Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Alumni & Pesantren  Daftar Pesantren di Sumatera Utara 
Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah di Medan Sumatera Utara
Pages: [1]

(Read 1169 times)   

Admin

  • Administrator
  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Admin No Reputation.
  • Join: 2013
  • Posts: 2544
  • Logged

Bismillahirohmanirohim...
Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh....
Hai Soel,
Pendidikan pondok pesantren (ponpes) merupakan model pendidikan Islam yang banyak dipakai dan berlaku di beberapa negara Islam. Bahkan telah dipakai juga di Negara-negara non muslim dengan memakai sistem boarding school, pendidikan berasrama selama 24 jam. Namun di negara-negara itu, pendidikan boarding school telah banyak mengalami kemajuan dan perkembangan yang pesat, sedangkan lembaga pendidikan ponpes di Indonesia masih mengalami pasang surut, bahkan lebih banyak yang kurang eksis dan belum mampu berkembang pesat sebagaimana lembaga pendidikan serupa di negara-negara lainnya. Seperti halnya kondisi ponpes pada umumnya di Indonesia yang selalu mengalami pasang surut, ponpes di Sumut juga demikian. Ane mau ngejelasin sedikit mengenai salah satu pondok pesantren alumni Gontor yang berada di Sumatra Utara dan nama pondok pesantren tersebut adalah Raudhatul Hasanah dan pondok pesantren ini berlokasi di Simpang Mangga, Nagajaya Pem.Bandar Pulau Bantar Simalungun Medan.  Pondok Modern Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Merupakan pondok yang terletak di Medan, Sumatera Utara. Bersistemkan asrama, memiliki disiplin yang kental akan kerapian berpakaian, kebersihan dan kesopanan. Selain dari pada itu, pesantren ini juga memiliki sistem pendidikan  nilai-nilai kepondok modernan. Bila berjumpa harus mengucapkan salam, bila berpakaian kemeja harus rapi dan berikat pinggang, bila berpakaian sholat harus lengkap dengan peci, sajadah dan qur’an.  Berharap, dengan demikian nilai tidak hanya lahir dalam keseharian tapi lebih dari pada itu ialah tertanam di dalam lubuk hati santrinya. Demikianlah salah satu tujuan mengapa di dirikannya pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah di Medan Sumatera Utara.
Sejak tahun 1970-an, budaya pengajian membahas masalah-masalah keislaman dan pembacaan wirid yasin mingguan telah menjadi budaya rutin masyarakat Paya Bundung dan sekitarnya. Saat itu, masyarakat yang tinggal di Paya Bundung masih sangat sedikit. Ibadah pun dilakukan di rumah-rumah, tidak terkecuali ibadah yang dilaksanakan secara jamaah, seperti shalat tarawih dan lain-lain. Pengajian yang sering diselingi dengan acara arisan pun di adakan di rumah-rumah, dengan penceramah yang bergantian. Selain tempat ibadah yang belum tersedia, masyarakat juga perlu tempat untuk pendidikan anak-anaknya, yang saat itu juga belum tersedia. Dengan kondisi dan kebutuhan akan tempat ibadah untuk menyatukan kebersamaan itu, adalah Bapak H. Ahkam Tarigan yang memulai mewakafkan tanahnya seluas 256,5 m2 pada tahun 1978. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Bapak H. Mahdian Tarigan juga mewakafkan tanahnya seluas 243 m2. Di atas tanah wakaf tersebut kemudian dibangun sebuah mushalla sederhana oleh masyarakat secara gotong royong, sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Paya Bundung dan sekitarnya, juga tempat membina dan mengaji bagi anak-anak mereka. Begitu besarnya harapan tersebut, sampai-sampai Bapak H. Ahkam Tarigan selalu optimis bahwa dari mushalla yang kecil ini akan muncul pemimpin-pemimpin handal bagi negara kita kelak. Gagasan itu bukan isapan jempol belaka, tapi selalu diusahakan untuk dapat terwujud secara nyata. Hal itu semakin menemui titik terang tatkala pada tahun 1977 H. Fakhruddin Tarigan mewakafkan tanahnya di jalan Binjai kepada Yayasan Keluarga Dukun Patah Pergendangan. Selanjutnya direncanakan akan didirikan sebuah Perguruan Islam di atas tanah wakaf tersebut. Pada tahun 1981, cita-cita itu hampir terwujud dengan didirikannya sebuah sekolah di atas tanah wakaf tersebut, meskipun belum sempat beroperasi. Dengan berbagai pertimbangan dan masukan tentang tata letak kota dan perkembangan masa depan sekolah tersebut, termasuk dari Bapak Tarzan Ginting yang saat itu bertugas di Medan Barat, maka keluarga berkesimpulan untuk memindahkan tanah wakaf tersebut ke sebuah lokasi di Medan Tuntungan (km 11,5) yang sudah dikenal dengan nama Paya Bundung. Sebelum dijual, tanah wakaf di jalan Binjai yang semula rawa-rawa ditimbun oleh keluarga agar harga jualnya meningkat.. Pada tahun 1981 tanah tersebut dijual. Hasil penjualannya dibelikan tanah seluas 3.933 m2 di Paya Bundung sebagai ganti wakaf yang di jalan Binjai. Tanah wakaf yang baru ini disatukan dengan tanah wakaf dari H. Ahkam Tarigan dan H. Mahdian Tarigan, sehingga luasnya menjadi ± 4.432,5 m2.Setelah itu, pertemuan tahunan keluarga ini selalu diadakan di Paya Bundung. Gayung pun bersambut, antara kebutuhan masyarakat Paya Bundung akan tempat pendidikan dan pengajian, dengan cita-cita keluarga Nini si Dua dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam.
Setelah lulus nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo tahun 1976, Usman Husni yang berasal dari Alas ingin melanjutkan studinya ke Universitas Madinah. Berbagai usaha telah dilakukan, namun jalan seakan buntu. Setelah batal berangkat ke Madinah, Usman Husni pun bercita-cita mendirikan pesantren sebagaimana yang dilakukan oleh saudara-saudaranya. Setelah melalui proses yang panjang, pada tanggal 18 Oktober 1982, bertepatan dengan peringatan tahun baru Hijriah 1 Muharram 1403, dideklarasikanlah pendirian Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar-Raudhatul Hasanah secara resmi. Langkah pertama untuk menghidupkan Pesantren ini adalah dengan mengadakan bimbingan mengaji dan belajar agama untuk anak-anak Paya Bundung dan sekitarnya. Kegiatan ini berjalan di rumah Ust. Usman Husni. Saat pembukaan, kegiatan ini hanya diikuti oleh 16 siswa. Seiring berjalannya waktu, perkembangannya sangat pesat. Tahun 1983, siswanya sudah ± 60-an orang. Rumah Ust. Usman pun tidak muat lagi. Untuk itu, didirikanlah gedung di samping rumah beliau (sekarang dinamai dengan ‘Gedung al-Jihad’), yang bahan-bahannya diambil dari klinik (tempat praktek) dr. H. Mochtar Tarigan, sisa pembangunan Medan Plaza, sumbangan dari H. Abdul Muthalib Sembiring, SH dan sumbangan dari para mukhlisin dan muhsinin.
Dengan berdirinya gedung tersebut, dimulailah program madrasah diniyah Tarbiyah Ula. Materi, sarana dan prasarana pendidikannya masih sangat sederhana. Semuanya dilakukan dengan modal seadanya. Namun dengan kesungguhan, keuletan, kesabaran dan keikhlasan pendidiknya, serta dukungan dari semua pihak, usaha ini mengalami kemajuan yang berkesinambungan. Peserta didiknya terus meningkat, dari belasan menjadi kurang lebih 100-an pada tahun 1985.
Informasi itu saja yang bisa ane bagikan dan semoga bermanfaat dan bisa dijadikan refernsi buat teman – teman lain yang mau mukim di lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren. Dan bagi teman – teman yang mau berkunjung langsung ke pondok pesantren ini, silakan bisa datang langsung ke No. 25, Tuntungan, Jl. Setia Budi, Simpang Selayang, Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara 20135 atau bisa menghubungi langsung ke nomer telephone 0895-3662-15742
Salam Sejahtera...
Wassalamualaikum Warohmatulloho Wabarokatuh...

meriljunaidi

  • Capel
  • *
  • meriljunaidi No Reputation.
  • Join: 2018
  • Posts: 1
  • Logged
Re: Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah di Medan Sumatera Utara
« Reply #1 on: 23 Mar, 2018, 23:33:22 »
Assalamu'alaikum. Mohon informasi Penerimaan Santri Baru untuk Ponpes Binaan Gontor di Sumatera Utara. Dan TOP Rank 10 Ponpes di SUMUT.