Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Keluarga 
SARANA PENDIDIKAN UNTUK ANAK DARI BERBAGAI ASPEK YANG WAJIB ORANG TUA PAHAMI
Pages: [1]

(Read 46 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1564
  • Logged

SARANA PENDIDIKAN UNTUK ANAK DARI BERBAGAI ASPEK YANG WAJIB ORANG TUA PAHAMI

Pada pasal terakhir ini, saya ingin menyampaikan beberapa saran pendidikan yang sangat diperlukan. Saran- saran ini tidak kalah pentingnya dari apa yang telah kami tulis pada pasal-pasal yang telah lalu tentang beberapa tanggung jawab pendidik, sarana-sarana pendidikan yang efektif, dan tentang kaidah-kaidah asasi dalam pendidikan anak. Mengenai saran-saran ini, kami tulis dengan meliputi berbagai sarana pendidikan dari segala aspeknya. Dalam waktu sama juga, kami buka pandangan-pandangan baru dalam mempersiapkan akhlak, pemikiran, dan mental anak, pembentukan fisik, dan perilaku sosial anak agar menjadi anak yang shaleh untuk agamanya dan umatnya, dan menjadi pribadi yang bermanfaat untuk keluarga dan masyarakat.
Dalam pandangan saya, saran-saran tersebut melingkupi perkara-perkara berikut:
 
1.   Memotivasi anak untuk melakukan usaha/pekerjaan yang mulia.
2.   Memperhatikan kesiapan anak secara fitrahnya.
3.   Memberikan anak kesempatan untuk bermain dan bersantai.
4.   Mengadakan kerjasama antara rumah, masjid, dan sekolah.
5.   Menguatkan hubungan antara pendidikan dan anak.
6.   Selalu menjalankan manhaj pendidikan.
7.   Menyiapkan sarana wawasan yang bermanfaat untuk anak.
8.   Memotivasi anakuntukselalu membaca dan menelaah.
9.   Anak selalu menyadari tanggung jawabnya terhadap Islam.
10.   Memperdalam semangat jihad anak di dalam dirinya. 

Insya Allah, dalam pasal ini, secara lengkap akan membicarakan semua saran di atas. Dan hanya kepada Allah, kami memohon pertolongan dan taufik.
1.   Memotivasi Anak untuk Melakukan Usaha/Pekerjaan yang Mulia
Di artara tanggung jawab yang harus dilakuka r pendidik terhadap anak adalah memotivasinya untuk bekerja secara wirausaf a, baik bekerja di bidang industri, pertanian, atau perdagangan.
Para nabi selalu bekerja secara bebas dan memiliki keahlian khusus dalam suatu profesi dan membuat sesuatu. Mereka telah memberikan teladan yang baik bagi umat dan bangsa dalam bekerja wirausaha dan mem ari rezeki yang halal.
Inilah Nuh yang belajar membuat bahtera dan Allah memerintahkan untuk membuatnya dalam firman-Nya:
 
"Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami dan janganlah kamu bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh, jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)'." (QS. Hud [11]: 37-38)
Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya selamat dari banjir besar.
Inilah Nabi Dawud yang pandai sebagai pengrajin besi dan membuat pakaian perang dari besi. Allah berfirman:
 
“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)" (QS. Al- Anbiya' [21]: 80)
Dan firman-Nya juga:
 "Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), 'Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang- ulang bersama Daud/ dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba’ [34]: 10-11)

Inilah Nabi Musa yang menawarkan dirinya untuk bekerja menggembala kambing selama 8 tahun kepada Nabi Allah, Syu'aib   sebagai mahar pernikahannya dengan salah seorang dari putri Nabi Syu'aib. Allah berfirman:
 
"Berkatalah dia(Syu 'aib), ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberatkan kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.’ Dia (Musa) berkata, 'Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan'." (QS. Al-Qashash [28]: 27-28)
Dan inilah Nabi kita Muhammad Saw yang menggembala kambing dan menjalankan perdagangan sebelum beliau diutus menjadi nabi. Beliau bersabda:
 
"Aku pernah menggembala kambing dengan bayaran beberapa daniq dari penduduk Mekah.” [HR. Al-Bakhari)
Beliau juga pernah mengadakan perjalanan ke Syam sebanyak dua kali untuk berdagang. Pertama kali beliau pergi bersama pamannya, Abu Thalib saat beliau berusia 12 tahun. Dan kedua kalinya, beliau dikirim oleh Khadijah bersama pembantunya, Maisarah, saat beliau berusia 25 tahun. Beliau melakukan pekerjaannya dengan serius dan baik.
Berdasarkan dalil-dalil di atas jelaslah bahwa mempelajari suatu keahlian (skill), seni industri, dan menjalankan perniagaan adalah di antara pekerjaan yang mulia dan halal. Sebab, itu adalah profesi para nabi dan pekerjaan para rasul.
Islam dengan prinsip-prinsipnya yang holistik dan syariatnya yang semupurna telah memuliakan kerja dan para pekerja, serta kerja seseorang dengan tangannya sendiri di antara cara mendekatkan diri kepada Allah yang paling utama dan amal yang paling mulia. Berikut ini ayat-ayat Al- Qur’an dan hadits-hadits Nabi Saw tentang mulianya bekerja:
 
"Dialah yang menjadikan bumi itu mudan bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembalisetelah) dibangkitkan." (QS. Al-Mulk [67]: 15]
 
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." {QS. Al-Jumu'ah [62]: 10)
Nabi Saw bersabda:

"Pekerjaan yang paling utama adalah kerja seorang laki-laki dari tangannya sendiri." (H R. Ahmad)
Nabi Saw bersabda:
 
"Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang profesional (memiliki skill/pekerjaan sendiri)" (HR. Ath- Thabrani, Ibnu 'Adi, dan At-Tirmidzi)
Nabi Saw bersabda:

"Seseorang dari kalian mengambil talinya lalu membawa kayu bakar di punggungnya lebih baik baginya, daripada meminta kepada seseorang, di mana ia memberinya atau tidak." (HR. Al-Bukhari)
Nabi Saw bersabda:
 
"Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang memakan makanan daripada yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan Nabi Allah, Dawud, makan dari hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Nabi Saw bersabda:

"Kerja yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban (yang asasi)." [HR.Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Berikut ini perkataan para ulama salafus shaleh tentang pengangguran:
Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan bahwa ‘Umar bin Al-Khathab bertemu dengan orang-orang yang tidak bekerja. Ia berkata, "Apa kalian ini?” Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang yang bertawakal.” 'Umar berkata, "Kalian bohong. (Orang yang bertawakal itu adalah) seseorang yang menaburkan bebijian tanaman di tanah kemudian ia bertawakal kepada Allah." 'Umar lalu berkata, "Janganlah salah seorang dari kalian duduk dari mencari rezeki dan mengatakan, 'Ya Allah berilah aku rezeki,’ padahal ia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan berupa emas atau perak.”

'Umar juga adalah orang yang melarang orang-orang miskin untuk duduk-duduk saja tidak bekerja, karena berpangku tangan pada sedekah. ‘Umar berkata, "Wahai orang-orang miskin, berpaculah kalian dalam keb aikan dan janganlah kalian menjadi beban bagi kaum muslimin.”
Sa'id bin Manshur meriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud meriwayatkan, "Aku sangat tidak suka melihat seseorang yang kosong dari bekerja, tidak untuk dunia juga tidak untuk akhirat.”
Semoga Allah melimpahkan rahmat- Nya kepda Imam Syafi'i yang telah mengatakan:

Memindahkan batu besar dari atas gunung
lebih aku sukai daripada mengharapkan pemberian orang- orang
Orang-orang mengatakan bahwa pekerjaan seperti itu adalah cela maka aku katakan bahwa cela adalah bagi orang yang meminta-minta

Berdasarkan nash-nash di atas, jelaslah bahwa Islam sangat memedulikan' kerja keras yang mengutamakan skill, mengecam pengangguran dan kemalasan, serta mendorong untuk bekerja dan berkarya.
Etos kerja tidak bisa muncul begitu saja, melainkan dibentuk dari sejak dini di mana proses belajar pada masa itu lebih baik dan penguasaan skill lebih kuat.
Oleh karena itu, pendidik berkewajiban memotivasi anak sejak masih kecil untuk melatih suatu profesi, seni, dan skill, setelah melewati fase-fase sekolah dasar untuk mempersiapkan anak dalam mengais rezeki dengan tangannya sendiri.
Mari kita simak apa yang dikatakan Ibnu Sina tentang mengajarkan kepada anak tentang keterampilan dan berbagai profesi:
Apabila anak telah belajar Al-Qur'an dan menghafal kaidah-kaidah bahasa, maka lihatlah kemampuan apa yang digemari ana k, lalu arahkanlah ke sana. Jika ia suka menulis, maka tambahkan dalam pelajaran bahasa materi tentang menulis surat, khotbah, dialog, dan semacamnya. Anak juga harus dilatih berhitung. Maka dari itu, sesekali ajak ia ke kantor untuk mempraktikcan kemampuan menulis dan berhitungnya. jika menginginkan yang lain, maka berilah pelatihan yang lain.
Belajar /d-Qur'an dan kaidah bahasa merupakan materi pelajaran yang asasi dalam mannaj Islam. Jika anak telah selesai mempelajari keduanya, lihatlah kemampuan apa yang disenangi anak lalu arahkanlah sehingga ia bisa menguasai kemampuan tersebut dengan baik.
Adapun bukti bahwa Islam sangat memperhatikan profesi untuk mengais rezeki, kami nadirkan sebuah kisah tentang profesi mereka sebagai penulis:
Ketika ayah Imam Al-Ghazali sudah mendekati ajalnya, ia mewasiatkan Al- Ghazali dan saudaranya Ahmad kepada temannya, pecinta kebaikan, dan berkata kepadanya, Aku minta maaf karena aku tidak memiliki keahlian dalam menulis. Namun, aku sangat ingin kedua anakku ini bisa menguasai apa yang telah aku lewatkan. Mereka ini Muhammad dan Ahmad. Tolong ajarkanlah mereka berdua, dan tidak apa-apa bagimu menghabiskan semua yang telah aku tinggalkan untuk mereka berdua.
Ketika sang ayah meninggal, maka sang sufi itu mulai mengajari mereka berdua sampai habislah harta yang ditinggalkan untuk dua anak tersebut. Bahkan, hal ini membuat sang sufi sudah tidak bisa lagi memberi mereka berdua makan.
Maka sang sufi berkata kepada mereka berdua, "Ketahuilah oleh kalian berdua, bahwa aku telah membelanjakan untuk kebutuhan kalian berdua dengan semua yang ditinggalkan untuk kalian. Sedangkan aku adalah seorang yang miskin yang tidak memiliki harta untuk membantu kalian berdua. Dan saya pikir sebaiknya kalian berdua masuk ke sebuah sekolah sehingga kalian menjadi penuntut ilmu di sana, untuk bisa mendapatkan makanan sehari- hari yang kalian butuhkan untuk hidup.”
Lalu Muhammad dan Ahmad melakukan itu, namun ternyata itulah sebab kebahagiaan mereka berdua dengan ketinggian derajat yang mereka dapatkan. Imam Al-Ghazali mengisahkan tentang hal itu dan berkata, "(Pada awalnya] kami telah mencari ilmu selain karena Allah, lalu (selanjutnya) aku tidak menginginkan hal itu kecuali karena Allah."
Sudah seharusnya kita membedakan materi dalam mengajarkan keterampilan terhadap dua kelompok anak. Pertama,
kelompok anak yang berprestasi dalam belajar. Biasanya mereka adalah anak-anak yang cerdas. Mereka ini tidak apa-apa untuk terus meneruskan studi sampai selesai (tingkat paling tinggi). Lalu pada saat liburan dan kesempatan-kesempatan yang ada, mereka harus belajar keterampilan yang mereka senangi, karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupannya. Semoga Allah merahmati orang yang berkata, "Keterampilan yang dimiliki menjauhkan diri dari kemiskinan." Semoga Allah juga meridhai Amirul Mukminin,‘Umar bin Al-Khathab   ketika
ia berkata, "Aku melihat seseorang yang membuatku kagum, maka aku berkata, Apakah ia memiliki keterampilan?’ Jika mereka menjawab, 'Tidak,' maka ia jatuh dari pandanganku.”
Kedua, kelompok anak-anak yang tertinggal kemampuan belajarnya. Sebagian besar mereka adalah anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang sedang-sedang saja. Disebut pintar tidak, bodoh pun tidak. Mereka ini setelah diajari pelajaran agama dan dunia yang harus mereka pelajari, mereka harus diarahkan untuk bekerja profesi dan keterampilan khusus, saat orang tua atau pendidik merasakan keterbatasan kemampuan mereka. Sebuah kesalahan jika orang tua ingin meneruskan studi mereka (ke tingkat yang lebih atas), karena keterbatasan kemampuan mereka tersebut.
Tidak sedikit kita mendengar anak- anak yang sudah mencapai usia muda, namun mereka belum mendapatkan ilmu dan belum juga mempelajari keterampilan profesi apa pun. Itu semua disebabkan pendeknya pandangan orang tua atau pendidik dalam mendudukan anak tidak pada tempatnya. Anak tersebut pada akhirnya mungkin hanya bisa hidup termarjinalkan menunggu belas kasihan orang lain dan sedekah mereka. Atau lebih parah dari itu, mereka sedikit demi sedikit melakukan tindak kriminal untuk bisa mendapatkan harta orang lain dan menjadi ancaman bagi keamanan. Dalam dua kondisi tersebut, hilanglah kehormatan dan kepribadiannya yang baik.
Maka, bagi para orang tua dan pendidik harus menyadari fenomena ini agar mereka mengetahui bagaimana mempersiapkan anak-anak mereka untuk menjalani kehidupan yang sebenarnya dan menjalani berbagai beban tanggung jawab yang harus mereka emban.
Adapun perempuan yang sudah mencapai usia remaja, maka sudah seharusnya ia mempelajari keterampilan dan kemampuan profesi yang sesuai dengan fungsinya sebagai ibu dan istri, baik itu yang berkaitan dengan dasar-dasar pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, kursus menjahit, atau keterampilan lainnya yang diperlukan. Selain yang berkaitan dengan tanggung jawabnya, maka Islam tidak mengharuskannya untuk kaum hawa.
Mungkin karena keterampilan tersebut tidak sesuai dengan keadaan fisik dan watak kewanitaannya, seperti belajar berperang atau menjadi tukang bangunan dan pandai besi. Mungkin juga karena keterampilan tersebut bertentangan dengan fungsi asasinya untuk apa ia dicipta- kan, seperti bekerja di kantor atau tempat lainnya, padahal ia telah memiliki suami 
dan anak-anak di rumah. Atau mungkin juga keterampilan tersebut justru dapat mengakibatkan kerusakan sosial yang parah, seperti pekerjaan yang terdapat ikhtilath antara laki-laki dan perempuan.
Bagi orang-orang yang memiliki pikiran yang matang dan pandangan yang terbuka, pasti akan menganggap ketidakharusan perempuan menjalani keterampilan di atas sebagai penghargaan untuknya, menjaga kefeminimannya, serta mengangkat kemuliaan dan kedudukannya sebagai perempuan.

Maka adakah di antara kita yang rela membiarkan perempuan terlibat dengan pekerjaan-pekerjaan yang membuatnya mengabaikan kewajiban asasinya. Relakah kitamembiarkanmerekamelakukanpeker- jaan berat yang melelahkan, menghilangkan kereminiman, dan menyebabkan penyakit untuknya?
Adakah di antara kita yang rela membiarkan perempuan melakukan pekerjaan yang menyebabkannya ikhtilath dengan laki-laki yang bisa mengotori kehormatan dan kemuliaannya, dan adakah yang lebih berharga bagi perempuan daripada kehormatan dan kemuliaannya?
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa keterampilan dan profesi merupakan di antara usaha dan pekerjaan yang paling mulia. Karenanya, marilah kita arahkan anak-anaK kita untuk memiliki keterampilan dan kemampuan tersebut untuk menjaga kepribadian mereka dan mewujudkan kehidupan yang baik bagi mereka.

2.   Perhatikan Kesiapan Anak Secara Fitrahnya
Di antara perkara penting yang harus disadari oleh pendidik dengan baik adalah mengetahui kecenderungan anak terhadap satu keterampilan, pekerjaan yang cocok untuknya, dan cita-cita yang ingin diraihnya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa anak-anak memiliki watak yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain, begitu juga dengan kecerdasan, kemampuan, dan emosinya. Maka, pendidik yang bijak atau ayah yang perhatian adalah yang dapat menempatkan anak di tempat yang sesuai dengan bakatnya dan di lingkungan yang cocok serta layak untuknya di sana.
Maka dari itu, jika anak cerdas dan memiliki keinginan yang kuat untuk meneruskan studi sampai tingkat paling tinggi, pendidik atau orang tua harus memberinya kesempatan untuk memudahkan anak mencapai dan mewujudan cita- citanya. Namun, jika anak hanya memiliki tingkat kecerdasan yang biasa saja dan ia memiliki kecenderungan untuk belajar suatu kemampuan atau profesi, maka pendidik harus memberinya kemudahan sehingga ia bisa mencapai keinginannya.
Jika anak termasuk yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, maka pendidik harus mengarahkannya untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan keadaan diri dan kesiapannya. Inilah makna hadits Aisyah yang diriwayatkan Muslim dan Abu Dawud, "Rasulullah Saw memerintahkan kami untuk menempatkan orang-orang sesuai dengan tempatnya masing-masing.” 
Hingga dalam studi pun, anak memiliki kecenderungan sesuai dengan minatnya, kecenderungan, pembawaan, dan pandangannya. Jika anak cenderung menyukai sastra, syair, dan menulis, tentu ia akan sangat sulit untuk bisa berprestasi di bidang arsitektur, kedokteran, dan olahraga. Sedangkan anak yang cenderung kepada ilmu teknik, sains, atau kedokteran, ia sulit untuk bisa berprestasi di bidang sastra.
Tidak mudah memang bagi anak untuk bisa berprestasi di setiap bidang yang dipelajarinya. Namun, akan mudah bagi anak untuk bisa berprestasi di materi- materi pelajaran yang disenanginya. Sedangkan materi-materi yang tidak disukainya, mustahil baginya untuk bisa berprestasi di bidang tersebut.
Sungguh benar apa yang disabdakan Rasulullah Saw, seperti yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas:

"Beramallah, maka semuanya sudah dimudahkan sesuai dengan tujuan ia diciptakan untuknya." (HR. Ath- ThabraniJ
Berangkat dari pengarahan Nabi J§| ini dalam memperhatikan kecenderungan anak, para ahli pendidikan Islam di antaranya Ibnu Sina, menuntut p emelihara- an anakatas kecenderungannya, bakatyang dimilikinya, dan kemampuan alaminya saat menunjukkan kepadanya kemampuan atau profesi yang dipilihnya, atau studi yang harus dijalaninya. Ibnu Sina menyerukan untuk mempelajari kecenderungan anak dan menjadikannya sebagai asas untuk keahlian khususnya. Ia berkata:
Tidak semua keterampilan disukai anak dan bisa dikuasainya. Hanya keterampilan yang sesuai dengan watak dan cocok dengan keinginannya yang bisa dikuasai. Jika semisal kemampuan bersastra dan satu keterampilan bisa dikuasai tanpa harus ada kesesuaian dengan watak dan keinginan, pasti semua orang bisa memahami sastra dan satu keterampilan itu. Dan pasti semua orang akan memilih keduanya. Atau mungkin juga semua khazanah kesastraan dan keterampilan tidak ada yang sesuai dengan watak manusia, sehingga tidak ada sedikit pun ilmu sastra dan keterampilan yang dikuasai manusia. Oleh karena itu, sudah seharusnya seorang pendidik jika ia ingin memilih suatu keterampilan yang akan diajarkan, hendaknya terlebih dahulu menimbang watak anak, bakat, dan menguji kecerdasannya, barulah ia memilih keterampilan yang sesuai dengan itu.
Abdurrahman bin Al-Jauzi telah memberi perhatian yang besar terhadap penjelasan mengenai pentingnya persiapan bakat yang dimiliki anak dan memberi perhatian dengan mengarahkannya. Ia berkata, "Bahwa olahraga tidak akan pas kecuali bagi anak yang cerdas. Seekor baghl (peranakan antara keledai dan kuda) tidak bermanfaat baginya olahraga, sedangkan binatang buas walaupun sudah dididik sejak kecil, ia tidak akan bisa menghilangkan kebuasannya."
Artinya bahwa tinggi rendahnya tingkat kecerdasan memiliki pengaruh yang besar
dalam prestasi anak dalam pembentukan wawasan dar keilmuannya. Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan:
Jika seseorang dilahirkan tidak berakal
Maka kesehariannya terdahulu tidaklah berguna
Maka dari itu, seorang pendidik harus memiliki cara dalam mengenali mental anak, tinggi rendahnya tingkat kecerdasan anak, dan kecenderungan apa yang dimiliki anak terhadap studi dan keterampilannya. Dengan segala kemampuannya, pendidik harus menyediakan jalan kehidupan yang sesuai dengan kepentingan anak dan keinginannya. Baik yang berkaitan dengan prestasi dalam studi maupun yang berhubungar dengan keahlian khusus. Pada kedua hal tersebut terdapat manfaat untuk umat can kemajuan untuk negeri.
Bagi pendidik, terutama orang tua, tidak boleh menghalangi anak dengan cita-cita yang ingin dicapainya dalam kehidupan. Jika cita-cita t ersebut merupakan maslahat dan bermanfaat untuk dirinya.
Maka, jika anak senang dalam belajar karena dirinya memang memiliki kecerdasan /ang tinggi, maka pendidik sama sekali tidak boleh menghalangi keinginan tersebut. Meski seorang ayah mengalami kesulitan, berkorban banyak demi membiayai studi anaknya, maka suatu hari nanti ia akan melihat anaknya termasuk dalam jajaran para pemikir besar dan ilmuwan terkemuka.
Jika anak ingin bekerja dengan suatu profesi atar melakukan kegiatan perniagaan, maka pendidik tidak boleh menghalangi keinginannya itu. Semoga anak dapat meraih kesuksesan dalam pekerjaannya dan menguasai profesi dan keterampilannya dengan sangat baik. Hal itu dapat mengembangkan perekonomian dan memberikan kemajuan untuk umat dalam lapangan pekerjaan dan produksi. Jika ayah menghalangi jalan anak dan cita-citanya, maka anak akan mengalami frustrasi secara mental dan tentu berpengaruh pada kesehatannya. Dan mungkin hal itu akan mengarah kepada permusuhan antara orang tua dan anak yang akhirnya bisa menimbulkan putusnya silaturahmi. Penyebab semua itu tidak lain, sikap orang tua yang tidak bisa melihat keinginan anak dan menilai kemampuan yang dimilikinya.
Benar sekali yang disabdakan Rasulullah Saw seperti yang diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh dalam Ats-Tsawab:
"Semoga Allah merahmati seorang ayah yang membantu anaknya untuk berbuat baik kepada dirinya "

3.   Berikan Kesempatan untuk Bermain dan Bersantai
Islam adalah agama yang realistis dan agama kehidupan, ia memperlakukan manusia sebagai manusia yang memiliki hati, mental, dan watak. Sehingga tidak mungkin setiap ucapannya harus berupa dzikir, diamnya sebagai pikir, setiap pikirnya menjadi pelajaran, dan setiap waktu kosongnya harus ibadah. Islam juga   mengakui semua yang diperlukan manusia secara alaminya, berupa kegembiraan, bermain, bersantai, dan bercanda. Tentunya dengan syarat, selama masih berada di batas-batas syariat dan masih di ruang lingkup etika Islam.
Sebagian shahabat Rasulullah Saw ada yang semangat ruhiyahnya sangat tinggi, sehingga mereka menganggap bahwa semua waktu harus diisi ibadah dan muraqabah. Sampai-sampai mereka harus membuang kesenangan dunia dan hal-hal baik lainnya. Mereka tidak bergembira, bercanda, dan bermain. Bahkan mereka juga mengira bahwa waktu mereka dan waktu kosongnya harus diarahkan untuk akhirat, tanpa menyediakan bagiannya dari dunia, berupa permainan yang boleh dan canda yang alami.
Mari kita simak hadits Hanzhalah Al- Asadi, ketika ia menceritakan dirinya sendiri:
Abu Bakar bertemu denganku dan berkata, "Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, "Hanzhalah munafik." Abu Bakar berkata, "Subhanallah, apa yang engkau katakan?” Aku berkata, "Kami pernah bersama Rasulullah Saw, beliau memperingatkan kita tentang api neraka dan surga sehingga kami seolah melihatnya langsung. Tetapi setelah itu, kami bercanda dengan istri-istri kami dan bermain dengan anak-anak kami. Dan kami lupa banyak hal yang sudah beliau peringatkan."
Abu Bakar berkata, "Demi Allah, kami pernah mengalami yang seperti ini.” Hanzhalah berkata, “Maka aku dan Abu
Bakar pergi menemui Rasulullah Saw. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hanzhalah munafik.’
Rasulullah Saw bersabda, ‘Bagaimana bisa seperti itu?' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, kami pernah bersamamu, ketika engkau menyebutkan kepada kami tentang neraka dan surga, sampai seolah kami melihatnya langsung. Tetapi setelah kami keluar darimu, kami bercanda dengan istri-istri dan anak-anak kami. Dan kami lupa banyak hal dari yang telah engkau sebutkan.’
Rasulullah Saw bersabda:
 
'Demi Dzat yang diriku ada di tangan- Nya, sesungguhnya kalau kalian selalu dalam keadaan seperti ketika bersama denganku dan ketika dzikir, pasti malaikat menyalami kalian di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, satu saat dan satu saat.' Dan beliau mengulangi kata-katanya itu, sampai tiga kali." (HR. Muslim)
Pada akhirnya kita bisa melihat bagaimana Nabi mengakui Hanzhalah dan Abu Bakar tentang canda tawa dengan istri dan anak mereka untuk menggembirakan mereka, karena memang keadaan tersebut sesuai dengan watak manusia.
Ada juga sarana lain yang disyariatkan Islam dalam menyiapkan fisik dan latihan jihad yang menunjukkan bahwa lslam adalah agama yang realistis yang membolehkan bagi muslim untuk bermain dan bercanda selama masih dalam maslahat menurut Islam dan masih di batas canda dengan keluarga. Sarana tersebut yaitu seperti yang telah disabdakan Rasulullah Saw:
 
"Setiap hal yang bukan dzikir kepada Allah adalah permainan, kecuali empat hal berjalannya seorang laki-laki antara dua sasaran (untuk memanah/ menembak), melatih kudanya, berceng- krama dengan istrinya, dan belajar berenang." (HR. Ath-Thabrani)
Telah sering kami sebutkan tentang sarana-sarana ini pada lebih dari satu pembahasan dalam buku ini. Silakan Anda rujuk kemoali untuk bisa melihat betapa agama ini sangat toleran dan mudah.
Ketika permainan yang dibolehkan, membuat d ri rileks, dan melakukan olahraga termasuk kepada hal-hal yang harus bagi seorang muslim, maka bagi anak itu lebih diharuskan lagi. Hal tersebut karena dua sebab. Pertama, karena daya responsif anak pada pengajaran ketika ia masih kecil lebih besar daripada setelah ia tumbuh besar. Seperti yang disebutkan hadits:
 
"Menuntut ilmu di waktu kecil seperti ukiran di batu." (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)
Kedua, karena kebutuhan bermain anak saat masih kecil lebih banyak daripada setelah ia tumbuh besar. Seperti yang disebutkan dalam hadits:

"Keinginan bermain pada anak di waktu kecil lebih banyak daripada saat ia sudah besar." (HR. At-Tirmidzi dalam An-Nawadir)
Nabi Saw, sebagai teladan yang baik dalam segala hal, beliau bercanda dengan anak-anak para shahabat, menghibur hati, menggembirakan, dan mendukung mereka untuk bermain yang dibolehkan. Berikut ini beberapa contohnya.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Al- Harits, "Rasulullah Saw menjajarkan Abdullah, 'Ubaidillah, dan Kutsayir bin Al- Abbas,, kemudian beliau bersabda:
'Siapa yang lebih dulu kepadaku, maka ia mendapatkan hadiah ini dan itu'

Lalu mereka adu cepat menuju beliau. Mereka ada yang merangkul punggungnya, dadanya, lalu beliau menciumi dan memeluk mereka.” (HR. Ahmad dengan s.rnad yang baik)
'Umarbin Al-Khathab. berkata, "Aku melihat Al-Hasan dan Al-Husain di atas dua pundak Nabi Saw. Maka aku berkata:
 
"Sebaik-baiknya kuda adalah orang yang di bawah kalian berdua ini." Lalu beliau bersabda, "Dan sebaik-baiknya ksatria berkuda adalah mereka berdua ini." (HR. Abu Ya'la)
Jabir ags meriwayakan, "Aku masuk menemui Nabi Saw, lalu kami diundang untuk makan. Ternyata Al-Husain sedang berada di jalan bermain bersama anak-anak yang lain. Maka Nabi segera mempercepat jalannya di depan orang-orang kemudian menjulurkan tangannya. Lalu Al-Husain lari kesana-kemari, sedangkan Nabi Saw membuatnya tertawa sampai beliau memegangnya. Lalu satu tangan memegang dagu Al-Husain dan satu tangan lagi memegang kepala belakangnya. Kemudian beliau memeluknya dan menciumnya. Lalu beliau bersabda:
 
"Al-Husain dariku dan aku darinya. Allah mencintai orang yang mencintainya. Al- Hasan dan Al-Husain adalah dua cucu terbaik (dari sekian cucu yang ada)." (HR. Ath-ThabraniJ
Diriwayatkan dari Jabir, "Aku masuk menemui Nabi Saw yang sedang berjalan dengan kedua tangan dan lututnya, sedangkan Al-Hasan dan Al-Husain berada di punggung beliau. Beliau pun berjalan sambil berkata:
 
'Sebaik-baiknya unta adalah unta kalian berdua ini, dan sebaik-baiknya pelana adalan kalian berdua ini'." (HR. Ath-Thabrani)
Anas bin Malik berkata, "Rasulullah Saw adalah orang yang paling baik akhlaknya. Pada suatu hari, beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berkata, 'Demi Allah, aku tidak akan pergi.’ Namun, dalam hatiku menyuruhku untuk pergi sesuai dengan perintah Nabi Allah Saw. Lalu aku keluar, sampai aku melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba- tiba Rasulullah memegang leherku dari belakang. Aku lalu melihat beliau yang sedang tertawa. Beliau berkata, 'Wahai Unais, apakah engkau sudah pergi sesuai dengan perintahku?’ Aku berkata, 'Ya, aku sedang akan pergi, wahai Rasulullah'."
Anas melanjutkan, "Demi Allah, aku telah melayani beliau selama 9 tahun. Namun, aku belum pernah mendengar beliau mengomentari terhadap apa yang aku lakukan, kenapa engkau melakukan ini? Atau mengomentari yang tidak aku lakukan, mengapa engkau tidak melakukan ini dan itu? ’ (HR. Muslim)

Amirul Mukminin ‘Umar bin Al- Khathab berkata, "Ajarkanlah anak- anak kaliai berenang dan memanah, dan perintahkanlah mereka untuk melompat ke punggung kuda." (HR. Al-Baihaqi)

Berangkat dari canda Nabi Saw dengan anak-anak :ersebut, para ahli pendidikan Islam menyerukan perlunya anak untuk bermain, gembira, dan rileks seusai belajar. Mari kita simak apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali ualam kitab Ihya’- nya mengenai hal ini:
Sudah seharusnya anak diizinkan setelah kegiatan belajarnya untuk bermain yang baik agar ia bisa beristirahat dari kepenatan belajar, sehingga anak tidak merasakan kepenatan dalam kegiatan bermainnya. Jika anak dilarang bermain dan terus dipaksa belajar, maka itu bisa mematikan hatinya, menghapus kecerdasannya, sampai anak mencari jalan untuk bisa terlepas dari kegiatan belajarnya tersebut.
AI-'Abdari juga sependapat dengan Al- Ghazali, mengenai pentingnya bermain dan rekreasi bagi anak setelah kegiatan belajar atau menyelesaikan tugasnya.
Hikmahnya, sebagaimana yang telah kita ketahui, untuk menghilangkan rasa bosan dan lelah dari diri anak dan memperbarui semangatnya. Selain menyegarkan otak dan menghindarkan fisik anak dari terkena serangan penyakit (karena kelelahan).
Namun, bagi para pendidik harus memperhatikan dua hal pada kegiatan bermain anak. Pertama, kegiatan bermain anak jangan sampai membuat anak lebih kelelahan, karena itu bisa membahayakan fisiknya. Nabi Saw; telah bersabda:
"Tidak boleh membuat bahaya dan membahayakan." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Kedua, kegiatan bermain jangan dilakukan pada waktu anak melakukan kewajiban atau tugas yang harus ia selesaikan, karena itu sama dengan menyia-nyiakan waktu dan menghilangkan manfaat. Nabi Saw, telah bersabda:
“Semangatlahpadahalyang bermanfaat bagimu dan mintalah tolong kepada Allah dan janganlah menjadi lemah." (HR. Muslim)

4.   Adakan Kerjasama antara Rumah, Masjid, dan Sekolah
Di antara faktor efektif dalam pembentukan kepribadian intelektual anak, rohani, 
dan fisiknya adalah mengadakan kerjasama yang baik antara rumah, sekolah, dan masjid. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa rumah memiliki peranan tanggung jawab nomor satu dalam mendidik anak dari segi fisiknya. Maka dari itu, termasuk dosa besar bagi siapa saja yang menyia- nyiakan dan mengabaikan hak anak tersebut. Nabi bersabda:
"Cukuplah seseorang berdosa dengan menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Abu Dawud)
Dalam sebuah riwayat:

"Cukuplah seseorang berdosa bahwa ia menahan dirinya dari orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Muslim)
Begitu pula, sudah ditegaskan bahwa masjid di dalam Islam memiliki fungsi utama sebagai tempat pendidikan rohani, berupa shalat jamaah, membaca Al-Qur'an, dan rahmat Allah tidak pernah berhenti dan terputus di sana. Diriwayatkan dari Abu Hurairah. bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Shalat seseorang dalam jamaah akan dilipatgandakan daripada shalatnya di rumah dan di pasarnya sebesar dua puluh lima kali lipat. Dan hal itu apabila ia berwudhu lalu membaguskan wudhunya, kemudian keluar ke masjid, di mana ia tidak dibuat keluar rumah kecuali shalat, ia tidak melangkah satu langkah pun kecuali diangkat derajatnya dan dihapus kesalahannya. Lalu apabila ia shalat, para malaikat terus-menerus mendoakannya selama ia berada di dalam tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats. Malaikat berkata, 'Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.' Dan ia dianggap terus-menerus shalat selama ia menunggu shalat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw, bersabda:
 
"Tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah, dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun ketenangan kepada mereka, ramhat melingkupi mereka, para malaikat meliputi mereka, dan Allah menyebutkan mereka di nadapan semua yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim)
Semua sepakat, kalau fungsi utama sekolah itu adalah untuk mendidikan intelektualitas anak. Sebab, ilmu pengetahuan memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian dan mengangkat derajat kemuliaan manusia. Karenanya, ilmu memiliki keutamaan yang besar dalam pandangan Islam. Rasulullah Saw, bersabda:
“Barangsiapayang keluar mencari ilmu, maka ia sedang berada di jalan Allah sampai ia kembali." (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah Saw juga bersabda:
"Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah pasti memudahkan untuknya jalan menuju surga" (HR. Muslim)

Nabi Saw bersabda:
"Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya untuk pencari ilmu karena ridha terhadap apa yang sedang mereka lakukan. Seorang yang berilmu akan dimintakan ampunan untuknya oleh penghuni langit dan bumi sampai ikan-ikan paus di dalam air." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Nabi Saw, juga bersabda:
"Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan bulan melebihi atas seluruh bintang." (HR. Abu Dawud dan At- Tirmidzi)

Ketika kami mengatakan harus ada kerja sama antara rumah, masjid, dan sekolah, artinya bahwa anak akan menjadi sempurna kepribadiannya baik itu rohani, jasmani, akal, dan mental sebagai hasil dari kerjasama tersebut. Bahkan, ia menjadi anggota masyarakat yang aktif dalam memajukan umat dan memuliakan agamanya.
Namun, kerjasama ini tidak akan bisa maksimal jika belum memenuhi dua syarat asasi berikut ini. Pertama, tidak adanya dualisme atau paradoks antara pengarahan yang diberikan rumah dan sekolah. Kedua, kerjasama yang terjalin harus bertujuan untuk mengadakan integritas dan keseimbangan dalam membentuk kepribadian anak yang islami.
Jika kerja sama tersebut sudah mencakup dua hal tersebut, maka anak akan memiliki kepribadian yang sempurna, mencakup rohani, jasmani, intelektual, dan mentalnya. Bahkan, ia menjadi manusia yang seimbang dan sempurna yang disenangi semua orang dan menjadi teladan yang baik.

Mengenai kerja sama dengan sekolah, ada beberapa hal yang ingin saya paparkan kepada para pendidik dan orang tua sebagai berikut:
a.   Banyak pengajar di sekolah dan perguruan tinggi beranggapan bahwa pendidikan yang benar hanyalah dengan mengikuti apa yang datang dari barat.
Baik itu kebiasaannya, tradisinya, sampai dalam masalah keyakinan dan pemikiran.
b.   Mereka inilah yang mendidik anak- anak kaum muslimin dengan cara barat dan metodologi atheisme yang menyimpang. Karena perasaan, hati, dan akal mereka sudah terpengaruh oleh apa yang datang dari barat.
c.   Buku-buku pelajaran yang diajarkan kepada anak di sekolah penuh dengan penyimpangan dari ajaran Islam, pen- celaan terhadap agama, dan ajakan kepada kekufuran dan atheisme. Kita sebut saja contohnya dalam buku ilmu sosial tingkat menengah atas di Suriah. Di dalamnya disebutkan bahwa setiap ajakan untuk menegakkan eksistensi politik yang berlandaskan kepada agama adalah ajakan yangbodoh. Selain itu juga dalam buku ilmu pengetahuan alam, diajarkan teori Darwin  yang dianggap sebagai kebenaran ilmiah untuk menjadikannya sebagai alat untuk meragukan adanya Sang Pencipta. Karena pada hakikatnya, ilmu pengetahuan [sains) sendiri telah membatalkan teori tersebut. Dalam buku-buku sastra terkonsentrasikan pada pakaian hijab di dalam Islam, yang dianggap sebagai ketertinggalan atau kemunduran. Selain itu juga terpusatkan pada pembahasan sejarah Islam yang dianggap sebagai sejarah feodal dan diktator.

d.   Pengajaran agama minim sekali jika dibandingkan dengan seluruh materi sains dan sastra yang diajarkan kepada siswa di sekolah. Maka siswa muslim- dengan sistem pengajaran yang seperti itu-bagaimana mungkin bisa bagus bacaar Al-Qur'an-nya, mengenal hukum- hukun, syariah, mengetahui sirah dan sejarah. Karenasekolahtidakmemberikan itu semua. Maka siswa keluar atau lulus dari sekolah dengan wawasan keislaman, pemahaman tentang sistem Islam, ilmu- ilmu Al-Qur’an, dan sejarah Islam yang sangat terbatas.

Jika pendidik di rumah tidak menjalankan tanggung jawab pendidikannya dengan semestinya, maka sudah bisa dipastikan anak akan melenceng akidahnya dan menyimpang akhlaknya. Pada saat seperti itu, sudah tidak berguna lagi memberi arahan kepada anak dan sulit untuk bisa meluruskannya kembali.
Berdasarkan pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa orang tua di rumah set agai penanggung jawab pertama pendidikan anak secara jasmani dan akhlak. Sedangkan di masjid, anak dididik rohaninya dan di sekolah anak dididik akidah, pengetahuan, dan wawasannya.
Jika d rasakan anak di sekolah tidak dididik dengan prinsip-prinsip Islam dan tidak mendapatkan pendidikan yang berkaitan dengan syariah, maka orang tua harus bangkit untuk menjalankan tanggung jawab tersebut. Bahkan, ia harus melipatgandakan usaha dan waktunya demi manfaat yang besar dan kebikan yang banyak untuk anak. Seperti dengan mencarikan guru agama yang baik, memilihkan teman yang shaleh, dan membiasakan anak mendengarkan dakwah yang menggugah. Dengan cara seperti itu, orang tua atau pendidik telah membentengi anak dengan akidah Islam yang kuat dan akhlak Islam yang lurus. Maka anak tidak akan terpengaruh dengan pemikiran atheis dan akhlak hedonis.

5.   Kuatkan Hubungan antara Pendidik dan Anak
Di antara kaidah pendidikan yang disepakati oleh para sosiolog, psikolog, dan ahli pendidikan adalah menguatkan hubungan antara pendidik dan anak. Untuk menyempurnakan interaksi pendidikan dengan sebaik-baiknya, selain menyempurnakan pembentukan intelektual, mental, dan akhlak anak.
Halinidisebabkan,jikaterjadikeretakan hubungan atau adanya jarak antara anak dan pendidik, maka tidak mungkin terjadi pengajaran atau terwujudnya proses pendidikan. Oleh karena itu, orang tua dan pendidik lainnya harus mencari sarana dan cara yang positif serta aktif untuk membuat anak mencintai mereka, menguatkan hubungan di antara mereka, membuat kerjasama, dan membuat mereka merasa disayangi.
Berikut ini beberapa cara untuk memperkuat hubungan antara anak dan pendidik:
a.   Pendidik harus selalu tersenyum kepada anak. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Dzarr
"Senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah." (HR. At-Tirmidzi)

b.   Menyemangati anak dengan memberi hadiah setiap kali anak melakukan sesuatu yang baik atau saat ia berprestasi. Seperti yang diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah bersabda:
"Hendaklah kalian saling memberi hadiah, pasti kalian saling mencintai." (HR. Ath-Thabrani)

c.   Membuat anak merasa disayangi. Seperti yang diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapayang memasuki pagi hari tidak peduli kepada keadaan kaum muslimin, maka dia bukan termasuk dari golongan mereka." (HR. Al-Baihaqi)

d.   Memperlakukan anak dengan akhlak yangbaik. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi Saw, bersabda:
"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut kepada keluarganya." (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Al- Hakim)

e.   Pendidik memenuhi keinginan anak agar itu menjadi pertolongan untuk anak dalam berbuat baik kepada orang tuanya. Sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: "Semoga Allah merahmatiseorang ayah yang membantu anaknya untuk berbuat baik kepada dirinya." (Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh]

f.   Pendidik harus bisa cair dengan anak dan . bertindak seperti anak-anak. Seperti yang diriwayatkan dari Jabir "Aku masuk menemui Nabi Saw, yang sedang berjalan dengan kedua tangan dan lututnya, sedangkan Al-Hasan dan Al-Husain berada di punggung beliau. Sambil beliau berkata:
'Sebaik-baiknya unta adalah unta kalian berdua ini, dan sebaik-baiknya pelana idalan kalian berdua ini'.” (HR. Ath-Thabrani)

Nabi Saw adalah contoh yang ideal dalam penerapan sarana-sarana positif di atas di :engah-tengah para shabatnya dan keluarganya. Dari sisi senyuman, Abu Darda' berkata (sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad), "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah Saw menceritakan satu hadits kecuali beliau sambil tersenyum.”
Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah m, "Rasulullah Saw tidak pernah berpaling dariku sejak aku masuk Islam. Beliau juga selalu melibatku dengan tersenyum.” (HR. At-Tirmidzi‘
Dari sisi memberi hadiah, Nabi Saw selalu meneraima hadiah dan membalas orang yang memberi hadiah kepadanya. Dari sisi kasih sayangnya kepada anak- anak dan perhatian beliau kepada mereka, Nabi sering mengusap kepala anak-anak dan menciumnya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah , "Rasulullah Saw mencium Al-Hasan dan Al-Husain, dua anak laki-laki Ali, sedangkan bersama beliau ada Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi yang sedang duduk. Al-Aqra’ berkata, Aku memiliki sepuluh orang anak, tapi aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka.’ Maka Rasulullah Saw melihat kepadanya, kemudian berkata:
'Orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi’" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw jika diberi buah yang baru dipetik, beliau memberikannya kepada anak-anak yang ada bersama beliau.” (HR. Ath-Thabrani)

Diriwayatkan dari Anas bahwa Nabi Saw bersabda:
"Sesungguhnya aku akan melaksanakan shalatdan aku ingin memanjangkannya. Namun, aku mendengar tangisan bayi, maka aku meringankan shalatku karena aku mengetahui akan beratnya perasaan ibunya karena tangisan bayi tersebut." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)



Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1564
  • Logged
Dari sisi kelembutan akhlaknya kepada para shabahat, sangat banyak sekali sehingga tidak mungkin untuk dihitung. Anas berkata, "Demi Allah, aku telah melayani Nabi Saw selama 10 tahun. Namun, beliau belum pernah mengatakan ah padaku. Dan aku belum pernah mendengar beliau mengomentari sesuatu pada apa yang aku lakukan, 'Kenapa engkau melakukan ini?’ Atau mengomentari yang tidak aku lakukan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan ini dan itu?’" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Abu Nu'aim, Anas berkata, "Nabi Saw tidak pernah mencelaku, tidak pernah memukulku, tidak pernah membentakku, tidak pernah bermuka masam, dan beliau tidak pernah menghukumku ketika memerintah sesuatu kepadaku, lalu aku bermain-main dahulu. Jika ada salah seorang dari keluarganya yang menegurku, beliau berkata, 'Biarkan saja dia, kalau ia mampu niscaya ia akan mengerjakannya'."
Diriwayatkan dari 'Aisyah , ia ditanya, "Bagaimana Rasulullah Saw ketika sendirian di rumahnya?” ‘Aisyah menjawab, "Beliau adalah orang yang paling lembut, murah senyum, mudah tertawa. Beliau tidak pernah menjulurkan dua kakinya di hadapan para shahabatnya."
Hal itu karena keagungan etika beliau dan kesempurnaan wibawa yang dimilikinya.
Diriwayatkan dari 'Ali, "Ammar meminta izin kepada Nabi Saw untuk masuk, maka beliau mengenali suaranya. Beliau berkata:

"Selamat datang kepada orang yang baik dan membuat baik orang lain."
(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Diriwayatkan dari Anas bahwa Nabi Saw bertemu dengan seseorang, maka beliau berkata kepadanya, "Wahai fulan, bagaimana keadaanmu?" Laki-laki itu menjawab, 'Alhamdulillah, baik.” Lalu Nabi Saw berkata kepadanya:
 
"Semoga Allah menjadikanmu baik."
(HR. Ahmad)
Diriwayatkan dari Jarir bin ‘Abdullah Al-Bajalli, "Ketika Nabi Saw diutus, aku datang kepadanya. Beliau bertanya, 'Apa yang membawamu datang kemari?' Aku berkata, ‘Aku datang untuk masuk Islam.’ Maka beliau memberikan kainnya kepadaku, sembari berkata:
 
'Apabila datang kepada kalian seorang yang mulia dari satu kaum, maka muliakanlah mereka'." (HR. Ath-Thabrani)
Samak bin Harb berkata, "Aku berkata
kepada Jabir bin Samurah, 'Apakah engkau pernah duduk-duduk bersama Rasulullah Saw?' Jabir menjawab, ‘Ya, sering. Rasulullah Saw tidak akan beranjak dari tempatnya melaksanakan shalat Subuh sampai terbitnya matahari. Dan ketika matahari telah terbit, beliau berdiri. Sedangkan para shahabat sedang berbincang-bincang mengingat perkara di masa jahiliyah, sampai mereka tertawa dan beliau hanya tersenyum’." (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Anas, "Jika Nabi Saw (masin hidup) beliau pasti bercanda dengan kami. Sampai beliau berkata kepada salah seorang saudaraku, ‘Wahai Abu 'Umair, bagaimana keadaan nughair (nama burung)?’ Karena Abu ‘Umair pernah memiliki seekor burung, lalu mati. Sehingga a bersedih karenanya. Maka Nabi Saw berkata kepadanya, ‘Wahai Abu ‘Umair, bagaimana keadaan nughair?'” (HR. Al- Bukhari dan Muslim)
Berangkat dari sarana-sarana positif ini yang digunakan Nabi Saw dalam berinteraksi dengan para shahabatnya, sampai anak- anak sekali pun, membuat para shahabat sangat mencintai beliau dengan setulus hati. Mereka rela berkorban demi beliau, seperti yang diterangkan Allah dalam firman-Nya:
 
"...Dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul..." (QS. At-Taubah [9]: 120)
Mereka tidak pernah mendahulukan orang lain selain beliau.
Adapun bukti cinta mereka yang tulus adalah seperti yang tergambar dalam perkataan Amirul Mukminin, Ali, ketika ditanya tentang kecintaan para shahabat kepada Rasulullah Saw. Maka Ali menjawab, "Rasulullah Saw adalah orang yang paling kami cintai daripada harga, anak, ayah, dan ibu kami. Beliau juga orang yang paling kami cintai daripada air yang dingin ketika kami kehausan."
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Ishaq bahwa seorang perempuan dari kaum Anshar, ayahnya, saudaranya, dan suaminya telah terbunuh menjadi syuhada’ pada perang Uhud bersama Rasulullah Ketika ia diberitahukan tentang hal itu, ia berkata, "Lalu bagaimana keadaan Rasulullah Saw?” (ia langsung menanyakan keselamatan Rasulullah). Mereka menjawab, "Beliau baik-baik, alhamdulillah, sebagaimana yang engkau harapkan." Perempuan tersebut berkata, "Tunjukkan di mana beliau, agar aku dapat melihatnya.” Ketika ia melihatnya, ia berkata, "Semua musibah menjadi ringan, setelah mengetahui engkau selamat.”
Bukti lain kecintaan mereka yang dalam, mereka tidak bisa bersabar ketika berpisah dengan beliau, baik di dunia maupun akhirat.
Diriwayatkan dari 'Aisyah bahwa Tsauban mendatangi Nabi Saw lalu berkata, "Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada keluarga dan hartaku. Jika aku mengingatmu, aku merasa tidak tenang sampai aku bertemu denganmu. Kemudian aku teringat akan kematianku dan kematianmu, maka aku tahu bahwa engkau pasti ketika masuk surga menduduki derajat yang tinggi bersama para nabi. Sedangkan aku seandainya masuk surga, pasti aku tidak akan pernah bertemu denganmu.” Maka turunlah ayat ini:
 
"Dan barangsiapa yang menaati Aliah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yana sebaik-baiknya." (QS. An- Nisa’ [4]: 69]
Maka Nabi Saw mendoakannya dan membacakan ayat tersebut kepadanya. (HR. Ath-Thabrani)
Tangisan mereka terhadap Nabi Saw menjadi salah satu bukti kecintaan mereka yang tulus dan mendalam ketika mengingat Rasulullah Saw. Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari 'Ashim bin Muhammad dari ayahnya, ia berkata, "Setiap kali aku mendengar Ibnu ‘Umar menyebutkan tentang Rasulullah Saw, pasti kedua matanya menangis.”
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Sa'ad dari Anas, "Setiap malam aku pasti melihat kekasihku Rasulullah Saw Kemudian ia menangis.
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dengan sanad yang baik, dari Bilal bahwa ketika ia singgah di Badari (sebuah tempat dekat Syam] ia bermimpi melihat Nabi Saw (yaitu setelah beliau wafat] di mana beliau berkata, "Wahai Bilal, mengapa ada jarak di antara kita? Kapankah engkau mengunjungiku?" Maka Bilal langsung terbangun dengan rasa sedih dan takut, la pun segera menaiki untanya dan langsung menuju Madinah. Setelah itu, ia mendatangi kuburan Nabi Saw dan langsung menangis meletakkan wajahnya di atas kubur beliau.
Al-Hasan dan Al-Husain pun datang, lalu Bilal langsung memeluk mereka berdua dan menciumnya. Mereka berdua berkata, "Kami sangat ingin mendengar azanmu yang pernah engkau kumandangkan untuk Rasulullah Saw di masjidnya.” Lalu Bilal naik ke atas masjid dan berdiri di tempat ia dulu berdiri di sana. Maka ketika ia mengucapkan, "Allahu Akbar, Allahu Akbar" Madinah
bergetar. Lalu ketika ia mengucapkan, "Asyhadu alla ilaha illallah," Madinah semakin bergetar. Ketika ia mengucapkan, "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah," kaum perempuan keluar dari tempat- tempat mereka seraya berkata, "Apakah Rasulullah Saw telah dibangkitkan? Maka tidak pernah terlihat orang yang paling banyak menangis di Madinah sepeninggal Rasulullah Saw daripada hari itu."
Hal itu disebabkan mereka teringat Rasulullah Saw ketika mendengar azan Bilal, muazin Rasulullah Saw.
Ramainya tangisan para shahabat ketika walatnya Nabi Saw, juga merupakan salah satu tanda kecintaan mereka terhadap besiau. Al-Waqidi meriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata, "Ketika ka ni berkumpul, kami menangis karena wafatnya Rasulullah Saw sehingga kami tidak tidur. Dan ketika itu (jenazah) Rasulullah Saw berada di rumah, kami menghibur diri dengan melihat beliau di atas ranjang. Tiba-tiba kami mendengar suara alat yang sedang menggali pada dini hari. Bilal pun melantunkan azan fajar dengan napas keras. Maka kesedihan kami menjadi bertambah. Orang-orang kemudian masuk ke kubur beliau, lalu mereka ditahan agar tidak ikut masuk ke liang kubur ketika beliau sedang dikubur.”
Ummu Salamah berkata, "Sungguh suatu musibah. Tidak ada satu musibah yang menimpa kami setelah itu melainkan musibah itu terasa ringan, jika kami ingat musibah yang menimpa kami dengan meninggalnya Rasulullah
 
Berdasarkan pemaparan tentang sarana dan cara positif yang Rasulullah Saw, lakukan dalam membuat orang- orang mencintai beliau, jelaslah bahwa di antara asas yang paling besar dalam membentuk pribadi muslim yang sejati, mendidiknya dengan budi yang luhur, dan membiasakannya dengan akhlak yang mulia adalah dengan menguatkan ikatan kecintaan, persaudaraan, dan saling memahami di antara pendidik dan anak. Untuk mewujudkan tujuan yang diharapkan pendidik dan melihat anak tumbuh di tengah taman orang-orang shaleh dan bertakwa.
Jika Anda, sebagai pendidik, ingin anak Anda merespons seruan Anda, mendengarkan nasihat dan bimbingan Anda, maka yang harus Anda lakukan adalah melakukan tuntutan Islam dalam membuat anak mencintai Anda, dan mengikuti teladan Nabi Saw dalam bermuamalah dengan para shahabatnya. Dengan cara tersebut, maka Anda telah menjalani cara mendidik yang baik, yang selanjutnya Anda pun dapat memiliki hati anak Anda dan kecintaannya terhadap Anda. Sehingga anak akan menerima semua arahan dan nasihat Anda.

6.   Selalu Menjalankan Manhaj Pendidikan
Di antara tanggung jawab pendidik yang harus sangat diperhatikan adalah menerapkan manhaj tarbawi secara kontinu kepada anak setiap saat, sehingga anak terbiasa melakukannya hingga pada masa yang akan datang. Ketika ia 
melakukannya, ia akan menemukan segala hal yang bersifat edukatif sebagai suatu kebiasaan yangmerasukke dalam perasaan dan hatinya. Berikut paparan tentang manhaj yang diambil dari tuntunan Islam, semoga Anda dapat menjalankannya:

a. Pada waktu subuh/pagi hari
Hal paling indah yang menemani Anda dan anak bangun tidur adalah dzikir kepada Allah, yaitu dengan membaca doa yang ma’tsur dari Rasulullah Saw:

"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita setelah mematikan kita, dan hanya kepada-Nyalah kita kembali." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

"Tidak ada tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, ya Allah aku memohon ampun kepada-Mu terhadap dosa-dosaku, dan aku meminta rahmat- Mu. Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu, janganlah Engkau selewengkan hatiku setelah Engkau memberiku hidayah, dan berilah aku rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (HR. Abu Dawud)
Kemudian jika anak ingin masuk ke kamar mandi, ajarkanlah kepadanya etika masuk kamar mandi dan etika istinja’ (bersuci dari buang air dengan air)

□ Ajarkan kepada anak untuk mendahulukan kaki kiri ketika masuk ke kamar mandi dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar darinya. Karena, Nabi mencontohkan untuk mendahulukan yang kanan jika dalam hal yang baik dan mendahulukan yang kiri pada hal yang kotor.
Ajarkan anak ketika masuk ke kamar mandi membaca doa yang ma'tsur:
"Ya Allah, aku berlindung kepada- Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya)

□ Ajarkan kepada anak untuk tidak membawa sesuatu yang terdapat lafal Allah. Seperti yang diriwayatkan oleh Ashabu As-Sunan (Abu Dawud, At- Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah), dari Anas, ia berkata, 'Apabila Rasulullah Saw masuk ke kamar mandi, beliau meletakkan cincinnya yang berukirkankan Muhamad Rasulullah.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-
Hakim.

□ Ajarkan anak untuk tidak terlihat orang ketika buang air besar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabi, "Bahwa Nabi jika buang air besar, beliau menjauh sampai tidak dilihat seorang pun.” (HR. Abu Dawud)

□ Ajarkan anak untuk tidak menghadap kiblat atau membelakanginya saat buang air besar.
Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al- Anshari bahwa Nabi Saw bersabda:
"Apabila kalian buang air besar, maka janganlah kalian menghadap atau membelakangi kiblat. Akan tetapi, menghadaplah ke timur atau ke barat (sela.n kiblat)" [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

□Ajarkan anak untuk tidak buang air di tempat orang-orang berteduh, di jalan yang dilalui orang-orang, dan tempat- tempat mereka duduk. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
“Jauhilah dua perkara yang dapat menyebabkan laknat (kutukan)." Beliau ditanya, 'Apakah dua penyebab datangnya kutukan itu? Beliau bersabda, “Yaitu, buang air (besar atau kecil) di jalanan orang-orang dan tempat mereka berteduh.” [HR. Muslim dan Ahmad]

□   Ajarkan anak untuk tidak berbicara sama sekali ketika buang air. Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar bahwa ada seorang laki-laki yang melewati Nabi Saw[saat beliau sedang buang air kecil]. Maka laki-laki itu mengucapkan salam kepada beliau, namun beliau tidak menjawabnya.” [HR. Muslim dan lainnya)

□   Ajarkan untuk bersuci dari kencing dan menjauhi najis agar tidak terkena pakaian atau badannya. Karena kebanyakan siksa kubur itu disebabkan oleh tidak bersuci setelah kencing.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda:
 
“Bersucilah kalian dari kencing, karena kebanyakan siksa kubur disebabkan darinya.” [HR. Ad-Daraquthni)

□ Ajarkan untuk tidak bersuci dari buang air dengan tangan kanan. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Nabi Saw bersabda:

"Apabila salah seorang dari kalian kencing, maka janganlah memegang dzakarnya dengan tangan kanannya, dan jangan beristinja’ dengan tangan kanannya, dan jangan bernapas di dalam wadah(bejana]."(HR.Al-Bukhari dan Muslim)

□ Ajarkan anak untuk beristinja’ dengan kertas dan air, karena menyatukan antara kertas dan air itu lebih utama. Seperti yang diriwayatkan dari Anas m bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada penduduk Quba:
 
"Sesungguhnya Allah telah memuji kalian dengan sangat baik dalam bersuci. Apakah yang telah kalian lakukan?" Mereka menjawab, “Kami menyatukan antara batu dan air dalam beristinja." (HR. Al-Bazzar, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)

□ Ajarkan anak ketika keluar dari kamar mandi untuk mendahulukan kaki kanan sambil membaca doa ma’tsur:
 
"Aku memohon ampunan-Mu." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
 
“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan menyehatkanku"(HR. Ibnu Majah)
Terdapat juga dalam riwayat lain yang mengajarkan:
,
"Segala puji bagi Allah yang telah membuatku merasakan kenikmatannya, menetapkan padaku kekuatannya, dan menghilangkan dariku penyakitnya."

□ Ajarkan kepada anak ketika keluar kamar mandi untuk mencuci kedua tangannya dengan air dan sabun. Seperti yang diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah, "Aku pernah bersama Nabi Saw. Maka beliau masuk ke kamar mandi untuk buang air. Kemudian 
beliau berkata:
 
'Waha ]arir, berikan padaku alat untuk bersuci.'

Maka aku pun membawakannya air. Beliau kemudian bersuci dan berisyarat dengan tangannya, lalu menggosok-gosokkannya  dengar tanah." (HR. An-Nasa'i}
Kemudian mulailah berwudhu bersama anak:

□ Jelaskan kepadanya bahwa wudhu dapat menghapuskan dosa. Seperti yang diriwayatkan Abu Hurairah  bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu lalu ia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya setiap kesalahan yang ia lihat dengan kedua matanya bersama air, atau bersama tetesan air terakhir. Kemudian ketika ia mencuci kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya setiap kesalahan yang ia lakukan oleh kedua tangannya bersama air, atau bersama tetesan air terakhir. Lalu ketika ia mencuci kedua kakinya, maka keluarlah setiap kesalahan yang dilakukan kakinya bersama air, atau tetesan air terakhir, sampai ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa." (HR. Muslim]
□ Ajarkan doa yang ma’tsur setelah ia selesai berwudhu:

"Aku bersaksi bahwa tidak ada ilahyang berhak disembah kecuali Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya." (HR. Muslim dan Ahmad]

"Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobatdan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci." (HR. At-TirmidziJ
"Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi tidak ada ilah yang hak disembah kecuali Engkau, aku meminta ampun kepada- Mu dan aku bertobat kepada-Mu." (HR. An-Nasa'i)

□ Ajarkan untuk shalat dua rakaat setiap setelah berwudhu. Seperti yang diriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir Al- Juhni, Rasulullah Saw bersabda:

“Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu ia sempurnakan wudhunya, kemudian shalat dua rakaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya, kecuali wajib baginya surga." (HR. Muslim dan Ahmad)
Kemudian mulailah shalat malam yang ringan bersamanya. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah Saw bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian berdiri shalat di waktu malam, maka bukalah dengan dua rakaat yang ringan." (HR. Muslim dan Abu Dawud]
Sebelum shalat, berdoa dulu dengan doa tahajjud. Seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ia berkata, "Jika Rasulullah berdiri pada malam hari untuk tahajjud, beliau mengucapkan:
Ya Allah ya Rabb kami, bagi-Mu segala puji, Engkau adalah pemelihara langit dan bumi dan semua yang berada di dalamnya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau adalah cahaya langit dan bumi dan semua yang berada di dalamnya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Raja langit dan bumi dan semua yang berada di dalamnya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau adalah kebenaran, janji-Mu benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, firman-Mu adalah benar, neraka adalah benar, surga adalah benar, oara nabi adalah benar, dan Muhammad adalah benar, dan Hari Akhir c dalah benar. Ya Allah hanya kepada Mu aku berserah diri, hanya kepada Mu aku beriman, hanya kepada- Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku kembali, hanya karena-Mu aku berbantah-bantahan, danhanyakepada- Mu aku berhakim. Maka ampunilah aku atas apa-apa yang telah aku perbuat dahulu ianyang akan datang, dan atas apa-apa yang aku sembunyikan dan apa yang aku tampakkan. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, tiada ilah yang hak disembah selain Engkau, dan tiada ilah setain Engkau" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Untuk shalat malam tidak ada batas rakaat tertentu, maka shalatlah semampunya dan permudahlah.   Shalatlah dua
rakaat dua rakaat. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi Saw bersabda:
"Shalat   malam   itu   dua-dua,   maka apabila   engkau   takut Subuh,   maka
shalatlah Witir satu rakaat." (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

□ Salah satu keutamaan shalat malam adalah sebagai jalan menuju ke surga. Abdullah bin Salam meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:
 
"Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, dan shalat malamlah ketika orang-orang sedang tidur, kalian pasti masuk surga dengan selamat." (HR. At-Tirmdzi)
□ Orang yang melakukan shalat malam ditulis di sisi Allah sebagai orang yang suka berdzikir. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Sa'id, ia berkata bahwa Rasulullah Saw
"Apabila seseorang membangunkan istrinya pada malam hari, lalu mereka berdua shalat atau shalat dua rakaat bersama-sama, maka keduanya ditulis sebagai orang-orang yang suka ber- dzikir dari laki-laki dan perempuan." (HR. Abu Dawud)
□ Sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan penghapus dosa- dosa. Abu ‘Umamah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
 
"Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena ini adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, (sebagai cara untuk) mendekatkan diri kepada Rabb kalian, penghapus terhadap dosa-dosa, dan pencegah dari berbuat dosa." [HR. At-Tirmidzi)
Kemudian shalat Subuhlah di masjid. Ajarkan anak doa setelah adzan. Seperti yang diriwayatkan Abdullah bin Amr bin Al-Ash , bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:
 
"Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya (muazin) . Kemudian bershalawatldh kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah pasti bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku. Karena, wasilah itu adalah satu kedudukan yang tidak layakkecualihanya untuksalahseorang hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba tersebut. Maka barangsiapa yang memintakan untukku wasilah, ia pasti mendapatkan syafaat." (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Doa setelah azan yang shahih dari Rasulullah "Barangsiapa yang membaca ketika mendengar azan:
Ya Allah Rabb Pemilik panggilah yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan ini, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, dan tempatkanlah ia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan! Maka ia pasti mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat" (HR. Al-Bukhari)
□ Ajarkan anak keutamaan shalat jamaah di masjid. Seperti yang diriwayatkan dari Burasdah bahwa Nabi Saw bersabda:
"Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid-masjid, (bahwa ia akan mendapatkan) cahaya sempurna pada hari Kiamat." (HR. Abu Dawud dan At- Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah m bahwa Nabi Saw, bersabda:
 
"Barangsiapayang bersuci di rumahnya, kemudian ia pergi ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan salah satu kewajiban Allah, maka langkah-langkah (kakinya) itu, langkah (kaki)yang satu menghapus kesalahan, dan langkah lainnya mengangkat derajat.” (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebesar dua puluh tujuh derajat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
□ Ajarkan anak bacaan tasbih dan doa setelah selesai shalat.
Abu Hurairah m berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa yang bertasbih (membaca subhanallah) tiga puluh tiga kali di akhir setiap shalat, bertahmid (membaca al-hamdulil-Lah) tiga puluh tiga kali, dan bertakbir (Allahu Akbar) tiga puluh tiga kali, dan bacaan itu adalah sembilan puluh Sembilan, kemudian mengucapkan penyempurna menjadi seratus, 'Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa lagi tidak ada sekutu bagi-Nya, milik- Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya’ maka diampuni dosa-dosanya walaupun banyaknya seperti buih di lautan." [HR. Muslim)
Doa setelah shalat Shubuh dan Maghrib:
 
"Ya Allah lindungilah aku dari api neraka." [Dibaca sebanyak) tujuh kali. [HR. Abu Dawud)

"Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu surga.” [Dibaca sebanyak) delapan kali.
Doa setelah shalat:
 
"Ya Allah, Engkaulah keselamatan dan dari-Mu lah keselamatan, Mahamulia Engkau, wahai yang memiliki kemegahan dan kemuliaan." [HR. Muslim)
''Tidak ada ilah yang hak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa lagi tidak ada sekutu bagi-Nya, milik- Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala puji, yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatunya." Sepuluh kali. [HR. At-Tirmidzi)
 
"Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada- Mu." [HR. Abu Dawud)

"Ya Allah, jagalah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu." (HR. At-Tirmidzi)
Lalu membaca ayat Kursi, surat Al- Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Nas.
Lalu membaca, "Subhanallah, alham- dulillah, can Alldhu Akbar," 33 kali. (HR. Muslim]
Kemudian untuk menyempurnakan seratus ucapkanlah:
"Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Aliah Yang Maha Esa lagi tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya." (HR. Muslim)
Dan doa-doa ma'tsurah lainnya...
Jelaskan pula kepada anak makruhnya shalat sunnah setelah shalat Subuh dan Asar. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Tidak ada shalat setelah Subuh sampai matahari meninggi dan tidak ada shalat setelah Asar sampai matahari hilang di ufuk." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Jelaskan padanya makruhnya shalat ketika terbit matahari, saat matahari di atas kepala, dan ketika terbenam. Seperti yang diriwayatkan dari 'Uqbah bin Amir "Ada tiga waktu di mana Rasulullah Saw melarang kami melakukan shalat padanya atau menguburkan jenazah. Ketika terbit matahari sampai meninggi, ketika matahari di atas kepala sampai tergelincir, dan ketika matahari condong untuk terbenam sampai terbenamnya." (HR. Muslim dan yang lainnya)
Kemudian lakukan dzikir pagi bersama anak, sebab terdapat perintah dan anjuran untuk melakukannya. Allah berfirman:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu ..." (QS. Al-Baqarah [2]: 152)
"Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A‘raf [7]: 205)
 
"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al- Ahzab[33]: 41-42)
Rasulullah bersabda:
"Ada dua kalimat yang ringan di lisan namun berat dalam timbangan (amal), dan dicintai Ar-Rahman (yaitu), ‘Mahasuci Allah dan dengan memuji- Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung'." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda:
 
“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak berdzikir (mengingat) Rabbnya bagaikan yang hidup dan yang mati." (HR. Al-Bukhari)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah., "Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, semalam aku menemukan seekor kalajengking yang menyengatku.’ Beliau bersabda, ‘Seandainya engkau pada saat sore harinya mengucapkan:
 
'Aku berlindung kepada kalimat- kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah Dia ciptakan,'
pasti kalajengking itu tidak akan membahayakanmu." (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw apabila pada pagi hari, beliau mengucapkan:

"Ya Allah, dengan nama-Mu kami memasuki pagi hari, dengan nama-Mu kami memasuki sore hari, dengan nama- Mu kami hidup, dan dengan nama-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu lah kami dibangkitkan."

Dan apabila waktu sore, beliau mengucapkan:

"Ya Allah, dengan nama-Mu kami memasuki sore, dengan nama-Mu kami hidup, dan dengan nama-Mu kami mati, can hanya kepada-Mu lah kami kembali." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Kemudian bacalah beberapa ayat Al- Qur'.mbersamaanakAnda. Karena,terdapat hadits-hadits shahih yang menerangkan tentang keutamaan membaca Al-Qur'an. Diriwayatkan dari Abu Umamah mi bahwa Rasulullah Saw bersabda:
 
"Bacalah Al-Qur'an, karena pada hari Kiamat ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari 'Utsman bin Affan, Rasulullah Saw bersabda:
Diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud, Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan, 'aliflam mim'itu satu huruf, tetapi 'alif' satu huruf, iam' satu huruf, dan 'mim' satu huruf." (HR. At-Tirmidzi dan ia berkata, 'Haditsnya hasan shahih’)
Maka dari itu, jangan sampai Anda dan anak Anda lupa belum membaca Al- Qur'an, walaupuan hanya beberapa ayat saja. Dan sebaik-baiknya amal adalah yang dilakukan secara berkesinambungan, walaupun sedikit.
Kemudian lakukan olahraga bersama anak, sebagai pengamalan firman Allah:
"Sebaik-baik orang di antara kalian ialah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
 
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..."[QS. Al-Anfal [8]: 60)
dan sabda Rasulullah Saw:

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan masing-masing memiliki kebaikan." (HR. Muslim)
Bertolak dari permisalan-permisalan penyegaran, sikap-sikap hiburan, serta prinsip-prinsip pembentukan dan persiapan yang garis-garis karakteristiknya telah dicontohkan Nabi Saw secara nyata agar menjadi qudwah bagi para pendidik (sebagaimana yang telah kita bicarakan sebelumnya), kegiatan olahraga ini meliputi, lari, gerak badan, loncat, gulat, angkat beban, dan lainnya. Alangkah indahnya ketika seorang pendidik bersama dengan orang yang menjadi tanggung jawabnya dapat menyatukan antara ibadah dan jihad, antara rohani dan jasmani, antara kesungguhan dan senda gurau, antara agama dan dunia, dan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
Sungguh mulia seorang pendidik, ketika ia dapat menampakkan Islam yang aplikatif melalui arahan dan perbuatannya. Selain itu juga menunjukkan Islam yang toleran dan muamalah yang baik kepada buah hati.
Kemudian bersama anak lakukanlah kegiatan untuk menambah pengetahuan. Hal ini sebagai pelaksanaan dari firman Allah:
 
"...Dan katakanlah, 'Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan'" (QS. Thaha [20]: 114)
Serta sebagai pengamalan sabda Rasulullah Saw:

"Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah pasti memudahkan untuknya jalan menuju surga." [HR. Muslim)
Jika anak sudah sekolah, kegiatan pada pagi hari bisa ditambah dengan menyiapkan pelajaran yang harus dibawanya ke sekolah, memeriksa tugas, dan bisa juga sambil mengulang pelajaran yang telah lalu untuk menambah wawasan serta mematangkan pikiran dan pengetahuan anak. Sedangkan jika anak sudah bekerja, maka kegiatan yang dilakukan adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Di mana anak duduk mengisi waktu paginya dengan membaca berbagai jenis pengetahuan agar anak dapat sampai pada kematangan akal, berwawasan luas, dan berpengetahuan banyak.
Seorang pendidik bisa juga meminta tolong kepada seorang guru atau orang dewasalainnyauntukmembentukpengeta- huan anaknya, studi, dan wawasannya. Jika ia tidak memiliki waktu luang untuk itu.
Jangan lupa pula lakukan shalat Dhuha bersama anak. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits shahih mengenai keutamaan shalat Dhuha, Diriwayatkan dari Abu Hurairah, "Kekasihku (Rasulullah Saw) mewasiatkan kepadaku untuk puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan melakukan witir sebelum tidur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Aisyah, “Rasululah Saw, biasa melakukan empat rakaat shalat Dhuha dan menambahkannya sesuai dengan kehendak Allah.” (HR. Muslim)
Minimal jumlah rakaat shalat Dhuha menurut jumhur ulama ahli fikih adalah 2 rakaat, dan paling banyak adalah 8 rakaat. Setelah kira-kira setengah jam terbitnya matahari dan berakhir pada tiga perempat jam sebelum Zuhur.
Setelah itu, lakukan sarapan bersama. Hendaklah ketika sarapan, pendidik memperhatikan etika makan dan minum seperti yangtelah dibahas dalam pembahasan Etika Makan dan Minum. Ajarkan etika tersebut kepada anak agar mereka terbiasa dengan etika tersebut dan menjadi akhlaknya.
Kemudian ajarkan etika keluar rumah. Adapun beberapa etika keluar rumah adalah sebagai berikut.
"Apabila salah seorang dari kalian mengenakan sandal, maka mulailah dengan yang kanan. Dan apabila melepasnya, mulailah dengan yang kiri." (HR. Muslim)

□ Ajarkan anak doa keluar rumah. Seperti yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Apabila seseorang keluar dari rumahnya, lalu ia mengucapkan:
 
'Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah.’

Saat itu dikatakan kepadanya, 'Engkau telah mendapat petunjuk, engkau telah dicukupkan, dan engkau telah dijaga.’ Maka setan-setan mundur menjauh darinya." (HR. Abu Dawud)
Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah Saw jika keluar dari rumahnya, beliau mengucapkan:

□ Ajarkan ia untuk mengenakan sepatu atau sandal yang dimulai dengan sebelah kanannya, sedangkan mendahulukan yang kiri ketika melepaskannya. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari tergelincir, tersesat,
berbuat zalim, dizalimi, berbuat kebodohan, atau dibodohi." (HR. At- Tirmidzi)

Setelah itu, praktikkan etika di jalan bersama anak, antara lain:
□ Ajarkan anak agar berjalan dengan rendah hati dan tidak sombong, atau dengan kata lain berjalan dengan cara yang normal. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah:
 
"Dan hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orangyang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata- kata (yang mengandung) keselamatan." (QS. Al-Furqan [25]: 63)

□ Ajarkan ia untuk menundukkan pandangan dari perempuan yang bukan mahramnya. Seperti firman Allah berikut ini:
 
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya...'”(QS. An-Nur [24]: 30)
 
"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya...'." (QS. An-Nur [24]: 30)

□ Ajarkan ia selalu mengucapkan salam assalamu 'alaikum, dan menjawabnya dengan ucapan wa 'alaikumus salam. Anda bisa baca kembali pembahasan Etika Salam pada bagian dua buku ini.
Di antara etika salam yaitu mengucapkan salam kepada orang yang dikenal atau pun tidak. Seperti yang diriwayatkan Abdullah bin Amr bin Al-Ash bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi "Islam seperti apakah yang paling baik?" Beliau menjawab:

"Engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal." (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

□ Ajarkan kepadanya untuk selalu bersalaman jika bertemu dengan temannya. Seperti yang diriwayatkan dari Al-Bara' bin ‘Azib bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Apabila dua orang muslim bersalaman dan memuji Allah Azza wa Jalla, dan meminta ampun kepada-Nya, mereka berdua pasti diampuni." (HR. Abu Dawud)
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu bersalaman/berjabatan tangan kecuali diampuni dosa mereka berdua sebelum keduanya berpisah." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

□ Ajarkan ia untuk menjauhi bahaya di jalan, yaitu dengan berhati-hati dari kendaraan yang berlalu lalang. Berdasarkan keumuman firman Allah

“...Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..." (QS.Al-Baqarah[2]:195)

□ Ajarkan anak untuk tidak membuang sesuatu yang membahayakan orang lain, seperti sesuatu yang dapat membuat orang lain terpeleset. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, "Tidak boleh membuat bahaya dan membahayakan." (HR. Malik, Ibnu Majah, dan Ad-Daraquthni)
Sebagaimana ia pun harus diajarkan untuk menghilangkan sesuatu yang membahayakan orang di jalan. Contohnya, menyingkirkan batu dan benda-benda yang bisa mencelakakan pengguna jalan lainnya. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda:
"Iman itu ada 70 cabang lebih. Cabang yang paling tinggi adalah ucapan la ilaha illallah danyang paling rendahnya adalah menyingkirkan bahaya dari jalan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim]

□ Ajarkan anak hak jalan secara umum. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri m. bahwa Nabi Saw bersabda, "janganlah kalian duduk- duduk di tepi jalan." Maka para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kami terpaksa karena hanya itu tempat kami berkumpul untuk berbincang- bincang.” Maka Rasulullah berkata, "Apabila kalian tidak bisa kecuali hanya untuk duduk di sana, maka berikanlah hak jalan tersebut." Mereka bertanya, "Apakah hak jalan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw bersabda:

"Tundukkan (menahan) pandangan, menahan diri dari menyakiti (mengganggu) orang lain, menjawab salam, memerintah kebaikan, dan melarang kemungkaran." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

□   Ajarkan anak jika ia pergi ke sekolah atau tempat kerjanya untuk menjaga hak temannya, yaitu mengucapkan salam jika bertemu, menjenguknya jika sakit, mendoakannya jika ia bersin, mengunjunginya saat ada acara-acara tertentu,menolongnyaketikamengalami kesulitan, dan memenuhi undangannya ketika diundang. Mengenai hal ini kami telah membahasnya secara lengkap pada pembahasan tentang hak teman pada bagian kedua buku ini.
□   Ajarkan anak untuk menjaga hak gurunya, baik guru di sekolah atau di tempat kerja, yaitu bersikap tawadhu’, melihat dengan pandangan penuh hormat, tidak lupa bahwa guru memiliki keutamaan yang lebih dari dirinya, bersabar menghadapi sikapnya ketika marah, duduk dengan sopan di hadapannya, masuk dengan meminta izinnya terlebih dahulu, dan mendengarnya ketika
ia sedang berbicara. Kami juga telah membahas tentang hak-hak tersebut dalam kitab ini .pada pembahasan terdahulu, silahkan Anda lihat kembali pembahasan tersebut.
Terakhir, ajarkan kepada anak agar sebelum keluar rumah untuk selalu bertakwa kepada Allah, merasakan selalu pengawasan-Nya baik ketika tersembunyi dan terlihat oleh orang lain, menjaga shalat pada waktunya, berteman dengan yang memiliki takwa dan iman, serta tidak menampakkan akhlak jelek yang dapat menghilangkan harga dirinya.

b.   Saat sore hari
Pada sore hari, pendidik bisa mengikuti manhaj berikut. Pertama, shalat Maghrib dan Isya di masjid. Hal ini berdasarkan hadits:
"Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

□ Kenakan pakaian yang bagus setiap kali shalat, seperti firman Allah Swt :
"...Pakailah pakaianmu yang indah tiap kali (memasuki) masjid..." (QS. Al-A'raf [7]: 31)

□ Jangan makan bawang putih atau bawang merah ketika akan pergi ke masjid agar tidak mengganggu orang- orang di sana dengan baunya. Seperti yang diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah, maka jauhilah masjid kami." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

□ Tunjukkan penampilan yang bersih dan baik di masjid dan di tempat lainnya. Seperti yang diriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyab dari Amir bin Sa'ad dari ayahnya, bahwa Nabi Saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah Mahabaik yang mencintai yang baik, Mahabersih yang mencintai yang bersih, Mahamulia yang mencintai kemuliaan, Maha Dermawan yang mencintai kedemawanan, maka bersihkanlah halaman rumah kalian dan jargonlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi." (HR. At-Tirmidzi)
Adapun perempuan, maka ia tidak boleh mengenakan minyak wangi ketika pergi ke masjid. Berdasar sabda Nabi Saw:
 
“Apabila salah seorang dari kalian (perempuan) pergi ke masjid, maka janganlah mengenakan wewangian." (HR. Muslim)
Agar tidak menjadi pendorong timbulnya godaan (fitnah) bagi kaum laki- laki.

□ Masuk masjid dengan tenang dan tidak terburu-buru. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Qatadah, "Ketika kami shalat bersama Nabi Saw, tiba-tiba tedengar kegaduhan di antara orang-orang. Maka ketika beliau (selesai) shalat, beliau bertanya, Ada apa dengan kalian?’ Mereka berkata, ‘Kami tergesa-gesa untuk shalat.’ Nabi Saw bersabda:
'Janganlah kalian lakukan itu. Jika kalian datang untuk shalat hendaklah dengan tenang. Apa yang kalian dapatkan maka shalatlah dan apa yang terlewat oleh kalian maka sempurnakanlah'." (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

□ Bacalah doa ini ketika keluar untuk shalat. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk shalat, lalu mengucapkan:
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan hak orang-orang yang meminta kepada-Mu, dan dengan hak keluarku kepada-Mu, bahwa Engkau tahu tidaklah aku keluar karena sombong dan congkak, bukan karena mencari nama, bukan pula karena riya'. Aku keluar untuk mengadukan dosa-dosaku kepada-Mu, aku keluar karena mengharap rahmat-Mu, dan menjauhkanku dari azab-Mu. Aku keluar menjaga diri dari murka-Mu, mengharap ridha-Mu, lalu aku meminta kepada-Mu agar Engkau melindungiku dari neraka dengan rahmat-Mu" [HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah)
« Last Edit: 17 May, 2019, 20:33:22 by Co Hujroh »