Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Keluarga 
KAIDAH-KAIDAH ASASI DALAM PENDIDIKAN MENGENAI KAIDAH MEMBERI PERINGATAN
Pages: [1]

(Read 111 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1726
  • Logged

KAIDAH-KAIDAH ASASI DALAM PENDIDIKAN MENGENAI KAIDAH MEMBERI PERINGATAN

Kaidah Memberi Peringatan
Setelah kita membicarakan panjang lebar tentang kaidah ikatan atau hubungan dan pengaruhnya yang sangat efektif terhadap pendidikan anak, pembentukan kepribadian, dan meluruskan perilakunya, maka di sini kami akan membicarakan tentang kaidah yang kedua dari kaidah- kaidah asasi dalam pendidikan anak, yaitu kaidah memberi peringatan. Kaidah ini tidak kalah pentingnya dari kaidah- kaidah yang lain yang telah kita bicarakan sebelumnya. Bahkan ini termasuk faktor asasi yang dapat mencuci otak anak dari pikiran dan pemahaman yang sesat dan batil. Selain itu juga menjadikan kesadaran dan keimanannya menjadi penangkal dirinya dari pikiran yang sesat, sikap hedonis, dan berteman dengan orang- orang yang menghalalkan segala hal.
Sebelum saya berbicara mengenai peringatan-peringatan penting yang harus Anda berikan kepada anak, ada yang harus Anda pahami terlebih dahulu mengenai dua hal ini:
Pertama, peringatan yang kontinu bagi
anak dapat menanamkan ke dalam hatinya kcib encian kepadakejelekan dan kerusakan, sekaligus keinginan untuk menjauhinya. Kedua, mengetahui hakikat penyimpangan, keyakinan antituhan/agama, dan sikap hedonisme dapat menambahkan semangat pada diri pendidik untuk serius dalam menjalani tanggung jawabnya. Sedangkan pada anak, menambah pengetahuan dan informasi yang mendorongnya untuk menjauhi kejelekan dan kebatilan.
Setelah jelasnya dua hal tersebut, barulah kita akan memasuki pokok pembahasan yang utama.
Kalau kita memperhatikan dan membuka halaman demi halaman kitab Allah, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya
kita akan mendapati bahwa metode peringatan terhadap kejelekan dan penjelasan hakikat suatu kebatilan banyak terdapat dalam ayat Al-Qur’an dan hadits- hadits Nabi Ig. Berikut ini ayat-ayat dan hadits-hadits yang kami maksud.
Allah berfirman dalam surat Al-Isra’:
“janganlah kamu adakan Rabb yang lain di samping Allah agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah) "(QS. Al-Isra’ [17]: 22)
"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra' [17]: 29]
 
"Dan janganlah kamu membunuh anak- anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra'[17]: 31)

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah(membunuhnya), melamkan dengan suatu (alasanJ yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu mrlampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan." (QS. Al-Isra' [17]: 33)

"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra’ [17]: 34)

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra' [17]: 36)

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali- kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”(QS. Al-Isra’ [17]: 37) "Semua itu kejahatannya sangatdibenci di sisi Rabbmu." [QS. Al-Isra’ [17]: 38)
Serta ayat-ayat lainnya yang berisi peringatan dari penyimpangan akidah, kerusakan akhlak, dan muamalah yang buruk. Ada banyak sekali peringatan- peringatan serupa di dalam Al-Qur'an.
Rasulullah bersabda:
'jauhilah oleh kalian berdusta, karena berdusta itu menyampingkan keimanan." (HR. Ahmad dan Ashabu As-Sunan)
 
"'Jauhilah oleh kalian banyak bersumpah dalam jual beli, karena hak itu akan mendorong bersikap munafik kemudian membinasakannya." (HR. Muslim dan Ahmad)

'jauhilah oleh kalian prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling bohong. Dan janganlah kalian mendengarkan perbincangan orang lain, janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah saling menyaingi, janganlah saling mendengki, janganlah saling marah, janganlah kalian saling membelakaingi, Dan jadilah kalian, hamba-hamba Allah yang bersaudara.
Dan janganlah seseorang meminang pinangan saudaranya, sampai ia menikahinya atau meninggalkannya." (HR. Muttafaqun 'alaihi)

'jauhilah banyak tertawa, karena itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya ahli surga.” [HR. Ibnu Majah)
 
"jauhilah mengenakan pakaian orang asing.” (HR. Ibnu Hibban)

'jauhilah teman yang buruk, karena dengannya engkau akan dikenal." (HR. Ibnu ‘Asakir)

“Jauhilah oleh kalian sifat tamak, karena yang membinasakan kaum sebelum kalian adalah tamak. Mereka diperintah untuk kikir, maka mereka pun kikir. Mereka diperintah untuk memutuskan silaturahmi, maka mereka pun memutuskannya. Dan mereka diperintah untuk berbuat dosa, maka mereka melakukannya." [H R. Abu Dawud dan Al-Hakim]
Dan masih banyak lagi hadits lainnya yang melarang keburukan dan memperingatkan dari kerusakan.
Dengan demikian, kaidah pemberian peringatan dalam pendidikan bukanlah inovasi para pendidik, filsuf, atau sosiolog, tetapi metode yang digunakan Al-Qur’an dalam membentuk kepribadian individu, juga manhaj sunnah Nabi Saw dalam mendidik masyarakat. Mahabenar Allah yang berfirman:
 
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada Q'alan) yang lebih lurus..." (QS. Al-lsra' [17]: 9)

Sungguh benar Rasulullah sg yang bersabda:
"Maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk (setelahku). Berpeganglah pada sunnah-sunnah itu dengan teguh." (HR. Ashabu As-Sunan dan Ibnu HibbanJ
Berikut ini kami paparkan masalah- masalah penting dalam pemberian peringatan untuk memberikan kesadaran kepada anak, meluruskan pemikiran, meneguhkan akidah, serta meluruskan perilaku dan akhlaknya. Hal ini bertujuan agar mereka dapat bangkit menjalankan tugas mereka dalam mendidik anak dengan baik.
Jika mereka melakukan itu semua, maka mereka termasuk orang-orang yang telah melaksanakan kewajiban pendidikan yang ada di pundaknya dan tanggung jawab keislaman dengan sebaik-baiknya. Mereka ini termasuk di antara orang yang Allah anugerahi pasangan dan keturunan yang menjadi penenteram jiwa dan menjadikan mereka sebagai teladan bagi orang-orang yang bertakwa.
Berikut ini peringatan-peringatan penting tersebut:

1.   Peringatan dari kemurtadan
Maksud dari murtad adalah seorang muslim meninggalkan agama yang telah diridhai Allah dan memeluk agama atau keyakinan lain yang bertentangan dengan syariat Islam. Kemurtadan memiliki banyak ciri, antara lain:

□ Syiar-syiar yang memalingkan seorang muslim dari Allah sebagai tujuannya atau dari Islam sebagai motivasinya. Yang termasuk dalam macam ini di antaranya:
Menjunjung tinggi syiar nasionalisme dan menjadikannya sebagai tujuan tertinggi yang ia propagandakan, bekerja keras untuk mencapainya, dan berani berperang untuk membelanya. Inilah yang disebut dengan 'ashabiyah atau fanatisme jahiliyah yang dilarang oleh Nabi i§. Beliau memperingatkan:

“Bukan termasuk dari golongan kami orang yang mengajak kepada 'ashabiyah, bukan termasuk dari golongan kami orang yang berperang atas nama 'ashabiyah, dan bukan termasuk dari golongan kami orang yang mati dalam 'ashabiyah." (HR. Abu Dawud}

Bekerja demi patriotisme dengan menjadikannya sebagai tujuan hidup dan berperang untuk membelanya. Padahal Allah telah mencela kaum- kaum yang sangat cinta mati terhadap tanah air mereka. Allah berfirman:
      
"Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka, 'Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka].” [QS. An-Nisa' [4]: 66]

Kemurtadan terbatas pada ruang lingkup sasaran dan tujuan demi meninggikan suatu syiar atau simbol dan menyucikannya sehingga dianggap seperti ibadah selain kepada Allah dan mengimaninya serta menjadikan hukumnya sebagai tujuan akhir. Adapun jika tujuannya karena Allah, untuk melaksanakan perintah-Nya, dilakukan untuk kemaslahatan tanah air Islam, membela kehormatan, kemuliaan, jiwa, harta, dan agama, maka ini adalah ibadah yang diridhai Allah dan mendapatkan pahala. Jika seseorang mati terbunuh karenanya maka ia syahid di jalan Allah. Sungguh benar apa yang disabdakan Rasulullah Saw, ini:

"Barangsiapa yang terbunuh karena (membela) hartanya, maka ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena (membela) darahnya, maka ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena (mem oela] agamanya, maka ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena (membela) keluarganya, maka ia syahitL" (HR. Abu Dawud)
Berbi atdemisyiarkemanusiaansemata tanpa ada terbersit di hatinya berbuat karena Allah telah memerintahkannya, saling mengenal dengan seluruh umat manu sia, dan tolong-menolong dengan kaum muslimin karena kemanusiaan. Syiar ini dipropagandakan oleh Freemasonry yang digerakkan oleh Yahudi internasional di belakang layar.
Secara singkatnya, bisa kita katakan bahwa setiap syiar yang dijunjung tingg oleh seorang muslim yang tidak ditujukan untuk mengharapkan ridha Allah, memuliakan agamanya, dan neninggikan panji Islam, maka itulah yang disebut syiar jahiliyah. Orang yang menjunjung tinggi syiar terseout, mempropagandakannya, dan berperang untuk membelanya, dialah orang yang murtad dan kafir yang telah keluar dari Islam dan memerangi risalah Muhammad Saw, walaupun ia mengaku beriman dan bangga dengan keislamannya.

□ Memberikan loyalitas, kecintaan, berhukum, dan memberikan ketaatan selain kepada Allah. Allah berfirman:

"... Barangsiapayang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Ma'idah [5]: 44)
 
"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan] dari urusan (agama itu). Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 18)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang- orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang- orang yang zalim." (QS. Al-Ma’idah [5]: 51)

"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. At-Taubah [9]: 23)
Diriwayatkan bahwa Adi bin Hatim datang menemui Rasulullah Saw sebelum ia masuk Islam dengan berkalungkan sebuah salib dari perak di lehernya. Rasulullah Saw lalu membaca ayat ini:
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah..." (QS. At- Taubah [9]: 31)
Adi berkata, "Mereka tidak menyembah rahib.” Rasulullah Saw lantas bersabda:
“Mereka (para rahib) mengharamkan atas mereka yang halal dan menghalalkan bagi mereka yang haram, lalu mereka (orang-orang Nasrani) itu mengikuti mereka. Itulah ibadah mereka kepada mereka (para rahib)" (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Jarir)

□ Membenci sesuatu yang merupakan bagian dari Islam. Seperti seseorang berkata, ‘Aku tidak suka puasa, karena ia menghambat kemajuan ekonomi.” Atau ada yang mengatakan, “Aku tidak suka kewajiban hijab untuk perempuan, karena itu merupakan tanda keterbelakangan.” Atau yang lain juga mengatakan, “Aku tidak menyukai aturan Islam mengenai harta, karena ia mengharamkan riba,” atau yang semacam itu. Allah berfirman tentang mereka:
"Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal- amal mereka." (QS. Muhammad [47]: 8-9]

□ Mengolok-olok bagian dari agama atau syiar Islam. Allah berfirman:
"Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, 'Teruskanlah   ejekan-ejekanmu
(terhadap Allah dan rasul-Nya).’ Sesungguhnya Allah akan menyatakan apayang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok- olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka bertobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang- orang yang selalu berbuat dosa." [QS. At-Taubah [9]: 63-65]

□ Menghalalkan yang Allah haramkan dan mengharamkan yang Allah halalkan. Allah Swt berfirman.
 "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, 'Ini halal dan ini haram/ untuk mengada- adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit dan bagi mereka azab yang pedih." (QS. An-Nahl: [16]: 116-117)
Siapapun yang melakukan itu, berarti ia telah mengingkari apa yang sudah pasti menjadi bagian dari agama, menentang hukum dan syariat Allah. Oleh karena itu, ia disebut murtad dan kafir.

□ Mengimani Islam sebagian dan mengafirkan sebagiannya. Seperti seorang muslim yang mengimani Islam sebagai agama ibadah, namun mengingkarinya sebagai hukum dan aturan. Atau mengimani bahwa Islam datang dengan membawa aturan yang bersifat ruhiyah, akhlak, dan tarbiyah, namun mengingkari aturan lainnya, seperti politik, ekonomi, atau sosial. Allah berfirman:

"...Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat..." (QS. Al-Baqarah [2]: 85)

□ Hanya mengimani Al-Qur’an dan menolak sunnah Nabi Saw. Seperti Qadiyaniyah/Ahmadiyahyangdibentuk oleh penjajah Inggris di India dengan tujuan untuk menghancurkan syariat dan menyebarkan keraguan terhadap kenabian Muhammad Saw.
AI-Qur'an telah menolak keimanan orang yang tidak berhukum kepada Rasulullah sH saat beliau masih hidup dan kepada sunnahnya setelah beliau wafat. Allah berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusanyang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."(QS. An-Nisa59]: 7)

□ Mengolok-olok sebagian perbuatan Rasulullah Saw termasuk perbuatan murtad. Contohnya seperti meremehkan Rasulullah Saw karena beliau melakukan poligami dengan 9 orang istri.  Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimanakerasnyasuara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.'' (QS. Al-Hujurat [49]: 2)
Jika meninggikan suara di hadapan Rasulullah |§| saja dapat dianggap murtad, apalagi yang lebih dari itu.
□ Beranggapan bahwa Al-Qur’an memiliki makna batin yang berbeda dengan lahiriahnya, dan lahiriah Al- Qur’an berbeda atau bertentangan dengan makna batinnya. Anggapan ini termasuk ciri kemurtadan. Makna batin ini dapat diketahui melalui ilham. Pengakuan ini tentu saja membatalkan fungsi syariat Islam karena nash- nashnya pun dibatalkan. Agar tidak ada lagi sumber yang tersisa untuk dijadikan rujukan umat Islam, dan tidak ada lagi kaidah untuk dijadikan rujukan bagi bahasa Arab, sedangkan Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang nyata. Sebagaimana firman Allah:
 
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya." (QS. Yusuf [12]: 2)
 
“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab..."(QS. Ar-Ra‘d [13]: 37)
Selanjutnya semua penafsiran ayat Al-Qur'an tidak didasarkan kepada atsar atau kaidah bahasa Arab dan perkataan orang-orang Arab, maka itu adalah penafsiran batil yang keluar dari daerah keimanan dan hakikat Islam. Para penyeru kepada anggapan sesat di atas adalah orang-orang yang paling menyimpang, kafir, dan sesat lagi menyesatkan.
AI-Qur’an telah menyebutkan golongan orang-orang seperti itu, yaitu yang mengikuti ayat-ayat Al-Qur'an yang terlihat samar untuk menimbulkan fitnah/keraguan dan penyesatan. Allah berfirman:

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al- Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an. Dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat- ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari- cari takvAlnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.' Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa), 'Ya Rabb Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)" (QS. Ali ‘Imran [3]: 7-8)

Yang dimaksud dengan mengharapkan timbulnya fitnah dalam ayat tersebut yaitu, menyebarkan hal yang meragukan dan samar bagi orang- orang yang beriman.
Sedangkan yang dimaksud dengan mengharapkan penakwilannya, yaitu menyelewengkan Al-Qur’an dengan takwil yang batil yang mereka inginkan dengan anggapan bahwa itulah makna yang dimaksud suatu ayat.  Itulah anggapan yang dianut oleh para ahli bid'ah dan anti agama pada setiap masa.

□ Meyakini tentang Allah dengan keyakinan yang salah adalah salah satu bentuk kemurtadan. Seperti meyakini bahwa Allah menitis pada makhluk atau menyifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak untuk-Nya.
Maka dari itu, orang yang mengatakan bahwa Allah menitis pada diri seseorang atau Allah menyebar di semua wujud, atau Allah menempati satu arah, maka ia itu kafir dan keluar dari agama Islam. Sebagaimana firman Allah:
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An‘am [6]: 103)

"...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat." (QS. Asy- Syura [42]: 11)

"Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah)" (QS. Az- Zukhruf [43]: 15)

"Sesungguhnya telah kafirlah orang- orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putra Maryam...'.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 17)

"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwa Allah salah satu dari yang tiga...’.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 73)
Orangyang menganggap Allah memiliki anak adalah kafir dan sesat. Allah berfirman:
 
“Dan mereka berkata, 'Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.' Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit terpecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak." (QS. Maryam [19]: 88-92]

Orang yang menyifati Allah dengan sifat yang tidak layak adalah kafir dan sesat. Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan, 'Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya...'." (QS. Ali ‘Imran [3]: 181)
"Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka...." (QS. Al-Ma’idah [5]: 64)
Adapun ciri serta bentuk kemurtadan lainnya yang dapat mengeluarkan orang yang meyakininya sebagai kebenaran dari Islam serta memasukkannya kepada kekufuran, kesesatan, zindiqah, dan atheis. Bahwa Rasulullah Saw telah memperingatkan satu zaman yang di sana kemurtadan terjadi antara waktu sore sampai waktu pagi. Beliau pun mendorong kaum mukminin untuk segera melakukan amal shalih dan membentengi diri dengan keimanan agar tidak tergelincir kepada kekufuran atau terpengaruh dengan pendorong kemurtadan. Rasulullah Saw bersabda:

"Bersegeralah kalian melakukan amal shalih, karena akan ada banyak fitnah seperti sepotong malam yang gelap gulita, di mana seorang laki-laki sore hari dalam keadaan mukmin dan pagi hari dalam keadaan kafir. Dan pagi hari seseorang dalam keadaan mukmin sedangkan sore hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia yang sedikit." [HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Majah)
 
"(Mereka berdoa), 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat
dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)" (QS. Ali ‘Imran [3]: 8)

2.   Peringatan terhadap atheisme/anti- tuhan
Yang dimaksud dengan atheisme adalah pengingkaran terhadap Tuhan, menolak syariat langit yang dibawa oleh para rasul Allah, serta mengingkari semua nilai dan keutamaan yang berasal dari wahyu langit. Atheisme adalah bagian dari murtad, bahkan ia lebih keras dari itu sebagaimana yang akan dijelaskan sebentar lagi. Sayangnya, atheisme ini menjadi sistem yang berdiri sendiri yang digunakan oleh banyak negara besar dan mereka paksakan kepada semua yang berada di bawah kuasa mereka.
Negara-negara tersebut di setiap negeri memiliki antek dan pimpinan yang mempropagandakan nilai-nilai atneisme, penolakan terhadap agama, dan pe ngingkaran terhadap para nabi tanpa ada malu sama sekali. Bahkan, kita mendapati negara-negara atheis yang dibangun di atas prinsip-prinsip Marxisme dan Leninisme memusatkan propaganda atheis mereka di negeri-negeri Islam khususnya. Karena mereka tahu bahwa prinsip-prinsip Islam memiliki kekuatan yang mendorong kepada peradaban, politik, dan sains. Se lain itu juga mengandung unsur-unsur yang holistik dan karakteristik yang sesuai dengan zaman dan memiliki sifat kontinuitas.
Kalau kita telusuri propaganda atheis negara-negara ini kita pasti mendapatkan mereka memiliki berbagai cara dan metode
dalam menyebarkan paham kekufuran dan
kesesatan mereka itu:
□ Terkadang kelompok Marxis menggunakan kostum Islam lalu berkata, "Sesungguhnya Muhammad (J® itu adalah orang yang pertama kali menyerukan sosialisme. Dialah yang pertama kali menyamakan antara yang kaya dan miskin, dia juga yang pertama kali membatalkan kepemilikan pribadi dan kelompok. Dialah rasul Marxisme dan nabinya komunisme.”
□ Pada saat yang lain mereka mengatakan bahwa prinsip-prinsip Marxisme tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, khususnya prinsip keadilan sosial Islam.
□   Yang lain mengatakan, 'Apa yang menghalangi kita untuk menjadikan sistem komunis sebagai sistem ekonomi dan kita tetap memeluk agama kita sebagai mukmin dan muslim?"
□   Kadang-kadang mereka juga mengatakan, "Agama adalah sesuatu sedangkan aliran-aliran politik dan ekonomi adalah sesuatu yang lain. Maka kita tidak boleh mencampurkan antara agama dengan politik, atau memasukkan agama ke dalam sistem ekonomi dan teori-teori sains.”
□   Tidak jarang juga mereka menanamkan keraguan dan kekufuran di dalam diri mereka yang lemah dan menyimpang dari Islam. Di antara mereka ada yang berkata, 'Allah, agama, feodal, kapitalis, imperialis, dan semua nilai-nilai yang ada di masyarakat hanyalah boneka- boneka yang seharusnya sudah berada di museum-museum sejarah"
□ Atau ada yang mengatakan, "Tidak ada tuhan di alam semesta, kehidupan ini hanyalah materi belaka." "Agama adalah opium masyarakat.” "Para nabi adalah para pencuri dan pendusta.”
Di antara cara mereka menyesatkan dan menyebarkan paham atheis adalah dengan memanfaatkan teori-teori sains dan membuat puas mereka yang tersesatkan dengan teori-teori itu, bahwa itu adalah kebenaran yang absolut. Di antaranya dengan meny ebarkan paham Darwinisme atau teori Darwin yang mengatakan tentang asal kehidupan dan bagaimana kehidupan ini dapat berevolusi dari yang sederhana menjadi kompleks, sampai menjadi manusia. Perlu diketahui bahwa teori ini telah terbantahkan oleh sains dan telah dilemparkan ke tong sampah yang tidak berharga.
Mereka juga menyebarkan teori Freud yang mengaitkan segala sesuatu dengan seks dan nafsu. Teori ini menafsirkan semua perilaku manusia melalui sudut pandang libido seksual. Tujuan keji di balik penyebaran teori ini adalah mengingkari adanya Pencipta Yang Agung.
Jelaslah dari kecanggihan dalam membuat metode propaganda paham mereka, bahwa Marxisme telah menyiapkan dan memberikan setiap waktu "obat khusus” untuk menjejalkan pahamnya, menyiapkan argumen yang memuaskan untuk setiap kelompok lawannya, dan memberikan tipuan yang sesuai dengan setiap kelompok sosial manusia. Sehingga ketika korban sudah berada di dekat jebakan, mereka jadikan Marxisme itu sebagai keyakinan yang bagus dan baik. Sampai mereka bisa mencapai tujuan busuknya untuk menyesatkan manusia. Hingga pada akhirnya sang korban sudah tidak percaya lagi dengan agama, tidak meyakini adanya tuhan, dan tidak lagi memiliki idealisme spiritual dalam kehidupan. Ia sudah masuk ke dalam golongan orang-orang sesat dan kafir seperti yang difirmankan Allah Swt:
 "Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci? Sesungguhnya orang- orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi), 'Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan/ sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka
membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka." (QS. Muhammad [47]: 23-28)
Atheisme walaupun masuk ke dalam definisi murtad, namun atheisme ini lebih burukdanlebihberbahayabagiindividudan masyarakat daripada bentuk kemurtadan yang lain, seperti memeluk Yahudi, Nasrani, atau Hindu. Sebab, atheisme mematikan. Dalam diri seorang atheis, kesadaran tentang tanggung jawab yang dimilikinya menghancurkan keimanan terhadap yang gaib serta akhlak yang ideal dan absolut. Selain itu, mendorongnya untuk hidup dengan kehidupan sia-sia, kehidupan yang seperti binatang, tidak ada agama yang mengarahkan hidupnya, tidak ada nurani, tidak ada perasaan diawasi Allah yang dapat mengekang nafsunya, tidak ada pahala yang dinanti-nanti di akhirat, dan tidak ada siksaan pada hari kiamat yang membuatnya takut.
Al-Qur'an telah mencela orang-orang seperti itu, ketika Allah berfirman:
 
"Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.’ Dan mereka sekali- kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (QS. Al-Jatsiyah [45]: 24)

Serta mengungkap kebutaan dan sifat kehewanan mereka, saat Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mertka mempunyai mata (tapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-aya: Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi Mereka itulah orang-orang yang lalai" (QS. Al-A'raf [7]: 179)

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal shalih ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang- orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka." (QS. Muhammad [47]: 12)
 
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)." (QS. Al- Hijr [15]: 3)




Islam bersikap keras dan tegas kepada mereka yang murtad. Islam telah menetapkan hukuman mati dengan pedang sebagai balasan kekeraskepalaan mereka dalam kekufuran dan menghalangi jalan kebenaran. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah.” (HR. Al- Bukhari dan Ahmad)
Rasulullah Saw bersabda:

"Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah, kecuali dengan tiga hal: pezina yang sudah menikah, jiwa dibalas jiwa, dan yang meninggalkan agamanya yang berpisah dari jamaah." [HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi, orang yang murtad tidak- dibunuh hingga ia diberi kesempatan sampai tiga hari. Dalam waktu tiga hari itu, para ulama membahas dan mendiskusikan sebab-sebab kemurtadannya, berusaha menghilangkan segala hal yang meragukan dari orang tersebut, dan menjelaskan kepadanya tanda-tanda kebenaran yang nyata. Jika ia tetap keras kepala dalam kekufurannya, setelah jelas kebenaran untuknya, ia dibunuh dengan pedang sebagai contoh bagi orang yang ingin menjadikannya pelajaran.
Jika orang-orang murtad tersebut menyusun kekuatan dan menggalang massa, maka pemimpin kaum muslimin harus memerangi mereka sehingga mereka kembali kepada Islam yang benar dan tidak menerima dari mereka kecuali itu. Seperti yang dilakukan Abu
Bakar m dalam memerangi orang-orang murtad, dan ia tidak menerima apa pun dari mereka kecuali kembalinya mereka kepada Islam. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Khalifah Bani Abbasiyyah, Al-Mahdi, terhadap Al-Muqanni' yang mengaku sebagai tuhan di Khurasan dan menggugurkan kewajiban shalat, puasa, zakat, dan haji bagi para pengikutnya. Ia juga membolehkan bagi pengikutnya untuk mengambil harta orang-orang dan perempuan mereka. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 169 H.
Islam memberikan hukuman yang keras ini terhadap orang-orang murtad dengan 3 alasan:
1.   Agar mereka tidak dapat menarik sebagian orang yang lemah jiwanya dan mendorong mereka untuk murtad karena mengikuti propaganda mereka.
2.   Agar orang munafik tidak berniat untuk masuk Islam kemudian keluar lagi untuk memancing dan mendorong munculnya gerakan kemurtadan dan menyebarkan kebingungan serta fitnah di tengah-tengah masyarakat Islam.
3.   Agar kekuatan kafir tidak semakin bertambah, sehingga menjadi bahaya besar bagi negara Islam yang akan menyerang kaum muslimin sewaktu- waktu ketika ada kesempatan.
Supaya menjadi jelas hakikat atheisme dan orang-orang atheis dalam membangun kelompoknya, kejahatannya, dan konspirasi mereka, di bawah ini saya paparkan beberapa contoh historis. Hal ini bertujuan agar Anda mengetahui apa yang diinginkan orang-orang atheis dari
kaum muslimin ketika mereka memiliki
kesempatan:
□ Kelompok komunis Cina dan Rusia telah membantai 16 juta orang kaum musiimin dengan jumlah rata- rata sekitar 1 juta orang pertahun. Pembantaian tersebut terjadi di jalan. Di salah satu wilayah Cina dekat Turkistan, kaum muslimin di sana mengalami seperti apa yang terjadi pada masa pasukan Tatar. Salah seorang pimpinan kaum muslimin dibawa, lalu dikubur sebagian badannya di sebuah jalan raya. Lalu kaum muslimin di bawah siksaan dan teror dipaksa untuk datang membawa kotoran mereka lalu membuangnya ke lubang tempat pimpinan kaum muslimin itu dikubur. Selama tiga hari terus seperti itu, sampai akhirnya muslim tersebut meninggal tidak bisa bernapas.
□   Demikian juga yang dilakukan komunis Yugoslavia terhadap kaum muslimin di sana, sehingga jumlah mereka yang dibantai sampai 1 juta orang sejak perang dunia kedua sampai buku ini ditulis. Pembantaian serta penyiksaan itu masih terus terjadi. Di antaranya kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, dimasukkan ke alat penggilingan daging dan digiling sampai mati dengan kondisi badan hancur tak berbentuk lagi.
□   Apa yang terjadi di Yugoslavia terjadi jugadinegara-negarakomunissekarang (saat buku ini ditulis). Tidak jarang kita mendengar tentang penjagalan komunis di Irak, kejahatan mereka di kota Mosul pada masa Al-Karim
Qasim, tentang kejadian penyeretan, pembunuhan, dan pemutilasian para da’i mukmin dan kaum muslimin. Sangat tepat sekali ketika mereka dianggap sebagai pengkhianat dan pelaku kriminal. Allah berfirman:
 
"Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang- orang musyrikinJ, padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian..." (QS. At-Taubah [9]: 8)
 
"Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang- orang yang melampaui batas." (QS. At- Taubah [9]:10)5S

Maka yang harus Anda lakukan sebagai pendidik, setelahjelasnyasemuakenyataan tersebut adalah berusaha dengan sungguh- sungguh untuk memperingatkan anak dari kemurtadan dan atheisme. Sehingga anak tumbuh dalam keimanan yang dalam, keislaman yang kuat, dan keistiqamahan yang ideal. Pada saat itu, tidak ada yang diridhainya melainkan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai nabi dan rasul, dan Al-Qur'an sebagai manhaj dan pedoman. Kelak anak akan menjadi salah satu dari orang-orang yang Allah anugerahi kenikmatan iman dan kemuliaan Islam sampai hari ia bertemu dengan Allah.
3.   Peringatan dari hiburan yang haram
Islam dengan syariatnya yang luhur dan prinsip-prinsipnya yang bijaksana mengharamkan bagi kaum muslimin beberapa macam hiburan dan kesenangan, karena dapat merusak akhlak individu, ekonomi masyarakat, eksistensi negara, kemuliaan umat, dan kedekatan keluarga. Berikut ini akan kami paparkan untuk para pendidik, macam-macam hiburan yang diharamkan agar mereka mewaspadainya dan memperingatkannya kepada anak setelah sebelumnya memberi teladan untuk menjauhinya:
a.   Bermain dadu
Bermain dadu termasuk permainan yang diharamkan, baik itu disertai taruhan atau tidak, walau hanya untuk hiburan biasa.
Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Buraidah bahwa Nabi Saw bersabda:
“Barang siapa yang bermain dadu, maka seolah ia mencelupkan tangannya pada daging babi dan darahnya." (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud)
Dan yang dirayatkan dari Abu Musa bahwa Nabi Saw bersabda:
"Barangsiapa yang bermain dadu, maka ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Malik dalam Al-Muwaththa’)
Hikmah pengharamannya, karena bermain dadu-walaupun tanpa taruhan- dapat membuang banyak waktu. Dan waktu yang terbuang tersebut memalingkan mereka dari banyak kewajiban agama, pendidikan, dan duniawi. Di samping dadu merupakan sarana untuk berjudi. Selain itu, seorang muslim di dunia ini diciptakan demi menjalankan risalah, menyampaikan amanah, dan melaksanakan kewajiban. Maka aj akah ada waktu bagi seorang muslim untuk melakukan permainan sia- sia terseout? Maka benar sekali pepatah yang mengatakan bahwa kewajiban ini lebih banyak dari waktu yang tersedia. Dan waktu ini seperti pedang, jika engkau tidak menguasainya maka ia akan memotongmu.
Inilah sabda Rasulullah yang memerintahkan setiap muslim untuk memanfaatkan waktu hidupnya dengan banyak kebaikan, baik kebaikan tersebut bermanfaat untuk dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw bersabda:
 
"Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima yang lain: masa hidupmu sebelum   matimu,   masa   sehatmu
sebelum   sakitmu, waktu   luangmu
sebelum waktu sibukmu, masa mudamu sebelum   tuamu, dan   waktu   kayamu sebelum   miskinmu."   (HR.   Al-Hakim dengan sanad yang shahih]
b.   Mendengarkan musik
Mendengarkan musik termasuk hiburan yang diharamkan, baik itu berupa lagu yang boleh maupun lagu yang isinya tidak senonoh yang memancing syahwat. Seperti lagu yang menggambarkan seorang perempuan, lagu yang mengajak kepada syiar-syiar kekufuran dan prinsip-prinsip yang sesat, dan semacamnya. Dalil-dalil yang mengharamkan:
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa yang duduk mendengarkan penyanyi perempuan, Allah pasti cucurkan pada dua telinganya timah cair pada hari kiamat." (HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, dan Ibnu Shashri dalam Amali-nya)
Diriwayatkan dari 'Ali. bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Apabila umatku melakukan 15 perkara ini,makamalapetakapastimenimpanya: apabila ghanimah dibagikan dengan tidak adil, harta amanah menjadi ghanimah, zakat dianggap denda, laki-laki taat kepada istrinya, durhaka kepada ibu, berbuat baik kepada teman, menjauhi ayahnya, kerasnya suara-suara di masjid, pemimpin kaum adalah orang yang hina di antara mereka, seseorang dihormati karena ditakuti kejahatannya, minuman keras diminum, sutra dipakai, mendengarkan para penyanyi perempuan dan permainan musik, yang terakhir dari umat ini melaknat yang pertama, maka tunggulah pada saat itu angin yang merah atau tenggelam (seisi bumi) dan diubah (semua bentuknya)." (HR. At- Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Satu kaum dari umatku akan diubah bentuknya pada akhir zaman menjadi kera dan babi." Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, apakah mereka orang- orang musim?" Beliau menjawab, "Ya, dan mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah, dan mereka pun melakukan puasa."

Mereka bertanya, "Maka bagaimana keadaan mereka, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, “Mereka memainkan alat musik, (mendengarkan) penyanyi perempuan, (bermain) alat gendang, dan meminum minuman keras. Lalu mereka larut tidur dengan minuman dan permainan mereka, lalu mereka pada pagi hari telah diubah (menjadi kera dan babi)." (HR. Musaddad dan Ibnu Hibban)
Dan hadits-hadits lainnya yang mengharamkan lagu yang berisi kefasikan dan nyanyian yang merangsang syahwat.
Adapun nyanyian yang dibolehkan, maka berikut ini rangkuman yang dikutip oleh Syaikh Muhammad Al-Hamid dalam bukunya Hukmu Al-Islam fi Al-Ghina dari para ahli fikih:
Nyanyian dibolehkan jika untuk memunculkan semangat untuk mengerjakan pekerjaan berat, atau untuk membuat diri menjadi rileks. Nabi Saw dan para shahabatnya bersenandung saat membangun masjid dan menggali parit. Atau seperti yang dilakukan orang-orang Arab gurun yang berdendang sambil menggiring unta-unta mereka. Dan seperti syair yang tidak mengandung kata-kata kotor, menyifati khamr, menerangkan kecantikan perempuan, jauh dari hinaan terhadap muslim atau kafir dzimi. Sebab, syair yang berisi seperti itu hukumnya haram.
Adapun syair yang menyifati keindahan wanita tanpa menyebutkan bagian tertentu diperbolehkan. Ka'ab bin Zubair pernah bersenandung di hadapan Nabi:
Su'ad saat mereka pada dini hari meninggalkannya
Adalah gadis kecil berkelopak mata hitam lagi bercelak Bersuara merdu, pada saat tersenyum Di antara dua birbirnya mengkilat gigi- gigi putih.
Rasulullah Saw pun telah mendengarkan juga qashidah Hassan yang pertama:
Bagaikan mutiara, hatimu kuterima dalam tidurku
engkau tuangkan senyuman lembut ke dalam kalbuku.
Syair-syair yang didendangkan para ibu untuk meninabobokkan anak-anak juga termasuk diperbolehkan.
Sya'ir ghazal (asmara) yang murni, seperti yang biasa didendangkan para wanita di pesta pernikahan dan tidak seorang laki-laki pun mendengarkannya, juga termasuk yang diizinkan oleh Rasulullah Saw, seperti:
Kami datang kepadamu, kami datang kepadamu
Maka engkau kami beri salam Kalaulah bukan karena cinta yang membara
Kami takkan datang kepadamu Demikian juga syair-syair yang mengisahkan keindahan alam, taman, keharuman bunga-bunga, dan sungai- sungai yang mengalir. Maka syair yang demikian itu diperbolehkan, selama tidak menggunakan alat musikyang diharamkan. Sebab, jika menggunakan alat musik yang diharamkan maka nyanyian itu hukumnya tidak boleh, walaupun isinya nasihat dan kata-kata hikmah. Haramnya bukan karena nyanyiannya, tetapi karena alat musiknya.
Adapun haramnya bermain dan mendengarkan musik, maka berikut ini dalil-dalilnya. Sebelumnya kita telah menyebutkan sabda Rasulullah Saw, “Apabila umatku melakukan 15 perkara ini, maka malapetakapastimenimpanya...mengambil (memperdengarkan] para penyanyi perempuan dan (mempermainkan)alat musik...”
Lalu hadits yang telah kita sebutkan tentang adanya segolongan manusia diubah bentuknya di akhir zaman (menjadi kera dan babi) yang di antara sebabnya yaitu, "Mereka memainkan alat musik dan mendengarkan penyanyi perempuan...”
Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mengutusku sebagai rahmat dan hidayah bagi semesta alam. Dia memerintahkanku untuk menghilangkan seruling, permainan musik, khamr, dan berhala-berhala yang disembah pada masa jahiliyah." (HR. Ahmad)     
Nabi Saw, bersabda:

"Di antara umatku akan ada kaum- kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamr, dan permainan musik” (HR. Al- Bukhari, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Dan hadits-hadits lainnya yang mengharamkan memainkan alat musik dan mendengarkannya.

Hikmah pengharaman musik:
Orang yang mengunjungi tempat- tempat pementasan musik akan mendapati tarian para pelacur yang memperlihatkan auratnya, gelas-gelas minuman keras di sana-sini,teriakan darimulutparapemabuk dengan kata-katanya yang kotor dan jorok, serta adanya percampuran antara laki- laki dan perempuan yang menari-nari dan mengesampingkan kehormatannya. Itulah rencana para imperialis-seperti yang dikatakan guru kami Al-Hamid-mereka ingin menenggelamkan bangsa-bangsa yang mereka jajah dengan membuka tempat-tempat hiburan, nyanyian, minuman keras, dan perempuan. Agar bangsa yang mereka jajah tidak bangkit untuk melakukan kewajibannya.
Kita sendiri tahu bahwa umat Islam pada masa dulu tidak mencapai kejayaannya kecuali dengan menjauhi segala bentuk pornografi dan pornoaksi yang diharamkan syariat Islam, berpegang teguh pada aturan Allah sebagai manhaj, sumber hukum, dan penerapannya. Sebab, kesungguhan mereka yang menjadi karakter tua muda, kecintaan mereka terhadap kematian seperti cintanya musuh-musuh mereka terhadap kehidupan, dan dengan kesadaran semua generasi terhadap tanggung jawab yang harus dipikulnya.
Akhir umat ini tidak akan bisa menjadi baik kecuali dengan cara bagaimana bisa baiknya umat terdahulu.
Jika Anda menginginkan kemuliaan bagi generasi Anda, kemenangan bagi umat Islam, juga peradaban dan ilmu untuk negeri-negeri Anda semua, maka yang harus Anda lakukan adalah mendidik anak-anak Anda dengan serius, mengikuti aturan Allah, melaksanakan tanggung jawab, mencintai mati syahid di jalan Allah, sehingga Anda dapat mengembalikan kejayaan dan keagungan umat Islam. Dan itu tidaklah sulit bagi Allah.

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1726
  • Logged
c.   Menonton film di bioskop dan televisi
Sebelumnya kami telah sebutkan pada pasal Tanggung Jawab Pendidikan Akhlak pada bagian dua buku ini bahwa penemuan media massa modern berupa radio, telewsi, dan yang lainnya adalah kemajuan yang telah dicapai akal manusia di abad ini. Bahkan, bisa juga dianggap sebagai hasil yang paling hebat dari peradaban abad dua puluh ini. Namun, ini juga merupakan pedang bermata dua yang dapat cigunakan untuk kebaikan dan sebaliknya, keburukan.
Pada pasal tersebut kami sebutkan bahwa penemuan-penemuan tersebut jika digunakan untuk kebaikan, menyebarkan pengetahun, menguatkan akidah Islam, meneguhkan akhlak yang luhur, mengikat generasi sekarang dengan kejayaan sejarahnya, mengarahkan umat kepada hal-hal yang bermanfaat untuk agama dan dunianya. Maka, semua sepakat mengenai hukum penggunaannya yang dibolehkan. Sedangkan penggunaannya untuk menanamkan kerusakan dan penyimpangan, menyebarkan gaya hidup hedonisme, memalingkan generasi sekarang ke jalan selain jalan Islam. Maka, semua orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, pasti mengharamkan penggunaannya dan dosa bagi yang menonton dan mendengarkannya.
Kami juga menjelaskan bahwa kalau kita ikuti program-program televisi di negeri kita, kita mendapati bahwa sebagian besar program-program tersebut berisi tayangan yang menghilangkan kehormatan, mengarah kepada zina, dan mendorong orang-orang untuk berpikiran hedonisme. Sedikit sekali acara-acara yang bertujuan untukilmu, mengarahkan orang- orang kepada kebaikan, serta bermanfaat untuk agama dan dunianya. Sehingga kami sampai pada kesimpulan bahwa menonton televisi dan mengikuti acara-acara yang seperti sekarang ini dianggap perkara yang haram dan berdosa.
Sama dengan televisi, bioskop dan panggung-panggung hiburan lainnya pun hukumnya haram dan berdosa bagi yang mendatanginya. Berikut ini dalil- dalilnya :

□ Di antara tujuan syariat Islam adalahmenjaga nasab dan kehormatan. Dan karena kebanyakan yang dipertontonkan di film dan semacamnya itu mengarah kepada hilangnya kehormatan dan kemuliaan, maka datang ke bioskop dan panggung-panggung hiburan lainnya, menontonnya, dan bersenang-senang di sana hukumnya haram dan termasuk dosa yang dapat mengundang kemurkaan Allah dan Rasul-Nya Saw,

□ Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda:
"Tidak boleh berbuat dharar dan berbuat dhirar" (HR. Malik, Ibnu Majah, dan Ad-Daraquthni)
Karena film saat ini dan yang semacamnya memberikan tontonan yang tidak senonoh dan memberi pengaruh buruk kepada masyarakat, seperti merangsang nafsu seks, mendorong untuk melakukan zina, maka haram bagi seorang muslim untuk datang dan menontonnya. Hal inibertujuan untuk memutuskan tali penyebab munculnya kerusakan dan sebagai pengamalan perintah Rasulullah Saw, 'Tidak boleh berbuat dharar dan berbuat dhirar.”

□ Penayangan film dan semacamnya pasti selalu diiringi musik, nyanyian, dan tarian yang mempertontonkan aurat. Karena semua itu diharamkan, maka masuk ke tempatnya dan menyaksikannya pun hukumnya haram dan termasuk dosa.
Mengenai televisi, bioskop, dan panggung hiburan lainnya, saya ingin menjelaskan kepada para pendidik mengenai kenyataan penting ini. Di antara rencana besar Yahudi adalah meruntuhkan akhlak masyarakat manusia selain Yahudi. Dalam Protokolat mereka terdapat pernyataan, “Kita harus bekerja untuk meruntuhkan akhlak di setiap tempat sehingga mudah bagi kita untuk berkuasa. Freud termasuk golongan kita. Dan ia akan terus ‘mempertontonkan’ hubungan seks secara terbuka, agar tidak ada lagi hal yang sakral dalam pandangan para pemuda dan obsesi mereka adalah untuk memenuhi libido seksual mereka. Pada saat itulah runtuhnya akhlak’.”
Di antara sarana mereka untuk menghancurkan akhlak adalah merusak kemanusiaan melalui media informasi dan penyiaran, bioskop, dan panggung hiburan, juga melalui program-program radio, dan melalui para penulis bayaran dan pengkhianat. Yahudi dengan tipu daya busuknya mampu merusak bangsa- bangsa melalui budaya, seni, hiburan, dan semacamnya. Simaklah apa yang mereka katakan dalam Protokolat XIII:
“Kita harus menjauhkan mereka kecuali orang-orang Yahudi dari mengenali rencana-rencana kita dengan membuat mereka lalai dengan berbagai macam kesenangan. Kita segera umumkan di berbagai surat kabar yang mengajak orang-orang untuk mengikuti berbagai perlombaan dengan berbagai macamnya, seperti seni, olahraga, dan lain-lain. Kesenangan yang baru ini akan melalaikan pikiran bangsa-bangsa itu dari persoalan- persoalan yang kita berbeda dengan mereka. Ketika mereka secara bertahap kehilangan kenikmatan berpikir secara independen, mereka akan mendengarkan semua perkataan kita dengan tujuan yang sama, yailu kita semua menjadi anggota masyarakat yang satu untuk menjalankan garis permkiran baru. Garis pemikiran ini akan kami berikan melalui penundukkan tokoh-tokoh yang tidak diragukan lagi loyalitasnya kepada kita. Peran orang- orang liberal ini akan berakhir ketika bangsa-bangsa mengakui pemerintahan dan kekuasaan kita dan mereka akan melayani kita dengan baik ketika itu."
Bukankah orang-orang Yahudi itu sedang bekerja siang dan malam untuk merusak akal dan akhlak manusia, agar mereka bisa menegakkan negara mereka yang dinanti. Mereka menyusun strategi untuk menyibukkan manusia dengan hiburan, permainan, dan nafsu seks dari berpikir jernih, berkarya, dan produktivitas untuk negeri.
Tahukan Anda bahwa orang-orang berada di belakang seks bebas, paham atheisme, gaya hidup hedonisme, hiburan malam, film porno, dan semacamnya adalah rencana besar Yahudi, disadari maupun tidak.
Jika Anda sudah mengetahui hal ini, maka yang harus Anda lakukan sebagai pendidik, adalah memperingatkan anak dari mengunjungi tempat-tampat seperti bioskop, panggung hiburan, dan semacamnya. Karena semua itu, untuk saat ini, mengandung hal-hal yang dapat merusak akidah dan akhlak. Peringatkan anak Anda bahwa orang-orang Yahudi itu ingin merusak individu, keluarga, dan generasi muslim.
Mungkin ada orang yang berkata, "Mengapa tidak boleh ke bioskop, jika memang di sana ada hal yang bermanfaat untuk umat dalam hal agama, akhlak, dan sejarahnya?"
Anggapan di atas bisa terbantahkan dengan perkara-perkara di bawah ini:
1.   Karena di sana terdapat ikhtilath (pembauran) antara laki-laki dan perempuan yang diharamkan Islam.
2.   Karena di saat pertunjukan, walaupun tentang sejarah, namun dalam adegan tersebut ada perempuan-perempuan yang tidak menutup aurat, mungkin juga ada adegan yang menggambarkan kejahiliyahan, berupa tarian dan nyanyian yang tidak senonoh. Sedangkan Islam mengharamkan melihat setiap hal yang dapat memancing nafsu seksual.
3.   Karena biasanya bioskop selalu mempertontokan hal-hal yang merusak dan seorang muslim dilarang untuk datang ke tempat yang syubhat dan kemungkinan mengandung kerusakan. Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapa yang terjatuh kepada yang syubhat, maka ia terjatuh kepada yang haram." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
4.   Mengakibatkan kecanduan. Jika sudah masuk sekali, maka ingin lagi dan lagi. Jika rasa malu untuk datang ke 
sana sudah terlanggar untuk pertama kalinya, sedangkan kesabaran yang hakiki itu adalah saat menghadapi cobaan yang pertama maka yang ke sekian kalinya tidak akan bisa lagi tertahan. Secara bertahap rasa malu itu pun hilang sama sekali. Selanjutnya, tindakan itu akan mengarah kepada peyimpangan.
Namun, berbeda jika terdapat lembaga keagamaan yang terpercaya yang mengawasi tempat khusus untuk penayangan film-film ilmiah, sosial, dan pementasan drama sejarah. Sehingga di dalamnya tidak terdapat hal-hal yang merusak, mengandung fitnah, dan yang diharamkan. Pada saat itu, seorang muslim boleh mendatanginya untuk mengambil manfaat dari acara tersebut. Jika tidak demikian, maka datang ke bioskop dan tempat semacamnya termasuk dosa dan perbuatan yang diharamkan oleh Islam.
Ada juga yang berkata seperti ini, "Apa yang menghalangi kita untuk menggunakan televisi pada perkara- perkara yang bermanfaat dan acara-acara yang berfaedah, seperti mendengarkan Al- Qur’an, berita, dan acara yang berkaitan dengan pengetahuan?”
Pada kenyataannya, hal itu sulit untuk direalisasikan. Karena nyatanya televisi itu dipenuhi dengan acara-acara yang mengandung hal yang dilarang. Setan akan terus menggoda dan membisikkan bahwa ada acara yang bermanfaat setelah lagu ini, ada siaran berita setelah acara ini. Mungkin seseorang memiliki kekuatan keinginan untuk mengendalikan diri dalam memilih mana yang bermanfaat untuk dirinya. Namun, apakah bisa dijamin ketika ia tidak di rumah, ketika televisi itu ditonton oleh keluarga dan anak-anaknya. Tentu jawabnya tidak. Kemudian kapan ia akan menentukan mana tayangan yang boleh ditonton dan mana yang tidak. Tentu setelah tayangan itu disaksikan. Artinya, bahwa keluarga tetap sajamelihattayangan yang merusak di saat ingin menonton tayangan yang bermanfaat, tanpa bisa dicegah. Dan iblis memainkan perannya yang besar dalam menghias kemungkaran sehingga akhirnya semua tayangan pun tetap ditonton.
Terkadang juga, ketika sang ayah dengan tegas ingin mematikan televisi ketika melihat tayangan yang tidak baik, bisa jadi sang istri, anak, atau anggota keluarga yang lain ada yang tidak setuju karena sedang mengikuti serunya acara tersebut. Sehingga akhirnya terjadilah percekcokan dan perdebatan di rumah yang juga meninggalkan pengaruh negatif pada mental dan sosial di antara anggota keluarga.
Dari sini jelaslah bahwa keinginan untuk memilih dan menentukan acara televisi adalah hal yang hampir mustahil dan sangat sulit untuk direalisasikan. Sedangkan seorang muslim harus berhati-hati untuk menjaga agamanya, kehormatannya, dan pendidikan keluarganya. Itu semua tidak akan bisa terwujud kecuali dengan menjauhkan perkara yang tidak baik dan bahaya dari lingkungan rumah dan keluarganya.
Acara yang ditayangkan televisi saat ini merupakan bahaya yang paling besar bagi kehormatan dan akhlak. Ada satu lagi yang harus diperhatikan bahwa sebagian orang tua ada yang membelikan televisi untuk anak-anaknya dengan alasan untuk mencegah mereka agar tidak pergi ke bioskop dan tempat hiburan terlarang lainnya. Akan tetapi, itu adalah alasan yang semu dan anggapan yang salah, karena:
1.   Kemungkaran tidak bisa dihilangkan dengan kemungkaran yang lain.
2.   Kemungkaran yang terdapat pada tayangan televisi lebih besar daripada kemungkaran yang ada di tempat- tempat hiburan yang lain. Karena, kerusakan yang terdapat di televisi berlangsung terus menerus setiap hari yang dilihat oleh orang tua dan muda, yang shalih dan yang tidak, perempuan dan laki-laki. Sedangkan kerusakan yang ada di tempat-tempat hiburan hanya sementara dan terbatas pada mereka, anak-anak atau orang dewasa yang tidak baik saja yang datang ke sana
3.   Tayangan televisi dapat menyebabkan bahaya besar untuk sosial dan akhlak. Yang terdapat pada kegiatan begadang yang sering dilakukan keluarga, ikhtilath yang terjadi antara tetangga dan teman-teman laki- laki dan peremapun. Tidak sedikit kehormatan yang tercoreng, darah yang mengalir, dan fitnah yang muncul dikarenakan televisi dan ikhtilath (saat menontonnya].
Seteluh saya sebutkan semua alasan di atas, maka sudah tidak ada lagi alasan bagi yang menganggap bahwa adanya televisi di rumah dapat mencegah kejelekan bagi anak dan menjauhkan mereka dari kerusakan.
Selain itu, televisi juga memiliki efek negatif bagi kesehatan. Seperti merusak kesehatan mata danmerusakmentalseperti terobsesi oleh seorang artis sehingga tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari sang artis tersebut. Selain itu dapat juga berefek negatif terhadap pendidikan, seperti anak-anak sibuk dengan televisi sehingga melalaikan tugas sekolah mereka. Efek negatif lainnya yaitu merusak pikiran, seperti melemahkan ingatan, kemampuan berpikir, dan pemahaman. Tidak terlewat juga efek negatif televisi terhadap ekonomi, seperti membuang-buang uang dengan membeli televisi, padahal keluarga sedang lebih membutuhkan kebutuhan primer.
d.   Berjudi
Di antara permainan yang haram di dalam Islam adalah judi dengan berbagai macam dan coraknya, judi yaitu semua permainan yang dilakukan antara dua kelompok, di mana salah satunya pasti ada yang rugi dan kelompok lain menang atau untung dengan cara untung-untungan. Dalil pengharamannya yaitu firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangikamudarimengingatAllah dan sembahyang. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)" (QS. Al-Ma’idah [5]:90-91}
Hikmah pengharaman judi:
1.   Judi menjadikan manusia bersandar kepada untung-untungan dan angan- angan kosong dalam mencari rezeki. Bukan kepada usaha dan kesungguhan yang disyariatkan.
2.   Judi adalah alat penghancur rumah tangga, penguras kekayaan, pembuat miskin keluarga yang kaya, dan merendahkan pribadi yang mulia. Tidak jarang kita mendengar pribadi- pribadi yang menjadi hina padahal awalnya dimuliakan, dan keluarga yang jatuh misikin padahal sebelumnya kaya raya.
 
3.   Judi melahirkan permusuhan dan kebencian di antara dua orang pemainnya. Seperti memakan harta di antara mereka dengan cara yang batil dan mendapatkannya bukan dengan haknya.
4.   Judi dapat menghalangi dari mengingat Allah (dzikirj dan shalat. Selain itu juga mendorong para pemainnya berperilaku buruk dan kebiasaan jelek. Disebutkan dalam riwayat bahwa Rasulullah Saw pernah melewati suatu kaum yang bermain judi maka beliau bersabda:
"Hati yang lalai, tangan yang bekerja, lidah yang sia-sia " (HR. Al-Baihaqi)
Yaitu, mengatakan yang tidak ada faedahnya dan yang batil.
5.   Judi adalah hobi yang mengandung dosa, karena ia menghabiskan waktu, menyia-nyiakan tenaga, membuat orang jadi malas, dan menjauhkan umat dari berusaha dan berkarya.
6.   Judi mendorong pelakunya untuk melakukan tindak kriminal. Karena pihak yang kalah dan pailit ingin mendapatkan uang dengan cara apa saja, walaupun harus mencuri, merampok, menerima suap, dan korupsi.
7.   Judi melahirkan rasa cemas, penyakit, membuat urat-urat syaraf menjadi tegang, dan menimbulkan rasa iri
dengki. Biasanya, judi juga mendorong orang untuk melakukan kejahatan, bunuh diri, atau menjadi gila.
Tidak salah apa yang dikatakan Al- Qaradhawi bahwa orang yang sudah jatuh cinta dengan meja judi akan menjual apa saja demi judi. Ia akan menjual agamanya, kehormatannya, dan juga negerinya, demi mendapatkan uang dan seks.

Bentuk-bentuk judi:
1. Lotere
Sebab, lotere bersandar kepada untung-untungan dan itu termasuk salah satu bentuk judi, yang tidak bisa dianggap remeh. Walaupun diatasnamakan yayasan sosial dan tujuan kemanusiaan. Karena judi yang biasa dilakukan di kalangan orang-orang Arab pada masa jahiliyah pada akhirnya bertujuan untuk kebaikan, di mana si pemenang tidak mengambil keuntungannya sedikit pun. Cara seperti itu sangat mirip dengan lotere pada zaman sekarang yang mana keuntungannya diperuntukan bagi misi kemanusiaan.
Islam menganggap prinsip menghalalkan segala cara, sebagai prinsip yang menghancurkan yang disebarkan oleh Yahudi untuk mewujudkan tujuan mereka. Prinsip yang diambil oleh Islam dalam berusaha mencapai tujuan adalah prinsip yang baik, yaitu cara-cara yang terhormat. Seperti sumbangan misalnya, untuk misi kemanusiaan, Islam tidak menganggap itu baik kecuali jika cara yang ditempuhnya terhormat dan bersih. Adapun jika melalui cara judi atau mencuri, maka itu tidak diperbolehkan, karena keadaannya yang haram. Apalah artinya sumbangan jika tidak tercapai dengannya kebaikan, rahmat, dan ihsan.
Maka, marilah kita didik anak-anak kita untuk menyumbang dan berinfak dengan ikhlas dan sesuai dengan yang disyariatkan. Sehingga mereka dapat ikut berpartisipasi dalam kebaikan dan mendapatkan pahala di sisi-Nya.

2. Taruhan
Di antara bentuk judi yang diharamkan yaitu permainan dengan taruhan. Seperti permainan bola, adu terbang merpati, catur, dan permainan lainnya. Bentuknya yaitu, setiap peserta atau salah satu peserta disyaratkan untuk memberikan hadiah dalam keadaan menang atau kalah. Permainan yang seperti itu termasuk judi, karena ada yang menang dan kalah, dan salah satu dari mereka memakan harta dengan cara yang bukan haknya.
Kecuali, permainan berhadiah yang ditujukan sebagai ajang latihan untuk berperang dan jihad, seperti balap unta atau kuda. Atau permainan lainnya yang termasuk kepada sarana perang modern. Berdasar kepada sabda Rasulullah Saw:
“Tidak ada hadiah kecuali pada balap unta, kuda, atau perlombaan memanah."
(HR. Ashabu As-Sunan dan Ahmad)
Namun, dalam permainan berhadiah tersebut juga disyaratkan bahwa hadiahnya bukan berasal dari para peserta lomba atau salah satu dari mereka saja, jika masing-masing peserta membayar untuk dihadiahkan kepada yang menang, di mana yang menang mengambil semua hadiah dari pembayaran semua peserta, maka itulah yang disebut judi yang diharamkan. Nabi Saw menamakan lomba balap kuda dengan jenis hadiah yang kedua di atas dengan istilah 'kuda setan.'
Namun, jika hadiah yang disiapkan itu berasal dari selain peserta, seperti dari pejabat negara, atau pimpinan sekolah, atau lainnya, maka mengikuti perlombaan seperti itu diperbolehkan secara syariat. Karena bersih dari ciri-ciri judi, baik itu dengan tujuan untuk mempersiapkan kecakapan berperang atau untuk meningkatkan kecakapan berolahraga. Dalil yang menerangkan bolehnya hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Umar bahwa Nabi Saw membalapkan kuda-kuda dan memberi hadiah yang menang.
Apabila Islam telah mengharamkan berbagai macam permainan karena bahayanya terhadap jiwa, mental, akhlak, dan sosial, maka pada waktu yang sama Islam pun membuka banyak pintu untuk permainan yang dibolehkan sebagai hiburan bagi anak-anak Islam. Sehingga, mereka kembali semangat untuk melakukan semua kewajibannya, itu di satu sisi. Di sisi lain, kekuatan mereka menjadi terlatih untuk menyiapkan diri berjihad di jalan Allah.
Ali berkata, "Hati itu akan merasa bosan seperti badan, maka carilah cerita- cerita lucu yang mengandung hikmah.”
Ia juga berkata, "Hiburlah hati sedikit demi sedikit, karena hati itu apabila dipaksa, menjadi buta."
Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Al- Adab Al-Mufrad, "Para shahabat Rasulullah Saw pernah saling melempar dengan semangka. Namun jika dalam situasi yang serius, mereka semua adalah para lelaki sejati."
Maka seorang muslim boleh bermain untuk hiburan dan becanda, asalkan itu tidak menjadi kebiasaan dan akhlaknya. Sehingga seluruh waktunya diisi dengan becanda. Saat dituntut serius, ia becanda dan di saat bekerja ia berbuat yang sia-sia.
Alangkah baiknya apa yang dikatakan seseorang, "Berikan waktu untuk hiburan, seperti memberikan garam pada makanan."
Macam-macam permainan dan hiburan yang disyariatkan dalam Islam :
a. Lomba lari
Salah satu permainan yang halal adalah lomba lari. Para shahabat biasa melakukan lomba lari dan Nabi Saw menyetujuinya. Nabi Saw sendiri berlomba lari dengan istrinya, 'Aisyah untuk menghiburnya dan
mengajarkan kepada para shahabatnya. Diriwayatkan dari 'Aisyah "Rasulullah berlomba lari denganku, maka aku dapat mendahuluinya. Setelah badanku menjadi gemuk, beliau berlomba lari denganku, maka beliau dapat mendahuluiku. Lalu beliau bersabda, 'Ini untuk (membayar) yang waktu itu (impas)’.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
b.   Gulat
Diriwayatkan bahwa Nabi Saw bergulat dengan Rukanah. Beliau dapat membantingnya lebih dari satu kali. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Saw bergulat dengan Rukanah, lalu Rukanah berkata, Kambing dibayar kambing."  Kemudian Nabi Saw membantingnya. Rukanah berkata, "Beliau kembali lagi padaku’KemudianNabi^membantingnya lagi. Rukanah berkata, "Beliau kembali lagi padaku." Lalu Nabi Saw membantingnya yang ketiga kali nya. Rukanah berkata, "Apa yang harus aku katakan kepada keluargaku? Seekor kambing dimakan serigala dan seekor lagi lari. Lalu apa yang harus aku katakan pada kambing ketiga?" Maka Nabi Saw bersabda:

"Kami tidak ingin mengumpulkan beban untukmu, kami banting engkau dan kami ambil taruhan darimu. Ambillah kambingmu." (HR. Abu Dawud)

c.   Memanah
Di antara permainan yang disyariatkan adalah permainan memanah dan tombak. Kami telah menyebutkan bahwa Nabi melewati para shahabatnya dalam perkumpulan memanah. Maka beliau menyemangati dan bersabda kepada mereka:
"Memanahlah, dan aku berada bersama
kalian semua." (HR. Al-Bukhari)
Namun, Nabi memperingatkan para pemanah dari menjadikan hewan dan makhluk hidup lainnya sebagai sasaran tembak, seperti yang terjadi pada masa jahiliyah. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar bahwa Ibnu ‘Umar melihat binatang yang dijadikan sasaran tembak. Maka ia berkata, "Nabi melaknat orang yang menjadikan makhluk hidup sebagai sasaran tembak." (HR, Al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi bahwa Nabi melarang mengadu di antara binatang. Yaitu, dengan mengadukan yang satu dengan yang lain sampai binasa atau terluka. Seperti yang biasa dilakukan di masa jahiliyah.
Berdasarkan hadits-hadits tersebut, kita bisa mengetahui bagaimana Islam memerintahkan kita untuk menyayangi binatang dan melarang menyiksanya. Kita juga mengetahui hukum Islam tentang adu banteng.

d.   Permainan tombak
Telah kami jelaskan bahwa Nabi Saw mengizinkan orang-orang Habasyah untuk bermain tombak di masjidnya yang mulia. Beliau juga mengizinkan istrinya, Aisyah , untuk menontonnya. Itu adalah toleransi Rasulullah Saw untuk membolehkan permainan seperti itu di masjidnya yang mulia, untuk menyatukan padanya antara agama dan dunia, ibadah dan jihad, bahwa permainan tersebut □ukan hanya sekadar permainan, tetapi jlahraga, persiapan, dan latihan.

e.   Berkuda
Kami juga sudah menyebutkannya dalam pembahasan "Ikatan Olahraga” dengan cukup jelas, silakan dilihat kembali. Dalilnya yaitu sabda Rasulullah
"Setiap hal yang bukan dzikir kepada Allah adalah permainan atau melalaikan, kecuali empat hal: berjalannya seorang laki-laki antara dua sasaran (untuk memanah/menembak),   melatih
kudanya, bercengkrama dengan istrinya, dan belajar berenang." (HR. Ath-Thabrani)
Begitu pula atsar dari ‘Umar, 'Ajarkanlah anak-anak kalian berenang dan memanah, dan perintahkanlah mereka untuk melompat ke punggung kuda.”
f.   Berburu
Termasuk kepada permainan yang dibolehkan oleh Islam adalah berburu, di darat dan di laut. Sebagaimana firman Allah:
“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram ..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 96)
Berburu ini ada dua macam. Pertama, dengan menggunakan alat tajam yang melukai, seperti pedang, anak panah, dan tombak sebagaimanan yang disebutkan dalam ayat:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 94)
Kedua, dengan menggunakan binatang bertaring yang dapat dilatih, seperti anjing, macan, dan elang. Allah berfirman:
"...Katakanlah, 'Dihalalkan bagimuyang baik-baik dan (buruanyang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu..." (Al- Ma'idah [5]: 4]

Hukum-hukum yang berkaitan dengan berburu:
1.   Berburu ini diniatkan untuk makan dan mencari manfaat. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw:
"Barangsiapa yang membunuh seekor burung pipit dengan sia-sia, maka burung itu pasti terbang kepada Allah pada hari kiamat dan berkata, 'Wahai Tuhanku, si fulan telah membunuhku dengan sia-sia dan bukan membunuhku untuk manfaat'.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)
2.   Tidak sedang dalam keadaan berihram haji atau pun umrah. Sebagaimana firman Allah:
"...Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram..." (QS. Al- Ma'idah [5]: 96)
3.     Berburu   disyaratkan   alat pembunuhnya, membunuh dengan tajamnya bukan beratnya. Berdasar kepada hadits Adi bin Hatim. bahwa ia bertanya kepada Nabi Saw,. Adi berkata, 'Aku memanah binatang buruan dengan anak panah yang tidak berbulu, lalu aku mengenainya." Beliau bersabda:
“Apabila engkau memanah dengan anak panah tak berbulu, lalu ia menancap (menembus) di badannya, maka makanlah. Tetapi jika terkena bukan dengan bagian yang tajamnya, maka jangan engkau makan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Tidak boleh dimakan karena buruan tersebut terbunuh dengan beratnya alat pembunuh bukan dengan bagiannya yang tajam sampai menancap. Hadits tersebut menunjukkan bahwa yang dianggap itu adalah tembusan alat pembunuhnya.
Berdasarkan hal ini, boleh berburu dengan menggunakan peluru senapan, pistol, dan semacamnya. Karena, peluru tersebut menembus badan, bahkan lebih menembus daripada anak panah dan tombak.
4.   Menyebutkan nama Allah pada alat ketika menembak, atau melepaskan binatang pemburu yang telah dilatih. Berdasar kepada firman Allah:
"...Dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)...” (Al- Ma’idah [5]: 4)
Jika lupa, maka memakan binatang buruannya tetap dibolehkan menurut sebagian besar para ahli fikih, karena Allah tidak menghukum hamba-Nya karena lupa atau khilaf.
5. Apabila binatang buruan jatuh ke air dan dikeluarkan dalam keadaan sudah tidak bernyawa, maka tidak boleh dimakan. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw:
“Apabila engkau menembakkan anak panahmu, lalu jika engkau menemukannya telah terbunuh, maka makanlah. Kecuali jika engkau menemukannya terjatuh ke dalam air, maka engkau tidak tahu, apakah air atau anak panahmu yang telah membunuhnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

g.   Bermain catur
Catur adalah permainan yang terkenal. Mengenai hukumnya, para shahabat, tabi'in, dan ahli fikih lainnya terbagi pada dua pendapat:
Pertama, hukumnya haram. Sebagaimana pendapat 'Ali bin Abi Thalib, Ibnu 'Umar, Ibnu 'Abbas, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Kedua, hukumnya halal. Seperti pendapat Abu Hurairah, Sa'id bin Al- Musayyab, Sa'id bin Jubair, Ibnu Sirin, dan Imam Asy-Syafi'i.
Orang-orang yang menghukuminya boleh, berpendapat bahwa asalnya segala sesuatu itu adalah boleh, dan tidak terdapat nash yang mengharamkannya. Selain itu, catur berbeda dengan dadu, dilihat dari dua sisi. Pertama, bermain dadu untung-untungan, ini lebih mirip mengundi dengan anak panah.  Sedangkan catur bermain berdasarkan kepandaian, berpikir, dan latihan. Maka ini lebih mirip dengan perlombaan anak panah.
Kedua, di dalam catur terdapat latihan strategi perang. Sedangkan dalam dadu hanya membuang-buang waktu saja dan sia-sia tanpa ada manfaat apa-apa. Namun, dalam bermain catur ini terdapat tiga syarat:
1.   Tidak sampai melalaikan shalat dari waktnya.
2.   Tidak menggunakan taruhan karena itu termasuk judi.
3.   Pemainnya harus menjaga lisannya jangar sampai berkata-kata kotor.
jika syarat-syarat tersebut dilanggar, maka cati r menjadi haram.
Dari pembahasan peringatan dari permainan yang haram, Anda dapat mengetahui bahwa Islam telah mengharamkan beberapa macam permainan. Karena di dalamnya mengandungbahayayangbesar bagi akhlak individu dan masyarakat, berpengaruh negatif pada mental dan perilaku manusia. Maka bersungguh-sungguhlah Anda dalam mt mperingatkan anak Anda dari permainan-permainan tersebut, sehingga ia tidak terkotori oleh dosa dan sikap membolehkan segala hal.
Anda juga mengetahui bahwa Islam membolehkan beberapa macam permainan yang bermanfaat. Karena di dalamnya mengandung pengaruh positif untuk membuat diri menjadi rileks dan mengembalikan semangat. Selain pe mainan itu pun mengandung pendidikan militer dan persiapan jihad. Maka hendaklah Anda serius, sebagai pendidik, antuk mengarahkan anak Anda dengan pendidikan ini dan melatihnya dengan beik. Sehingga Anda akan melihat anak Anda memiliki kekuatan dan keberanian yang ideal dan menjadi teladan yang baik.
4.   Peringatan dari taklid buta
Di antara perkara yang harus diperhatikan oleh para pendidik adalah memperingatkan anak dari mengikuti atau meniru orang lain dengan taklid buta, tanpa berpikir dan disadari dari ketergelinciran di belakang meniru yang tidak baik dengan tanpa petunjuk. Hal tersebut karena:
□   Taklid buta menunjukkan kekalahan jiwa dan mental, tidak percaya kepada diri sendiri. Bahkan, itu menandakan tidak adanya kepribadian, hilang jati diri di tengah orang yang sedang ditiru.
□   Taklid buta mendorong kepada banyak fitnah kehidupan dunia dan segala macam bentuknya. Dan ini mendorong pelakukanya kepada ketertipuan dan kesombongan, karena ia merasa bangga dengan kehebatan seragamnya.
□   Taklid buta termasuk akhlak buruk yang mendorong seseorang untuk hidup membolehkan segala hal.
□   Taklid buta menggiring bangsa-bangsa yang ada kepada kebinasaan yang pasti, kehancuran yang tidak bisa dielakkan. Bahkan, bangsa tersebut kehilangan semua unsur eksistensinya, kehilangan semua penyebab kemuliaannya, karena mereka menempuh jalan kekufuran dan dosa.
Hal ini ditegaskan oleh penulis Perancis, Andrea Maurois, dalam bukunya Sebab-sebab Kejatuhan Perancis, "Di antara sebab-sebab penting kejatuhan
Perancis di Perang Dunia II adalah rusaknya bangsa Perancir karena tersebarnya perilaku buruk di antara individu-individunya."
Dan ini yang dikatakan Jendral De Gaulle ketika penerimaan kekuasaan di Perancis, ia memanggil kepada polisi Paris dan berkata, "Tutuplah tempat- tempat bejat itu di ibu kotaku."
□   Taklid buta melumpuhkan mereka yang mudah disetir ini di belakang kebiasaan asing, pakaian, dan akhlak mereka, dari banyak kewajiban agama, tanggung jawab sosial, perputaran roda ekonomi, dan peradaban umat.
□   Taklidbutaadalahfaktorterbesardalam melemahkan ingatan, menghancurkan kepribadian, menghilangkan akhlak terpuji, membunuh jati diri, tersebarnya penyakit, hilangnya budi luhur, kemuliaan, dan kesucian diri. Karena, taklid buta mendorong kepada pemuasan hawa nafsu dan meraih semua kesenangan.
Dr. Alex Carlyle dalam bukunya Al- Insan Dzalika Al-Majhul [terjemahan Arab) berkata, "Ketika libido seksual tergerak pada diri manusia, ia mengeluarkan semacam materi yang diserap darah ke otaknya dan membuatnya tidak sadar. Sehingga ia tidak mampu lagi berpikir jernih."
George Baluchi di dalam bukunya, Ats-Tsaurah Al-Jinsiyyah [terjemahan Arab) menyebutkan seperti ini, "Presiden Kennedy mengeluarkan pernyataan pada tahun 1962 yang berisi: Masa depan Amerika sedang terancam, karena generasi mudanya lemah, rusak, dan tenggelam dalam hawa nafsunya. Mereka tidak mampu mengemban tanggung jawab di pundaknya. Dari 7 pemuda yang mengajukan diri untuk wajib militer, 6 di antaranya tidak layak. Karena lepasnya mereka dari tanggung jawab dan moral, telah merusak kesehatan fisik dan mental mereka.”
Maka tidak aneh kalau kita melihat Islam telah melarang menyerupai budaya asing [tasyabuh) dan memperingatkan dari meniru-niru secara membabi buta. Berikut dalil-dalilnya:
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr . bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Bukang golongan kami orang yang menyerupai selain kami. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani." [HR. At-Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk di antara mereka." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, "Rasulullah Saw melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki." (HR. Al- Bukhari, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)
Nabi Saw bersabda:
"Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani :idak diwarnai (rambutnya), maka berbedalah dengan mereka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Nabi Saw juga bersabda:
"Janganlah kalian menjadi orang yang bersikap oportunis yang berkata, 'Aku bersama orang-orang. Jika orang-orang berbuat laik, aku pun akan berbuat baik. Danjka mereka berbuatjelek, aku pun akan berbuat jelek.' Akan tetapi, siapkanlan diri kalian. Jika orang- orang berbuat baik, maka berbuatlah baik kalian. Dan jika mereka berbuat jelek, maka hendaklah kalian menjauhi perbuatan jelek mereka." (HR. At- Tirmidzi)
 
Larangan Nabi ini dimaksudkan taklid dan meniru-niru orang asing/nonmuslimdalam perilaku, akhlak, kebiasaan, dan pakaian, seperti yang telah kami sebutkan di atas. Adapun meniru mereka pada perkara yang bermanfaat untuk umat Islam yang bersifat pengetahuan, materi, dan peradaban, seperti ilmu kedokteran, arsitektur, fisika, nuklir, peralatan perang modern, dan lainnya, maka semua sepakat bahwa itu boleh. Karena, ini termasuk keumuman firman Allah:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..."(QS. Al-Anfal [8]: 60)
Juga termasuk kepada sabda Rasulullah

"Hikmah itu sesuatu yang hilang dari seorang mukmin, maka apabila ia menemukannya, ia lebih berhak mendapatkannya." (HR. At-Tirmidzi) '
Bentuk taklid buta pada kaum perempuan:
Banyak di antara mereka memakai pakaian yang memperlihatkan auratnya dan berdandan memperlihatkan kecantikannya. Padahal Rasulullah Saw telah bersabda bahwa perempuan yang seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan harumnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat: satu kaumyang membawa cemeti seperti ekor sapi, mereka memukuli orang-orang dengan cemeti tersebut, dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, mereka berjalan berlenggok lenggok dengan sombongnya dan menarik perhatian laki-laki, kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidakakan mendapatkan harumnya. Sedangkan harumnya surga dapat dicapai dari jarak perjalanan sejauh sekian dan sekian." (HR. Muslim]
Selain itu, berikut ini beberapa bentuk taklid buta mereka:
□ Mengenakan pakaian hitam-hitam ketika ada yang meninggal, menyerupai orang-orang Nasrani.
□   Berkumpul di pesta pernikahan dengan nyanyian dan tarian.
□   Bersumpah selain dengan nama Allah pada saat senang atau pun marah.
□   Tidak mengenakan kerudung di depan laki-laki yang bukan mahram, seperti saudara ipar dan sepupu laki-laki.
Sedangkan bentuk taklid yang paling tampak pada pemuda kita adalah penamilan mereka yang menyerupai perempuan. Sebagian pemuda ada yang berkata, "Nabi saja memanjangkan rambutnya sampai melewati telinganya, lalu kenapa para ulama mengingkari laki- laki yang berpenampilan seperti itu?"
Maka akan kami jawab:
a.   Walaupun benar Nabi Saw memanjangkan rambutnya, tetapi beliau tidak keluar menemui orang-orang dengan tanpa tutup kepala. Beliau keluar dengan mengenakan sorban yang menjadi mahkota kenabian dan syiar Islam.
b.   Penampilan pemuda sekarang lebih mirip penampilan hedonis. Apakah orang yang berakal akan berkata bahwa Islam membiarkan pemudanya untuk lebih menyerupai para kaum hedonis? Padahal Nabi Saw; telah bersabda:
“Barangsiapa yang lebih banyak miripnya dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka."’
c.   Bukankah memanjangkan dan menguraikan rambut sampai bahu  menyerupai perempuan, sedangkan Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
d.   Bagaimana mungkin seorang muslim yang memanjangkan rambutnya mau dirinye disebut seperti serangga yang kotor, Kecoa, karena keadaan dirinya yang nirip dengan bentuk kecoa. Padahal Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (QS. AI- Isra’ [17]: 70]
Maka cari itu, bersungguh-sungguhlah Anda sebagai pendidik, untukmenerangkan kepada anak Anda kejelekan penampilan- penampilan tersebut dan kebiasaan yang rendah iti. Karena itu semua memiliki pengaruh yang besar dalam merusak jati diri, kepribadian, dan hilangnya kemuliaan. Selain itu, *\nda juga harus memahamkan kepadanya bahwa segala macam bentuk taklid buta atau meniru-niru yang terlihat pada diri u mat merupakan fenomena yang paling jelan tentang hilangnya kemuliaan, merosotka i akhlak, dan hancurnya budi luhur. Semoga anak Anda berjalan di jalan yang benar dan sesuai dengan petunjuk, tanpa sedilit pun tergoda oleh mereka dan dikuasai syahwatnya.
5.   Peringatan dari teman-teman buruk
Pergaulan yang rusak merupakan satu faktor terbesar dalam penyimpangan anak,
dari segi mental dan akhlak. Terutama jika anak memiliki kecerdasan yang rendah, akidah yang lemah, dan akhlak yang tidak teguh, maka akan sangat cepat terpengaruh oleh teman-teman yang jelek. Anak akan lebih cepat meniru kebiasaan dan sifat jelek mereka. Bahkan lebih jauh dari itu, penyimpangan perilaku anak akan mengarah kepada tindak kriminal. Pada saat itu, sulit bagi pendidik untuk mengembalikan anak ke jalan yang lurus dan menyelamatkannya dari kesesatan.
Pada bagian pertama buku ini, pada pasal Sebab-sebab Penyimpangan pada Anak, kami telah menyebutkan bahwa Islam dengan ajaran-ajarannya tentang pendidikan mengarahkan orang tua dan para pendidik lainnya untuk selalu mengawasi anak-anaknya dengan ketat. Terutama pada usia remaja, agar para pendidik tahu dengan siapa anak bergaul dan berteman. Islam juga mengarahkan mereka untuk memilihkan untuk anaknya teman yang baik, agar anak dapat meniru setiap akhlak dan kebiasaan yang baiknya.
Selain itu, Islam juga mengarahkan para pendidik untuk memperingatkan anak-anaknya dari teman-teman yang tidak baik, sehingga mereka tidak terjatuh kepada penyimpangan dan kesesatan yang sama dengan teman-teman jeleknya itu.
Kami kutip banyak ayat Al-Qur’an dan hadits mengenai memilih teman yang shaleh dan menghindari teman yang jelek. Silakan lihat kembali pasal tersebut untuk lebih jelasnya. Lihat juga pembahasan tentang Mendidik dengan Pengawasan, di sana Anda akan mendapatkan prinsip- prinsip yang harus diikuti dalam mendidik
akhlak anak, membentuk mentalnya, disertai dengan peringatan dari teman- teman yang jelek, di mana itu semua bersesuaian dengan tanggung jawab orang tua dan para pendidik lainnya dalam mengemban amanah pendidikan ini.
6.   Peringatan dari kerusakan akhlak
Pada pasal Tanggung Jawab Pendidikan Akhlak dan Tanggung Jawab Pendidikan Fisik pada bagian kedua dari buku ini, kami telah menyebutkan bahwa terdapat beberapa perilaku negatif yang biasanya ditemukan pada diri anak-anak yang harus diperhatikan dan diperingatkan oleh para pendidik. Berikut ini akan saya sebutkan kepada Anda beberapa perilaku tersebut, agar Anda dapat melakukan tanggung jawab Anda sebagai pendidik, untuk memberi peringatan dan mengawasi anak dalam proses pendidikan dan pengarahan. Dalam tanggung jawab pendidikan akhlak terdapat:
a.   Fenomena perilaku bohong
b.   Fenomena mencuri
c.   Fenomena mencela dan menghina
d.   Fenomena menganggap segala hal boleh
Sedangkan dalam tanggung jawab pendidikan fisik terdapat:
a.   Fenomena merokok
b.   Fenomena onani (masturbasi]
c.   Fenomena mengonsumsi minuman keras dan narkoba
d.   Fenomena zina dan homoseksual
Para ahli pendidikan dan moral sepakat, bahwa perilaku-perilaku di atas merupakan perilaku yang paling dominan menyebabkan rusaknya akhlak anak.
Jika pendidik tidak menjalankan perannya dalam memperingatkan anak dan mengawasinya, maka anak akan terus terseret lebih jauh ke dalam perilaku buruk dan jahat. Pada saat seperti itu, semua pendidik tidak akan bisa lagi menarik dan mengembalikan mereka kepada kebaikan. Bahkan anak-anak akan dianggap ancaman bagi keamanan dan perusak oleh masyarakat. Dan menjadikan setiap orang takut dengan kejahatannya.
Maka yang harus Anda lakukan, sebagai pendidik adalah kembali melihat pembahasan-pembahasan   tentang
tanggungjawab agar Anda dapatmenguasai dengan baik semua tanggung jawab pendidik dalam pendidikan akhlak dan pendidikan fisik. Sehingga apabila Anda sudah ingat kembali semua bahaya dan kejelekan yang diakibatkan oleh perilaku dusta, mencuri, mencela, dan berperilaku seenaknya, semua dianggap boleh, dan juga yang diakibatkan oleh rokok, onani (masturbasi], mengonsumsi minuman keras dan narkoba, zina dan homoseksual, maka lakukanlah kewajiban Anda lagi dalam memperingatkan anak dari semua penyakit mental dan akhlak tersebut, juga dari bahaya kesehatan dan perusak fisik.
Tunjukkan kepada anak penjelasan- penjelasan dari para dokter dan ahli tentang penemuan mereka mengenai bahaya semua hal di atas, juga dari majalah- majalah sains, buku-buku yang khusus tentang itu, dan brosur-brosur peringatan lainnya. Jika Anda telah melakukan semua itu secara kontinu, maka anak akan dapat menjaiihi semua hal yang dapat merusak akhlal dan membahayakan kesehatan. Bahkan anak akan memiliki pemahaman dan kesadaran yang tinggi yang dapat menjadikannya sebagai pengingat bagi yang lain, selain bersikap waspada untuk dirinya sendiri.
Karenanya, hendaknya Anda sebagai pendidik melaksanakan semua tanggung jawab terhadap anak Anda dengan sebaik mungkin. Agar anak Anda termasukkepada orang-orang shalih dan bertakwa.
7.   Peringatan dari yang haram
Di antara hal yang harus diperingatkan pendicik dan diperhatikan oleh mereka terhadap anak-anaknya, yaitu peringatan dari yang haram. Haram [sebagaimana yang didefinisikan oleh para ulama ushul fiqh) yaitu sesuatu yang oleh syariat dituntut secara tegas untuk ditinggalkan. Barangsiapa yang melanggarnya akan mendapatkan hukuman dari Allah di akhirat atau hukuman syar’i di dunia. Sepert membunuh manusia, melakukan zina, meminum khamr, bermain judi, makan harta anak yatim, dan mengurangi timbangan.
Sehingga, tidak aneh jika Nabi memerintahkan para pendidik untuk membiasakan anak-anaknya sejak masih kecil untuk menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan, serta memahamkan kepada mereka hukum- hukum yang halal dan haram. Sehingga, itu semua menjadi akhlak dan kebiasaannya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Lakukanlah taat kepada Allah, jauhi maksiat kepada Allah, perintahkan anak-anak kalian menjalankan perintah dan menjauhi larangan, itu semua menjadi penjaga bagi mereka dari api neraka." (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Al- Mundzir)
Ketahuilah bahwa yang halal itu adalah apa yang Allah halalkan dan yang haram itu adalah apa yang Allah haramkan. Maka tidak ada seorang pun manusia, yang bisa mengharamkan sesuatu yang dibolehkan oleh Allah dan tidak ada juga yang bisa membolehkan hal yang diharamkan Allah. Siapa saja yang melakukan itu, maka ia telah melewati dan melanggar hak Allah dalam menentukan hukum. Begitu pula, barangsiapa yang ridha dengan perbuatan orang yang melanggar hak Allah tersebut, maka ia telah menjadikannya sebagai sekutu selain Allah, menolak agama Allah, dan kufur terhadap Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw:
"Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah...?" (QS. Asy-Syura [42]: 21)
Al-Qur’an telah mencela kaum ahli kitab [Yahudi dan Nasrani) yang telah memberikan hak menghalalkan dan mengharamkan pada tangan rahib dan pendeta mereka. Allah berfirman:
 
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam. Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah] selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." [QS. At-Taubah [9]: 31)
Kami pun telah menyebutkan bahwa 'Adi bin Hatim datang kepada Nabi Saw (saat ia masih menjadi seorang Nasrani). Ketika ia mendengar Nabi Saw membacakan ayat di atas, ia berkata, "Wahai Rasulullah, mereka tidak menyembah para rahib." Maka beliau bersabda, "Mereka (para rahib) mengharamkan bagi mereka yang halal dan menghalalkan yang haram, dan mereka (orang-orang Nasrani) itu mengikutinya. Itulah ibadah mereka kepada para rahib.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Jarir)
Sebagaimana juga Al-Qur’an telah mencela orang-orang musyrik yang telah mengharamkan dan menghalalkan sesuatu tanpa izin Allah, Allah berfirman:
 
"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal’ Katakanlah, 'Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini] atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?"' (QS. Yunus [10]: 59)
Dari semua ini, jelaslah bahwa hanya Allah semata yang memiliki hak menghalalkan dan mengharamkan. Allah telah menjelaskan bagi kita semua itu di dalam kitab-Nya:
 
"...Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya..." (QS" Al-An‘am [6]: 119)
Setelah mengetahui itu semua, maka yang harus Anda lakukan adalah mempelajari berbagai macam yang telah diharamkan yang terdapat pengharamannya di dalam kitab Allah atau sunnah Nabi-Nya Saw,- Untuk selanjutnya Anda ajarkan sekaligus peringatkan kepada semua yang hak pendidikannya menjadi tanggung jawab Anda. Tidak diragukan lagi, banwa nasihat yang diberikan secara kontinu akan sangat bermanfaat dan memiliki pengaruh yang besar. Peringatan yang diberikan secara terus-menerus kepada anak akan membuatnya menjadi insan yang teguh memegang aturan Allah, melaksanakan segala perintah-Nya, dan menjauhi semua laranga-Nya. Ia akan selalu memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram, serta tidak melenceng sedikit aun dari aturan Allah tersebut.



Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1726
  • Logged
Berikut ini perkara-perekara haram yang paling penting untuk Anda ketahui, dan selanjutnya Anda peringatkan kepada anak Anda dengan sebaik-baiknya:
a.   Makanan dan minuman yang haram
(1)   Diharamkannya bangkai, darah, daging babi, yang disembelih selain karena Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali jika sempat menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala.
Sebagaimana firman Allah:

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul,yang jatuh,yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 3)

1.   Bangkai adalah setiap binatang yang mati dengan sendirinya.
Hikmah pengharamannya: karena setiap binatang yang mati dengan sendirinya biasanya mati karena sakit yang sudah menahun atau karena sebab yang mendadak atau juga karena memakan tumbuhan beracun. Memakan binatang yang seperti ini tentu akan membahayakan tubuh dan kesehatan.

2.   Darah yang mengalir: yaitu yang keluar dari tubuh binatang dengan sebab disembelih atau yang lainnya.
Hikmah pengharamannya: sifat darah itu pada dasarnya kotor karena di sana berkumpul berbagai kuman. Sama halnya dengan bangkai, memakan darah sama bahayanya bagi tubuh.

3.   Daging babi adalah yang paling haram dalam pandangan Islam, karena ia najis secara dzatnya dan kotor dari segi fisiknya.
Berdasarkan penelitian kedokteran modern disimpulkan bahwa memakan daging babi dapat menyebabkan penyakit cacing pita yang dapat membunuh dan menimbulkan gangguan pencernaan. Dan siapa tahu ilmu pengetahuan (sains) yang akan . datang akan mengungkap bahaya lainnya dari daging babi lebih lengkap dari yang telah kita ketahui hari ini.
Memakan daging babi dapat melahirkan sifat masa bodoh dengan kehormatan. Karena menurut para ahli kedokteran bahwa dalam daging hewan mengandung materi yang dapat memindahkan sifat hewan tersebut kepada yang memakannya. Mari kita simak apa yang dikatakan Dr. Shabri
Al-Qabbani dalam majalah Thabibaka, edisi ke-32, hlm. 189:
Penelitian telah menetapkan bahwa daging mengandung materi yang dapat memindahkan sifat-sifat hewan kepada yang memakannya. Orang-orang Inggris senang memakan ikan dingin, oleh karena itu watak mereka dingin. 0rang-orang Perancis senang memakan daging babi, oleh karena itu mereka memiliki sifat masa bodoh dengan kehormatannya. Orang-orang Arab gurun senang memakan daging unta, sehingga mereka disifati kesabaran dan kegigihan. Sedangkan Arab kota yang biasa memakan daging domba, memiliki sifat mudah dipimpin.
Begitu juga dengan yang dikatakan oleh Dekan Fakultas Biologi di Universitas California, seperti yang terdapat dalam majalah Al-Hilal.

4.   Binatang yang disembelih selain karena Allah,yaitu sembelihanyangdisebutkan nama selain Allah, seperti berhala Lata dan Uza ketika disembelih.
Alasan pengharamannya adalah untuk menjaga tauhid dan memerangi syirik dan penyembahan berhala dengan segala macam bentuknya.
Karena menyebut nama Allah pada sembelihan-seperti yang dikatakan Al-Qaradhawi-adalah pemberitahuan dari penyembelih, bahwa ia melakukan penyembelihan tersebut dengan izin Allah dan ridha-Nya.
Maka jika disebutkan nama selain Allah ketika menyembelihnya, berarti batallah izin tersebut, dan haram memakan 
dagingnya.
Macam-macam bangkai:
a.   Munkhaniqah: binatang yang mati tercetdk.
b.   Mauqudzah: binatang yang mati dipukul.
c.   Muta-addiyah: binatang yang mati karena terjatuh dari tempat yang tinggi.
d.   Nathiiiah: binatang yang mati karena ditanduk.
e.   Binatang yang mati karena sebagian badannya dimakan (diterkam) hewan buas.
Setelah menyebutkan itu semua, Allah menyebutkan "kecuali yang sempat kamu menyembelihnya”, maksudnya jika macam-macam binatang tersebut masih sempat kalian sembelih ketika masih hidup (sekarat), berarti kalian telah membuatnya menjadi halal dengan sembelihan itu. Artinya, binatang tersebut harus masih hidup ketika disembelih. Indikasi hewan tersebut yaitu darah yang terpancar dan gerakan yang keras (pada saat disembelih).
Hikmah pengharaman macam-macam bangkai tersebut adalah karena memakannya dapat membahayakan kesehacan,sepertiyangtelahdisebutkan dalam hikmah pengharaman bangkai.
Selain itu juga sebagai teguran dan pendisiplinan bagi pemilik hewan, karena telah mengabaikannya. Maka seorang pemilik hewan tidak boleh mengabaikan hewannya, sehingga
ia bisa tercekik, dipukul, terjatuh sampai mati, atau dibiarkan binatang- binatangnya saling menanduk satu sama lain sampai mati. Sedangkah pengharaman binatang yang mati karena dimakan hewan buas adalah sebagai penghormatan kepada manusia dan pembersihan untuknya dari memakan sisa binatang buas. Allah berfirman:
 
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam..." (QS. Al- Isra' [17]: 70)

f.   Binatang yang disembelih di atas An- Nushub.
An-Nushub adalah sesuatu yang ditancapkan berupa berhala atau batu yang diagungkan yang diletakkan di sekitar Ka'bah sebagai simbol thaghut (yaitu termasuk sesuatu yang disembah selain Allah). Orang-orang jahiliyah biasa menyembelih binatang sembelihannya di sana dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada tuhan- tuhannya. Menyembelih hewan di atas batu tersebut menjadikannya menjadi haram untuk dimakan, baik dengan menyebutkan nama Allah atau selain- Nya.
Alasan pengharamannya: sama dengan pengharaman binatang yang disembelih dengan menyebutkan nama selain Allah.
Dan syariat Islam mengecualikan atau menghalalkan dua macam bangkai, yaitu ikan dan belalang, dan dua macam darah, hati, dan limpa. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar secara marfu’:
 
"Dihalalkan bagi kami dua macam bangkai: ikan dan belalang, dan dua macam darah: hati dan limpa.” [HR. Asy-Syafi'i, Ahmad, Ibnu Majah, Ad- Daraquthni, dan Al-Hakim]

Semua yang diharamkan di atas adalah ketika dalam keadaan normal atau bisa berusaha mencari yang halal. Adapun ketika dalam keadaan terpaksa [darurat], maka boleh memakannya dengan dua syarat. Pertama, tidakkarenamenyukainya. Kedua, tidak melebihi batas, yaitu batas keterpaksaan. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah:
"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedangkan dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah [2]: 173]
Hikmahnya adalah untuk menyelamatkan hidup, menjaga diri dari kebinasaan, dan menghilangkan kesulitan dari manusia.

(2)   Pengharaman memakan daging keledai piaraan, semua binatang buas yang bertaring, dan burung yang bercakar. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh AI-Bukhari:

“Nabi Saw melarang memakan daging keledai piaraan pada hari Khaibar.”
Dan hadits yang diriwayatkan Al- Bukhari dan Muslim:
 
"Nabi Saw melarang memakan semua binatang buas yang bertaring dan burung yang memiliki cakar.”

Yang dimaksud dengan binatang buas bertaring, yaitu seperti singa, harimau, serigala, dan semacamnya. Sedangkan yang dimaksud dengan burung yang bercakar, yaitu burung buas yang yang memiliki cakar yang tajam, seperti rajawali, elang, nasar, dan lainnya.
Pengharaman binatang-binatangdiatas adalah mazhab jumhur ulama. Sedangkan mazhab Ibnu Abbas dan Imam
Malik, mereka membolehkannya namun hukumnya makruh. Mereka berpandangan bahwa hadits-hadits larangan di atas memiliki makna makruh bukan haram.
Syariat Islam menetapkan bahwa jika semua hewan di atas itu disembelih dengan syar'i, maka kulitnya suci dan boleh dipakai
tanpa disamak terlebih dahulu.

(3)   Pengharaman binatang yang disembelih dengan cara yang tidak sesuai syariat. Seperti menyembelih binatang dengan cara disengat listrik atau disembelih oleh seorang nonmuslim dari kaum majusi atau penyembah berhala.
Pen/embelihan dianggap sesuai dengan syariat jika memenuhi syarat- syarat di bawah ini:
a.   Distmbelih dengan alat yang tajam yang dapat mengalirkan darah dan memotong urat leher.
b.   Penyembelihan dilakukan pada bagian leher dan meliputi: memotong kere ngkongan, tenggorokan, dan urat leher.
Syarat tersebut gugur, seperti memotong lehernya, jika sulit atau tidak memungkinkan menyembelih hewrn dengan memotong lehernya. Seperti misalkan binatang terjatuh ke s rmur dan sulit untuk disembelih, atau seekor unta lari dan si pemiliknya tidak bisa mengejarnya, atau jika ada binatang yang menyerang seseorang lalu ia memanahnya atau menombaknya untuk melindungi dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, maka yang berlaku adalah hukum binatang buruan. Cukup dengan melukai bagian badannya yang bisa dilukai (setelah sebelumnya membaca basmalah), setelah itu binatang itu halal untuk dimakan. Namun, jika binatang tersebut mati bukan karena dilukai, maka ia tidak halal untuk dimakan karena ia dianggap sebagai binatang al-mauqudzah (yang mati dipukul).

c.   Ketika menyembelih, disebutkan nama Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah:

"Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya." (QS. Al-An’am [6]: 118)
 
"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya..." (QS. Al-An'am [6]: 121)
Rasulullah Saw bersabda:
 
"Binatangyang dialirkan darahnya dan disebutkan nama Allah padanya, maka makanlah oleh kalian." (HR. Al-Bukhari dan yang lainnya)
Jika si penyembelih lupa menyebutkan nama Allah, maka sembelihan tersebut tetap halal. Sebab, Allah tidak menghukum kesalahan dan kelupaan.
Hikmah disyariatkannya menyebutkan nama Allah ketika menyemb elih hewan: orang yang menyembelih hewan tidak melakukannya karena berkuasa atas hewan tersebut, tetapi karena telah diizinkan oleh Sang Pencipta. Maka ia menyebut nama Allah ketika menyembelih, menyebut nama-Nya ketika berburu, dan menyebut nama-Nya ketika makan.
d.   Penyembelih harus seorang muslim atau ahli kitab (Yahudi atau Nasrani)
Maka dari itu, jika si penyembelih seorang atheis, majusi, penyembah berhala, atau yang menganut akidah bathiniyah seperti yang menuhankan Imam Ali m atau yang menuhankan Al-Hakim bin Amrillah Al-Fathimi, atau yang menuhankan Agha Khan, sembelihannya tidak halal. Hal ini sebagaimana yang disepakati empat imam mazhab dan ijma’ para ahli fikih yang pendapatnya diterima umat.
Penyembelih disyaratkan seorang muslim, karenaiamenganutagamayang benar yang dibawa oleh Muhammad Saw. Sedangkan syarat si penyembelih seorang ahli kitab, berdasar kepada firman Allah Swt:

"Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-kitab itu halal bagimu..." (QS. Al-Ma’idah [5]: 5)
Islam sangat keras terhadap orang- orang atehis, penyembah berhala, dan kaum bathiniyah. Namun, bersikap mudah terhadap ahli kitab. Hal ini disebabkan, ahli kitab lebih dekat kapada kaum mukminin karena pengakuan mereka terhadap wahyu dan sebagian besar pokok agama. Karenanya, Islam mensyariatkan bolehnya menikahi perempuan mereka dan halalnya sembelihan mereka. Sebab, jika mereka bergaul dengan kaum muslimin dan mereka juga mengenal Islam secara hakikatnya, pasti tampak bagi mereka bahwa Islam adalah agama yang benar. Sehingga mereka mau masuk Islam dengan senang hati.
Namun jika terdengar dari seorang ahli kitab menyembelih dengan menyebutkan nama selain Allah, seperti nama Al-Masih dan Al-'Uzair, maka hukum sembelihannya menjadi tidak halal. Karena, itu termasuk sebelihan yang disembelih selain karena Allah.
Berdasarkan syarat-syarat yang harus ada pada binatang sembelihan, maka:
a.   Haram hukumnya sebelihan yang dibunuh dengan cara disengat listrik atau yang semacamnya. Karena, binatang tersebut mati karena tercekik dan tidak disembelih dengan alat yang tajam di bagian lehernya.
b.   Haram hukumnya memakan sembelihan seorang atheis, majusi, penyembah berhala, dan penganut bathiniyah. Karena itu termasuk sembelihan yang disembelih selain karena Allah.
c.   Haram hukumnya memakan daging hewan kalengan yang diimpor dari negeri orang-orang atheis yang mengingkari Sang Pencipta dan agama- agama samawi.
d.   Diharamkan juga memakan daging kalengan, jika secara yakin sudah diketahui bahwa hewannya disembelih denga i cara yang tidak Islami, seperti diceki■< dan disengat listrik.
e.   Diharamkan juga memakan margarin kalengan, jika yakin bahwa margarin tersebut bercampur dengan lemak atau susu babi.
Adapun ikan kalengan, maka boleh dimakan berdasarkan ijmak. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw ketika ditanya tentang air laut. Beliau bersabda:

"Laut itu suci airnya, halal bangkainya." (HR. Ashabu As-Sunan)
Dan dalam riwayat Jabir bahwa Nabi Saw mengutus pasukan sariyah yang terdiri dari para shahabatnya untuk berperang di jalan Allah. Kemudian
mereka mendapatkan seekor ikan paus yang besar yang telah dihanyutkan air laut (telah menjadi bangkai]. Mereka pun memakannya selama 20 hari lebih. Kemudian mereka tiba di Madinah, lalu mereka mengabarkannya kepada Rasulullah dan beliau bersabda:

"Makanlah sebagai rezeki yang telah Aliah keluarkan untuk kalian, dan berilah kami jika kalian membawanya." Lalu sebagian mereka datang membawa sebagiannya, kemudian beliau memakannya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim]

(4)   Mengonsumsi minuman keras dan narkoba. Mengonsumsi minuman keras dan narkoba hukumnya haram secara ijmak. Sudah pernah kami sebutkan secara rinci di bagian dua buku ini, pada pasal Tanggungjawab Pendidikan Fisik/Jasmani, tentang segala hal yang berkaitan dengan bahaya yang diakibatkan mengonsumsi minuman keras dan narkoba. Kami juga menyebutkan secara lengkap tentang hukum mengonsumsi itu semua dan kami sebutkan solusi yang telah diletakkan Islam untuk menanggulanginya. Maka Anda bisa kembali melihat pasal tersebut, untuk mengembalikan ingatan Anda tentang bahaya kedua benda yang diharamkan itu, hukumnya di dalam Islam, dan cara atau solusi menanggulanginya dalam masyarakat Islam.
Ada satu hal yang belum dibicarakan 
pada pasal tersebut, yaitu tentang minuman keras yang dibuat selain dari anggur dan kurma, bolehkan diminum atau tidak?
Nabi #| ditanya tentang minuman yang dibuat dari madu, jagung, atau sya'ir, maka beliau bersabda:
 
“Setiap yang memabukkan itu khamr dan setiap khamr itu haram." (HR. Muslim)
Berdasarkan hal tersebut, bahwa setiap minuman yang terbuat dari buah, sya'ir, atau bahan lainnya termasuk dalam kategori khamr, selama itu memabukkan. 'Umar telah mengumumkan di atas mimbar Rasulullah Saw sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat berikut:

"Khamr adalah yang menutup akal pikiran." (Al-Bukhari dan Muslim)
Dan selama sesuatu itu memabukkan, maka sedikit atau banyak hukumnya haram. Seperti yang diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

"Apa saja yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram.” (Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)
Nabi sg tidak hanya mengharamkan khamr untuk diminum sedikit atau pun banyak, tetapi juga beliau mengharamkan untuk menjualnya, membelinya, menyewakan tempat atau alat untuk membuat atau menjualnya, walaupun terhadap orang-orang nonmuslim. Semua itu hukumnya tidak halal bagi seorang muslim untuk mengimpornya, mengekspornya, membuat, atau mengangkutnya. Oleh karena itu:
 
"Allah melaknat khamr, yang meminumnya, mencucurkannya, menjualnya, membelinya, memerasnya, mengangkutnya, yang diantari kepadanya, dan yang memakan uang hasil penjualannya." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Menurut cara Islam, dalam rangka menutup segala pintu kemungkaran maka Islam mengharamkan seorang muslim menjual anggur kepada orang yang akan menjadikannya khamr. Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa yang menyimpan anggur pada hari panennya, sehingga ia menjualnya kepada orang Yahudi atau Nasrani, atauyang akan menjadikannya khamr, maka ia telah menceburkan diri ke neraka secara sengaja." (HR. Ath- Thabrani]
Dengan manhaj ini, Islam memerintah muslim untuk memutuskan hubungan tempat-tempat yang berkaitan dengan khamr dan menjauh dari peminumnya. Diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khathab bahwa ia bekata, "Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dudukdi atcsmejayang terdapatkhamr yang diminum di atasnya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Diriwayatkan bahwa Khalifah ‘Umar bin 'Abdul Aziz menghukum orang yang meminum khamr dan yang hadir di tempat minum .valaupun tidak ikut minum bersama mereda. Mereka meriwayatkan bahwa ada satu kelompok orang yang meminum khamr diajukan kepada Khalifah ‘Umar bin 'Abdul Aziz |t. Maka ia memerintahkan untuk mendera mereka. Lalu dikatakan kepadanya bahwa di antara mereka ada jang sedang puasa. Lalu Khalifah 'Umar bin ‘Abdul 'Aziz berkata, "Mulailah dengan orang tersebut. Tidakkah kalian mendengar firman Allah:

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam AI- Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok- olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka..." (QS. An-Nisa’ [4]: 140]
Pada pembahasan Fenomena Minuman Keras dan Narkoba pada bagian kedua buku ini, kami telah menyebutkan bahwa khamr tidak boleh dijadikan sebagai obat. Ini adalah jawaban Rasulullah terhadap pertanyaan seseorang tentang khamr. Laki- laki tersebut berkata, "Akumembuatkhamr ini hanya untuk obat." Maka Rasulullah Saw, bersabda:
 
“Ini bukanlah obat tetapi penyakit."
(HR. Muslim dan Ahmad]
Nash ini dan nash-nash yang lainnya menjadi dalil yang kuat bagi kita bahwa khamr haram dijadikan sebagai obat, sehingga berdosa bagi orang yang berobat dengan khamr. Adapun alkohol yang menjadi campuran obat (karena terpaksa) sebagai bahan pengawet untuk menjaganya dari kerusakan, misalnya, maka itu boleh dengan syarat:
a.   Kesehatan seseorang terancam bahaya, jika tidak mengonsumsi obat ini.
b.   Tidak ada obat lain yang halal yang bisa menggantikannya.
c.   Obat tersebut dianjurkan oleh seorang dokter muslim yang terpercaya keahlian dan keagamaannya.
Hal ini disebabkan, prinsip Islam berdiri di atas kemudahan, menghilangkan kesulitan, dan mendapatkan maslahat. Dalilnya adalah firman Allah:
 
"...Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedangkan dia tidakmenginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya..." (QS. Al-Baqarah [2]: 173)

b. Pakaian, perhiasan, dan penampilan
yang diharamkan
Islam dengan prinsip-prinsipnya membolehkan muslim untuk berpenampilan baik dan anggun dengan pakaiannya di tengah-tengah masyarakat umum. Karenanya, Allah menciptakan semua perhiasan dan pakaian yang dapat digunakan. Allah berfirman:
 "Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan...” (QS. Al-A'raf [7]: 26)

"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid..." (QS. Al-A'raf [7]: 31)
Namun, semua itu harus dilakukan dengan penuh keseimbangan (tidak berlebihan), sebagai pengamalan terhadap firman Allah:

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah- tengah antara yang demikian." (QS. Al-Furqan [25]: 67)
Rasulullah Saw bersabda:
"MaKanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan sombong." (HR. Al-Bukhari)
Salah satu   bentuk perhatian Islam terhadap penampilan, Islam memerintahkan muslim untuk selalu bersih. Hal ini disebabkan, ini adalah dasar dari semua perhiasan dan penambilan yang baik. Rasulullah Saw bersabda:

"Jagalah kebersihan, karena Islam itu bersih." (HR. Ibnu Hibban)
"Kebersihan itu mengarah kepada keimanan, dan keimanan bersama pemiliknya ada di surga." (HR. Ath- Thabrani)
Nabi Saw mewasiatkan kepada sebagian shahabatnya yang baru tiba dari bepergian untuk mengusahakan kebersihan dan penampilan diri:
"Sesungguhnya kalian baru tiba di saudara-saudara kalian, maka perbaikilah tunggangan kalian dan rapihkanlah pakaian kalian sehingga kalian seperti tahi lalat (di wajah) orang- orang. Karena Allah tidak menyukai yang jorok (keji) dan perkataan jorok" (HR. Abu Dawud dan yang lainnya)
Selain itu, Islam juga menganjurkan untuk mengusahakan kebersihan dan berdandan ketika mendatangi tempat- tempat perkumpulan, shalat Jum’at, dan dua shalat 'Id. Diriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Nabi dengan pakaian yang lusuh. Maka beliau bersabda kepadanya, "Apakah engkau punya harta?” Ia berkata, "Ya." Nabi m bersabda, "Dari harta apa?” Ia menjawab, "Dari semua harta yang telah Allah berikan kepadaku.” Beliau bersabda:
"Apabila Allah telah memberimu suatu harta, maka perlihatkanlah tanda kenikmatan Allah pada dirimu dan kemuliaan-Nya." (HR. An-Nasa'i)
Nabi Saw juga bersabda:
"Seseorang dari kalian jika memiliki keleluasaan, hendaklah ia menyiapkan dua pakaian untuk hari Jum'at selain dua pakaian kerjanya." (HR. Abu Dawud)

Perhatian Islam terhadap penampilan tampak juga pada anjurannya untuk merapikan rambut dan janggut. Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Saw dengan rambut dan janggut acak-acakan. Maka Rasulullah menunjuk kepadanya, seolah memerintahkannya untuk merapikan rambutnya. Lalu orang itu pun melakukannya kemudian kembali. Maka Rasulullah Saw bersabda:

“Bukankah ini lebih baik daripada salah seorang dari kalian datang dengan kepala acak-acakan seperti setan."
Karenanya, Islam membolehkan seorang muslim melakukan semua hal di atas, bahkan menuntutnya dan sangat mengingkari bagi orang yang menganggapnya haram serta melarangnya. Allah berfirman:
 
"Katakanlah, Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba- hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?...'." (QS. Al-A'raf [7]: 32)
Namun, Islam mengharamkan seorang muslim beberapa macam perhiasan dan penampilan, karena hikmah yang mulia. Berikut ini beberapa hal yang diharamkan:

(1)   Pengharaman emas dan sutra bagi laki-laki
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib., Rasulullah Saw mengambil selembar kain sutra di tangan kirinya dan emas di tangan kanannya. Kemudian . beliau mengangkat keduanya seraya bersabda:

“Kedua benda ini haram untuk laki- laki umatku dan halal untuk kaum perempuannya." (HR. Abu Dawud, An- Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw  melihat cincin pada jari seseorang, kemudian beliau melepaskannya lalu meletakkannya dan bersabda:

"Seseorang dari kalian ada yang sengaja menuju kepada bara api dari neraka, maka ia menjadikannya dalam tangannya " (H R. Muslim)
Setelah Rasulullah Saw pergi, kepada orang yang m emiliki cincin itu dikatakan, "Ambillah cincinmu. Manfaatkanlah (untuk keperluan lain).” Orang itu menjawab, "Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengambil cincin ini selamanya. Bukankah cincin tersebut telah dilemparkan oleh Rasulullah Saw” (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Hudzaifah "Nabi Saw melarang kami untuk minum dan makan dari v/adah perak dan melarang kami mengenakan pakaian sutra, serta menjadikannya alas duduk." (HR. Al- Bukhari)
Diriwayatkan dari Ali, "Aku dilarang oleh Rasulullah SU untuk mengenakan cincin emas.” (HR. Muslim)
Maksud dari pengharaman sutra adalah sutra yang murni dan asli yang dihasilkan dari ulat sutra. Adapun sutra sintetis atau buatan, maka itu tidaklah haram untuk dikenakan.
Sutra yang asli pun ada pengecualian. Yaitu yang bercampur bahan pakaiannya, terdiri dari sutra dan jenis kain lainnya, jika perbandingannya sebanding. Begitu juga menyulam, menjahit, dan menambal dengan sutra. Selama sutra tersebut tidak menjadi dominan pada pakaiannya. Hal tersebut berdasar kepada hadits Ibnu Abbas, "Rasulullah Saw melarang pakaian yang terbuat dari sutra asli seluruhnya. Adapun bendera (tanda) dan pinggiran baju terbuat dari sutra maka tidak apa- apa.” (HR. Abu Dawud)
Boleh juga menggunakan sutra asli dalam keadaan darurat, seperti untuk menghilangkan kudis, gatal-gatal, menjaga diri dari panas atau dingin yang membahayakanbadan,atauuntukmenutup aurat saat tidak ada pakaian yang lain. Sebagaimana yang terdapat pada hadits Anas m, "Nabi Saw memberi rukhshah kepada Zubair dan Abdurrahman untuk mengenakan sutra karena gatal-gatal yang dideritanya.” (HR. Al-Bukhari)
Pengharaman emas dan sutra terbatas pada kaum laki-laki saja. Adapun perempuan, maka mereka dibolehkan mengenakannya berdasar kepada hadits yang telah disebutkan di atas.
Sedangkan mengenakan cincin dari perak hukumnya boleh. Bahkan disunnahkan selama tidak berlebihan. Dan afdhalnya, mengenakannya di tangan kanan pada jari kelingking. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu 'Umar, "...Kemudian Rasulullah Saw mengenakan cincin dari perak. Lalu orang-orang pun mengenakan cincin dari perak. Cincin tersebut dikenakan oleh Abu Bakar, kemudian ‘Umar, lalu 'Utsman, sampai cincin itu terjatuh ke sumur Aris." (HR. Al- Bukhari)
Hikmah diharamkannya emas dan sutra bagi laki-laki adalah untuk menjauhi berpenampilan seperti perempuan yang sama sekali tidak layak untuk kegagahan laki-laki, memerangi gaya hidup bermegah-megahan yang intinya untuk menghilangkan kesombongan dari diri manusia, dan menjaga kelestarian sumber emas dunia.
Sedangkan perempuan dikecualikan dari larangan tersebut, karena bertujuan untuk menjaga kewanitaannya, menumbuhkan kecintaan suami untuk memiliki sang istri sepenuhnya, memenuhi kebutuhan perempuan dalam kesenangannya berdandan, dan menggembirakan suami ketika melihat istri dalam keadaan paling cantik.

(2)   Pengharaman perempuan menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan aarilbnu'Abbas 'Rasulullah Saw melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari dan Ashabu As-Sunan)
Dalam satu riwayat Al-Bukhari disebutkan, "Rasulullah sg melaknat laki- laki yang menyerupai wanita dan wanita \ang menyerupai laki-laki." (HR. Al- Bukhari]
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari Hudzail berkata, 'Aku melihat ‘Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash. Ketika aku berada bersamanya, ia melihat Ummu Sa'id binti Abu Jahal yang berselendangkan busur panah dan berjalan seperti laki-laki. Maka Abdullah bertanya, ‘Siapa perempuan itu?' Aku menjawab, ‘Dia adalah Ummu Sa'id binti Abu Jahal 'Abdullah berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

'Bukan termasuk dari golonganku perempuan yang menyerupai laki- laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan'." (HR. Ahmad dan Ath- Tahbrani)
Namun, fenomena laki -laki menyerupai perempuan dan sebaliknya sudah sangat mengkhawatirkan di kalangan muda- mudi kita. Maka dari itu, para pendidik berkewajiban untuk menanggulangi fenomena negatif tersebut dengan pendekatan yang sangat baik.
(3)   Pengharaman mengenakan pakaian dengan sombong
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw dalam haditsnya:
 
"Barangsiapa yang mengenakan pakaian kemasyhuran, pasti Allah pakaikan padanya pakaian yang menghinakan pada hari kiamat." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa'i]
Yang dimaksud dengan pakaian kemasyhuran adalah pakaian yang megah dan mahal dengan tujuan untuk membanggakan dan mengagungkan
diri di depan orang-orang. Pastinya berpenampilan seperti itu mendorong orang untuk bersikap sombong.

“...Dan Allah tidakmenyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid [57]: 23)
Nabi Saw juga bersabda:
"Barangsiapa yang menjulurkan (memanjangakan) pakaiannya karena sombong, Aliah tidak akan melihatnya pada hari kiamat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka yang harus dilakukan oleh seorang muslim adalah tidak berlebihan cialam berpakaian, makanan, dan peralatan i umahnya sehingga ia tidak terkena penyakit sombong. Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu 'Umar, "Pakaian apa yang harus saya pakai?” Ibnu 'Umar nenjawab, "Pakaian yang tidak dipandang rendah oleh orang-orang yang bodoh (karena jeleknya) dan tidak dicela oleh crang-orang yang bijak (karena berlebih-lebihannya)"

(4)   Pengharaman mengubah ciptaan Allah
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Muslim bahwa Rasulullah Saw melaknat perempuan yang menato dan meminta ditato, serta perempuan yang merenggangkan dan memendekkan gigi, dan perempuan yang meminta direnggangkan dan dipendekkan giginya.

Rasulullah Saw melaknat itu karena tindakan tersebut menyiksa manusia, mengubah ciptaan Allah, dan tidak ridha terhadap takdir Allah. Al-Qur’an menganggap mengubah ciptaan Allah itu sebagai wahyu dari setan yang bertujuan untuk menyesatkan manusia.

"...Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Aliah), lalu benar- benar mereka mengubahnya..." (QS. An- Nisa' [4]: 119)
Operasi mempercantik diri ini ada yang dikecualikan atau dibolehkan, yaitu pada hal-hal yang menyebabkan rasa sakits eperti menghilangkan daging jadi atau amandel. Atau juga hal-hal yang disyariatkan, seperti memotong kumis, memotong kuku, dan mencukur bulu kemaluan untuk menghilangkan pemandangan yang tidak mengenakkan, menjaga kebersihan badan, dan penampilan yang baik.

(5)   Pengharaman mencukur janggut
Seperti yangdiriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Potonglah kumis, panjangkan janggut, dan berbedalah dengan orang-orang majusi." [HR. Muslim)
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir dari Yazidbin Abu Habib bahwaada dua orang laki-laki majusi masuk menemui Nabi Saw yang telah mencukur janggut mereka dan memanjangkan kumisnya. Maka Nabi tidak suka melihat mereka dan bersabda kepada mereka, "Celakalah kalian berdua, siapa yang menyuruh kalian seperti ini?” Mereka menjawab, "Tuhan kami yang memerintahkan (maksudnya Kisra).” Lalu Nabi Saw bersabda:
“Akan tetapi Rabbku memerintahkanku untuk memanjangkan janggut dan memotong kumis."
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Panjangkanlah janggut, potonglah kumis, dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani." (HR. Ahmad]
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
 
"Sepuluh macam jithrah (yaitu sunnah- sunnah para nabi): memotong kumis, memanjangkan janggut, bersiwak, menghirup air ke hidung, berkumur- kumur, memotong kuku, mencuci sela- sela jemarinya, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan istinja (membersihkan dengan air setelah buang air)" (HR. Muslim)
Pendapat empat imam mazhab tentang janggut : Para imam mazhab yang empat sepakat tentang wajibnya memanjangkan janggut dan haram mencukurnya.

1.   Mazhab Hanafi: Haram bagi laki-laki memotong janggutnya. Dalam An-Nihayah dijelaskan tentang wajibnya memotong bagian janggut yang lebih dari genggaman tangannya. Adapun memotongnya lebih dari itu seperti yang dilakukan laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan, maka itu tidak boleh. Sedangkan memotong semuanya adalah perbuatan orang-orang Yahudi, India, dan majusi. (Dikutip dari Fath Al-Qadir)

2.   Mazhab Maliki: Haram mencukur janggut, begitu juga memotongnya
 jika menjadi serupa (dengan parempuan, Yahudi, Nasrani, atau majusi). Sedangkan jika janggut itu panjang sedikit dan memotongnya tidak menyebabkan adanya kemiripan dangan yang disebut di atas, maka hakumnya makruh. (Dikutip dari Syarh Ar-Risalah Abu Al-Hasan dan hasyiyah (catatan kaki)-nya oleh Al-'Adawi)

3.   Mazhab Syafi'i: dikatakan dalam Syarh Al-'Ubab:
Faedah: Syaikhani mengatakan, "Makruh hukumnyamencukur janggut." Ilmu Ar-Raf'ah membantahnya bahwa Asy-Syafi'i telah menetapkan dalam Al-’Umm tentang pengharamannya. Al-Azra'i berkata, "Yang benar adalah haramnya mencukur janggut secara umum tanpa ada alasan. Begitu juga dalam hasyiyah Ibnu Qasim Al-'lbadi dalam syarh kitab yang disebutkan di atas.

4.   Mazhab Hanbali: mereka telah menetapkan pengharaman mencukur janggut. Di antara mereka ada yang mengatakannya secara langsung bahwa pendapat yang kuat adalah haramnya mencukur janggut. Ada juga yang langsung mengatakan mencukur janggut haram dan tidak ada perbedaan pendapat mengenai ini.
Berdasarkan hadits-hadits Nabi Saw dan nash-nash fikih di atas dapat disimpulkan bahwa mencukur janggut itu hukumnya haram. Orang yang bersungguh-sungguh menjalankan kebenaran pasti mengatakan wajibnya memanjangkan janggut karena dalilnya yang jelas dan kuat. Orang yang mencukur janggutnya, minimal dikatakan menyerupai perempuan atau mengubah ciptaan Allah, atau juga meniru umat lain. Terkena salah satu dari perkara-perkara tersebut cukup membuat seorang muslim berdosa. Apalagi kalau semua hal itu ada pada dirinya.
Semoga Allah mengilhami para pemuda kita dengan petunjuk-Nya dan menguatkan akidah mereka dan keislamannya agar mereka selalu tampil sebagai laki-laki sejati.

(6)   Pengharaman wadah emas dan perak
Seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah bersabda:

"Orang yang makan atau minum pada wadah emas dan perak, sesungguhnya ia mencucurkan api neraka ke dalam perutnya." (HR. Muslim)
Hudzaifah berkata, "Nabi Saw; melarang kami untuk minum dan makan dari wadah perak dan melarang kami mengenakan pakaian sutra, serta menjadikannya alas duduk. Dan Rasulullah Saw bersabda:

'Itu bagi mereka (orang-orang kafir) di dunia dan bagi kita di akhirat’." (HR. Al- Bukhari)
Berdasarkan hadits-hadits tersebut jelaslah bahwa menggunakan wadah dai i emas dan perak, dan alas duduk dari sutra murni haram di rumah seorang muslim, dan berdosa bagi siapa saja yang melakukannya. Pengharaman ini meliputi laki-laki dan perempuan. Hikmah pengharamannya adalah untuk membersihkan rumah muslim dari materi- materi kemegahan yang tercela dan segala bentuk kesombongan yang terkutuk.

(7)   Pengharaman gambar dan patung
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah Saw:
 
“Orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah para penggambar." (HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan kepada mereka, 'Hidupkanlah oleh kalian apayang kalian buat(ciptakan)!"’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Aisyah berkata, "Rasulullah Saw datang dari satu perjalanan dan aku telah memasang tirai bermotif patung di serambi samping rumahku. Maka ketika Rasulullah melihatnya, beliau mencabutnya sambil berkata:

'Orang yang paling keras siksaannya pada Hari Kiamat adalah orang-orang yang menyerupai ciptaan Allah’."
Aisyah berkata,"
Maka kami menjadikan tirai itu satu atau dua bantal." (HR. Al- Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Thalhah
"Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

'Malaikat tidak masuk ke rumah yang terdapat anjing dan gambar di dalamnya’." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Al-Hayyan bin Hushain, "Ali bin Abi Thalib m berkata kepadaku, 'Maukah aku mengutusmu untuk melakukan hal yang Rasulullah Saw pun mengutusku untuk itu? (yaitu) untuk tidak membiarkan satu gambar pun kecuali engkau merusaknya, dan kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya’." (HR. Muslim)
Semua hadits di atas menunjukkan dengan jelas haramnya patung dan gambar, baik itu yang berbentuk atau pun tidak, baik itu yang 3 dimensi ataupun bukan, baik sebagai pekerjaan atau pun bukan, karena yang demikian itu menyerupai ciptaan Allah.
Di antara yang menegaskan pengharamannya tersebut, Nabi Saw (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari) tidak mau masuk ke Ka'bah setelah bathu Makkah sehingga semua gambar, patung, dan berhala yang ada di dalamnya dikeluarkan.
Diriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi Saw memerintahkan ‘Umar bin Al-Khathab ketika ia berada di Bathha’ untuk mendatangi Ka'bah, lalu menghapus semua gambar yang ada di sana. Beliau tidak mau masuk ke Ka'bah sehingga semua gambar itu dihapus.” (HR. Abu Dawud)

Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Al-Hajj, dari 'Usamah bahwa Nabi Saw masuk ke Ka'bah, lalu beliau melihat gambar Ibrahim. Maka beliau meminta diambilkan air, lalu beliau pun menghapusnya.
Adapun gambar yang dikecualikan adalah menggambar pohon dan semua benda yang tidak memiliki ruh. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Sa'id bin Abu Al-Hasan, ia berkata, "Aku pernah bersama Ibnu 'Abbas. Tiba-tiba ada seorang laki-laki datang kepadanya, lalu ia berkata, ‘Wahai Abu 'Abbas, aku adalah seorang manusia yang mencari nafkah hanya dari karya tanganku ini, aku membuat: gambar-gambar ini.' Maka Ibnu ‘Abbas berkata, ‘Aku tidak menceritakan kepadamu kecuali apa yang aku dengar dari Rasulullah Saw. Beliau bersabda:

'Barangsiapa yang membuat sebuah gambar, maka Allah akan menyiksanya sampai ia dapat meniupkan ruh kepada gambar tersebut, namun selamanya ia tidak dapat meniupkan ruh pada gambar itu.'
Maka laki-laki itu pun langsung tersenggal-senggal napasnya dan wajahnya menguning (pucat), maka Ibnu ‘Abbas berkata, 'Kasihan engkau, jika engkau tidak bisa kecuali membuat gambar, maka gambarlah pohon ini, semua yang tidak ada ruhnya'." (Al-Bukhari dan Muslim).
Boneka mainan anak-anak termasuk yang diberi rukhshah, karena padanya tidak ada maksud mengagungkan dan sombongnya kemegahan. Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Aisyah , "Aku sedang bermain dengan boneka-boneka yang berbentuk anak perempuan di sisi Rasulullah Saw. Kemudian datanglah teman-temanku, lalu mereka bersembunyi dari beliau karena takut. Dan Rasulullah Saw gembira dengan kedatangan mereka kepadaku. Lalu mereka bermain bersamaku.” (Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Saw berkata kepada Aisyah , "Apa ini?” Aisyah menjawab, "Anak-anak perempuanku [boneka)” Beliau berkata, "Apa ini yang di tengahnya?” Aisyah menjawab, "Kuda.” Beliau berkata, "Apa ini yang ada di atasnya?" Aisyah menjawab, "Dua sayapnya.” Beliau berkata, "Kuda punya dua sayap?” Aisyah berkata, "Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Sulaiman bin Dawud memiliki kuda yang memiliki sayap?” Maka Nabi Saw tertawa sampai tampak giginya. [H.R. Abu Dawud)
Asy-Syaukani berkata, "Dalam hadits-hadits tersebut terdapat dalil bolehnya membiarkan anak-anak bermain dengan boneka. Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa ia menganggap makruh laki-laki yang membelikan boneka untuk anak perempuannya. Al-Qadhi Tyadh berkata, "Mainan boneka untuk anak perempuan adalah rukhshah.”
Ada hal penting yang harus diperhatikan, yaitu meremehkan gambar dan mengubah bentuknya bisa menjadikannya boleh untuk dimanfaatkan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan An-Nasa'i dan Ibnu Hibban dalam Shahih- nya bahwa Jibril meminta izin kepada Nabi Saw. Lain Rasulullah Saw berkata kepadanya, "Masuklah." Jibril berkata, "Bagaimana aku bisa masuk sedangkan di rumahmu ada tirai yang bergambar? Jika engkau tetap menggunakannya, maka sobeklah kepalanya atau potonglah menjadi beberapa bantal atau jadikan ia tikar.”
Adapun gambar dengan menggunakan alat yang dikenal dengan istilah foto, maka ia termasuk kepada lahiriahnya dalil-dalil yang mengharamkan gambar. Kecuali terpaksa dan untuk kemaslahatan seperti foto untuk kartu tanda pengenal (KTP), paspor, foto penjahat, tersangka, dan foto- foto yang digunakan sebagai penjelasan dan semacamnya. Karena ini termasuk dalam kaidah umum, adh-dharurat tubihu al-mahzhurat (yang darurat bisa membolehkan yang terlarang).
Di antara hal yang perlu diperhatikan juga adalah banyaknya rumah yang mengaku muslim dibangun dengan begitu besar, dengan alasan untuk mengenang ayah, kakek, atau keluarga, menghiasnya dengan patung-patung di sana-sini, dan dinding yang dipenuhi lukisan. Padahal perbuatan seperti itu termasuk perilaku jahiliyah, bahkan lebih dari itu termasuk tanda paganisme (penyembah berhala) yang diperangi oleh Islam.
Maka yang harus dilakukan orang tua dan pendidik lainnya adalah membersihkan rumah mereka dari semua hal yang diharamkan itu. Agar mereka mendapatkan ridha Allah, dan termasuk kepada golongan orang-orang yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:
"Dan barangsiapa yang menaati Allah
dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang- orang yang mati syahid, dan orang- orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 69)

c.   Keyakinan jahiliyah yang haram
Perkara yang gaib hanya Allah sendiri yang mengetahuinya, sehingga tidak ada seorang pun yang tahu kecuali orang yang Allah izinkan untuk mengetahuinya dari para utusan-Nya. Allah berfirman:

‘ (Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya...” (QS. Al-Jinn |72]: 26-27)
Maka barangsiapa yang mengaku mengatahui yang gaib hakiki, berarti ia pendusta kepada Allah, kebenaran, dan manusia. Allah berfirman:
 
"Katakanlah, 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (QS. An-Naml [27]: 65)
Tidak malaikat, tidak jin, tidak pula manusia mengetahui yang gaib melainkan sebatas apa yang diberitahukan Allah kepada mereka. Dan Allah telah memberitahukan tentangjin Nabi Sulaiman
"... Kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan." (QS. Saba’ [34]: 14)
Oleh karena itu, Islam mengharamkan beberapa keyakinan di bawah ini:
(1)   Percaya kepada dukun/peramal
Sebagaimana yang disebutkan dalam satu riwayat bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapayangmendatangiperamal, lalu ia bertanya tentang sesuatu kepadanya, kemudian membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari." (HR. Muslim)

Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapayang mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, ia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad Saw." (HR. Al-Bazzar dengan sanad yang baik)
Berdasarkan hadits-hadits di atas jelaslah bahwa Islam tidak hanya memerangi dukun atau peramal saja, tetapi semua yang telah bersekutu dengan mereka dalam dosa. Yaitu, mereka yang membenarkan semua perkataan dukun tersebut.

(2)   Mengundi nasib dengan anak panah
Seperti yang terdapat dalam firman Allah :
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al-Ma'idah : 90

90)
Al-Azlam adalah anak panah yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab jahiliyah yang bertuliskan pada anak panah pertama "Tuhanku memerintahku," kedua "Tuhanku melarangku,” dan ketiga tidak dituliskan apa-apa. Jika mereka ingin bepergian, berperang, atau menikah, mereka datang ke rumah berhala yang di sana terdapat anak panah untuk diundi. Jika keluar anak panah yang pertama, mereka melakukan maksdunya sesuai perintah. Jika yang keluar yang kedua, mereka tidak jadi melakukan maksudnya. Sedangkan jika yang keluar yang ketiga, mereka mengulangi lagi untuk mengundi sampai keluar anak panah yang pertama (memerintah) atau kedua (melarang).
Hal di atas, pada sebagian masyarakat muslim sekarang serupa dengan memukul pasir, kerang, membuka cangkir, dan semua yang bertujuan serupa dengan di atas. Itu semua hukumnya haram di dalam Islam. Diriwayatkan bahwa Nabi Saw, bersabda:
“Tidak akan pernah mencapai derajat yang tinggi orang yang berdukun atau mengundi nasib dengan azlam (anak panah), atau kembali dari bepergian karena tathayyur (menganggap sial jika jadi pergi)." (HR. Ath-Tahbrani dengan sanad yang baik)

Jika Islam telah mengharamkan mengundi nasib dengan azlam dan menjadikannya sebagai perbuatan syirik, maka pada waktu yang sama, Islam pun mengajarkan kepada orang- orang untuk melakukan istikharah yang disyariatkan untuk menentukan pilihan antara melakukan sesuatu atau pun tidak. Pada pembahasan "mengadakan ikatan ruhani," kami telah menyebutkan tentang istikharah dan cara melakukannya. Silakan dilihat kembali.

(3)   Sihir
Seperti yang disebutkan dalam riwayat yang shahih bahwa Nabi Saw bersabda:
‘Jauhilah oleh kalian tujuh yang membinasakan." Mereka berkata, 'Apakah itu wahai Rasulullah?" Nabi bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan Kecuali karena haknya, memakan riba, memakan harta anakyatim, melarikan diri dari peperangan, menuduh berzina kepada perempuan mukmin baik-baik yang jauh dari maksiat." (Al-Bukhari dan Muslim]

Selain mengharamkan pergi ke dukun, Islam juga mengharamkan untuk menggunakan sihir atau meminta tolong ke tukang sihir untuk menghilangkan petaka, menyelesaikan masalah, dan mencelakai orang. Seperti yang disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah Saw, bersabda:
 
“Bukan termasuk dari golongan kami orang yang melakukan tathayyur (menganggap sesuatu pembawa sial) atau yang menyuruh melakukan tathayyur, meramal atau yang meminta diramal, melakukan sihir atau menyuruh untuk melakukan sihir." (HR. Al-Bazzar dengan sanad yang baik]
Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak akan masuk surga pecandu minuman keras, orang yang percaya kepada sihir, dan orang yang memutuskan silaturahmi." (HR. Ibr.j Hibban dalam Shahih-nya]
Sebagian ahli fikih menganggap sihir sebagai kekufuran atau mengarah kepada:
kekufuran. Sedangkan sebagian yang lain berpendapat wajibnya membunuh penyihir untuk membersihkan masyarakat dari kotornya sihir dan menjaga akidah umat agar tidak termasuki penyimpangan dan kerusakan.
Al-Qur'an telah mengajarkan kita untuk meminta perlindungan dari kejahatan para penyihir yang menghembus-hembus pada buhul-buhul. Mereka adalah para penyihir yang memisahkan antara pasangan suami istri dan mencelakai orang-orang.
Dari sini tampaklah rahasia di balik pembacaan Al-Mu'awwidzatain setiap malam, yaitu untuk menjaga si pembaca dari kejahatan jin dan penyihir. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Aisyah bahwa Nabi Saw apabila akan pergi tidur setiap malamnya, beliau menyatukan kedua telapak tangannya kemudian meniup pada keduanya sambil membacakan padanya, "Qul huwallahu ahad...," "Qul a'udzu bi Rabbil falaq...,” dan "Qul a'udzu bi Rabbin nas ..." Kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya ke semua badannya yang dapat disapu, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan badannya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.

« Last Edit: 12 May, 2019, 21:33:44 by Admin »

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1726
  • Logged
(4)   Menggantungkan jimat
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Al-Hakim, dari 'Uqbah bin ‘Amir ggg bahwa ada sepuluh orang yang menunggang binatang tunggangan datang kepada Nabi Saw. Beliau lalu membaiat sembilan orang dan membiarkan satu orang dari mereka. Maka mereka berkata, "Kenapa orang ini?” Beliau menjawab, "Di
lengannya ada jimat."
Lalu orang tersebut melepaskan jimatnya, kemudian Rasulullah Saw membaiatnya. Kemudian beliau bersabda:
"Barangsiapa yang menggantungkan jimat, berarti ia telah melakukan kesyirikan.”

Dalam riwayat Ahmad lainnya disebutkan:
"Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka Allah tidak akan menyempurnakan untuknya. Dan barangsiapa yang menggantungkan kulit kerang, maka Allah tidak akan menjaminnya.’

Jimat adalah sesuatu yang digantungkan pada anak kecil atau pun dewasa, seperti kulit kerang, manik-manik, dan lainnya, dengan keyakinan bahwa benda tersebut bisa menyembuhkan yang sakit, menjaga dari sihir, serta menolak kejelekan dan musibah. Tidak jarang kita mendengar orang-orang yang menuliskan untuk orang-orang yang tidak mengerti jimat- jimat. Mereka tuliskan pada jimat itu tulisan-tulisan dan jampi-jampi dengan anggapan semua itu dapat menjaga si pembawanya dari gangguan jin, terkena sihir, dan menolak bala.   
Namun jika dalam gantungan terdapat tulisan-tulisan Arab yang jelas maknanya atau dengan doa-doa yang ma’tsur dari Nabi atau dengan ayat- ayat yang memiliki kelebihan seperti yang diterangkan dalam as-sunnah, seperti Al- Mu'awwidztain, maka sebagian ulama fiqh memandangnya tidak apa-apa. Begitu juga dengan ruqyah (jampi], yaitu bacaan Al- Mu'awwidzatain atau Al-Fatihah kepada yang sakit, kemasukan jin, atau disengat binatang, kemudian mengusapnya dengan tangan dan meniupnya dengan mulut tanpa mengeluarkan air liur.
Imam An-Nawawi dan Al-Hafizh Ibnu Hajar juga yang lainnya telah mengutip tentang disyariatkannya ruqyah ketika memenuhi tiga syarat:
1.   Bacaan yang diucapkan diambil dari Kalamu llah (firman-firman Allah], nama-nama-Nya, atau sifat-sifat-Nya.
2.   Dengan bahasa Arab atau dengan bahasa lain yang diketahui maknanya.
3.   Meyakini bahwa pada hakikatnya ruqyah tidak memiliki kekuatan apa- apa, tetapi hakikatnya semua dari Allah.
Bacaan perlindungan yang diajarkan Nabi Saw kepada kita untuk memperlindungkan anak-anak dan yang lainnya adalah seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw mendoakan Al-Hasan dan Al-Husain dengan ucapan:
"Aku perlindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari seluruh setan dan binatang yang menyakitkan, dan dari semua mata yang dapat menyakiti." (HR. Al-Bukhari)

(5)   Tathayyur (menganggap sesuatu pembawa sial)
Rasulullah bersabda:
 
“Bukan termasuk dari golongan kami orang yang melakukan tathayyur (menganggap sesuatu pembawa sial) atau yang menyuruh melakukan tathayyur." (HR. Al-Bazzar dengan sanad yang baik]
Nabi Saw bersabda:
"Meramal dengan garis di pasir, meramal kesialan, dan melempar kerikil termasuk jibt (sesuatu yang disembah selain Allah)" (HR. Abu Dawud dan An- Nasa'i dan Ibnu Hibban dalam Shahih- nya)

Orang-orang Arab jahiliyah menganggap sial suara burung gagak, suara burung hantu, dan terbangnya burung dari kanan ke kiri. Semua itu dapat menghalangi mereka dari tujuan asal mereka untuk melakukan sesuatu dalam hidup. Maka Nabi melarangnya dan memberitahukan bahwa itu semua tidak bisa memberi manfaat atau mencegah bahaya, karena yang memiliki kekuatan 
hakiki itu hanya Allah semata.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah. bahwa Nabi Saw, bersabda:
"Apabila kalian merasa ada kesialan, maka lakukanlah lalu bertawakallah kalian kepada Allah."(HR. Ibnu 'Adi)
Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda,
 "Barang siapa diperlihatkan kepadanya sesuatu dari kesialan, maka ucapkanlah:
'Ya Allah, tidak ada kesialan kecuali dari-Mu dan tidak ada kebaikan kecuali dari-Mu'." [HR. Al-Baihaqi]

‘Ikrimah berkata, "Kami pernah duduk-duduk bersama Ibnu Abbas. Lalu lewatlah seekor burung sambil bersuara. Maka seseorang berkata, ‘Semoga kebaikan, semoga kebaikan.' Lalu Ibnu ‘Abbas berkata, '[Burung itu) tidak (mengakibatkan) kebaikan dan tidak juga keburukan'.”

Nash-nash di atas secara keseluruhan menerangkan bahwa menganggap pembawa sial waktu, tempat, atau juga hewan bukan ajaran Islam. Karenanya, tathayyur itu diharamkan di dalam syariat Islam. Pelaku yang mutlak serta yang memiliki kekuatan hakiki hanya Allah semata.
Maka bagi setiap muslim hendaklah ia melakukan apa yang sudah menjadi rencananya, kemudian bertawakal kepada Allah untuk bisa mencapai rencana yang menjadi tujuannya itu, tanpa terhalangi oleh perasaan sial terhadap sesuatu.

d.   Mata pencaharian (nafkah) yang haram
Ketika Nabi Saw diutus, orang-orang Arab jahiliyah memiliki berbagai bentuk jual beli, transaksi, dan kegiatan perniagaan. Maka Nabi menetapkan sebagian cara yang tidak bertentangan dengan kaidah syariat dan nash-nash yang dibawanya. Beliau juga melarang sebagian cara yang lain, karena cara-cara tersebut merugikan orang lain, baik individu maupun kelompok, dan mengarah kepada kerusakan yang parah dan pengaruh yang paling buruk.
Berikut ini beberapa macam usaha yang diharamkan, sebagaimana yang dijelaskan Nabi Saw:
(1)   Menjual barang yang diharamkan
Sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:
“Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sesuatu, Dia juga mengharamkan penjualannya." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Oleh karena itu, menjual khamr, patung makhluk hidup, babi, alat musik dengan segala macamnya, salib, kartu lotere, dan barang-barang lainnya yang diharamkan  Islam itu haram hukumnya.
Hikmah pengharaman menjual barang- barang haram adalah untuk menjauhkan manusia dari berinteraksi dengan semua yang diharamkan tersebut dan menyek matakan masyarakat dari bahaya kesehatan, mental, sosial, akhlak, dan bahaya lainnya yang sudah tampak jelas.

(2)   Jual beli yang gharar (tidak dapat dipegang/ diraba)
Seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw melarang jual beli dengan lempar kerikil dan jual beli yang gharar (tipuan)" (Muslim, Ahmad, dan Ashhabu As-Sunan). Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

"Janganlah kalian membeli ikan di dalam air, karena demikian itu (mengandung unsur) gharar." (HR. Ahmad, Ath- Thabrani)
Gharar adalah jual beli untung- untungan yang tidak diketahui apakah akan untung atau rugi. Seperti menjual ikan dalam air dan burung di udara. Karena, jual beli seperti itu tidak bisa dibuktikan keberadaan barang yang dijualnya di tangan si penjual, dan tidak bisa diterima langsung olehsi pembeli. Jual beli seperti ini sudah pasti mengakibatkan percekcokan dan permusuhan antara penjual dan pembeli, dan juga membahayakan ekonomi secara umum karena tidak adanya kepercayaan antara dua pihak yang sedang bertransaksi.

(3)   Jual beli yang berdiri di atas ketidakadilan dan mempermainkan harga
Seperti yang disabdakan Rasulullah
"Tidak boleh merugikan dan dirugikan." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Pada dasarnya, Islam ingin memberikan kebebasan dalam interaksi perniagaan agar ekonomi dapat berjalan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan penawaran dan permintaan yang ada, dan menjaga vitalitas fungsi pasar. Demi menjaga kebebasan tersebut, kita dapat melihat sikap Rasulullah saat harga barang meninggi pada masa beliau, para shahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tentukanlah harga untuk kami.” Beliau menjawab:

“Sesungguhnya Allah lah Penentu harga, Yang Maha Menahan, Yang Maha Membentangkan, dan Yang Maha Memberi rezeki. Aku sangat ingin bertemu Allah dalam keadaan tidak ada
seorang pun yang menuntutku karena penganiayaan darah dan harta." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya)

Namun, jika ada faktor-faktor buatan yang mengintervensi jalannya roda pasar, seperti menimbun sebagian barang yang sangat diperlukan orang-orang, mempermainkanharga,danmemanfaatkan kondisi-kondisi tertentu, maka dibolehkan menentukan harga untuk merespons tuntutan masyarakat dan kebutuhannya untuk menjaga sebagian besar masyarakat dari para pelaku monopoli. Seperti yang dinyatakan oleh kaidah fikih: ‘Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih.” (Menghilangkan kerusakan lebih diutamakan daripada menghasilkan manfaat)
Dan kaidah, La dharara wa la dhirar (Tidak boleh merugikan dan dirugikan).
Para ulama fikih mazhab Hanafi menetapkan, "Apabila pemilik makanan berkuasa di pasar dan meninggikan harga seenaknya dan hakim tidak mampu menjaga hak-hak kaum muslimin kecuali dengan cara menentukan harga, maka saat itu tidakapa-apaiabermusyawarah dengan para ahlinya mengenai hal tersebut." (Al- Hidayah, salah satu kitab fikih mazhab Hanafi)

(4)   Jual beli dengan menimbun
Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapayang menimbun makanan selama empat puluh malam, maka ia telah berlepas dari Allah dan Allah pun berlepas darinya." (HR. Ahmad, Al- Hakim, dan Ibnu Abi Syaibah)86
Rasulullah Saw bersabda: "Tidak menimbun kecuali orang yang salah (berdosa).” (HR. Muslim)
Dan bersalah artinya berdosa seperti firman Allah:
 
"... Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah." (Al-Qashash [28]: 8)
Rasulullah Saw bersabda:
 
"Orang yang mendatangkan barang dilimpahi rezeki dan orang yang menimbun barang dilaknat." (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)87
Yang dimaksud dengan menimbun, yaitu seorang pedagang menyembunyikan apa yang menjadi kebutuhan orang-orang untuk menguasai harga di waktu tertentu, seperti bahan makanan yang bersifat umum.
Jenis jual beli yang sama dengan menimbun atau monopoli, yaitu penduduk kota menjualkan barang kepada penduduk desa. Seperti yang diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Janganlah penduduk kota menjualkan (menjadi calo) barang milik penduduk desa, biarkanlah orang-orang saling membagi rezeki satu sama lain." (HR. Muslim]
Contohnya seperti seorang pendatang dari luar kota datang membawa barang yang diperlukan orang banyak untuk dijual sesuai dengan harga pasar hari itu. Lalu datang seorang penduduk kota berkata kepadanya, "Biarkan barangmu padaku sejenak sampai aku jualkan untukmu dengan harga yang mahal.” Seandainya si penjual dari luar kota ini menjual langsung barangnya sendiri, pasti harganya lebih murah dan untung bagi kota tersebut dan si penjualnya.

(5)   Menjual dengan cara menipu
Sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah sg melewati seseorang yang sedang menjual makanan (berbentuk biji-bijian), maka beliau senang melihat makanan itu. Lalu beliau memasukka a tangannya ke dalam makanan tersebut, ternyata beliau melihat ada basah di dalamnya. Maka beliau bersabda:
 
"Apa ini wahai pemilik makanan?" la menjawab, "Terkena air hujan, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, "Mengapakah engkau tidak menaruhnya di bagian atas makanan, sehingga orang-orang bisa melihatnya. Barang- siapa yang menipu kami, maka ia bukan termasuk dari golonganku.” [HR. Muslim)
Menipu maksudnya menampakkan sesuatu yang lain dari yang sebenarnya tanpa diketahui pembeli. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak halal bagi seseorang menjual sesuatu kecuali ia menjelaskan apa yang ia jual dan tidak halal bagi seseorang yang mengetahui hal itu, kecuali ia menjelaskannya." [HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Dan pengharamannya semakin berat, ketika disertai dengan sumpah dusta. Nabi Saw telah melarang para penjual dari banyak bersumpah pada umumnya, dan khususnya sumpah dusta. Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Saw, bersabda:

"Sumpah dapat menguntungkan untuk barang dagangan, dan menghilangkan berkah." (HR. Al-Bukhari)
Orang yang bersumpah dengan kedustaan secara sadar, maka ia termasuk melakukan sumpah palsu. Dan sumpah palsu termasuk kepada dosa besar. Tidak ada kifarat bagi dosa tersebut kecuali dengan bertobat secara benar.
Nabi melarang banyak bersumpah- walaupun benar-karena ini menjadi pendorong untuk menipu dan menjadi sebab hilangnya keagungan nama Allah dari hati.
Di antara bentuk penipuan yaitu mengurangi takaran dan timbangan. Sebagaimana firman Allah:
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin [83]: 1-6]

Al-Qur'an telah menceritakan kepada kita kisah tentang kaum yang berbuat kelaliman dalam muamalah perniagaan mereka, menyimpang dari berlaku adil dalam takaran dan timbangan, dan merugikan barang-barang milik orang lain. Maka, Allah mengutus rasul kepada mereka untuk memberikan peringatan kepada mereka dan mengembalikan mereka kepada jalan keadilan yang lurus. Mereka itulah kaum Syu'aib Di mana Nabi Syu'aib berteriak kepada mereka memberikan peringatan dan mengajak kepada kebenaran:
 
"Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan." [QS. Asy-Syu‘ara’ [26]: 181- 183)

(6)   Jual beli barang curian dan rampasan
Seperti yang disebutkan dalam riwayat bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapa membeli barang curian dan ia tahu itu barang curian, maka ia telah ikut bergabung dalam kehinaan dan dosanya " (HR. Al-Baihaqi)
Pengharaman ini tidak lain dimaksudkan untuk mempersempit ruang gerak usaha yang haram dan kontribusi masyarakat dalam mengemban tanggung jawab untuk memutuskan lingkaran kejahatan.

(7)   Usaha melalu riba dan judi
Berdasarkan berfirman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." (QS. Al-Baqarah [2]: 278-279)
Dan sabda Rasulullah Saw disebutkan:
 
"Rasulullah Saw melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, penulisnya, dan dua saksinya. Dan beliau bersabda, 'Mereka semua sama'." [HR. Muslim, Ahmad, dan Ashabu As-Sunan)
Pengharaman riba meliputi semua jenis interaksi riba, baik itu riba nasi'ah  atau riba fadhl , baik itu riba investasi atau riba konsumtif, juga bunga yang sedikit atau pun banyak. Maka semua yang bermacam- macam itu termasuk kepada pengharaman dalam firman Allah:
 
"...Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (QS. Al-Baqarah [2]: 275)
Islam mengharamkan riba karena:
a.   Tidak adanya keseimbangan antara usaha dan hasil yang didapat, karena pemberi pinjaman yang melakukan riba tidak mengerahkan usaha yang berat dan tidak harus menanggung kerugian, namun mendapatkan keuntungan yang berlipat.
b.   Runtuhnya ekonomi masyarakat karena membuat pemberi pinjaman berhenti bekerja, terus bersantai, dan malas. Namun, tamak dengan keuntungan yang berlipat dan memberatkan peminjam dengan bunga yang harus dibayarkan.
c.   Hancurnya akhlak masyarakat karena tidak adanya tolong-menolong antara individu, retaknya hubungan antara masyarakat, merebaknya sikap egois dan mementingkan diri sendiri, sebagai ganti dari sikap berkorban, cinta, dan mementingkan orang lain.
d.   Terbaginya masyarakat menjadi dua kelas: kelas borjuis dan kelas proletar yang diperas tenaganya bukan dengan haknya.
e.   Menyebarnya prinsip-prinsip atheis yang menghancurkan di masyarakat Islam dengan memanfaatkan kenyataan pahit yang diakibatkan dari interaksi ribawi yang diharamkan.
Oleh karena itu semua, Islam mengharamkan riba dan menganggapnya sebagai dosa besar dan pelakunya berhak mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat, dan semua manusia sampai hari kiamat.

Cara apa yang ditawarkan Islam untuk terlepas dari riba?
1.   Perusahaan (syirkah) dengan sistem mudharabah. Yaitu, perusahaan yang modalnya dari seseorang dan dikelola oleh orang lain, serta keuntungannya dibagi di antara mereka berdua dengan besar sesuai dengan kesepatakan bersama dan kerugian ditanggug pemilik modal. Sedangkan si pengelola yang, sudah bersusah payah mengelola modal tidak menanggung kerugian, karena ia sudah cukup mengalami kerugian dari usahanya yang tanpa hasil.
2.   Jual beli salam. Yaitu, mendahulukan uang daripada barang yang dijual. Jika seseorangterdesaksangatmemerlukan uang, ia bisa menjual barang yang dihasilkannya secara musiman dengan harga yang sesuai dan syarat-syarat yang terdapat di kitab-kitab fikih.
3.   Jual beli sistem kredit. Yaitu, menambah harga barang (yang dibayar secara berangsur) dari harga asal yang dibayar secara langsung. Islam membolehkan ini untuk memberikan keuntungan kepada orang-orang dan melepaskannya dari interaksi ribawi.
4.   Menganjurkan agar adanya lembaga- lembaga pemberi pinjaman yang baik. Baik pinjaman secara individu, kelompok atau pemerintah untuk mewujudkan prinsip saling membantu secara sosial di antara umat.
5.   Mendirikan lembaga-lembaga zakat, di mana lembaga-lembaga ini bisa membayarkan utang si peminjam yang memerlukan bantuan, atau orang miskin yang tidak punya, atau juga orang asing yang kehabisan perbekalan. Lembaga tersebut bisa memberikan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhannya, menolong, dan mengangkat derajat mereka.
Itulah pinta-pintu yang dibuka Islam di hadapan setiap individu dan masyarakat, untuk mewujudkan keuntungan bersama, menjaga kemuliaan kemanusiaan mereka, memenuhi kebutuhan bersama, menjamin keuntungannya, dan mengembangkan produktivitasnya.

e. Tradisi jahiliyah yang haram
Hari ini banyak kebiasaan dan tradisi jahiliyah yang masuk ke rumah-rumah kaum muslimin, sehingga menurut pandangan sebagian orang harus diikuti seperti layaknya agama, diyakini seperti iman, dan mere ka mengira telah melakukan kebaikan.

Berikut ini tradisi-tradisi jahiliyah yang sudah sulit dihdangkan:
(1) Meraih kemenangan suku (fanatisme)
Ini bisa kita lihat pada lingkungan-lingkungan kaum muslimin yang berbeda- beda, di mana mereka membela kaumnya dan kerabatnya, baik itu benar maupun salah. Inilah yang Nabi Saw jelaskan ketika ada yang bertanya tentang fanatisme (ashabiyah). Diriwayatkan dari Watsilah bin Al-Asqa‘, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah 'ashabiyah itu?’ Beliau menjawab:
'Engkau menolong/membela kaummu melakukan kezaliman'." (H R. Abu Dawud)
Sebagaimana juga beliau mengumumkan keterlepasannya dari orang yang melakukan 'ashabiyah:
"Bukan termasuk dari golongan kami orang yang mengajak kepada 'ashabiyah, bukan termasuk dari golongan kami orang yang berperang atas nama 'ashabiyah, dan bukan termasuk dari golongan kami orang yang mati dalam 'ashabiyah." (HR. Abu Dawud)
Selain itu, Nabi Saw pun berusaha mengalihkan semangat menolong kerabat itu ke arah yang positif, dari semangat jahiliyah kepada semangat Islam. Rasulullah Saw bersabda:

“Tolonglah saudaramu, baik yang zalim maupun yang dizalimi."
Maka orang-orang pun kaget dan berkata, "Wahai Rasulullah, orang yang dizalimi yang kita tolong, lalu bagaimana menolong yang zalim?" Maka beliau bersabda:

"Cegahlah ia dari kezalimannya, maka itulah cara menolongnya." (HR. Al- Bukhari)
Alangkah agungnya yang dikatakan oleh Al-Qur'an dalam menegakkan kebenaran dan teguh memegang keadilan, walaupuan kepada orang terdekat dan dicintai.
 
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu..."(QS. An-Nisa' [4]: 135)

(2)Berbangga dengan keturunan (nasab)
Seringkitamendengar dari orang-orang yang tidak berakhlak, mereka berbangga dengan keturunan dan nasabnya. Padahal, apalah artinya nasab dan keturunan jika pemiliknya menyimpang dari Islam dan mengikuti jalan kesesatan. Bukankah Allah telah berfirman:
 
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya." (QS. Al-Mu’minun [23]: 101)
Nabi Saw juga menunjukkan marahnya kepada orang-orang yang merasa hebat dengan nasabnya dengan kalimat yang keras. Beliau bersabda:
"Kaum-kaum yang berbangga dengan ayahnya yang telah mati (dalam kekufuran) pasti akan berhenti, karena mereka (ayahnyaj pasti menjadi arang jaha mam. Atau mereka lebih hina bagi Allah daripada binatang kecil yang kotor yang mengitari tinja dengan hdungnya. Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliyah dan berbangga diri dengan ayah. Hanya saja (manusia) itu ada yai g mukmin bertakwa dan pendosa yang celaka. Manusia itu semuanya adalah keturunan Adam dan Adam diciptikan dari tanah.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Mari kita dengarkan apa yang diumumkan Nabi Saw tentang prinsip- prinsip hak asasi manusia dalam haji wada’:

"Wahai manusia, sesungguhnya Rabb kalian satu, ayah kalian satu. Ingatlah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab
atas orang non Arab. Begitu pula tidak ada keutamaan bagi orang non Arab atas orang Arab. Tidak pula bagi yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, dan tidak juga yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan." (HR. Al-Baihaqi)

(3)   Meratapi orang yang meninggal
Di antara tradisi yang diperangi Islam adalah meratapi yang meninggal, berlebihan dalam menampakkan kesedihan seperti dengan memukuli pipi, merobek pakaian, dan mencakar wajah. Ini semua adalah tradisi jahiliyah. Sedangkan Nabi Saw telah berlepas diri dari orang yang melakukannya.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, Nabi Saw bersabda:
“Bukan golongan kami, orang yang memukul pipi, merobek pakaian, dan menyebut dengan sebutan jahiliyah." (HR. Al-Bukhari)
Adapun mencucurkan air mata tanpa disertai ratapan dan kesedihan hati tanpa disertai kegelisahan tanda tidak sabar, maka itu hukumnya boleh. Karena itu sesuai dengan etika Islam dan watak manusia.
Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Umar, "Sa'ad bin 'Ubadah menderita sakit. Maka Nabi Saw datang untuk menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abu Waqash, dan Abdullah bin Mas'ud. Ketika beliau masuk menemuinya, beliau mendapatinya sedang dikelilingi oleh orang-orang yang merawat dan menengoknya. Beliau kemudian bertanya, ‘Apakah ia telah tiada?'Mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah.' Lalu Nabi Saw menangis. Ketika orang-orang melihat tangisan Nabi Saw, mereka pun ikut menangis. Maka Nabi berkata:
'Tidakkah kalian mendengar, sesungguhnya Allah tidak menyiksa (hamba-NyaJ karena air mata dan kesedihan hati(keluarga yang ditinggal). Akan tetapi, Allah menyiksanya karena ini.'Beliau sambil menunjuk ke lisannya. 'Atau Dia akan memberi rahmat. Dan sesungguhnya orang yang mati itu disiksa karena tangisan (ratapanJ  keluarganya atas (kematian]-nya'." (HR. Al-Bukhari)

Berbicara tentang meratapi yang meninggal, maka ada beberapa perkara yang harus menjadi perhatian:

a. Seorang muslim atau muslimah tidak dibolehkan memakai pakaian khusus berduka dengan meninggalkan pakaian
yang baru dan berhias, atau mengubah pakaiannya dari pakaian yang biasa digunakan sebagai tanda berkabung dan menunjukkan kesedihan. Sebab, ini termasuk menyerupai kebiasaan orang-orang kafir dan tradisi orang nonmuslim.
Diriwayatkan dari 'Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah bersabda:

“Bukan dari golongan kami orang yang menyerupai selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani." (HR. At-Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk di antara mereka." (HR. Ahmad dan Abu Dawud]

b.   Termasuk menyerupai nonmuslim dan meniru tradisi mereka, meletakkan karangan bunga di keranda jenazah atau kuburnya. Perbuatan ini selain perbuatan orang-orang kafir juga termasuk perbuatan mubazir, membelanjakan uang pada sesuatu yang tidak seharusnya. Adapun meletakkan tanaman atau bunga di atas kubur tanpa berbentuk karangan, maka itu boleh dan tidak menyerupai. Di dalam sunnah Nabi Saw terdapat dalil yang membolehkan itu.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas "Rasulullah berjalan melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
"Sesungguhnya kedua orang ini tengah disiksa, dan tidaklah mereka disiksa disebabkan oleh hal yang besar. Adapun salah satunya disiksa karena tidak bersuci dari kencing. Sedangkan yang lainnya suka melakukan namimah (mengadu domba)."
Kemudian Nabi Saw mengambil pelepah yang masih basah dan membaginya menjadi dua, lalu beliau menancapkannya ke masing- masing kuburan. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal tersebut?” Beliau berkata, "Semoga siksa mereka berdua diringankan selama pelepah ini belum kering.” ( H R. Muslim]
Meletakkan foto yang meninggal diatas keranda atau di rumah duka. Perbuatan ini selain merupakan tradisi orang asing juga perbuatan yang haram. Karena foto selain karena alasan darurat hukumnya haram dalam pandangan Islam seperti yang telah kita jelaskan sebelumnya.
d.   Memainkan musik kesedihan di depan keranda di rumah duka. Ini selain menyerupai kebiasaan orang- orang kafir, juga termasuk perbuatan haram dalam pandangan Islam, berdasar kepada hadits-hadits shahih yang telah kita sebutkan dalam pembahasan tentang alat musik dan mendengarkannya. Demikian itu sama saja baik dilakukan pada saat suku maupun duka.
e.   Di antara perbuatan mungkar lainnya, membagikan rokok dan menghisapnya. Terutama ketika sedang membacakan Al-Qur'an. Ini adalah kemungkaran dalam pandangan Islam, karena mengonsumi yang haram di satu sisi dan meremehkan kehormatan Al- Qur'an di sisi lain.
f.   Di antara perkara mungkar setelah penguburan jenazah, mengecat kuburan dan membangunnya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir, "Rasulullah Saw melarang mengapuri kuburan, duduk di atasnya, dan dibangun di atasnya.” [HR. Muslim]
Sangat disayangkan,sebagian orang hari ini berbangga-bangga dengan membangun kuburan dan menghiasnya. Pastinya mereka sudah bertentangan dengan tuntunan Nabi Saw dalam larangan beliau dari mengecat dan membangun kuburan.
Terdapat hadits dari Nabi Saw, bahwa ketika putranya, Ibrahim, wafat, beliau meratakan kuburnya dan meletakkan batu di atasnya, serta menyiramkan air ke atasnya.
Termasuk sunnah, meletakkan ciri di atas kubur agar bisa dikenali ketika menziarahinya. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Beliau meletakkan sebuah batu di sebelah kepala kubur 'Utsman bin Mazh'un sambil berkata:

"Agar aku tahu dengan batu tersebut, kuburan saudaraku." (HR. Abu Dawud)
Padahal bukankah alangkah shalihnya mereka ketika mereka alihkan biaya menghias kuburan untuk membangun masjid, sekolah, atau rumah sakit dengan niat pahala untuk orang yang telah meninggal, pasti kebaikannya terus mengalir. Sungguh benar Rasulullah Saw yang bersabda:
"Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan." [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

(4)   Kebiasaan-kebiasaan lainnya yang diharamkan Islam
a.   Merupakan tradisi jahiliyah yang berlaku di lingkungan kita adalah berkumpul di acara pernikahan dan acara-acara lainnya yang diramaikan dengan nyanyian dan tarian. Selain juga disertai dengan disediakannya khamr, permainan musik, dan tawa- tawa penuh dosa yang keluar dari mulut-mulut yang sedang mabuk.
Padahal perkumpulan seperti itu tidak sedikit yang menyebabkan pertengkaran dan kerusuhan lainnya. Dan kami tidak perlu lagi menjelaskan hukum Islam tentang nyanyian, tarian, musik, khamr, dan ikhtilath. Karena kami telah membicarakan itu pada banyak tempat di buku ini. Maka Anda bisa melihat kembali pembahasan-pembahasan tersebut untuk mengetahui dalil dan hikmah di balik pengharamannya.
b.   Merupakan tradisi jahiliyah juga, menisbahkan anak kepada orang yang bukan ayahnya. Padahal Nabi Saw sudah memasukkan hal tersebut kepada kemungkaran yang bisa menyebabkan terkena laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapa yang mengakui ayah kepada selain ayahnya atau loyal kepada selain sekutunya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya tobat dan tebusan." (HR. Al- Bukhari dan Muslim]
Diriwayatkan dari Sa'ad bin Abi Waqqash , Aku mendengar Nabi Saw bersabda:
"Barangsiapa yang mengakui kepada selain ayahnya sedangkan ia mengetahuinya bahwa orang tersebut bukan ayahnya, maka surga haram baginya". (HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dari pengharaman tersebut, maka haram pula inseminasi buatan. Yaitu, meletakkan sperma laki-laki asing (bukan susmi] ke dalam rahim seorang perempuan dengan maksud untuk mendapatkan anak. Perbuatan tersebut termasuk kejahatan yang mungkar yang sama dengan zina, menghasilkan anak dengan cara yang berdosa, dan cara yang diharamkan yang bertentangan dengan syariat dan nilai-nilai akhlak.
Adapun mengangkat anak dengan maksud untuk mendidik dan merawatnya, seperti memungut anak temuan atau anak yatim, misalnya, maka itu ooleh secara syar'i selama laki-laki yang mengadopsinya tidak menisbahkan anak tersebut sebagai nasabnya. Dan sudah pastinya, merawat anak seperti itu akan mendapatkan balasan di surga. Seperti yang diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Aku dan orang yang merawat anak yatim denganku seperti ini di surga." Sambil beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan tengah, dan merenggangkan antara keduanya. (HR. Al- Bukhari, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi]
Orang yang merawat anak yatim dapat memberinya harta selama hidupnya dan dapat mewasiatkan sepertiga hartanya setelah ia meninggal.

c.   Termasuk tradisi jahiliyah pula, memakan mahar anak perempuan dan menghalanginya dari mendapatkan waris.
Allah telah menetapkan bagi perempuan haknya berupa mahar dan waris. Maka tidak halal bagi seorang ayah, saudara laki-laki, suaminya, atau siapa pun juga untuk menghalanginya mendapatkan waris atau mengambil hak maharnya.
Tentang hak waris perempuan telah ditetaplan, Allah berfirman: 
"Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapakdan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan." (QS. An- Nisa’ [4]: 7)
Tentang penetapan hak mahar perempuan, Allah berfirman:
"Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedangkan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali darinya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (istri- istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." (QS. An-Nisa’ [4]: 20-21)
Maka, siapa saja yang melanggar syariat Allah dalam hal waris dan mahar, berarti ia telah sesat dari jalan yang lurus dan menyimpang dari kebenaran yang telah Allah tetapkan dalan kitab-Nya. Ia pun berhak mendapatkan ancaman Allah dan siksanya pada hari kiamat, pada saat sudah tidak berguna lagi harta dan anak, kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Itulah perkara-perkara haram yang dilaranglslamdandiancamakanmendapat- kan siksa bagi yang melakukannya. Maka yang harus dilakukan pendidik adalah menjauhinya sekaligus memberi teladan yang baik dalam menghindarinya untuk yang lain. Kemudian memperingatkan semua orang yang pendidikannya menjadi tanggung jawabnya, agar tidak tergelincir dari melakukannya.
Jika Anda sudah melakukannya, maka Allah pasti memberi pahala kebaikan bagi Anda, menerima ketaatan Anda, menerima doa Anda, memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan, dan membangkitkan Anda pada hari kiamat bersama para wali Allah, para malaikat, para nabi, shiddiqin, dan syuhada'. Mereka itulah sebaik-baiknya teman.

Simaklah apa yang disabdakan Rasulullah tentang orang yang makanannya, minumannya, dan pakaiannya dari yang haram, agar Anda mengetahui bahwa dirinya dijauhi Allah dan terkena murka- Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya Allah Mahabaik yang tidak menerima kecuali yang baik. Dan Allah memerintahkan orang- orang beriman dengan apa yang diperintaakan kepada para rasul, maka Allah berfirman:
'Hai rasul- rasul, makanlah darimakanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shaleh...’ (QS. Al-Mu’minun [23]: 51]
Dan firman-Nya:
'Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik- baik yang Kami berikan kepadamu (QS. Al-Baqarah [2]: 172]
Kemudian beliau menyebutkan tentang laki-laki yang mengadakan perjalanan jauh dengan keadaan kusut dan berdebu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit, "Wahai Rabbku, wahai Rabbku", namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan yang haram, maka bagaimana bisa doanya dikabulkan.” (HR. Muslim]
Diriwayatkan dari Abu Bakar bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Setiap tubuh yang tumbuh dari yang haram, maka api neraka lebih berhak untuknya." (HR. Al-Baihaqi dan Abu Nu'aim]
Semoga Allah melindungi kita dari termasuk kepada orang-orang yang berhak mendapatkan siksa jahannam dan orang- orang yang tidak diterima doanya. Dan Dialah Yang selalu mengabulkan setiap doa.
Itulah, kaidah-kaidah terpenting yang telah diletakkan Islam dalam mendidik anak. Anda sendiri telah melihat bahwa kaidah-kaidah tersebut terangkum dalam dua kaidah asasi:
Pertama: Kaidah Ikatan/Hubungan Kedua: Kaidah Peringatan
Anda juga sudah membaca semua perkara yang terkandung dalam kaidah-kaidah tersebut, yang masing- masing memiliki fungsi penting dalam keseimbangan pribadi anak, pembentukan ruhaninya, imannya, mentalnya, dan pendidikan akhlaknya, sosial, dan pengatahuannya.
Anda telah membaca definisi-definisi yang terlahir dari kaidah ikatan:
■   Ikatan akidah yaitu yang dapat menjaga akidah anak dari kesesatan dan atheisme.
■   Ikatan ruhani yaitu yang dapat menjaga akhlak anak dari penyimpangan perilaku.
■   Ikatan pemikiran yaitu yang dapat membenarkan pikirannya dari setiap konsepsi yang batil dan prinsip-prinsip imporan.
■   Ikatan sosial yaitu yang dapat menjaga kepribadiannya dari sifat tertutup dan kehilangan jati diri.
■   Ikatan olah raga yaitu yang dapat menjaga fisik anak dari kelemahan dan permainan yang sia-sia.
■   Dan Anda juga telah membaca definisi- definisi yang muncul dari kaidah peringatan:
■   Peringatan dari kemurtadan yaitu menjauhkan anak dari gejala-gejala kekufuran dan kesesatan.
■   Peringatan dari atheisme yaitu yang menjauhkan anak dari pengingkaran
terhadap Tuhan dan agama samawi.
■   Peringatan dari permainan yang haram yaitu yang dapat menjauhkan anak dari kepribadian yang tidak punya prinsip dan hilangnya kemuliaannya sebagai manusia.
■   Peringatan dari teman-teman yang burukyaitu yang menjauhkan anak dari terjerumus ke dalam dunia syahwat dan kesenangan.
■   Peringatan dari taklid buta/meniru- niru yaitu yang dapat menjauhkan anak dari kepribadian yang menyimpang dan hilangnya kemuliaannya sebagai manusia.
■   Peringatan dari kerusakan akhlak yaitu yang bisa menjauhkan anak dari keterjerumusannya dalam budaya yang kotor dan perbuatan yang keji.
■   Peringatan dari yang haram yaitu yang dapat menjauhkan anak dari siksa neraka dan murka Allah, selian terjauh dari penyakit dan bahaya.
Dengan demikian, maka hendaklah Anda bersungguh-sungguh dalam berusaha untuk melaksanakan semua yang terdapat dalam kaidah ikatan/hubungan satu demi satu dan menjalankan prinsip- prinsip yang ada pada kaidah peringatan satu demi satu.
Pada kaidah-kaidah tersebut terdapat kebaikan untuk anak, penguat akidahnya, pelurus akhlaknya, penguat fisiknya, penyempurna akalnya, dan pembentuk kepribadian yang mulia.
Di antara perkara yang saya p eringatkan kepada Anda, bahwa dua kaidah tersebut harus dijalankan secara bersama-sama secara berdampingan. Karena hilang saja salah satunya, maka itu akan membawa anak pada penyimpangan pemikiran, akhlak, atau mental.
Berapa banyak kita mendengar tentang anak-anak yang memiliki hubungan kuat dengan rumah-rumah Allah, dengan syaikh, murabbi, dan sahabat yang baik, akan tetapi mereka terikat dengan keyakinan pemikiran yang batil. Seperti keyakinan bahwa Islam hanya terbatas pada perkara keimanan dan ibadah saja, dan tidak sedikit pun membahas tentang permasalahan hukum, politik, dan aturan hidup.
Atau terjerumus ke dalam penyimpangan aichlak, seperti memiliki anggapan bahwa bir halal, menonton televisi dengan tayangan yang dutunjukkan seperti sekarang ini boleh, interaksi dengan riba yang sedikit tidak haram, mendengarkan lagu yang tidak senonoh mubah.
 
Atau juga terkena penyakit mental dan syaraf karena mendapatkan pengarahan dan pendidikan salah, seperti didikte untuk memisahkan diri dari masyarakat dan bersikap tertutup, terus berdiam diri di tempat ibadah.
Karenanya, pendidik haruslah menjaga keseimbagan antara kaidah ikatan dan kaidah peringatan, menyatukan antara sikap aktif dan pasif, dan selalu mengawasi anak di setiap gerak-geriknya. Sehingga ketika melihat ada penyimpangan pada anak, ia bisa langsung mengembalikannya ke jalur yang seharusnya. Saat melihat ada penyelewengan dalam akidah anak, ia dapat memberikan pandangan yang benar terhadap kebenaran dan menyinari hatinya dengan cahaya keimanan. Dan dimana pendidik menyadari adanya kerusakan pada akhlak anak, ia bisa langsung memperingatinya serta mengikatnya dengan arahan yang lurus.
Inilah asas dan kaidah yang harus diperhatikan oleh seluruh pendidik.