Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Keluarga 
KAIDAH-KAIDAH ASASI DALAM PENDIDIKAN MENGENAI KAIDAH IKATAN
Pages: [1]

(Read 53 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1564
  • Logged

KAIDAH-KAIDAH ASASI DALAM PENDIDIKAN MENGENAI KAIDAH IKATAN

Kaidah Ikatan
Sudah bisa dipastikan jika anak sejak memasuki usia mengerti sudah terikat dan terbiasa dengan ikatan-ikatan akidah, rohani, pemikiran, sejarah, sosial, dan kebiasaan berolahraga, sampai tumbuh menjadi seorang pemuda, dewasa, sampai tua, maka anak akan memiliki iman, keyakinan, dan ketakwaan yang kuat dan kokoh. Semua itu yang dapat menjaganya dari penyakit jahiliyah dengan segala macam bentuknya, keyakinan- keyakinannya, prinsip-prinsipnya, dan kesesatannya. Bahkan, ia siap untuk menghadapi siapa saja yang memusuhi Islam atau ingin menghancurkan prinsip- prinsipnya. Mengapa?
Karena anak sudah terikat kuat dengan Islam, secara akidahnya, ibadah, akhlak, aturan dan syariatnya. Ia telah terikat dengan pengamalannya, terikat dengan jihad dan dakwahnya, terikat dengan Islam sebagai agama dan negara, terikat dengan Islam sebagai kitab suci dan sumber kekuatan, dan terikat dengan Islam sebagai pemikiran dan budayanya.
Berikut ini saya paparkan ikatan-ikatan terpenting yang dapat memberikan segala kebaikan kepada anak Anda. Karenanya, hendaklah Anda sebagai pendidik untuk benar-benar melaksanakannya, agar Anda dapat melihat anak Anda berada di tengah orang-orang beriman, di tengah orang- orang yang bertakwa lagi suci, dan di antara para mujahid yang merdeka.

1. Ikatan Akidah (Keyakinan)
Kita telan membicarakan dalam pembahasan tanggung jawab pendidikan keimanan ba hwa anak harus terikat sejakia sudah mengerti dengan rukun-rukun iman yang asasi, hakikat yang gaib, dan dengan segala hal yang diyakini kebenarannya berdasarkan dalil yang shahih, baik yang berkaitan dengan akidah dan hal-hal yang gaib. Berdasarkan hal tersebut, pendidik harus menanamkan dalam diri anak hakikat iman kepada Allah, iman kepada malaikat, kitab-kitab Allah, rasul-rasul- Nya, iman kepada qadha dan qadar, iman kepada pertanyaan dua malaikat di alam kubur, mengimani adanya azab kubur, mengimani hal-hal yang terjadi di hari akhir berupa kebangkitan dari alam kubur, hisab amal perbuatan, surga, neraka, dan hal-hal gaib lainnya.
Anda sendiri sudah tahu bahwa jika Anda menanamkan begitu dalam hakikat iman kepada Allah pada hati anak dan mengikatnya dengan ikatan akidah ketuhanan yang kuat, maka anak Anda akan tumbuh dengan memiliki rasa selalu diawasi Allah, takut kepada-Nya, berserah diri sepenuhnya kepada-Nya, berpegang teguh kepada aturan-Nya dalam perintah dan larangan -Nya. Bahkan, ia pun memiliki kepekaan iman yang kuat dan nurani yang tajam yang dapat mencegahnya dari kerusakan sosial, bisikan hawa nafsu, dan akhlak yang hina. Jika sudah demikian, anak menjadi baik secara rohani dan akhlaknya, sempurna akal dan perilakunya, bahkan ia juga menjadi teladan bagi yang lain, karena ia berada pada hidayah, agama, kebenaran, dan jalan yang lurus.
Tampaknya tidak perlu lagi saya mengulang pembahasan tanggung jawab terhadap pendidikan dari segi imannya. Sebab, dalam pembahasan Tanggung Jawab Pendidikan Keimanan telah kami kupas secara lengkap.
2. Ikatan Rohani
Maksud dari ikatan rohani yaitu bersihnya ruh anak di mana terpancar dari hatinya keimanan dan keikhlasan. Jiwanya luhur dalam suasana kesucian.
Islam memiliki manhaj untuk mengikat seorang muslim dengan ikatan ruhani yang bermacam-macam untuk menjaga kebersihan dan keikhlasannya. Berikut ini manhaj-manhaj tersebut:

□ Ikatan Anak dengan Ibadah
Nabi Saw bersabda:
 "Perintahlah anak-anak kalian melakukan shalat pada usia 7 tahun. Dan pukullah mereka pada usia 10 tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka" (HR. Al-Hakim dan Abu Daud)
Begitu juga dengan ibadah puasa. Sebagai pengqiyasan terhadap ibadah shalat, biasakan anak melakukan puasa Ramadhan sejak kecil jika ia mampu, membawa anak ikut melaksanakan ibadah haji jika orang tua mampu, dan zakat jika pendidik mampu.
Anda juga harus memahamkan anak bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya terbatas rukun yang empat saja, tetapi juga meliputisemuaperbuatanbaik/amalshalih dengan berpegang teguh pada manhaj Atlah dan selalu mengharap ridha-Nya. Dari makna umum ibadah ini, maka seorang pedagang, jika ia menjalankan aturan Allah dalam melakukan perniagaannya dengan memperhatikan mana yang halal dan haram, serta mengharapkan ridha Allah dari pekerjaannya tersebut, maka pedagang itu termasuk hamba-hamba Allah yang beriman.
Oleh karena itu, setiap pendidik harus mengajarkan dan memahamkan kepada anak sejak ia masih kecil prinsip-prinsip kebaikan dan kejelekan, masalah halal dan haram, serta ciri-ciri kebenaran dan kebatilan. Anak harus melakukan yang halal/dibolehkan dan menjauhi yang haram/dilarang. Arahan bagi anak ini terdapat dalam bimbingan Nabi Saw bagi para pendidik, sebagaimana sabdanya:
 
"Lakukanlah taat kepada Allah, jauhi maksiat kepada Allah, perintahkan anak-anak kalian menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Itu semua menjadi penjaga bagi mereka dan kalian dari api neraka." (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Al-Mundzir]   
Maka, ketika anak terikat dengan ibadah dengan arti yang khusus dan umum sejak masa pertumbuhannya, terbiasa melaksanakannya, ketika ia terdidik dalam ketaatan kepada Allah, melaksanakan kewajibannya, bersyukur kepada-Nya, dan memegang teguh aturannya, saat itu anak menjadi manusia yang istiqamah dan ikhlas, yang memberikan semua haknya masing-masing, dan menjadi teladan yang baik dari segi akhlak dan pergaulannya kepada yang lain.

□ Ikatan Anak dengan AI-Qur'an
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ali. bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Didiklah anak-anak kalian dengan tiga perkara: mencintai nabi kalian, mencintai keluarganya, dan membaca AI-Qur'an. Karena pengemban Al-Qur'an berada di bawah naungan Arsy Allah pada hari tidak ada naungan kecuali orang-otang pilihan-Nya."
Ibnu Khaldun dalam Kitab Muqaddimah mengisyaratkan pentingnya mengajarkan Al-Qur’an kepada anak- anak dan menjadikan mereka hafal. Ia pun menje askan bahwa mengajarkan Al-Qur'an adalah asas pengajaran dalam semua sistem pendidikan di berbagai negeri Islarr, karena ia merupakan salah satu syiar agama yang mengarah kepada penegakkan akidah dan pendalaman iman.
Ibnu Sina memberikan nasihat didalam buku iya As-Siyasah yang dimulai dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak dengan mempersiapkan fisik dan akalnya untuk pengajaran tersebut. Hal ini bertujuan agar anak terbiasa dengan bahasa Arab asli dan tertanam kuat dalam jiwanya tanda-tanda keimanan.
Imam Al-Ghazali mewasiatkan di dalam kitab Ihya 'Ulum Ad-Din, "Hendaklah mengajarkan anak Al-Qur’an, hadits-hadits, hikayat orang-orang shalih, kemudian sebagian hukum-hukum agama.”
Pada pembahasan,. Tanggung Jawab Pendidikan Keimanan kami membicarakan tentang perhatian generasi terdahulu terhadap pendidikan anak-anak mereka. Dan- bagaimana orang tua terdahulu dari kalangan sa afus shalih, yang mejeka menyerahkan anak-anak kepada para pendidik. Hal pertama yang mereka wasiatkan adalah agar diajarkan kepada anak-anak mereka Al-Qur'an dan menghafalkannya, sehingga lisan mereka menjadi lurus, ruh mereka menjadi luhur, hati mereka menjadi khusyuk, mata mereka berlinang, dan iman serta Islam mereka semakin kuat di dalam jiwa. Selanjutnya, mereka tidak mengenal selain Al-Qur’an sebagai konstitusi, sistem, dan hukum.
Maka, hendaklah Anda mengetahui bahwa umat terakhir ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang membuat baik generasi awalnya. Jika generasi awal umat ini menjadi baik dengan Al-Qur'an sebagai bacaan, pengamalan, pemikiran, dan perilaku, maka umat terakhir ini pun tidak akan menjadi baik dan mulia kecuali kita mengikat anak-anak kita dengan Al-Qur'an sebagai pemahaman, hafalan, bacaan, penafsiran, pembuat khusyuk, pengamalan, perilaku, dan .hukum. Karenanya, pada masa kita sekarang ini kita harus membentuk generasi qur'ani yang beriman, shalih, dan bertakwa. Di tangan merekalah kemuliaan Islam akan berdiri. Dengan semangat mereka yang tinggi, negara Islam akan berdiri tegak dan bangsa-bangsa lain akan mengakui kemuliaan, kekuatan, dan peradabannya.
Karenanya, hendaklah Anda benar-benar mempersiapkan pengajar Al-Qur'an kepada putra dan putri Anda, baik di rumah, masjid, maupun lembaga-lembaga pengajaran AI- Qur’an. Jika Anda melakukan tugas dengan semestinya, maka Anda sudah melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab Anda kepada anak, dengan mengikatnya dengan Al-Qur’an sebagai ruh, pikiran, bacaan, pengamalan, dan hukum.
Kalau Anda sudah melakukan ini, maka anak akan membuka matanya dan hanya mengenal prinsip-prinsip Al-Qur’an saja, la tidak mengenal hukum lain kecuali Al- Qur'an, dan tidak mengenal obat untuk ruh dan penyembuh untuk jiwanya kecuali khusyuk dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Saat itu, Anda akan sampai kepada tujuan yang diharapkan dalam pembentukkan anak Anda dari segi rohaninya, keimanannya, dan akhlaknya. Bahkan, ia menjadi teladan bagi yang lain, karena berada pada hidayah, kebenaran, dan jalan yang benar.

□ Ikatan Anak dengan Masjid
Sebagaimana yang diriwayatkan At- Tirmidzi dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Nabi Saw bersabda:
"Apabila kalian melihat seseorang terbiasa ke masjid, maka persaksikanlah oleh kalian keimanannya."
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

"Hanya yang memakmurkan masjid- masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat..." (QS. At-Taubah [9]: 18)
Hendaknya diketahui bahwa masjid di dalam Islam adalah salah satu pilar terpenting dalam pembentukan pribadi muslim dan membangun masyarakat Islam di semua masa sepanjang sejarah. Masjid juga tetap menjadi pilar asasi terkuat dalam membina individu dan masyarakat muslim pada zaman sekarang dan yang akan datang. Karena, tanpa masjid tidak mungkin anak Anda dapat terdidik secara rohani dan keimanannya, juga terbentuk akhlak dan sosialnya. Tanpa masjid Anda tidak akan mendengar suara seruan yang tinggi Allahu Akbar {Allah Mahabesar) yang menggetarkan rasa dan menggerakkan hati.
Tanpa masjid, seorang muslim tidak akan bisa mendengarkan nasihat tentang kebenaran yang membuat jiwa dan perasaannya terpengaruh. Tanpa masjid pula, seorang muslim tidak akan mengetahui hukum-hukum agama, menyikapi dunia, hal-hal yang halal dan haram, aturan hidup, hukum-hukum yang mengurusi segala hal kehidupan manusia, serta perkara-perkara syariat.
Dengan adanya masjid, seorang muslim bisa belajar Al-Qur'an, mengetahui asbab nuzulnya, dan memahami tafsirnya yang rinci. Dengan adanya masjid pula, kaum muslimin akan mengetahui keadaan saudaranya yang lain, rasa sakit mereka, dan harapan mereka di belahan bumi timur dan baratnya.
Tanpa masjid, seorang muslim tidak mungkin bisa berhubungan dengan saudara muslimyanglain, salingbersimpati dengan rasa cinta, kasih sayang, saling menolong, dan menanggung tanggungan hidupnya. Tanpa masjid pula, seorang muslim tidak dapat menemukan tempat untuk mengeluh ketika terkena musibah,
serta tempat untuk menenangkan diri ketika merasa takut dan resah.
Itulah sebagian fungsi dan faedah masjid, seperti yang terjadi pada waktu diutusnya Nabi Saw dan masa-masa para khalifah dan penguasa setelah beliau.
Begitulah seharusnya masjid difungsikan di sepanjang masa, jika kaum muslimin ingin membangun di masyarakat mereka di mana saja berada, prinsip yang kokoh, bernaung di bawah tujuan yang jelas, menjadi umac terbaik baik kekuatan, pengetahuan, dan peradabannya, dan membangun apa yang pernah dibangun dan diraih generasi awal dahulu berupa kemuliaan, keluhuran, negara, dan eksistensi.
Tahukah Anda bahwa di antara fungsi masjid adalah untuk menenangkan hati dengan dzikir kepada Allah? Perhatikanlah sabda Rasulullah Saw berikut ini:

"Jika kalian melewati taman-taman surga, maka berdiamlah di sana." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah taman-taman surga itu?"Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah dzikir." (HR. At-Tirmidzi)

"Tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah, dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun ketenangan kepada mereka, rahmat menutupi mereka, para malaikat meliputi mereka, dan Allah menyebutkan mereka di hadapan semua yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim)

Bukankah Anda tahu bahwa masjid berfungsi juga untuk shalat jamaah? Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?"Parashahabatberkata, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda,
"Menyempurnakan wudhu pada saat- saatyang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah yang namanya ribath (mencurahkan diri dalam ketaatan).” (HR. Muslim)
Selain itu, orang yang sering berjalan ke masjid adalah orang yang diangkat derajatnya dan dihapus dosa-dosannya. Simaklah apa yang disabdakan Rasulullah Saw ini :

"Barang siapa yang bersuci di rumahnya, kemudian ia pergi ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan salah satu kewajiban Allah, maka langkah- langkahnya itu, langkah (kaki)yang satu menghapus kesalahan, dan satu lagi mengangkat derajat." (HR. Muslim)

Begitu juga bagi orang yang berjalan ke masjid mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat nanti. Perhatikanlah sabda Nabi Saw ini:

“Berikanlah kabar gembira bagi orang- orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid (mereka akan mendapatkan) cahaya yang sempurna pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud dan At- Tirmidzi)

Berangkat dari arahan yang diberikan Nabi Saw, mengenai keutamaan orang yang berjalan ke masjid, maka seriuslah dalam berusaha untuk mengikat anak-anak Anda dengan rumah Allah. Hal ini bertujuan agar ruh mereka terdidik di sana, akal mereka mendapatkan pengetahuan di sana, jiwa mereka terdisiplinkan di sana, dan mereka bekerja sama dengan anak-anak yang lain belajar untuk membentuk persatuan dan kesatuan umat.
Anda akan mencapai tujuan yang ingin Anda capai dalam membentuk rohani, keimanan, dan akhlak anak Anda jika Anda telah melaksanakan itu semua. Dan ia pun menjadi contoh yang baik bagi orang-orang, karena dirinya berada dalam hidayah, agama, kebenaran, dan jalan yang lurus.

□ Ikatan Anak dengan Dzikir kepada Allah
Allah berfirman:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada-mu...” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab [33]: 41-42)
 
"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring..." (QS. An-Nisa' [4]: 103)
Dan nasih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menerangkan tentang dzikir kepada Allah.
Rasulullah Saw bersabda:
 
“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dan yang tidak mengingat Rabbnya, seperti orang yang hidup dan yang mati." [HR. Al-Bukhari)
 
"Allah pasti membangkitkan pada hari kiamat kaum-kaum yang di wajahnya terdapat cahaya pada mimbar-mimbar mutiara yang membuat orang-orang iri terhadap mereka. Mereka bukan para nabi, juga bukan para syuhada’." Maka seorang Arab dusun berlutut di hadapan beliau, lantas bertanya, “Wahai Rasulullah sifatilah mereka, agar kami mengenali mereka." Beliau bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah dari berbagai kabilah yang berbeda dan negeriyang berbeda. Mereka berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, mereka semata-mata berdzikir kepada-Nya." (HR. Ath-Thabrani)
Nabi Saw bersabda, "Allah berfirman:
'Aku tergantung prasangka hamba- Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia mengingat-Ku. Maka jika ia mengingat-Ku di dalam dirinya, Aku pun mengingatnya di dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingatku di tengah orang banyak, Aku pun mengigatnya di tengah kumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada- Ku satu jengkal, Aku pun mendekat kepadanya satu hasta. Dan jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku pun mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku pun datang kepadanya dengan berlari kecil." (HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Dzikir artinya menghadirkan keagungan Allah pada semua keadaan di mana pun mukmin berada, baik menghadirkan-Nya dengan akalnya, hatinya, jiwanya, lisannya, atau perbuatannya. Baik ketika ia sedang berdiri, duduk, berbaring, sedang mencari rezeki di muka bumi ini, ketika sedang mentadabburi Al-Qur’an, mendengarkan nasihat, berhukum kepada syariat Allah, atau apa pun yang dilakukan seorang mukmin dengan tujuan untuk mengharapkan ridha Allah. Makna dzikir ini adalah seperti apa yang dijelaskan Allah dalam banyak firman-Nya:

Dzikir dalam pengertian akal dan jiwa, Al-Qur'an menyebutkan :
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang." (QS. An-Nur [24]: 37)

Dzikir dalam pengertian hati, Al-Qur’an menyebutkan:
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28)

Dzikir dalam pengertian lisan, maka semua ayat Al-Qur’an yang memerintahkan dzikir kepada Allah termasuk ke dalamnya dzikir lisan, dan itu yang diprioritaskan. Sebab, lafal atau kata-kata adalah yang pertama mengandung dzikir. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah "Sesungguhnya Allah berfirman:

'Aku bersama hamba-Ku apabila ia berdzikii kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak (menyebut)-Ku'." [HR. Ibnu Majah)
Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Basr i8i> bahwa ada seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam ini ban yakuntukku, maka beritahulah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang selalu." Beliau menjawab:
 
“Lisanmi harus selalu basah berdzikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

Termasuk, dalam makna dzikir dalam lisan, doa-doa, ma'tsurat yang shahih dari Nabi Saw„ dan yang diriwayatkan dari para shahabat dan salafiis shalih. Termasuk di dalamnya doa-doa pagi dan sore hari, doa-doa makan dan setelah makan, doa-doa bepergian dan tinggal d suatu tempat, doa-doa masuk dan keluar rumah, doa-doa mau dan setelah tidur, doa-doa tahajud dan doa-doa yang berkaitan dengan kejadian alam. Termasuk juga ke dalamnya semua doa istighatsah (permohonan pertolongan) kepada Allah, semua istighlar yang disebutkan Al-Qur'an dan yang disabdakan Nabi Saw.
Dzikir dalam pengertian perbuatan, hati, Al-Qur'an menyebbbutkan :
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."(QS. Al-Jumu'ah [62]: 10)

Dzikir dalam pengertian yang global, Al-Qur’an menyebutkan:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda- tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'." (QS. Ali 'Imran [3]: 191)

Sementara itu, dzikir dalam arti membaca Al-Qur’an maka firman Allah menyebutkan:
"Sesungguhnya Kami-lahyang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al- Hijr [15]: 9)

Adapun dzikir dalam arti bertanya tentang ilmu dan pelajaran dari ulama, maka Allah berfirman:
"...Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS. Al-Anbiya’ [21]: 7)

Dzikir juga masuk dalam pengertian ibadah, Allah berfirman:
'Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." [QS. Al-Jumu'ah [62]: 9)
JikaAndasudahmengetahuimaknadzikir, bahwa dzikir itu tidak hanya satu macam saja dan bahwa dzikir itu adalah keadaan jiwa yang selalu sadar yang pada keadaan itu seorang mukmin dapat menghadirkan keagungan Allah selalu. Maka, berusahalah untuk mendidik anak Anda tentang dzikir dengan segala maknanya agar ia dapat menghadirkan keagungan Allah di dalam jiwanya. Ia takut kepada-Nya, baik ketika sembunyi maupun terang, ketika gundah dan tenang, ketika di rumah dan bepergian, ketika damai dan peperangan, saat di rumah dan di pasar, saat tidur dan bangun, dan di setiap tempat. Hal ini bertujuan supaya anak menjadi salah satu dari yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat- ayat-hya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. Al-Anfal [8]: 2)
Jika anak sudah terikat dirinya dengan dzikir kepada Allah dan perasaan selalu diawasi Allah, maka sudah pasti anak tersebut akan menjadi seorang hamba yang shalih, istiqamah, dan berakhlak terpuji. Ia tidak akan terjatuh ke dalam lembah maksiat dan tidak akan melakukan perbuatan keji yang hina. Inilah puncak keshalihar dan ketakwaan anak.
Alangkah agungnya manhaj Islam dalam pendidikan, ketika pendidik dan orang tua berada di dalam petunjuknya dan teguh menjalankan kaidah-kaidahnya. Maka dari itu, seriuslah dalam mendidik anak Anda mengenai dzikir dengan segala makna dan macamnya, agar anak tumbuh dalam keikhlasan, ketakwaan, selalu merasa diawasi Allah, dan menghadirkan keagungan Allah di setiap keadaan dan kondisi di mana anak berada. Jika Anda sudah melakukan itu, maka Anda akan sampai kepada tujuan yang diharapkan dalam membentuk rohani, keimanan, dan akhlak anak.
Bahkan, ia akan menjadi rujukan semua orang, karena dirinya berada dalam hidayah, agama, kebenaran, dan jalan yang benar.

□ Ikatan Anak dengan Ibadan Sunnah
Allah berfirman:
“Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al- Isra' [17J: 79]

Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa yang mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan barangsiapayang mendekat pada-Ku sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jika hamba-Ku itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas- gegas." (HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Rasulullah Saw bersabda:
"Tidaklah seorang hamba yang muslim yang shalat karena Allah setiap hari dua belas rakaat shalat sunnah selain shalat wajib, melainkan Allah pasti membangunkan untuknya sebuah rumah di surga." (HR. Muslim)

Ibadah sunnah adalah ibadah selain yang wajib. Ibadah ini memiliki macam yang banyak. Di sini saya sebutkan beberapa macam shalat dan puasa sunnah untuk dijadikan kebiasaan bagi Anda, keluarga, dan anak-anak Anda:
Shalat Sunnah/Nafilah

a.   Shalat Dhuha
Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Bagi setiap persendian tulang di antara kalian terdapat sedekah: maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu cukup dengan melakukan dua rakaat shalat Dhuha." (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Aisyah :
"Rasululah Saw biasa melakukan empat rakaat shalat Dhuha, dan menambahkannya sesuai dengan kehendak Allah." (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Ummu Hani’  bahwa Nabi Saw melakukan shalat (Dhuha) delapan rakaat. (HR. Muslim)
Berdasarkan riwayat-riwayat di atas bisa disimpulkan bahwa minimal jumlah rakaat shalat Dhuha adalah 2 rakaat, pertengahan 4 rakaat, dan yang paling utama adalah 8 rakaat, maka pilihlah semaunya.

b.   Shalat Awwabin, yaitu shalat 6 rakaat setelah shalat Maghrib
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapa yang shalat 6 rakaat setelah shalat Magrib, di mana ia tidak berbicara jelek di antara rakaat-rakaat itu, maka itu sama nilainya dengan beribadah 12 tahun." (HR. Ibnu Majah)
Dan cukup juga dua rakaat saja

c.   Shalat Tahiyyatul Masjid
Diriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Apabila salah satu dari kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sampai ia shalat dua rakaat." (HR. Muslim)

d.   Dua rakaat sunnah wudhu
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw berkata kepada Bilal., "Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di surga." Bilal menjawab, "Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku tidak pernah bersuci pada waktu malam atau siang kecuali aku pasti melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah  ditetapkan untukku." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

e.   Shalat malam
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim)

Jabir berkata bahwa Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya pada malam hari itu ada satu waktu yang tidaklah seorang muslim tepat pada waktu itu meminta kepada Allah kebaikan perkara dunia dan akhirat, melai?ikan Allah pasti memberikannya kepadanya, dan itu ada pada setiap malam." (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Nabi Saw bersabda:
'Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih, dan ia merupakan salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Rabb kalian, penghapus dosa, dan pencegah dosa." [HR. At- Tirmidzi)
Jumlah rakaat minimalnya 2 rakaat, dan tidak ada batas maksimalnya. Shalat malam ini adalah shalat sunnah yang paling utama, karena ia lebih dekat kepada ikhlas.

f.   Shalat Tarawih
Berjumlah 20 rakaat dengan 10 kali salam pada setiap malam Ramadhan. Dilakukan dengan berjamaah setelah shalat
Isya. Diriwayatkan dari As-Sa’ib bin Yazid, "Pada masa 'Umar bin Al-Khathab, mereka pada malam Ramadhan melakukan shalat 20 rakaat. Mereka berdiri selama 200 ayat. Dan pada masa ‘Utsman bin 'Affan mereka berdiri sambil menekan pada tongkat mereka karena lamanya berdiri.’ (HR. Al-Baihaqi)

g.   Shalat Istikharah
Shalat dua rakaat kemudian ber-doa setelahnya dengan doa yang diriwayatkan Jabir:
"Ya Allah aku meminta pilihan kepada- Mu dengan ilmu-Mu, aku meminta kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dari karuania-Mu yang Agung. Karena EngkauMahakuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkaulah Yang Mahatahu segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa perkara ini baik bagiku, dalam urusan agamaku,   penghidupanku,danakhir dari urusanku, maka takdirkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah ia untukku. Dan jika Engkau tahu bahwa perkara ini jelek untukku dalam urusan agamaku, penghidupanku, dan akhir dari urusanku, maka palingkanlah urusan itu dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana saja ia berada, kemudian jadikanlah aku ridha terhadapnya." (HR. Al-Bukhari)
Dan menyebutkan kebutuhannya pada perkataan 'perkara ini'.
Orang yang melakukannya akan merasa lapang untuk melakukan atau menmggalkan satu perkara yang penting untuknya.

h.   ShalatHajat
Shalat 2 rakaat, kemudian setelahnya berdoa dengan doa ini:
‘Tidak ada ilah yang hak kecuali Allah Yang Maha Pemaaf lagi Mahamulia, Mahasuci Allah Rabb Pemilik Arsy Yang Agung, segala puji bagi Allah Rabb Pencipta alam, aku meminta kepada-Mu sebab-sebab rahmat-Mu, sebab-sebab ampunan-Mu, ghanimah dari setiap kebaikan, keselamatan dari setiap dosa yang tidak ada dosa kecuali Engkau ampuni, tidak ada kesulitan kecuali Engkau lapangkan, dan tidak ada keperluan kecuali Engkau penuhi, wahai Yang Maha Pengasih." [HR. At- Tirmidzi)

Puasa Sunnah/Nafilah
Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri m bahwa Nabi Saw bersabda:
"Tidaklah seorang hamba puasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah menjauhkan dengan satu hari itu wajahnya dari api neraka selama 70 tahun." (HR. Muslim)

Macam-macam puasa sunnah:
a.   Puasa hari Arafah
Diriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Nabi Saw bersabda:
"Puasa hari Arafah, aku mengharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya." [HR. Muslim]

b.   Puasa hari Tasu'a dan ‘Asyura
Puasa dua hari pada hari kesembilan dan sepuluh bulan Muharram. Diriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Nabi Saw ditanya tentang puasa hari Asyura, maka beliau bersabda:
"Puasa hari Asyura, aku mengharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya." (HR. Muslim]

Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda:
"Jika aku masih hidup tahun yang akan datang, pasti aku akan puasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharram)" (HR. Muslim]
Beliau juga bersabda:
"Barangsiapa yang puasa Ramadhan kemudian meneruskannya dengan 6 hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa sepanjang masa." (HR. Muslim]

d.   Puasa Ayyam Al-Bidh
Diriwayatkan dari Abu Dzarr bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Apabila engkau puasa 3 hari dari sebulan, maka puasalah tanggal 13,14, dan 15" (HR. At-Tirmidzi]

e.   Puasa Senin & Kamis
Bahwa Rasulullah Saw senantiasa berpuasa pada Senin dan Kamis, dan beliau pun pernah ditanya akan hal itu. Maka be liau menjawab:
"Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang amalku diperlihatkan ketika aku sedang puasa." (HR. At-Tirmidzi)

f.   Puasa sehari berbuka sehari
Ini adalah puasa Nabi Daud sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda kepadanya:
"Puasalah sehari dan berbukalah sehari, maka itu adalah puasa Daud dan itu adalah puasa yang paling utama." (H R. Al-Bukhari)

Begitu pula puasa-puasa lainnya yang terdapa: ketetapan (contohnya) dalam sunnah Nabi jl.
Orang yang melakukan puasa sunnah boleh berbuka, namun ia wajib mengqadhanya.
Itulah beberapa puasa sunnah yang disyariatkan dalam sunnah Nabi Saw. Beberapa puasa tersebut adalah di antara
amal shalih yang paling agung yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah, menguatkan ketakwaan, keyakinan, dan kemanisan imannya.
Maka dari itu, berikanlah oleh Anda teladan yang baik kepada keluarga dan anak-anak Anda dalam melakukan shalat dan puasa sunnah agar mereka mencontoh Anda. Kemudian ikuti teladan yang baik tersebut dengan kata-kata dan nasihat yang baik untuk mengajak mereka mendapatkan keutamaan amalan sunnah. Agar Anda melihat keluarga dan anak- anak Anda terbiasa melakukan shalat dan puasa sunnah. Karena itu, bersungguh- sungguhlah mengamalkan amalan-amalan sunnah tersebut pada waktu dan hari-hari tertentu.
Ikatan dengan amalan sunnah ini meruapakan faktor penting dalam mem- bentuksisi rohani dan keimanan anak, serta mempersiapkan akhlak dan mentalnya. Bahkan, amalan sunnah itulah yang dapat menumbuhkan keikhlasan pada diri anak, ketakwaan, rasa selalu diawasi Allah, dan menghadirkan keagungan Allah di setiap keadaan.
Jika Anda sudah melakukan ini, maka Anda akan melihat hasil yang diharapkan berupa adanya ikatan rohani dan terbentuknya pribadi yang rabbani. Bahkan ia menjadi rujukan semua orang, karena dirinya berada dalam hidayah, agama, kebenaran, dan jalan yang benar.

□ Ikatan Anak dengan Rasa selalu diawasi Allah (muraqabatullah)
Allah berfirman: 
"Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud." (QS. Asy-Syu'ara’ [26]: 218-219)
 
"...Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada..." (QS. Al-Hadtd [57]: 4)

"Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit." (QS. Ali 'Imran [3]: 5)

Rasulullah Saw bersabda:
“Al-lhsan adalah engkau menyembah Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka Dia pasti melihatmu." (HR. Muslim)
 
"Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan, pasti kebaikan akan menghapus kejelekan, dan berakhlaklah yang baik kepada orang-orang." [HR. At-Tirmidzi)
 
"Orang yang berakal itu adalah orang yang mengendalikan nafsunya dan beramal untuk (kehidupan) setelah mati, dan orang yang lemah itu adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap- harap kepada Allah (mengampuninya walau ia selalu mengikuti nafsunya)" (HR. At-Tirmidzi)

Bedasarkan ayat-ayat dan hadits- hadits di atas, dapat menjadi dalil tentang pentingnya mendidik individu muslim dengan rasa selalu diawasi Allah, baik ketika sendirian maupun bersama orang lain, memuhasabahi diri, dan takwanya kepada Allah di manapun dirinya berada.
Ketika Anda menjalani semua ini bersama anak Anda, menanamkan benih-ber ih rasa selalu di awasi Allah, muhasabah diri, dan takwa, maka saat itu anak terdidik dengan keikhlasan kepada Allah dalam setiap perkataan, perbuatan, dan semua tingkah lakunya. Ia tidak akan pernah berniat dan beramal kecuali hanya mengharap ridha Allah.
Begitu juga anak akan terdidik dalam perasaan yang bersih, bahkan selamat dari penyakit-penyakit jiwa. Sehingga ia tidak akan merasa iri, dengki, tidak melakukan adu domba, dan tidak akan mau menggunakan benda yang dilarang. Jika ia terkena bisikan setan atau didorong oleh nafsu amarah, ia langsung teringat Allah bahwa Dia mendengar dan melihat dirinya. Ketika itu pula ia akan mengingat dan melihat kesalahannya.
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." fQS. Al-A'raf [7]: 201).

Pada pembahasan Tanggung Jawab Pendidikan Keimanan kami telah menerangkan bahwa membuat anak memiliki rasa selain dilihat Allah adalah sudah menjadi kebiasaan salafus shalih. Pada pembahasan tersebut kami sisipkan kisah tentang Sahi bin Abdullah At-Tustari, sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’-nya. Sahi bin Abdullah At-Tustari berkata, "Saat aku berusia tiga tahun, aku bangun di malam hari. Lalu aku melihat pamanku, Muhammad bin Siwar, sedang shalat. Kemudian, pada suatu hari ia berkata kepadaku, 'Mengapa engkau tidakberdzikir kepada Allah yang telah menciptakanmu?’ Aku berkata, ‘Bagaimana aku berdzikir kepada-Nya?’ Ia menjawab, 'Ucapkanlah dengan hatimu ketika engkau gelisah di atas tempat tidurmu, 3 kali tanpa menggerakkan lisanmu: Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku.'
Maka aku pun mengucapkan itu lalu memberitahukan pamanku. Ia berkata, 'Ucapkan itu setiap malam 7 kali.' Aku pun melakukannya, lalu memberitahukan pamanku. Ia berkata, 'Ucapkan itu setiap malam 11 kali.' Aku pun melakukannya, maka aku mendapatkan kenikmatan dari ucapan tersebut. Ketika setahun telah berlalu, pamanku berkata kepadaku, 'Jagalah apa yang telah aku ajarkan kepadamu. Terus ucapkan itu sampai engkau memasuki kuburmu, karena itu bermanfaat untukmu di dunia dan akhirat.’ Maka aku pun terus mengucapkan itu selama bertahun-tahun. Sehingga aku pun mendapatkan kenikmatan saat aku sedang sendirian. Kemudian, pamanku pada suatu hari berkata kepadaku, 'Wahai Sahal, barangsiapa yang Allah bersamanya, melihat kepadanya, dan menyaksikan dirinya, apakah ia akan durhaka kepada Allah? Jauhilah olehmu maksiat’.”
Dengan arahan tersebut, pembiasaan, dan pendidikan rabbaniyah yang benar, Sahal menjadi salah satu orang yang terpandang dengan keshalihannya.
Imam Ahmad Ar-Rifa'i berkata dalam kitabnya Al-Burhan Al-Mua'yyid, "Dari takut menjadi muhasabah, dari muhasabah menjadi muraqabah (rasa selalu dilihat Allah], dan dari muraqabah menjadi selalu sibuk bersama Allah.”
Maka, bersungguh-sungguhlah membiasakan diri Anda, keluarga, dan anak-anak Anda untuk merasa selalu dilihat Allah, membiasakan mereka dengan muhasabah diri, maka Anda bersama keluarga dan anak-anak akan mencapai tujuan yang yang diinginkan dalam pendidikan rohani dan pembentukan pribadi rabbani.
.Itulah poin-poin penting dalam manhaj Islam dalam membuat ikatan rohani seorang muslim, membentuk keimanan, dan akhlaknya. Secara pastinya, ketika anak sejak kecil sudah terikat dengan ibadah kepada Allah, baik dari segi ucapan dan perbuatannya, terikat dengan Al-Qur'an, bacaan dan tadabburnya, dengan masjid, dengan dzikir kepada Allah, dengan amalan sunnah, dan muraqabah juga muhasabah, maka anak akan memiliki sifat bersih, cemerlang, keimanan, keikhlasan, sifat wara’, takwa, khusyuk, dan selalu takut kepada Allah.
Maka para pendidik berkewajiban untuk menjalankan manhaj Islam dalam mendidik rohani terhadap anak-anak Anda, sehingga mereka menjadi seperti malaikat yang berjalan di muka bumi. Sebab, mereka telah menanamkan dalam diri mereka sendiri pokok-pokok keimanan, ketakwaan, dan muraqabah. Mereka telah menumbuhkan dalam hati mereka pilar- pilar rasa takut, tawakal, dan muhasab yang kuat. Pokok-pokok dan pilar-pilar tersebut merupakan faktor penting dalam membentuk akhlak anak, mendidik masyarakat, dan meluruskan mental serta akal mereka.

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1564
  • Logged
Re: KAIDAH-KAIDAH ASASI DALAM PENDIDIKAN MENGENAI KAIDAH IKATAN
« Reply #1 on: 08 May, 2019, 22:20:50 »
3.   Ikatan Pemikiran
Maksud dari ikatan pemikiran adalah mengikat seorang muslim sejak ia baru bisa memahami dan berpikir sampai tumbuh dewasa dengan aturan Islam sebagai agama dan negara. Ajaran-ajaran Al-Qur’an sebagai konstitusi dan sumber hukum. Ilmu-ilmu syariah sebagai manhaj dan hukum-hukumnya. Sejarah Islam sebagai semangat dan teladan. Kebudayaan Islam sebagai peradaban. Serta, manhaj dakwak Islam sebagai pendorong dan penyemangat.
Sebelumnya telah kami paparkan dalam pembahasan Tanggung Jawab Pendidikan Akal/Intelektual sebagian hakikat pendidik terhadap pikiran anak-anaknya. Sekarang, saya akan merangkum apa yang telah kami tulis itu dengan tambahan sebagian poin yang sangat berkaitan erat satu sama lain.
Berikut ini hakikat-hakikat tersebut:
■   Keabadian Islam dan kelayakannya untuk setiap ruang dan waktu, karena ia memiliki keistimewaan berupa unsur-unsur holistik, regenerasi, dan kontinuitas.
■   Para orang tua generasi awal telah mencapai kemuliaan, kekuatan, dan peradabannya yang tinggi, karena mereka celah menjadikan Islam sebagai sumber kemuliaannya dan penerapan mereka terhadap undang-undang Al- Qur’an.
■   Menemukan peradaban Islam yang selalu menjadi menara bagi dunia, memberi cahaya kepada umat manusia, dan mereka serap saripatinya sepanjang masa.
■   Menemukan adanya rencana-rencana besar yang digariskan musuh-musuh Islam:
1.   Rencana besar Yahudi
2.   Rencana besar imperialis
3.   Rencana besar komunis
4.   Rencana besar salibis
***
Rencana-rencana besar tersebut bertujuan untuk menghapuskan tanda- tanda akidan Islam di atas muka bumi, menanamkan benih-benih atheisme dalam masyarakat Islam, menyebarkan hedonisme dalam keluarga muslim, mematikan semangat perlawanan dan jihad dalam diri pemuda Islam, mengeksploitasi kekayaan negeri-negeri Islam untuk kepentingan kelompok dan pribadi mereka, kemudian menguasai dunia Arab dan Islam agar selalu berada di bawah kuasa mereka dan menjadi terpecah belah.
Peringatan bahwa umat Islam tidak akan pernab merasakan kejayaannya, kecuali mereka menjadikan Islam sebagai manhaj dan hukum, Al-Qur’an sebagai konstitusi dan sumber hukum, dan mengingat baik-baik perkataan 'Umar ini:
■   "Kita adalah kaum yang telah dimuliakan Allah dengan Islam. Maka kapan saja kita berharap kemuliaan dari selainnya, pasti Allah menghinakan kita dengannya."
Alangkah indahnya apa yang dikatakan sebagian mereka, "Kita adalah umat Islam, kita tidak masuk sejarah karena Abu Jahal, Abu Lahab, dan Ubay bin Khalaf. Akan tetapi, kita masuk sejarah karena Rasulullah jg seorang Arab, Abu Bakar, dan Umar. Kita tidak menaklukkan negeri-negeri dengan perang Al-Basus, Dahis, dan Al-Ghabra’, tetapi kita menaklukkannya dengan perang Badar, Al-Qadisiyah, dan Yarmuk. Kita tidak memerintah dunia dengan Al-Mu‘allaqat As-Sab'u (tujuh kumpulan syair yang digantungkan), tetapi kita memerintah dunia dengan Al-Qur’an. Kita tidak membawa risalah Lata dan ‘Uzza kepada manusia, melainkan kita membawa risalah Islam dan prinsip-prinsipnya kepada mereka."
■   Peringatan bahwa keterbelakangan umat Islam dan terpecah belahnya, juga kekuasaan Yahudi penjajah yang memaksakan eksistensinya di Palestina dan Masjidil Aqsha, tiada lain sebagai akibat dari jauhnya kaum muslimin dari Allah. Kita tidak memberlakukan hukum yang telah Allah turunkan, malah justru mengemis kepada aturan dunia dan undang-undang konvensional dari negara-negara yang tidak menegakkan agama samawi dan nilai- nilai akhlak sama sekali.
Maka benar sekali yang disabdakan Rasulullah Saw:
"Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka berhukum dengan selain dari apa yang Allah turunkan, kecuali Allah akan jadikan mereka dikuasai oleh musuh mereka, sehingga musuh dapat menghabiskan sebagian yang ada di tangan mereka. Dan tidaklah mereka memberlakukan kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, kecuali Allah jadikan (berhasilnya) serangan musuh kepada mereka." (HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim)

Peringatan bahwa masa depan adalah milik Islam walau bagaimanapun konspirasi musuh dan rencana besar orang- orang kafir untuk menghancurkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath- Thayalisi bahwa Nabi Saw, bersabda:

"Sesungguhnya agama pertama kalian adalah kenabian dan rahmat, kenabian itu ada di antara kalian selama Allah kehendaki bersama kalian. Kemudian Allah mengangkatnya, lalu berlakulah di antaramu khilafah yang berdiri di atas manhaj kenabian. Kekhilafahan itu ada bersama kalian selama Allah kehendaki.
Kemudian Allah mengangkatnya. Lalu khilafah itu menjadi kerajaanyang zalim, maka kerajaan itu ada bersama kalian selama Allah kehendaki. Lalu kerajaan yang zclim itu menjadi kerajaan yang menindas, maka kerjaan yang menindas itu ada selama Allah kehendaki. Lalu Allah mengangkatnya. Kemudian kerajaan yang menindas itu menjadi khilafah yang berpegang pada manhaj kenabian yang memberlakukan sunnah Nabi Saw pada manusia. Dan Islam pun berkuasa di muka bumi yang diridhai oleh yang tinggal di langit dan di bumi. Langit menghujankan airnya dengan melimpah dan bumi mengeluarkan semua tumbuhan dan berkahnya."

Hadits tersebut menerangkan bahwa kerajaan yang menindas telah datang masanya sekarang. Hal ini ditandai dengan banyak terjadi kudeta terhadap para penguasa yang menyampaikan mereka pada tampuk kekuasaan tanpa ada persetujuan sama sekali dari rakyat cian merebutnya dari keinginan rakyat. Munculnya kediktatoran yang dimulai oleh Ataturk di Turki dan diikuti oleh yang lainnya di semua tempat. Namun, dalil dalam hadits tersebut; menerangkan kalau tidak akan berlangsung lama, dan akan datang hari ketika khilafah yang berpegang pada manhaj kenabian akan datang kembali, Semoga hari itu sudah sangat dekat, insya Allah.

■ Peringatan dari cara pandang pesimis dan piitus asa yang mengatakan, "Semuanya sudah berakhir, kita sudah lama,” dan, "Diam saja di rumah, tidakada gunanya berusaha dan berjihad.” Inilah ayat Al-Qur’an yang memperingatkan kita dari cara pandang yang putus asa tersebut. Allah berfirman:
 
"Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.'Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu. Apabila datang ketakutan [bahayaj, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati. Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedangkan mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman. Maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 18-19)

Inilah sabda Rasulullah Saw yang memperingatkan kita darisekelompokorang yang ingin membuat kaum muslimin mundur dari politik dan jihad. Beliau bersabda, "Siapa saja yang berkata, 'Binasalah kaum muslimin,'maka dialah yang membinasakan mereka (kaum muslimin)"
Inilah bukti-bukti dalam sejarah yang berbicara kenyataan tentang guncangan yang menghancurkan dan menimpa kaum muslimin sepanjang masa, maka apakah yang terjadi?
■   Siapa yang dulu mengira bahwa ketika negeri-negeri Islam dan Masjidil Aqsha telah dikuasai oleh kaum salibis, akan muncul seorang pahlawan yang memerdekakannya, Shalahuddin Al-Ayyubi. Sejak saat itulah kaum muslimin pun kembali memiliki eksistensi, kekuatan, dan kemuliaan.
■   Siapa yang mengira ketika bangsa Mongol dan Tatar menghancurkan dunia Islam, akan muncul seorang pahlawan yang membebaskannya, Saefuddin Qutuz dalam peperangan di ‘Ain Jalut. Sehingga kaum muslimin pada masa itu menjadi jaya dan memiliki keagungan yang membuat generasi setelahnya merasa bangga.
Optimis dengan kemenangan adalah mukadimah dari kemenangan. Kekuatan maknawi di setiap bangsa adalah yang mendorong generasi dan para pemuda bangsa tersebut untuk mewujudkan kemenanganyangsesungguhnyalanggeng.  Dan sejarahlah yang menjadi saksi apa yang kami katakan ini.
Kebenaran dan hakikat ini harus selalu Anda tanamkan kepada keluarga dan anak-anak Anda, sehingga semua orang terdorong untuk optimis terhadap Islam. Saya sampaikan kabar gembira kepada Anda bahwa jika Anda dengan tekun bersama mereka memberikan kesadaran tentang Islam, membuat ikatan pemikiran, rohani, dan mengingatkan akan agungnya peradaban Islam dan sejarahnya, maka anak-anak Anda akan terikat secara pemikirannya dengan Islam. Perasaan dan emosi mereka akan selaras dengan ajakan kepada Allah. Mereka hanya mengenal syariat Islam sebagai undang-undang dan aturan. Mereka tidak akan menjadikan selain Nabi Saw sebagai teladan dan pemimpin. Mereka juga tidak akan terpengaruh dengan ajakan yang menyesatkan dan akidah kafir yang atheis.
Namun, ini semua hanya akan terjadi jika Anda menyediakan bagi mereka (anak- anak Anda) perpustakaan di rumah yang menyediakan bermacam-macam buku. Mulai dari buku syariah, pemikiran, sejarah, sastra, kisah-kisah, dakwah, serta tokoh- tokoh besar dan para ulama syariat di dunia Islam. Buku-buku yang bermacam-macam tersebut memperlihatkan Islam yang sebenarnya, sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Saw, dipahami para sahabat seperti yang diikuti oleh salafus shalih, dan yang mengikuti kebaikan mereka.
Hendaklah ketika Anda ingin mendapatkan satu buku, mintalah saran kepada para ulama yang tulus dan para da'i yang jujur, karena dikhawatirkan masuknya buku yang membawa nama Islam ke dalam rumah Anda, pembahasan tentang Islam, namun penulisnya adalah orang yang telah terpengaruh oleh perang pemikiran dari barat dan orientalis, sehingga ia mengira apa yang mereka katakan itu adalah kebenaran. Lalu ia tuliskan itu sebagai kebenaran, padahal sebenarnya itu semua adalah perkara batil yang bukan berasal dari siam. Contohnya seperti, Ahmad Amin, Thaha Husain, Husain Haikal, Khalid Muhammad Khalid, Muhammad Farid Wajdi, Jalaluddin Al-Kisyk, dan lainnya.
Di antara cara dan sarana yang dapat mengiKat pemikiran dan emosi anak Anda dengan Islam adalah mendengarkan khotbah yang dapat menyadarkan, ceramah yang oermakna, dan film sejarah yang bermanfaat.
Pilihlah masjid yang sesuai untuk melaksanakan shalat Jum'at. Yaitu, masjid yang khathibnya terkenal dengan ketulusannya, ketakwaan, kesadaran, pemahaman keislamannya yang utuh, metode yang menank, wawasan yang luas, ilmu yang banyak yang meliputi segala aspek kehidupan, agar memberikan pengaruh yang lebih dan menghasilkan kesadaran yang menggugah.
Pilinlah ceramah yang tepat untuk didengarkan, yaitu dengan memilih penceramah yang sudah dikenal akidahnya dan akhlak Islamnya, untuk mengikat apa
yang dikatakannya tentang Islam sebagai akidah, ilmu, peradaban, dan pemikiran.
Pilihlah film yang baik, yaitu yang jauh dari perkara-perkara yang munkar. Carilah film yang berisikan tentang kejayaan sejarah Islam, atau tentang cara mengatasi kejahiliyahan yang sedang menimpa kaum muslimin. Selain itu, perhatikan sutradara dan penulis skenarionya. Dia haruslah seorang yang sudah dikenal ketakwaan, akhlak, kecakapan, dan keahliannya yang sudah tidak diragukan. Sehingga pesan yang ingin disampaikan pun dapat sampai kepada para penonton dengan baik.
Itulah cara dan sarana yang terpenting yang saya sarankan bagi Anda untuk membuat ikatan pemikiran, akidah, dan keimanan anak Anda. Jika Anda menjalani semua itu, maka anak Anda akan memiliki keimanan yang kuat, akidah yang dalam untuk menghadapi segala tantangan kejahiliyahan dengan segala macam bentuknya. Bahkan, ia dapat melampaui semua ukuran di bumi ini yang dibuat oleh manusia. Karena, agama Allah yang menjadi keyakinannya melebihi segala keyakinan yang lain:
"...Dan (hukum) siapakahyang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al- Ma'idah [5]: 50)

4.   Ikatan Sosial
Pada pembahasan Tanggung Jawab Pendidikan Sosial, kami telah menyebutkan oahwa pendidik memiliki tanggung jawab y'ang besar dalam mendidik anak sejak kecil untuk selalu berpegang pada etika-etika sosial yang luhur dan membiasakannya dengan prinsip-prinsip jiwa yang kuat yang lahir dari akidah Islam yang kekal dan terpancar dari perasaan persaudaraan yang dalam. Agar anak tampak di dalam masyarakat Islam dengan akhlak yang baik, pergaulan yang penuh persaudaraan, etika sosial, memiliki akal yang seimbang, dan perilaku yang bijak.
Kami juga telah menyebutkan empat sarana yang dapat mencapai pendidikan sosial yang baik, yaitu:
■   Menanamkan prinsip-prinsip jiwa yang
hebat
■   Memperhatikan hak orang lain
■   Berpegang teguh pada etika-etika
sosial umum
■   Pengawasan dan kritik sosial
Anda pun pasti sudah tahu bahwa sarana dan cara ini untuk membentuk akhlak anak, mempersiapkan jiwa sosialnya, dan mentalnya. Hal ini bertujuan agar ia menjadi pribadi yang shalih untuk membangun masyarakat yang baik dan mewujudkan umat yang ideal. Inilah titik tolak Islam dalam perbaikan dan pembentukan masyarakat. Akan tetapi, apakah yang dimaksud dengan ikatan sosial, setelah kita membicarakan tentang pendidikan sosial dan sarana- sarananya? Apa juga yang dimaksud dengan membuat ikatan sosial pada anak? Dan apa hubungannya ikatan ini dengan pendidikan? Semua itu akan kami jawab pada pembahasan ini, dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.
Maksud dari membuat ikatan sosial pada anak yaitu pendidik berusaha menghubungkan anak, sejak ia mulai memahami hakekat semuanya, dengan lingkungan sosial yang bersih dan baik. Agar anak mendapatkan jiwa yang bersih, hati yang suci, iman yang kuat, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang terpuji, badan yang sehat, kesadaran Islam yang baik, berjihad demi dakwah, ruh yang cemerlang, dan semangat keimanan dalam beragama.
Lalu seperti apakah lingkungan sosial yang baik yang dapat memberikan sifat yang mulia pada anak dan menjadikannya insan ideal yang penuh kesadaran? Saya memandang bahwa lingkungan tersebut dapat terwujud pada tiga hubungan ini:

□ Hubungan Anak dengan Gurunya
Semua sepakat, jika anak memiliki ikatan atau hubungan dengan guru yang tulus dan baik, yang memahami Islam dengan sebenarnya, pembela Islam dan mujahid di jalannya, menerapkan hukum- hukumnya, menjauhi segala larangannya, dan tidak takut oleh omongan orang, maka anak tersebut tentu akan menjadi sempurna imannya, akhlaknya, menjadi matang akalnya dan pengetahuannya, terbentuk pribadi yang siap berjihad dan berdakwah, terdidik dalam akidah yang kuat, dan Islam yang sempurna.
Namun, seandainya kita mendapatkan guru yang keadaannya terbalik dengan keadaan di atas, apakah yang akan kita dapatkan? Kita akan mendapatkan para guru itu memberikan kepada murid mereka gambaran yang salah tentang Islam. Mereka hanya memberikan salah satu aspek saja dan mengabaikan aspek lainnya.




Di antara contoh memberikan gambaran yang salah tentang Islam, yaitu dengan mengatakan:
■   Islam tidak memiliki sistem hukum.
■   Seorang muslim yang menempuh jalan tasawwuf tidak boleh ikut campur dalam politik.
■   Apab la kamu melihat syaikhmu berbuat maksiat, maka kamu sebagai murid harus meyakini bahwa itu adalah ketaatan.
■   Syaiki itu bersih dari maksiat, karena ia maksum.
■   Seorang murid tidak pernah lepas dari kebur ukan dan tidak akan memiliki budi luhur, juga tidak akan sampai kepada Allah, sehingga ia mengakui segala dosanya kepada syaikhnya.
■   Seorang murid jika tidak meng-akui segala dosanya di hadapan syaikhnya berarti ia telah membatalkan baiatnya.
Dan perkatan lainnya yang bertentangan dengan syariat Allah dan aturan Islam
Di antara contoh orang yang memperhatikan satu aspek dan mengabaikan aspek Islam yang lainnya, seperti:
■   Orang yang memusatkan perhatiannya dalam memperbaiki jiwa dan membersihkannya dan meng-abaikan kewajiban amar makruf nahi munkar, dan melawan orang-orang yang zalim.
■   Orang yang hanya memperhatikan penampilan luar yang islami dan pembentukan rohani dan ibadah, namun mengabaikan sisi amal pergerakan dan kesatuan Islam untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi ini.
■   Orang yang hanya mengarahkan semua perhatiannya untuk berdakwah, namun tidak memperhatikan sedikit banyaknya terhadap usaha atau gerakan untuk menegak-kan negara Islam. Padahal mereka tahu bahwa Islam itu utuh dan tidak bisa dibagi-bagi, hukum-hukumnya tidak bisa dipisah-pisahkan, sebagaimana firman Allah:
 
"...Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat...." (QS. Al- Baqarah [2]: 85) 

Maka seorang guru rabbani yang berpengetahuan dan kesadaran yang matang adalah yang akan memberikan teladan yang sempurna tentang Islam. Ia tidak boleh menyembunyikan satu ilmu tentang agama Allah, atau diam dari kebenaran, atau juga membiarkan kemungkaran, menganggap remeh kewajiban, memalingkan ucapan dari makna yang sebenarnya, takut kepada seseorang, sangat menyukai sese-orang karena memiliki kedudukan dan kekuasaan, atau mengetahui satu firman Allah tentang suatu perkara, tetapi ia diam saja. Jika ia melakukan salah satu dari perkara di atas, maka ia adalah seorang penyembunyi petunjuk dan penjelas yang telah Allah turunkan. Bahkan, ia termasuk orang yang tidak dilihat dan disucikan Allah pada hari kiamat. Selain itu juga termasuk orang- orang yang dilaknat oleh Allah dan semua pelaknat.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan- keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknat, kecuali mereka yang telah bertobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran). Maka terhadap mereka itulah Aku menerima tobatnya dan Akulah yang Maha Menerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah [2]: 159-160)

 "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang sangat pedih."(QS. Al-Baqarah [2]: 174)

Rasulullah Saw telah memperingatkan dengan neraka Jahannam dan tempat kembali yang buruk bagi semua orang yang menyembunyikan ilmu yang Allah jadikan oermanfaat dalam perkara agama, atau ia diam dari kebenaran yang pasti dalam urusan agama yang ia ketahui. Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah Saw bersabda:
 
"Barangsiapa yang menyembunyikan satu ilmu yang Allah jadikan bermanfaat dalam urusan agama, Allah pasti memberinya tali kekang pada hari kiamat dengan tali kekang dari api neraka." (HR. Ibnu Majah)

Para guru yang tulus dan ulama rabbani yang pada masa lalu membawa kepemimpinan perbaikan, pendidikan, bimbingan, dan pembersihan jiwa. Mereka sebenarnya berada pada pemahaman yang tinggi terhadap Islam yang sempurna. Mereka memiliki rasa wara' dan ketakwaan yang besar, teguh dalam menjalankan manhaj Islam yang terdapat pada Al- Qur’an dan As-Sunnah.
Bahkan, mereka memberikan gambaran yang benar tentang Islam dalam perilaku sosial mereka, pemahaman keislaman mereka, tugas mereka dalam membelikan bimbingan, dan arahan tarbiyah. Mereka juga tidak diam kala melihat kemungkaran. Merekamemandang wajib bagi mereka untuk mengubahnya. Mereka tidak akan membiarkan ketika melihat satu maslahat, pasti mereka akan mengatakannya, dan mereka tidak akan tertinggal untuk melakukan jihad yang suci ketika diperlukan.
Adapun tentang keteguhan mereka dalam berpegang pada syariat juga Al- Qur’an dan As-Sunnah, mari kita dengarkan apa yang dikatakan oleh para imam besar dan ulama rabbani ini:
Syaikh Abdul Qadir Al-Kilani dalam bukunya Al-Fath Ar-Rabbani, "Setiap hakikat yang tidak dipandang benar oleh syariat maka itu adalah zindiqah. Terbanglah kepada Allah dengan dua sayap Al-Qur’an dan As-Sunnah, masuklah kepadanya dan tanganmu memegang tangan Rasulullah Saw.
Ia juga berkata, "Meninggalkan ibadah adalah zindiqah, mengerja-kan yang dilarang adalah maksiat, kewajiban tidak akan pernah gugur dalam ‘hal’ bagaimana pun.”
Imam Sahal At-Tustari berkata, "Pokok thariqah (jalan) kami ada tujuh: berpegang teguh pada Al-Qur’an, mengikuti sunnah, mema-kan yang halal, menghindarkan bahaya, menjauhi maksiat, selalu bertobat, dan menyampaikan hak/melakukan kewajiban.”
Imam Abu Al-Hasan Asy-Syadzli berkata, "Apabila bertentangan kasyafmu dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka berpeganglah pada Al-Qur’an dan As- Sunnah dan tinggalkanlah kasyafmu itu. Dan katakan pada dirimu sendiri, ‘Sesungguhnya Allah telah menjamin keterjagaanku di dalam Al-Qur’an dan As- Sunnah, dan tidak menjaminnya di dalam kasyaf, ilham, juga musyahadah, kecuali setelah dicocokkan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah’.”
Imam Abu Sa'id Al-Kharaz berkata, "Setiap batin yang bertentangan dengan zhahir, maka dia itu batil.’’
Perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Al-‘Arabi, "Para kaum tasawuf semuanya telah sepakat bahwa tidak ada penghalalan dan tidak juga pengharaman setelah syariat Rasulullah Saw dan penutup para nabi. Yang ada hanyalah pemahaman  yang diberikan di dalam Al-Qur’an kepada orang-orang pilihan Allah, luapan ilmu yang diberikan Allah kepada orang yang taat kepada-Nya, lalu Allah mengilhaminya dan menjadikan cahaya untuknya.”
Bahkan,kita mendapatkan diantara para imam rabbani ini ada yang memperingatkan bahaya mereka yang mengaku kebatinan yang menggugurkan dari diri mereka dan pengikutnya kewajiban-kewajiban, tidak memberlakukan hukum-hukum syariat, mentakwil nash-nash dengan hal yang berten-tangan dengan yang seharusnya, dan berjalan selain di atas sunnah-sunnah Islam. Bahkan juga kita mendapati mereka memperingat-kan orang yang duduk bersama orang-orang kebatinan tersebut, mereka berlepas diri dari kesesatan mereka, penyimpangan mereka, dan menunjukkan kebatilan mereka.
Abu Yazid Al-Busthami berkata kepada sebagian pengikutnya, "Mari kita berjalan sampai melihat orang ini yang dirinya terkenal sebagai wali. Ia adalah orang yang terkenal dengan kezuhudannya." Ketika orang tersebut keluar dari rumahnya dan masuk ke masjid, ia meludah ke arah kiblat. Maka Abu Yazid langsung berbalik dan pulang tanpa mengucapkan salam kepadanya. Dan ia berkata, "Orang ini tidak tepercaya dengan salah satu etika Rasulullah Saw, maka bagaimana mungkin ia bisa dipercaya dengan pengakuannya?”

Abu Yazid juga berkata, "Seandainya kalian melihat kepada seseorang yang diberi karamah sehingga ia bisa duduk bersila di atas udara, maka janganlah kalian tertipu dengannya sampai kalian melihat bagaimana kalian mendapatinya dalam perintah dan larangan Allah, menjaga hukum had, dan menjalankan syariat.”
Sahal bin 'Abdullah At-Tustari berkata, "Waspadalah duduk bersama tiga golongan orang: penguasa lalim yang lalai, pembaca yang mencari muka, dan ahli tasawuf yang bodoh.”
Imam Al-Junaid berkata, "Mazhab kami adalah yang diikat oleh dasar-dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semua thariqah tertutup bagi makhluk kecuali yang mengikuti atsar Rasulullah Saw.
Imam Asy-Sya'rani berkata dalam Al- Yawaqit wa Al-Jawahir, "Setiap orang yang melemparkan timbangan syariah dari tangannya sekejap saja, pasti ia celaka."
Adapun suara mereka dalam meninggikan kalimat al-haq dan berdiri melawan yang batil dan mungkar, serta jihad mereka di jalan Allah, juga ada banyak. Mari kita dengarkan apa yang dikatakan oleh para penulis besar tentang para imam rabbani ini dalam jihadnya, pengaruh dakwahnya, dan bimbingannya untuk ishlah dan tarbiyyah:
Syaikh Abu Zahrah berkata, "Begitu juga dengan tasawuf, sebagaimana yang dikatakan oieh Al-Ustadz Faudah, pada masa-masa kita sekarang ini memiliki beberapa keistimewaan dan pengaruh yang jelas. Kaum muslimin di Afrika Barat, Afrika Tengah, dan Afrika Selatan, iman mereka semua adalah buah hasil dari tasawuf.
Imam As-Sanusi ketika ingin ishlah di antara kaum muslimin, beliau pertama kali menempuh rnanhaj sufi. Manhajnya saat itu aneh dan asing. Maka ia mengambil murid- murid, kemudian ingin menjadikan para pengusaha sebagai murid-muridnya juga. Oleh karena itu, ia membangun ruangan- ruangan keci l untuk shalat (kemah). Kemah pertama yang ia bangun adalah di sebuah gunung di sekitar Mekah. Kemudian ia berpindah dengan kemah-kemahnya di padang pasir. Kemah-kemah ini menjadi oase yang makmur di tengah padang pasir. Dengan usaha para pengikutnya, dapat
digali sumber mata air sehingga dapat menyuburkan ladang perkebunan dan pertanian di sana.
Ia pun memberi pengarahan kepada mereka dan mengajarkan mereka berperang dan menembak, sehingga mereka dapat menyerang (mengusir) penjajah Italia selama lebih dari 20 tahun, ketika negara Turki Utsmani tidak bisa membantu Libya.
Perlawanan Sanusi itu terus berlangsung melalui kemah-kemahnya sampai Allah memindahkan kekuasaan negara Italia. Dan ternyata gerakan Sanusi itu hidup kembali dan kita sangat menginginkan gerakan ini hidup seperti mulanya sebagai thariqah shufiyah yang berjuang dengan gigih.
Al-Ustadz Shabri Abidin berkata dalam seminar Liwa Al-Islam, "Pada kenyataannya, gerakan sufi yang menyebarkan Islam di dunia. Dan saya ingin menyebutkan kepada Anda semua bahwa sejak 50 tahun yang lalu, Syaikh Al-Bakri telah menyusun satu kitab yang menyebutkan kutipan para misionaris. Ia menuliskan, 'Mereka ini berkata, ‘Kami pergi ke pelosok-pelosok wilayah yang jauh dari peradaban dan kota di Afrika, juga pelosok-pelosok Asia, dan kami menemukan di sana para sufi yang telah mendahului kami dan mereka (ahli sufi) lebih unggul daripada kami’."
Semoga kaum muslimin memahami kekuatan ruhiyah dan materil yang terdapat dalam gerakan sufi, maka pasukan mereka telah disiapkan untuk Islam.
Saya melihat di perbatasan-perbatasan Ethiopia, Sudan, Eritria terdapat banyak misionaris Swedia. Saya juga mendapati di samping mereka terdapat gubuk-gubuk yang dibangun oleh para sufi, dan mereka merusak tempat tinggal para misionaris Swedia selama 40 tahun. Oleh karena itu, saya sangat berharap kita bekerja sama untuk membasmi gerakan-gerakan yang menyakiti kita, baik dari segi agama maupun politik. Dan orang-orang yang menyerang gerakan sufi, bukan berarti mereka berada di atas tingkatan isu, tetapi mereka telah tenggelam dalam isu-isu tersebut.
Abu Al-Hasan An-Nadawi berkata di dalarr bukunya Rijal Al-Fikr wa Ad-Da'wah ft Al-Mam, tentang Syaikh Abdul Qadir Al- Jailan , "Orang yang menghadiri majelisnya sampai 70 ribu orang. Lebih dari 5 ribu orang Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam karena dakwahnya, dan lebih dari 100 ribu orang yang bertobat karena dakwahnya, la telah membuka lebar-lebar pintu baiat dan tobat, sehingga masuklah melaluinya orang-orang yang sangat banyak yang tidak terhitung. Keadaan mereka menjadi baik, mereka masuk Islam dan menjalankan keislamannya dengan baik. Syaikh terus mendidik mereka dan mengawasi kemajuan mere ca. Para murid syaikh ini merasakan adanya tanggung jawab setelah berbaiat, bertobat, dan memperbarui imannya.
Kemudian syaikh memberi ijazah untuk mengajar kembali kepada mereka yang ia anggap telah mantap, istiqamah, dan memiliki kemampuan untuk mendidik. Mereka pun bersebaran di pelosok-pelosok negeri untuk berdakwah kepada orang- orang agar kembali kepada Allah, mendidik jiwa, dan memerangi kemusyrikan, bid'ah, kejahiliyahan,sertakemunafikan. Maka dari itu, tersebarlah dakwah agama, berdirilah kemah-kemah keimanan, sekolah-sekolah ihsan, markas-markas jihad, dan tempat- tempat perkumpulan persaudaraan di berbagai belahan dunia Islam.
Mereka memiliki keutamaan yang besar dalam menyebarkan Islam di tempat-tempat yang jauh yang tidak diperangi oleh pasukan Islam atau tidak dapat ditundukkan oleh pemerintahan Islam. Dan Islam pun tersebar di Afrika, Indonesia, kepulauan di samudra Hindia, Cina, dan India."
Syaikh Muhammad Raghib Ath- Thabbakh berkata di dalam kitabnya Ats- Tsaqafah Al-lslamiyyah\
Di antara usaha mulia yang telah dilakukan oleh gerakan sufi dan pengaruh mereka yang baik terhadap umat Islam adalah para raja dan pangeran, saat bermaksud untuk berjihad, maka baik dengan isyarat maupun tidak, para sufi itu mengerahkan para pengikutnya untuk keluar ikut berjihad. Mereka bersegera untuk bergabung dengan para mujahid, maka itulah sebab munculnya kemenangan.
Amir Syakib Arslan berkata dalam bukunya Hadhir Al-'Alam Al-Islami pada pembahasan yang berjudul Kebangkitan Islam di Afrika dan Sebab-sebabnya, "Pada abad ke-18 dan 19 muncullah kebangkitan yang baru pada para pengikut dua thariqah: Al-Qadiriyah dan Asy-Syadziliyah. Begitu pula terdapat dua thariqah lain: At- Tijaniyah dan As-Sanusiyah.
Al-Qadiriyah: mereka adalah para 
penyebar Islam di barat Afrika dari Senegal sampai Banin yang berdekatan dengan Niger. Mereka menyebarkan Islam dengan cara damai melalui perdagangan dan pendidikan. Mereka mengajarkan anak-anak kecil kulit hitam agama Islam di tengah-tengah pengajaran dan mereka mengi-imkan murid-muridnya dengan biaya kemah-kemah sufi ke berbagai sekolan di Tripoli, Qairuwan, Qurawiyun di Fez, dan Universitas Al-Azhar Mesir. Setelah lulus dari studinya, mereka kembali ke negerinya masing-masing untuk melawan misior aris Kristen di Sudan.
Amir Syakib Arslan berbicara juga mengenai syaikh thariqah Al-Qadiriyah. Ia berkata, "Syaikh Abdul Qadir Al- Jailani adalah seorang sufi yang agung. Ia memiliki banyak pengikut sampai tidak terhitung. Thariqahnya sampai ke Spanyol. Ketika negara Arab hilang dari Granada, maka pusat thariqah berpindah ke Fes. Dengan perantaraan thariqah ini, hilanglah bid'ah dari bangsa Barbar, dan mereka pun berpegang pada As-Sunnah dan A;-Jama‘ah. Sebagaimana thariqah ini juga yang memberi hidayah pada bangsa- bangsa kulit hitam di barat Afrika pada abad ke-15."
Pembicaraannya tentang Sanu- siyah sama dengan yang disebutkan oleh Muhammad Abu Zahrah, tentang perlawanannya melawan penjajah Italia sampai Allah memberikannya kemenangan.
Lalu Amir Syakib Arslan berbicara mengenai thariqah Asy-Syadziliyah. Ia berkata, "Asy-Syadziliyah adalah nisbah kepada Abu Al-Hasan Asy-Syadzili. Ia bergurukepadaAbdusSalambinMusyayasy yang berguru kepada Abu Madin. Thariqah ini adalah di antara thariqah-thariqah yang memasukkan tasawuf ke Maroko. Pusatnya berada di Marakesh. Di antara syaikh-syaikhnya yaitu Sayidi Al-Arabi Ad- Darqawi yang menumbuhkan semangat keagamaan pada murid-muridnya yang terus menyebar sampai ke Maroko Tengah. Ad-Darqawiyah ini memiliki peran yang efektif dalam perlawanannya melawan penjajah Perancis."
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari paparan di atas tentang para ulama rabbani, sufi yang memiliki kesadaran, dan para pengikut thariqah yang tulus. Mereka adalah yang membawa kepemimpinan dakwah dari masa ke masa dan risalah Islam kepada manusia. Mereka adalah yang telah menyatukan antara ibadah dan jihad dan mengamalkan hak-hak Allah dan hak-hak hamba. Mereka juga yang menyuarakan kebenaran di hadapan para penguasa zalim dan penjajah yang sewenang-wenang.
Mereka inilah yang telah mengikat kebenarang dengan syariat Islam yang benar, bukan dengan pribadi-pribadi yang fana. Mereka menunggu apa yang akan dihukumkan syariat kepada mereka. Mereka juga menerima kritikan jika mereka salah, saling menasihati jika khilaf, karena mereka yakin bahwa mereka hanya manusia yang bisa benar dan salah. Sebab, maksum itu hanya untuk para nabi. Semoga Allah merahamati Imam Malik ketika ia suatu kali berdiri di hadapan kuburan Rasulullah Saw dan berkata, "Tidaklah di antara kami kecuali yang membantah dan dibantah, kecuali yang memiliki kubur ini." Sambil menunjuk ke makam beliau.
Di antara sikap para ulama yang tulus terhadap syariah dan kebenaran adalah sepe ’ti sikapnya Syaikh An-Nursi At-Turki, yang dijuluki Badi' Az-Zaman (yang hebat di zamannya). Sikapnya itu terlihat ketika ia merasa di antara murid dan pengikutnya ada yang berlebihan menyucikannya. Maka ia berkata kepada mereka dengan memberikan pesan dan nasihat:
" Janganlah kalian menghubungkan kebenaran yang aku serukan kepada kalian dengan pribadi diriku yang fana. Akan tetapi, hendaklah kalian bersegera untuk mengikatnya dengan sumbernya yang suci: Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Suniah Nabi-Nya Saw. Ketahuilah bahwa aku tidak lebih dari seorang makelar yang menunjuk-kan barang dagangan Ar- Rahman. Ketahuilah bahwa aku tidaklah maksum. Terkadang aku berbuat dosa atau juga melakukan penyimpangan, sehingga jika kalian menghubungkan kebenaran dengan pribadiku yang menyimpang dan berdosa, maka penampakan kebenaran itu tercampur dengan dosaku. Dan itu dapat menyimpangkan mereka dari kebenaran.”
Sikap para ulama salaf yang rabbani ini pun tampak pada perkataan Abdullah bin Al-Mubarak kepada Al-Fudhail yang lebih memilih beribadah haji daripada jihad di jalan Allah. Ibnu Al-Mubarak berkata:
Vahai hamba Haramain, seandainya engkau melihat kami, engkau pasti mendapati dirimu bermain-main dengan ibadah.
diapa pun yang melelahkan kudanya dalam kebatilan, maka kuda-kuda kami lelah pada hari yang tidak disukai orang.
Atau orang yang membasahi pipinya dengan air mata, maka leher kami basah dengan darah kami.
Makaketikaperkataan Ibnu Al-Mubarak itu sampai kepada Al-Fudhail, ia menangis dan berkata, "Benar apa yang dikatakan sadaraku dan yang telah menasihatiku.”
Ibnu Al-Mubarak ketika menulis nasihat itu, ia sedang berjibaku dengan jihad dan berkemah di tanah Syam.
Sungguh agung seorang ulama dan guru yang mengukur dirinya dengan kebenaran bukan mengukur kebenaran dengan dirinya. Sungguh agung teladannya untuk orang banyak, ketika ia memberikan Islam kepada mereka dengan manhajnya yang holistik, baik yang berkaitan dengan akidah dan hukum, yang berkaitan dengan agama dan negara, yang berkaitan dengan tazkiyah dan jihad, yang berkaitan khusus dengan ibadah dan politik, atau juga yang berkaitan dengan menyuarakan kebenaran dan kewajiban amar makruf nahi munkar.
Maka yang harus Anda lakukan sebagai pendidik adalah mencari seorang guru rabbani yang berkumpul pada dirinya sifat- sifat dan pemahaman yang disebutkan di atas. Sehingga, ketika anak Anda sudah memiliki hubungan dan ikatan dengan sang guru, sang guru itu akan memberikannya pemahaman keislaman yang benar dan holistik. Ia akan mengarahkan hati anak, pikirannya, dan ruhnya kepada manhaj Islam yang sempurna dan mengikatnya dengankebenaran,syariat, danpemahaman salaf, bukan terhadap pribadi sang guru itu yang tidak maksum dan bersifat fana.
Dan berhati-hatilah, Anda meng-ikat dan menghubungkan anak Anda dengan orang-orang yang mengaku guru, sufi yang bodoh, dan seorang yang munafik, karena mereka sangat banyak pada masa sekarang ini.
■   Seorang mursyid yang mengaku dirinya maksum dan terjaga dari kesalahan, maka ia adalah orang bodoh yang hanya mengaku-aku saja.
■   Mursyid yang menuntut pengikutnya untuk mengakui dosa-dosanya di hadapannya adalah seorang bodoh yang diragukan ke-mursyid-annya.
■   Mursyid yang berharap agar sang murid mengikuti ucapannya, namun memalingkannya dari hidayah Al- Qar'an dan As-Sunnah adalah seorang bodoh yang diragukan ke-mursyid- annya.
■   Mursyid yang berharap sang murid diam ketika melihat mursyidnya durhaka dan agar menganggap maksiat mursyid adalah ketaatan, maka ia adalah seorang bodoh yang diragukan ke-mursyid-annya.
■   Mursyid yang menyembunyikan ilmu agama yang bermanfaat, atau diam saja dari menjelaskan kebenaran yang diketahuinya dari urusan yang sudah pasti dalam agama, maka ia adalah seorang bodoh yang diragukan ke- marsyid-annya.
■   Mursyid yang membatasi pengertian Islam pada tazkiyah an-nafs saja dan mengabaikan prinsip-prinsip Islam yang lain seperti aturan hukum dan aturan kehiduoan, maka ia adalah seorang bodoh yang diragukan ke- mursyid-annya.
■ Seorang mursyid yang bersikap mencari muka di hadapan penguasa dengan memujinya, maka ia adalah seorang yang bodoh dan diragukan ke- mursyid-annya.
Ketika anak terikat dengan teladan yang penuh dengan kesadaran sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas, dan bertemu dengan guru atau mursyid yang bersifat rabbani dengan keadaan yang telah kami terangkan di atas, maka anak akan terdidik dalam ketakwaan dan ketaatan kepada Allah. Anak akan tumbuh dalam sikap merendahkan diri di hadapan Allah dan berani membela kebenaran. Anak akan tumbuh dalam ibadah di mihrab dan memerangi musuh di medan jihad. Saat itu, ia akan terdorong untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi dengan keimanan, keislaman, semangat muda, kesadaran, pemahaman yang benar, dan tanggung jawab.
Melalui pembentukan yang sempurna ini dan dengan pendidikan yang diberikan, di tangan guru yang memiliki sifat rabbani, anak akan menjadi pribadi yang shalih yang siap menjadi unsur dalam masyarakat Islam yang baik. Pada saat itu juga terwujudlah dengan kedua tangannya kemuliaan Islam, kemenangan kaum muslimin, dan tegaknya negara yang berdiri di atas aturan Al-Qur’an.

□ Hubungan anak dengan teman yang baik
Faktor penting dalam pemben-tukan keimanan dan mental anak, serta dalam menyiapkan akhlak dan sosialnya adalah menghubungkan anak sejak ia masih kecil dengan teman yang shalih. Hal ini bertujuan agar ia mengambil darinya kepribadian yang baik, sifat shalih, ilmu yang bermanfaat, etika yang luhur, dan akhlak yang terpuji.
Seorang pendidik haruslah memperhatikan pada diri anak adanya integritas antara hubungannya dengan guru yang baik dan hubungannya dengan teman yang shalih. Sebab, jika kedua hal itu bertentangan dan saling bertolak belakang, maka itu dapat mengakibatkan bahaya berupa:

Pertama: Dualisme dalam arahan.
Kedua: Menyimpang dalam perilaku.
Maksud dari dualisme dalam arahan,
yaitu anak yang terdidik pada tangan guru yang baik, kemudian berteman dengan orang-orang yang tidak memiliki kesadaran keislaman dan pemahaman yang baik, maka anak akan terpengaruh oleh mereka dan mengambil sifat dan sikap mereka, menerima pikiran mereka, karena ia belum sampai pada tingkat kematangan akal dan wawasan yang menjadikannya dapat memfilter mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itu, anak menjadi terpengaruh dengan dua pikiran dan mengambil dua kepribadian: kepribadian yang penuh kesadaran dan pemahaman serta kepribadian yang lalai dan jahil. Maka pada saat seperti itu, ia akan mengalami kebingungan dan perang batin dalam dirinya. Ia tidak tahu ke mana harus melangkah.
Sedangkan yang dimaksud dengan penyimpangan dalam perilaku, yaitu ketika anak melihat gurunya yang shalih memberikannya kesadaran keislaman dan pemahaman yang sangat berbeda dengan pemahaman keislaman teman-temannya, maka anak akan terpengaruh dengan hal yang paradoks ini. Ia akan hidup dalam penuh pertanyaan dan pikiran yang bisa membawanya pada penyimpangan perilaku dan akidah, sebagai akibat dari respons terhadap hal-hal paradoks yang dihadapinya. Karenanya, integritas antara ikatan dengan guru dan ikatan dengan teman yang shalih adalah faktor terbesar dalam pembentukan pribadi anak, mental, dan akhlaknya. Sehingga anak tidak hidup di alam yang paradoks, split personality, kebingungan, dan perang batin.
Berdasarkan hal ini, pendidik harus mencari teman yang baik untuk anak. Yaitu, yang sama-sama terdidik di tangan guru yang baik dengan kesadaran dan pemahaman yang benar. Dengan inilah ikatan yang terbentuk akan lebih baik, pengaruhnya lebih kuat, dan integritas dalam pembinaan kepribadian lebih terjamin.
Di antara perkara yang harus diperhatikan pendidik dan diusahakan terwujudnya adalah adanya hubungan anak dengan empat macam teman sebagai berikut:
1.   Teman di rumah
2.   Teman di lingkungan tempat tinggal
3.   Teman di masjid
4.   Teman di sekolah
1.   Teman di rumah
Teman anak ketika di rumah adalah saudara-saudara dan kerabat dekatnya. Mereka iri adalah yang pertama dijumpai, dikenal, dan berkumpul bersama mereka. Mereka ini juga yang pertama kali akan ditiru anak dan terjalin ikatan dengan mereka. Oleh karena itu, pendidik wajib mengawasi sekuat tenaga juga mengetahui keadaan mereka ini, walaupun mereka masih sai dara atau kerabat dekat anak.
Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa kakak terbesar adalah teladan dan contoh bagi anak, baik dalam kebaikan maupun -ceburukan. Maka dari itu, jika orang tua membiarkan terjalin hubungan yang kua: dengan kakaknya yang tidak baik, maka tentu itu akan memberikan pengaruh buruk kepada anak. Pada saat itu, sulit b agi pendidik dan orang tua untuk memperbaiki penyimpangan yang sudah terjadi dan mengembalikan anak kepada akhlak ya ig semestinya.
Solusi praktis untuk mengatasi itu semua adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk menghalangi keterikatan anak dengan saudara-saudaranya yang tidak baik dan sudah rusak. Sehingga anak yang masih kecil tidak akan terpengaruh oleh mereka dan tidak akan meniru akhlak mereka yang buruk tersebut.
Pendidik pun harus mencari kerabat dekat yang memiliki anak-anak yang memiliki akhlak yang baik dan kesadaran keislaman yang tinggi. Lalu menyiapkan hubungan sosial antara anak-anak Anda dan anak-anak mereka, agar hubungan mereka semakin kuat dan mereka dapat saling meniru dan mengambil kebaikan dari masing-masing mereka.
Ketika tidak ada kerabat dekat shalih yang memiliki anak yang berakhlak baik, maka pendidik harus mengambil keputusan tegas untuk mencegah anaknya bergaul dengan merekayangtidakmemiliki akhlak yang baik. Bahkan, pendidik harus lebih memperhatikan dan mengawasi mereka, selain pendidik pun harus selalu mengingatkan anak-anak untuk tidak bermain dengan teman-teman yang tidak baik. Selanjutnya, di setiap kesempatan pendidik harus selalu memberikan arahan untuk meman-tapkan keimanan dan akhlak anak, agar fitrah mereka selalu terjaga kebersihannya.
Apabila anak sangat memerlukan teman bermain, maka pendidik harus mencari teman yang baik selain kerabat dekatnya. Yaitu, yang ditiru sifat baik dan akhlak terpujinya. Dengan seperti ini maka pendidik telah memindahkan anak kepada lingkungan yang baik dan kondusif untuk pendidikannya.
2.   Teman di lingkungan tempat tinggal
Adapun yang saya maksud dengan teman di lingkungan tempat tinggal, yaitu anak-anak tetangga yang bertempat tinggal di sekitar rumah. Sudah menjadi hal yang biasa bahwa di setiap lingkungan tempat tinggal menyodorkan berbagai macam perilaku, sikap, dan etika. Fenomena ini adalah fenomena yang bahaya dan harus diatasi oleh para pendidik dan yang memiliki tanggung jawab terhadap hal tersebut. Mereka semua barusbekerjasama untuk menanggulangi masalah tersebut. Kami telah membicarakan tentang hal tersebut dalam pembahasan Tanggung Jawab Pendidikan Akhlak, silahkan Anda liat kembali agar lebih jelas.
Namun, yang kami maksudkan di sini adalah perhatian pendidik terhadap liigkunganyangtidakkondusifyangbanyak menyebabkan anak-anak kita menjadi tercela akhlaknya, rusak pendidikannya, dan menyimpang akidahnya. Sehingga pendidik memerlukan usaha berlipat ganda untuk dapat memperbaiki akidah anak, membentuk kembali akhlaknya, sampai ia harus memilih cara yang sangat efektif untuk menyelamatkan anak dari lingkungan yang rusak dan merusak tadi.
Di antara sarana yang tepat-menurut pandangan banyak ahli pendidikan dan sosial-adalah meng-hubungkan anak cengan teman yang baik. Adapun teman terbaik yang harus mengikat anak adalah teman tetangga atau lingkungan tempat t;nggalnya yang baik. Di mana ia selalu bertemu dengannya di masjid, pada waktu Uang, atau berkumpul bersama di meja belajar, tempat olahraga, atau juga keluar untuk jalan-jalan.
Secara pastinya, berhubungan dengan teman yang shalih dari anak-anak tetangga atau lingkungan sekitar dapat menjaga anak dari tercampurnya dengan anak- anak yang tidak baik Selain itu juga bisa menjaga akidahnya dari penyimpangan dan akhlaknya dari ketercelaan. Karenanya, hendaklah pendidik bersungguh-sungguh dalam mengadakan hubungan dan ikatan antara anak Anda dengan temannya yang -halih dari anak-anak tetangga sekitar disertai dengan pengawasan yang ketat dan pengarahan yang kontinu.

3.   Teman di masjid
Yang saya maksud dengan teman di masjid, yaitu pertemanan anak dengan anak- anak seusianya yang biasa shalat berjamaah, shalat Jumat, dan mengaji di masjid dekat rumah. Menurut saya, anak yang terbiasa ke masjid karena kesadaran sendiri atau karena arahan orang tua dan gurunya adalah anak yang di dalam dirinya terdapat ruh iman dan ketaatan kepada Allah, la tunduk kepada perintah Islam dan larangannya. Dialah yang bisa diharapkan kebaikannya dan memberi manfaat.
Jika anak tersebut dapat ter-biasa ke masjid oleh orang yang mengarahkannya dan mengajarkan-nya, maka anak tersebut sudah bisa dipastikan dapat diharapkan menjadi bagian dari masyarakat Islam. Dan yang saya ingin tekankan di sini adalah bahwa teman di lingkungan tempat tinggal dan teman di masjid merupakan dua hal yang saling berkaitan yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Apa manfaatnya berteman dengan teman di lingkungan tetangga jika ia tidak terbiasa shalat di masjid? Apa untung yang bisa diperoleh oleh seorang yang mengimami masjid dari teman lingkungan tempat tinggalnya yang tidak mengarahkan wajahnya ke rumah Allah?
Jika pendidik sangat peduli untuk memilihkan teman terbaik untuk anaknya agar terjalin hubungan antara mereka, maka jadikanlah pilihan tersebut pada teman-teman yang terbiasa ke masjid di lingkungan rumah. Karena mereka berada dalam fitrah yang murni, iman yang suci, dan, akhlak yang bersih. Dari sini tibalah peran pendidik untuk mengawasi anak dan anak-anak lain yang menjadi temannya, dalam kebiasaan mereka shalat jamaah, belajar agama, dan mengaji di masjid.
Pendidik jangan sampai lupa untuk selalu mendukung anak agar terbiasa ke masjid. Sehingga mereka terdorong selalu untuk shalat tepat waktu, saling berlomba untuk shalat berjamaah pada waktunya, dan semangat dalam menghadiri halaqah Al-Qur’an can ilmu-ilmu agama tepat pada waktunya.
Maka,   bersungguh-sungguhlah untuk mengadakan ikatan antara anak Anda dengan teman-teman masjidnya sebagaimana yang telah kami terangkan di atas disertai dengan pengawasan dan pemberian dorongan yang kontinu. Agar anak Anda-insya Allah-termasuk kepada muslim yang taat dan shalih.

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1564
  • Logged
Re: KAIDAH-KAIDAH ASASI DALAM PENDIDIKAN MENGENAI KAIDAH IKATAN
« Reply #2 on: 08 May, 2019, 22:44:44 »
4.   Teman di sekolah
Sedangkan yang saya maksud dengan teman sekolah atau belajar adalah anak- anak seus a anak Anda yang menjadi temannya di sekolah, tempat ia belajar. Di sini saya ingin agar para pendidik memperhatikan pentingnya pembahasan ini. Bisa disimpulkan bahwa sekolah saat ini di negeri-negeri yang telah dikuasai oleh pemikiran yang sesat, aliran-aliran atheis, prinsip-prinsip nonmuslim, siapa yang menyebarkannya? Jawabannya ialah melalai tangan para guru yang telah menjual nurani mereka kepada setan dan orang-orang asing.
Di tangan kelompok-kelompok yang berkeyakinan sesat yang memiliki misi untuk menyebarkan keraguan dan memerangi Islam. Di tangan lembaga- lembaga pendidikan yang memiliki keyakinan sesat yang merupakan kepanjangan tangan kelompok-kelompok di atas untuk menjalankan misi mereka dalam menyesatkan umat, menyebarkan keraguan di kalangan pelajar. Di tangan gerakan feminisme yang memiliki misi untukmenghilangkanhijabkaummuslimah yang menjadi kesucian dan kehormatan, untuk menghancurkan aturan Islam yang sudah mengangkat kaum perempuan, menghancurkan prinsip-prinsip Islam yang telah memberikan semua pada haknya masing-masing. Banyak dari mereka yang mengatasnamakan gerakan pembebas perempuan, gerakan persamaan gender.
Ini belum termasuk lingkungan sekolah yang di dalamnya terdapat kecenderungan yang berbeda dan orientasi yang bermacam-macam. Sedikit sekali kita dapati orang yang melalui sekolah ingin mengajak kepada agama yang lurus, Islam yang benar, akhlak yang luhur, dan prinsip- prinsip pendidikan yang lurus.
Dengan kenyataan yang seperti itu, maka bagi pendidik berkewajiban untuk berusaha keras menyelamatakan anak Anda dari lingkungan yang gelap, rusak, dan sesat. Dan usaha penyelamatan ini tidak akan terwujud kecuali dengan adanya teman di sekolah yang shalih dan memiliki kesadaran yang tinggi, yang memiliki hubungan kuat dengan anak Anda pada masa-masa dirinya melewati proses transformasi pengetahuan, pembentukan wawasan, baik itu pada tingkat SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Sebaiknya memilihkan teman sekolah yang baik adalah dari yang dapat memberikan kebaikan lebih banyak kepada anak Anda. Jika tidak ada, maka seleksilah teman-teman anak dengan dasar pemahaman yang benar, akidah dan akhlak yang lurus, dan taat melaksanakan ibadah terutama shalat.
Dalam membicarakan tentang sekolah, saya ingin pendidikmengeta-hui kenyataan yang lain yang harus mendapatkan perhatian serius. Yaitu, kondisi anak-anak pere mpuan di sekolah dan pengaruh emosi dan mentalnya. Ketahuilah bahwa perempuan dengan ketertarikannya secara emosi, mudah terpengaruh dan tergoda dengan godaan gaya hidup modern dan istilah gaul, serta gemerlap kehidupan dun; a yang penuh dengan tipu daya. Karena itu, perempuan sangat mudah melenceng dari kebenaran, mudah terbawa arus lingkungan sekitar, condong kepada hawa nafsu, yang selanjutnya membuatnya kehilangan rasa takut terhadap aturan agama, suara hati, pertimbangan akal, dan tidak melihat akibat buruk yang akan menimpanya.
Disebabkan kenyataan tersebut, maka pendidik harus lebih memberikan perhatian kepada anak perempuan daripada anak laki-laki, karena khawatir keimanannya mudah tergoyahkan, akh aknya mudah berubah, tergelincir kepada keburukan, atau tertarik untuk bergabung dengan organisasi yang jauh dari agama. Hingga selanjutnya dapat menjadikan dirinya kehilangan sesuatu yang paling mulia bagi dirinya, yaitu keislaman dan kehormatannya. Karenanya,
Islam mewajibkan Anda untuk menyiapkan lingkungan yang kondusif untuknya, baik lingkungan di rumah maupun di sekolah. Yaitu, lingkungan yang dapat menjaganya dari penyimpangan.
Adapun cara untuk menyiapkan lingkungan yang kondusif bagi anak perempuan Anda, yaitu dengan menghubungkannya dengan da'iyah dan mursyidah yang baik dan sering berkumpul dengan mereka. Selain itu juga menghubungkan anak dengan teman-teman yang shalihah sehingga terjalin ikatan yang kuat di antara mereka, baik itu teman-teman yang masih memiliki hubungan kekerabatan di rumah, maupun teman-teman satu sekolah. Di samping itu juga memberinya pengawasan yang ketat dan kontinu, agar bisa terpantau keadaan keimanannya, keistiqamahannya, akhlaknya, dan keteguhannya dalam memegang prinsip-prinsip dan ajaran Islam.
Jika Anda sebagai orang tua tidak bisa menyediakan lingkungan dan sarana yang dapat menjaga anak perempuan Anda, maka Anda tidak boleh membiarkannya bergaul sembarangan dan pergi sesukanya. Hal ini disebabkan, dikhawatirkan ia dapat kehilangan miliknya yang paling berharga, yaitu agama dan kehormatannya.
Perlu diketahui pula bahwa apa yang berlaku bagi teman di sekolah berlaku juga bagi teman di tempat kerja. Tidak sedikit tempat kerja dan lembaga-lembaga, yang sayangnya, mempekerjakan para pegawai yang tidakberakhlak, beretika, atau pun tidak beragama. Bahkan di antara para pegawai, dengan perbedaan tingkat jabatannya, ada yang menganut paham komunis yang atheis, atau yang tergabung dengan organisasi pekerja yang tidak menghargai agama dan akhlak sebagai aturan. Ada juga di antara mereka yang hidupnya seperti binatang yang hidup dengan mengikuti hawa nafsunya. Tujuan hidupnya hanyalah untuk memuaskan nafsu seksnya, minum minuman keras, berjudi, mendengarkan nyanyian-nyanyian yang dapat merangsang syahwat, nongkrong di klub yang penuh dengan maksiat. Di sana mereka menghilangkan kewibawaan mereka sebagai laki-laki di bawah kaki para perempuan penyanyi, penari, atau pelacur.
Pada waktu yang sama, ada pula pegawai yang berpegang teguh terhadap Islam, istiqamah pada kebenaran, akhlah, dan disiplin dalam menjalankan manhaj Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Namun, mereka sangatlah sedikit dibandingkan dengan mereka yang tidak berakhlak. Oleh karena itu, Islam mengharuskin Anda, sebagai pendidik, untuk mei cari tempat kerja yang terdapat di dalamnya para pegawai yang shalih untuk berhubungan dengan anak Anda. Jika anak Anda lupa, mereka akan mengingatkannya. Jika ia ingat, mereka akan membantunya. Dan jika mereka melihatnya menyimpang dari kebenaran, mereka akan menyelamatkannya agar tetap berada dalam jalan istiqamah dan akhlak terpuji.
Jika terjalin kerja sama antara pengarahan dari rumah dengan hubungan atau ikatan dengan teman yang baik, baik itu teman di sekolah, tempat kerja, lingkungan tempat tinggal, atau masjid, maka sudah bisa dipastikan bahwa anak akan menjadi baik keadaannya. Ia akan istiqamah, berkepribadian Islam yang integral, dan selalu berakhlak terpuji. Karenanya, Ibnu Sina pernah berpesan tentang pendidikan anak dengan mengatakan, “Hendaknya di tempat belajar anak ada teman yang baik etikanya dan disenangi kebiasaannya, karena anak akan mudah meniru anak yang lain."
Maka dari itu, hendaklah Anda bersungguh-sungguh dalam menjalani semua kaidah pendidikan dan prinsip- prinsip Islam yang lurus ini untuk menjaga anak dari kehilangan arah dan menyimpang dari kebenaran. Semua itu bisa terjadi dengan adanya teman yang baik bagi anak, seperti yang telah kami terangkan di atas, agar anak selalu berada dalam hidayah, pikiran yang lurus tentang kehidupan, dan mengetahui jalan yang benar.
 
"Katakanlah, 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf [12]: 108)
Terakhir, berikut ini adalah arahan dan peringatan Islam dari teman-teman yang tidak baik dan merusak, agar Anda mengetahui bagaimana Islam sangat memperhatikan adanya teman yang baik, dan memerintahkannya. Allah berfirman:

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia"’ (QS. Al-Furqan [25]: 27-29)

"Yang menyertai dia berkata (pula), 'Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatanyang jauh’." (QS. Qaf [50]: 27)

“Teman-teman akrab pada hari itu seba- giannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)
Rasulullah Saw bersabda:
“Seseorang itu tergantung kepada agama temannya, maka perhatikanlah oleh salah seorang dari kalian dengan siapa seseorang itu berteman." (HR. At- Tirmidzi)

"Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah sebagai pembawa minyak wangi dan peniup alat bakaran pandai besi. Pembawa minyak wangi ada kalanya memberikan minyaknya padamu, atau engkau dapat membelinya, atau engkau dapat memperoleh bau yang harum darinya. Adapun peniup alat bakaran, ada kalanya akan membakar pakaianmu atau engkau akan memperoleh bau
yang yang tidak enak darinya." (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

"Jauhilan teman yang jelek, karena engkau akan dikenal karenanya." (HR. Ibnu Asakir)
Semoga Allah merahmati penyair yang mengatakan:
(Jika kamu ingin mengetahui seseorang) janganlah kamu tanyakan tentang orangnya itu, tetapi tanyakanlah kepada siapa yang menjadi temannya Karena setiap orang tidak akan jauh berbeda tingkah lakunya dengan teman dekatnya.

□ Hubungan anak dengan dakwah dan da’i
Satu lagi faktor penting dalam menyempurnakan kepribadian anak dan mempersiapkan mental, sosial, dan semangat dakwahnya adalah hubungannya dengan dakwah dan da'i sejak ia sudah dapat mema-hami tanggung jawabnya dalam kehidupan. Semua itu bertujuan untuk menumbuhkan dalam diri anak semangat dakwah kepada Allah, berani membela kebenaran, dan memiliki akhlak sabar. Sehingga ketika semangat dakwah telah tertanam dalam dirinya, ia akan berani seperti singa dalam menyampaikan agama Allah, tanpa takut kecaman orang lain atau rintangan di jalannya.
Tidak diragukan lagi bahwa seorang mursyid rabbani yang mendidik anak hendaklah memiliki pemahaman yang holistik tentang Islam, kepedulian, semangat keislaman yang membara, dan selalu bergerak di jalan-Nya. Sebab, dialah yang akan medidik anak akan semangat dakwah, jihad, kesadaran akan tanggung jawab, dan gerakan untuk meninggikan kalimah Allah. Bahkan, mursyid itulah yang akan menyiapkan anak menjadi tentara pembela kebenaran dan menjadi seorang da’i yang mengajak orang-orang kepada Islam, menyam-paikan risalah Rabbnya, dan tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah.
Ketika anak terdidik dalam lingkungan dakwah dan tersiapkan baginya kondisi jihad tablig, maka anak akan tumbuh dalam semangat jihad, tablig berdakwah, menyebarkan hidayah kepada orang- orang, dan menyelamatkan umat manusia. Bahkan, semangat dakwah dan jihad tersebut tertanam kuat dalam dirinya yang selanjutnya menjadi watak, akhlak, dan kebiasaannya.
Ketika anak disibukkan waktu kosongnya dengan amal dakwah dan kewajiban tablig, pada saat berkomunikasi dengan orang-orang dan bertemu dengan mereka, maka sebenarnya kita sudah mengisi waktu kosongnya dengan perkara yang bermanfaat bagi diri anak sendiri dan pengaruhnya yang positif bagi masyarakat sekitarnya. Dalam waktu yang sama pula, kita telah menanamkan dalam diri anak kecenderungan sosial yang menajamkan talenta, membentuk kepribadian, serta menyiapkan dirinya menjadi pembela kebenaran dan dakwah Islam.
Namun, bagaimana kita mempersiapkan anak agar menjadi seorang da'i? Apa saja tahapan yang harus dilalui agar ia bisa menjadi da'i yang hebat? Berikut ini tahapan-tahapan persiapan tersebut:
1.   Persiapan diri/mental
Yaitu, dengan memberikan gam- oaran pahit yang sedang menimpa umat islam di seluruh pelosok dunia. Dengan gambaran bahwa dunia Islam sedang mengalami peperangan prinsip dan pemikiran, kehancuran politik dan sosial, munculnya fenomena hedo-nisme, adanya konspirasi kaum salibis, Yahudi, komunis, dan imperialis, adanya keputusasaan dan pesimisme yang sedang menghantui banyak kaum muslimin, dan gambaran lainnya yang sudah sangat tampak bagi semua muslim di dunia Islam.
Penggambaran tentang kenyataan yang ada dapat mendorong anak untuk merasa harus melakukan kerja dakwah dan jihad tablighi. Bahkan, kita pun dapat menyiapkan mentalnya untuk bertolak di jalan dakwah dengan iman, qana‘ah, dan semangat yang kuat.

2.   Membuat perumpamaan
Di sini tibalah peran pendidik atau mursyid dalam menjelaskan kepada anak sampai ia merasa puas, tentang pentingnya kerja dakwah dan jihad tablighi demi memuliakan syariat Allah dan meninggikan panji Islam. Dalam membuat perumpamaan ada dua sisi:
a. Membuat perumpamaan untuk menghilangkan dari diri anak rasa pesimis dan putus asa, serta menumbuhkan harapan dan keoptimisan dalam dirinya.

b. Membuat perumpamaan dapat juga mendorong anak untuk melakukan aksi, memberikan pengorbanan, dan bersikap teguh apapun rin-tangan yang menghalangi.
Untuk jenis yang pertama kita dapat merujuk kepada kejadian sejarah seperti berikut:
Siapa yang mengira bahwa umat Islam akan terpecah belah dan murtad setelah wafatnya Rasulullah Saw. Dan pada tahap pertama kekhilafahan Abu Bakar, tampaklah fanatik jahiliyah, yaitu ketika orang-orang Arab kembali keluar dari Islam dan di antara mereka yang mengaku muslim secara lahiriahnya ada yang menolak untuk membayar zakat. Bahkan, di antara mereka pun ada yang menganggap shalat tidak wajib. Kaum muslimin setelah wafatnya Nabi Saw, bagaikan kambing di malam yang hujan, seperti yang diterangkan oleh Aisyah. Keadaan saat itu sudah sangat membuat pesimis, sampai-sampai ada sebagian orang yang datang kepada Abu Bakar dan berkata, "Wahai Khalifah Rasulullah, engkau tidak akan mampu melawan semua bangsa Arab. Diam saja di rumahmu, kunci pintumu, dan sembahlah Rabbmu sampai ajal datang menjemput."
Namun, Abu Bakar sama sekali tidak putus asa atau merasa pesimis dari rahmat Allah dan pertolongan-Nya. Sejak ia menjadi khalifah, Abu Bakar yang pada mulanya seorang yang tenang, berubah menjadi orang yang tegas dan galak.
Ia berkata kepada Umar "Apakah engkau orang yang pemberani di masa jahiliyah dan menjadi penakut di masa Islam? Dengar apa engkau kira aku akan menundukkan mereka? Dengan sihir atau syair? Tidak ;ama sekali. Rasulullah SU telah wafat da i wahyu pun telah berhenti turun. Demi Allah, aku akan memerangi mereka selama pedang ada di tanganku. Maka demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dengan zakat Wahyu telah sempurna. Apakah agarm ini akan berkurang, ketika aku masih hidup? Demi Allah, seandainya mereka tidak mau menyerahkan zakat walaupun satu anak unta saja, maka aku pasti memerangi mereka karenanya."
Sementara itu 'Umar. tidak bisa berbuat kecuali hanya berkata, "Sungguh Allah telah me lapangkan dada Abu Bakar untuk berperang, dan aku tahu bahwa ia benar.”
Demikianlah Abu Bakar m dengan imannya, tekadnya, jihadnya, dan kekuatan jiwanya yang besar, mampu mengembalikan kestabilan negara Islam dan menguatkan kembali kemuliaannya. ***
Siapa yang dulu mengira bahwa ketika negeri-negeri Islam dan Masjidil Aqsha telah ciikuasai oleh kaum salibis, akan muncul seorang pahlawan yang memerdekakannya, Shalahuddin Al- Ayyubi, di perang Hathin yang sangat menentukan kemenangan. Dan kaum muslimin pun kembali memiliki eksistensi, kekuatan, dan kemuliaan.
Siapa yang mengira akan ada pembela
Islam dan kaum Muslimin ketika tentara Mongol dan Tatar menghancurkan dunia Islam dari ujung hingga ujung yang lainnya, yang menghancurkan jiwa, harta, dan kehormatan? Sehingga dikatakan bahwa Holako membangun gunung dengan tengkorak kaum muslimin.
Siapa yang mengira bahwa negara Islam ini akan dibebaskannya lewat tangan seorang pahlawan Saefuddin Qutuz dalam peperangan di 'Ain Jalut, dan kaum muslimin saat itu menjadi jaya dan memiliki keagungan yang membuat generasi setelahnya merasa bangga.
Optimis dengan kemenangan adalah mukadimah dari kemenangan. Kekuatan maknawi di setiap bangsa adalah yang mendorong generasi dan para pemuda bangsa tersebut untuk mewujudkan kemenangan yang sesungguhnya. Dari lemah menjadi kuat, dari hina menjadi mulia, dan dari keterpecahan menjadi persatuan.
Ketika Anda menanamkan harapan dan rasa optimis dalam diri anak, maka anak akan terdorong untuk masuk ke medan dakwah. Bahkan, ia pun siap menjadi pasukan pembela kebenaran yang kuat dan teguh.
Sedangkan yang berkaitan dengan jenis kedua dari pembuatan contoh, bisa merujuk pada teladan-teladan di bawah ini:
Teladan pertama dan utama, Rasulullah Saw yang banyak menemukan berbagai macam siksaan dan tekanan di jalan dakwah. Di dalam buku-buku sirah Nabi Saw banyak mengisahkan tentang hal tersebut.
Teladan dari generasi Islam awal, para shahabat Rasulullah yang berjihad di jalan Allah dengan sebenarnya dan mereka mesuk ke dalam ujian dakwah pada fase Mekah dengan keimanan yang seperti gu aung. Mereka sama sekali tidak merasa hina, rendah, atau lemah. Bahkan ketika be tambah ujian maka semakin bertambah pula keimanan mereka. Merekalah yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas'ud.
Jika ingin meniru, tirulah para shahabat Rasulullah Saw. Karena mereka orang yang paling haik hatinya dari kalangan umat ini, yang paling dalam ilmunya, yang paling sedikit memberatkan diri, yang paling lurus mendapatkan hidayah,dan paling baik keadaannya. Allah t,elah memilih mereka untuk menemani dan menyertai Nabi- Nya dan menegakkan agama- Nya. Kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak-jejak mereka, karena mereka berada pada petunjuk yang lurus.
Kisah tentang keteguhan, pengorbanan, dan kesabaran mereka banyak terdapat di buku-buku sejarah.
Teladan para pejuang dakwah dari masa ke masa sampai sekarang ini. Mereka memiliki sikap yang mulia dan pengorbanan yang dikenang sepanjang masa dan membuat bangga generasi- generasi setelah-nya. Seperti, Al-Hasan
Al-Bashri, Al-'lz bin Abdus Salam, Mundzir bin Sa'id, Ahmad bin Hanbal, Abu Ghiyats Az-Zahid, Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, dan masih banyak lagi para da’i yang kuat seperti gunung, teguh seperti singa, serta menjadi contoh dalam kesabaran dan pengorbanannya.
Ketika Anda sudah menanamkan tentang pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan para da’i di jalan dakwah, maka akan terbentuk dalam benak anak semua sifat tadi, dan akan mengalir dalam diri serta hatinya. Maka pada saat itu ia memiliki teladan untuk mengambil jalan hidupnya, menjalani manhaj seperti manhaj mereka, dan berjalan menempuh jalan mereka. Ia pun menjadi orang-orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka ..." (QS. Al-An’am [6]: 90]
3.   Menjelaskan keutamaan dakwah
Pada tahap ini, pendidik harus memusatkan pada pikiran anak tentang pahala besar yang akan diperoleh oleh seorang yang mengaj ak masyarakat kepada Allah saat ia mulai memilih dakwah sebagai jalan hidupnya, dan menyampaikan risalah Islam kepada manusia. Pusatkan pada pikiran anak bahwa para da’i itu adalah manusia terbaik dan yang paling utama, sebagaimana yang difirmankan Allah:
 
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah ..." [QS. Ali ‘Imran [3]: 110)
Pusatkan pada pikiran anak bahwa para da'i itu adalah orang-orang yang bahagia dan menang di dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali ‘Imran [3]: 104)
Pusatkan pada pikiran anak bahwa para da'i itu tidak ada seorang pun yang dapat melebihi kemuliaan mereka, sebagaimana firman Allah:
 
"Siapakahyang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata,   'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'"(QS. Fushilat [41]: 33)
Pusatkan pada pikiran anak bahwa para da’i akan mendapatkan pahala seperti pahala-pahala yang didapatkan oleh mereka yang mengikuti dakwah para da’i, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah
"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikuti petunjuk tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." [HR. Muslim)
Pusatkan pada pikiran anak bahwa para da’i meninggalkan jejak yang baik bagi masyarakatnya, berupa hidayah yang Allah berikan kepada mereka. Itu lebih baik bagi mereka daripada apapun. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
'Maka demi Allah, satu orang yang diberi hidayah oleh Allah karena dirimu lebih baik bagimu daripada binatang ternak (unta) berwarna merah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain:

‘Lebih baik bagimu daripada hari- nari di mana terbit dan tenggelamnya matahari."
ketika Anda menanamkan semua keuramaan dakwah dalam diri anak, maka anak akan terdorong untuk melangkah di jalur dakwah dengan kesadaran sendiri untuk mendapatkan pahala dari Yang Maha Menggenggam semua urusan.

4. Menjelaskan prinsip-prinsip yang aarus diikuti dalam menyampaikan lakwah
?ada tahapan ini, pendidik harus menjelaskan kepada anak prinsip-prinsip yang harus diikuti dalam menyampaikan dakwah, sampai ia dapat berpegang teguh pada prinsip-prinsip tersebut tanpa mengabaikannya sedikit pun. Berikut ini prinsip-prinsip yang bisa kita rangkum:
a.   seorang da’i harus mengetahui semua permasalahan yang ia dakwahkan atau yang ia larang. Sehingga perintah atau larangan yang didakwahkannya selalu sesuai dengan hukum-hukum syariah dan prinsip-prinsip Islam. Mahabenar Allah yang berfirman:
“...Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ...?" (QS. Az-Zumar [39]: 9)

b.   Perbuatannya harus selalu sesuai dengan perkataannya, sehingga orang- orang akan menerima ajakannya.
Alangkah sengsaranya orang-orang yang mengatakan apa yang tidak diperbuatnya. Beitu pula, alangkah bodohnya mereka yang menyuruh orang-orang yang berbuat baik, namun mereka melupakan dirinya sendiri. Sungguh mengerikan apa yang difirmankan Allah tentang mereka itu:
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatuyang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (^S. Ash-Shaff [61]: 2-3]
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang-kan kamu melupakan diri (kewaji-ban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al- Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?" (^S. Al-Baqarah [2]: 44]

c.   Sesuatu yang ingin dilarang dari orang- orang itu narus sesuatu yang sudah menjadi ijmak ulama, sehingga orang- orang dengan kefanatikannya tidak terjatuh pada kebingungan, baik secara pikiran, mental, maupun sosial. Apalagi perkara yeng menjadi lahan ijtihad dan pendapat para imam. Mereka sudah berkata dari dulu, "Barangsiapa yang mengikuti sesuatu dengan ilmu, maka ia akan bertemu Allah dengan selamat.”

d.   Mengubah kemungkaran harus secara bertahap agar tidak terjadi hal-hal buruk yang tidak disangka di akhirnya. Makamulaiiahdenganmemberinasihat agar takut kepada Allah. Kemudian beri ancaman, sampai berkata-kata dengan tegas. Baru kemudian mengubahnya dengan kekuatan tangan. Itulah yang benar dan sesuai dengan hikmah. Allah berfirman:
“...Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak (QS. Al-Baqarah [2]: 269]

e.   Menyampaikan dakwah harus dengan lemah lembut dan akhlak yang baik, agar dapat diterima oleh hati orang- orang dengan baik. Mahabenar Allah yang berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...." (QS. An-Nahl [16]: 125]

f.   Bersabar menghadapi cela dan siksa. Hal ini bertujuan agar diri-nya tidak merasaberputusasaketikamenghadapi kesombongan, kebodohan, dan olok- olok dari orang-orang. Mari kita simak nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya yang dikisahkan dalam Al- Qur'an:
"Hai anakku, dirikanlah shalat dan perintahkanlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apayang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)."(QS. Luqman [31]: 17)
Itulah prinsip-prinsip penting  yang hrrus diikuti dalam menyampai-kan dakwah Islamiyah. Maka dari itu, Anda sebagai pendidik harus membimbing anak Anda dalam menjalankan prinsip-prinsip te rsebut sehingga terbiasa, bertahap dalam menjalaninya, dan dapat memahami semua trhapan dan prinsipnya. Agar di masa depan anak Anda dapat menjadi seorang da’i yang terkenal dengan kebaikannya, hikmahnya,gayabahasanya, muamalahnya, akhlaknya, dan pengaruhnya yang besar.

5,   Fase praktik
Dalam fase ini pendidik berpindah bersama anak ke tahap penerapan atau praktik dalam mempersiapkan sifat sosial anak dan dakwahnya. Sebaiknya, dalam permulaan pembentukan mental berdakwahnya, pendidik menghubungkan anak dengan seorang da’i yang tulus dan sudah berpengalaman untuk memberikan pengarahan kepadanya, memperkuat prinsip-prinsip dakwahnya, dan menemaninya dalam mempraktikkan dakwah kepada orang-orang. Sudah dapat dipastikan, ikatan yang sudah terjalin sejak kecil dengan da’i tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam pematangan mental dakwah anak, pendidik sosialnya, dan penyempurnaan kepribadiannya, baik dari segi mental maupun perilakunya.
Setelah fase ini, barulah tiba masanya mempraktikkan komunikasi individu untuk memberi petunjuk dan kebaikan kepada orang lain. Hal ini bisa terwujud jika anak mempraktikkannya secara langsung, yaitu berdakwah langsung kepada orang ‘lain mengajak mereka kepada kebaikan, tanpa ditemani oleh pembimbing.

Namun, sebelum anak melakukan praktik dakwahnya, sebaiknya pendidik atau da’i pembimbing mengingatkan anak tentang prinsip-prinsip dakwah dan tahapan-tahapannya, agar anak melaksanakannya dengan seksama. Setelah itu, anak bisa langsung memulai misi dakwahnya dengan hati yang penuh keimanan dan semangat positif. Mungkin anak bisa memulainya dengan berdakwah kepada teman di sekolah yang belum melakukan ibadahnya dengan rutin, belum terlalu memperhatikan shalatnya, dan belum membiasakan akhlak yang terpuji.
Di sini akan tampak kecakapan anak dalam dakwahnya, mengajak temannya untuk shalat dan menye-lamatkannya dari lingkungan yang rusak. Di sini akan tampak juga kepri-badiannya yang karismatik dalam membuat peserta dakwahnya merasa puas dan merespons dakwahnya dengan baik. Selain itu, akan terlihat juga kemampuan dakwah anak dalam membuat jiwa orang-orang tertarik kepada ajakannya, terpengaruh, menyukainya, dan merespons dakwahnya dengan baik.
Setelah anak selesai dari fase ini, tibalah giliran pendidik lagi untuk menanyakan kepada anak hasil yang dicapai dari dakwahnya. Setelah itu lakukan evaluasi bersamanya perihal tahapan-tahapan yang dilaluinya. Jika pendidik melihat anak telah melakukan dakwahnya dengan baik, mengikuti semua prinsipnya, dan melalui semua fasenya secara ber-tahap, pendidik harus berterima kasih pada anak atas usahanya yang baik, menyemangatinya, dan memintanya s gar lebih giat lagi dalam berdakwah di lingkungan masyarakat dan orang-orang terdekat.
Jika anak terlih at melakukan kesalahan, tidak mengikuti prinsip-prinsipnya dengan benar, maka pendidik harus menunjukkan yang benar kepadanya. Pendidik harus melakukan cara seperti ini bersama anak, menanyainya, dan mengevaluasi semua praktik dakwah yang dilakukan anak. Sehingga ketika pendidik melihat anak sudah memdiki mental berdakwah yang matang, perilaku dan sosial yang baik, pendidik bisa mengirim anak untuk datang ke masyarakat yang awam untuk menyampaikan risalah dakwah dan ishlah dengan cara yang terbaik. Selain itu juga menyampaikan prinsip-prinsip Islam di bumi ini tanpa takut kepada siapa pun kecuali Allah, walaupun banyak rintangan yang menghadang. Ia merasa bangga dengan mengikut: jejak para nabi dan orang-orang shahh. Inilah sunnatullah bagi setiap pengajak kepada kebaikan dan perbaikan, dan tidak ada yang bisa mengganti sunnatullah dengan apa pun.
Jika Anda ingin anak Anda menjadi pasukan pembela Islam dan da’i yang mengajak kepada kebenaran, maka Anda harus menghubungkan anak Anda dengan para da'i yang tulus. Dari mereka, anak bisa mendapatkan tekad keimanan yang kuat, terdorong untuk berjihad, dan mereka dapat menyiapkan anak untuk terjun ke medan dakwah. Sehingga jika anak sudah selesai mendapatkan pelajaran dari mereka, anak dapat memainkan perannya yang besar dalam menyelamatkan orang-orang, memberi mereka petunjuk, melakukan ishlah, dan tablig tanpa ragu atau mengabaikan kewajibannya sedikit pun.
Dunia Islam sekarang ini sangat membutuhkan anak-anak yang sudah kenyang makan asam garam dakwah sejak kecilnya, di mana ia dapat bertahan dalam dakwahnya dan jihad tablighinya, saat usianya belum genap dewasa. Sehingga ketika mereka sudah memasuki usia dewasa, mereka sudah sangat siap untuk langsung terjun di pelosok-pelosok bumi yang belum mengenal dakwah, datang untuk memuliakan manusia, menyebarkan pengetahuan, menolong kebenaran, mengajak kepada petunjuk, dan memenuhi bumi ini dengan keadilan, keamanan, dan kestabilan.
Mereka berdakwah dan berjihad tanpa kenal takut, kecuali hanya kepada Allah. Sehingga di akhir per-jalanan, mereka dapat menegakkan syariat Allah, mendirikan negara Islam dengan mengembalikan apa yang pernah dibangun oleh generasi awal Islam, berupa kejayaan, kemuliaan, dan negara yang besar. Dan itu tidaklah sulit bagi Allah.

5.   Ikatan Olahraga
Sarana penting yang diletakkan Islam dalam mendidik fisik individu masyarakat dan menjaga kesehatan mereka adalah mengisi waktu luang mereka dengan latihan militer dan melakukan olahraga.

Karena Islam dengan prinsipnya yang toleran dan ajarannya yang luhur telah menyatukan dalam satu wadah antara keseriusan dan kesenangan. Islam telah memberikan kebutuhan yang seimbang antara ruh dan jasad, juga memberikan pernatian yang sama antara pendidikan fisik dan penyucian jiwa.
Anak ketika sudah bisa memahami, adalah yang paling diprioritaskan untuk mendapatkan perhatian dalam penjagaan kesehatan dan pembentukkan fisiknya. Balikan, waktu kosong anak harus diprioritaskan untuk diisi dengan kegiatan yang dapat menjaga kesehatan dan melatih kekuatan fisiknya. Hal tersebut dikarenakan tiga sebab:
1.   Karena anak memiliki waktu luang yang banyak.
2.   Untuk menjaga anak dari serangan penyakit.
3.   Untuk membiasakannya sejak kecil melakukan olahraga dan latihan jihad.
Berikut ini nash-nash syariat yang menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap pendidikan olahraga dan latihan kemiliteran. Agar semua orang tahu bahwa Islam adalah agama Allah yang selalu mengajak untuk melakukan sarana- sarana meraih kemuliaan, kekuatan, dan jihad. Allah berfirman: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatuntukberperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu ..." (QS. Al- Anfal [8]: 60)
Rasulullah Saw, bersabda:

"Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah." (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda:

“Setiap hal yang bukan dzikir kepada Allah adalah permainan, kecuali empat hal: berjalannya seorang laki-laki antara dua sasaran (untuk memanah/ menembak), melatih kudanya, berceng- krama dengan istrinya, dan belajar
berenang " (HR. Ath-Thabrani)
Rasulullah Saw membacakan firman Allah, "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.(QS. Al-Anfal [8]: 60], kemudian beliau bersabda:
"Ingatlah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ingatlah bahwa kekuatan itu adalah memanah " [HR. Muslim)
Amirul Mukminin, Umar bin Al- Khathab m menulis surat kepada para walinya sebagai berikut, 'Ajarkanlah anak- anak kalian memanah, berengan, dan menunggang kuda.”
Nabi sg memberi izin kepada orang- orang Habasyah untuk bermain tombak di masjid beliau dan mengizinkan istrinya Aisyah untuk menyaksikan mereka. Ketika mereka sedang bermain, Umar masuk lalu bermaksud untuk mengambil kerikil kemudian melempari mereka. Namun, Nabi Saw, bersabda, "Biarkan mereka, wahai ‘Umar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan bahwa Nabi Saw melewati para shahabatnya yang sedang memanah, maka beliau menyemangati mereka dan bersabda kepada mereka:
"Memanahlah kalian, wahai keturunan Isma’il, karena ayah kalian dulu adalah seorang pemanah. Memanahlah kalian, dan aku ada bersama Bani Fulan."
Lalu salah satu dari dua kelompok berhenti memanah, maka Rasulullah Saw bertanya,"Mengapa engkau tidak memanah?”
Lalu mereka berkata, "Bagaimana kami memanah sedangkan engkau bersama mereka?” Lalu Nabi Saw bersabda:
"Memanahlah, dan aku berada bersama kalian semua." (HR. Ahmad dan Al- Bukhari)
Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari 'Aisyah , ia berkata, "Rasulullah Saw berlomba lari dengaku maka aku dapat mendahuluinya. Setelah badanku menjadi gemuk, beliau berlomba lari denganku, maka beliau dapat mendahuluiku. Lalu beliau bersabda, 'Ini untuk (membayar) yang waktu itu'.”
Abu Dawud meriwayatkan dari Muhammad bin'Ali bin Rukanah . bahwa Rukanah bergulat bersama Rasulullah Saw, maka beliau dapat mengalahkannya.
‘Uqbah bin 'Amir  meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Memanah dan menungganglah, dan memanah itu lebih baik daripada menunggang."
Ahmad dan Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Anas berkata,"Nabi-memiliki seekor unta bernama Al-‘Adhba' yang tidak pernah terkalahkan. Lalu datanglah seorang Arab gurun dengan membawa seekor unta, lalu ia dapat mengalahkan unta beliau. Maka hal itu membuat kaum muslimin kesal dan mereka berkata, 'Al- Adhba' dikalahkan.’ Lalu Rasulullah bersabda:
 
"Hak Allah untuk tidak mengangkat sesuatu dari dunia ini melainkan Dia pasti merendahkannya." (HR. Ahmad dan Al-Bukhari)
Berdasarkan nash-nash ini, jelaslah bahwa Islam telah mensyariatkan olahraga dan latihan militer, seperti gulat, lari, renang, memanah, dan berkuda. Hal ini bertujuan agar umat Islam melakukan hal- hal yang dapat menjadi sebab kemuliaan, kemenangan, dan kekuasaan. Begitu pula terdidiknya individu-individu dalam kekuatan dan jihad, sebagai pengamalan firman Allah, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi ..." (QS. Al-Anfal [8]: 60] dan mewujudkan sabda Rasulullah Saw:
"Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah." (HR. Muslim]
Ketikamusuh-musuhlslammengetahui bahwa umat Islam sudah memiliki kesiapan militer, sehat fisiknya, sempurna iman serta mentalnya, dan memiliki tekad yang kuat untuk berjihad. Maka mereka pasti sudah kalah secara mental sebelum mereka berhadapan dengan kaum muslimin di medan jihad. Inilah yang pada masa sekarang dikenal dengan istilah perang dingin. Dan ini pula yang yang dimaksudkan oleh sabda RasulullahSaw:

"Aku ditolong dengan rasa takut musuh selama perjalanan satu bulan."
Apabila anak diprioritaskan untuk mendapat perhatian dalam pendidikan olahraga, apakah ini berarti anak harus menjalaninya tanpa ada batasan sama sekali?
Sebenarnya, ikatan olahraga bagi anak hanya akan membuahkan hasil yang diharapkan jika semua itu dijalani sesuai dengan manhaj yang sudah digariskan Islam. Berikut ini manhaj dan batasan- batasan yang telah digariskan Islam:

□ Memperhatikan keseimbangan
Tidak benar jika dikatakan bahwa olahraga bagi anak sama dengan kewajiban lainnya di mana anak dituntut dan harus melakukannya. Misalnya, seperti anak mengisi hampir seluruh waktunya dengan sepakbola, gulat, renang, atau latihan menembak, disamakan dengan kewajiban beribadah kepada Allah, menuntut ilmu, kewajiban taat kepada orang tua, atau kewajiban Islam dalam berdakwah.
Dengan demikian, olahraga bagi anak harus oilakukan dengan seimbang atau diseimbangkan dengan kewajiban lainnya tanpa ada satu kewajiban yang mengalahkan kewajiban lainnya. Sebagai pengamalan dari prinsip keseimbangan yang telah digariskan oleh Nabi Saw, ketika beliau bersabda kepada 'Abdullah bin 'Amr bin Al-Ash :
"Sesungguhnya bagi Allah ada hak-Nya atasmu, bagi badanmu ada haknya atasmu, dan bagi keluargamu ada haknya atasmu, maka berikanlah semua haknya masing-masing.

□ Memperhatikan aturan Allah
Bagi yang bertanggung jawab melatih anak olahraga, harus memperhatikan perkara-perkara di bawah ini:
■ Pakaian olahraga anak harus menutupi pusar sampai lutut, berdasarkan hadits-hadits di bawah ini:
Diriwayatkan dari Abu Ayyub bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Apa yang ada di atas dua lutut adalah aurat den bagian yang berada di bawah pusar adalah aurat." (HR. Ad-Daraquthni)
"Apayang ada di antara pusar dan lutut adalah aurat." (HR. Al-Hakim)
Diriwayatkan dari Ali bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Janganlah engkau menampakkan kedua pahamu, dan jangan pula engkau melihat paha orang yang hidup dan tidak juga yang mati." (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim)
Diriwayatkan Nabi Saw melewati Mu'ammar yang terbuka pahanya, maka beliau bersabda:
"Wahai Mua'amar tutuplah kedua pahamu, karena kedua paha itu aurat.” (HR. Al-Bukhari dalam Tarikhnya, Ahmad dan Al-Hakim)
Diriwayatkan dari Ali bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"lutut itu termasuk aurat." (HR. 'Uqbah bin Alqamah)
Berdasarkan hal ini, seorang pelatih tidak boleh memakaikan anak-anak pakaian olah raga yang tidak menutupi paha dan lututnya. Sebagaimana yang disebutkan hadits-hadits shahih di atas. Jika aturan Allah tersebut tidak diperhatikan, maka pelatih telah melakukan dosa dan kelak akan mendapat pertanggungjawaban di hadapan Allah atas perlakuannya.
■ Olahraga harus dilakukan di tempat yang diperbolehkan oleh agama (tidak syubhat).
Berdasarkan kepada hadits yang diriwayatkan dari An-Nu'man bin Basyir bahwa Rasulullah Saw, bersabda:
 
‘Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu sudah jelas. Sedangkan di antara keduanya adalah hal-hal syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka, barangsiapa yang menjauhihalyang syubhat, berarti ia telah menjaga kebersihan agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terkena hal yang syubhat, ia terkena pada hal yang haram." (Al- Bukhari dan Muslim)
Dan yang dikatakan Aisyah yang semakna dengan hadits di atas, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia berdiri di tempat-tempat yang dianggap jelek."
Ali ra berkata, "Jauhilah olehmu sesuatu yang langsung diingkari hati. Jika engkau ada alasannya, maka tidak sedikit orang yang mendengar sesuatu yang tidak disukai yang engkau tidak bisa memberikan alasannya.”
Adakah syubhat yang paling besar ketika anak melakukan olahraga di tempat yang rusak yang sudah tidak memperhatikan akhlak? Seperti berenang di kolam renang yang bercampur antara laki-laki dan perempuan dan tersingkapnya aurat. Atau berlatih gulat dan tinju di areal yang di halamannya terdapat kemungkaran dan kafe tempat minum minuman keras.
Maka yang harus Anda lakukan adalah menjauhkan anak dari tempat- tempat yang jelek, sehingga tidak terdengar hal jelek di masyarakat tentang anak Anda. Dan supaya perilaku dan akhlaknya tidak terpengaruh oleh lingkungan yang rusak dan sesat.
■ Menyemangati peningkatan kecakapan olahraga dengan hadiah dari perlombaan yang tidak diharamkan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunan dan Imam Ahmad bahwa Nabi Saw bersabda:
''Tidak ida hadiah kecuali pada balapan unta, kuda, atau perlombaan memanan."
Berdasarkan hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hadiah perlombaan yang tidak haram itu memiliki dua syarat, yaitu:
Pertama, perlombaan berhadiah itu dilakukan untuk sarana menyemangati jihad dan latihan berperang, seperti lomba balap kuda, menembak, atau yarg serupa dengan itu yang termasuk dalam sarana perang modern.
Kedua, hadiah yang disiapkan untuk pemenang diambil dari selain peserta, atau dari salah satu peserta bmba saja. Jika sesuatu yang dipersiapkan untuk hadiah itu diambil dari masmg-masing peserta, maka itu termasuk judi yang diharamkan. Nabi Saw menamakan lomba balap kuda dengan jenis hadiah yang kedua di atas dengan istilah "kuda setan", uang untuk membelinya menjadi dosa, makanan kudanya menjadi dosa, dan menungganginya pun menjadi dosa.
Namun, jika hadiah yang disiapkan itu berasal dari selain peserta, seperti dari pejabat negara, pimpinan sekolah, atau lainnya, maka mengikuti perlombaan seperti itu diperbolehkan secara syariat. Karena bersih dari ciri-ciri judi, baik itu dengan tujuan untuk mempersiapkan kecakapan berperang atau untuk meningkatkan kecakapan berolahraga. Dalil yang menerangkan bolehnya hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi Saw membalapkan kuda-kuda dan memberi hadiah yang menang.

□ Niat yang baik
Bagi pendidik yang mengawasi pendidikan kesehatan fisik dan mental anak, harus membisikkan ke telinga anak bahwa latihan olahraga yang dilakukannya harus dilakukan dengan tujuan menguatkan badan dan menjaga kesehatan, serta mempersiapkan diri untuk berjihad (jika sewaktu-waktu dibutuhkan). Sehingga ketika anak sudah memasuki usia untuk mengemban beban pekerjaan sehari-hari dan memenuhi seruan wajib untuk menolong Islam, anak dapat melaksanakan tanggung jawab dan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya tanpa ada kelemahan yang mengganggu atau adanya kekurangan.
Mengingatkan anak secara terus- menerus akan menjadikannya selalu berniat baik dalam setiap olahraga yang dilakukannya, yaitu untuk mengamalkan sabda Rasulullah Saw ini:
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)
Dan sabdanya:
"Semoga Allah merahmati seseorang yang aku lihat pada dirinya ada hekuatan."
Dan dalam melakukan latihan kemiliteran, ia bertujuan untuk mengamalkan firman Allah Swt:
 
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untukberperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu ..." (QS. AI- Anfal [8]: 60)
Dengan niat yang baik, kita telah mengikatanakdengan Islam sebagai akidah dan pemikiran, mengikatnya dengan jihad sebagai pembelaan terhadap kebenaran den pengorbanan, dan mengikatnya dengan kewajiban sehari-hari. Pada waktu yang
sama, kita pun sudah menyiapkan anak untuk menjadi seorang prajurit pembela Islam yang bekerja untuk dunianya dan berjihad untuk agamanya, dan jiwanya yang tulus selalu menjunjung tinggi keimanan, akhlak, kemuliaan, optimis, dan menolong Islam yang agung.
Dengan niat yang baik ini juga, anak akan menyadari bahwa latihan yang dilakukannya bukan untuk bersenang- senang belaka dan sesuatu yang sia- sia. Melainkan untuk membentuk dan mempersiapkan diri. Dengan kesadaran ini, anak akan melakukan latihannya dengan niat yang ikhlas, tekad yang kuat, pikiran yang terbuka, jiwa yang bersemangat, waktu yang dimanfaatkan dengan baik, dan mengisi waktu yang kosong.
Hendaklah Anda sebagai pendidik mengetahui bahwa berniat yang baik bagi anak bukan hanya untuk olahraga saja, tetapi juga meliputi semua yang dilakukannya yang termasuk kepada yang halal. Seperti makan, minum, tidur, tamasya, dan bersenang-senang lainnya yang halal. Apabila anak atau semua umat muslim melakukan semua itu dengan niat untuk melaksanakan perintah Allah, menghindari yang haram, dan menguatkan badan agar lebih kuat dan mampu untuk mengemban tanggung jawab yang besar, maka amal tersebut dengan niat yang baik akan menjadi ibadah yang bisa mendekatkan seorang mukmin kepada Allah.
Berdasarkan hal ini, Rasulullah Saw memberitahukan bahwa seseorang dianggap mendapatkan pahala, ketika ia mengangkat satu suap makanan ke mulut
istrinya dengan niat untuk menyenangkannya. Beliau juga memberitahukan bahwa seseoiang yang melampiaskan syahwatnya pada yang halal dengan niat untuk menjaga diri dari yang haram dan untuk mendapatkan keturunan yang shaleh, maka baginya pahala. Berdasarkan hal ini, para ahli fikih menyimpulkan dari hadits-hadits tersebut hukum ini:
"Niat yang baik akan mengubah kebiasaan menjadi ibadah.”
Jika niat yang baik ini memiliki pengaruh yang besar dalam pahala, maka Anda haruslah benar-benar menanamkan dalam diri anak tentang niat ini sehingga ia melakukan segala hal ikhlas hanya karena mengharap riiha Allah. Sehingga anak selalu mendapatkan pahala dan ganjaran yang baik di sisi Allah.
Itulah ikatan-ikatan penting untuk menjaga akidah anak, perilakunya, mental, kepribadian, memperbaiki pemikirannya, dan menguatkan fisiknya. Bahkan ikatan- ikatan tersebut merupakan faktor-faktor penting dalam pendidikan anak, sejak masa pertumbuhann ya, untuk menanamkan iman yang kuat, akhiak yang luhur, pikiran yang matang, mentai yang stabil, kesadaran yang tinggi, dan nama baik sosial yang bersih.
Bersungguh-sungguhlah dalam membentuk semua ikatan dan hubungan tersebut dengan rinci, detail, amanah, dan ikhlas. Dan praktikkanlah dengan penuh kesungguhan, sman, dan kontinu.
Jika Anda melakukan semua itu, maka Anda akan mel ihat buah hati Anda menjadi bak bulan purnama yang benderang, matahari yang bersinar, bunga yang mekar,
dan malaikat yang berjalan di atas bumi.
 
"Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang- orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu (QS. At-Taubah [9]: 105]