Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Life & Solution  Pengajaran 
PERLENGKAPAN FUNDAMENTAL MANUSIA
Pages: [1]

(Read 88 times)   

Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1575
  • Logged
PERLENGKAPAN FUNDAMENTAL MANUSIA
« on: 01 Jun, 2019, 19:02:14 »

PERLENGKAPAN FUNDAMENTAL MANUSIA

Sebelum dalam lapangan psikologi pendidikan tercapai, kemajuan yang cukup besar pada umumnya orang beranggapan, bahwa pengetahuan tentang suatu mata-pelajaran atau tentang fakta-fakta mengenai mata-pelajaran mata-pelajaran yang diberikan di sekolah telah mencukupi untuk melakukan pekerjaan mengajar di sekolah. Semenjak desennia terakhir dari abad kesembilan belas penyelidikan-penyelidikan tentang hakekat anak dan manusia pada umumnya terus-menerus dilakukan dengan intensitet yang makin lama makin besar serta daerah-pendidikan yang makin lama makin luas. Oleh karena seorang gun.i harus terus-menerus berusaha untuk memahami mereka yang harus dipimpinnya dalam proses-proses pendidikan, maka sangat besarlah paedahnya untuk mengetahui apakah yang dapat dilakukan oleh setiap individu dan bagaimanakah keadaan perlengkapan yang diperlukannya untuk melakukan apa yang dapat dilakukannya tadi. Pokok, persoalan dalam bab ini ialah membicarakan suatu dasar yang dapat dipergunakan untuk mengada k an analisa meng enai kapabilitet-kapabilitet seseorang dalam kelas,
Perdebatan yang tak ada akhirnya mengenai soal mana yang lebih penting dalam pembinaan seorang individu : hereditet ataukah lingkungan, tidak perlu kita hiraukan benar di sini. Setiap orang menyetujui pendapat, bahwa tanpa operasi- operasi yang dilakukan oleh kedua faktor ini tidak mungkin terdapat perkembangan. Bahkan dalam sel-sel benih pun gene- gene yang dianggap sebagai penentu-penentu herediter bagi: ciri-ciri atau sifat-sifat tidak akan dapat bekerja kalau tidak ada pertolongan dari sitoplasma yang menyediakan lingkungan yang dibutuhkan. Sudah jelas, bahwa im.1ividu4ndivii.iu yang kita ajar di sekolah adalah hasil dani tenaga-teiaga herediter yang bekerja dalam suatu daerah lingkungan. Lagi pula warisan biologis dengan jalan saling mempengaruhi dengan tenaga- tenaga lingkungan mengumpulkan abllitet-abilitet yang pada gilirannya memungkinkan timbulnya abilitet-abilitet lain, sehingga dengan demikian organisme memiliki kapasitet-kapasitet atau pola-pola sambutan yang baru. Analisa yang akan kita adakan ini dapat dimulai dengan mengadakan tinjauan singkat mengenai aspek herediter dari manusia. Meskipun guru tidak dapat mengubah sifat dasar murid, ia secara luas dapat menentukan arah-perkembangan murid itu dan ia dapat pula memperbaiki efisiensi anak dalam mempergunakan kapasitet dasarnya. Sekali-kali tidak boleh kita mempersalahkan hereditet seorang anak untuk ketak sanggupannya melakukan perbuatan belajar, kalau tidak ada pada kita bukti-bukti yang sangat jelas.
Prinsip-prinsip Hereditet.
Hereditet ialah proses penurunan sifat-sifat atau ciri-ciri dari satu generasi ke generasi lain dengan perantaraan plasma benih. Pada umumnya ini berarti, bahwa struktur-lah, dan bukan bentuk-bentuk tingkah laku yang diturunkan. Definisi ini telah mengandung prinsip hereditet yang pertama, ialah : bahwa hereditet berlangsung dengan perantaraan sel-sel benih, dan tidak melalui sel-sel somatis atau sel-sel badan. Dikatakan secara lain : prinsip reproduksi atau perkembangbiakan berarti, bahwa ciri-ciri, yang dipelajari atau diperoleh oleh orang tua tidak akan diturunkan kepada anak-anak. Kecakapan-keca- kapan, pengetahuan, cita-cita dan sikap diperoleh dengan perantaraan proses-proses yang mengandung perubahan-perubahan tertentu dalam diri seseorang, tetapi perubahan-perubahan semacam itu tidak mempengaruhi keadaan sel-sel benih. Rupa- rupanya antara sel-sel benih dan sel-sel somatis terdapat semacam daerah perbatasan, sehingga perubahan-perubahan yang terjadi pada sel-sel badan tidak memperoleh oleh suatu generasi tidak dapat diturunkan secara biologis kepada generasi berikutnya. Jadi setiap orang haruslah memulai tingkat perkembangan kulturalnya atau pendidikannya dari tingkat terendah. Tetapi bahwa sel-sel benih serta organisme yang berasal dari sel-sel benih itu tergantung kepada lingkungan untuk mengalami perkembangan yang baik adalah suatu hal yang benar. Artinya : Lingkungan memungkinkan plasma benih memperkembangkan sitat-sifat dasar yang dikandungnya, tetapi tidak dapat mengubah silat-silat dasar ini menjadi sifat-sifat yang lain. Sta- bilitet yang dikandung oleh plasma benih ini menjamin kelanjutan persamaan antara orang tua dan anak.
Prinsip kedua ialah, bahwa jenis menghasilkan jenis, atau: setiap golongan menurunkan golongannya sendiri. Ini adalah prinsip konformitet. Prinsip ini tidak berarti, bahwa setiap anak merupakan duplikat yang tepat dari orang tuanya, tetapi bahwa anak termasuk ke dalam golongan yang serupa dari golongan orang tuanya. Seorang petani tidak akan berharap dapat memetik padi pada musim panen, kalau ia hanya menanam jagung. Jadi sepasang manusia akan melahirkan anak manusia juga. Dalam kebanyakan hal di antara para manusia terdapat persamaan-persamaan yang besar. Selama seorang manusia masih dapat dikatakan manusia tidak akan ia sangat berbeda dari manusia- manusia lain.
Tentu saja di antara para manusia itu terdapat variasi- variasi tertentu, tetapi pada umumnya seorang anak manusia memiliki sifat-sifat dasar yang terbatas, artinya ia tidak dapat terlalu berbeda dari orang lua anak nenek moyangnya. Dalam batas-batas tertentu ia memang dapat berbeda dari orang tuanya, dan batas-batas ini ditentukan oleh gene-gene dan komo- som-komosom yang merupakan pembawa dari potensialitet- potensialitet si anak yang ditentukan oleh keturunan. Kenyataan, bahwa seorang anak mempunyai dua orang tua telah menunjukkan, bahwa ia tidak akan pernah tepat menyerupai salah satu dari kedua orang tuanya itu.

Prinsip konformitet ini pada umumnya berlaku untuk ciri-ciri mengenai struktur anatomis, susunan urat-syarat, besar badan, fungsi-fungsi biologis, warna kulit dan sifat-sifat biologis iain Sifat-sifat ini dapat disebut aspek-aspek dari suatu pola, yang pada dasarnya telah pasti untuk setiap golongan atau jenis, Ini tidak berarti, bahwa perlengkapan atau susunan biologi seseorang tidak dapat mengalami perubahan berkat pengaruh lingkungan; tetapi justru sebaliknyalah yang benar. Arti yang benar dari prinsip ini ialah., bahwa lingkungan tidak dapat mengubah suatu individu menjadi sesuai:u dari: golongan atau jenis lain. Seorang guru harus menerima dan mempergunakan perlengkapan manusia ini, serta "menggarap”nya secara fungsional, dan tidak, membuangnya serta menggantinya dengan sesuatu yang lain.
Prinsip ketiga ialah, bahwa sel-sel benih mengandung de~ tecminant-determinant yang banyak jumlahnya yang pada waktu penyerbukan ovum saling berkombinasi dalam cara yang berbeda-beda untuk menghasilkan anak-anak yang saling berbeda Prinsip variasi ini tidak bertentangan dengan prinsip yang telah disebutkan lebih dahulu. Tidak, ada dua orang yang tepat sama, namun, serrma orang mengandung persamaan fundamental,, ialah : bahwa seluruh manusia memiliki ciri-ciri umum yang sama dan pola-pola umum tentang perlengkapan biologis yang saru a pula.
Anak-anak pada urnumnya dijadikan daIam kemungkinan- kemungkinan persamaan dengan orang tuanya, tetapi mereka bukan merupakan kutipan dari orang tua mereka. Anak lebih banyak mewarisi sifat-sifat dari orang tuanya daripada dari nenek moyangnya yang telah jauh seperti yang ternyata pada persamaan-persamaann keluarga. Namun warisan orang tua ini datangnya dari nenek dan mayang dalam garis keluarga. Oleh sebab itu benarlah kata orang, bahwa apa yang kita warisi dari orang tua kita tidaklah sebanyak apa yang kita warisi dengan perantaraan orang tua kita. Jadi prinsip variasi ini berlaku da lam batas-batas yang ditemukan oleh pola-pola rasial umum.   
Prinsip keempat ialah, bahwa pada setiap sifat, atau ciri manusia anak, memperlihatkan kecondongan menuju keadaan rata-rata. Prinsip regressi filial ini, yang dirumuskan oleh Sir Prancis Galton, berarti., bahwa anak orang tua yang sangat cerd as biasanya condong untuk menjadi anak-anak yang kurang cerdas daripada orang tua mereka Begitu pula anak dari orang tua yang sangat tinggi condong untuk menjadi kurang tinggi dibandingkan dengari orang tuanya Baiklah dijelaskan di sini, bahwa prinsip ini tidak selamanya dapat dilihat  pada keluarga
yang hanya mempunyai anak yang tidak begitu banyak jumlahnya. Seorang anak tunggal mungkin lebih tinggi atau lebih pendek, lebih pandai atau lebih bodoh daripada orang tuanya..
Prinsip regressi ini tidak bertentangan dengan prinsip, bah-   ;
wa setiap jenis menghasilkan jenisnya sendiri. Kalau anak-anak kurang cerdas daripada orang tuanya merekapun masih tetap
anak-anak dan memiliki segala sifat-sifat manusia yang penting.
Jadi bagaimana mungkin, bahwa seorang anal; kurang cerdas daripada orang tuanya ? kilah karena ayah atau ilm, atau mungkin pula kedua-duanya, telah beruntung mendapat kombinasi gene-gene determinan! vang sebaik-baiknya d ala m sel-sel orang tua mereka.
Artinya : mungkin si ayah dalam generasinya telah rnene
rima kombinasi sel-sel benih yang lebih baik daripada apa yang dapat dilakukannya untuk anaknya. Dapat pula dikatakan, bahwa setiap orang adalah pembawa de t e rm in an l-d e t e rm i n an t yang dalam kombinasi-kombinasi tertentu dapat menghasilkan anak, baik anak itu bersifat inferior ataupun seperior dalam hal-hal tertentu. Oleh sebab itu struktur-struktur yang memungkinkan bakat musik misalnya dapat pula diwarisi melalui perantaraan orang tua yang tidak berbakat musik. Dan hal yang sebaliknya- puri mungkin pula terjadi; anak-anak para ahli-m usik tidak perlu pasti merupakan anak-anak, yang mempunyai bakat untuk musak. Mungkin, bahwa prinsip regressi ini lebih penting sebenarnya daripada apa yang kita lihat semula. Setengah orang berpendapat, bahwa dengan jalan demikian suatu ras dapat dipertahankan, yaitu dengan menghindari adanya individu-individu extrim dalam kedua pihak dan menjadikan sebagian terbesar dari manusia ini orang-orang yang normal atau mendekati kerata-rata- an. Begitu pula prinsip ini memungkinkan guru-guru menghadapi setiap murid atas dasar nilai si murid itu sendiri, dan bukan atas dasar prestasi-prestasi orang tuanya.
Mekanisme Hered itet.
Setiap pernyataan yang pendek tentang hered i tet (keturunan) dapat menimbulkan salah-pengertian, oleh karena pernyataan semacam itu bersifat terlalu sederhana. Meskipun demikian pada tingkat ini perlu kiranya diberikan beberapa keterangan umum tentang mekanisme dasar. Secara biologis setiap manusia mulai hidupnya pada saat pertemuan antara sel benih betina, ialah : ovum, dengan sel benih jantan : sperma. Dengan mengadakan studi mikroskopis tentang sel para ahli biologi berhasil meng-i sil asikan s truk t ur-struk tu r ce 11 ulai r y ang menen -
tukan hereditet. Struktur-struktur celluair ini    yang disebut :
kromosom-kromosom     berupa benang-benang protoplasma
yang terdapat berpasang-pasang, dan setiap pasangan menurut praduga mengandung berbagai-bagai susunan unsur-unsur yang tak dapat dilihat, yang disebut gene-gena. Menurut dugaan gene- gene ini letaknya menyerupai rangkaian mata kalung, dan terikat pada pasangan kromosom-kromosom tadi. Para ahli-biologi mengatakan, bahwa jumlah kromosom untuk manusia ialah 48 atau 24 pasang. Setengah dari jumlah ini datang dari nenek-mo- yang pada pihak ayah, sedang setengahnya lagi dari pihak ibu. Untuk setiap jenis binatang terdapat jumlah kromosom yang berbeda-beda, tetapi untuk semua anggota suatu jenis jumlah ini tetap, tak berubah-ubah, dari generasi ke generasi. Sudah jelas, bahwa kemungk m an -ke m ungkin an kom b in as i gene -gen e ini pada setiap individu praktis tidak terbatas, oleh karena setiap sel benih dapat memperoleh setiap macam "sumbangan” dari bermacam-macam gene.
Setelah sel telur dari wanita dan sel sperma dari pria bersatu dan merupakan suatu kehidupan baru, maka ovum yang telah diserbuki ini tumbuh dengan jalan perpecahan sel-sel. Sel ini mula-mula pecah menjadi dua sel, kemudian setiap sel baru ini pecah lagi menjadi dua, sehingga terdapat empat sel, dan begitulah seterusnya; perpecahan sel ini terjadi dengan kecepatan yang besar dan terus berlangsung sehingga organisme baru memperoleh segala organ badan. Beberapa dari sel-sel baru ini menjadi sel-sel benih yang fungsinya ialah melanjutkan proses hereditet. Yang lain bagi menjadi sel-sel somatis dan menghasilkan tulang, otot, alat-alat pria dan susunan urat-syaraf. Pertumbuhan selama periode pranatal (dalam rahim ibu) sangat jelas. Dikatakan, bahwa kenaikan berat pada seorang individu yang baru ialah ; dari 1 /50.000 ounce pada permulaan kehidupan menjadi kira-kira 120 ounce atau IVi pound pada waktu lahir.
Proses sebenarnya, yang dipergunakan oleh mekanisme hereditet untuk menghasilkan sifat-sifat tertentu pada seorang individu tidak seluruhnya dipahami. Apabila sel-sel benih dari kedua orang tua mengandung semua determinant untuk mentali tet tinggi dan tidak ada sama sekali determinant untuk men- talitet rendah, maka semua anak akan memiliki mentalitet tinggi. Dalam hal ini kedua orang tua itu akan disebut homozygous untuk sifat tertentu dari mentalitet tinggi. Barangkali tidak ada satu orang pun yang bersifat homozygous untuk suatu sifat, tetapi yang lebih mungkin ialah, bahwa semua orang bersifat heterozygous untuk setiap sifat. Oleh sebab itu anak-anak dapat memiliki ciri-ciri yang berbeda dari ciri-ciri orang tuanya.
Banyak ahli-ahli pengetahuan yang berpendapat, bahwa ras dapat diperbaiki terus-menerus dengan mengadakan perjodohan selektif. Kalau rencana semacam ini dijalankan maka orang-orang dengan keadaan jasmani dan rohani yang kuat diperbolehkan bersuami-isteri, sedangkan orang-orang yang bodoh dan lemah dicegah dari mempunyai keturunan. Dilihat dari
sudut biologi rencana ini memang mungkin dapat dianggap perlu, tetapi sebenarnya rencana ini tidak memberikan penyelesaian terhadap kepincangan-kepincangan masyarakat. Masalah-masalah yang paling menyusahkan kita kebanyakan tidaklah bersilat jasmaniah atau intellektuah tetapi bersifat sosial, moril dan. keagamaan. Dengan perkataan lain : hal-hal yang; lebih luhur dalam hidup kita, yaitu hal-hal .y ang akan kita bela dengan hidup kita terletak dalam daerah moral dan rohani. Suatu ras raksasa dengan mentalitet yang maha agung tidak akan menjamin perdamaian serta kehidupan yang baik yang kita cari: bersama.
Banyaklah kepincangan-kepicangan serta ketidak- beresan yang dahulu pernah kita anggap akibat dari hereditet sekarang ternyata di sebabkan oleh pen ga ruh-p enga ruh keadaan -keadaan yang timbul pada atau sesudah waktu kelahiran. Perio'de p rana- tal dari hidup kita berlangsung dari saat penyerbukan ovum sampai saat kelahiran. Pemberian makanan yang kurang benar dan tekanan serta kekangan yang berlebih-lebihan selama waktu ini dapat menghasilkan hal-hal yang abnormal pada anak. Penyakit-penyakit tertentu, seperti penyakit kotor, dapat menimbulkan cacat-cacat permanent, seperti buta, pada masa pranatal, tetapi pendapat yang mengatakan, bahwa pikiran-pikiran dari pengalaman-pengalaman itu selama mengandung berpengaruh terhadap si anak tidak perlu benar kita perhatikan. Misalnya seorang ibu yang mengandung tidak akan dapat mempengaruhi bakat musik anak yang sedang dikandungnya itu dengan jalan ia sendiri belajar musik. Sel-sel benih rupa-rupanya kebal terhadap pengaruh-pengaruh semacam itu seperti yang telah diterangkan lebih dahulu. Kalau perbuatan-perbuatan semacam itu memang betul berkesan pada anak, dapatlah diharapkan, bahwa anak yang termuda selalu melebihi anak -anak yang lebih tua dalam hal kapasitet; tetapi kenyataannya ialah, bahwa antara kapasitet dasar anak-anak dengan nomor kelahiran mereka
tidak terdapat hubungan kausal.
Ciri-ciri Biologis yang Penting.
Dalam bagian yang terdahulu dari bab ini telah kita bicarakan beberapa prinsip serta mekanisme yang berhubungan dengan soal keturunan. Pada tingkat ini rasanya ada laedahnva kalau kita bertanya : ciri-ciri manakah yang diturunkan dan mempunyai arti pendidikan ? Meskipun dapat dikatakan tak mungkin untuk mengadakan perbedaan yang jelas antara etek hereditet dan efek-efek lingkungan, namun sangat berguna un- t ik mengadakan suatu klasifikasi yang luas serta flexibel, supaya dengan demikian kita menyadari pentingnya mempergunakan perlengkapan anak sebaik-baiknya, dan dalam pada itu menjauhkan diri dari kebiasaan mempersalahkan hereditet akan segala sifat yang kurang baik yang mungkin terdapat pada anak-anak.
Gerak atau Action. Hidup adalah bergerak atau berubah. Anak adalah suatu organisme yang aktip dan dinamis. .Pada setiap tingkatan umur rnanusia mau tak mau harus bergerak, berbuat atau berubah sikap. Sistem manusia yang konip!ex itu meliputi reaksi-reaksi chemis dan proses-proses physiologis yang mengganggu keseimbangan yang terdapat antara suatu bagian dari sistem manusia tadi dengan bagian yang lain, yang senantiasa menimbulkan pergeseran atau perubahan posisi. Aktivitet ini tampak paling jelas pada bayi dan anak-anak yang masih muda, yang selalu memperlihatkan gerak-gerak yang terus-menerus selama waktu jaga mereka.
Banyak sekali bukti-bukti yang menunjukkan, bahwa gerak manusia dimulai sebagai kumpulan gerak yang kasar dari tidak ber-differensiasi dan kemudian berkembang menjadi perbuatan-perbuatan yang lebih halus dan lebih khusus. Pola-pola kasar dan gerak-gerak ini dimulai pada kehidupan embryonal dan terus mengalami proses individualisasi serta penghalusan  gerak, sampai, berkat bimbingan pendidikan yang sadar, tercapailah berbagai-bagai tingkat kecakapan. Oleh sebab itu sam- butan-gerak fundamental ini adalah dasar bagi segala kecakapan kita yang besar gunanya, seperti menulis, memainkan alat- alat musik, kecakapan-kecakapan artistik dan kerajinan serta sprot. Jadi masalah yang kita hadapi dalam pendidikan bukanlah berupa :: bagaimana caranya mengekang atau merusak tendensi-tendensi kegiatan itu, tetapi . bagaimanakah caranya mengarahkan dan mempergunakan tendensi-tendensi kegiatan itu.
Susunan Badan. Meskipun memang banyak terdapat variasi, namun para individu memperlihatkan persamaan dalam soal struktur-struktur serta organ-prgan yang terutama sangat berguna bagi pendidikan. Beberapa organ seperti mata sangat berguna bagi pendidikan, tetapi organ semacam itu bukanlah merupakan organ yang esensiil. Sesuai dengan prinsip, bahwa setiap golongan menghasilkan keturunan yang sejenis, dapatlah kita, berharap, bahwa pada setiap anak akan kita jumpai ciri- ciri. tertentu, yang kemudian akan kita bicarakan lebih lanjut di bawah ini.
Type serta status umum yang dapat dikatakan seragam memungkinkan sekolah menyediakan mangan belajar dani type umum dengan buku, pensil, papan tulis, bangku dan perlengkapan Standard yang lain, untuk dipergunakan terus-menerus. Misalnya : suatu ruang kelas untuk kelas satu dapat diperlengkapi dan dipergunakan terus-menerus untuk anak-anak yang berumur enam tahun, dari generasi yang satu ke generasi yang lain.
Setiap anak memiliki susunan urai: syaraf pusat yang terdiri. dari, otak dan sumsum tulang belakang, yang dengan sistem syaraf-berpasangan digabungkan dengan berbagai bagian badan. Susunan urat syarat yang otonom dengan mengadakan koordinasi dengan susunan urat syaraf pusat mengontrol bagian-bagian badan di sebelah dalam. Susunan urat syaraf ini, bersama-sama dengan alat-alat dirinya seperti mata dan telinga, memungkinkan seseorang mengadakan kontak dengan dunia luar secara sadar melalui pengalaman-pengalaman yang lazim disebut per- driyaan-perdriyaan atau, pengamatan-pengamatan visual, auditif, taktual, olfactory (segala yang berhubungan dengan daya bau kita), gustatory (yang berhubungan dengan daya kecap kita), organis therrnel (yang berhubungan dengan panas atau suhu), kinesthetis dan statis. Mekanisme-mekanisme dari sambutan ini adalah bermacam-macam otot, kelenjar dan sel-sel kortikal dari cerebrum kita. Secara singkat dapatlah dikatakan bahwa seluruh ”mesin” tingkah laku terdiri dari (i) mekanisme penerima, ialah : aiat-alat driya (2) mekanisme penghubung; susunan urat syaraf, dan (3) mekanisme penyambut, ialah : otot, kelenjar,, dan sel-sel kortikal.
Struktur yang terpenting adalah cerebrum, yang dapat disebut : organ untuk adaptasi. Mungkin tidaklah tepat benar kalau dikatakan, bahwa organ ini dapat diubah-ubah dengan mudah, tetapi umumnya orang berpendapat, bahwa organ ini rn e m un gk i n k a n t i rn b u 1 n y a pe ru b ah an -p eru b a h a n d a n ad a p t as i - adaptasi yang kita sebut, belajar atau pendidikan Dengan cara yang sampai sekarang belum dapat diterangkan cerebrum manusia mempunyai kapabilitet yang lebih besar untuk menimbulkan adaptasi-adaptasi psikologi daripada olak binatang yang lebih, rendahi tingkatnya. Lagi pula, fungsi-fungsi cerehral dari beberapa individu sangat berbeda dari individu-individu lain Tidaklah mudah untuk menerangkan kenyataan atau kebenaran ini, oleh karena otak manusia biasa hampir tidak dapat dibedakan dari otak seorang genius dengan melakukan suatu pemeriksaan jasmani tentang besarnya, strukturnya atau komposisinya.
Organ yang dapat dikatakan sangat sesuai untuk tujuan- tujuan pendidikan ialah; lengan dan tangan. Lengan manusia, berkat panjangnya serta gerak-geraknya yang bebas dan mudah, sangat menguntungkan manusia dalam kecakapan-kecakapan
pertukangan, ke-senian dan olah raga. Tangan manusia dengan ibu jari seria empat jari yang bertentangan letaknya memungkinkan manusia menguasai salah satu kesenian manusia yang terbesar : menulis, dan mempergunakan perkakas-perkakas yang halus dalam melakukan teknik-teknik mekanis yang halus. Warisan manusia vang lain, yang sangat besar pula nilainya .ialah : kapasitet khusus pada manusia untuk mempergunakan cara berbicara yang simbolis, yang dimungkinkan oleh pita-pita suara; penyusunan gigi-geligi dan ruang mulut serta otak sebagai badan k o-ordinasi
Sensitivitet. Organisme manusia mempunyai sifat dasar sensitii atau perasaan terhadap perangsang. Sifat sensitif terhadap perangsang ini bukanlah merupakan suatu silat, yang dipelajari,, tetapi lelah ada dalam organisme sejak permulaan periode pranataI. Orang-orang kuno suka mempergunakan ucapan "pamcaddriya” atau lima alat-driya, yaitu :. pendengaran, sentuhan atau perabaan,, penglihatan., pengecapan, dan pem- bauan, yang semuanya dapat timbul pada manusia sebagai akibat dari, perangsang yang diterima oleh alat-alat driya telinga, kulit, mata, lidah dan hidung. Penyelidikan-penyelidikan yang lebih modern tentang perdnyaan telati melaporkan adanya driya-driya lain seperti driya-driya gerak, keseimbangan, dan sebagainya.. Tanaman serta binatang juga sensitip terhadap pe- rangsang-perangsang, seperti panas, cahaya dan tekanan,, tetapi, manusia dalam hal ini. melebihi tanaman dan binatang oleh karena manusia dapat menjadi sensitip terhadap perasaan orang lain, terhadap perangsang-perangsang soaial yang terdapat pada tingkat kultural, dan terhadap kekuatan-kekuatan yang ditimbulkan oleh penemuan alat-alat yang melampaui jangka alat- alat driya, seperti mikroskop, teleskop, atau radio dan televisi. Sensitivitet atau, jrritabilitet dari suatu organisme adalah, sebab atau syarat dasar bagi aktivitetnya atau geraknya yang telah dibicarakan lebih dahulu.
Plastisitet Anak manusia sanggupi menjalani perubahan- perubahan atau modifikasi-modifikasi yang luas. Binatang imem-perlihatkan ketetapan, dalam pola-pola tingkah laku, yang dikuasainya pada umur yang muda, dan sebagian besar bukan merupakan hasil latihan. Susunan urat syaraf binatang bersifat pendek, dalam arti, bahwa mereka cepat mencapai kedewasaan dan secara praktis sedikit saja yang mereka pelajari dalam kehidupan mereka. Gerebrum manusia bersifat seperti tanah kosong dan tidak dikembangkan pada waktu ia dilahirkan, dan kedewasaan dicapai dengan proses yang sangat lambat. Perhatikan masa bayi yang sangat panjang pada manusia kalau dibandingkan dengari waktu yang sangat pendek yang dibutuhkan binatang untuk mencapai kedewasaan. Anak manusia sanggup untuk mencapai perkembangan yang hampir-hampir tak terbatas dan sanggup pula melakukan perbuatan belajar melalui adaptasi-adaptasi psikologis yang bermacam-macam. Fakta-fakta ini menyarankan pentingnya lingkungan yang baik bagi perkembangan manusia.
Plastisitet atau modifiabilitet dan seorang individu meru ungkin kau tim bulny a per uba ha n-perubahan, baik jasni ani maupun rohani. Kita semua tahu akan perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh penggunaan makanan tertentu. Untuk menjamin pertumbuhan, terutama pertumbuhan tulang, dibutuhkan vitamin-vitamin tertentu. Pertumbuhan gigi-geligi anak- anak dapat diubah atau dikontrol sampai tingkat tertentu, bahkan gigi dapat pula diluruskan kalau dirawat pada waktunya.
Dengan cara yang tidak dapat diterangkan suatu perubahan dalam tingkah laku seseorang meliputi pula perubahan dalam struktur biologisnya. Kebanyakan teori yang diajukan, misalnya teori tentangan yang makin berkurang pada sambungan- sambungan synaptik dalam susunan urat syaraf, tidak dapat dibenarkan. Tetapi fakta-fakta tentang modifikasi ini cukup jelas, meskipun keterangan yang lengkap mengenai mekanisme yang mendasari modifikasi masih lagi harus kita tunggu. Seorang anak dapat diajar berbicara dalam bahasa Tionghoa, Latin, atau Inggris, meskipun bahasa-bahasa ini memperguna-
 kan pola-pola sambutan vokal yang berlain-lainan. Pengaruh modifikasi dari lingkungan pada umumnya dimungkinkan oleh adanya plastisitef yang sangat besar pada organisme manusia.
Dorongan-dorongan. Dalam diri setiap manusia kita dapati disposisi-disposisi yang diberi sebutan yang beraneka warna : dorongan, prepotent reflexes. atau naluri. Disposisi-disposisi biologis ini dianggap sangat penting bagi setiap individu untuk mempertahankan dirinya dan untuk menjaga kelangsungan ras. Dorongan-dorongan tadi biasanya digolong-golongkan menjadi tiga golongan dorongan : lapar, proteksi dan se\ liga golongan yang luas ini dianggap dapat meliputi semua dorongan dasar yang dapat disebutkan dengan nama-nama yang berbeda-beda. Misalnya : kebutuhan jaringan-jaringan kita akan zat asam, istirahat dan eliminasi pada dasarnya adalah soal-soal yang berhubungan dengan proteksi organisme kita. Oleh karena dorongan mencari rnakanan adalah suatu alat untuk mempertahankan diri suatu individu, maka lapar dan proteksi dapatlah kita anggap sebagai dorongan-dorongan yang sejenis, yang fungsinya adalah menjaga kelangsungan diri. Dorongan jenis terakhir ini, be rsarn a-sam a d enga n d o r o ngan-d oronga n keke I amiman atau d orongan -d orongan re produ ksi, me m pertahankan se tiap individu dan ras menjaga kelangsungan diri. Dorongan-dorongan ini sering pula dinamakan "prepotent refkxes”, yang rne- nunj ukkan, bah w a do rongan-d oronga n tadi sa n gat me n en tukan sifatnya terhadap jalan tingkah laku seseorang. Pada waktu- waktu yang menekan atau waktu-waktu krisis dorongan-dorongan tadi pada umumnya lebih mudah timbul daripada bentuk- bentuk perbuatan yang kita pelajari, termasuk pula cita-cita dan moral. Dengan perkataan, lain : seseorang yang sangat menderita karena lapar mungkin sekali akan sampai hati melakukan hal-hal tertentu, yang tidak akan dilakukannya dalam keadaan biasa berkat adanya norma-norma, keagamaan dan kesusilaan tertentu pada diri orang tadi.
Dilihat dari sudut pendidikan, dorongan-dorongan ini merupakan dasar bagi motif-motif untuk setiap usaha yang
bernilai. Dorongan kelamin misalnya dapat menjadi motif bagi seseorang untuk membentuk dan mempertahakan keluarga, di mana anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang bahagia. Mengetahui dorongan-dorongan yang mendesak serta sifat-sifat tamak pada diri kita masing-masing memungkinkan kita bersikap mengerti dan sabar terhadap orang lain yang memiliki kelemahan-kelemahan ini dan dapat memahami orang- orang yang terlalu dikuasai oleh dorongan primitif ini. Kalau seseorang turut menyokong usaha-usaha untuk mengadakan perbaikan masyarakat, maka sebenarnya usaha-usaha orang tadi tidaklah semata-mata didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang altruistis sifatnya; perbaikan-perbaikan masyarakat yang telah tercapai memberikan pula kepadanya rasa puas terhadap kebutuhan-kebutuhan biologis tertentu yang dirasakannya.
Pada wak tu akhir-akhir ini kata insti.net atau naluri pada umumnya tidak terlalu digemari oleh para ahii-psikologi. Kata instinet adalah suatu istilah umum yang terlalu mudah dipergunakan untuk menyebutkan segala kecenderungan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dipelajari dan bersifat umum. Banyaklah perbuatan-perbuatan dan kecenderungan- kecenderungan yang mula-mula dianggap sebagai instinet ternyata kemudian merupakan perbuatan-perbuatan yang dipelajari. Tetapi para ahli-psikologi, yang sebenarnya harus berusaha membatasi arti kata instinet ini, kemudian ternyata lebih senang mempergunakan strategi kesayangan mereka, ialah : menemukan. atau memilih kata-kata baru untuk menyatakan penemuan- penemuan mereka. Meskipun demikian masih ada sesuatu pada pengertian-pengertian kuno ini yang dapat kita pergunakan. Apapun juga istilah yang kita pergunakan rupanya pada setiap jenis terdapat kecenderungan-kecenderungan untuk berbuat dengan cara-cara tertentu. Identitet serta universalitet kecenderungan-kecenderungan atau dorongan-dorongan ini menyarankan kepada kita, bahwa kecenderungan-kecenderungan ini adalah sebagian dari perlengkapan dasar biologis. Sebagai yang diterangkan dalam hubungan lain dorongan-dorongan ini rupa- rupanya bertindak, sebagai titik-pangkal penyusunan motif- motif pada para pelajar dan dalam kemajuan pendidikan pada umumnya.
Kapasitet Belajar. Manusia tidaklah dari semula mendapat warisan sifat intelligent, tetapi apa yang ada pada para manusia ialah, bahwa mereka memiliki kapasitet yang berbeda-beda untuk menjadi intelligent. Apabila perlengkapan herediter seseorang sedemikian, sehingga mungkinlah baginya untuk menjadi seorang genius, maka apa yang perlu dilakukannya untuk men- menjadi genius tadi ialah adanya dorongan-dorongan atau stimulans-stimulans lingkungan yang tepat. Sebaliknya, mungkin pula dasar-dasar herediter seseorang bersifat sedemikian, sehingga bagaimanapun juga baiknya lingkungannya, orang itu tidak dapat melebihi tingkat seorang idiot atau seorang moron. Gene-gene, atau de t erm inan t-de term i nan t yang ada pada orang tua berbeda-beda kwaJitetnya, artinya : gene-gene tadi tidak horriozygous.
Jadi seorang ayah atau ibu yang sangat cerdas mungkin memiliki beberapa gene bagi sifat-sifat psikologis yang ber- kwalitet dari sangat cerdas sampai bodoh benar-benar. Kalau gene-gene kecerdasan dari kedua orang tua itu dapat dikombinasikan, maka anak, yang dilahirkan dalam keadaan-keadaan yang normal akan bersilat cerdas pula; tetapi apabila gene kebodohan yang dikombinasikan, maka anakpun dalam keadaan- keadaan yang normal, akan bodoh pula. Jadi orang tua yang cerdas mungkin pula melahirkan anak yang biasa saja atau bodoh .
Pengaruh hereditet ini dapat kita lihat pada kesamaan kekeluargaan mengenai kapasitet belajar, [est-test inteligensi memperlihatkan, bahwa korelasi antara I.Q. ayah dan anak, laki- laki, atau antara ibu dan anak perempuan kira-kira 0,50 besarnya. Korelasi antara inteligensi dua orang saudara kandung (.biasanya antara saudara laki-laki dan sudara perempuan (biasanya bergerak antara 0,35 sampai 0,50, meskipun Thomdike melaporkan adanya korelasi yang lebih tinggi, Anak kembar fraternal memperlihatkan korelasi sebesar 0,50 sampai 0,70 dan anak- kembar identik antara 0,80 sampai 0,90. Meskipun keterangan statistis ini tidak seluruhnya reliabel, namun sudah jelas, bahwa keterangan-keterangan semacam ini cukup menarik perhatian kita dan memberikan bukti-bukti yang cukup jelas mengenai efek-elek hereditet. (Untuk memahami arti korelasi periksalah Bab Sembilan belas).
Pola-pola Biologis. Hereditet setiap orang menetapkan poia umum atau ”blueprint” kemungkinan perkembangan bagi orang itu. LH samping pola manusia umum setiap orang memiliki pola atau pola-polanya sendiri yang sudah letap sifatnya. Pola-pola ini mencerminkan kapabiiitet atau abililet potensial, lelah menjadi anggapan umum, bahwa lingkungan yang cukup baik akan dapat menimbulkan pendewasaan dan perbuatan be- lajar yang dibutuhkan untuk mewujudkan ”blue-print” potensial ini. Misalnya : setiap orang memiliki kapasitet tertentu untuk menjadi intelligent, tetapi untuk menjadi intelligent sejauh batas-batas yang terdapat dalam pola biologisnya haruslah ada dorongan lingkungan dan usaha individual. Suatu pola yang diwarisi rnengandung kernungk inan-kernungkinan dan batasebatas kemungkinan. Pola perkembangan umum misalnya ialah dapat berjalan pada umur kira-kira dua belas sampai empat belas bulan, bercakap-cakap pada umur setahun kemudian, tumbuh gigi menurut perurulan tertentu dan mencapai batas tinggi dan berat tertentu. Sekolah pada umumnya -lebih tahu tentang pola-pola physik, dan kurang mengetahui pola-pola psikis. Memperhitungkan macam tempat duduk dan jendela yang dibutuhkan oleh suafu ruangan sekolah lebih mudah daripada menentukan : apa yang harus dilakukan sekolah mengenai pola-pola intellektual dari para individu di sekolah.
Kita tidak boleh terlampau cepat beranggapan, bahwa silat-silat tertentu adalah silaf-sifat warisan. Banyak sifat-sifat 
yang mula-mula dianggap silat warisan dan dengan demikian tak dapat berubah-ubah kemudian ternyata berupa hasil-hasil perbuatan belajar yang dilakukan pada masa anak-anak. Sebagai contoh dapat disebutkan kecenderungan akan introversi. Hereditet tidak bekerja dalam suatu ruangan kosong; "tugas" hereditet dibatasi oleh dan bergantung kepada lingkungan. Disposisi-disposisi serta struktur-struktur biologis yang diwarisi memang dapat menunjukkan arah (tujuan) umum atau pola kemungkinan perkembangan, tetapi pola semacam itu hanyalah dapat di-’korakkan" atau di-’'buka' serta diwujudkan, bila lingkungan, membantu perkembangan semacam itu. Lagi pula perbuatan belajar dapat dikacaukan dengan pendewasaan atau pertumbuhan organisme physik semata-mata. Beberapa aspek dari pola perkembangan seseorang mungkin ternyata dapat di-”korakkan” dengan latihan yang tak seberapa, sedangkan aspek-aspek yang lain mungkin memerlukan usaha yang jauh lebih besar untuk meng-'”orakkannya.”
Perlengkapan Ajar Yang Penting.
Anak yang pergi ke sekolah untuk diajar bukanlah merupakan suatu mahluk biologis semata-mata; telah dikuasainya pula beberapa perlengkapan tambahan. Kalau seorang anak mencapai suatu hasil belajar, maka hasil ini tidaklah hanya ditandai dan kemudian disimpan saja, tetapi hasil belajar ini menjadi, alat atau batu loncatan untuk mencapai, perlengkapan tambahan yang lain lagi. Kebiasaan yang lazim ialah mempergunakan kata kapasitet untuk menyebutkan, sesuatu yang diperoleh dari hereditet, dan kata abilitet untuk menyebutkan sesuatu yang dapat dilakukan seseorang berkat perbuatan-perbuatan belajar yang dilakukan. Namun rupa-rupanya dapat dibenarkan juga kalau dipergunakan juga kata : kapasitet ajar. Apabila seseorang pada waktu sekarang dapat mempelajari sesuatu yang tidak mungkin dipelajarinya tanpa melakukan perbuatan-perbuatan belajar pendahuluan tertentu, dapatlah dikatakan, bahwa perbuatan belajar pendahuluan ini memberikan kepadanya kapasitet tambahan. Baiklah kita periksa beberapa aspek dari perlengkapan seseorang yang dikumpulkannya selama ia menjalani proses kemajuan di sekolah.
Piramide Abilitet. Telah dikatakan, bahwa suatu abilitet menimbulkan abilitet yang lain. Ini berarti, bahwa abilitet-abi- iitet dapat disusuri bertumpuk-tumpuk, sehingga merupakan suatu pirarnide, sehingga pekeijaan intelektual yang mula-mula tidak mungkin dilakukan seseorang akhirnya dapat juga dilakukannya. Apabila seorang anak menguasai bahasa, maka dengan penguasaan ini ia memperluas kapabilitet-nya untuk menyelidiki dunia di sekitarnya, oleh karena dengan demikian ia dapat menangkap apa yang dikatakan orang lain. Kalau kemudian anak tadi pandai juga membaca, maka alat belajamyapun menjadi lebih luas lagi, sehingga dapatlah ia turut mengalami kejadian-kejadian yang dialami oleh sesama manusia di seluruh dunia pada waktu sekarang dan pada seluruh waktu lampau yang tercatat dalam sejarah. Ketak sanggupan membaca sejarah dan sastera sudah terang merupakan hambatan intelektual bagi studi-studi semacam di atas.
Abilitet untuk mempergunakan pengertian-pengertian bilangan dan simbol-simbol rnatematik merupakan pula suatu contoh. Jika kesanggupan memahami serta mengontrol lingkungan physik kita merupakan suatu tujuan pendidikan yang dapat dibenarkan, maka kapasitet kita untuk, menghadapi lingkungan ini dapat dipertinggi oleh abilitet kita untuk mempergunakan alat atau bahasa ilmu-pengetahuan-alarn, ialah : matematika. Begitu pula oleh karena hilangan dan bahasa merupakan suatu alat bagi kerja sama sosial maka penguasaan alat-alat ini akan merupakan pertinggian atau pcngluasan kapasitet untuk mencapai perbaikan-perbaikan sosial. Tidaklah terlampau berlebih-lebihan kalau dikatakan, bahwa makin banyak pengetahuan seseorang, makin banyak pulalah hal yang dapal dipelajarinya. Atau : makin banyak ahililel yang dikuasainya makin 
besar pulalah kapabilitet seseorang untuk mencapai abilitet-abi- Litet lain.
Dorongan dan Tujuan yang Dipelajari. Dorongan-dorongan dasar biologis yang telah kita bicarakan lebih dahulu jelas merupakan dasar-dasar bagi kegiatan-kegiatan kita. Meskipun demikian ada pula dorongan-dorongan dan tujuan-tujuan baru yang dapat kita pelajari. Pendidikan tidak hanya meraba h manusia : pendidikan dapat pula memperkembangkan dalam diri manusia suatu tujuan luhur baru yang dalam situasi-situasi praktis dapat mengalahkan dorongan-dorongan yang lebih primitip. Dan mo- tip luhur semacam inilah yang dicita-citakan sekolah agar dapat timbul dalam hari para murid. Seekor binatang mungkin hanya mau mempelajari sesuatu kalau sudah didesak oleh rasa lapar, tetapi seorang guru sudah pasti tidak akan mempergunakan penderitaan semacam ini dan menyajikan Kuen-kueh kepada anak untuk setiap hal yang rnereka pelajari. Pengalaman-penga- laman yang baru harus dapat menimbulkan tujuan-tujuan baru dan motip-motip yang luhur pada seseorang. Kalau faktor-faktor lain semuanya sama maka seseorang dengan motip yang lebih kuat tentu memiliki kapabilitei vang lebih besar untuk belajar daripada orang lain yang kurang kuat motifnya. Kebudayaan kita menghendaki, bahwa kita hendaknya jangan menjadi budak napsu kita atau menjadi mangsa emosi-emosi primitip kita. Motip-motip keagamaan yang murni misalnya tentu berfungsi pada tingkatan yang lebih luhur daripada motip-motip yang bersifat tamak dan didorong napsu.





Co Hujroh

  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Co Hujroh No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1575
  • Logged
Re: PERLENGKAPAN FUNDAMENTAL MANUSIA
« Reply #1 on: 02 Jun, 2019, 23:10:24 »
Perlengkapan Manusia dan Perlengkapan Binatang.
Binatang yang terdapat pada tingkatan yang lebih rendah daripada tingkatan manusia tidak memperlihatkan tanda-tanda akan adanya kemajuan intelektual atau kemajuan kebudayaan. Kebudayaan terus mengalami kemajuan-kemajuan dengan perantaraan lembaga-le mbaga kebudayaan dan alat-alat intelektual yang baru saja disebutkan. Binatang tidak dapat mencapai kemajuan-kemajuan ini. Di kalangan binatang tidak pernah terdapat sesuatu yang dapat dinamakan bahasa simbolis. Batas-batas kemungkinan ini berarti, bahwa binatang yang hidup pada tarap yang rendah itu tidak akan pernah dapat dididik, meskipun mereka itu dapat dilatih untuk mengerjakan hal-hal tertentu.
Tingkah laku binatang terbatas pada situasi-situasi per- septual saja; artinya : tingkah laku rnereka hanya terbatas pada dunia physik yang terdiri dari benda-benda saja. Dalam situasi- situasi sensoris dan perseptual mereka dapat mempergunakan benda-benda untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Seekor kera dapat menyelesaikan masalah bagaimana caranya mencapai makanan yang diletakkan pada suatu tempat yang terlalu tinggi, sehingga tidak dapat dicapai dengan jalan biasa. Masalah ini akan dipecahkannya dengan jalan menumpuk beberapa kotak atau peri sehingga terdapat suatu lan- dasan yang cukup tinggi, yang memungkinkan ia mencapai makanan tadi. Tingkah laku semacam ini adalah tingkah laku yang khas bagi binatang yang terdapat pada tingkat inteligensi binatang yang tinggi. Perlu ditegaskan di sini, bahwa situasi, yang baru dilukiskan di atas adalah suatu situasi kongkrit yang dipergunakan dalam hubungan dengan berfungsinya alat-alat driya dalam suatu lapangan sensoris.
Banyak juga masalah manusia yang diselesaikan dalam cara yang sarna dengan cara penyelesaian masalah yang dipergunakan oleh kera tadi, tetapi manusia mempunyai kapabilitet untuk berbuat secara rasional, la dapat mempergunakan pengertian- pengertian dan konsep-konsep. Tingkah laku rasional meliputi simbolisme abstrak dan pemahaman prinsip-prinsip dalam hubungan sebab-akibat. Kapasitet untuk mempergunakan sistem simbolisme dan mengambil langkah-langkah tak langsung alam menyelesaikan suatu masalah adalah sesuatu yang unik bagi perbuatan belajar pada manusia. Rupa-rupanya binatang hanya mempunyai satu pusat kesadaran saja pada satu ketika, ialah : kesadaran terhadap situasi sensoris yang dihadapi pada waktu 
itu. Manusia dapat menghadapi dua atau lebih pusat kesadaran pada satu ketika. Prosedur ini memungkinkan manusia menemukan alat-alat sebagai langkah-langkah tak langsung, mencapai beberapa tujuan tak langsung dan berusaha mencapai penyelesaian terakhir tanpa kehilangan masalah yang sebenarnya. Masalah macam ini biasanya berupa masalah-masalah sosial, ekonomis, politis atau keagamaan, yaitu masalah-masalah yang tidak dapat dihadapi dan dipecahkan oleh binatang. Dengan perantaraan tingkah laku-tingkah laku macam inilah umat manusia dapat mencapai kebaikan-kebaikan sosial dan moril yang agung, yang mengikat kita sekalian dalam suatu masyarakat yang berkebudayaan.
Perbedaan Individual dalam Perlengkapan.
Pada halaman-halaman yang telah, lampau telah diberikan uraian singkat mengenai perlengkapan manusia. Setiap orang yang memberikan bimbingan dalam aktivitet-aktivitet belajar perlu kiranya memikirkan masalah : bagaimana dan mengapa setiap individu berbeda dari individu yang lain. Menyusun prosedur-prosedur pengajaran dengan memperhatikan seluas-luasnya perbedaan individual ini adalah suatu tugas yang terletak di luar batas-batas kitab ini. Meskipun demikian adalah pada tempatnya untuk memeriksa prinsip-prinsip psikologis yang berhubungan dengan perbedaan individual ini.
Timbulnya Masalah Variabilitet. Masalah perbedaan-perbedaan individual ini semenjak pertengahan abad ke-I9 makin terasa dan disadari di Amerika Serikat, dan kesadaran akari masalah ini semenjak waktu itu lebih besar daripada waktu-waktu sebelumnya. Hal ini bukanlah karena semenjak pertengahan abad ke-19 itu anak-anak memperlihatkan perbedaan individual yang lebih besar daripada sebelumnya dalam zaman Amerika jajahan. Dalam hal ini kita harus lebih memperhatikan perubahan-perubahan dalam filsafat pendidikan dan politik nasional Amerika. Dalam zaman penjajahan hanyalah mereka yang pernah bersekolah yang berpendapat bahwa belajar di sekolah itu bermanfaat. Ketika kepada seluruh rakyat diberikan hak-pilih untuk lebih rneng-effektifkan sistem demokrasi atau sistem pemerintahan sendiri atau swapraja, maka dirasakan!ah adanya kebutuhan akan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Akibatnya dimulailah undang-undang kewajiban bersekolah dan akhirnya undang-undang ini diterima oleh seluruh negara-bagian di Amerika Serikat. Praktek baru ini telah menyebabkan sekolah- sekolah rakyat diisi dengan populasi yang heterogin dan yang memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang luas mengenai kapasitet dan minat. Rancangan yang bersifat masai ini tentu saja menghendaki, bahwa cara mengajar individual yang dipraktekkan sebelumnya digantikan dengan cara mengajar berombongan. Setiap usaha untuk mengajar suatu rombongan anak tentu menjumpai perbedaan-perbedaan yang sangat luas antara para anggota rombongan itu, juga kalau misalnya rombongan tadi digolong-golongkan secara hati-hati atas dasar-dasar tertentu. Masalah-masalah semacam ini menimbulkan bermacam-macam penyelidikan, seperti gerakan studi tentang anak, jurusan pelajaran yang dibeda-bedakan, pemeriksaan atau penilaian psikologis (mental testing), penilaian dalam pendidikan, diagnosis ilmiah dan langkah-langkah perbaikan.
Bagaimana dan Mengapa Anak-anak berbeda-beda. Oleh karena setiap individu adalah hasil, hereditet dan lingkungan, maka setiap variasi pada salah satu faktor di atas dapat mempengaruhi hasil itu. Seorang anak dengan warisan biologis yang cukup besar mungkin hanya memperlihatkan hasil yang biasa atau bahkan interior saja, oleh karena ia tumbuh dalam lingkungan yang terlampau banyak mengandung hambatan-hambatan. Begitu pula seorang anak dengan perlengkapan biologis yang biasa saja mungkin dalam hasil-hasil pelajaran di sekolah kelihatan sangat superior; keterangan lebih lanjut mengenai hal ini akan kita dapat kemudian. Murid-murid menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam hal apa yang dapat mereka pelajari dan apa yang memang telah mereka pelajari.
Apa yang dipandang sebagai kapasitet asli atau kapasitet yang diwariskan ditentukan oleh cara gene-gene berkombinasi dalam ovum yang sudah mengalami penyerbukan. Sebab perbedaan ini telah dibicarakan dalam bagian yang lampau. Pada waktu anak masuk sekolah tidak ada satu haipun yang dapat dilakukan sekolah mengenai hal ini; namun perlulah sekolah mengetahui, bahwa perbedaan-perbedaan ini adalah akibat: dari kreditet, sehingga dengan demikian dapat dipastikan batas-batas tanggung-jawab sekolah.
Suatu prinsip yang ditemukan oleh pemeriksaan psikologis ialah bahwa dalam fungsi-fungsi psikis tinggi terdapat perbedaan-perbedaan yang lebih besar di antara para manusia daripada dalam fungsi-fungsi yang lebih rendah. Test-test inteligensi yang baik mempergunakan pula prinsip ini dengan jalan memasukkan ke dalamnya pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan proses-proses abstrak yang tinggi. Test mengenai kecakapan loncat tinggi atau mengenai kwalitet tulisan tangan tidak dapat merupakan suatu petunjuk mengenai kapasitet dasar seseorang, oleh karena perbuatan-perbuatan semacam ini' terdapat pada tingkatan rendah. Apa yang diperoleh seseorang dan warisan atau keturunannya ialah potensialitet inteligensi. Inteligensi itu sendiri adalah sesuatu yang harus dicapai. Oleh sebal) itu orang-orang yang memiliki potensialitet dasar yang sarna mungkin mencapai tingkat inteligensi yang sangat berbeda, letapi bagi orang yang tidak sarna kapasitet dasarnya akan terdapat perbedaan-perbedaan yang lebih besar lagi setelah mereka itu mendapat didikan di sekolah. Dengan perkataan lain dapatlah dikatakan, bahwa murid-murid yang pandai, tidak saja mencapai tingkat kedewasaan psikis terakhir yang lebih tinggi daripada anak-anak yang bodoh, tetapi tingkat terakhir ini mereka capai dalam waktu yang lebih pendek. Hal ini berarti, bahwa perbedaan-perbedaan mutlak bertambah, meskipun perbedaan- perbedaan relatif dalam lingkungan yang sama tidak berubah. Kalau dua orang anak pada umur 5 tahun memperlihatkan perbedaan dalam umur psikis sebesar 1 tahun, maka keniungkin- annya ialah, bahwa pada umur 10 tahun nanti perbedaan dalam umur psikis antara mereka ini akan menjadi 2 tahun. Namun I.Q. mereka akan konstan t selama waktu di atas tadi.
Perbedaan-perbedaan juga dapat timbul sebagai akibat faktor-faktor emosional dan kesalahan-kesalahan pedagogis. Cara mengajar yang jelek dapat timbul sebagai akibat dari ke- taksanggupan untuk mengetahui kesukaran-kesukaran yang dihadapi pelajar. Mengajar bukanlah semata-mata menerangkan suatu mata-pelajaran saja; dalam mengajar guru harus juga memperhatikan kondisi emosional dan psikis si pelajar. Sikapnya, cita-citanya, minatnya dari kebutuhan-kebutuhan yang disadarinya, semuanya ini terletak dalam daerah situasi pengajaran. Barangkali pengajaran yang baik memang berusaha mempersamakan anak-anak di sekolah rakyat, tetapi barangkali benar pula, bahwa pada tingkat perguruan tinggi keadaan yang sebaliknyalah yang terdapat, ialah bahwa tingkat akademi yang dicapai oleh para mahasiswa berbeda-beda. Orang menjadi berlainan, oleh perbedaan sifat sambutan-sambutan yang dilakukan. Pengajaran dapat menimbulkan dan dapat pula tidak menimbulkan sambutan yang tepat untuk tiap anak. Faktor usaha yang dilakukan oleh murid pun tidak boleh pula kita abaikan. Adanya suatu organisme dalam suatu lingkungan tidak perlu berarti, bahwa dengan demikian lalu timbul pertumbuhan atau perbuatan belajar. Untuk itu harus lebih dahulu terdapat sambutan terhadap situasi. Dalarn hal mata pelajaran-mata pelajaran di sekolah, faktor usaha merupakan sebab utama dari perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara murid-murid. Seorang anak tidak dapat menjadi orang yang berkebudayaan, semata- mata karena ia ada dalam suatu lingkungan yang berkebudayaan saja. Kebudayaan harus dicapai dengan jalan mengadakan usaha- usaha sepantasnya.
Perbedaan-perbedaan dalam satu Klas atau Tingkatan. Pada
halaman berikut terdapat suatu tabel yang memuat score yang dicapai oleh sejumlah anak klas tiga pada suatu sekolah dasar.
Pada kolom .ketiga dalam tabel itu terlihat, bahwa dua orang murid tidak, dapat mencapai suatu nilaipun pada Gates Silent Reading Test yang diperuntukkan bagi kias 3 sampai kias 8, sedangkan sebaliknya terdapat pula seorang murid yang mencapai nilai yang sama dengan nilai untuk permulaan kias 9. Oleh karena test itu diberikan pada pertengahan kias tiga, maka norma kias untuk rombongan murid-murid itu ialah 3, 4 atau 3, 5. Seperempat dari anak-anak ini mencapai nilai yang lebih rendah daripada norma rombongan dan sepertiga dari anak-anak ini dapat melampaui atau melebihi norma rombongan dengan nilai satu tahun atau lebih. Untuk rombongan anak kias tiga ini jarak batas (range) untuk kecakapan membaca jadinya ialah dari tingkat f sampai tingkat sembilan, yaitu 8 tingkat penuh; perlu kita perhatikan kenyataan, bahwa seluruh anak ini mendapat pelajaran yang sama, yang diberikan dalarn kias mereka. Ini bukanlah suatu keadaan luar biasa, tetapi keadaan semacam ini dapat ditemukan dalarn banyak sekolah umum.

TINGKAT KECAKAPAN MEMBACA DAN I.Q. DARI
MURID KLAS III PADA SUATU SEKOLAH RAKYAT   
MURID  UMUR KRONOLOGIS TKT KECAKAPAN MEMBACA   I.Q.
a.                    8-9                           9 0                       115         
b.                    9-9                           8-1                       106                 
c.                    8-7                           5-8                       109                     
d.                   7-11                           5-2                        97                   
e.                    9-9                           5 1                       115                   
f.                    8-8                           4-8                       100                 
g.                    8-3                           4-6                       117                   
h.                    8-6                           4-5                       102                   
i.                    8-1                           4-5                       123                   
j.                    8-5                           4-3                       115                   
k.                    9-5                           4-2                        87                     
l.                    8-6                           4-2                        84                     
m.                    8-5                           4-1                        77                   
n.                    8-6                           3-8                       109                   
o.                    9-6                           3-6                        91                   
p.                    8-9                           3-6                        95                       
q.                    8-5                           3-4                       105                   
r.                    8-5                           3-4                       101                   
s.                    9-10                   3-3                        85                   
t.                     9-3                           3-3                        90                   
u                     8-0                           3-3                        93                   
v.                     8-1                           3-1                        93                   
w.                    10-8                   0-0                        62                   
x.                    10-10                       0-0                        55                     
                              

Dari tabel ini dapat pula dilihat hubungan antara tingkat
kecakapan membaca dengan I.Q., I.Q. terendah kurang dari setengah l.Q. tertinggi. Ada I 1 orang murid yang mempunyai l.Q„ di atas 100, dan ada 12 orang murid yang I.Q-nya kurang dari 100. Koeffisien korelasi antara tingkat kecakapan membaca dengan l.Q. untuk kias ini hanya 0,34, sedangkan kalau tercapai koeffisien sebesar 100 akan terdapatlah hubungan yang sempurna. Dengari mempergunakan anggapan, bahwa nilai-nilai un tuk I.Q. dan kecakapan membaca adalah penilaian yang cukup teliti, maka korelasi yang rendah ini menyarankan, bahwa pada beberapa anak kecakapan mernbaca yang rendah ini disebabkan oleh sesuatu yang terletak di luar kapasitet belajar.
Kita cukup mempunyai fakta-fakta untuk berpendapat, bahwa perbedaan-perbedaan akan tetap terdapat, baik di sekolah. menengah maupun di perguruan tinggi. Tabel pada halarnan ini memuat distribusi frekwensi mengenai 512 orang tamatan sekolah menengah atas, yang ditest setelah mereka sebulan lamanya belajar nada perguruan tinggi. Tesi: yang dipergunakan ialah salah satu dari Cc-operative English Test of The American Council on Education. Score yang dimuatkan dalam tabel ini

DISTRIBUSI DARI SCORE PADA TEST MEMBACA DARI SEJUMLAH 512 ORANG MAHASISWA T H J..
SCORE1 '   JUMLAH MAHASISWA
85-89                          1
80-84                    2
75-79                        6
70-74                  22
65-69                       31
60-64                  52
55-59                 120
50-54                 132
45-49                   89
40-44                   48
35-39                   14
30-34                     1
:N                          512


salah score total skala mengenai perbendaharaan kata-kata, kecepatan pemahaman dan tingkat pemahaman. Hendaklah diperhatikan j arak-batas (range) yang luas mengenai kecakapan membaca yang terdapat di antara rombongan mahasiswa tahun pertama ini, sebenarnya seharusnya telah siap semuanya untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi.
Meramalkan Sukses. Sampai di manakah perbedaan-perbedaan yang terdapat pada waktu sekarang merupakan petunjuk bagi perbedaan-perbedaan yang akan terdapat pada masa yang akan datang ? Misalnya, bagi mereka yang mempergunakan angka-angka test inteligensi untuk meramalkan sukses dalam pekerjaan sekolah menganggap ada hubungan yang berarti antara apa yang dapat dilakukan murid dengan apa yang akan dilakukannya sebagai ternyata pada angka-angka laporan di sekolah. Hubungan atau korelasi ini memang positif, tetapi tidak terlampau tinggi, biasanya bergerak antara 0,40 sampai 0,60 bergantung kepada reliabilitet dan validitet alat penilai yang dipergunakan. Test-test yang dipergunakan untuk menilai bakat belajar pada umumnya untuk mereka yang baru masuk perguruan tinggi memperlihatkan korelasi yang sama tingginya dengan sukses di sekolah atau mungkin sedikit lebih tinggi, terutama test-test yang mengandung soal-soal mengenai perbendaharaan kata-kata dan unsur-unsur verbal yang lain. Tetapi kalaupun tercapai korelasi laku seseorang meliputi pula perubahan dalam struktur biolignya. Kebanyakan setinggi 0,60, nilai peramal dari suatu test untuk seorang individu mungkin kelebih-baikannya daripada keadaan kebetulan (cliange) tidak akan lebih tinggi daripada 20%. Inilah yang dimaksudkan dengan formula Kelly untuk ”coeficient of alienation’', di mana k adalah ukuran mengenai ke-meleset-an dari persesuaian yang sempurna.
Kalau r adalah korelasi antara dua susunan score, seperti score pada suatu test intelligensi dengan angka-angka sekolah misalnya, dapatlah sebagai contoh r kita ganti dengan nilai 0,60.
k = \/1 - 0,602 - \/1 - 0,36 = \/0,64 = 0,80
Kalau kemelesetan dari persesuaian sempurna adalah 80%, maka nilai peramal dari suatu korelasi sebesar 0,60 hanyalah 20%- lebih baik dari kecocokan yang terjadi karena kebetulan saja (change). -- Hubungan-hubungan ini tidak boleh ditafsirkan terlalu mutlak atau kaku, karena banyak lagi faktor yang mungkin turut pula menimbulkan kesalahan. Suatu korelasi setinggi 0,90 adalah korelasi yang tinggi, dan kurang dari 0,30 adalah korelasi yang rendah. Plus 1.00 berarti, bahwa ada korelasi positif yang sempurna, dan minus 1,00 berarti korelasi inversi vang sempurna sedangkan 0,00 berarti tidak ada hubungan sama sekali. Kesalahan yang sangat umum ialah anggapan, bahwa antara dua susunan atau sifat yang memperlihatkan korelasi yang tinggi selalu terdapat hubungan kausal.
Hukum atau ketentuan tentang perbandingan jalan pertumbuhan mempunyai juga nilai peramal. Untuk mencapai sukses dalam jabatan-jabatan yang selalu menghadapi masalah-masalah abstrak seperti hukum, accounting atau mengajar sangat diperlukan tercapainya atau dikuasainya tingkatan-tingkatan tertinggi mengenai sifat-sifat psikis tertentu. Apabila dengan keadaan-keadan yang biasa (average conditions) kurve pertumbuhan psikis seorang anak ternyata lebih rendah dari keadaan biasa, maka agak besarlah kemungkinan, bahwa ia dalam kehidupan dewasanya kelakpun akan tetap menempati posisi yang relatif rendah itu. Artinya : anak yang bodoh cenderung untuk tetap bodoh, dan anak yang pandai cenderung untuk tetap pandai. 


IKHTISAR
1.   Setiap individu adalah hasil dari dua kekuatan atau dua faktor : hereditet dan lingkungan. Kedua faktor ini penting bagi setiap perkembangan.
2.   Dalam mempelajari individu-individu penting untuk mengetahui prinsip-prinsip pokok tertentu mengenai hereditet.
a.   Hereditet bekerja dengan melalui sel-sel benih (germ cells). Prinsip reproduksi ini berarti, bahwa ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik yang dipelajari oleh orang tua tidak diteruskan kepada anak-anaknya.
b.   Setiap jenis menghasilkan jenisnya sendiri. Prinsip konformitet ini berarti, bahwa setiap anggota jenis atau golongan (species) mengikuti suatu pola umum.
c.   ,Sel-sel benih (germ cells) mengandung banyak deter- minant, yang berkombinasi dalam cara-cara yang ber- aneka-warna untuk menghasilkan perbedaan-perbedaan individual. Prinsip variasi ini berarti, bahwa anak- anak mungkin menyerupai dan mungkin pula tidak menyerupai orang tua mengenai suatu sifat tertentu.
d.   Anak atau keturunan cenderung untuk menuju ke- kerata-rataan (average) mengenai suatu sifat tertentu. Prinsip regresasi filial ini turut pula menerangkan adanya variasi-variasi dari orang tua.
3.   Para ahli-biologi telah mencapai beberapa kemajuan dalam meng-analisa mekanisme hereditet.
a.   Setiap manusia memulai hidupnya apabila terjadi pertemuan atau persatuan (union) antara ovum wanita dengan sperma priya.
b.   Struktur sellulair, yang disebut kromosom-kromosom, menurut praduga mengandung berbagai-bagai susunan unsur-unsur yang tak dapat dilihat, yang di-sebut gene-gene, yang menurut dugaan pula tetaknya menyerupai rangkaian mata-kaiung dan terikat pada pasangan-pasangan kromosom.
c. Setengah dari 48 kromosom untuk setiap manusia datang dari setiap pihak orangtua, sehingga tidak ada seorang anakpun dapat tepat menyerupai salah satu dari kedua orangtuanya.
4.   Ciri-ciri biologis yang penting untuk tujuan-tujuan pendidikan terdiri dari : kecenderungan bergerak atau berbuat (actendendes), struktur badan, sensivitet, plastissitet, dorongan, kapasitet belajar, dan pola-pola biologis.
5.   Abilitet-abilitet tertentu yang ada karena dipelajari mengandung efek mempertinggi kapasitet belajar orang yang bersangkutan. Dengan adanya abilitet-abilitet serta dorongan-dorongan yang dipelajari yang tersusun seperti piramid dapatlah seseorang mencapai tingkatan-tingkatan perbuatan yang kalau tidak demikian tak akan dapat dicapainya.
6.   Perlengkapan binatang berbeda dari perlengkapan manusia, baik dalam soal kwantitet, maupun dalam soal kwali- tet. Tingkah laku binatang terutama terbatas pada situasi- situasi sensoris dan perseptual yang terdiri dari hal-hal yang kongkrit. Manusia dapat mempergunakan pengertian-pengertian dan konsep-konsep yang terlepas dari situasi-situasi sensoris, dan terdapat pada bidang abstrak dan rasional.
7.   Murid-murid dari setiap umur atau setiap kias di sekolah selalu memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang luas di antara mereka.
a.   Suatu variasi, baik pada faktor hereditet, maupun pada faktor lingkungan akan menghasilkan perubahan.
b.   Faktor-faktor lingkungan meliputi : kesalahan-kesalahan pedagogis, keadaan kesehatan dan keadaan-keadaan di rumah atau di sekolah, yang menghasilkan
gangguan-gangguan emosional atau gejala-gejala gangguan psikis, yang berhasil dari hasil belajar yang rendah.
c.   Dalam setiap kias di sekolah akan terdapat anak-anak yang berbeda sebanyak satu tingkatan atau kias mengenai setiap hasil belajar yang dapat dinilai atau di- ”ukur”.