-Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar  bahwa Rasulullah Saw membaca ayat ini di atas mimbar pada suatu hari:
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan- Nya. Mahasuci Rabb dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Az-Zumar [39]: 67]
Sambil menggerak-gerakan tangannya ke depan dan belakang, beliau ber-sabda:
 
"Allah mengagungkan diri-Nya sendiri, 'Aku Yang Maha Perkasa, Aku Yang Mahasombong, Aku Yang Mahakuasa, Aku Yang Mahamulia'."

Sampai mimbar itu bergoyang karena Rasulullah Saw, sehingga kami berkata, "Pasti mimbar ini akan roboh. Apakah ia akan jatuh bersama Rasulullah Saw?” (HR. Ahmad dan Muslim]
Seorang da’i pemberi nasihat barulah bisa menguasai dan mempengaruhi pendengar jika ia berniat ikhlas hanya karena Allah, memiliki hati yang lembut, jiwa yang khusyuk, diri yang bersih, dan ruh yang cemerlang. Namun, semua itu tetap dikembalikan kepada Allah Tuhan pengurus alam semesta. Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, Al-Hasan   berkata
bahwa Rasulullah bersabda:
 
"Tidaklah seorang hamba berkhotbah kecuali Allah pasti mempertanyakan kepadanya pada hari kiamat apa tujuan
dirinya berkhotbah."
 Jika Malik menceritakan hadits ini, ia pasti menangis kemudian berkata, "Kalian mengira ucapanku kepada kalian ini membuatku senang? Padahal kelak aku akan ditanya oleh Allah tentang ucapanku itu pada hari kiamat, "Apa tujuanmu dengan ucapan itu?" Maka aku akan menjawab, "Engkau Maha Melihat hatiku, seandainya aku tidak tahu bahwa itu lebih dicintai oleh-Mu, aku selamanya tidak akan mengucapkannya kepada dua orang pun.” [HR. Ibnu Abi Ad-Dunya dan Al-Baihaqi dengan sanad yang mursal yang baik]
Terdapat perbedaan yang besar antara da’i yang berkata dengan lisannya saja, ia perbagus ucapannya untuk memperoleh hati orang-orang, dengan da’i mukmin yang tulus ikhlas dan hatinya tunduk dalam Islam, la berbicara dari hati dan perasaannya yang dalam karena keadaan yang sedang dialami oleh kaum muslimin. Sehingga tidak ragu lagi bahwa yang tipe da’i yang kedua akan lebih berpengaruh dan lebih kuat mendapatkan respons.
Umar bin Dzar berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, mengapa ketika engkau berkata-kata bisa membuat orang menangis, sedangkan jika orang lain yang mengatakannya tidak demikian?” Ia menjawab, "Wahai anakku, perempuan yang menangis karena berduka berbeda dengan perempuan yang sengaja dibayar untuk menangis dan meratap.”
Abu Hurairah. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa yang belajar bicara yang baik untuk meraih hati orang, Allah tidak akan menerima tobat dan tebusan darinya pada hari kiamat" (HR. Abu D.awud)

g. Menyampaikan nasihat dengan memberi contoh
Nabi Saw sering memberi contoh untuk menjelaskan nasihat yang sedang disampaikannya. Contoh yang bersifat konkret yang dapat dilihat dan diraba, agar nasihat tersebut lebih berpengaruh ke dalam jiwa dan lebih melekat di dalam ingatan. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujah, baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al- Qur'an seperti buah tamrah (kurma), tidak wangi namun rasanya manis. Dan perumpamaan pendosa yang membaca AI-Qur'an seperti raihanah, baunya harum tetapi rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan pendosa yang tidak membaca Al-Qur’an seperti hanzhalah, rasanya pahit dan tidak ada harumnya. Dan perumpamaan teman yang shalih seperti pemilik minyak wangi, jika ia tidak memberimu sedikit pun dari minyak wangi itu, namun ia dapat mengenaimu dengan wanginya. Sedangkan perumpamaan teman yang jelek adalah seperti pemilik bakaran pandai besi, jika ia tidak mengenaimu dengan coreng hitamnya, ia dapat mengenaimu dengan asapnya." (HR.Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Dalam perumpamaan yang dibuat Nabi Saw tersebut terdapat dorongan untuk kebaikan dan peringatan dari kejelekan, dengan gaya bahasa yang sangat jelas ditangkap dan dipahami oleh yang mendengarkan.
h.   Menyampaikan nasihat dengan
peragaan tangan
Apabila Nabi Saw ingin menegaskan satu perkara penting, beliau memperagakan kedua tangannya sebagai isyarat pentingnya perkara yang harus mereka perhatikan dan laksanakan. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari m bahwa Rasulullah Saw bersabda:
 "Sesungguhnya perumpamaan mukmin dengan mukmin yang lainnya seperti bangunan, satu sama lain saling menguatkan." Sambil Rasulullah sg menjalinkan jemari (kedua tangannya). (HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad As- Sa'idi bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Aku dan orang yang mengurus anak yatim di surga seperti ini," sambil beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan tengahnya.
Sufyan bin AbduIIah Al-Bajali m berkata, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku perkara yang harus aku jaga." Beliau bersabda:

“Katakanlah, 'Rabbku Allah,' kemudian beristigamahlah."
Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah yang paling engkau khawatirkan terhadap diriku?" Lalu beliau memegang lidahnya sendiri, sambil bersabda, “Ini." (H R. At-Tirmidzi)

i.   Menyampaikan nasihat melalui media gambar dan penjelasan
Rasulullah Saw pernah membuat garis- garis di depan para shahabatnya untuk menjelaskan kepada mereka beberapa pemahaman penting, sehingga mudah dipahami oleh mereka. Diriwayatkan dari AbduIIah bin Mas'ud, "Rasulullah Saw menggambar garis berbentuk persegi empat dan menggariskan lagi garis di tengah-tengahnya yang keluar dari persegi empat tadi. Beliau juga menggariskan lagi beberapa garis kecil yang menuju ke arah garis di tengah-tengah itu. Beliau lantas bersabda:
"Ini adalah manusia dan ini adalah ajal yang meliputi dirinya. Dan garis yang keluar dari kalangan ini adalah angan- angannya, sedangkan garis-garis yang kecil-kecil ini dan yang membentang ini adalah peristiwa dan musibah yang datang tiba-tiba. Jika ia luput dari yang ini, mana ia tentu akan terkena olehyang ini. Dan jika ia luput dari yang ini, maka ia tentu akan terkena olehyang ini. Jika ia luput dari semuanya, maka ia akan tertimpa kelemahan." (HR. Al-Bukhari)
NabiSaw menjelaskan kepada mereka dengan gambar di tanah, bagaimana manusia dengan harapan dan keinginannya terhalang oleh kematian, musibah, atau ketuaan. Ini adalah penjelasan yang sangat indah dari seorang guru utama, Rasulullah
Diriwayatkan dari Jabir, "Kami duduk-duduk bersama Nabi Saw, lalu beliau menggambar satu garis dengan tangannya di tanah. Kemudian beliau bersabda:

"Ini jalan Allah."
Beliau lalu menggambar dua garis di kanan dan dua garis di kiri (dari garis pertama) dan bersabda:
 
"Ini adalah jalan-jalan setan."
Kemudian beliau meletakkan tangannya di garis yang tengah, kemudian membacakan ayat:
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai- 
beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (QS. Al-An‘am [6]: 153]. (HR. Ahmad)
Nabi menjelaskan dengan apa yang digambarnya di tanah tentang manhaj Islam adalah jalan yang lurus yang menyampaikan kepada kemuliaan dan surga. Sedangkan jalan yang lainnya berupa prinsip, aturan, pemikiran (selain Islam] adalah jalan-jalan setan yang berujung pada kehancuran dan neraka.

j.   Menyampaikan nasihat dengan praktik
Nabi Saw memberikan kepada para shahabatnya model hidup dalam metode pengajaran dan pendidikan.
Berikut ini contoh-contoh tersebut:
□ Diriwayatkan dari Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa ada seseorang yang datang kepada Nabi Saw lalu berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana caranya berwudhu?” Beliau lalu meminta air dalam wadah. Beliau kemudian mencuci telapak tangannya tiga kali sampai sempurna. Kemudian beliau bersabda:
 
"Barangsiapa yang lebih dari ini atau kurang, berarti ia telah berlebih-lebihan dan berlaku zalim.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i]
□ Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Saw berwudhu di hadapan sekumpulan orang, kemudian beliau bersabda:
 
"Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian ia shalat dua rakaat,yang di dalam shalat itu jiwanya tidak membicarakan sedikit pun tentang keduniaan, pasti ia diampuni terhadap apa yang telah lalu dari dosanya." (HR. Al-Bukhari)
□ Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw pernah shalat mengimami orang- orang ketika beliau berada di atas mimbar agar mereka melihat semua shalatnya dan mempelajari shalat dari perbuatan beliau yang mereka lihat langsung. Ketika beliau selesai, beliau menghadap orang-orang lalu berkata:
"Wahai manusia, aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan agar kalian mempelajari shalatku." [HR. Al- Bukhari)

k.   Menyampaikan nasihat dengan memanfaatkan momen/kesempatan
Nabi Saw sering memanfaatkan momen dan kesempatan yang tepat untuk menyampaikan nasihat kepada orang yang beliau kehendaki. Hal ini bertujuan agar nasihat tersebut lebih berpengaruh dan lebih mudah dipahami serta diingat. Di antaranya yaitu:
□ Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah Saw berjalan melalui pasar, sedangkan orang-orang ada di sebelah kiri dan kanannya. Kemudian beliau melalui seekor anak kambing yang kecil telinganya dan telah mati. Beliau meraih telinganya, lalu bertanya:

"Siapakah di antara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham?"
Orang-orang menjawab, "Kami semua tidak suka menukarnya dengan apapun dan akan kami gunakan untuk apa itu?”
 
Beliau bertanya lagi:
 
"Sukakah engkau semua kalau ini diberikan saja padamu."
Orang-orang menjawab, "Demi Allah, seandainya kambing itu hidup, ia pun cacat karena kecil telinganya. Maka berapa harganya setelah kambing itu mati?” Kemudian beliau bersabda:

"Demi Allah, niscayalah dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada kambing ini bagimu semua." [HR. Muslim)
□ Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khathab, "Tibalah kepada Nabi tawanan perang, maka ternyata di antara tawanan itu ada seorang perempuan yang memerah susunya untuk memberi minum. Ketika ia mendapatkan seorang   bayi   diantara tawanan, ia mengambilnya lalu memeluknya dan menyusuinya. Nabi Saw, pun berkata
"Apakah menurut kalian perempuan ini akan rela melemparkan anaknya ke dalam api?”
Kami menjawab, "Tidak, dan ia mampu untuk tidak melemparkannya.” Maka Nabi Saw bersabda:
 
"Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada perempuan ini kepada anaknya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

l.   Menyampaikan nasihat dengan beralih kepada yang paling penting
Nabi Saw sering mengalihkan dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain yang lebih penting.
Di antara contohnya adalah hadits yarig diriwayatkan dari Anas bin Malik seseorang bertanya kepada Nabi j|g, "Kapankah Kiamat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:

'Apa yang telah engkau persiapkan untuk Kiamat?"
Laki-laki itu menjawab, "Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah Saw bersabda:

"Engkau bersama dengan yang engkau cintai." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Nabi Saw mengalihkan dari pertanyaan oraag tersebut tentang kapan terjadinya kiamat-yang sebenarnya hanya Allah semata yang tahu-kepada hal yang lebih penting dan lebih perlu, yaitu mempersiapkan amal shalih untuk menghadapi hari tersebut. Sebab, ketika itu semua orang akan disidang di hadapan Allah Swt.

m.   Menyampaikan nasihat dengan menunjukkan perkara yang diharamkan
Nabi Saw pernah membawa sesuatu yang haram dan dilarang di tangannya. Beliau mengangkatnya di depan orang- orang untuk menunjukkannya kepada mereka, selain dengan perkataan juga dengan penglihatan mereka langsung. Hal ini bertujuan agar itu lebih mengena kepada hati mereka dan lebih pasti pengharamannya.
Ali bin Abi Thalib  berkata, "Rasulullah  mengambil selembar kain sutra di tangan kirinya dan emas di tangan kanannya. Kemudian beliau mengangkat keduanya sambil bersabda:

"Kedua benda ini haram untuk laki- laki umatku dan halal untuk kaum perempuannya." (HR. Abu Dawud, An- Nasa'i, dan Ibnu Majah)


Itulah metode-metode terpenting yang telah digunakan oleh guru utama kita, RasulullahSaw dalam memberi petunjuk kepada semua orang. Metode tersebut, sebagaimana yang Anda lihat sendiri, memiliki cara yang bermacam- macam dan sarana yang berbeda-beda. Bahkan, Nabi Saw, sebagaimana yang telah kita lihat, tidak mengkhususkan satu metoce saja dalam membimbing orang dan nengarahkan mereka. Beliau berganti-ganti menggunakannya, dari metode kisah kepada dialog dan bertanya, dari memberi pengaruh yang khusyuk kepada canda yang lucu, dari memberi contoh kepada penjelasan dengan gambar atau memperagakannya dengan tangan, dari nasihat dengan kata-kata kepada nasihat dengan praktik/teladan, dari memperingatkan dengan Al-Qur’an untuk mengambil pelajarannya kepada memanfaatkan momen dan kesempatan, dari pertanyaan yang penting beralih kepada pertanyaan yang lebih penting, dan dari lar angan dengan ucapan kepada larangan dengan memperlihatkan sesuatu yang dilarang tersebut.
Sangat elas bahwa keanekaragaman metode tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam menanamkan informasi dan memberikan pemahaman pada pendengar dan anak. Maka dari itu, pendidik ketika dengan baik menggunakan berbagai metode ter sebut dalam menyampaikan nasihat dan bimbingannya kepada anak atau muridnya, mereka sudah dapat dipastikanbisabelajar,mempraktikkannya, dan terpengaruh langsung. Mereka pun bisa menjadi para da'i kebaikan, pemimpin yang dapat memberikan petunjuk, serta pembela risalah dan jihad. Tidak hanya itu, mereka pun dapat menjadi tiang yang kuat calam menopang terbentuknya masyarakat yang berbudi luhur dan mendirikan negara Islam.
Para pendidik hendaknya menggunakan metode dan cara yang telah digunakan Rasulullah dalam mengarahkan dan memberi nasihat, karena semua itu adalah cara dan metode terbaik dan utama. Sebab, Rasulullah Saw tidak berucap dari hawa nafsunya, melainkan Allah telah mendidiknya dengan pendidikan terbaik, di samping beliau selalu mendapatkan bimbingan dan pertolongan-Nya. Jika demikian adanya, maka semua yang bersumber dari perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Saw adalah hukum untuk umat manusia dan petunjuk untuk mereka sepanjang masa. Cukuplah sebagai bukti itu semua, firman Allah:
 
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah" (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
 
"...Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka." [QS. An-Nisa [4]: 80)
Kita semua harus tahu bahwa pendidik
jika tidak dapat membuktikan apa yang dikatakannya, tidak melakukan apa yang dinasihatkannya, maka tidak ada seorang pun yang akan menerima ucapannya. Tidak akan ada satu pun manusia yang akan terpengaruh oleh nasihatnya. Bahkan, ia akan menjadi bulan-bulanan kritikan se mua orang dan cemoohan mereka.
Karena kata-kata yang tidak bersumber dari hati tidak akan pernah sampai ke hati, dan nasihat yang tidak berasal dari jiwa tidak akan berpengaruh pada jiwa. Anda sendiri telah menyimak sebelum ini, jawaban seorang ayah kepada anaknya ketika ia ditanya, "Wahai anakku, perempuan yang menangis karena berduka berbeda dengan perempuan yang dibayar untuk menangis dan meratap.”
Maksudnya, seorang da'i yang berbicara demi Islam dan keimanannya, tidak sama dengan pemberi nasihat yang munafik.
Akhirnya, setelah Anda mengetahui manhaj Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam cara- cara menyampaikan nasihat, maka yang harus Anda lakukan selanjutnya adalah menguatkan tekad untuk dapat melaksanakannya dan menerapkan semua faedah yang bisa Anda dapatkan dari penggunaan metode-metode tersebut. Sehingga, Anda dapat melihat anak atau murid Anda terbuka hatinya untuk menerima nasihat dan mengikuti kebenaran.
Alangkah baiknya ayah dan ibu pendidikketikamerekaberkumpul dengan anak-anaknya setiap sore, mengisi waktu luang dengan menyampaikan hal-hal baik, penuh hikmah, dan nasihat. Terkadang dengan membacakan kisah, menyanyikan lagu Islami, di waktu lain dengan membaca Al-Qur’an bersama, atau terkadang juga dengan mengadakan permainan kuis. Intinya, mereka menggunakan berbagai metode dan pendekatan sehingga dapat tercapailah tujuan yang ingin dicapai, baik itu pembentukan rohani, mental, maupun akhlak. Tentunya dengan tidak melupakan waktu khusus untuk mengulang kembali pelajaran anak-anak di sekolah dan mengerjakan PR mereka. Begitulah seharusnya pendidik, dapat menggabungkan antara keseriusan dengan canda, menggabungkan antara nasihat dengan anekdot, menyeim-bangkan antara tugas dengan hiburan, sehingga hati merasa tenang bahwa anak-anak telah menghabiskan waktu mereka dengan baik dan bermanfaat.
Jika pendidik melakukan semua itu setiap hari, tidak akan terasa anak-anak yang dididiknya menjadi hamba-hamba Allah yang shalih. Kelak, di tangan mereka dapat terwujud kemenangan Islam.
Alangkah benarnya seorang pendidik ketika ia menerapkan pada anak-anaknya metode Al-Qur’an dalam menyampaikan nasihat. Ia terkadang mengingatkan tentang ketakwaan, terkadang menyampaikan wejangan dan pesan-pesan kebaikan, pada waktu lain memberi semangat, atau juga menggunakan ancaman di kesempatan lain. Begitulah seharusnya penggunaan metode disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Belum lagi menggunakan pengulangan untuk menggerakan emosi dan mempengarui perasaan mereka. Atau menggunakan pendekatan cerita yang disertai dengan penekanan pada pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah tersebut. Di saat yang lain mengarahkan akhlak dengan memberikan pesan-pesan moral dan wejangan kebaikan. Bisa juga dengan menggunakan kalimat penekanan dan penegasan saat memberikan pengarahan tentang Islam. Semua itu sama dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Atau juga dengan memberikan pengarahan sosial melalui pertanyaan pengingkaran. Mungkin juga memberikan pengarahan yang argumentatif yang disertai alasan-alasan yang logis. Atau memberikan pengarahan dengan menggunakan kaidah-kaidah hukum Islam. Dan bentuk pengarahan serta metode lainnya yang bermacam-macam, yang semuanya bersumber dari Al-Qur’an.
Alangkah benarnya pendidik ketika menggunakan manhaj yang digunakan oleh Rasulullah s§§ dalam menyampaikan nasihat. Ketika menceritakan satu kisah, ia tunjukkan pesan-pesan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Saat ia menggunakan pendekatan dialog bersama anak, berupa memberikan pertanyaan dan yang semacamnya, agar anak dapat memahami kebenaran dengan penerimaan yang memuaskan dirinya.
Alangkah tepatnya seorang pendidik, ketika ia mengatur waktu pemberian nasihatnya untuk menghindari rasa bosan pada anak. Saat ia memulai nasihatnya dengan menyebutkan sumpah atas nama Ailah, sebagai penegasan, dan mencampurnya dengan canda untuk
membuat mereka merasa ingin la lagi mendengarkannya.
Benar sekali yang dilakukan seo pendidik, ketika ia mencurahkan sega!a usahanya untuk membuat nasihat yang disampaikan dapat mempengaruhi anak. Saat ia menggunakan peragaan dengs' gambar atau contoh yang dapat diliha: langsung oleh anak, ketika menjelaska- nasihat yang sedang disampaikan. Aga: lebih mudah dipahami dan lebih meleka: dalam ingatan anak.
Tepat sekali yang dilakukan seorang pendidik, ketika ia memperagakan langsung oleh dirinya sendiri kebaikan yang ingin disampaikannya kepada anak. Saat ia memanfaatkan momen untuk menyampaikan nasihat agar memberikan pengaruh yang lebih efektif dan respons yang lebih kuat. Dan metode serta pendekatan lainnya yang dapar digunakan dalam menyampaikan nasihat dan bimbingan.
Intinya, seorang pendidik haruslah menjadikan metode dan pendekatan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai metode dan pendekatan yang digunakannya dalam mendidik. Sebab, Al- Qur’an adalah kitab suci yang berasal dari Allah yang tidak mungkin mengandung kebatilan. Begitu juga As-Sunnah, ia adalah semua yang berasal dari Rasulullah Saw. Semua metode dan pendekatan dalam penyampain nasihat yang bersumber dari As-Sunnah pasti terbebas dari kesalahan. Hal ini disebabkan, beliau adalah utusan Allah yang sudah dijamin terjaga dari kesalahan, yang tidak berkata-kata dari hawa nafsunya, dan seorang manusia

Cukuplah Rasulullah mulia sepanjang masa, karena telah dibuktikan dengan firman Allah tentangnya dengan ungkapan yang kekal dengan memberikan sifat yang sungguh menakjubkan ini. Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al- Qalam [68]: 4] “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadij rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107]
Cukuplah kiranya sebagai penghormatan dan pemuliaan bagi Rasulullah Saw yang berkata untuk dirinya sendiri:
"Allah telah mendidikku dengan pen- didikan yang terbaik."