Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Keluarga 
METODE DAN SARANA MENDIDIK PADA ANAK DENGAN PERHATIAN / PENGAWASAN DAN HUKUMAN
Pages: [1]

(Read 126 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1726
  • Logged

METODE DAN SARANA MENDIDIK PADA ANAK DENGAN PERHATIAN / PENGAWASAN DAN HUKUMAN


Mendidik dengan Perhatian/ Pengawasan
Maksud dari pendidikan dengan perhatian adalah mengikuti perkembangan anak dan mengawasinya dalam pembentukan   akidah,   akhlak,   mental,
dan sosialnya.   Begitu   juga dengan   terus mengecek keadaannya dalam pendidikan fisik dan intelektualnya.
Tidak diragukan bahwa mendidik dengan cara ini dianggap sebagai salah satu dari asas yang kuat dalam membentuk manusia yang seimbang, yaitu yang memberikan semua haknya sesuai dengan porsinya masing-masing, yang sanggup mengemban semua tanggung jawab yang harus dipikulnya, yang melakukan semua kewajibannya, dan yang terbentuk menjadi muslim hakiki sebagai batu pertama untuk membangun fondasi Islam yang kokoh, yang dengannya akan terwujud kemulian Islam. Dan dengan menjadikannya sebagi penopang untuk mendirikan Daulah Islamiyah yang kuat dan kokoh. Dengan kultur, posisi dan eksistensinya, maka bangsa lain akan tunduk terhadapanya.
Islam dengan prinsip-prinsipnya yang holistik dan abadi mendorong para orang tua dan pendidik lainnya untuk selalu memperhatikan dan mengawasi anak- anak mereka di semua aspek kehidupan dan pendidikannya. Berikut ini nash- nash yang mendorong untuk melakukan perhatian dan pengawasan terhadap anak. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim [66]: 6)
Bagaimana pendidik menjaga keluarga dan anak-anaknya dari api neraka, jika ia tidak memerintahkan kebaikan dan melarang kejelekan kepada mereka, juga tidak memperhatikan dan mengawasi keadaan mereka? Ali bin Abi Thalib berkata mengenai firman Allah, "Jagalah diri kalian " yaitu didiklah dan ajarilah mereka. Umar m berkata, “Kalian larang mereka dari apa yang Allah larang untuk kalian, kalian perintah mereka dengan apa yang Allah perintahkan kepada kalian. Maka itulah yang menjadi penjaga antara mereka dan api neraka.”
Allah berfirman:
 
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya ..." (QS. Thaha [20]: 132]
Tidak mungkin diperintah untuk shalat kecuali ketika dalam keadaan lalai dari kewajibannya kepada Allah.
Allah juga berfirman:
 
"...Dan kewajiban ayah memberi makar, dan pakaian kepada para ibu dengar cara makruf..." (QS. Al-Baqarah [2]: 233]
Bagaimana mungkin seorang ayah dapat memberi nafkah kepada keluarga dan istrinya, jika mereka tidak mengawasi keadaan mereka secara jasmani dan kesehatannya?
Begitu pula, terdapat banyak hadits yang menekankan untuk mengawasi dan memperhatikan anak, di antaranya:
□ Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda:

"Dan laki-laki penanggung jawab di keluarganya dan ia akan ditanya tentang tanggung jawabnya itu, dan perempuan penanggung jawab di rumah suaminya dan ia akan ditanya tentang tanggung jawabnya itu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim]
□ Diriwayatkan dari Abu Masbarah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Ajarkanlah anak shalat ketika berusia 7 tahun dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika berusia 10 tahun." (HR. Abu Dawud dan At- Tirmidzi)
□ Rasulullah Saw bersabda :
"Seorang laki-laki mendidik anaknya lebih baik daripada bersedekah satu sha'.’’ (HR. At-Tirmidzi)
□ Diriwayatkan dari Ali bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Didiklah anak-anak kalian dengan tiga perkara: mencintai nabi kalian, mencintai ahlu baitnya, dan membaca Al-Qur'an." (HR. Ath-Thabrani)
□ Abu Sulaiman Malik bin Al-Huwairits berkata, "Kami mendatangi Nabi Saw dan kami adalah para pemuda yang
saling berdekatan usianya. Lalu kami tinggal bersama beliau selama 20 malam. Beliau menduga kami telah merindukan keluarga kami, maka beliau bertanya kepada kami tentang orang-orang yang kami tinggalkan. Kami lantas memberitahukannya, dan beliau sungguh seorang yang pengasih dan penyayang. Kemudian beliau bersabda:
'Kembalilah kepada keluarga kalian, ajarkanlah mereka dan perintahkan- lah mereka, dan shalatlah seperti kalian melihat aku shalat. Lalu apabila waktu shalat telah datang, maka kumandangkanlah azan oleh salah seorang dari kalian dan hendaklah orang yang paling tua dari kalian yang menjadi imam kalian.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Apa artinya, "Laki-laki dimintai pertanggungjawabannya.” Apa maksud, "Perempuan ' ditanyai pertanggung-jawa- bannya." Apa pula arti, "Ajarkanlah, ... pukullah, ...didiklah," dalam hadits di atas? Dan apa makna dari, "Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, ajarkanlah mereka dan perintahlah mereka?"
Bukankah semua itu mengandung arti seorang pendidik harus memperhatikan dan mengawasi anaknya? Sehingga ketika anak melalaikan kewajibannya, pendidik langsung menegurnya. Jika anak terlihat melakukar dosa, pendidik langsung melarangnya. Dan ketika anak memerintah kebaikan, pendidik langsung berterima kasih kepadanya?
Semua sepakat bahwa perhatian dan pengawasan pada diri pendidik merupakan asas pendidikan yang paling utama. Mengapa? Karena dengan cara seperti itu anak selalu berada di bawah pantauan pendidik, mulai dari gerak- geriknya, perkataan, perbuatan, sampai orientasi dan kecenderungannya. Jika pendidik melihat anak melakukan kebaikan, ia langsung memuliakan dan mendukungnya. Jika melihat anak berbuat ke j elekan, p endidik langsung melarang dan memperingatkannya serta menjelaskan akibat bur uk dari perbuatan jelek tersebut. Tetapi sebaliknya, jika pendidik lalai atau pura-pura tidak tahu keadaan anak, maka sudah bisa dipastikan anak akan mengarah kepada penyimpangan yang akhirnya dapat membuatnya hancur.
Guru pertama kita, RasulullahSaw telah memberikan teladan kepada kita, umatnya, dalam perhatian beliau terhadap para shahabatnya. Beliau senantiasa menanyakan keadaan mereka, mengawasi perilaku mereka, memberi peringatan ketika mereka lalai, mendukungnya ketika mereka oerbuat kebaikan, mengasihi mereka yang miskin, mendidik mereka yang masih kecil, dan mengajari yang bodoh di antara mereka.
Berikut ini beberapa contoh perhatian dan pengawasan beliau:
a.   Perhatian Rasulullah Saw terhadap pendidikan sosial
Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Janganlah kalian duduk di jalanan." Maka mereka berkata, "Kami terpaksa, karena hanya itu tempat kami berkumpul untuk berbincang-bincang." Beliau pun berkata, "Apabila kalian tidak bisa kecuali hanya untuk duduk di sana, maka berikanlah pada jalan itu haknya." Mereka bertanya, "Apakah hak jalan itu?" Nabi bersabda ''Tundukanpandangan, menahan diri dari mengganggu orang lain, menjawab salam, memerintah kebaikan, dan melarang kemungkaran." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
b.   Perhatian Rasulullah Saw dalam memberi peringatan dari yang haram
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw melihat cincin pada jari seseorang. Beliau lantas melepaskan
dan meletakkannya sembari bersabda:

"Seseorang dari kalian ada yang sengaja menuju kepada bara api dari neraka, maka ia menjadikannya dalam tangannya.”
Kemudian setelah Rasulullah Saw pergi, kepada orang yang memiliki cincin itu dikatakan, "Ambillah cincinmu. Manfaatkanlah ia [untuk keperluan lain) Orang itu menjawab, "Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengambil cincin ini selamanya. Bukankah ia telah dilemparkan oleh Rasulullah Saw?" [HR. Muslim)
c.   Perhatian Rasulullah Saw dalam mendidik anak
Umar bin Abu Salamah berkata, "Ketika masih kecil, aku berada di bawah pengasuhan Rasulullah Saw- Tanganku pernah bergerak [ke sana kemari) di dalam piring besar, maka beliau berkata kepadaku:
 
Wahai anak, bacalah basmallah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang dekat denganmu’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
d.   Perhatian Rasulullah Saw dalam membimbing orang dewasa
 
Abdullah bin Amir berkata, "Pada suatu hari, ibuku memanggilku dan Rasulullah Saw saat itu sedang duduk di rumah kami. Ibuku berkata, 'Wahai Abdullah, kemari. Aku ingin memberimu sesuatu.' Lalu Rasulullah Saw berkata, 'Apa yang hendak engkau berikan?’ Ibuku menjawab, 'Aku ingin memberinya kurma.' Beliau bersabda:
 
'Seandainya engkau tidak memberinya apa-apa, maka dicatat satu kebohongan untukmu'.” (HR. Abu Daud dan Al- Baihaqi)
e.   Perhatian Rasulullah terhadap pendidikan akhlak
Abu Bakrah meriwayatkan, "Seseorang memuji seseorang di hadapan Nabi Saw. Maka beliau berkata:
 
"Celakalah engkau, engkau telah memotong leher sahabatmu (beliau mengatakan berkali-kali). Barang-siapa yang harus memuji saudaranya maka katakanlah, 'Aku mengira ia begini dan begitu,'jika ia melihat bahwa keadaan (orang yang dipuji itu) demikian, dan Allah lah yang mencukupkan dirinya, dan tidaklah menyucikan seseorang pun di hadapan Allah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
f.   Perhatian Rasulullah terhadap pendidikan mental
Diriwayatkan dari An-Nu‘man bin Basyir bahwa ayahnya membawanya mendatangi Rasulullah Saw, lalu ia berkata, "Aku memberi hadiah anakku ini seorang budak milikku.” Kemudian Rasulullah ig bersabda, "Apakah setiap anak engkau beri hadiah sepertinya?" la menjawab, "Tidak.” Lalu beliau bersabda, "Maka ambillah kembali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Saw bersabda, "Apakah engkau melakukan hal yang sama kepada semua anakmu?” Ia menjawab, "Tidak.” Lalu beliau bersabda:
"Bertakwallah kepada Allah, dan berbuat adillah kepada anak-anakmu."
Lalu ayahku kembali, kemudian mengambil kembali sedekah tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah jgjj bersabda, "Wahai Basyir apakah engkau memiliki anak selain ini?” I a menjawab, "Ya.” Beliau bersabda, "Apakah semuanya engkau beri hadiah seperti ini? Ia menjawab, "Tidak.” Beliau bersabda:
"Kalau begitu janganlah engkau per- saksikan kepadaku, karena aku tidak ingin menjadi saksi dalam kedur- hakaan."

g.   Perhatian RasulullahSaw terhadap pendidikan jasmani
Ketika Rasulullah Saw, melihat seseorang yang minum sekaligus seperti unta, beliau bersabda:

“Janganlah kalian minum sekaligus seperti minumnya unta. Akan tetapi, minumlah dua kali-dua kali dan tiga kali-tiga kali. Dan sebutlah nama Allah jika kalian minum, dan ucapkan  hamdalah jika kalian selesai." (HR. At- Tirmidzi)
Diriwayatkan bahwa Nabi Saw melewati para shahabatnya yang sedang memanah, maka beliau menyemangati mereka dan bersabda kepada mereka:
“Memanahlah dan aku berada bersama kalian semua.” (HR. Al-Bukhari)

h.   Perhatian Rasulullah Saw terhadap dakwah dan memperlakukan orang lain dengan kelembutan
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, "Aku pernah berjalan bersama Nabi Saw. Beliau mengenakan kain Najran yang sisinya kasar. Lalu seorang Arab gunung menghampirinya dan menariknya dengan keras, sampai aku melihat sisi lehernya berbekas oleh sisi selendangnya karena saking kerasnya beliau ditarik. Kemudian orangituberkata/Perintahkanlahseseorang untuk memberiku dari harta Allah yang ada padamu.' Beliau memandangnya, lalu tertawa. Kemudian beliau menyuruh untuk memberinya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Itulah sebagian contoh pengawasan Nabi Saw terhadap generasi yang berdiri di atas petunjuk beliau. Hal ini juga sekaligus contoh yang menegaskan perhatian Nabi Saw terhadap pendidikan, menyelesaikan masalah mereka, memperbaiki keadaan mereka, dan mengangkat derajat mereka.
Seperti yang Anda ketahui bahwa perhatian dan pengawasan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi orang dewasa tetapi juga bagi anak kecil. Tidak terbatas hanya pada salah satu aspek pendidikan saja, melainkan meliputi semua aspek yang terdapat dalam pendidikan, seperti keimanan, pengetahuan, mental, sosial, dan jasmani.
Berikut ini hadits-hadits tentang perhatian dan pengarahan Rasulullah Saw untuk mengangkat derajat perempuan dan memberikan hak-hak mereka:
□ Diriwayatkan bahwa seorang perempuan datang menemui Nabi Saw lalu berkata, "Ayahku telah menikahkanku dengan salah seorang anak saudaranya untuk menutupi kekurangannya, dan aku tidak mau.” Maka beliau mengutus seseorang kepada ayahnya dan memerintahkannya untuk menyerahkan hak perempuan tersebut. Lalu perempuan itu berkata, "Aku telah membolehkan apa yang dilakukan ayahku, namun aku ingin semua perempuan tahu bahwa hak menikah itu bukan milik para ayah.” (HR. An- Nasa’i dan Ibnu Majah)
□ Diriwayatkan bahwa istri Tsabit bin Qais (Tsabit bin Qais adalah seorang muslim yang shalih, berkulit hitam, dan buruk rupa) datang kepada Rasulullah Saw. Ia berkata, "Aku tidak mencela akhlak dan agama Tsabit bin Qais, tapi aku takut kufur (nikmat suami dan tidak memberikan haknya) di dalam Islam." Rasulullah Saw bersabda,
"Apakah engkau ingin mengembalikan kebunnya (maharnya)?” Perempuan itu be 'kata, "Ya." Beliau pun mengutus orang kepada Tsabit, lalu berkata kepadanya, "Ceraikanlah istrinya dengan satu talak." Maka Tsabit pun menalak istrinya. (HR. Al-Bukhari)
□ Diriwayatkan bahwa seorang perempuan bernama Zainab, ia diberi julukan 'juru bicara perempuan’, datang kepada Rasulullah s||. Ia berkata, "Aku diutus oleh kaum perempuan kepadamu. Allah telah mewajibkan jihad untuk kaum laki-laki. Sehingga jika mereka terluka, mereka mendapatkan pahala, dan ika mereka terbunuh mereka tetap hidup di sisi Rabb mereka mendapatkan rezeki. Sedangkan kami, kaum perempuan hanya bisa berdiri di atas mereka. Manakah bagian kami dari pahala itu?" Maka beliau bersabda:
 
"Sampaikanlah olehmu kepada perempuan yang engkau temui bahwa ketaatannya kepada suami dan pengakuannya akan hak suami, sama dengan pahala itu. Namun, sedikit dari kalian yang melakukannya." (HR. Al- Bazzar dan Ath-Thabrani)
Itulah perhatian dan pengawasan Nabi Saw terhadap individu-individu masyarakat yang digariskan untuk para pendidik sebagai manhaj amali (metode praktis] dalam mendidik. Sekaligus seba-gai seruan. untuk para penanggung jawab pendidikan untuk mengerahkan segala kemampuannya dan perhatiannya dalam menggembirakan anaknya dan memberikan perbaikan kepadanya, selainmeninggikankemampuan akal, mental, dan akhlaknya.
Jika perhatian dan pengawa-san dapat berhasil diterapkan pada orang dewasa- sebagamana telah lalu-maka terlebih lag: pada anak kecil. Hal ini dikarenakan, anak kecil memiliki kecenderungan baik, masih dalam keadaan fitrah, dan jiwa yang bersih yang tidak dimiliki orang dewasa. Sehingga mudah untuk diperbaiki dan dibentuk keimanan, akhlak, dan mentalnya. Dengar, catatan, jika tersedia baginya lingkungan yang kondusif dan pendidikan yang luhur, baik itu di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar. Sedangkan pada orang dewasa, pendidik menemukan kesulitan terutama mereka yang keras kepala dan mudah tergoda oleh godaan. Sehingga benar sekali orang yang mengatakan:
Pendidikan itu akan berhasil jika diberikan sejak kecil, dan sulit untuk berhasil saat sudah dewasa.
Karena dahan yang kecil akan mudah dibentuk dan diluruskan, tidak seperti pohon kayu yang sudah tumbuh menjadi besar.
Dari titik tolak yang sudah digariskan dasar-dasarnya oleh Nabi Saw dalam perhatiannya kepada individu dalam masyarakat, perempuan dalam tubuh umat dan anak di dalam keluarga, para pendidik.
oaik itu orang tua maupun guru harus oertekad dan berusaha untuk melakukan lugas mereka dalam mengawasi dan memperhatikan anak-anaknya untuk mempersiapkan generasi muslim yang sejati, membentuk masyarakat yang oerbudi luhur, dan menegakkan negara (siam.
Adapun perkara penting yang harus diketahui oleh pendidik adalah bahwa mendidik dengan pengawasan tidak nanya terbatas pada satu atau dua aspek saja yang terdapat dalam pendidikan. Tetapi juga meliputi seluruh aspek, yaitu iceimanan, akal, akhlak, jasmani, mental, dan sosialnya. Sehingga pendidikan dapat memberikan buahnya dalam menciptakan ndividu muslim yang seimbang dan sempurna, yang dapat memberikan semua naknya sesuai porsinya masing-masing dalam kehidupan.

i. Perhatian terhadap aspek keimanan anak.
Bentuk perhatian terhadap anak dalam aspek keimanan adalah:
□ Pendidik memperhatikan apa yang telah didapatkan anak berupa prinsip, pemikiran, dan keyakinan dari orang yang telah mengajarnya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Jika baik, maka alhamdulillah. Namun jika sebaliknya, maka lakukanlah tugasnya untuk menanamkan prinsip tauhid dan kaidah keimanan agar anak selamat dari paham atheisme dan arahan sekularisme yang berbahaya.
□ Memperhatikan bacaan anak berupa buku, majalah, dan semacamnya. Jika terdapat di dalamnya pemikiran yang menyimpang, atheis, dan upaya kristenisasi, hendaklah pendidik langsung melakukan tugasnya untuk menyita buku dan majalah tersebut. Kemudian jelaskan kepada anak sampai anak merasa puas bahwa buku-buku dan yang lainnya itu dapat merusak keimanan dan keislamannya.
□   Memperhatikan siapa yang menjadi teman anak. Jika teman-teman dan orang- orang yang menyertainya adalah orang- orang atheis, berperilaku menyimpang, dan sesat, maka pendidik berkewajiban untuk memutuskan hubungan mereka. Perkenalkan anak kepada teman-teman yang baik dan shalih, yang bisa membawa pengaruh yang baik pada diri anak.
□   Memperhatikan partai atau organisasi apa yang diikuti anak. Jika itu adalah partai atheis dalam prinsip dan arahannya, atau organisasi yang tidak beragama dalam tujuan dan orientasinya, maka pendidik harus melarangnya dan memberikan penjelasan yang memuaskan kepada anak tentang hal itu. Sehingga anak terlihat sudah kembali kepada kebenaran dan berjalan pada jalan yang benar.

j. Perhatian terhadap aspek akhlak anak
Diantara bentuk perhatian terhadap anak dalam aspek akhlak, adalah:
□   Pendidik memperhatikan kejujuran anak. Jika ia mendapati anak melakukan kebohongan dalam perkataan dan janjinya, bermain kata-kata, serta menampakkan sifat pembohong dan munafik di masyarakat, maka pendidik harus segera mengambil tindakan ketika anak pertama kali berbohong. Tunjukkan kepadanya kebenaran yang seharusnya dan jelaskan secara rinci konsekuensi dari berbohong dan nifak. Sehingga ia tidak pernah lagi mengulangi perbuatannya selamanya. Namun jika pendidik membiarkan dan mengabaikannya, maka anak pasti sedikit demi sedikit terbiasa berbohong, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pembohong.
□   Pendidik memperhatikan sikap amanah pada diri anak. Jika ia mendapati anak mencuri (walaupun hal yang kecil), seperti uang .receh saudaranya atau pena temannya, pendidik harus langsung memperbaikinya. Paham-kan kepada anak bahwa itu adalah haram, karena mengambil barang orang yang bi kan haknya. Selain itu, ia pun harus menanamkan pada diri anak rasa selalu diawasi Allah dan takut kepada- Nva agar anak berubah akhlaknya menjadi baik. Sebab, jika pendidik tidak langsung mengambil tindakan saat itu juga, anak akan terbiasa dengan perbuatan khianat, menipu, dan mencuri. Bahkan, ia bisa saja menjadi seorang pelaku kriminal yang dioenci masyarakat.
□   Memperhatikan anak dalam menjaga lisannya. Jika didapati anak mencela dan mengatakan kata-kata kotor, pendidik dengan bijak harus langsung memper-baikinya dan mengenali sebab yang membuatnya seperti itu, unti./ memutusnya dengan anak. Kemudiar terangkan kepada anak tentang sifat- sifat dan akhlak yang baik dengar cara yang menarik perhatiannya agar ia menyenangi akhlak-akhlak terpuji. Salah satu langkah yang harus dilakukan pendidik dan menjac. perhatiannya agar anak terjaga lisannya adalah menjauhkan anak dar. teman-teman yang tidak baik. Karena dari mereka itulah anak meniru hal-hal yang buruk.
□ Memperhatikan kehendak anak. Artinya, jika ditemukan anak ikut- ikutan menikmati dan mendengarkan musik dan lagu-lagu yang vulgar, laki- laki berdandan seperti perempuan berbaur denganperempuanyangbukan mahramnya, menonton adegan-adegan yang yang tidak senonoh di televisi atau bioskop, dan sebagainya, maka pendidikharus segera memperbaikinya dengan nasihat yang baik. Sesekali disertai ancaman dan penyemangat, dan di lain waktu disertai hukuman. Intinya, dengan segala cara pendidik harus menyelamatkan anak dari kejelekan tersebut, sehingga ia melihat anak yang shalih.
Sungguh bijak dan penuh perhatiannya seorang ayah yang masuk ke kamar anaknya dengan tiba-tiba untuk melihat apa yang sedang ia pelajari, apa yang sedang ditulisnya, dan apa yang sedang dibacanya. Karena, mungkin saja anaknya sedang melihat hal-hal jelek yag tidak diinginkan. Sungguh bijaknya seorang ayah yang ingin memastikan putrinya pergi ke sekolah dan pulang ke rumah, karena mungkin saja putrinya pergi ke tempat yang tidak semestinya. Atau barangkali pergi ,dengan laki-laki yang memiliki niat yang tidak baik terhadapnya.
Tidak sedikit kita mendengar kejadian-kejadian yang menyalahi akhlak terpuji, hubungan tercela antara laki-laki dan perempuan yang memprihatikan. Di sini terlihat bahwa perhatian dan pengawasan merupakan cara terbaik untuk mengungkap keadaan sebenarnya yang mungkin disembunyikan anak. Selain itu juga memberikan gambaran yang sebenarnya tentang akhlak anak dan perilakunya sehari-hari.
Setelah ini semua, pendidik dapat memperbaiki penyimpangan yang terjadi pada diri anak dengan cara yang baik dan efektif, di samping sesuai dengan masalah yang ada. Sehingga pada akhirnya pendidik pasti dapat memberikan solusi pendidikan yang tepat, baik untuk anak, dan menyelamatkannya dari kesalahan.

k. Perhatian terhadap aspek pengetahuan anak:
Dan bentuk perhatian terhadap anak dalam aspek pengetahuan, adalah :
□ Pendidik memperhatikan usaha anak dalam memperoleh pengetahuan dan wawasannya, baik itu yang hukumnya fardhu 'ain maupun fardhu kifayah. Maka dari itu, pendidik berkewajiban untuk memperhatikan apakah anak sudah mempelajari penge-tahuan yang bersifat fardhu 'ain, seperti belajar membaca Al-Qur’an, hukum- hukum ibadah, mana yang halal dan haram, sirah Rasulullah Saw, dan pengetahuan agama lainnya. Semua itu kelak akan ditanyakan, apakah dipela-jari atau tidak. Artinya, Allah akan mempertanyakannya jika melalaikannya.
Pendidik pun jangan sampai melewatkan sarana dan cara yang dapat mengantarkan anak untuk dapat mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan pengamalan dirinya terhadap syariat dan membentuk dirinya menjadi muslim sejati.

Adapun jika berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat fardhu kifayah, seperti ilmu kedokteran, arsitek, dan lainnya, maka pendidik harus memperhatikan ketekunan dan keseriusannya. Sehingga ketika ia lulus dari studinya, ia dapat memberi manfaat untuk umat Islam dengan spesialisasi yang digelutinya. Selain itu ia juga ikut berperan aktif dalam membangun peradaban masyarakat muslim dengan ilmu dan bakat yang dimilikinya.
Kami ingin mengingatkan pendidik agar tidak meremehkan pengetahuan yang bersifat fardhu 'ain di depan pengetahuan yang bersifat fardhu kifayah. Bahkan, ia wajib memprioritaskan pengeta-huan yang pertama daripada yang kedua. Atau minimal menyeimbangkan keduanya.
□ Pendidik memperhatikan kesadaran anak dari aspek keterikatannya dengan Islam sebagai agama dan negara, Al-Qur’an sebagai agama
dan sumber hukum, Rasulullah Saw sebagai pemimpin dan teladan, sejarah Islam sebagai kebanggaan dan kemuliaan, kebudayaan Islam sebagai ruh dan pikiran, serta dengan dakwah sebagai dorongan dan semangat. Itu semua baru bisa terjadi jika pendidik terus memperhatikan anak dan mengarahkannya serta memancing minatnya untuk membaca buku-buku pemikiran, majalah-majalah dakwah, dan siaran-siaran keislaman. Kemu-dian mengarahkannya untuk mendengarkan ceramah keislaman yang menumbuhkan semangat. Lebih baik lagi jika bisa menyediakan perpustakaan khusus untuk anak yang ds dalamnya tersedia buku-buku keislaman dan yang membela Islam serta membantah segala isu terhadap musuh musuh Islam.
Sarana-sarana tersebut sudah bisa dipastikan dapat membentengi anak terhadap rayuan kristenisasi dan godaan kekufuran. Bahkan sebaliknya, ia terdorong untuk bekerja demi Islam dengan semangat keimanan dan keberaniannya menjadi individu yang bermanfaat dalam tubuh masyarakat Islam.
Tidak terbayang sedihnya seorang pendidik ketika mendapati anaknya di sekolah menghafal teori filsafat barat dan tokoh-tokoh besar di timur serta segala pemikirannya, tetapi ia tidak tahu tentang sejarah Islam, kehidupan tokoh-tokohnya, kabar tentang para pahlawan Islam, dan para ulamanya, kecuali hanya sedikit saja. Betapa
sedihnya seorang pendidik, ketika mendapati anaknya sebelum lulus dari sekolahnya sudah terpengaruh oleh budaya asing, pemikiran barat, berbagai aliran sosial, dan anti agama sehingga membuatnya bersikap memusuhi agamanya sendiri, sejarah, dan kemuliaannya.
Di sinilah penyadaran pemikiran memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk muslim sejati. Selain itu juga untuk memberikan gambaran yang utuh tentang Islam bahwa ia adalah aturan hidup dan sumber kemuliaan.
□ Pendidik juga hendaknya memperhatikan kesehatan mental dan pikiran anak. Pendidik harus menjauhkan atau melarang anak dari segala hal yang memberi pengaruh negatif pada pikiran dan mental anak. Sekaligus menjelaskan bahwa hal tersebut berbahaya bagi fisik, pikiran, dan mental.
Berdasarkan hal ini, pendidik harus memperhatikan bahayanya mengonsumsi minuman keras dan narkoba bagi anak, karena dapat merusak tubuh dan menimbulkan kegilaan. Ia juga harus memperhatikan bahayanya masturbasi bagi anak yang dapat melemahkan ingatan, membo-dohkan pikiran, dan gangguan mental lainnya. Pendidik juga harus memperhatikan bahaya merokok yang dapat merusak syaraf, mempengaruhi ingatan, dan melemahkan cara berpikir.
Pendidik juga berkewajiban memperhatikan bahaya pornografi bagi anak, karena dapat melemahkan akal dan secara bertahap merusak pikiran yang bersih. Dengan kata lain, kesehatan akal anak merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan pendidik. Hal ini disebabkan, akal adalah mahkota manusia. Perilakunya yang bijak dan seimbang adalah keistimewaannya. Dengan perhatian yang baik maka kesehatan akal anak dapat terjaga.

l Perhatian terhadap aspek jasmani anak
Adapun bentuk perhatian anak dalam aspek jasmani adalah:
□   Pendidikharusmemperhatikankewajibannya memberi nafkah kepada anak, berupa makanan yang baik, tempat tinggal yang layak, dan pakaian yang hangat. Sehingga secara fisik ia terjauh dari segala macam penyakit.
□   Pendidik memperhatikan cara hidup sehatyang diajarkan Islam, berupacara makan, minum, dan tidur. Mengenai makan, pendidikharus memperhatikan anak agar tidak kekenyangan, makan minum melebihi kebiasaan dan kebutuhannya. Berkenaan dengan minum, pendidik harus memperhatikan cara minum anak agar tidak minum sekaligus, tidak bernapas dalam gelas, dan tidak minum sambil berdiri. Sedangkan mengenai tidur, pendidik harus memperhatikan anak tidur miring menghadap ke kanan, dan tidak langsung tidur setelah makan.
□   Pendidik (terutama ibu) harus memisahkan anggota keluarga yang
sedang sakit menular agar tidak menular kepada anak-anak yang lain.
□ Memperhatikan cara-cara pencegahan penyakit dengan menjaga kesehatan anak, yaitu dengan memberitahukan mereka agar tidak makan buah yang masih mentah, sayuran yang belum dicuci, mencuci tangan sebelum makan, tidak meniup atau bernapas ke dalam wadah, dan cara-cara lainnya yang diajarkan Islam.
□ Memperhatikan kebiasaannya melakukan olahraga, hidup hemat dan sehat, dan tidak tenggelam dalam kenikmatan, agar anak tumbuh kuat secara fisik dan mental.
□ Memperhatikan semua hal yang dapat merusak fisik dan membahayakan kesehatan, seperti mengonsumsi minuman keras, narkoba, rokok, masturbasi, zina, dan homoseksual. Semua itu dapat menyebabkan banyak penyakit berbahaya yang telah diperingatkan oleh para dokter.
Ketika pendidik melihat anak terserang sakit, ia harus dengan sigap membawanya ke dokter untuk diobati. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
"Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurnkan satu penyakit kecuali menurunkan obat untuknya."(HR. Ahnad dan An-Nasa’i)
Jika pendidik melakukan itu semua, berarti ia telah melakukan semua yang diajarkan Islam dalam hal berobat, melakukan pencegahan dari penyakit, dan mengikuti saran-saran untuk menjaga kesehatan. Sehingga tubuh terhindar dari penyakit dan terjauh dari bahaya.

m.   Perhatian terhadap aspek mental anak
Bentuk perhatian terhadap anak dalam aspek mental adalah:
□   Pendidik hendaknya memperhatikan sikap pemalu anak. Jika anak terlihat tertutup dan menjauh dari orangbanyak, maka pendidik harus menumbuhkan keberanian pada dirinya dan keinginan untuk oersosialisasi dengan orang lain.
□   Memperhatikan sifat takut pada anak. Jika anak terlihat penakut dan lari dari kesulitan, maka pendidik harus menumbuhkan kepercayaan diri, keceguhan, dan keberaniannya, sehingga ia mampu menghadapi kehidupan dengan segala permasalahan dan bahaya dengan penuh keridhaan. Khusus untuk ibu, hendaknya jangan takut-takuti anak dengan hantu, gelap, atau menyebutkan makhluk-makhluk aneh lainnya, agar anak tidak menjadi penakut.
□   Memperhatikan sifat minder pada anak. Jika anak tampak merasa minder, pendidik harus dengan bijak mengatasinya, memberinya nasihat yang baik, dan menghilangkan sebab- sebab yang dapat mengarah ke sana. Adapun sebab munculnya minder adalah dari sikap merendahkan dan menghinakan. Oleh karena itu, pendidik harus berbicara dengan anak dengan cara yang baik dan panggil dia dengan nama baik pula.
Jika yang menjadi penyebab-nya adalah keyatiman, maka pendidik harus menghidupkan semangatnya dengan kesabaran dan percara diri dalam membangun pribadi muslim sejati, sehingga anak menemukan jalannya sendiri, bertemu dengan orang dewasa atau orang kaya yang mau mengadopsinya.
Jika yang menjadi penyebabnya adalah iri, maka pendidik harus mengatasinya dengan rasa cinta dan mewujudkan keadilan dalam memperlakukannya dengan saudara-saudaranya yang lain, serta menghilangkan semua hal yang dapat memicu timbulnya rasa iri.
□ Pendidik harus memperhatikan sifat marah pada anak. Jika anak didapati marah karena beberapa sebab, maka pendidik harus bisa mengatasinya dan menghilangkan sebab-sebabnya:
Jika ia marah karena sakit, maka pendidik harus segera membawanya ke dokter.
Jika ia marah karena lapar, maka pendidik harus segera memberinya makan pada waktu yang sesuai.
Jika marah karena mendapat teguran yang tidak benar, maka pendidik harus menghindari kata-kata merendahkan dan meremehkan ketika menasihatinya.
Jika marah karena sudah ter-biasa dimanja dan mendapatkan yang diinginkannya, maka pendidik harus memperlakukannya dengan biasa-biasa ;aja dan membiasakannya untuk hidup lemat dan sederhana.
Jika anak marah karena ejekan dan olokan, maka pendidik harus menjauhkannya dari semua itu.
Para pendidik pun harus merujuk kepada kaidah-kaidah Islam dalam meredakan marah  dan mengajarkan anak-anaknya sehingga mereka bisa meredakan marahnya ketika mereka sedang marah dan menahan diri ketika mereka terpancing untuk marah.

n.   Perhatian terhadap aspek sosial anak
Bentuk perhatian terhadap anak dalam aspek sosial, yaitu:
□ Pendidik harus memperhatikan anak, apakah ia sudah melakukan kewajibannya kepada orang-orang, jika ia mendapati anak kurang memperhatikan kewajibannya sendiri, kepada ibunya, saudara-saudaranya, tetangganya,gurunya, atau kepada orang yang lebih tua, maka pendidik harus menjelaskan kepadanya kelalaiannya tersebut dan akibat dari melalaikan kewajiban. Hal ini, bertujuan agar anak memahami kesalahannya dan tidak lagi melalaikan kewajibannya yang berkaitan dengan hak orang lain serta memperhatikan tanggung jawab yang ada pada dirinya. Memberikan perhatian yang sempurna kepada anak dapat menjadikannya tumbuh menjadi manusia yang penuh kesadaran, cerdas, dan berakhlak yang memberikan semua hak sesuai dengan porsinya tanpa meremehkan satu pun juga.
□   Pendidik memperhatikan etika berkumpul dengan orang lain pada diri anak. Jika terlihat anak melalaikan itu, seperti ketika sedang makan, bercanda, berbicara, bersin, melayat yang terkena musibah, atau etika berkumpul lainnya. Maka dari itu, pendidik harus berusaha mengajarkan kepada anak etika-etika Islam dan membiasakannya sehingga menjadi kebiasaan pada diri anak.
Dengan pengajaran yang berkesinambungan, hal ini dapat menjadikan anak tumbuh menjadi manusia yang selalu melakukan kewajibannya untuk menghormati orang lain dan menjaga sopan santun dengan sepatutnya.
□   Memperhatikan sikap simpati anak terhadap orang lain. Jika ditemukan anak bersikap egois, pendidik harus mengajarkannya sikap mendahulukan orang lain. Sedangkan jika anak cenderung membenci orang lain, pendidik harus menanamkan pada diri anak benih-benih kecintaan. Jika pendidik mendapati anak tidak menghalalkan yang halal dan tidak mengharamkan yang haram, maka perintahkanlah anak untuk bertakwa dan mengingatkannya akan siksa Allah di dunia dan akhirat. Sehingga tertanam 
dalam dirinya keyakinan selalu diawasi Allah dar rasa takut kepada-Nya.
Jika pendidik mendapati anak tertimpa musibah atau sakit, maka tanamkan pada dirinya sikap ridha terhadap takdir. Dengan cara itu semua, pendidik dapat menanamkan dalam diri anak ;emua prinsip yang berkaitan dengan kejiwaan, seperti keimanan, ketakwaan, dan perasaan selalu dilihat Allah. Menanamkan dalam diri anak sikap mendahulukan orang lain, rasa cinta, dan kasih sayang. Sehingga, ketika anak tumbuh dewasa, ia dapat menjalankan semua kewajibannya, baik kepada Allah, dirinya sendiri, maupun h amba-hamba Allah yang lain. Ia menjadi manusia yang utuh, berakal, bijak, dari selalu menghormati orang lain.

o.   Perhatian terhadap aspek ruhani anak
Bentuk pe rhatian terhadap anak dalam aspek ruhani, adalah:
□ Pendidik memperhatikan sikap selalu merasa dilihat Allah pada diri anak, yaitu dengan menyadarkan anak bahwa Allah selalu melihat dan mendengarnya. Dia juga mengetahui apa yang ditampakkan dan disembunyikan, serta tidaK ada satu pun di seluruh alam semesta ini yang tersembunyi dari Allah Selain menanamkan pada diri anak iman kepada Allah dan kuasa- Nya, dan berserah diri secara totalitas kepada-Nya. Jika sudah demikian, anak akan merasakan selalu dilihat Allah ketika ia sedang bekerja, berpikir, dan merasa. Dan anak sangat memerlukan bimbingan seperti ini sejak ia masih kecil.
□ Pendidik juga harus memperhatikan kekhusyukan dan ketakwaan anak kepada Allah. Yaitu, dengan cara membukakan mata anak akan ke- Maha Agung-an Allah dalam segala hal yang tak terhitung jumlahnya, yang merupakan ciptaan Allah yang luar biasa.
Semua itu dapat membuat hati menjac; khusyuk [tunduk) kepada keagungan Allah, jiwa menjadi tumbuh ketakwaan dan penghambaannya kepada Allah, Bahkan, dari situlah lahirnya rasa nikmat dalam ketakwaan dan manisnya ibadah kepada Allah, Rabb semesta alam.
Adapun hal yang dapat menguatkan kekhusyuan dan ketakwaan anak adalah mem-biasakannya [saat anak sudah mengerti dan bisa berpikir) khusyuk dalam shalat dan merasa haru dan menangis saat mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika hal itu dibiasakan sedikit demi sedikit, sudah bisa dipastikan ia akan tumbuh menjagi insan rabbani yang tidak merasa takut dan juga tidak merasa bersedih hati [kecuali hanya kepada Allah). Ia termasuk hamba- hamba Allah yang shalih dan termasuk kelompok yang difirmankan Allah dalam ayat-Nya ini:
 
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus [10]: 62-63)
□ Pendidik harus memperhatikan praktik ibadah anak, yaitu dengan memerintahkannya shalat saat berusia 7 tahun. Hal ini sebagai pengamalan sabda Rasulullah Saw: "Perintahlah anak-anak kalian shalat saat mereka berusia 7 tahun." (HR. Al- Hakim dan Abu Dawud)
Begitu juga dengan ibadah puasa, sebagai pengqiyasan terhadap ibadah shalat. Biasakan anak melakukan puasa Ramadhan sejak kecil jika ia mampu. Bawa serta anak untuk ikut melaksanakan ibadah haji jika orangtua mampu. Selain itu juga membiasakan anak berinfak di jalan Allah walaupun hanya beberapa lembar uang kecil, agar anak terbiasa untuk melakukan zakat saat ia sudah memasuki usia taklif.
Di samping itu semua, pendidik harus menemani anak pergi ke majelis- majelis dzikir dan ibadah, mengikuti
halaqah ilmu dan fikih, menghadirkan guru belajar membaca Al-Qur'an dan tafsiruntuknya,danmemperdengarkan kepadanya perkataan-perkataan para ulama rabbani yang tulus. Pendidik harus melakukan itu semua, sampai anak terbiasa dengan ibadah, hatinya selalu tenang dengan dzikir kepada Allah, tersentuh ketika mendengar sirah orang-orang shaleh, dan tergerak perasaannya saat mendengar kisah para shahabat Rasulullah Saw.
□ Pendidik memperhatikan mujahadah psikologi dan ruhiyah (spiritual) pada diri anak, hingga sejauh mana ia mampu dan terpengaruh. Di samping memperhatikan keseimbangan pendidikananak,antaramu;ahadahruhiyah dan dakwah serta siyasah (politik). Sehingga anak memiliki kepeduliaan untuk memerangi kezaliman dan kekufuran, sebagaimana ia menyadari kewajibannya memerangi hawa nafsu. Karena, jika pendidik melalaikan kewajibannya berdakwah, berjihad baik melalui politik maupun berperang, j uga ke waj ib annya amar makruf nahi munkar pada anak, maka ia akan menjadi manusia yang menyendiri dan pasrah dengan keadaan yang ada. Ia akan lari dari peperangan (ketika telah terjadi) dan tunduk saja pada penguasa yang diktator dan zalim.
Keseimbangan antara jihad nafsi dan jihad siyasah adalah yang mendorong anak untuk memberikan semua haknya masing-masing dalam kehidupan, melaksanakan kewajibannya kepada Allah dengan merasa selalu diawasi
dan rajin beribadah, melakukan kewajibannya kepada Islam dalam menegakkan hukumnya di muka bumi, memerangi thaghut yang menentang hukum Islam. Maka di sini anak telah menyatukan antara Al-Qur’an dengan pedang, agama dengan negara, dan ibadah dengan siyasah.
Benarlah apa yang disenandungkan dalam sebuah sya'ir:
Pemuda-pemuda menelusuri jalan- jalan kemuhaan
Dan mereka tidak mengenali kecuali
Islam sebagai agama
Apabila mereka di tengah medan
tempur mereka bagaikan singa-singa
Yang meluluhlantakkan benteng-
benteng penahanan
Dan jika malam telah gelap gulita
mereka tidak berada
Melainkan mereka dalam kerinduan
sujud dan berserah diri kepada Rabbnya
Demikianlah Islam mengaluarkan pemeluknya
Pemuda-pemuda suci, merdeka dan dapat dipercaya
□ Pendidik memperhatikan anak dalam mempraktikkan doa-doa ma’tsurat , yaitu dengan mengajarkan anak untuk menghafal coa-doa penting, berupa doa pagi dan petang hari, doa tidur dan bangun tidur, doa makan dan selesai makan, doa masuk dan keluar rumah, doa mengenakan dan melepaskan pakaian, doa bepergian, doa istikharah,
doa turun hujan, doa melihat hilal, doa ketika sakit, doa ketika bersedih, dan doa-doa lainnya yang terdapat dalam hadits-hadits shahih.
Jika pendidik memperhatikan anaknya dengan mengajarkannya doa-doa ma'tsurat, menyuruhnya untuk meng- hafalkannya dan mempraktekkannya, maka anak akan bertambah rasa takutnya kepada Allah dan bertambah kuat ketakwaannya. Semua itu adalah faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam pendidikan keimanan dan akhlak anak, pembentukan rohani, mental, dan sosialnya. Sehingga anak memiliki sikap istiqamah, baik dalam perkataan maupun perbuatannya.
Sungguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair dalam membangkitkan perasaan muraqabah Allah Azza wa Jalla:
Jika suatu saat engkau berada seorang diri maka janganlah mengatakan Bahwa engkau seorang diri akan tetapi katakanlah bahwa engkau ada yang mengawasi
Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah pada suatu saat lalai Dan tidak mengetahui apa yang tersembunyi
Itulah manhaj Islam dalam mendidik dengan perhatian dan pengawasan. Ini adalah manhaj yang lurus, yang jika asas dan ajarannya dipraktikkan, anak Anda pasti menjadi penyenang hati bagi Anda, anggota masyarakat yang shalih, yang bermanfaat bagi umat Islam. Berikanlah porsi yang besar perhatian dan pengawasan Anda terhadap anak
Anda. Temanilah anak Anda dengan oleh syariat yang menjadi hak Allah dan jiwa, pikiran, dan perhatian Anda.   kewajiban bagi hamba-Nya. Di antaranya:

Perhatikanlah keimanannya, rohaninya, akhlaknya, praktik ibadahnya, sosialisasinya dengan yang lain, mentalnya, emosinya, dan segala hal yang berkaitan dengan anak Anda. Agar anak Anda menjadi seorang laki-laki sejati yang beriman dan bertakwa, hormat kepada yang lain, dan mendapatkan tempat yang baik di tengah masyarakat. Semua hal itu pasti menjadi kenyataan, jika Anda dengan baik mendidiknya dan melaksanakan segala tanggung jawab sebagai pendidik terhadapnya.


Mendidik Dengan Hukuman
Hukum-hukum yang terdapat dalam Syariat Islam mencakup prinsip-prinsip yang holistik yang mengandung perkara- perkara penting yang tidak mungkin manusia dapat hidup tanpanya. Para ulama ijtihad dan ushul fiqh merangkumnya ke dalam 5 perkara yang dinamakan adh- dharuriyat al-khams (lima hal yang primer) atau al-kulliyat al-khams, yaitu: menjaga agama, jiwa, kehormatan, akal, dan harta. Mereka mengatakan bahwa hukum dan prinsip yang terdapat di dalam Islam bertujuan untuk menjaga lima hal yang primer di atas.
Begitu pula dengan adanya hukuman bagi yang melanggar syariat adalah untuk menjaga lima perkara primer tersebut.
Hukuman-hukuman ini dalam syariat disebut dengan had dan ta'zir. Had adalah hukuman yang ditentukan kadarnya
a.   Had irtidad (hukuman had bagi yang murtad)
Hukuman had bagi orang yang murtad adalah dibunuh, jika ia tetap dalam kemurtadannya setelah diminta untuk bertobat. Setelah dibunuh, jenazahnya tidak dimandikan, tidak dikafani, tidak dishalatkan, dan tidak dikubur di pekuburan kaum muslimin.
Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah Saw, bersabda:

"Tidak halal darah seorang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga perkara ini: pezinayang sudah menikah, jiwa dibayar jiwa (qishash), dan orang yang meninggalkan agama-nya yang berpisah dari jamaah." (HR. Ahmad)
Dalam riwayat lain dikatakan:
"Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia."

b.   Had membunuh jiwa
Hukuman bagi orang yang membunuh adalah dibunuh jika ia membunuhnya dengan sengaja.
Hal ini sebagaimana firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita ..." (QS. Al- Baqarah [2]: 178)

c.   Had mencuri
Hukaman bagi pencuri adalah dipotong tangannya sampai pergelangan, jika ia mencuri bukan karena terpaksa.
Sebagaimana firman Allah:
 
“Laki-lakiyang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al- Ma’idah [5]: 38)

d.   Had menuduh berzina
Hukuman bagi orang yang menuduh berzina adalah didera 80 kali deraan dan kesaksiannya tidak lagi diterima.v
Hal ini sebagaimana firman Allah Swt
 
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik [berbuat zinaj dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya, dan mereka Itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur [24]: 4)

e.   Had zina
Adapun hukuman bagi pezina adalah didera 100 kali deraan jika yang melakukannya belum menikah, dan dirajam sampai mati jika sudah menikah.
Hukuman ini berdasar kepada firman Allah:

"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera..." (QS. An-Nur [24]: 2)   
Menurut Imam Asy-Syafi'i, orang yang berzina tersebut harus diasingkan selama setahun, baik itu perempuan maupun laki- laki tanpa dibedakan, berdasar kepada sunnah. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, diasingkan selama setahun tidaklah wajib. Menurutnya, itu hanya termasuk dalam bab siyasah syar'iyyah (kebijakan hakim yang berdasar kepada syariah}.
Adapun hukuman rajam sampai mati, berdasar kepada hadits Ma'iz bin Malik dan perempuan Al-Ghamidiyah H, maka Rasulullah sg memerintahkan untuk merajamnya karena mereka berdua sudah menikah.

f. Had bagi yang berbuat kerusakan dimuka bumi
Adapun hukuman bagi orang yang mengadakan perusakan di muka bumi adalah dibunuh, disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara silang, atau juga diasingkan.
Menurut jumhur ulama (di antaranya Asy-Syafi'i dan Ahmad) bahwa perampok jika mereka membunuh dan merampas harta, maka mereka diberi hukuman dibunuh dan tidak disalib. Namun, jika mereka merampas harta dan tidak membunuh, maka mereka dipotong tangan dan kakinya secara silang (tangan kanan dan kaki kiri). Jika mereka membuat ketakutan di jalan dan tidak merampas harta, maka mereka diasingkan dari tempat itu. Pendapat ini mendekati pendapat Abu Hanifah. Sebagian ulama berkata bahwa Abu Hanifah berpendapat untuk memilih hukuman yang sesuai dengan maslahat.
Dalilnya adalah firman Allah:
"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar." (QS. Al-Ma’idah [5]: 33)

g. Had meminum minuman keras
Sedangkan hukuman bagi peminum minuman keras adalah didera sebanyak 40 sampai 80 kali. Hal ini berdasarkan riwayat bahwa para shahabat menentukan hukuman pukulan sebanyak 40 kali bagi yang meminum minuman keras pada zaman Rasulullah
Asy-Syaukani meriwayatkan bahwa Nabi mendera peminum minuman keras dengan dua pelepah kurma sebanyak40 kali. Abu Sa'id meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw memukul orang yang meminum khamr sebanyak 40 kali.
Adapun 80 kali deraan: hukuman ini merupakan usulan Umar ags. Ia meminta saran kepada para shahabat dan mereka menyarankan untuk menjadikan hadnya menjadi 80 kali. Hal ini disebabkan, mereka melihat sebagian orang tidak berhenti meminum khamr. Dalam hal ini, mereka memiliki argumen untuk itu. Diriwayatkan dari Ali sg, "Seseorang jika meminum khamr, pasti mabuk. Dan jika mabuk, ia mengigau. Dan jika mengigau, ia pasti mengada-ada.” Maka mereka mengqijmskannya kepada had menuduh orang be rzina. Lantas setelah musyawarah tersebut, Umar gga menentukan had bagi peminum minuman keras sebanyak 80 kali, dar yang sebelumnya 40 kali.
Jadi, had peminum minuman keras itu adalah 40 kali. Meski demikian, seorang imam/hakim dapat menambahkannya sampai 80 kali, jika 40 kali tidak membuat jera bagi sebagian orang, sebagaimana yang dilakukan Umar m.
Adapun ta'zir, yaitu hukuman yang tidak ditentukan ukurannya (oleh syariat) yang wajib dilakukan sebagai hak Allah atau manusia, dalam setiap maksiat yang tidak termasuk pelanggaran had dan tidak juga kifarat. Contohnya seperti hukuman sebagai teguran/pencegahan dan sebagai pendidikan yang mengandung maslahat untuk umat.
Jika hukuman ta'zir ini tidak ditentukan ukurannya, maka hakim boleh menentukan hukuman tersebut yang dipandangnya sesuai dengan kesalahan yang dilakukan. Bisa berupa teguran, pukulan, dipenjara, atau juga penyitaan yang kadar hukumannya tidak sampai ukuran hukum had.
Semua sepakat bahwa Islam telah mensyariatkan hukuman-hukuman tersebut, berupa had dan ta'zir, demi mewujudkan kehidupan yang aman dan tenteram. Sehingga seseorang tidak akan bisa menyakiti orang lain, tidak akan ada diktator yang bertindak semena-mena kepada yang lemah, dan yang kaya tidak akan berkuasa seenaknya kepada yang misikin. Semua orang di hadapan Islam adalah sama, orang Arab tidak akan diutamakan daripada orang asing, yang putih tidak akan diutamakan daripada yang hitam, kecuali karena ketakwaannya. Inilah makna dari firman Allah:

"Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." [QS. Al-Baqarah [2]: 179)
Ini juga maksud dari sabda Rasulullah

"Demi Dzat yang diri Muhammad ada pada kuasa-Nya, jika Fathimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya." (HR. Al-Bukhari)
Hukuman apapun bentuknya, apakah itu hukuman qishash atau ta'zir, itu adalah solusi yang pasti dan tegas untuk mengatasi masalah bangsa dan umat, serta menjaga keamanan dan kestabilan. Bangsa yang hidup tanpa adanya hukuman bagi orang yang melakukan kejahatan adalah bangsa yang hedonis dan menyimpang. Mereka hidup dalam kekacauan sosial yang tidak pernah berhenti, tenggelam dalam kriminalitas yang kontinu. Contoh yang paling jelas adalah Amerika. Para ahli pendidikan modern, kebanyakan dari mereka menghindari pemberian hukuman dan membenci penyebutannya di lisan.

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1726
  • Logged
Bahkan, mereka menyebarkan pandangan mereka itu dan menetapkannya dalam peraturan untuk menjamin orientasi pemikiran mereka itu. Namun ternyata, akibatnya adalah di hadapan mereka tumbuh satu generasi yang menyimpang dan lemah dari mengemban tanggung jawab, senang membuat kerusakan, dan tindak kriminal. Inilah yang melatarbelakangi presiden Kennedy mengeluarkan pernyataan pada tahun 1962 yang berisi:
Masa depan Amerika sedang terancam, karena generasi mudanya lemah, rusak, dan tenggelam dalam hawa nafsunya. Mereka tidak mampu mengemban tanggung jawab di pundaknya. Dari 7 pemuda yang mengajukan diri untuk wajib militer, 6 di antaranya tidak layak. Hal ini disebabkan, lepasnya mereka dari tanggung jawab dan moral, serta fisik dan mental mereka pun telah rusak.
Belum lagi adanya tindak kriminal mafia di Amerika, semuanya mengancam jiwa, harta dan kehormatan, serta mengancam keamanan dan stabilitas negara. Semua itu disebabkan menganggap remeh hukuman, orientasi pendidikan yang lunak, dan toleransi yang melebihi batas. Para pelaku kriminal dibiarkan tanpa diberikan hukuman yang tegas dan menjerakan.
Ketika Allah menetapkan hukumanbagi para hamba-Nya, maka Dialah yang paling mengetahui dengan apa yang ditetapkan- Nya itu. Seandainya menurut Allah hukuman itu tidak dapat mewujudkan keamanan dan kestabilan bagi individu dan masyarakat, pasti Allah tidak akan mensyariatkan hukum had bagi mereka. Dia juga tidak akan menetapkan hukuman yang keras dalam syariat-Nya. Maka dari itu, hukuman itu sebenarnya adalah solusi yang manjur untuk membersihkan masyarakat dari tindakan kriminal para perusak, pengkhianat, dan orang-orang yang zalim.
Sejarah telah membuktikan bahwa penerapan hukuman Islam oleh para khalifah menyebabkan angka kejahatan tidak pernah mencuat dan jarang sekali terdengar kejadian pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, pesta miras, atau adanya ajakan secara terang-terangan untuk menganut akidah bathiniyah dan aliran sesat lainnya. Mengapa? Karena, mata negara selalu tetap terjaga, hukum had syariah diterapkan, adanya kerja sama dalam menghidangkan kemungkaran, dan para pelaku kerusakan diberi hukuman yang setimpal. Bahkan, seorang hakim di masa tersebut (terlebih Khulafaur Rasyidin) duduk di tempatnya selama dua tahun tanpa ada seorang pun yang mengadukan dakwaan kasus. Karena, penjahat yang ingin melakukan kejahatan, jika tidak memiliki keimanan yang kuat dan rasa takut kepada Allah yang besar, ia pasti berpikir seribu kali dengan adanya hukuman kerasyangmenantinyayangtelah ditetapkan Islam. Sehingga ia menghindar dari membunuh, karena tahu ia akan dibunuh sebagai hukumannya, la juga akan menahar diri dari mencuri, kareta tahu hukumannya potong tangan. Ia akan menjauhi ber-zina, karena tahu ia akan dirajam atau didera sebagai hukumannya. Ia tidak akan mendakwahkan keyakinan yang kafir, karena tahu ia akan dipotong dan dihukum mati. Begitulah semua orang menjauhkan diri dari kejahatan sosial, karena takut akan hukumannya yang keras.
Kita juga harus membedakan antara hukuman yang menjadi wewenang negara dan hukuman yang harus diterapkan oleh orang tua di keluarga atau guru di sekolah. Hukuman yang sampai dakwaannya kepada negara, jika berupa pelanggaran hukum had, seorang hakim tidak boleh membiarkannya dan menganggapnya remeh, la juga tidak boleh menerima permohonan ampunan agar hukuman itu tidak diberikan. Dalilnya adalah bahwa Rasulullah menolak dengan tegas permohonan ampunan dari Usamah bin Zaid untuk seorang perempuan Al-Makhzumiyah yang telah mencuri. Kemudian beliau berkhotbah di tengah masyarakat dan memperingatkan mereka tentang binasanya kaum-kaum terdahulu disebabkan ketidakadilan mereka dalam menjalankan hukuman. Rasulullah Saw bersabda:
 
"Yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian (Bani Israil) adalah apabila ada orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya (tidak dihukum). Dan apabila orang lemah di antara mereka mencuri, mereka menegakkan hukum kepadanya. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku pasti memotong tangannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kemudian beliau memerintahkan untuk memotong tangan perempuan Al- Makhzumiyah tersebut.
Jika pelanggaran itu termasuk kepada hukuman ta'zir, maka hukuman wajib ditegakkan. Sedangkan ukurannya dikembalikan kepada pendapat hakim yang menurutnya sesuai dengan mas-lahat. Yaitu, berkisar antara teguran, pukulan, penahanan, sampai penyitaan.
Hukuman tersebut berbeda-beda tergantung kepada usia, pengetahuan, dan strata sosialnya. Di antara mereka ada yang cukup dengan nasihat yang lembut, ada yang harus diberi teguran keras, ada juga yang tidak mempan kecuali dengan pukulan tongkat, ada juga yang baru jera ketika dipenjarakan, dan sebagainya.
Sedangkan hukuman yang diterapkan pendidik di rumah atau sekolah, tentu berbeda secara kuantitas, kualitas, dan caranya dengan hukuman yang diterapkan negara kepada masyarakat.
Berikut ini cara yang diajarkan Islam dalam memberi hukuman kepada anak:
□ Bersikap lemah lembut adalah hal yang pokok dalam memperlakukan anak
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad:
 
"Hendaklah engkau bersikap murah hati dan jauhilah kekerasan dan kekejian."
 
“Berbuat ariflah kalian dan jangan bertindak keras."
Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari m bahwa Nabi Saw mengutus Abu Musa dan Mu'adz ke Yaman. Beliau lalu bersabda kepada mereka berdua: "Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, dan berilah pengajaran dan jangan membuatnya lari." (HR. Muslim]
Diriwayatkan oleh Al-Harits, Ath- Thayalisi, dan Al-Baihaqi:
 
“Beritahukanlah dan jangan membuat takut, karena orang yang memberitahukan itu lebih baik daripada yang bertindak kasar
Maka pengarahan ini haruslah diprioritaskan karena anak harus lebih diperhatikan dan dikasihi. Di antara hal yang menegaskan keharusan memperlakukan anak dengan lemah lembut adalah sikap lemah lembut Rasulullah   kepada anak-anak.
Tentang hal itu sudah kami sebutkan dalam pembahasan Mendidik dengan Keteladanan, tentang perhatian beliau terhadap anak-anak, kasih sayangnya, kelemah-lernbutannya, dan candanya kepada mereka. Silakan Anda lihat kembali.
□ Memperhatikan karakter anak yang melakukan -cesalahan dalam mem-beri hukuman
Anak-anak memiliki kecerdasan dan respons yang berbeda-beda, sebagaimana berbedanya watak antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Di antara mereka ada yang memiliki watak pendiam, ada yang temperamen, dan ada juga yang seimbang antara pendiam dan temperamen. Semua itu kembali kepada keturunan/gennya, pengaruh lingkungan, dan faktor- faktor pertumbuhan serta pendidikan.
Di antara anak-anak ada yang cukup dengan pandangan masam untuk menegur kesalahannya. Ada juga yang perlu ditegur dengan kata- kata. Dan terkadang pendidik harus menggunakan pukulan untuk memberi hukuman pada anak, ketika nasihat dan tegurar sudah tidak mempan.
Para ahli pendidikan Islam [seperti Ibnu Sina Al-‘Abdari, dan Ibnu Khaldun) be rpendapat bahwa pendidik tidak boleh memberi hukuman, kecuali dalam keadaan terpaksa. Ia juga tidak boleh menghukum dengan pukulan, kecuali setelah sebelumnya memberi anca-man, untuk memberikan pengaruh yang diinginkan dalam memperbaiki kesalahan anak dan membentuk akhlak dan mentalnya.
Ibnu Khaldun menerangkan dalam Muqaddimahnya bahwa kekerasan pada anak akan membuatnya menjadi lemah dan penakut, ser-ta lari dari kesulitan hidup. Ia mengatakan:
Siapa saja yang dididik dengan keras dan paksaan, baik dari kalangan pelajar, budak, maupun pelayan, akan membuatnya merasa sempit, hilang semangatnya, menjadi malas, dan terdorong untuk berbohong. Hal ini disebabkan ia takut terkena hukuman. Dampaknya, kecenderungan itu menjadi kebiasaan dan akhlaknya, serta merusak sifat kemanusiaan pada dirinya.
Ibnu Khaldun menerangkan dengan panjang lebar mengenai efek negatif dari bersikap keras dan kasar kepada anak. Ia mengatakan:
Orang yang diperlakukan dengan kasar akan menjadi beban bagi yang lain, karena ia menjadi lemah untuk membela kehormatan dan keluarganya. Ia tidak punya semangat dan antusias untuk meraih keutamaan dan akhlak yang terpuji. Selanjutnya, jiwanya berubah dari tujuannya dan sifat kemanusiaannya.
Semua yang disebutkan Ibnu Khaldun ini sesuai sekali dengan arahan Nabi JH yang telah disebutkan sebelumnya tentang sikap lemah lembut, murah hati, dan lunak. Selain itu juga selaras sekali dengan perlakuan beliau yang penuh dengan kasih sayang terhadap anak- anak. Sangat cocok pula dengan solusi bijak Nabi jig dalam menghadapi segala masalah manusia dan masyarakat
dengan perbedaan usia dan strata sosial mereka. Bahkan, generasi salaf dan mereka yang berkedudukan tinggi, mendidik dan memperlakukan anak mereka dengan bijak, murah hati, dan lemah lembut. Mereka tidak langsung memberikan hukuman, kecuali setelah tidak mempan dengan nasihat dan teguran.
Di dalam banyak buku sejarah tercatat bahwa Khalifah Ar-Rasyid meminta kepada Al-Ahmar, pendidik anaknya, untuk tidak membiarkan satu saat pun berlalu tanpa memberikan manfaat. Yaitu, dengan tidak membuatnya bersedih yang membuat mati akalnya juga tidak terlalu bersikap toleran sehingga ia banyak memiliki waktu luang dan membuatnya manja. Selain itu, ia juga ditekankan untuk meluruskannya sebisa mungkin dengan pendekatan dan sikap lemah lembut, karena orang tuanyalah yang harus bersikap tegas dan keras.
Kesimpulan yang bisa kita tarik dari pemaparan di atas bahwa pendidik haruslah menjadi seorang yang bijak dalam menggunakan hukuman yang sesui dengan tingkat kecerdasan anak, pengetahuan, dan wataknya. Sebagaimana pendidik pun harus memberikan hukuman jika memang dituntut oleh keadaan.
□ Memberi hukuman secara bertahap,
dari yang ringan sampai yang keras
Sebelumnyasudahkamijelaskanbahwa hukuman yang diberikan pendidik kepada anak haruslah alternatif terakhir. Artinya, ketika semua usaha telah diberikan kepada anak sebelum memberikan alternatit terakhir, yaitu hukuman pukulan. Dengan harapan itu dapat membuat anak menjadi baik dan akhirnya membentuknya menjadi manusia yang berakhlak terpuji.
Hal ini disebabkan, pendidik itu jika diibaratkan seperti dokter [sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazalf). Seorang dokter tidak boleh mengobati semua pasien yang sakit dengan cara pengobatan yang sama, karena itu dapat berakibat fatal. Demikian juga pendidik, ia tidak boleh mengatasi masalah semua anak hanya dengan bentuk teguran saja misalnya, karena ditakutkan pada sebagian anak justru akan bertambah melenceng dibandingkan anak yang lain. Artinya, anak-anak harus diperlakukan sesuai dengan karakter anak tersebut. Pendidik harus mencari penyebab yang mendorong anak melakukan kesalahan, memperhatikan usianya, pengetahuannya, dan lingkungan sekitarnya. Semua itu dapat membantu pendidik untuk memeriksa penyebab penyimpangan pada anak, mendiagnosis penyakitnya, untuk selanjutnya memberikan solusi yang sesuai dengan keadaan anak.
***
Rasulullah Saw telah meletakkan cara-cara yang jelas ciri-cirinya untuk mengatasi penyimpangan anak, mendidiknya, melurusakan kesalahannya, dan membentuk akhlak serta mentalnya. Sehingga pendidik hanya tinggal mencontohnya saja dan memilih cara mana yang paling utama untuk mendidik dan mengatasi masalah anak. Pendidik juga harus bisa berhasil dalam mendidik anak, memperbaiki kesalahannya, dan menjadikannya manusia yang beriman dan bertakwa.
Berikut ini cara-cara yang digunakan Rasulullah Saw:

□ Menunjukkan kesalahan dengan mengarahkannya
Umar bin Abu Salamah berkata, "Ketika masih kecil, aku berada di bawah pengasuhan Rasulullah Saw. Tanganlcu pernah bergerak [ke sana kemari] di dalam piring besar, maka beliau berkata kepadaku:
"Wahai anak, bacalah basmallah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang dekat denganmu." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Anda sendiri telah melihat bagaimana Rasulullah Saw menunjukkan kesalahan Umar bin Abu Salamah dengan nasihat yang baik dan memberinya pengarahan yang efektif.

□ Menunjukkan kesalahan dengan sikap lemah lembut
Sahi bir Sa'ad berkata, "Nabi Saw diberi sebuah gelas, maka beliau minum dari gelas itu. Dan di sebelah kanannya ada seorang anak, orang yang paling muda di antara yang hadir. Sedangkan di sebelah kiri beliau ada orang-orang tua. Maka beliau berkata, 'Wahai anak, apakah engkau mengizinkanku untuk memberikan gelas ini kepada orang- orangyang lebih tua.’Anakitu menjawab, ‘Aku tidak akan mendahulukan orang lain untuk mendapatkan bagianku darimu, wahai Rasulullah.' Maka beliau pun memberikan gelas itu kepadanya." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Anak tersebut adalah 'Abdullah bin 'Abbas.
Anda dapat melihat Rasulullah Saw ingin mengajarkan kepada anak tersebut bersopan santun dengan orang yang lebih tua, dalam hal mendahulukan haknya ketika minum bersama mereka, dan ini adalah yang paling utama. Beliau mengatakannya sambil meminta izin kepadanya dengan lemah lembut dan memberikan arahan, "Apakah engkau mengizinkanku untuk memberikan gelas ini kepada orang-orang yang lebih tua?”

□ Menunjukkan kesalahan dengan isyarat
Diriwayatkan bahwa Nabi Saw membonceng Al-Fadhl bin Al-'Abbas di belakang beliau. Lalu datanglah seorang perempuan [hendak bertanya kepada beliau] dari Khats'am. Mulailah Al-Fadhl memandangnya dan wanita itu pun memandangnya. Maka Nabi Saw memalingkan wajah Al-Fadhl ke arah lain. Lantas wanita itu bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewa-jiban yang diturunkan Allah kepada hamba- hamba-Nya dalam ibadah haji sampai kepada ayahku di saat usianya telah tua renta yang tidak mampu menunggang tunggangan. Apakah aku boleh menunaikan haji untuknya?" Nabi menjawab, "Ya." (Dan itu terjadi ketika pada haji Wada'). (HR. Al-Bukhari)
Anda bisa lihat bahwa Rasulullah Saw memperbaiki kesalahan melihat perempuan yang bukan mahram dengan mengalihkan wajah Al-Fadhl ke arah lain. Dan ternyata tindakan itu berpengaruh langsung kepadanya.

□ Menunjukkan kesalahan dengan menegur 
Diriwayatkan dari Abu Dzar, "Aku pernah mencela seseorang, lalu aku mencela ibunya dengan mengatakan, ‘Wahai anak perempuan hitam.' Maka Rasulullah bersabda:
"Wahai Abu Dzar, apakah engkau mencacinya dengan nama ibunya? Sesungguhnya engkau adalah seseorang yang ada sifat jahiliyahnya. Saudara kalian itu adalah pembantu kalian, Allah menjadikan mereka berada di bawah tangan kalian. Maka barangsiapayang keadaan saudaranya berada di bawah tangannya, hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan, memberinya pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah kalian memberatkannya dengan apa yang ia tidak mampu. Jika kalian memberinya pekerjaanyang berat, bantulah mereka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Anda telah melihat bagaimana Rasulullah Saw memperbaiki kesalahan AbuDzar ketika ia mencela seseorang dengan menyebut ibunya perempuan hitam, dengan cara menegurnya. Yaitu, dengan mengatakan, "Wahai Abu Dzar, apakah engkau mencacinya dengan nama ibunya? Sesungguhnya engkau adalah seseorang yang ada sifat jahiliyahnya.” Kemudian beliau menasihatinya dengan sesuatu yang sesuai dengan keadaan saat itu.

□ Menunjukkan kesalahan dengan menjauhinya
Diriwayatkan dari Abu Sa'id Abdullah bin Mughafal., ia melihat seseorang menggunakan ketapel. Maka ia berkata kepadanya, "Janganlah engkau menggunakan ketapel, karena Rasulullah Saw, melarang ketapel, atau beliau membenci ketapel. Beliau bersabda:
'Sesungguhnya ketapel tidak akan mematikan hewan buruan dan tidak akan menewaskan musuh, tetapi ia dapat mencederai mata dan gigi'."
Kemudian ia melihat orang tersebut setelah itu menggunakan ketapel. Maka ia ber kata kepada orang tersebut, "Aku ceritakan kepadamu hadits dari Rasulullah Saw bahwa beliau melarang ketapel ata i membencinya, sedangkan engkau tetap menggunakan ketapel? Aku tidak akan berbicara denganmu lagi.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan bahwa Ka'ab bin Malik tertinggal dari Nabi 0 pada perang Tabuk. Ia berkata, "Nabi Saw melarang orang-orang berbicara kepada kami selama 50 malam...." Hingga Allah pun menurunkan ayat tentang pengampunan mereka di dalam Al- Qur'an.
As-Suyuthi meriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar meninggalkan salah seorang anaknya sampai ia meninggal, karena anaknya itu tidak mengikuti hadits yang disebutkan ayahnya (Umar bin Al-Khathab dari Rasulullah Saw bahwa beliau melarang laki-laki untuk menahan kaum wanita untuk pergi ke masjid.
Anda lihat sendiri, bahwa Rasulullah Saw dan para shahabatnya memberi hukuman berupa meninggalkan atau menjauhi yang berbuat salah dalam rangka memperbaiki kesalahannya.
Hal ini dilakukan hingga ia kembali ke jalan yang benar.

□ Menunjukkan kesalahan dengan memukul
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Perintahkanlah anak-anak kalian shalat saat mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka (ketika meninggalkannya) pada saat berusia 10 tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka." (Al-Hakim dan Abu Dawud)
Dalam surat An-Nisa' disebutkan:
 
"...Wanita-wanitayang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu,maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya ..." (QS. An-Nisa’ [4]: 34)
Dari sini dapat disimpulkan bahwa hukuman dengan pukulan adalah perkara yang diakui atau dibolehkan oleh Islam. Namun, ini merupakan alternatif terakhir, setelah nasihat dan dijauhi tidak lagi mempan. Tahapan tersebut menunjukkan bahwapendidik tidak boleh langsung memberikan hukuman yang paling keras jika masih bisa diberikan hukuman yang paling ringan terlebih dahulu. Karena, pukulan adalah hukuman yang paling keras dan pendidik tidak boleh melakukan itu, kecuali semua cara tidak membuahkan hasil perbaikan pada diri anak. Perlu diketahui, Rasulullah Saw tidak pernah memukul istrinya sama sekali.
□ Menunjukkan kesalahan dengan hukuman yang dapat menyadarkan
Al-Qur’an menetapkan prinsip hukuman untuk menyadarkan. Allah berfirman:
 
"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman." (QS. An- Nur [24]: 2)
Maksud dari hukuman ini adalah bahwa siksaan yang dihadiri oleh orang-orang akan memberikan pelajaran yang lebih berpengaruh dan nasihat yang lebih kuat. Sebab, orang- orang yang melihat siksaan tersebut akan terbayang dan tergambar dalam benaknya seolah nyata pada dirinya. Pada akhirnya, membuat dirinya takut terkena hukuman tersebut. Berangkat dari prinsip qur’ani ini, "Dan saksikanlah hukuman mereka berdua." (QS. An-Nur [24]: 2), maka Nabi Saw memerintah para shahabatnya untuk melaksanakan hukum had syar'i di hadapan sekumpulan orang yang langsung dilihat dan didengar oleh mereka.
Ada pepatah mengatakan, "Orang yang bahagia adalah yang tersadarkan oleh yang lain," dan inilah yang dimaksud dengan firman Allah :
 
"Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal supaya kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 179)
Qishash itu mengandung keamanan dan perdamaian dan berfungsi untuk mewujudkan ketenangan dan kestabilan. Selain itu juga mencegah orang-orang jahat untuk bertindak jahat dan semena-mena.
Sudah pasti, Ketika pendidik memberik hukuman kepada anak yang berbuat salah di depan saudara-saudaranya yang lain atau teman-temannya, maka hukuman tersebut dapat mem-beri pengaruh yang sangat besar dalam diri anak-anak tersebut. Mereka akan berpikir 1000 kali untuk melakukan pelanggaran karena hukuman tersebut. Dengan cara seperti itulah mereka mengambil pelajaran.
Berangkat dari cara dan metode yang telah digariskan Rasulullah Saw, pendidik dapat memilih cara yang sesuai untuk mendidik anak dan memperbaiki kesalahannya. Mungkin suatu waktu cukup dengan nasihat pandangan yang tajam, kelemahlembutan, isyarat, atau juga kata- kata teguran.
Jika pendidik tahu bahwa menunjukkan kesalahan pada anak dengan salah satu cara di atas tidak membuahkan hasil dalam memperbaiki kesalahan anak, maka pendidik dapat secara bertahap memberikan hal yang lebih keras dari sebelumnya. Ia dapat memberi teguran pada anak. Jika ceguran tidak bermanfaat, barulah memberi hukuman dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Jika tidak berguna juga, maka barulah dengan pukulan yang menyakitkan. Dan sebaiknya hukuman terakhir itu dilakukan di depan saudara atau teman-temannya. Agar hal itu menjadi peringatan juga bagi mereka.
Jika pendidik melihat bahwa anak- setelah diberi hukuman-telah membaik, maka pendidik harus mengubah sikapnya menjadi baik, lemah lembut, dan penuh senyum. Pendidik harus menunjukkan bahwa hukuman tersebut diberi-kan dengan tujuan demi kebaikan anak sendiri di dunia dan akhirat. Inilah cara Rasulullah Saw dalam mendidik para shahabatnya dan berinteraksi dengan mereka dalam memberikan hukuman.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ka'ab bin Malik. ketika tertinggal dari perang Tabuk dengan tanpa alasan, Nabi Saw memerintahkan untuk menjauhi dirinya selama 50 hari. Dalam masa itu, tidak ada seorang pun yang datang dan mengucapkan salam kepadanya. Sehingga Ka'ab pun merasa dunia ini sempit untuknya. Setelah Nabi Saw mengumumkan penerimaan Allah terhadap tobatnya, Ka'ab berkata, "Lalu aku pergi menemui RasulullahSaw. Maka orang-orang bertemu denganku secara berbondong-bondong. Mereka semua memberiku selamat atas penerimaan tobatku. Mereka berkata, 'Selamat atas pengampunan Allah kepadamu'.’’
Ka’ab berkata, "Sampai aku memasuki masjid, ternyata Rasulullah Saw sedang duduk di tengah orang-orang. Lalu berdirilah menghampiriku Thalhah bin 'Ubaidillah sambil berlari kecil dan memberiku ucapan selamat. Demi
Allah, tidak ada seorang pun dari Kaum Muhajirin yang berdiri kecuali dia, dan aku tidak pernah melupakan ucapan selamat Thalhah.”
Ka'ab berkata, "Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw, beliau lalu berkata sambil tampak kegembiraan pada wajahnya, 'Bergembiralah dengan sebaik- baik hari semenjak ibumu mela-hirkanmu.' Aku berkata, 'Apakah ini dari engkau, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Tidak, tapi dari Allah 'Azza wa jalla' Apabila Rasulullah Saw sedang gembira, wajahnya bersinar sampai seperti bulan, dan kami bisa mengeta-huinya dari (wajah) beliau."
Ketika anak merasakan bahwa pen- didik-setelah memberikan hukuman- menjadi baik dan lemah lembut kepadanya, dan bahwa maksud pendidik adalah untuk mendidiknya dan memperbaiki kesalahannya, maka ia tidak akan meresponsnya dengan perasaan tertekan dan merasa minder. Bahkan, ia akan menghargai perlakuan sayang pendidik dengan selayaknya dan memperbaiki kesalahannya, sehingga menjadi anak yang baik.
Perlu digarisbawahi bahwa meskipun Islam mengakui hukuman pukulan (sebagaimana yang telah kami jelaskan) namun terdapat batasan dan syarat- syarat mengenai hal itu, sehingga pukulan tersebut tidak keluar dari ruang lingkup teguran dan perbaikan, berubah menjadi siksaan.
Berikut ini syarat-syarat hukuman pukulan:

□ Hukuman pukulan tidak diberikan,
kecuali pendidik sudah melakukan cara-cara pendisiplinan yang lain, yang telah kami jelaskan sebelumnya.
□ Pendidik tidak memukul dalam keadaan marah, karena dikhawatirkan dapat membahayakan pada anak. Selain itu juga mengamalkan sabda Nabi Saw:

"Janganlah marah." (HR. Al-Bukhari)

□ Saat memukul, hindari tempat-tempat yang vital, seperti kepala, wajah, dada, dan perut. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw
"Janganlah memukul wajah." (HR. Abu Dawud)
Bukti yang menegaskan hal itu adalah apa yang dilakukan Nabi Saw ketika memerintahkan merajam perempuan Al-Ghamidiyah. Beliau mengambil batu sebesar himmishah dan melemparkannya ke perempuan tersebut. Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang:

"Lemparilah ia dan hindari wajah."
Jika Nabi Saw sudah melarang melempari wajah ketika melaksanakan hukuman rajam yang notabene adalah hukuman sampai mati, maka apalagi pada hukuman yang bukan sampai mati, seperti teguran dan pendisiplinan, maka itu sama sekali dilarang. Hal ini disebabkan, wajah atau kepala adalah wilayah yang sensitif. Memukulnya dapat mengakibatkan hilangnya indra, dan itu dianggap menyakiti dan merusak.
Adapun larangan memukul dada atau perut, karena dapat mengakibatkan kerusakan yang parah pada tubuh yang dapat mengakibatkan kematian. Larangan tersebut masuk pada keumuman sabda Rasulullah Saw:
"Jangan merugikan dan dirugikan."
□ Pukulan pada tahap pertama, tidak boleh keras dan menyakitkan. Yaitu, pada kedua tangan atau kaki dengan alat yang tidak keras. Pukullah satu sampai tiga kali, jika anak tidak menurut. Jika pendidik melihat setelah tiga kali pukulan, anak tidak jera, maka ia b oleh menambahnya sampai sepuluh kali. Hal ini sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw:
"Seseorang tidak boleh didera lebih dari 10 kali kecuali pada hukuman salah satu dari hukuman had-had Allah."
□ Tidak boleh memukul anak sebelum memasuki usia 10 tahun, karena mengamalkan hadits yang telah diterangkan sebelumnya:
“Perintahlah anak-anak kalian shalat saat mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka (ketika meninggalkannya) pada saat berusia 10 tahun..."
□ Jika anak baru pertama kali melakukan pelanggaran, maka berikan ia kesempatan untuk memperbaiki diri dan meminta maaf dari apa yang telah dilakukannya, sambil meminta janjinya untuk tidak mengulanginya lagi untuk kedua kalinya. Ini lebih baik daripada memberinya hukuman pukulan di depan orang-orang.
□   Pendidik memukul anak oleh dirinya sendiri, dan tidak membiarkan dilakukan oleh saudara atau temannya, sehingga tidak menyebabkan iri dan pertengkaran di antara mereka.
□   Jika anak sudah mencapai usia balig dan sepuluh kali pukulan tidak cukup membuatnya jera, maka pendidik boleh menambah pukulannya yang menyakitkan dan melakukannya berulang-ulang. Sampai anak terlihat menyesali perbuatannya dan mau memperbaiki diri.
***
Berdasarkan semua uraian di atas, jelaslah bahwa pendidikan Islam sangat memperhatikan masalah hukuman, baikitu hukuman yang bersifat maknawi maupun materi. Dan hukuman ini diliputi dengan syarat-syarat dan batasan. Maka dari itu, pendidik tidak boleh melampaui batasan tersebut dan tidak boleh membiarkan anak berbuat kesalahan tanpa dihukum. Jika mereka benar-benar menginginkan pendidikan yang ideal untuk anak-anak mereka.
Sungguh bijak seorang pendidik yang ketika memberikan hukuman disesuaikan dengan keadaan anak. Ia memberikannya kelembutan dalam setiap kondisi yang sesuai. Betapa bodohnya seorang pendidik ketika ia bersikap lembut pada situasi yang seharusnya keras dan tegas, dan bersikap keras pada kondisi yang seharusnya penuh kasih sayang dan memberikan maaf.
Semoga Allah memberikan pahala kepada Ustadz Al-'Alim Say-Syaikh Kamil Badr, yang telah memberikan wasiat kepada para pendidik, supaya mereka berlaku lemah lembut dan ramah kepada anak-amak. Ia mengatakan:
Sesungguhnya pendidik dalam syariat Islamyang lurus adalah manusia yang baik penuh kasih sayang bukannya sombong dan berbangga diri Sekumpulan gembalaan bercucuran darah dilecuti cemeti keangkuhan Dia melihat dirinya singa yang telah menyerang dalam kegelapan malam Anak-anak kita wahai para pengembala, ada di pundak kalian Titipan bukannya boneka yang dibuat dengan tergesa
Anak yang sejak kecilnya terdidik dengan akidah yang kuat dengan perasaan selalu diawasi Allah, terbentuk keimanannya yang kuat dan rasa takut yang besar kepada Allah, maka ancaman duniawi dan ukhrawi sudah cukup untuk membuatnya takut dalam diri, perilaku, dan muamalahnya. Sehingga membuat akhlaknya menjadi baik dan shalih.
Al-Qur’an telah menggunakan hukuman yang memberikan ketakutan dan ancaman ini pada banyak ayat. Selain itu juga digunakan untuk memperbaiki jiwa orang-orang yang beriman dan membentuk akhlak dan mentalnya. Hal itu juga sangat besar pengaruhnya pada jiwa mereka, dan melahirkan perilaku yang baik dan akhlak yang terpuji.
Terkadang Al-Qur'an menggunakan ancaman dengan kekerasan hati, jika jiwa tetap dalam kesesatannya:
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab 
kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hadid [57]: 16)
Terkadang mengancam dengan murka Allah dan siksa-Nya secara gamblang [seperti pada peristiwa ‘berita bohong’), dan ini adalah tingkatan yang paling keras:
"Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (ingatlah) pada waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya suatuyang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Mahasuci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali berbuat yang seperti itu lamanya, jika kamu orang- orang yang beriman." [QS. An-Nur [24]: 14-17)
Terkadang mengancam bahwa Allah dan Rasulullah-Nya akan memeranginya:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul- Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." [QS. Al-Baqarah [2]: 279)
Terkadang mengancam dengan hukuman akhirat:
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwayang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan)yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya ia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina." (QS. Al-Furqan [25]: 68-69)
Terkadang mengancam dengan hukuman di dunia:
"Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain..." (QS. At-Taubah [9]: 39)
"...Dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih." (QS. Al-Fath [48]: 16)
"...Dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat ...." (QS. At-Taubah [9]: 74)
"...Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia ..." (QS. At- Taubah [9]: 55)
Maka jika pendidik mendidik keimanan anak dan membentuk anak untuk memiliki rasa selalu diawasi Allah dan takut kepada- Nya, maka ancaman Al-Qur’an dan hadits Nabi saw memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perbaikan dirinya dan mampu menahan dirinya dari perkara- perkara yang diharamkan Allah. Dalam pembahasan Tanggung Jawab Pendidikan Keimanan, kami telah membahas tentang peranan yang harus dilakukan pendidik dalam mendidik anak dari segi akidahnya dan membentuk keimanannya.
Sehingga anak tumbuh dalam keistiqamahan dan terdidik dengan akhlak yang luhur. Inilah hukuman ancaman yang telah kami terangkan di atas.

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dia atas maka hendaknya pendidik jangan sampai melewatkan cara-cara yang efektif dalam menegur anak dan membuatnya jera melakukan pelanggaran. Cara-cara tersebut-yang telah kami terangkan di atas-adalah cara-cara pendisiplinan dan perbaikan yang paling penting. Dari penggunaan cara-cara itulah akan tampak kebijaksanaan pendidik.
Cara-cara tersebut berbeda-beda dalam menggunakannya sesuai dengan kecerdasan, pengetahuan, sensitivitas, dan watak anaK. Ada anak yang cukup hanya dengan isyarat dari jauh, namun hatinya sudah bergetar. Ada yang tidak cukup kecuali harus dengan pandangan yang menunjukkan kemarahan. Ada anak yang cukup hanya dengan ancaman. Ada yang bisa hanya dengan dijauhi. Ada yang harus ditegur dengan kata-kata. Dan ada juga anak-anak yang hanya mempan dengan merasakar sakitnya pukulan di badan mereka, agar menjadi sadar.
Islam telah mensyariatkan hukuman- hukuman tersebut dan menunjukkannya kepada para pendidik. Di sini akan tampak kehebatan pendidik dalam menggunakannya dan memilih mana yang sesua: dengan kemaslahatan anak.
Terakhir, inilah sarana dan metode pendidikan yang efektif untuk anak. Semua itu adalah sarana dan metode praktis yang sangat penting, jika Anda dapat mempraktikkan dan merealisasikannya dengan segala batasan dan persyara- tanannya. Maka tidak diragukan lagi anak akan menjadi baik yang terkenal dengan sifat takwa, wara', dan ihsan.
Salah besar jika orang yang mengira bahwa pendidikan Islam tidak berdasar kepada asas-asas dan sarana serta metode tersebut. Perlu diketahui, pendidikan tersebut adalah pendidikan rabbani seperti pendidikan para nabi. Di mana semuanya dilingkupi dengan pertolongan Allah, selalu diperhatikan dan dididik dengan baik. Sehingga tidak ada sedikit pun kekurangan ataupun penyimpangan.
Sedangkan pendidikan negara untuk rakyatnya, pendidikan untuk masyarakat, danpendidikanorangtuauntukkeluarganya, maka semua itu terkait dengan sebab-sebab pendidikan dan sarana serta metodenya yang khusus. Jika para pendidik dapat melaksanakan tanggung jawabnya dengan menggunakan manhaj yang seharusnya, maka umat, keluarga, dan individu akan menjadi shalih dan baik. Masyarakat akan sampai kepada puncak keberhasilan, kebahagiaan, dan keamanannya. Dan Anda telah melihat sarana dan metode tersebut, yang telah digariskan oleh Islam dalam mendidik anak, dari segi keimanan dan akhlaknya, serta pembentukkan mental dan sosialnya. 
Mendidik dengan keteladanan:
anak dapat memperoleh sifat-sifat yang baik dan akhlak yang terpuji. Tanpa itu, tidak mungkin anak dapat terdidik dan terpengaruh dengan nasihat.
Mendidik dengan kebiasaan: anak dapat memperoleh hasil pendidikan dengan hasil yang sangat baik. Karena pendidikan tersebut bertumpu pada perhatian dan pengawasan, penyemanga- tan dan ancaman, serta bertitik tolak pada pengarahan dan bimbingan. Tanpa faktor ini, pendidik seperti menulis di atas air, tanpa ada bekas dan hasil sedikit pun.
Mendidik dengan nasihat: anak dapat terpengaruh hanya dengan kata- kata yang penuh ketenangan, nasihat yang membimbing, kisah yang mengandung pelajaran, dialog yang menarik, gaya bahasa yang bijak, dan arahan yang efektif. Tanpa itu semua, pendidik tidak dapat meraih perasaan anak, mendapatkan hatinya, dan menggerakkan emosinya. Selain itu, pendidikan pun menjadi hampa dan kering serta tipis harapan untuk memperbaikinya.
Mendidik dengan perhatian dan pengawasan: anak dapat menjadi shalih dan berkahlak yang berguna di tengah
masyarakat dan tubuh umat. Tanpanya, anak akan terjerembab pada kebiasaan yang buruk dan menjadi pelaku kriminal di tengah masyarakat.
Mendidik dengan hukuman: anak tercegah dan tertahan dari akhlak yang buruk dan sifat tercela. Ia menjadi memiliki perasaan jera untuk mengikuti syahwatnya dan melakukan hal-hal yang haram. Tanpa itu, anak akan terus terdorong untuk berbuat hal yang keji, terjebak dalam tindak kriminal, dan terbiasa dengan kemungkaran.
Maka dari itu,b e rikanlah p erhatianyang maksimal terhadap sarana dan metode di atas, jika Anda ingin perbaikan untuk anak Anda, kebaikan untuk masyarakat Anda, dan kemenangan untuk negara Islam. Semua tidaklah sulit bagi Allah.
"Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu...’." (QS. At-Taubah [9]: 105)