Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Hujroh  The Ghurfah 
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATERI STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN TUMBUHAN DENGAN PEND
Pages: [1]

(Read 12 times)   

liaapri

  • Proletar
  • *
  • liaapri No Reputation.
  • Join: 2020
  • Posts: 168
  • Logged

B.   Pembahasan
Penyusunan modul sebagai bahan ajar materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan JAS telah mengalami 3 tahap revisi untuk menghasilkan modul yang layak diterapkan dalam pembelajaran. Revisi pertama dilakukan berdasarkan masukan-masukan dosen pembimbing. Pada tahap pertama ini modul mengalami beberapa perbaikan yaitu perbaikan tata tulis, ukuran gambar dan tulisan, penyesuaian isi materi dengan SKKD dan indikator yang ada, penyesuaian antara gambar dengan teori, komposisi antara gambar dengan materi, penyesuaian tugas dengan tingkat kemampuan peserta didik, penambahan glosarium dan pengemasan yang lebih menarik. Hasil koreksi dianalisis kemudian dilakukan perbaikan untuk menyempurnakan modul. Setelah revisi pertama selesai, langkah selanjutnya menyerahkan modul ke dosen penilai. Penilaian para pakar ini penting dilakukan untuk menilai apakah modul sudah layak diterapkan pada pembelajaran.
Berdasarkan hasil penilaian dosen diketahui modul sudah layak digunakan sebagai bahan ajar. Hal ini ditunjukkan dengan hasil perhitungan kelayakan pada komponen kelayakan isi sebesar 86,23%, komponen kebahasaan 80,00%, komponen penyajian 83,83% dengan rata-rata 83,35%. Artinya menurut kriteria Ali modul sangat layak diterapkan dalam pembelajaran. Sedangkan menurut kriteria BSNP modul belum layak digunakan sebagai bahan ajar karena rata-rata tiga komponen penilaian belum mencapai ≥ 95%. Penilaian para dosen ini penting dilakukan untuk menilai apakah modul sudah layak diterapkan pada pembelajaran. Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar. Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dan sebagainya (Anonim 2006c). Hasil penilaian dianalisis sebagai dasar melakukan revisi kedua. Berdasarkan hasil analisis revisi tersebut kemudian dilakukan perbaikan-perbaikan, setelah itu barulah modul dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Komponen kelayakan isi meliputi 8 aspek yaitu: cakupan materi, akurasi materi, kemutakhiran, mengandung wawasan produktivitas, merangsang keingintahuan, mengembangkan kecakapan hidup, mengembangkan wawasan kebhinekaan, dan mengandung wawasan kontekstual. Pada komponen kelayakan isi ada empat poin yang mendapat nilai berbeda dari ketiga penilai. Pada poin “keluasan materi” penilai A dan B memberikan nilai 3 dan penilai C memberi nilai 4. Setelah dikonfirmasikan, penilai A dan B memberikan nilai 3 karena ada beberapa bagian pada modul yang materinya dianggap masih kurang dan harus diperbaiki. Sedangkan penilai C memberi nilai 4 karena menurut beliau subtansi materi pada modul sudah mencerminkan subtansi materi yanmg terkandung dalam SKKD.

Pada poin “kebenaran konsep” penilai A dan B memberi nilai 3 dan penilai C memberi nilai 4. Penilai A dan B memberi nilai 3 karena kebenaran konsep yang menyangkut akurasi materi masih terdapat beberapa kesalahan sehingga dapat menimbulkan banyak penafsiran. Penilai C memberi nilai sempurna yaitu 4 karena menurut beliau konsep-konsep yang terdapat pada modul sudah benar. Adapun beberapa kesalahan yang terdapat di dalamnya itu karena tata bahasanya saja yang harus diperbaiki. Hasil penilaian berbeda juga terdapat pada poin “menumbuhkan rasa ingin tahu”. Penilai A dan B memberi nilai 4 karena modul struktur dan fungsi jaringan tumbuhan sudah menampilkan pertanyaan-pertanyaan dan tugas-tugas yang dapat merangsang peserta didik untuk berpikir jauh dan mencari informasi lebih lanjut. Penilai C memberi nilai 3 karena menganggap baik pengantar maupun pertanyaan dan tugas yang diberikan masih kurang sehingga perlu ditambah.
Komponen kebahasaan meliputi 7 aspek yaitu: aspek kesesuaian dengan perkembangan peserta didik, komunikatif, dialogis dan interaktif, lugas, koherensi dan keruntutan alur pikir, kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang benar, serta aspek penggunaan istilah dan simbol atau lambang. Dalam komponen kebahasaan hasil penilaian ketiga dosen sama dari berbagai poin dengan rata-rata 80,00%. Menurut penilaian para dosen, komponen ini terdapat kesalahan yang menyangkut ketepatan struktur kalimat serta penggunaan symbol/lambang yang kurang konsisten sehingga ketiga penilai memberikan nilai yang cukup rendah yaitu 2. Beberapa kesalahan juga terdapat pada tata bahasa dan ejaan sehingga penilai sepakat memberi nilai 3. Penilai sebagian besar memberi nilai 3 karena bahasa dalam modul masih dianggap kurang menciptakan komunikasi interaktif dengan peserta sehingga pesan kurang dapat dipahami peserta didik. Ilustrasi dengan subtasi pesan masih perlu diperbaiki sehingga dapat memotivasi peserta didik untuk merespon pesan dalam modul. Untuk kebakuan istilah, keutuhan makna dalam bab/subbab/alinea, ketertautan antarbab/subbab/alinea/kalimat, ketetapan penulisan nama ilmiah/asing penilai sepakat memberi nilai 4. Rata-rata skor komponen kebahasaan adalah 80,00% yang berarti masuk kriteria layak digunakan dalam pembelajaran.