Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Pengajaran 
TUGAS YANG HARUS DILAKUKAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Pages: [1]

(Read 60 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1726
  • Logged
TUGAS YANG HARUS DILAKUKAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
« on: 28 May, 2019, 11:31:45 »

TUGAS YANG HARUS DILAKUKAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Satu-satunya sebab yang menjadi dasar bagi hidupnya suatu lapangan atau suatu cabang ilmu-pengetahuan ialah, bahwa lapangan atau cabang ilmu-pengetahuan tadi merasa harus menunaikan suatu fungsi yang cukup penting. Jadi hendaknya setiap mahasiswa yang mempelajari psikologi pendidikan mengetahui tugas yang harus dilaksanakan oleh psikologi pendidikan itu dan kemudian menguasai pula pengetahuan serta teknik-teknik yang penting dalam lapangan psikologi pendidikan. Sudah jelas agaknya, bahwa setiap orang dewasa yang normal dalam batas-batas tertentu dapat dikatakan pasti melakukan pekerjaan mengajar; dan hal ini terutama berlaku untuk setiap orang tua : mau tidak mau setiap orang tua pasti harus melakukan pekerjaan mengajar. Jadi setiap orang tua dan orang dewasa yang normal tentu akan dapat memetik faedah dari pelajaran psikologi pendidikan. Setiap orang yang memangku jabatan keguruan paling sedikit harus menganggap satu aspek dari psikologi pendidikan sebagai suatu pengetahuan yang harus dikuasainya; artinya kalau ia ingin melakukan tugas keguruannya itu dengan sebaik-baiknya.
Tujuan pokok dari bab ini ialah menguraikan dalam garis- garis besar tugas psikologi pendidikan. Tugas kedua yang juga dikandung oleh bab ini ialah mencoba membangkitkan kesadaran para mahasiswa akan pentingnya soal bimbingan dalam segala kegiatan pendidikan terhadap para pemuda. Dapat dikatakan, bahwa berhasil-tidaknya setiap mahasiswa dalam mempelajari psikologi pendidikan dapat diukur dari keadaan sampai di mana ia sendiri benar-benar menjadi seorang ”ahli-psikologi-pen- didikan”. Oleh sebab itu dianjurkan kepada segenap mahasiswa yang mempelajari psikologi pendidikan untuk mengambil sikap professional yang aktif terhadap keharusan-keharusan yang akan diuraikan dalam bagian-bagian berikut.
Sadarilah Batas- batas Lapangan Psikologi Pendidikan.
Apakah psikologi Pendidikan itu ? Proses pertumbuhan
yang berlangsung berkat dilakukannya perbuatan-perbuatan belajar disebut pendidikan. Suatu studi yang sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia disebut psikologi pendidikan. Banyaklah orang yang dapat dikatakan terdidik, tetapi hanya sedikitlah di antara mereka itu yang memiliki pengetahuan yang jelas tentang bagaimana caranya mereka
dengan berhasil. Mereka memang mengetahui, bahwa mereka telah mempelajari buku-buku tertentu atau pelajaran-pelajaran tertentu atau hal-hal tertentu.
Beberapa di antara orang-orang yang kita katakan terdidik
ini mungkin ada yang mempunyai keinginan untuk menjadi guru, tetapi seringkah mereka itu dapat dikatakan belum pernah memperoleh persiapan sama sekali tentang caranya membelikan bimbingan dalam proses pendidikan. Apakah yang masih harus mereka pelajart dalam hal ini ? Mereka itu harus mempelajari para anak didik mengenai sifat-sifat dasar yang mereka warisi dari orang tua mereka, pertumbuhan mereka dan dasar-dasar psikologi yang mereka pergunakan daUun pembentukan tenaga-tenaga pendorong atau yang dalam psikologi lazim disebut ”motivation”. * 'f Jadi para calon guru tadi harus belajar untuk mengetahui : mengapa seseorang melakukan suatu hal tertentu dan mengetahui pula kegiatan-kegiatan mana atau sambutan-sambutan mana yang dapat dianggap penting dan berarti bagi pendidikan.
Psikologi pendidikan tidak dapat hanya dianggap sebagai psikologi yang dipraktekkan saja Psikologi pendidikan adalah suatu studi atau suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai hak hidup sendiri. Memang benar, bahwa aspek-aspek, tertentu dari psikologi pendidikan nyata-nyata bersifat ke-filsafat-an, tetapi sebagai suatu ilmu-pengetahuan, sebagai ”science”, psikologi pendidikan telah memiliki (1) susunan prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran dasar tersendiri, (2) fakta-fakta yang bersifat obyektip dan dapat diperiksa kebenarannya, dan (3) teknik-teknik yang berguna untuk melakukan penyelidikan atau “research”nya sendiri; termasuk ke dalam hal ini ialah alat-alat pengukur dan penilai yang sampai batas-batas tertentu dapat dipertanggung jawabkan ketepatannya. Di antara alat-alat pengukur dan alat penilai ini terdapat test tentang hasil perkembangan jiwa anak dan test tentang hasil belajar anak; kedua macam test ini adalah test-test yang lazimnya disusun dengan sangat hati-hati. Di laboratorium misalnya untuk mengetahui ada atau tidaknya kesalahan-kesalahan mekanis dalam kebiasaan membaca anak-anak diadakan pemotretan terhadap gerakan mata anak-anak pada waktu membaca dengan mempergunakan ophthalmograph. Untuk mengetahui apa yang harus dilakukan untuk memperkembangkan suara yang menyenangkan dan unii.k memperoleh pemilihan kata-kata yang tepat pada waktu berbicara diadakan orang perekaman terhadap latihan-latihan bereakap yang dilakukan. Seperti dalam ilmu-pengetahuan ilmu pengetahuan yang lain jenis persoalan yang termasuk ke dalam daerah psikologi pendidikan dapat terus-menerus ditambah, penyelidikan yang mendalam mengenai scal-soa! psikologi pendidikan yang sudah sangat khusus sifatnya lazim dilakukan pada tingkatan sarjana atau doktoral pada universitas.
Lapangan Psikologi Pendidikan. Soal-soal apa sajakah yang harus dibicarakan dalam suatu mata kuliah tentang psikologi pendidikan ? Lapangan psikologi pendidikan adalah sangat luas, sehingga mau tidak mau kita harus mengadakan semacam pembatasan supaya dalam satu buku kita dapat mengadakan pembicaraan yang cukup lengkap mengenai psikologi pendidikan. Lagi pula di samping itu kita pun harus dapat pula memilih, soal-soal mana yang harus kita anggap penting dan berguna, dan oleh karenanya harus mendapat tekanan istimewa dalam pembicaraan yang akan kita lakukan.
Dalam salah satu studi yang terdahulu yang dilakukan oleh Emme 2) diperlihatkan, bahwa dalam sembilan belas buku pelajaran tentang psikologi pendidikan ternyata soal belajarlah yang dianggap sebagai soal terpenting. Kemudian menyusul soal-soal yang berhubungan dengan perkembangan selama masa anak-anak dan masa remaja. Dalam buku-buku yang diterbitkan selama tahun-tahun terakhir dalam periode yang diselidiki oleh Emme itu (1933 — 1941) pada umumnya dipentingkan pula soal hygiene rohani (mental hygiene), soal test pendidikan dan metode-metode statistik. Kemudian juga soal perkembangan kepribadian pada umumnya sangat dipentingkan dalam buku- buku itu.
Studi yang lain mengenai isi kitab-kitab tentang psikologi pendidikan 3-> memperlihatkan, bahwa dalam tiga belas buku yang diselidiki terdapat perbedaan-perbedaan yang luas mengenai isinya. Ketiga belas pengarang itu, yang buku-bukunya diterbitkan dalam periode antara 1942 - 1946, memperlihatkan persesuaian dalam arti, bahwa dalam seluruh buku-buku mereka ada dibicarakan soal-soal berikut :
Lapangan Psikologi Pendidikan.
Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Umumnya.
Psikologi Anak.
Hygiene Rohani.
Kecerdasan (Intelligensi) dan Penilaiannya.
Perbedaan perbedaan Individuil.
Hakekat Perbuatan Belajar.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perbuatan Belajar.
Soal Transfer Dalam Belajar.
Test dan Soal Penilaian atau Pengukuran.
Teori Dasar tentang Motivation.
Arti Motivation bagi Pengajaran.
Perkembangan Sosial dan Emosional.
Salah seorang dari pengarang-pengarang tersebut telah mempergunakan hampif separo dari seluruh bukunya untuk membicarakan psikologi yang berhubungan dengan mata- pelajaran mata-pelajaran yang diajarkan di sekolah, sedangkan empat orang dari pengarang-pengarang tadi sama sekali tidak membicarakan soal ini dalam buku mereka. Hendaknya ketiadaan persesuaian antara para pengarang dalam hal-hal semacam ini jangan dihiraukan benar oleh para mahasiswa yang baru mulai mempelajari psikologi pendidikan, oleh karena setiap soal yang diselidiki oleh banyak orang akan senantiasa memperlihatkan perbedaan pandangan serta pendapat mengenai apa yang dianggap penting dan berarti bagi pekerjaan penga jaran. Dalam hubungan ini hendaknya pembaca suka memeriksa daftar isu buku ini untuk mengetahui soal apa saja yang oleh pengarang buku ini dianggap penting untuk dibicarakan. Sebenarnya daerah studi psikologi pendidikan sama luasnya dengan daerah kehidupan manusia sendiri dengan catatan, bahwa yang terutama diperhatikan ialah soal-soal yang bagi praktek pendidikan ternyata cukup penting dan cukup berarti.
Baru-baru ini oleh pengarang telah ditemukan dalam suatu studi yang tidak diterbitkan, bahwa pada enam buah buku pelajaran tentang psikologi pendidikan terdapat persamaan dasar dengan kesimpulan yang dicapai oleh Blair dalam studinya tersebut di atas. Keenam pengarang tersebut semuanya membicarakan tujuh dari tiga belas pokok persoalan yang disebutkan oleh Blair. Beberapa pokok persoalan ternyata telah dimasukkan ke dalam bab-bab yang berlainan oleh beberapa pengarang. Barangkali kalau antara pengarang terdapat persesuaian yang lebih besar mengenai istilah-istilah yang dipergunakan mungkin hal ini akan sangat membantu para pembaca untuk mendapatkan pengertian yang tepat tentang persoalan-persoalan yang dibicarakan.
Susunlah Definisi dari kata-kata serta Istilah-istilah Pokok.
Cara menyusun definisi. Setiap orang yang ingin menjadi guru harus memahami hakekat definisi. Biasanya kamus-kamus 
hanya memberikan penjelasan-penjelasan dan sinomim saja, sedikit saja memberikan definisi. Setiap definisi yang benar selalu terdiri dari empat bagian : (1) kata yang akan di-definisikan Idefiniendum), (2) sebuah kata kopuia (dalam bahasa fndo- nesia kata ialah atau adalah), (3) golongan yang akan meliputi istilah yang di-definisikan dan (4) kelompok kata atau anak kalimat yang memberikan ciri khusus kepada istilah vang didefinisikan. Sebagai contoh perhatikanlah definisi berikut:4).
Segi tiga adulah suatu bidang yang dibatasi oleh tiga garis
lurus
(1)   (2)   (3)
Akan dapat diketahui juga dari contoh di atas, bahwa setiap definisi yang benar akan selalu dapat dibaca dengan dua cara, yaitu atau mulai dari sebelah kiri kata kopuia, atau mulai dari sebelah kanan kata kopuia. Misalnya definisi di atas dapat juga dibaca sebagai berikut : "Suatu bidang yang dibatasi oleh tiga garis lurus adalah segitiga”.
Dilihat dari sudut psikologi latihan-latihan menyusun definisi yang benar dari fakta-fakta yang berhubungan atau dari bahan-bahan keterangan yang berhubungan dapat menolong kirii meiripeijernih pikiran kita. Kebanyakan dari kekacauan pikiran kita disebabkan oleh ketiadaan efisiensi dalam penggunaan bahasa, oleh karena pikiran dan bahasa adalah dua soal yang sangat erat hubungannya, yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain.
Penggunaan Istilah-istilah Secara Tepat. Baru-baru ini pengarang buku ini meminta kepada para mahasiswanya yang mengikuti kuliah psikologi pendidikan untuk memilih suatu buku pelajaran tentang psikologi pendidikan yang tergolong baru, dan kemudian menuliskan definisi yang dipergunakan oleh para pengarang itu untuk membatasi arti dua puluh perkataan yang lazim dipergunakan dalam literatur tentang psikologi pendidikan, seperti kata-kata : Intelligensi, latihan, belajar dan kapasitet.5) Ternyata, bahwa istiiah-istilah itu tidak banyak di-definisi-kan: bahkan keteranganpuu tidak banyak diberikan terhadap istilah-istilah umum itu. Jadi rupa-rupanya kebanyakan pengarang berpendapat, bahwa para pembacanya dengan sendirinya akan memaklumi apa yang dimaksud dengan istilah-istilah itu. Keadaan yang sebenarnya ialah, bahwa istilah- istilah itu tidak jarang dipergunakan dalam beberapa arti yang berbeda. Misalnya banyak para pengarang yang tidak membedakan abilitet dari kapasifet, dan menganggap kedua istilah itu sebagai istilah-istilah yang sinonim. Begitu pula halnya dengan kata kata kebiasaan (habit) dengan ketrampilan (skill).
Ternyata pula dan pengalaman di atas, bahwa dalam peng- gunaan kata-kata semacam prinsip, fakta, hukum (law) , hipotesis dan generalisasi banyak terdapat kekacauan. Prinsip adalah kebenaran dasar yang bersifat umum; misalnya . "Perbuatan belajar yang sebenarnya dilakukan oleh anak apabila si anak mengadakan sambutan-sambutan atau usaha-usaha sendiri”. Fakta adalah suatu kejadian yang nyata,  sesuatu yang benar- benar telah terjadi, misalnya : "Presiden Lincoln meninggal karena dibunuh”. Hukum adalah pernyataan matematis tentang sesuatu yang bersifat seragam atau umum; misalnya ’S sama dengan 1/2 gt2”, adalah hukum tentang benda-benda yang jatuh. Hipotesis adalah suatu pernyataan yang diusulkan sebagai suatu keterangan terhadap sejumlah fakta; misalnya : ''Manusia adalah hasil evolusi dari makhluk-makhluk yang lebih rendah tarafnya”. Generalisasi adalah pernyataan, bahwa sesuatu berlaku atau benar bagi seluruh anggota dari suatu golongan. Karena ha! tadi ternyata berlaku atau benar bagi sebagian dari golongan tadi; misalnya; "Setiap manusia akan mati".
Soal pokok yang kita hadapi dalarn hubungan ini ialah, mhwa kita tidak akan dapat menyatakan isi pikiran kita dengan jelas, apabila isi pikiran itu sendiri belum lagi jelas bagi kita. Begitu pula tidak akan dapat kita benar-benar menangkap isi suatu buku, apabila bahasa yang dipergunakan buku tadi ter- laiu ceroboh, tidak tepat dan banyak mengandung dwi makna dalam penggunaan istilah-istilah. Tanpa istilah-istilah yang banyak sedikitnya bersifat tepat tidak dapat kita mengharapkan kemajuan-kemajuan yang berarti dalam mempelajari psikologi pendidikan atau dalam mempelajari setiap ilmu-pengetahuan sosial yang lain.
Perjelaslah dan Sadarlah akan Tujuan-tujuan yang Saudara Kejar.
Setiap mahasiswa yang mempelajari psikologi pendidikan dan setiap calon guru harus mempunyai kesadaran yang sedalam-dalamnya terhadap tugas yang akan dipikulnya kelak. Janganlah hendaknya studi tentang psikologi pendidikan dianggap sebagai beban otak yang tidak ada hubungannya dengan tugas mendidik yang harus ditunaikan kelak. Untuk mendapatkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembentukan sistem mengajar yang efisien ada sejumlah pengetahuan yang harus dikuasai, prinsip-prinsip dan teknik yang harus diketahui dan dikuasai, dan ada sejumlah sikap serta cita-cita yang harus di- bentuk.
Diharapkan, bahwa dalam membaca buku ini lebih lanjut para siswa akan memperoleh pandangan yang lebih jelas tentang tujuan-tujuan ini. Secara singkat beberapa dari tujuan-tujuan itu dapat kita sebutkan sebagai berikut : (1) Pelajarilah cara-cara melakukan penghampiran terhadap masalah-masalah pendidikan. Dengan mengadakan eksperimen dapat kita ketahui, apakah satu cara menghafal memang lebih baik dari pada cara menghafal yang lain, atau apakah menulis miring memang betul-betul lebih cepat daripada menulis dengan hurup-hurup cetak. Para siswa dianjurkan untuk belajar memecahkan masalah-masalah semacam itu dengan usaha-usaha sendiri, dan janganlah bergantung kepada usaha-usaha pemecahan yang dilakukan oleh orang lain. (2) Pahamilah hakekat perbuatan belajar, dan pelajarilah. cara membimbing perbuatan belajar secara effektif. (3) belajarlah memahami seorang anak dengan sedalam-dalamnya, selr.ngga dapat diberikan perhatian yang tepat terhadap tiap- iiap aspek dari pendidikan terhadap anak itu. Hindarilah pe- mentingan yang berlebih-lebihan terhadap soal-soal yang bersilat intellektual atau soal-soal kejuruan yang praktis, perhatikan juga segi-segi sosial, estetis dan moril. (4) Capailah pengertian yang berinti tentang masalah kepribadian dan hygiene rohani, sehingga akan tercapai penyesuaian diri dan penyesuaian sosial yang effektif (5) Kuasailah teknik mengadakan evaluasi serta pemeriksaan yang baik terhadap kemajuan aiian. Jangan puas dengan pengetahuan yang Saudara miliki saja, tetapi cer nakan pengetahuan itu sedemikian, sehingga dalam situasi- situasi yang menghendaki diadakannya pimpinan serta bimbingan kepada anak-anak Saudara akan sanggup bertindak secara intelligent, sosial dan etis. Bimbingan dan pimpinan semacam ini pada saat-saat yang kritis atau berkemelut akan besar sekali nilainya, bukan hanya nilai intellektual atau nilai pendidikannya saja, tetapi bimbingan semacam itu akan mengandung pula nilai sosial serta nilai perseorangan. Yang harus kita periksa di sekolah bukan hanya pengetahuan anak dalam pelajaran sejarah atau ilmu pasti saja, tetapi juga adat-istiadat sosialnya, kebiasaan-kebiasaan belajarnya, keseimbangan emosionalnya, minatnya, bakat-bakat yang ada padanya dan kemampuannya untuk hidup dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Kumpulkanlah Bahan-bahan Yang Penting.
Lapangan-lapangan Yang Berhubungan Dengan Psikologi Pendidikan. Barangkali tidak ada satu lapangan studipun yang sama sekali bebas dan tidak bergantung kepada lapangan-lapangan studi yang lain. Ilmu-pengetahuan seperti kimia pun membutuhkan pula pertolongan ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu- pasti, geologi, biologi dan ilmu-alam. Begitu pula halnya dengan psikologi pendidikan : di sinipun dibutuhkan bantuan dari ilmu- 
yang lain. Soal-soal yang berhubungan dengan pewarisan sifat-sifat dapat diterangkan oleh biologi. Guru ataupun penasahat pendidikan yang lain harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara-caranya hereditet dan lingkungan berfungsi. Ia  harus dapat membedakan struktur dan fungsi dalam organisme. Dari lapangan sosiologi dapat kita pelajari bagaimana pengaruh kepercayaan, tradisi, adat-istiadat dan kelaziman-kelaziman terhadap jiwa dan tingkah laku anak-anak yang berasal dari lingkungan yang berbeda-beda itu. Psikologi umum dapat memberikan sumbangan dalam soal-soal pokok, seperti memberikan pengertian terhadap istilah-istilah dasar dan memberikan teknik-teknik melakukan eksperimen. Ilmu pasti atau matematika, terutama ilmu pasti yang dipraktekkan, telah memungkinkan perkembangan 'prosedur-prosedur statistic yang sangat diperlukan dalam mengadakan analisa dan menyelenggarakan pekerjaan research. Masih banyak lagi lapangan-lapangan lain yang dapat juga disebutkan di sini, tetapi yang terpenting telah tercakup dalam uraian yang tersebut di atas.
Teknik-teknik Research. Di antara cara-cara, yang dapat dipergunakan untuk mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan kita dapati angket, eksperimen-eksperimen yang dapat dilakukan di dalam kelas atau dalam suatu rombongan, metode eksperimen laboratorium, penyelidikan klinis, teknik “case history” dan metode kefilsafatan atau metode spekulatip. Dalam baris yang berikut akan diberikan uraian singkat tentang tiap-tiap teknik yang telah disebut tadi.
Metode angket atau questionnaire mempunyai satu keuntungan, ialah bahwa dalam waktu yang singkat dan dengan
biaya yang kecil dapat dikumpulkan sejumlah besar bahan keterangan-. Sebelum angket disiarkan atau disebarkan lebih dahulu harus diperiksa, apakah angket-angket tadi telah disusun dengan sebaik-baiknya: kemudian angket itu harus dicoba lebih dahulu dan kalau perlu diadakan perbaikan-perbaikan; barulah angket  itu benar-benar disebarkan. Sedapat mungkin harus
- diusahakan, supaya angket hanya meminta jawaban-jawaban yang bersifat kwantitatip dan pasti. Jawaban-jawaban itu hendaknya bersifat melaporkan saja dan jangan sampai jawaban-jawaban itu berupa penilaian terhadap sesuatu.  Kelemahan yang terdapat pada angket - juga pada angket yang disusun dengan sebaik-baiknya - terutama terletak pada cara menjawab yang mungkin dilakukan oleh orang yang menerima angket itu. Kerap kali angket itu hanya diisi oleh pembantu orang-orang yang harus mengisinya dan kerapkali pula pembantu-pembantu semacam ini tidak memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjawab angket itu dengan sebaik-baiknya dan merekapun kerapkali merasa tak sempat untuk mengumpulkan keterangan-keterangan yang dibutuhkan untuk mengisi angket itu. Kerapkali pula seorang yang cukup memiliki bahan keterangan yang diperlukan tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam angket itu, semata-mata karena ia tidak mempunyai minat terhadap angket itu atau karena ia terlalu sibuk dan tidak sempat untuk menjawab angket dengan sebaik-baiknya Kerapkali pula terjadi, bahwa orang orang yang mengolah hasil-hasil angket mempergunakan pengolahan-pengolahan statistik yang terlalu halus terhadap bahan-bahan terhadap bahan-bahan yang terkumpul, dan ternyata kemudian, bahwa bahan-bahan itu tidak mengizinkan dilakukannya pengolahan statisiik yang sehalus itu. Perlu kita catat, bahwa penghalusan pengolahan saja tidak dapat memperbaiki bahan yang, telah terkumpul.
Sebagai contoh tentang pertanyaan-pertanyaan yang kurang baik perhatikanlah bagian dari suatu angket di bawah ini, yang dialamatkan kepada para orang tua murid :
1. Tulislah umur anak …
2. Apakah ada orang yang suka membaca sesuatu bagi
Anak ini ? . . .
3. Baikkah penglihatan anak ini ? . . .
Apakah anak ini memiliki buku yang cukup banyak ? . . .
5. Bagaimanakah kesehatan anak ini sampai sekarang ? . . .
Pertanyaan-pertanyaan itu dapat diperbaiki sebagai berikut :
1.   Tulislah hari lahir anak :
Tahun . . . bulan . . . tanggal . . .
2.   Adakah orang yang : sering membacakan sesuatu bagi anak ini ? Dan kalau ada, bagaimana hai ini dilakukan : kerapkali atau kadang-kadang saja ? Kerapkali . . . Kadang-kadang . . . Tak pernah . . .
3.   Apakah penglihatan anak ini telah diperiksa oleh dokter mata ? . . .
Apabila pernah, kapan ? . . .
Apakah anak ini harus memakai kacamata ? . . .
4.   Berapakah jumlah buku bacaan yang sesuai dengan kepandaian membaca anak ini tersedia di rumah ?
5.   Sebutkan penyakit-penyakit yang pernah diderita anak ini dan sebutkan juga kapan penyakit-penyakit itu diderita anak ini : . . ;
Seperti telah disebutkan di atas adalah sangat utama, apabila lebih dahulu angket yang akan dikirimkan itu dicoba dan kemudian diadakan perbaikan seperlunya kalau memang ternyata perlu.
Eksperimen-eksperimen dalam kelas sangat besar nilainya dalam arti, bahwa eksperimen-eksperimen semacam itu dapat menambah isi psikologi pendidikan dapat pula mendorong pertumbuhan guru yang melakukannya. Misalnya untuk mempelajari kebaikan dan mudarat dua cara pengajaran dapat dipergunakan dua rombongan : satu rombongan eksperimental dan yang lain rombongan pengontrol. Perbedaan-perbedaan yang berarti yang terdapat kemudian merupakan bukti bagi kelebihan metode yang satu terhadap metode yang lain. Eksperimen-eksperimen semacam itu dapat mendorong guru untuk iebih waspada dan lebih teliti dalam memilih metode yang sebaik-baiknya dan dalam menyadari masalah-masalah baru yang terdapat dalam pendidikan.
Teknik-teknik Laboratorium sangat besar artinya bagi usaha-usaha memajukan ilmu pendidikan. Jumlah alat-alat serta teknik yang dipergunakan' oleh ahli-psikologi pendidikan sekarang ini tidak dapat dihitung lagi. Untuk menyelidiki pendengaran, penglihatan, gerak mata dalam membaca, cacat-cacat dalam bercakap-cakap dan aspek-aspek perbuatan belajar yang lain secara eksperimental sudah terang dibutuhkan juga penggunaan manusia atau anak sebagai salah satu faktornya. Dalam teknik laboratorium ini prosedur-prosedur eksperimen lebih tepat, lebih persis, dan faktor-faktor lain juga lebih terkontrol daripada dalam jenis-jenis penyelidikan yang lain. Sumbangan yang telah diberikan oleh laboratorium pendidikan terhadap kemajuan ilmu-pendidikan sungguh sangat besar.
Dalam research klinik biasanya jumlah individu yang dipergunakan dalam suatu penyelidikan tidak begitu besar, tetapi penyelidikan yang dilakukan terhadap sejumlah kecil individu ini berlangsung dengan sangat mendalam dan dilakukan selama jangka waktu yang cukup panjang. Soal kedalaman atau intensitet sangat penting dalam penyelidikan semacam ini. Harus pula kita ketahui, bahwa metode ini kerapkali hanya dipergunakan dalam penyelidikan-penyelidikan terhadap anak-anak yang menyimpang dari anak-anak normal; oleh sebab itu jelas kiranya bagi kita, bahwa dalam metode ini terdapat batas-batas kesanggupan yang tidak boleh kita abaikan. Dalam penyelidikan klinik kita terutama ingin menentukan sebab-sebab suatu ketak-nor- mal-an dan berusaha mencari cara-cara untuk memperbaiki ke- tak-normal-an itu, sedangkan dalam penyelidikan-penyelidikan
di laboratorium kita semata-mata ingin memahami proses-proses pendidikan, sehingga dengan demikian kita dapat memajukan
ilmu pendidikan. Metode klinik dan metode laboratorium sangat mementingkan intensitet dan ketelitian dalam penyelidikan.
       Teknik ’'case-study”{’ ’’ dalam satu hal menyerupai metode klinik; ialah, bahwa dalam metode ”case-study” inipun penye- nyelidikan-penyelidikan hanya dilakukan terhadap sejumlah kecil individu, tetapi dilakukan secara mendalam. Dalam metode ini kejadian-kejadian yang sedang diselidiki terus-menerus diikuti perkembangannya selama suatu periode yang dianggap cukup untuk memahami kejadian-kejadian itu, Kerapkali terjadi dalam metode ini. bahwa seorang sarjana mengikuti suatu kejadian sampai selama duabelas tahun, yaitu selama anak yang dipelajari itu belajar dari sekolah rakyat hingga sekolah menengah atas; jadi selama penyelidikan ini segala bahan keterangan yang berhubungan dengan berbagai-bagai aspek pendidikan anak yang sedang dipelajari itu dikumpulkan. Studi-studi semacam ini merupakan suatu studi genetis, dan oleh karena dimulai pada umur yang cukup muda akan dapat memberikan pengetahuan yang baik terhadap aspek-aspek perkembangan yang perlu diperhatikan demi kepentingan praktek pendidikan.
Salah satu metode yang tertua dalam psikologi ialah metode introspeksi: dalam metode ini tugas orang yang melakukan studi ialah mengadakan pengawasan terhadap proses-proses kejiwaan yang terjadi dala \m dirinya sendiri. Kalau dalam suatu studi psikologis orang hanya mempergunakan metode introspeksi saja, dan di samping itu ia tidak ada mempergunakan metode-metode yang lain, maka hasil-hasil yang dicapai akan terlalu bernilai subyektif dan tidak dapat dipercayai seluruhnya. Tetapi apabila penggunaan metode-metode lain yang lebih obyektif sifatnya., maka metode introspeksi ini akan dapat memberikan hasil.-hasil yang sangat penting. Kombinasi semacam ini dilakukan juga dalam studi-studi klinis dari ilmu-kedokteran dan ilmu-kedokteran gigi; dalam studi ini para pasien diminta untuk secara introspektip melaporkan perasaan-perasaan atau pengalaman-pengalaman yang dialaminya selama ia menderita suatu penyakit. Bilamana bahan-bahan keterangan yang bersifat obyektif tidak dapat diperoleh sama sekali tentu saja bahan-bahan keterangan yang bersifat subyektifpun akan lebih berarti daripada kalau tidak ada bahan-bahan keterangan, sarna, sekali.
Baiklah diperingatkan di smi, bahwa dari uraian yang telah diberikan di atas tadi tidak boleh kita menarik kesimpulan, bahwa metode introspeksi adalah metode yang jelek Banyak seka!i masalah-masalah yang mengharuskan orang yang menyelidiki nya mengumpulkan laporan-laporan yang bersifat subyektif dari anak-anak yang masih sangat muda, semata-mata untuk memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Penyelidikan yang bersifat mekanispun, di mana misalnya seseorang harus menga dakan reaksi tertentu sebagai sambutan terhadap tanda-tanda tertentu, mengandung unsur-unsur subyektip juga, oleh karena itu menekan knop pada tanda tertentu misalnya pada hakekatnya adalah suatu perbuatan subyektip juga Jadi persoalannya sebenarnya bukanlah : manakah yang lebih baik, metode obyektip atau metode subyektip, melainkan : bagaimanakah caranya untuk mempergunakan kedua metode ini sebaik-baiknya supaya tercapai generalisasi-generalisasi yang dapat dipertanggung jawabkan dalam psikologi pendidikan. Dalam lapangan-lapangan seperti estetika dan keagamaan misalnya, di mana jumlah bahan-bahan keterangan yang obyektip lebih sedikit daripada dalam lapangan-lapangan lain, gabungan dari pendapat-pendapat sejumlah besar orang yang cukup cakap dan yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman introspektip mau tidak mau harus kita indahkan dan kita akui sebagai bukti.
Ketika metode introspeksi masin merupakan metode utama dalam psikologi, kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dengan metode ini kerapkali sangat bertentangan, sehingga timbullah kecurigaan terhadap validitet (soal sah-tidaknya) 
metode ini. Maka lalu timbullah penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan terhadap binatang, yang tidak dapat memberikan laporan-laporan introspektip. Dari studi-studi semacam ini diketahui misalnya, bahwa untuk mengetahui, apakah seekor anjing dapat membedakan warna merah dari warna hijau sama sekali tidak diperlukan bahan-bahan keterangan yang bersifat introspektip. Dan tibalah kemudian perubahan aliran : introspeksi ditinggalkan dan orang mulai menyusun apa yang dinamakan psikologi obyektip dengan filsafatnya yang serba mekanistis. Dalam masa kita sekarang ini biasanya orang lebih cenderung untuk berpandangan yang lebih seliat, yaitu kepada introspeksi sebagai metode diberikan tempatnya yang tertentu untuk memberikan keterangan yang dibutuhkan terhadap bahan-bahan keterangan yang bersifat obyektip.
Metode filosotis atau spekulatip barangkali sebenarnya tidak dapat disebut sebagai suatu metode, tetapi barangkali lebih tepat kalau dikatakan, bahwa dalam setiap metode senantiasa terdapat suatu filsafat. Seorang saijana membutuhkan semacam filsafat tertentu sebelum ia dapat menentukan masalah-masalah mana yang akan diselidikinya, atau sebelum ia dapat menentukan, masalah-masalah mana yang dianggap perlu untuk diselidiki. Dalam setiap macam penyelidikan mau tidak mau kita bergantung kepada observasi. Perlu ditekankan di sini, bahwa ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial mempunyai logikanya sendiri. Bahan-bahan keterangan saja tidak mempunyai arti apa-apa; kita, manusialah yang haras memberikan arti kepada bahan-bahan keterangan itu. Bahan- bahan keterangan itu harus ditapsirkan oleh manusia, yang mungkiri dalam memberikan tapsiran itu akan melakukan kesalahan-kesalahan, atau tanpa disadarinya ia telah mempergunakan prasangka-prasangka tertentu.7)
Pahamilah Hubungan-hubungan Yang Terdapat
Antara Ilmu dan Filsafat.
Beberapa aspek dari pendidikan, sebagai suatu proses pertumbuhan yang disebabkan oleh perbuatan belajar, dapat dan harus dihadapi secara ilmiah. Sebagai yang telah diterangkan di atas psikologi pendidikan adalah suatu ilmu yang sedang tumbuh. Besar sekali jumlah bahan-bahan yang dimilikinya, yang semuanya cukup penting dan cukup dapat dipercaya. Beberapa aspek dari psikologi pendidikan dapat diselidiki secara ilmiah, sedangkan beberapa aspek yang lain lagi tidak dapat diselidiki secara ilmiah. Misalnya soal : berapakah jumlah tatapan pandangan (eye fications) yang dibutuhkan untuk membaca sebaris bahan bacaan adalah suatu soal yang jelas dapat diselidiki secara ilmiah. Begitu pula ilmu dapat menentukan metode menghafal yang mana yang paling ekonomis sifatnya dan kata- kata manakah yang paling sukar diingat-ingat ejaannya. Lapangan ilmu adalah lapangan yang bersifat obyektip, yang meliputi hal-hal yang sampai batas-batas tertentu dapat diukur. Ilmu atau ”science” dapat menentukan jawab terhadap pertanyaan- pertanyaan mengenai soal : apa, berapa dan bagaimana. Daerah ilmu ialah daerah benda dan daya. Daerah ini merupakan daerah yang terbatas; oleh sebab itu ilmu tidak beranggapan dapat menyelesaikan seluruh persoalan manusia.
Untuk menjawab soal-soal yang berhubungan dengan pertanyaan : bagaimana seharusnya, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan norma-norma, kita harus mengarahkan pertanyaan kita ke suatu lapangan lain, yang tidak menjadi daerah ilmu atau daerah "science”. Soal : bagaimanakah caranya mempelajari sesuatu adalah suatu soal yang sangat berlainan dari soal : apakah yang seharusnya dipelajari. Soal pertama adalah soal ilmu, sedangkan yang kemudian adalah soal filsafat.

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1726
  • Logged
Re: TUGAS YANG HARUS DILAKUKAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
« Reply #1 on: 29 May, 2019, 19:36:59 »
Seorang dokter akan memberikan pertolongan atau melakukan pembedahan untuk menyelamatkan hidup seseorang, tetapi perbuatan dokter ini adalah suatu perbuatan yang sangat ber-
Lainan sifatnya dari pemutusan soal : apakah sudah -seharusnya dan sepantasnya orang tadi diselamatkan dari bahaya maut. Meskipun tidak mungkin bagi kita untuk semata-mata bersifat ilmiah atau semata-mata bersifat kefilsafatan atau filsafah, tetapi banyaklah manfaat yang terkandung dalam studi tentang kegunaan yang terdapat dalam kedua metode berpikir ini. Antara kedua macam cara berpikir ini tidak perlu, terdapat permusuhan. Untuk menjadi seorang ahli-filsafat yang bagus kita harus pandai bersikap ilmiah; dan untuk menjadi seorang ahli-ilmu y a n g bagus kila harus memiliki kesadaran yang, berimbang tentang nilai-nilai atau norma-norma. Di samping harus menentukan tujuan-tujuan yang hendak kita capai kita juga harus menemukan alat-alat untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Dapat dipastikan, bahwa pekerjaan mengajar akan merupakan suatu pekerjaan yang tidak berarti bagi setiap orang yang berpandangan luas, apabila dalam pekerjaan mengajar itu salah, satu dari kedua aspek ini diabaikan.
Carilah Cara Belajar Yang Sebaik-baiknya.
Salah satu dari cara-cara yang baik untuk mulai mempelajari buku ini ialah memutuskan bagi diri sendiri, untuk menjadi seorang ahli-ps kologi  pendidikan.
Sikap semacam ini akan dapat menimbulkan inisiatip sendiri serta akan menimbulkan pula pandangan professional.
Tugas mencari cara belajar yang sebaik-baiknya ini akan rnenjadi lebih rnudah apabila setiap fakta atau pnnsip yang dijumpai segera dipergunakan dalarn studi. Jadi kalau demikian apa sajaka.h yang dapat dilakukan oleh seorang mahasiswa yang betul-betul mau bekerja untuk memahami lapangan studi ini?
Pergunakanlah Tenaga Sendiri. Jangan Terlalu Bergantung Kepada Usaha Orang Lain. Dr. H.,C„ Morrison, salah seorang dari' ahli-ahli pendidikan Amerika, yang terkenal, selalu mengatakan, bahwa salah satu dari ciri-ciri utama bagi seorang mahasiswa yang telah betul-betul siap untuk melakukan studi pada perguruan tinggi ialah kesanggupannya untuk bekerja sendiri dan tidak selalu bergantung kepada usaha-usaha orang lain. Di sekolah rakyat dan di sekolah menengah terlalu banyak murid yang dalam menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan pendidikannya selalu menggantungkan dirinya kepada guru, orang tua atau murid-murid yang lain, dan kurang mempergunakan usaha-usahanya sendiri. Begitu pula mahasiswa yang mempelajari psikologi pendidikan dapat juga selalu bertanya atau minta tolong orang lain, untuk mengetahui hal-hal tertentu: tetapi sebaliknya dapat pula ia berusaha mencari sendiri jawab terhadap hal-hal yang tidak atau kurang diketahuinya itu. Pengarang masih ingat misalnya, bahwa sukar sekali baginya dahulu untuk mempercayai kata orang, bahwa menghafal dengan metode keseluruhan lebih efisien daripada menghafal dengan metode bagian demi bagian. Tetapi dengan melakukan eksperimen sendiri mengenai hal ini diperolehnya kemudian jawab yang betul-betul memuaskan. William James, ahli-psikologi yang terkenal itu, telah pula memperoleh jawab terhadap pertanyaan : dapat atau tidaknya apa yang dinamakan daya-daya jiwa diperbaiki dengan melakukan latihan-latihan usaha-usahanya sendiri.  

Pertinggilah kecakapan Membaca. Eksperimen-eksperimen
serta wawancara-wawancara (interview) yang diadakan dengan para mahasiswa selalu memperlihatkan, bahwa ketidaksanggupan untuk membaca dengan baik merupakan halangan terbesar, tidak saja dalam mempelajari psikologi pendidikan, tetapi juga dalam mempelajari semua pelajaran di perguruan tinggi. Sebagian dari kekurangan ini ialah tidak lengkapnya perbendaharaan kata-kata ilmiah yang dikuasai oleh si mahasiswa. Karangan karangan serta 'buku-buku tidak akan dapat dipahami, apabila simbolisnve-simbiolisme yang dipergunakan dalam tulisan itu tidak dipahami artinya oleh mahasiswa. Seorang yang ingin mengadakan penyelidikan tentang sesuatu harus sanggup secara luas membaca tulisan-tulisan yang berhubungan dengan apa yang hendak diselidikinya itu; dan di samping itu tentu saja ia harus benar-benar memahami apa yang dibacanya itu. janganlah kita beranggapan, bahwa kepandaian membaca itu pasti akan kita miliki dengan sendirinya, atau bahwa kepandaian itu dapat kita warisi dari orang tua kita. Kepandaian membaca itu hanya akan kita miliki kalau kita berusaha menguasainya, dan kepandaian itu dapat kita perbaiki, dapat kita pertinggi, juga sekalipun kita sudah dewasa. Kalau misalnya kita mempunyai kebiasaan -kebiasaan yang salah dalam menggerakkan mata kita dalam waktu membaca, maka kesalahan-kesalahan ini harus kita ketahui dan kemudian kita perbaiki. Mahasiswa yang baru mulai mempelajari psikologi pendidikan harus berusaha untuk mengenal perbedaan-perbedaan arti yang sangat halus yang terdapat di antara beberapa kata atau istilah; dengan demikian ia akan dapat mempertinggi kecakapannya membaca. Kata-kata dalam percakapan sehari-hari dikacaukan saja penggunaannya dalam lapangan studi ini mempunyai arti yang berlain-lainan; misalnya; latihan, sensasi, abnormal atau jiwa. Kerapkali perbedaan yang terdapat antara arti ilmiah dengan arti dalam percakapan sehari-hari dari suatu perkataan sangat besar, sehingga kita akan salah mengerti sama sekali, kalau kita tidak menyadari perbedaan ini.
Kumpulkan Bahan-Bahan Keterangan dan Tafsirkan Bahan-Bahan Keterangan Ini. Bahan-bahan keterangan yang dapat kita kumpulkan tidak selamanya bernilai bagi kita. Kita harus belajar menghargai bahan-bahan yang bersifat obyek tip serta yang dapat diperiksa kebenarannya. Cobalah Saudara segera belajar mengumpulkan bahan-bahan yang asli atau orisinil dan cobalah tafsirkan bahan-bahan yang terkumpul ini; tentu saja Saudara harus memilih bahan-bahan yang ada nilainya bagi ilmu-pendidikan. Setiap mahasiswa pasti dapat memperoleh bahan-bahan yang asli tentang perbandingan antara angka-angka untuk berbagai-bagai matapelajaran dari segerombolan murid misalnyanya, atau dapat pula misalnya diperbandingkan kurve kemajuan belajar dalam suatu rnata pelajaran dengan kurve-kurve serupa pada matapelajaran-matapelajaran yang lain. Bahan-bahan yang telah terkumpul itu sering dapat ditafsirkan lebih tepat, apabila terlebih dahulu disusun dalam suatu tabel atau suatu grafik; tetapi selalu tidak boleh kita lupakan, bahwa bahan-bahan itu sendiri tidak akan dapat "berbicara”, tidak akan dapat "menceritakan sesuatu”; juga hal ini tidak akan terjadi, meskipun bahan-bahan keterangan itu kita susun ke dalam suatu tabel atau grafik yang sempurna sekalipun. Kitalah yang harus memberikan tafsir yang dapat dipahami kepada bahan-bahan itu.
Belajarlah Mengadakan Penilaian Atau Evaluasi. Kalau
disebutkan kata penilaian atau evaluasi di sini, maka yang dimaksudkan ialah pemilihan mengenai bagian dari buku ini, atau dari setiap buku lain tentang psikologi pendidikan, yang akan lebih dipentingkan daripada bagian-bagian yang lain. 'Tidak semua soal yang dibicarakan dalam buku ini sama pentingnya bagi tujuan kita. Untuk mengadakan pemilihan itu harus ada ukuran tertentu. Salai» satu ukuran misalnya soal kesukar- an. Barangkali beberapa bagian dari buku ini akan ternyata terlalu sukar bagi mereka yang baru mulai mempelajari psiko- logi pendidikan. Ukuran lain yang dapat: dipergunakan ialah nilai praktis dari soal-soal yang dibicarakan dalam buku ini bagi praktek pengajaran yang lazim dijumpai di sekolah.

Jadi soal penting di sini ialah, bahwa setiap orang yang cukup berpengetahuan harus dapat mengetahui soal-soal mana yang akan merupakan soal-soal utama baginya. Ia harus dapat membedakan soal-soal pokok dari soal-soal tambahan; ia harus dapat mengetahui, mana yang merupakan pokok persGalan dan mana yang hanya merupakan keterangan tambahan saja. Kalau setelah diadakan evaluasi ternyata, bahwa semua soal sama pentingnya, maka hal ini merupakan bukti, bahwa evaluasi yang dilakukan tadi adalah evaluasi yang jelek dan dengan demikian tidak ada artinya sama sekali. Setiap mahasiswa yang mempelajari psikologi pendidikan akan dihadapkan pada soal mencer- nakan bahan-bahan yang tidak sedikit jumlahnya. Beberapa
bagian dari bahan bacaan ini barangkali cukup dibaca sepintas lalu saja. Beberapa bagian, yang lain Juga barangkali harus ditelaah secara sungguh-sungguh dari harus dipikirkan secara, mendalam. Barangkali akan ternyata, bahwa beberapa jilid bahan bacaan atau beberapa halaman perlu diulang-ulang pembacaannya, perlu dipelajari terus-menerus dari perlu dicernakan benar- benar. Mereka yang dapat mengetahui bagian-bagian mana yang dapat dianggap penting dan benar-benar berusaha untuk menguasainya aman, dapat memetik hasil yang sebesar-besarnya dan kesadaran serta usahanya ini.
Carilah Prinsip-prinsip Serta Pengertian-pengertian Yang- benar. Mereka yang mempelajari proses-proses pendidikan tentu selalu ingin memahami soal-soal ''mengapa'"’ dan soal- soal "bagaimana”. Mahasiswa yang kurang efisien biasanya lelah merasa puas dengan mengetahui, jawaban-jawaban terhadap soal-soal "apa”, dan inipun biasanya tidak cukup mereka ke-tahui, secara luas, Pernyataan-pernyataan tentang fakta-fakta tertentu yang kala simpan dalarn ingatan tidak akan menimbulkan perubahan-perubahan perbaikan, yang akan dapat kita pertahankan atau yang akan dapat kita sebut hasil-belajar yang berarti. Adalah, suatu Isu pemandangan, umum, bahwa mahasiswa- mahasiswa tekun membaca buku-buku pelajaran semata-mata untuk mengingat-ingat hal-hal tertentu yang dirasakannya cukup untuk lulus dalam suatu tentamina. Memang adalah suatu hal yang penting untuk mengetahui fakta-fakta tertentu; tanpa, fakta-fakta kita tidak akan dapat berpikir. Tetapi fakta-fakta yang tidak belsul dicernakan akan mudah lenyap dari ingatan kita.
Pengertian -pengertian yang benar hanya akan kita miliki kalau, kita dapat menangkap prinsip-prinsip pokok, serta hubungan-hubungan yang penting. Antara beberapa daerah pengalaman kita terdapat, suatu ikatan atau suatu hubungan, kemampuan untuk menangkap seluruh kesatuan ini berarti, kemampuan untuk memberikan arti, .kepada bagian-bagian dari keseluruhan tadi. Kalau kita dapat menguasai prinsip-prinsip dasar dari mesin minyak bakar misalnya maka akan mudahlah bagi kita untuk memahami mesin-mesin mobil yang bermacam-macam itu „oleh karena kita telah memahami hubungan yang terdapat antara berbagai-bagai mesin mobil tadi.
Begitu pula soalnya dengan berbagai-bagai teka-teki awu soal-soal ilmu pasti. Hanya mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan suatu soal adalah suatu perbuatan belajar yang terdapat pada tingkat yang rendah saja, tetapi kesanggupan untuk memahami prinsip-prinsip yang terkandung dalam setiap langkah penyelesaian merupakan suatu hasil-be- lajar yang bersifat rasional.
Guru hendaknya, selalu mengetahui apakah yang paling tepat untuk dilakukan dalarn suatu situasi tertentu. Tidak -dapat ja menghafalkan resep tentang apa yang harus dilakukannya pada situasi-situasi tertentu tadi. Sebaliknya ia harus dapat memehami hakekat anak pada umumnya; ia harus menguasai prinsip-prinsip pekerjaan mengajar. Ia harus menguasai prinsip- prinsip dasar dari perbuatan belajar. Dengan demikian akan mudahlah baginya untuk mengadakan diagnosis yang tepat dari perbaikan-perbaikan yang tepat pula.
Kuasailah Simbolisme-sombolisme. Barangkali bolehlah kita berkata, bahwa sifat yang membedakan inteligensi, manusia dari inteligensi binatang ialah adanya langkah-laku simbolik. Kalau, hipotesis ini dapat diterima, maka konsekwensi- nya ialah, bahwa soal simbolisme harus dianggap sebagai inti dari usaha-usaha pendidikan yang kita lakukan. Pertanyaan yang kita hadapi sekarang ialah . bagaimanakah tingkahlaku-tingkahlaku simbolik ini berlangsung dalam lapangan-lapangan pengalaman kita yang berbeda-beda ini.
Simbol-simbol dalam bahasa adalah alat untuk menyatakan benda-benda yang tidak ada dalam pengamatan kita atau 
alat untuk menyatakan pengertian-pengertian yang merupakan abstraksi dari, benda-benda atau pengalaman-pengalaman yang kongkrit. Kata buku, misalnya menyatakan suatu benda, tetapi kata kejujuran menyatakan suatu abstraksi. Dalam bahasa dipergunakan juga simbolisme kiasan yang harus juga kita kuasai. Pepatah "Sedia payung sebelum hujan” misalnya tidaklah hanya berarti, bahwa kita harus selalu mempunyai persediaan payung saja.
Dengan simbolisme matematik kita mempermudah jalan pikiran kita mengenai hal-hal yang bersifat kwantitatip. Pernyataan-pernyataan seperti nilai rata-rata, akar, logaritme, korelasi, fungsi, kesalahan Standard dan rasio harus kita pelajari artinya; kita harus mengetahui, bahwa simbolisme-simbolisme tadi merupakan penggantian dari pengertian-pengertian tertentu. Tugas yang dihadapi oleh seorang ahli-psikologi-pendidikan ialah menimbulkan pengalaman-pengalaman yang akan dapat menimbulkan kecakapan mempergunakan simbol-simbil tadi, juga dalam lapangan-lapangan yang sepintas lalu kelihatan agak jauh letaknya dari lapangan psikologi pendidikan.
Psikologi juga menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan apa yang lazim disebut: simbolisme tingkah- laku; masalah ini terutama terdapat dalam cabang psikologi yang disebut psikoanalisa. Dikatakan, bahwa apa yang disebut "keinginan-keinginan yang tidak disadari” di dalam kesadaran kita disimbolkan oleh kegiatan-kegiatan atau pikiran yang dapat memuaskan keinginan yang tertekan tadi. Tingkah laku seperti dalam angan-angan membunuh seseorang, yang tidak kita sukai misalnya merupakan suatu contoh dari simbolisme ini. Tingkah laku semacam ini merupakan suatu aspek dari khayal kita; jadi pada khayal kita dari khayal kita, jadi pada khayal kita terdapat fungsi-fungsi konstruktip dan fungsi-fungsi des- truktip.
Aspek-aspek simbolisme yang lain yang ada artinya bagi
pendidikan masih banyak lagi, seperti aspek-aspek simbolisme yang terdapat dalam lapangan patriotisme dan kehidupan* keagamaan misalnya. Barangkali hal-hal ini lebih tepat kalau kita sebut embliin. Bendera suatu bangsa misalnya melambangkan kesatuan nasional; kewibawaan pemerintah merupakan lambang dari kedaulatan negara; salib suci merupakan lambang dari penebusan dosa manusia dengan ke matian Yesus Kristus. Tentu kita masih dapat menambali daftar daerah simbolisme ini. Yang jelas ialah, bahwa dalam setiap simbolisme kita harus dapat melepaskan diri kita dari kekongkritan dan berusaha mempergunakan proses-proses jiwa yang lebih tinggi yang sangat diperlukan dalam pendidikan.
Buatlah Catatan Yang Lengkap dan Cukup Jelas. Seorang
ahli-ilmu-pengetahuan tidak akan mempergunakan ingatannya saja untuk mencatat fakta-fakta. Untuk ini dibutuhkan suatu alat yang lebih dapat dipercaya dan lebih tetap daripada ingatan. Dengan mengadakan catatan tertulis dapatlah kita memeriksa, mengorganisasikan serta mentafsirkan sejumlah besar fakta-fakta.
Hasil-hasil observasi yang teliti harus kita catat. Teknik- teknik. eksperimental tentu saja menghendaki adanya observasi yang terkontrol. Dalam eksperimen semacam, ini. semua kondisi terkontrol dan mempunyai hubungan dengan soal yang sedang dieksperimenkan. Dalam pada itu harus selalu diadakan pembedaan yang tegas antara fakta-fakta yang benar-benar terobservasikan dengan tafsiran yang kita berikan terhadap fakta-fakta itu. Observasi yang tak terkontrol terhadap kegiatan- kegiatan anak-anak harus dilakukan seobyektip mungkin; dalam hal ini yang harus lebih dipentingkan ialah apa yang benar-benar dilakukan oleh anak-anak tadi dari bagaimanakah mereka melakukan hal -hal tadi. Kita harus selalu mencegah timbulnya kesimpulan yang tergesa-gesa. Seorang guru yang baik akan senantiasa dapat memahami kegiatan-kegiatan serta sambutan-sambutan yang dilakukan anak-anak dalam kelas. Observasi yang dilaku kan secara cermat akan senantiasa dapat mengetahui adanya 
kecenderungan-kecenderungan tertentu yang mungkin dapat menimbulkan keonaran dalam kelas. Daftar kontrole mengenai anak-anak selalu merupakan catatan yang berharga bagi penyelenggaraan suatu ”case-study”.
Seringkali catatan-catatan jangka panjang sangat besar fa edahnya. Banyak masalah-masalah pendidikan yang menjadi lebih jelas bagi kita berkat diadakannya catatan-catatan tentang para murid selama mereka itu belajar di sekolah, rakyat sampai di sekolah menengah atas. Dalam catatan tentang perkembangan seorang anak dapat dengan jelas kita lihat adanya tingkat- tingkat perkembangan dalam pola-pola tingkah laku, misalnya ciri-ciri khas yang lazim timbul pada akhir masa anak-kecil dan pada permulaan masa remaja berdasarkan catatan-catatan sema cam itu dapatlah kita .susun generalisasi-generalisasi tertentu tentang perkembangan anak pada umumnya dan perkembangan perbuatan belajar pada khususnya; dan ternyata pula, bahwa kalau dicocokkan dengan keadaan-keadaan serombongan anak., generalisasi -generalisasi semacam itu cukup dapat dipercaya. Catatan-catatan semacam itu dapat dipelajari secara melintang
(latitudinal)   artinya ; kita pelajari catatan-catatan tentang
serombongan anak yang kira-kira sebaya, dan dapat pula
catatan-catatan, itu dipelajari secara membujur (longitudinal); artinya : kita mempelajari jalan perkembangan anak selama jangka waktu yang cukup panjang. Ternyata, bahwa studi-studi semacam itu telah menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berarti bagi psikologi pendidikan.
Cara membuat catatan-catatan tentang bahan-bahan kuliah hendaknya disesuaikan dengan kemampuan serta sifat setiap mahasiswa. Barangkali pada tempatnyalah kalau diberikan di sini sekedar penjelasan mengenai hal ini. Hasil yang akan dicapai oleh mahasiswa dari kuliah-kuliah yang diikuti., untuk sebagian besar bergantung kepada cara mahasiswa mengikuti uraian-uraian dalam kuliah dan kepada cara membuat catatan-catatan tentang hal-hal yang diuraikan dalam kuliah-kuliah itu. Tidak dapat di sini disarankan suatu cara membuat catatan yang oleh setiap mahasiswa akan dapat dipergunakan dengan baik. Barangkali ada beberapa mahasiswa yang sama sekali tidak memerlukan catatan tentang bahan-bahan yang dikuliahkan; tetapi yang diperlukan mereka mungkin hanya catatan-catatan mengenai bahan yang telah dibaca dan hasil eksperimen-eksperimen yang telah disaksikan. Mahasiswa-mahasiswa yang lain lagi mungkin merasa perlu untuk mengadakan catatan-catatan yang panjang- h bar tentang bahan-bahan kuliah dan tentang bacaan-bacaan yang telah dilakukan Mungkin ada pula mahasiswa yang berpendapat, bahwa perlu diadakan pencatatan secara stenografis tentang uraian-uraian dalam kuliah-kuliah. Dapat dijelaskan di sini, bahwa faedah mengadakan catatan secara stenografis ini sebenarnya sangat disangsikan orang, oleh karena si pencatat hanya akan sibuk dengan pekerjaan pencatatan mekanis saja dari dengan demikian, tidak akan dapat mengikuti jalan pikiran yang diuraikan dalam kuliah itu. Oleh sebab itu dengan pencatatan secara stenografis itu sukarlah kita dapat mencapai tujuan-tujuan utama dari perkuliahan. Barangkali secara analogis kedudukan seorang mahasiswa yang mengadakan pencatatan secara stenografis itu dapat disamakan dengan, seorang notulis pula, sidang-sidang pengadilan; juga di sini seorang notulis  jarang sekali mengikuti jalan perdebatan yang terjadi dalam sidang itu. oleh karena segenap perhatiannya harus dipusatkan pada usaha mencatat secara tepat, secara verbatim, apa yang dikatakan oleh setiap pembicara.
Cara yang sangat baik tentang membuat catatan-catatan ini ialah membuatnya secara agak bebas, dan kemudian sesudah j asm kuliah selesai berusaha menyusun catatan-catatan itu kembali, menggolong-golongkannya menurut pokok-pokok yang disinggung dalam pembicaraan dalam jam kuliah; dalam pada itu usahakanlah untuk mempergunakan kata-kata sendiri dan jalan pikiran serta bentuk-bentuk pernyataan sendiri. Mahasiswa yang merasa cukup cakap dapat pula mencoba cara ini : selama mengikuti uraian-uraian dalam jam-jam kuliah buatlah catatan-catatan, singkat saja dengan mempergunakan gaya tilgram, tentang pokok-pokok soal yang dibicarakan; kemudian sesudah kuliah cobalah susun uraian itu kembali dalam kalimat- kalimat yang lengkap secara logis dan sistematis. Dari pengalaman penulis ternyata, bahwa cara mencatat semacam ini agak sukar untuk dipraktekkan, tetapi faedah yang terdapat di dalamnya sangat besar. Dengan cara ini kita tidak hanya dapat menghemat waktu, tetapi cara inipun sesuai dengan prinsip- prinsip dari perbuatan belajar, dalam arti, bahwa kita secara intelektual akan tetap aktip dan akan tetap turut memikirkan pokok-pokok yang sedang dibicarakan selama kita mengikuti kuliah-kuliah.
Kerapkali terjadi, bahwa suatu soal yang dikatakan oleh seorang dosen langsung dicatat oleh mahasiswa tanpa menimbulkan suatu pikiran lebih lanjut mengenai apa yang dicatat tadi. Akibatnya ialah, bahwa si mahasiswa akan tiba kembali di rumah dengan onggokan catatan-catatan yang susunannya sangat jelek dari merupakan bahan-bahan yang tak ada artinya lagi, yang diharapkannya akan dapat disusun menjadi suatu yang mengandung arti; tentu saja ini merupakan harapan yang sia-sia saja. Pekerjaan membuat catatan tidak boleh mengganggu pekerjaan mendengarkan serta mengikuti uraian-uraian dalam kuliah. Barangkali, pekerjaan benar-benar menyimak dan mengikuti uraian-uraian dalam kuliah-kuliah dengan pengertian merupakan setengah dari, seluruh pekerjaan yang harus dilakukan mahasiswa; setidak-tidaknya demikianlah seharusnya keadaannya dalam kuliah-kuliah yang betul-betul bersilat mengajar.
Akhirnya hendaknya setiap mahasiswa memperhatikan benar-benar caranya belajar dan. bekerja. Hendaklah dicamkan benar-benar, bahwa pada setiap mahasiswa harus ada kesungguhan yang rnuliak mengenai tujuan yang hendak dicapainya; di samping itu hendaknya dipupuk pula rasa tanggungjawab perseorangan dan professional yang dalam untuk memajukan
ilmu-pendidikan. Pendidikan murid tidak dapat diserahkan seluruhnya kepada guru; murid sendiripun harus turut pula menegakkan bangunan-bangunan pendidikan terhadap dirinya. Sebagai seorang yang mempunyai rasa tanggung jawab setiap mahasiswa hendaknya berusaha untuk menjadi seorang yang bersistem dan setia mentaati peraturan-peraturan yang diputuskan akan dipatuhinya. Pengetahuan dan teknik-teknik yang diperolehnya dalam mempelajari proses-proses pendidikan harus dapat disalurkan ke dalam terbentuknya diri guru yang baik, yang dapat melakukan pekerjaan mendidik yang baik pula.
Ikhtisar.
1.   Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang terdapat dalam pendidikan manusia.
2.   Pernyataan, bahwa psikologi pendidikan hanyalah psikologi yang dipraktekkan saja adalah pernyataan yang tidak benar. Psikologi pendidikan telah mempunyai (a) susunan prinsip-prinsipnya sendiri, (b) bahan-bahan keterangannya sendiri yang bersifat obyektip dan dapat diperiksa kebenarannya, dan (c) teknik-teknik untuk melakukan researchnya sendiri.
3.   Pokok-pokok persoalan yang lazim dibicarakan dalam kuliah tentang psikologi pendidikan ialah ;
Perbuatan belajar.               Faktor-faktor yang mempengaruhi perbuatan
                                          belajar
 Intelligensi                      Penilaian inteligensi.
Hygiene Rohani               Soal Transfer dalam belajar.
Soal Motivatin                     Penilaian dan pengukuran dalam pendidikan.
Soal Kepribadian              Perbedaan-perbedaan Individual.
Soal Hereditet                   Pertumbuhan atau Perkembangan.
4.   Sangat dianjurkan untuk menyusun batasan atau definisi dari kata-kata serta istilah-istilah pokok-pokok. Setiap
definisi yang lengkap terdiri dari ; perkataan yang harus didefinisikan (definiendum), suatu kata-kerja bantu (kopula), golongan yang akan meliputi kata yang didefinisikan dan pernyataan atau kumpulan kata-kata yang menentukan ciri-ciri khusus dari kata yang didefinisikan.
5 . Tujuan-tujuan, pokok dari psikologi pendidikan ialah: (a) belajar mengadakan penghampiran   eksperimental ter
hadap masalah-masalah pendidikan; (b) memahami hakekat perbuatan 'belajar dan cara-cara membimbingnya; (c,l memahami seluruh pribadi anak; (d) memperoleh pengertian yang praktis dan berinti, tentang kepribadian dan hygjene ro.kha.ni; dan (e) mengniiisai teknik-teknik evaluasi dan pengukuran.
6.   Dalam usaha untuk mengumpulkan bahan-bahan keterangan yang penting dan berarti kita tidak hanya akan mempergunakan metode-metode research yang diperlukan untuk memperoleh bahan-bahan keterangan itu, tetapi kita secara be- baspun akan mempergunakan hasil-hasil penyelidikan yang telah ditemukan dalam lapangan-lapangan ilmu pengetahuan yang lain, yang ada hubungannya dengan ilmu-pendidikan..
7.   Hubungan yang ada antara ilmu dan filsafat hendaknya dipahami, .Kedua macam cara berpikir mempunyai kegunaannya sendiri-sendiri dan saling membantu..
8.   Ahli-psiko!ogi pendidikan harus dapat menentukan : cara-cara manakah yang akan merupakan cara-cara yang terbaik untuk mempelajari suatu masalah tertentu. Mahasiswa yang, mempelajari psikologi pendidikan dapat mempertinggi efisiensinya dengari jalan ; (a) memperkembangkan kesanggupan bekerja sendiri, (b) memperbaiki kecakapan membacanya, (c) mempelajari cara-cara mengumpulkan dan mentafsirkan bahan-bahan keterangan, (d) belajar menimbang-nimbang nilai-nilai, (e) menemukan prinsip-prinsip dan pengertian -pengertian, (f) menguasai simbolisme, dan (g) membuat catatan yang lengkap dan, jelas.
9, Secara singkat dapat dikatakan bahwa mahasiswa harus mau memikul tanggung jawab terhadap tugas berusaha memperkembangkan sikap ilmiah dan professional. terhadap proses- proses dan masalah-masalah pendidikan.