Hujroh - Forum Pesantren Indonesia Alumni Pesantren Indonesia Forum      Misi Hujroh
 

Main juga kesini sul:
The Ghurfah Kisah Sukses Alumni Alumni di Luar Negeri Bisnis Online Hikayah fi Ma'had Railfans Dunia Pesantren Ekonomi Islam
Forum  Knowledge  Kisah Sukses Alumni 
Randiyan Yusuf, Alumni Gontor yang Sukses Jadi Juragan Sarung dari 5 Kali Gagal
Pages: [1]

(Read 2547 times)   

Admin

  • Administrator
  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Admin No Reputation.
  • Join: 2013
  • Posts: 2615
  • Logged


Randiyan Yusuf, Alumni Gontor yang Sukses Jadi Juragan Sarung Setelah 5 Kali Gagal

Rakhmat Randiyan Yusuf S.Pd

Pebisnis Sarung yang Tetap Nyantri
Tekun dan Ulet, itulah kata yang pantas kami sematkan kepada beliau, bermula modal tak seberapa kini sarung hasil produksi beliau sudah merambah ke beberapa daerah di Indonesia. Rakhmat Randiyan Yusuf, atau biasa dikenal dengan Mas Randiyan lahir di Pekalongan, 20 Agustus 1989; umur 29 tahun adalah seorang Pengusaha Muda, berbekal niat lillah dan ketekunan yang dimiliki 'Sarung 82' siap bersaing secara global.


Mencoba berbisnis semenjak Kuliah
Ketika semester 6 ISID (sekarang UNIDA Gontor) sepeninggal ayahnya, beliau memutuskan untuk pindah ke STAIN Pekalongan karena harus menemani sang Ibu, tidak ingin selalu merepotkan Ibundanya, pada saat itu juga beliau mulai mencoba berwirausaha sembari membantu mengajar di MI Sapugarut, Wonopringgo, Pekalongan.


Total ada 3 usaha yang pernah dijalani yaitu: Kopi Salju, Budidaya Jamur Tiram, dan Berjualan Roti di sekolah-sekolah, akan tetapi semuanya belum memberikan hasil yang berarti dan berakhir gulung tikar dikarenakan kurangnya pengalaman beliau dalam bidang wirausaha, terutama bidang market plan dan kerjasama.


Awal Mula Terjun ke Bisnis Sarung
Pertengahan tahun 2015 tepatnya saat Bulan Ramadhan, bermodal Rp. 400.000,- beliau mencoba membeli sarung yang diproduksi tetangganya sebanyak 1 Kodi yang kemudian beliau pasarkan dengan system online, "Alhamdulillah laku semua dan semenjak itu secara berkala mulai menabung untuk modal dan kemudian diputar kembali." Ujar suami dari Raudlatun Nafilah. Semenjak itu pula beliau bercita-cita ingin punya sarung dengan brand ciptaan beliau sendiri.


Tak Segan untuk Beriklan
Setahun setelah itu, beliau merasa harus menambah modal karena pesanan sarung mulai berdatangan, dengan niat lillah beliau memberanikan diri untuk mengambil modal di Bank syariah, dana modal itu digunakan untuk mengambil sarung beberapa puluh kodi dan kemudian di pasarkan secara online juga. Belajar dari kesalahan yang pernah beliau lakukan, sampai sekarang beliau tak segan-segan menggelontorkan dana untuk beriklan baik di media cetak, radio dan juga media sosial seperti facebook ads dan instagram demi mengenalkan sarung yang beliau jual. "Dalam berbisnis, proses marketing sangatlah penting, aspek itu tidak boleh kita tinggalkan, apalagi saat ini sudah zaman serba online, jadi harus benar-benar dimanfaatkan agar usaha kita lebih dikenal oleh khalayak ramai, jangan segan mengeluarkan uang untuk mengenalkan apa yang kita jual kepada pelanggan." Tukasnya.
 

Nekat Menikah
Ada kisah unik yang beliau sampaikan, ketika awal-awal berbisnis sarung, beliau sempat khawatir bisnisnya akan gulung tikar seperti yang sudah-sudah, beliau juga belum merasakan ketenangan batin walau usahanya saat itu sudah lumayan berkembang. Kemudian beliau mendapat beberapa pencerahan ketika menghadiri diskusi Forbis Gontor cab. Pekalongan yang diketuai oleh Ust. Irzal, salah satu yang menggetarkan hati beliau adalah ketika mendapat wejangan bahwa kunci untuk lapang rezeki dan mendapat keberkahan lewat rezeki itu adalah dengan menikah. "Semenjak itu saya kepikiran terus, terasa belum berkah saja gitu. Akhirnya tahun 2016 madep mantep untuk menikah. Waktu itu hanya ada uang 10 juta rupiah yang tadinya akan saya gunakan untuk modal sarung lagi tapi sudah kadung kepikiran menikah ya Bismillah tawakkaltu." Tandasnya dengan berkelakar, "Waktu itu juga nekat dengan modal segitu inginnya nikah di Gedung Pertemuan, sempat jadi omongan tetangga juga, seorang pengusaha kecil dan guru honorer ingin nikah di Gedung Pertemuan." Imbuh bapak satu anak itu.


Rezeki datang setelah Menikah
Benar saja, pasca menikah perasaan beliau menjadi lebih tenang, bekerja juga menjadi lebih tekun, dan beberapa bulan kemudian pintu rezeki seakan dibuka jalannnya oleh Allah, diantaranya beliau mendapat tawaran dari seorang kenalan Pengusaha Sarung taraf Nasional untuk menjadi salah satu produsen Sarung NU sebanyak 200.000 pcs, kebutuhan sarung NU itu sendiri tidak main-main, total ada 40 juta pcs yang harus di produksi pertahun dan alhamdulillahnya beliau bisa mengambil beberapa bagian dari itu. "Seperti kejatuhan durian runtuh, sempat ragu juga untuk ngambil orderan itu, beruntung ada istri dan keluarga yang selalu support penuh dan meyakinkan dengan niatan tawakkaltu 'Alallah." ujar beliau.


Bermula dari order besar itu awal tahun 2017 beliau mulai memproduksi sarung sendiri dengan merek "Sarung 82". Merek ini unik, karena biasanya sarung-sarung yang beredar mereknya ke-arab-araban atau buah-buahan. "sudah biasa mendengar sarung yang arab-arab atau merek buah-buahan, kalau kata peribahasa di Gontor jadi orang itu harus Khoolif tu'rof (berbeda dan mudah diketahui). Jadi orang akan semakin tertarik dengan produk yang dipasarkan" ujarnya. Saat ini pekerja beliau ada 8 orang mulai dari tukang sablon, tukang jahit, tukang lipat dan tukang kemas dengan Omzet laba bersih mencapai 10 juta perbulan, tak cuma itu beliau juga sekarang mencoba mengembangkan bisnis sarungnya untuk dimodifikasi menjadi Celana Sarung, Peci Motif sarung dan baju Muslim untuk Pria. "Mumpung masih muda jadi harus tekun dan tidak boleh malas." Tukasnya.
 
Hambatan sebagai bentuk Evaluasi diri
Berbisnis sarung dan konveksi bukan tanpa kendala, karena masih home industry dan belum mempunyai alat produksi yang mumpuni maka beberapa proses pengerjaan terutama proses pengeringan pasca disablon harus dikerjakan secara manual dengan menjemur di bawah sinar matahari langsung yang mana proses itu memakan waktu yang cukup lama. Beliau juga menambahkan saat ini beberapa bahan sarung beliau masih harus mengambil dari pabrik yang masa produksinya kadang tidak sesuai dengan waktu permintaan pelanggan. "Bismillah niatnya ingin punya oven (mesin pengering) sendiri dan bekerjasama dengan pabrik, sykur bisa punya pabrik sendiri untuk mengatasi masalah itu. Hanya memang butuh modal yang cukup besar untuk mewujudkannya, kudu telaten, sabar lan tawakkal. Dengan hambatan dan tantangan itulah cara Allah mengevaluasi hamba-hamba-Nya" Imbuh sarjana Pendidikan Agama Islam tersebut.


Termotivasi Petuah Gontory
Peran Gontor tak lepas dalam mendidik karakter beliau yang ulet dan tekun dalam menjalankan bisnisnya, "Salah satu nasehat Kiai Syukri yang sampai saat ini terus menjadi patokan saya adalah kalimat 'ar roohatu fi tabadulil a'maal' bahwasannya istirahat itu sejatinya ada dalam pergantian pekerjaan." Kalimat inilah yang terus menginspirasi beliau untuk tekun dan ulet berbisnis bahkan beliau tak segan ikut terjun langsung dalam semua proses produksi. Kedepannya beliau ingin memproduksi sarung label Darussalam yang khusus dijual untuk kalangan santri Gontor dan Pondok-Pondok yang berkiblat kepada Gontor.


Siapakah nama Antum?
Jawab: Rakhmat randyan yusuf (randiyan)

Alumni Gontor tahun berapa nih?
Jawab: 2008

Dimana antum tinggal sekarang?
Jawab: Pekalongan

Apakah antum sudah mempunyai pendamping hidup? Berapa banyak? (anak Antum maksudnya )
Jawab: sudah satu istri(raudlatun Nafilah)..... Anak putri ( hilwa Yasna Umaiza)

Bisa dijelaskan sekelumit pengalaman Antum ketika di gontor? dulu pernah nongkrong bagian apa ya?
Jawab: kemandirian... Kemauan dan semangat.... Itu bekal yang harus dipunyai setiap santri utk nyantri di gontor.... Senhada kelas 5....CLI kelas 6 makrifat

Setelah lulus dari Gontor, Antum melanjutkan sekolah/ kuliah dimana ya?

Jawab: Isid gontor dan IAIN PEKALONGAN


Setelah lulus dari Gontor, langkah terhebat apa yang pernah Antum ambil?
Jawab: menjadi pengusaha yang mandiri... Membuat sarung GONTOR (proses)

Antum sekarang menjadi pengusaha di bidang apa?

Jawab: pengusaha sarung


Sudah berapa lama Antum tenggelam dalam usaha ini?
Jawab: 3 tahun..

Angin apa yang membawa Antum menekuni usaha ini?

Jawab: potensi daerah.... Bahan baku yg mudah.... Pemasaran yang gampang

Mengapa Antum memutuskan untuk terjun di pekerjaan/ usaha ini?
Jawab: lebih nyaman dan bahan baku yg mudah karena Pekalongan gudang industri sarung

Bisa dijelaskan proses singkat merintis usaha ini?
Jawab: sebelumnya 5 usaha sempat gulung tikar... Kmudian memutuskan utk nikah... Al hasil dapat usaha sarung... Akhirnya jalan dan lancar seperti sekarang

Apa kendala terberat Antum dalam mendirikan usaha ini?
Jawab: masih bergantung pada pabrik... Belum punya pabrik sendiri

Berapa banyak karyawan yang Antum punya sekarang?
Jawab: 10 karyawan.

Kalau boleh tahu nih, berapa omzet yang Antum dapatkan dalam satu bulan?
Jawab: kotor 95 jt.... Bersih 10 -  15 jt per bulan..

Apa target dan harapan Antum kedepan terhadap usaha Antum ini?
Jawab: target bisa buat sarung GONTOR dan punya pabrik sarung sendiri

Selain usaha ini, adakah pekerjaan lain yang Antum lakukan?
Jawab: fokus saja.... Tidak ada

Apa nasihat dan wejangan Antum bagi para alumni gontor yang ingin menjadi seorang wirausaha seperti Antum?
Jawab: jangan cepat menyerah... Gali potensi diri dan daerah sekitar antum.... Fokuss


Menurut Antum, bagaimana peluang para Alumni dalam persaingan usaha di tahun ini?
Jawab: semakin ketat karena dunia digital.... Harus pintar marketing online

Kontak Antum
No hp/ WA   :085790577721
Email      :Sarungtenun82@gmail.com
FB      : randiyan yusuf
Twitter   : @sarung_seragam

FORUM PESANTREN ALUMNI GONTOR
PLEASE KOMENTAR DAN SHARE


PUNYA INFORMASI YANG LEBIH BAIK TENTANG INI? SILAHKAN KOMENTAR DI BAWAH YAH

« Last Edit: 03 Mar, 2018, 10:17:13 by Admin »

Admin

  • Administrator
  • Abadan fi Ma'had
  • ***
  • Admin No Reputation.
  • Join: 2013
  • Posts: 2615
  • Logged
 :diem: silahkan komentar