Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Alumni & Pesantren  Profil Alumni 
Ust Dihyatun Masqon, Sosok Guru yang Dikagumi dan Sangat dicintai Santri
Pages: [1]

(Read 647 times)   

Admin

  • Administrator
  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Admin No Reputation.
  • Join: 2013
  • Posts: 2594
  • Logged

Engkau adalah guru, orang tua, sekaligus sahabat bagi kami...
Orang terbaik sepertimu layak mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah...

Ragamu sudah tiada, tapi ruh semangat jihadmu akan selalu ada di sanubari anak-anakmu...

Ya Rabb...hadirkan sosok seperti beliau di bumi Darussalam...

Terimakasih ustd berkat mu juga aku bisa mancapai kelulusan wisuda ku.

Doaku menyertai mu selalu dan bgtu juga doa untuk ustd imam subali ahmad

Selamat jalan ustadzi Dr. Dihyatun Masqon...

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه...
Dimas Batam

Engkau adalah guru, orang tua, sekaligus sahabat bagi kami...
Orang terbaik sepertimu layak mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah...

Ragamu sudah tiada, tapi ruh semangat jihadmu akan selalu ada di sanubari anak-anakmu...

Ya Rabb...hadirkan sosok seperti beliau di bumi Darussalam...

Selamat jalan ustadzi Dr. Dihyatun Masqon...

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه...
Ahmad Kali Akbar

Sangat turut berduka mendengar berita ini,
Murah senyum, perhatian, enerjik dan motivator ulung....
Dari beliau, saya belajar kitab Al 'Arobiyyah Baina Yadaik....
إنا لله و إنا إليه راجعون
Telah meninggal dunia *Al- Ustadz Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A.*, Wakil Rektor 3 UNIDA Gontor, hari in Rabu, 28 Februari 2018 pukul 09.45 WIB di RSPAD, Jakarta.
Semoga amal ibadah almarhum diterima, diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keikhlasan.
Alex Nanang AS

Innalillahi Wainna Ilahi Rajiun

Hari ini Rabu, 28 Februari 2018 Pukul 09.45 WIB di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Telah berpulang ke Rahmatullah Guru kita tercinta Al-Ustadz Dr. H. Dihyatul Masqon, MA (Wakil Rektor 3 Universitas Darussalam Gontor). Beliau adalah seorang Guru yang rendah hati, Tawadhu, dan selalu memberikan pesan positif kepada murid-muridnya.

Beliau juga merupakan salah satu sang orator terbaik yang dimiliki Gontor dalam setiap even internasional dengan keluasan dan ketinggian ilmu yang beliau miliki. Beliau telah mengajarkan kepada kita tentang motivasi, kesantunan, dedikasi dan kecintaan terhadap ilmu. Hobinya menyapa duluan siapa saja yang beliau temui, tak peduli siapa dia, baik Mahasiswa, Karyawan, atau Masyarakat biasa. Jasa, nasehat dan pesan darimu akan selalu kami ingat dan kami amalkan.

Mari Kita Bersama panjatkan doa khusus bagi almarhum; semoga Allah SWT mengampuni semua kesalahan dan dosa, diterima semua amal perbuatan serta di tempatkan di Jannah-Nya. Sera keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keikhlasan. Amin ya rabbal alamin.

lahul al-Fatihah

Salam Ta'zim dari Muridmu
Alumni 2008 (Forza 682)
Andro Agil Nur Rakhmad

Ga percaya beliau sudah gak ada, padahal liburan kemarin niatnya pingin silaturrahim ke rumh beliau

di siang hari ini izinkan saya sedikit berbagi tentang kenangan indah masa muda dahulu, tatkala kami masih berstatus sebagai santri gontor, pelajar KMI.

Kelasku di Gontor berkat taufiq dan rahmat Allah SWT selalu baik, kelas B. 1 int B, 3 int B, 5B, dan 6B.

Di Gontor, secara umum Kelas B identik dengan kesan pintar dan pilihan. karena itu sebagian kawan-kawan kami tentu saja menganggap kelas B sebagai simbol dominasi akademis, dan di sisi lain kelas B juga dianggap kaum pencinta belajar, anti gaul, egois, buruk sifat, dan lain sebagainya. Hal ini mungkin ada benarnya, mungkin juga tidak. karena obsesi untuk menjadi yang terbaik secara akademis memang terkadang membuat sebagian dari kami menghabiskan waktu lebih sedikit dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang menguras waktu, meskipun hal ini juga tidak sepenuhnya benar.

Apa pun kata orang, kami yang berada di kelas B tentu saja sangat beruntung, karena diberikan guru-guru pilihan. Mungkin tidak akan kita temui di tempat mana pun di luar Gontor, anak-anak usia belasan setingkat SLTA dididik dan diajar oleh guru-guru senior lulusan S2 dan S3 dari berbagai Universitas Islam terbaik dunia. sebut saja guru sejarah sastra arab kami, DR Dihyatun Masqon, MA. Salah satu lulusan terbaik di angkatannya yang menyelesaikan program S1 dan S2 di Universitas Islam Madinah, dan menyelesaikan program doktor di Universitas Islam Milia India, lalu guru Composition kami, DR. Hamid Fahmi Zarkasyi, seorang penulis kelas internasional lulusan S2 Inggris dan S3 Malaysia. Guru Reading (membaca Bahasa Inggris) kami, Ustadz Akrim Aryat meraih gelar Diplomanya di Manchaster. Guru tafsir kami, Ustadz Adib, memiliki gelar master yang didapat dari Pakistan. Begitu juga guru Hadits kami, sekaligus pimpinan pondok Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal, beliau menyelesaikan S1 di Universitas Islam Madinah, dan S2 di Universitas Al-Azhar Kairo. Guru ilmu logika kami (Mantiq), KH. Abdullah Syukri Zarkasyi alumni program master jurusan sejarah di Universitas Al-Azhar (walaupun selama saya belajar, beliau belum pernah masuk, dan digantikan oleh ustadz Rahmat Sasongko). Ustadz Imam Awaluddin, wali kelas kami lulusan S1 Mesir dan S2 Sudan. Pengajar Balaghah kami, Ustadz Abdul Hafid zaid, Alumni S1 Alazhar dan S2 Universitas Liga Arab. Belum lagi para ustadz lainnya yang dididik di dalam lingkungan Kampus Gontor yang kualitasnya juga tidak kalah dengan lulusan luar negeri.

Bisa dibayangkan betapa mahalnya biaya pendidikan kami di Gontor, andaikata kami harus membayar dosen-dosen berkualitas tersebut dengan ukuran uang rupiah. Mungkin jika kualitas guru dijadikan acuan, kualitas pengajar kelas B di Gontor bisa disamakan kualitasnya dengan guru-guru di kampus-kampus islam terbaik di Indonesia. Namun percayakah Anda, biaya pendidikan perbulan di Gontor saat ini, 2018 hanya sekitar 600.000 rupiah, sudah termasuk makan 3 kali sehari, tempat tinggal, dan sistem disiplin asrama 24 jam full berbahasa arab dan Inggris. Bandingkan dengan sekolah-sekolah asrama lainnya yang saat ini uang bulanannya sekitar 2-5 juta rupiah.

Guru-guru kami yang mulia tersebut rela mencurahkan ilmunya kepada kami murid-muridnya yang faqir ini dengan tanpa bayaran. Percayakah Anda, bahwa uang bulanan untuk guru yang biasanya disebut ihsan di Gontor itu hanya sekitar 150.000-300.000 sebulannya. Sungguh hanya manusia-manusia langka dengan jiwa keikhlasan yang mampu bertahan mengajar kami dengan fasilitas yang apa adanya tersebut. Mereka memang manusia-manusia pencari Tuhan yang sesungguhnya, yang mengajar dengan prinsip to give, to give, and to give, tanpa mengharap balasan apa lagi uang.

terkadang kita lupa, dibalik kemampuan bahasa kita, dibalik segala prestasi dan pencapaian kita, ada banyak sekali kontribusi guru-guru, pembimbing, wali kelas, kakak-kakak kelas yang tidak terhitung jumlahnya.

Sungguh hutang kami begitu banyak kepadamu wahai guru-guruku, tidak mampu kami memberikan uang, tidak pula jasa, apalagi tahta. mungkin hanya air mata yang bisa mewakili rasa haru kami tatkala salah satu guru terbaik kami meninggalkan Dunia ini. Rasa kehilangan ini sangat besar, rasa kehilangan yang mungkin tidak akan bisa diisi oleh siapa pun.

Ya, hari ini, kita kehilangan sosok Al-Ustadz DR Dihyatun Masqon. Sosok yang terus menginspirasi seluruh warga PM Gontor dari generasi ke generasi. Mungkin beliau belum dikaruniai buah hati hingga kini, tapi tentu saja, ribuan alumni yang pernah diajarnya menjadi saksi bahwa kamilah yang akan menjadi saksi tentang segala kebaikan beliau. Kamilah yang akan terus mengenang dan menyebut nama beliau, dan berusaha semampu kami meniru apa pun yang mampu kami tiru dari setiap teladan beliau, meskipun tentunya kami tidak akan mampu mendekati atau pun menyamai teladan-teladan beliau.

sore ini, saya melanjutkan perenungan saya tentang guru saya ust dihyah, tentang kenangan-kenangan yang beliau tinggalkan selama mengajar kami para muridnya, meskipun pengalaman saya diajar beliau cukup singkat, namun ada beberapa hal menarik yang membuat beliau sangat istimewa di hati para santrinya...

1. Semangat berapi-api
saya pun terkadang tidak paham penjelasan beliau yang disampaikan dalam bahasa arab, inggris, dan sesekali bahasa indonesia. namun yang tidak bisa ditiru dari sosok ust dihyah adalah antusiasmenya dalam mengajar, semangat berapi-api yang begitu tulus mencurahkan seluruh seluruh rasa dan emosinya untuk mentransfer ilmu pengetahuan. inilah yang membuat kelas yang beliau ajar senantiasa penuh dengan antusiasme dan semangat.

2. senyuman
sangat sering kami melihat melihat beliau tersenyum saat mengajar. dan salah satu ciri khas beliau dalam mengajar adalah bemengantukya kiau tidak pernah marah saat mendapati muridnya mengantuk atau tertidur. apa anda tahu apa reaksi beliau saat melihat salah satu dari kami tertidur? beliau tersenyum kepada kami dan mengatakan, "ibtasim", "tersenyumlah", otomatis kami pun menjadi tersenyum dan rasa kantuk langsung berganti dengan rasa malu dan senang, karena guru kami mengajak kami tersenyum. Bisa kita bayangkan mentalitas seperti apa yang beliau miliki, perlakuan guru seperti ini tidak pernah saya temukan di tempat lain, ataupun dari guru lain. sebagai santri yang sangat mudah mengantuk saya mendapat beragam perlakuan dari guru-guru saya, ada yang membiarkan saya tertidur, hingga ada yang mengomeli, menyuruh saya berdiri, bahkan melempar saya dengan kamus :D. maka bandingkan lah itu semua dengan perlakuan ustadz dihyah kepada kami. bagaimana bisa kami tidak mencintai sosok beliau yang sangat penuh kasih sayang.

Ampuni kami ya Allah, yang masih sering mengantuk saat guru-guru kami mengajar, ampuni kami ya Allah yang belum mampu memuliakan guru-guru kami

Semoga Allah SWT menuliskan segala amal beliau selama ini sebagai catatan kebaikan, dan semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terbaik di taman-taman SurgaNya..... Amin ya Robbal alamin...

Al'abdu Al-Faqir, yang merasa kehilangan
Mohammad Izdiyan Muttaqin